Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
47. Senyuman Malam.


__ADS_3

Ega meninggalkan kamar Putrinya setelah memastikan Putrinya itu benar-benar tertidur lelap. Dia melangkahkan kakinya menuju Kamar Beni yang ada di Istana milik Orang Tua Beni.


Ceklek


Ega membuka pintu namun tidak menemukan Suaminya disana. Wanita manis itu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit membersihkan diri Ega kembali ke tempat tidurnya namun ketika dia kembali keadaan kamar masih seperti semula tidak ada Suaminya disana.


"Kemana Kak Beni? tumben dia belum ada di kamarnya padahal sudah waktunya dia istirahat." Batin Ega bertanya.


Saat dia hendak merebahkan tubuhnya, dia merasakan adanya udara segar. Dia sangat yakin udara ini bukan berasal dari Alat Pendingin namun dari AC alami.


"Pantesan udara alami masuk, pintunya kebuka. tapi kok pintu menuju Balkon terbuka? Apa Kak Beni ada disana ya?" Batin Ega bangkit dari rebahannya lalu berjalan menuju ke arah Balkon.


"Kak Beni rupanya ada disini? aku cariin lo!" Ucap Ega sudah berada disisi Beni.


"Kenapa? Apa kamu kangen sama Suami tampanmu ini." Goda Beni mengalihkan wajahnya menghadap wajah Ega.


"Geer, saya nyari karena waktunya Kak Beni tidur." Elak Ega berusaha menyembunyikan rona malunya.


"Tuh kan? kamu kangen dibelai sama Suamimu ini, iya kan? makanya ngajak Bobok." Goda Beni lagi.


"Haneh, Kak Beni benar-benar halu. Sudah ah males ngobrol sama Kak Beni, sekarang pembicaraannya diseputar itu-itu saja. Malu akunya." Ucap Ega sembari melangkahkan kaki kembali ke kamarnya karena tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang mungkin saja sudah berubah warna.


"Bisa merajuk juga Isteriku." Tahan Beni memegang tangan Ega membuat isterinya menghentikan langkahnya.


"Sini bentar nemenin Kak Beni memandang langit yang lagi tersenyum." Ucap Beni sembari menarik pinggang ramping Isterinya.


"Lihat Bulan lagi tersenyum, indah banget kan?" Sambung Beni menatap Rembulan yang sedang bersinar indahnya.


"Iya."


"Tapi lebih indah senyum kamu, manis laksanakan madu." Ucap Beni mengalihkan pandangannya ke wajah Isterinya yang saat ini sedang berwajah datar tanpa senyum.


"Tuh kan Kak Beni jadi halu semenjak menikah. Bawaannya menggoda, merayu dan menggombal melulu perasaan." Celoteh Ega geli berusaha menahan senyum saking tersanjungnya namun dia tidak mau buru-buru kegeeran.


"Emangnya enggak boleh? ngegombalnya sama Isteri bukan sama Bibik Siti juga kan?" Sahut Beni tersenyum kembali menggoda Isterinya yang terlihat geli.


"Senyum dong, aku serius wajah kamu dihiasi senyuman lebih indah daripada rembulan yang tengah indah malam ini. Senyum dong sayang, aku mohon berikan senyum indahmu agar aku bisa memamerkan kepada malam indah ini bahwa dirimu yang terindah." Beni lagi-lagi melancarkan gombalannya kepada Isterinya itu.


"Aduh, kenapa hati aku mendadak meleleh seperti lelehan gula aren yang tersiram air panas ya?" Ucap Ega pada akhirnya meladeni gombalan Suaminya.


"Gawat, jangan sampai hati kamu meleleh sayang, nanti tidak bisa menyimpan cinta Suami kamu dihatimu. Biarkan hati kamu tetap utuh hanya rasa itu saja yang meleleh karena diriku."


Beni mengekspresikan rasa khawatirnya membuat wajah tampan itu terlihat lucu.


"Jadi gitu ya? ah Kak Beni ngegombal terus akunya jadinya kayak diterbangin seperti layang-layang terus nyangkut dihatimu." Sahut Ega malu-malu sembari mengepalkan tangan seperti mengatakan yes berhasil.


