Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
66. Bercerita.


__ADS_3

Beni dan Ega, saling tersenyum menikmati kebersamaan. Mereka beranjak meninggalkan tempat yang akan terekam dalam ingatannya.


"Apakah kamu bahagia?" tanya Beni merangkul pinggang ramping Isterinya dengan mesra.


"Iya, selama saya selalu bersama Suamiku," sahut Ega tersenyum.


"Aku juga bahagia."


Dua sejoli itu melanjutkan langkah kakinya menelusuri aliran sungai sembari bercanda ria. Begitu bertemu keramaian. Beni melepaskan rangkulan, dia cukup tahu bahwa tidak baik mengumbar kemesraan di tempat keramaian meskipun mereka pasangan halal. Ada etika yang mereka harus perhatikan. Bisa saja kemesraan berlebihan yang mereka tunjukkan membuat orang cemburu ataupun juga membuat orang lain memiliki syahwat. Tentu saja mendatangkan dosa jika hal itu terjadi.


"Itu sepertinya Fiza, aku samperin Fiza ya," ucap Ega meminta izin untuk menghampiri Gadis itu yang tengah sendiri.


"Iya, aku mau ganti baju dulu. Jangan lama-lama sebentar lagi mau Dzuhur." Beni mempersilahkan Isterinya untuk menemui Fiza sekaligus mengingatkan waktu.


Ega mengangguk, setelah itu berpisah menuju tujuan masing-masing.


"Fiza, kok sendirian? mana Mas Rian dan yang lainnya?" tanya Ega menyapa Fiza yang asyik sendiri menikmati gemericik air terjun.


"Tadi ada orang yang menghubungi Abang Rian. Dia pamit untuk berbicara kepada seseorang yang menghubunginya," sahut Fiza tersenyum. Dia memamerkan wajah indahnya.


"Cantik, pantesan Rian begitu tergoda. Dia juga terlihat lembut dan sabar," batin Ega memandang Gadis yang menjadi idaman Rian itu.


"Mbak, apa ada yang aneh pada wajah saya ya?" tanya Fiza mengingatkan Wanita yang terlihat memperhatikan.


"Pantesan Mas Rian jatuh cinta, Fiza cantik banget," puji Ega tulus.


Fiza tersipu mendengarkan pujian dari Wanita di sampingnya.


"Mbak Ega juga cantik, pantesan Abang Beni kesemsen terus bucin lagi." Fiza membalas pujian dari Ega.


"Bisa saja, padahal saya jadi bahan ledekan mereka lo!" ucap Ega tersenyum jika mengingat para Lelaki pernah menjadikan dirinya bahan gosipan.


"Bahan ledekan, kok bisa mbak?" Wajah penasaran tergambar jelas disana. Rupanya Gadis berkulit putih itu tertarik dengan pernyataan Wanita yang kini menemaninya. Dia melihat senyum manis itu tersungging pada bibir ranumnya.


"Iya, mereka meledek karena saya tidak cantik, tidak bisa merawat diri dan terlihat tomboi. Saya Gadis buruk rupa yang beruntung dipersunting oleh Lelaki tampan bernama Beni Hardian. Tidak seperti kamu, Nina dan juga Amanda. Kalian benar-benar cantik." Ega menjawab rasa penasaran yang terlihat jelas di raut Fiza. Dia tersenyum dengan wajah berbinar-binar. Fiza terpesona melihat mata indah milik dari Isteri Beni ini.


"Enggak mungkinlah mereka mengatain mbak buruk rupa," ucap Fiza tak percaya dengan cerita dari Wanita ayu ini.


"Kok enggak percaya sih? tanya saja sama mereka semumpung masih hidup," jawab Ega meyakinkan.


"Saya rasa mereka bermata plus semua sehingga tidak melihat Wanita cantik di hadapannya eh malah sibuk melihat keindahan yang jauh. Ketika mendekat, tahu-tahunya bopeng," sahut Fiza tertawa geli ketika membayangkannya.


"Kamu bisa saja Za." Ega mengulum senyum mendengarkan pernyataan Fiza yang tersirat pujian untuknya.


"Mbak Ega sudah berapa lama bersama-sama dengan mereka. Saya penasaran, hubungan kalian awet banget," tanya Fiza selanjutnya. Dia melihat hubungan persahabatan mereka terjalin baik dan terlihat nampak harmonis.


"Hem, berawalnya kapan ya?" tanya Ega pada dirinya sendiri kapan persabatan itu terjalin. Setelah termenung sesaat Wanita itu langsung mulai bercerita.


"Orang pertama saya kenal ketika menginjakkan Kaki di Mentaram adalah Nina. Dia sahabat pertama saya saat masih Sekolah Dasar. Lalu Dipta, saya bertemu dengannya di Sekolah menengah atas. Selanjutnya Evan saat memasuki bangku kuliah. Kita bertiga menjadi teman meskipun beda Fakultas. Selama berada di bangku kuliah kita bertiga sangat kompak. Saling membantu satu sama lain. Kita bertiga menjadikan diri detektif usil yang sok jago memecahkan kasus."


Ega melanjutkan menceritakan pertemanan mereka setelah menjedanya beberapa menit. Cerita berlanjut dengan keseruan mereka di bangku kuliah. Terkadang mereka bertiga bertingkah konyol, usil dan juga sering kali mengerjain teman-temannya. Namun prinsip mereka no bullyan.


"Serius! Dipta pernah ditolak sama cewek. Karena enggak terima, dia mengajak cewek itu adu panco. Ya Allah Dipta, ada-ada saja." Ega membuka rahasia masa lalu dari sahabatnya itu. Dia mengenang itu membuatnya tersenyum geli.


Hahahaha


Fiza tertawa mendengarkan cerita tentang Dipta. Gadis itu tidak bisa membayangkan seperti apa kelucuan yang terjadi. Fiza tidak bisa lagi menahan tawanya. Dia menekan perutnya yang kesakitan efek dari tawanya itu.


"Hahahahaha."


Kedua Wanita itu asyik tertawa mendengarkan cerita lucu selanjutnya. Tentu saja tingkah keduanya menjadi pusat perhatian. Namun mereka terlalu asyik bercerita sehingga mengabaikan perhatian dari sekitarnya.


"Terus, apa yang terjadi?"


"Gadis itu sangat membenci Dipta. Setiap bertemu pasti langsung membuang muka dan menampar Dipta dengan pandangan menusuk. Dipta santai saja menanggapi, sok cool padahal hatinya sakit banget di tolak. Dia menghabiskan sepuluh gelas Jus Pare tapi tetap saja mewek. Mungkin gara-gara Jus Pare itu Lidahnya sekarang pahit banget sama cewek." Ega melanjutkan ceritanya. Mengingat itu dia tidak tahan untuk tidak tertawa.


"Ya Allah, pasti lucu mimik muka Dipta. Saya tidak bisa membayangkan rupa Dipta lagi mewek pasti semuanya langsung mengelembung." Fiza menggelengkan kepalanya membayangkan hal itu sembari tersenyum geli.


"Apa kamu pikir Dipta itu Balon, apa?"ucap Ega tertawa.

__ADS_1


"Astaghfirullah. Kenapa jadi menggosipkan Dipta, sih" Ega melanjutkan dengan beristgfar ketika menyadari ceritanya.


"Ah iya, tapi mbak menceritakan hal yang lucu dan benar bukan keburukan Dipta," sahut Fiza masih saja terlihat riang. Tawanya itu belum sepenuhnya menghilang.


"Iya sih, tapi bagaimana jika Dipta tak terima kita membahas itu. Duh berabe, bisa-bisa kita dimanyunin. Masalahnya saya enggak tega menertawakan wajahnya yang lucu itu kalau dia lagi cemberut dan manyun."