Tentu saja membuat Beni klepek-klepek kegirangan. Mereka berdua saling pandang sedetik kemudian keluar juga suara keras mereka.


"Hahahaha."


Sepasang Suami Isteri itu tertawa renyah menertawakan kata-kata puitis mereka.


Beni masih asyik merangkul pinggang Isterinya. Mereka saat ini sedang menatap satu sama lain kedalam lembah perasaan.


"Ega." Panggil Beni menatap Isterinya penuh mesra.


"Iya."


"Terima kasih sudah bersedia menjadi Mamanya Anisa seutuhnya." Ucap Beni penuh rasa syukurnya.

__ADS_1


"Iya, aku memang Mamanya Anisa. Kak Beni sudah tahu itu kan?" Jawab Ega tersenyum manis.


"Tapi rasanya berbeda sekarang tidak ada larangan untuk berdekatan seperti ini."


Lagi-lagi Beni menggoda Isterinya sembari memperelat pelukannya. Menempel seolah tidak ada celah Rembulan untuk menembuskan sinarnya.


"Hadowh mulai dah! apa Kak Beni tadi makan Pisang Kepok makanya lancar banget kicauannya. Apalagi ini tangannya kok kayak magnet sih maunya nempel melulu." Ucap Ega menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya, upah dari makan Pisang Kepok jadinya tanganku memiliki muatan medan magnet dan pinggang rampingmu adalah besi yang membuat magnet ini aktif menarikmu, hanya kamu tempat hati ini menempel." Ucap Beni menambahkan kalimat puitisnya.


"Aku tidak menyangka ternyata Kak Beni memiliki gudang kata-kata yang siap untuk disalurkan kepada setiap Wanita. Apa mungkin bukan hanya satu saja yang dihujani kata-kata puitis tapi entah berapa banyak?" Tanya Ega tak percaya dengan apa yang didengar dari Laki-laki tampan ini. Dia baru mengetahui sisi lain dari Suaminya. Beni terkenal pendiam tak banyak kata bahkan dia dingin dan cuek kepada lawan jenisnya tapi kenapa setelah menikah dia berubah menjadi seorang Pujangga lebay.


"Wanitanya hanya kamu saja sayang, mana berani aku bergombal ria sama Bibik Siti nanti Lidahku di penggal oleh Paman Bogi." Beni berkata seakan mengusir pikiran negatif yang mulai hadir dibenak Isterinya.


"Sama Bibik Siti saja enggak beraninya terus sama Wanita lain pasti sangat berani kan?" Tanya Ega pura-pura tidak mempercayai Suaminya itu.


"Enggak percaya juga? apa perlu saya bawakan Bibik Siti sebagai saksinya bahwa Beni hanya mencintai dan menyayangi Isterinya Ega Fajrina hari ini dan Insha Allah hari esok dan selanjutnya. Aku tidak bisa memberikan kepastian untukmu tentang hari esok namun aku tetap meminta pada Allah agar hari esok dan seterusnya hanya kamu saja yang aku cinta dan hanya kamu Isteriku." Ucap Beni meyakinkan Isterinya bahwa dia tidak main-main dengan hatinya.


"Aku percaya sama Kak Beni, aku juga akan meminta sama Allah agar aku menjadi Isteri seorang Beni satu-satunya dan Isteri yang selalu akan mendampingi seorang Beni bagaimanapun keadaannya." Ucap Ega tidak kalah romantisnya.


"Terima kasih sayang telah bersedia menjadi Isteri seorang Beni."


Beni memeluk erat tubuh Isterinya seolah tidak mau melepaskannya. Dalam hatinya dia berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan Isterinya karena sekarang Wanita Manis ini telah diamanahkan untuknya.


"Kak Beni." Panggil Beni.


"Apa?"


"Kenapa rasanya oksigen sulit masuk ke hidungku ya?" Jawab Ega didalam pelukan Beni.


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Beni bingung.


"Astaghfirullah, apa aku terlalu erat memelukmu sampai tak mengizinkan oksigen memberikanmu kehidupan. Rasanya aku cemburu dengannya." Ucap Beni berlahan memberikan rongga pada tubuhnya agar Udara mampu menembus sehingga bisa dihirup Isterinya.