Ega dan Fiza kompak tertawa begitu membayangkan wajah lucu dari Lelaki berpipi Bakpao itu dengan Bibir mini dower.


"Sudah, sudah, perut saya sakit," ucap Ega berusaha menghentikan tawanya. Dia menyeka matanya yang berair efek dari tawanya.


Fizapun juga mengangguk sebagai tanda dia juga merasakannya. Sejenak dua wanita itu terdiam. Mereka berdua memandang air terjun yang nampak indah sembari tersenyum.


"Mbak, terus kapan bertemu dengan Abang Beni, Abang Rian dan Abang Juna?" tanya Fiza melanjutkan obrolan setelah puas menikmati kelegaan setelah lelah tertawa.


Ega berusaha mengingat kapan perkenalan itu terjadi. Sejenak mengingat alurnya, Ega langsung menceritakannya.


"Waktu buka puasa bersama. Saat itu, saya, Nina, Evan dan Dipta mengadakan buka puasa bersama di sebuah Lesehan. Dipta mengajak Mas Rian sedangkan Evan mengajak Abang Juna. Jadi kita berkenalan disana. Berawal dari sanalah keakraban itu terjalin. Sementara kalau Kak Beni, saat itu kita Touring. Abang Juna yang mengajak Kak Beni untuk ikut Touring bersama kita."


"Wah ceritanya seru banget. Tidak menyangka persahabatan kalian seseru ini," komentar Fiza riang. Dia sangat bahagia berkenalan dengan mereka dan menjadi bagian dari pergaulan mereka.


"Iya Za," guman Ega lirih. Wanita manis itu tersenyum mengingat awal perkenalan dengan Beni. Pada saat itu...!


"Assalamualaikum. Maaf saya terlambat." Juna memberi salam sekaligus meminta maaf atas keterlambatannya. Saat ini mereka akan Touring bersama semumpung mereka memiliki waktu libur.


"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh," jawab mereka serempak.


"Oh ya, kenalkan ini sahabat baru kita namanya Beni Hardian panggil saja Beni," ucap Juna memperkenalkan seorang cowok bersamanya.


"Hai, saya Beni," sapa Beni mengulurkan tangannya kepada seseorang berkulit sawo matang dengan berperawakan kurus.


"Saya Evan, cowok paling terkeren disini," sahut Evan memperdengarkan suara cemprengnya membuat Lelaki bernama Beni itu tersenyum geli. Evan menyambut uluran tangan Beni dengan penuh persahabatan.


"Saya Dipta."


"Beni."


"Ane Rian."


"Beni."


"Memangnya ane enggak ganteng Nin?" tanya Rian sedikit cemburu.


"Ganteng sih, tapi lebih ganteng Beni. Lihat itu, kulitnya putih terawat, tubuhnya tinggi dan terlihat macho pasti dadanya bidang dengan perut kotak-kotak. Sixpack gitu loh bikin saya enggak nahan bermanja-manja disana," sahut Nina centil. Dia membayangkan dirinya berada dalam dekapan Lelaki tampan di hadapannya.


"Sadar Nina, Setan seneng kalau kamu gini mah!" tegur Gadis manis yang ada di sampingnya.


Beni hanya menanggapi penilaian Nina dengan senyuman. Dia akui Gadis bernama Nina ini cantik tapi tidak menarik perhatiannya. Dia lebih tertarik dengan sepasang mata milik Gadis berkulit sawo matang di samping Nina. Dia tidak secantik Nina tapi ada sesuatu yang menarik pada dirinya. Seperti magnet yang siap menarik lawan jenisnya. Sejujurnya dia lebih terpukau dengan Gadis berkulit sawo matang bernetra indah ini. Gadis yang terlihat cuek dan dingin.


"Ganggu saja kamu, apa kamu enggak kepingin lihat aku seneng? ganteng lo ini," ucap Nina sewot. Dia kembali terfokus pada Beni tidak lagi menghiraukan kalimat sumbang.


"Kayak kamu tidak pernah lihat cowok ganteng saja," komentar Ega.


"Tadi namanya siapa?" tanya Nina. Dia mengulurkan tangannya kembali.


"Beni," jawab Beni singkat sembari menyambut tangan Gadis berkulit putih itu.


"Bertele-tele, sudah disebut tadi beberapa kali, masih saja nanya. Sudah ah, ayok kita berangkat nanti keburu matahari berada di atas Kepala." Ega mengajak mereka untuk berangkat. Gadis itu tak menghiraukan keberadaan Beni.


"Kalau Ega sudah berkata ayok, iya ayok kita lets Go!" Dipta berkomentar sembari menyusul Ega menuju Motornya diikuti yang lainnya.


"Hey, saya belum kenalan," ucap Beni menahan laju gadis itu.


Ega berhenti, lalu membalikkan tubuhnya. Kini pandangan mereka saling bertemu.


"Saya sudah tahu nama anda. Kalau tidak salah lima kali disebut. So, saya sangat mengingatnya." Ega menjawab, dia mengacungkan ke lima jarinya.


"Satu Beni."


"Kedua Beni."

__ADS_1


"Ketiga Beni."


"Keempat Beni."


"Kelima Beni."


Gadis bernama Ega secara berurutan menarik jarinya seperti belajar berhitung dengan menyebut nama Lelaki itu.


"Sedangkan nama saya, anda boleh menanyakan kepada mereka. Mereka mengetahui, silahkan tanyakan saja," lanjut Gadis itu cuek. Dia hanya tersenyum mengawali perkenalan mereka.


"Namanya Ega, dia memang agak cuek diawal. Dia orangnya baik dan asyik. Memang gitu orangnya," ucap Juna menepuk bahu Beni.


"Menarik," guman Beni yang berhasil ditangkap oleh Telinga Juna. Lelaki itu hanya tertawa kecil menanggapi komentar Beni.


"Suka? tapi sayangnya tidak boleh menyukai dia. Kalau kamu mau menjadi sahabat kita maka harus mengikuti komitmen yang kita buat. Tidak boleh di antara kita saling menyukai dan jatuh cinta. Kita harus mencari pasangan di luar dari kita." Juna memberitahu kesepakatan bersama yang pernah mereka ikrarkan.


"Apa? kenapa konyol sekali? ide siapa ini?" tanya Beni tak percaya.


"Kita semua, sudah ayok kita berangkat," ajak Juna.


Beni masih tidak percaya dengan apa yang didengar. Dia mengikuti saja arus yang akan membawanya kemana.


"Ayok Nina." Ega memberikan helm begitu mereka sampai area parkir tempat motor berada.


"Aku ikut Beni saja," sahut Nina memutuskan.


"Boncengan kamu kosong kan Beni? aku ikut kamu saja?" pinta Nina dengan pandangan memelas. Dia mengabaikan ajakan Ega yang meminta bersamanya.


"Jadi, kamu enggak mau ikut sama saya?" tanya Ega memastikan.


"Aku sama Beni saja, boleh kan Beni sekalian kita pendekatan siapa tahu aja nyaman," jawab Nina sekaligus meminta pendapat dari Lelaki itu.


"Yowes jika Kak Beni tidak keberatan. Lagipula kamu tidak gemuk juga," sahut Ega santai.


"Hahahahaha." kompak mereka tertawa mendengar tanggapan dari gadis tomboy itu. Sedangkan Beni hanya sebuah senyuman tipis yang dia tampakkan.


"Boleh?" tanya Nina lagi berharap.


"Iya, boleh," jawab Beni pasrah. Tadinya dia berharap bisa menawarkan boncengan kepada Gadis manis yang terlihat tomboy itu tapi kenyataan harapannya mental begitu saja oleh keagresifan dari Gadis berparas cantik ini.


Tentu saja penerimaan Beni memberikan kebahagiaan untuk Nina. Ada kesempatan untuk pendekatan dengan Lelaki yang rupawan itu.