"Hahahaha." Ega tertawa mendengarkan ocehan Suaminya.


"Kak Beni ada-ada saja." Sambungnya berusaha meredakan tawanya.


"Iya, iya." Ucap Beni ikutan terkekeh.


Mereka berdua lagi tertawa menikmati senyuman malam yang terlihat begitu indahnya.


"Apa Kak Beni tidak mengantuk?" Tanya Ega mengakhiri tawanya.


"Belum, malam ini terlihat cantik apalagi ditemani seorang Isteri yang tak kalah cantiknya." Jawab Beni tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Isterinya.


"Aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi untuk mewakilkan rasa bahagia ini. Sungguh aku bahagia malam ini." Ucap Ega tidak ingin mengalihkan wajahnya. Biarlah Suaminya menikmati sepuas dia mau.


"Alhamdulillah jika bahagia bersamaku."


"Semoga tidak pernah terucap kata bosan dari bibir kita ya? bagaimanapun keadaan aku nantinya seperti apapun ujian dan masalah yang akan datang menghampiri kita. Kita harus sama-sama melewatinya."


Ega mencurahkan harapannya semoga dirinya dan Beni bisa melewati perjalanan rumah tangga bersama-sama sampai mereka kembali kepada Sang Pencipta.


"Aamiin, semoga sayang."


Mereka kembali diam menikmati malam yang begitu romantisnya. Beni tidak melepaskan pelukannya dan Ega tidak mau beranjak dari dekapan Suaminya karena terasa begitu nyamannya.


"Kak Beni." Panggil Ega memulai pembicaraan lagi.

__ADS_1


"Iya."


"Hem." Hanya itu yang mampu diucapkan oleh Ega. Dia ingin mengatakan sesuatu namun diurungkan.


"Apa perlu aku menceritakan kepada Kak Beni tentang Anisa." Batin Ega menimbang-nimbang.


"Ada apa? kenapa diam?" Tanya Beni melihat wajah Isterinya yang terlihat serius.


"Sebenarnya tidak penting sih hanya masalah Ibu-ibu." Sahut Ega mengurungkan niatnya untuk menceritakan tentang Anisa yang sempat terlihat murung saat dia menjemputnya tadi siang.


"Ada apa? ceritakan saja? penting maupun tidak penting harus dibicarakan tidak ada yang perlu disembunyikan." Ucap Beni mendesak agar Isterinya itu berbicara.


Ega ragu untuk membicarakannya namun kejadian yang menimpa Anisa tidak perlu disembunyikan. Dia ingin kehidupan Anisa tenang dan damai tidak terusik dengan anggapan orang yang tak baik.


Ega masih saja diam sedangkan Beni masih menunggu agar Isterinya membicarakan apa yang ingin diutarakannya.


"Ini tentang anak kita, tadi siang saat aku menjemput Anisa, Aku melihat Anisa sedang menangis dan terlihat sedih banget. Sebagai Ibu aku langsung bertanya ada apa? awalnya Anisa enggan menceritakan namun semakin aku desak pada akhirnya Anisa mau menceritakan apa yang membuatnya bersedih." Ega akhirnya menceritakan apa yang sedang mengusik pikirannya tentu saja mengganggu ketenangannya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Beni terlihat serius karena Isterinya itu menghentikan ceritanya Dia penasaran apa yang terjadi dengan Putrinya itu.


"Ada seorang Ibu-ibu melarang anaknya berteman dengan anak kita Anisa. Ibu itu mengatakan kepada Anisa kalau dia anak yang harus lahir karena akibat hubungan gelap. Ibu itu mengatakan kalau Anisa anak haram." Ucap Ega pelan karena hatinya tersayat dengan kata-kata yang tak seharusnya didengar oleh Anisa. Anak itu belum memahami apa yang diucapkan oleh Wanita dewasa yang terkadang pikirannya kekanak-kanakan.


"Astaghfirullah, benar-benar keterlaluan." Ucap Beni menahan kekesalan.


"Aku akan menuntut Ibu itu karena sudah mengusik Anisa, anak seorang Beni. Apa Dia tidak tahu dengan siapa dia berhadapan." Sambung Beni sudah tidak bisa lagi menahan gemuruh dalam dadanya. Ayah siapa yang tak murka jika anaknya mendapatkan perundungan. Beni tidak terima semua ini. Wajah yang teduh itu berubah pias mendengarkan ada orang yang telah berani mengganggu anaknya.


"Kak Beni yang sabar ya." Ega menenangkan hati Suaminya.


"Tidak bisa diterima ini mah, sebagai Ayah aku harus bertindak."


"Memangnya Kak Beni mau mengganti pakaian dengan Daster biar seimbang gitu. Ibu yang telah berani mengusik anak kita biar aku saja yang menghadapinya. Sepertinya dia sensi sama aku terus berimbas ke Anisa."


Ega menyampaikan perkiraannya. Bukannya dia Su'udzon dengan Wanita yang baru saja dikenalnya namun mengingat cara Wanita itu menatap Ega saat dia berkenalan seolah mengisyaratkan ketidaksukaan Wanita itu pada dirinya.


"Maksudnya?" Tanya Beni kebingungan.


"Aku juga tidak ingin beranggapan tidak baik kepada Ibu itu tapi caranya dia memandang ke arahku seolah menggambarkan ketidaksukaannya." Jawab Ega serius. Dia memang merasakan efek dari ketidaksukaan Wanita itu.


"Serius? kok bisa?"


"Aku juga tidak tahu, padahal aku baru kenal Ibu itu lo!" Sahut Ega.


"Kamu sudah kenal? memangnya siapa namanya?" Tanya Beni semakin penasaran.


"Iya, tapi Kak Beni tidak usah memikirkan itu. Nanti aku coba berbicara baik-baik dengan Ibu Santi semoga saja dia berhenti menyerang Putri kita lagipula tidak baik melawan keburukan dengan keburukan juga. Awalnya aku memang kesal tapi setelah dipikir-pikir tidak ada gunanya aku bersikap seperti itu, tujuannya mungkin saja ingin membuat mental kita down jadi dibuat santai saja agar dia yang merasakan rasa sakit upah dari perbuatan buruknya sendiri. Kita akan melakukan cara baik-baik untuk membuktikan bahwa kita berada pada posisi benar. Selama ada cara baik untuk menyelesaikannya kenapa tidak kita lakukan tapi jika Ibu itu masih keukeuh dengan tabiat buruknya terpaksa kita bertindak tegas." Ucap Ega terdengar bijaknya. Dia tidak ingin mencari masalah dengan orang lain tapi lain ceritanya jika sampai benar-benar kelewat batas baru dia akan bertindak sesuai dengan kelewat batas itu juga.


"Okay, kita buat Ibu itu malu dengan perbuatannya. Seenaknya saja dia mengusik keluarga Hardian." Beni setuju dengan apa yang dibicarakan oleh Isterinya. Mungkin sekarang Beni mentolerir apa yang dilakukan Ibu itu kepada Putrinya tapi lain kali Beni tidak akan memaafkan atas tabiat buruk Ibu itu.


" Lebih baik kita bersama-sama fokus membesarkan Anisa, mendidik dia dan memastikan masa depan yang indah untuknya." Sambut Ega terlihat begitu semangatnya ketika Wanita itu membicarakan masa depan anaknya.


"Iya sayang, sama adiknya Anisa yang akan lahir dari rahim kamu. Aku pingin punya banyak anak biar ramai rumah dengan anak-anak yang lucu-lucu dan ngegemesin. Cukup aku saja yang kesepian karena enggak punya saudara." Ucap Beni membayangkan rumahnya ramai dengan keceriaan anak-anak.


"Banyak?" Tanya Ega lemas.


"Iya, sebelas anak. Aku sanggup kok menanam Benihnya tiap hari." Ucap Beni berbinar-binar.


"Kak Beni sanggup tapi apa Body aku sanggup. Sebelas lo? Urat-uratku bisa putus semua." Ucap Ega terkaget, beberapa detik kemudian.


"Haneh."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2