***


"Hey, walaupun saya tahu nama kamu dari Juna tapi tetap saja saya ingin berkenalan dengan kamu. Namaku Beni Hardian Adha." Beni mengulurkan tangannya sembari menyebut nama lengkapnya.


Mau tak mau Ega menyambut uluran tangan dari Lelaki yang menyebutkan nama lengkapnya. Rasanya tidak sopan mengabaikan niat baiknya.


Sejujurnya Ega sedikit kaget dengan nama lengkap Beni. Sekelabat bayangan seseorang itu muncul dalam ingatannya. Ega membatin dalam pikirannya "Wajahnya mirip seseorang tapi siapa ya? terus namanya juga Beni Hardian Adha, kenapa cocok banget dengan inisial pada jam tangan yang saya simpan. Apa mungkin itu inisial dari BHA, ya? tidak, tidak, tidak ini pasti kebetulan. Lagipula saya tidak terlalu ingat, kenapa saya jadi pelupa gini ya?"


"Kenapa? kamu seperti orang kebingungan?" tanya Beni penasaran. Ketika dia menyebut nama lengkapnya Gadis itu berubah bengong seakan mengingat sesuatu.


"Tidak bingung, saya sedang berpikir apakah kita pernah bertemu sebelumnya," jawab Ega sembarangan. Dia bingung harus menjawab apa.


"Pernah, kita pernah bertemu di Lampu merah Taman. Kamu memberikan saya sebungkus Nasi daun dan sebotol air mineral. Waktu itu saya mengira kamu berjualan. Saya menyodorkan kamu uang sebagai bayaran tapi kamu menolaknya dengan menjawab "gratis Mas enggak jualan".


Mendengarkan cerita dari Lelaki yang baru dikenalnya, Ega nampak berpikir untuk berusaha mengingat itu. Dia pernah bertemu seseorang di Lampu merah Taman. Dia terlihat bahagia setelah mengingatnya lalu berkata "Ah iya, saya inget. Kak Beni memberikan selembar uang berwarna merah dengan nomor handphone yang tertulis disana, kan?"


"Betul sekali, Alhamdulillah kamu ternyata ingat. Esoknya saya mencari kamu di tempat yang sama tapi tidak menemukan kamu hingga akhirnya saya kembali ke Malang." Beni bercerita tentang dirinya yang kembali esok harinya bahkan dia berkeliling Kota Mentaram untuk mencari keberadaan dari Gadis ini. Rasa penasarannya itu membuatnya menginginkan pertemuannya kembali dengan Gadis yang menurutnya seorang Bidadari di Lampu merah.


"Saya tidak menyangka kita bisa bertemu kembali," ucap Beni mengakhiri ceritanya.


***


Ega tersenyum mengingat kenangan itu. Dia menatap Fiza yang terlihat serius menyimak ceritanya.


"Cinta sejati, tidak menyangka Abang Beni menyukai Gadis yang sama. Dia jatuh cinta dengan Gadis yang menolongnya. Abang Beni mencari Gadis itu lalu bertemu dengan mbak Ega. Mungkin saja Abang Beni sudah menyadari Gadis itu adalah Mbak Ega. Ternyata waktu membuktikan bahwa perasaan itu benar." Fiza berkomentar, dia sangat tertarik dengan kisah cinta Beni dan Ega. Berawal dari persahabatan berakhir dengan komitmen pernikahan. Dia berharap menemukan seorang Lelaki yang tulus mencintainya.


Ega tersenyum menanggapi perkataan Gadis cantik di sampingnya. Ega seakan faham dengan kalimat yang terlontar. Terselip harapan memiliki pasangan yang baik dan Soleh meskipun Fiza tak mengucapkanya.

__ADS_1


"Mas Rian atau Abang Juna?" tanya Ega membuat pilihan kepada Fiza. Fiza terkaget, dia tidak menyangka Ega juga menyadari perasaannya kepada Lelaki bernama Juna itu.


bersambung.


__ADS_2