Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 42. Saranghaeyo. ( Harap dibaca pada malam hari ).


__ADS_3

"Saya tidak bisa melakukan itu karena saya jatuh cinta sama Gadis SMA yang pernah menolong saya saat mengalami kecelakaan. Saat itu saya sedang ikut kompoi kelulusan tapi naasnya saya mengalami kecelakaan. Pada saat kecelakaan terjadi ada seorang Gadis SMA dan orang-orang disekitar menolong saya. Gadis SMA itu ikut masuk pada mobil yang mengantarkan saya ke rumah sakit. Pada saat itu saya sedang kritis dan membutuhkan donor darah secepatnya karena dirumah Sakit itu stock darah yang sesuai dengan golongan darah saya sedang kosong. Mendengarkan jenis golongan darah yang dibutuhkan. Gadis itu tanpa berpikir lagi dia langsung mengajukan diri sebagai pendonor saya." Cerita Beni mulai menerawang masa lalunya.


Ega menyimak dengan apa yang didengarnya dan mulai mengingat-ingat masa lalunya. Dia lupa sama sekali karena dia mengidap suatu penyakit sehingga rekaman masa lalunya tidak jelas terlihat. Terlihat samar-samar tapi dia merasa de ja vu dengan apa yang diceritakan oleh Beni. Terkadang dia mengingat masa lalunya dengan jelas terkadang dia lupa sama sekali. Ega berusaha untuk mengingat masa-masa kecil dan remaja tapi hanya menemukan serpihan-serpihan kenangan yang tidak jelas ceritanya.


"Gadis itu siapa Kak Beni? Kenapa rasanya begitu De Ja Vu sehingga saya merasakan pernah mengalaminya." Ucap Ega bingung.


"Gadis yang membuat saya jatuh cinta dan berusaha mencarinya dan sekarang saya sudah menemukannya tapi malah terjebak dalam komitmen persahabatan yang terlanjur diucapkan." Jawab Beni masih asyik dengan pandangannya.


"Siapa? Apa itu saya?" Tanya Ega menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, Gadis itu sekaligus Mama dari anakku Anisa dan Gadis itu bernama lengkap Baiq Ega Fajrina, lahir tanggal 19 Juni, suka jalan-jalan dan berkebun. Putri bungsu dari Mamiq Lalu Angga Ramadhan dan Ibu Siti Fatimah. Dia memiliki dua saudara terdiri dari Kakak Laki-laki bernama Lalu Fahri Hadiyurahman dan Kakak Perempuan bernama Baiq Lani Ariyanti. Dan Gadis itu sekarang berada disamping saya sedang memandang kearah saya." Ucap Beni panjang lebar.


Ega terkejut, dia tidak menyangka sama sekali kalau Gadis yang disuka Beni adalah dirinya. Tapi dia merasa aneh, darimana Beni tahu kalau Gadis yang pernah menolongnya adalah dirinya.


"Apa Kak Beni yakin kalau itu saya? Bagaimana jika Kak Beni salah?" Tanya Ega mulai penasaran. Memang sekelabat dia mengingat sesuatu tapi belum saja jelas tiba-tiba kepingan masa lalu itu menghilang. Ega berusaha mengingatnya tapi begitu gelap sama sekali. Dia tidak ingin memaksakan dirinya karena ketika tidak ingin mengingat maka kenangan itu akan muncul dengan sendirinya.


"Apa kamu lupa sama sekali Ga?" Tanya Beni bingung, kenapa Gadisnya ini tidak ingat sama sekali.


"Entahlah, samar-samar."


"Iya sudah enggak apa-apa, yang terpenting saya mengingatnya." Sahut Beni terdengar parau.


"Pantas saja Nina memanfaatkan daya ingat Ega yang lemah dan mencuri cerita yang pernah dikisahkan Ega dulu." Batin Beni bermonolog, ia baru menyadari kenapa Ega benar-benar tidak mengenalinya.


"Kak Beni belum jawab, apa yang membuat Kak Beni yakin kalau Gadis itu saya? bagaimana kalau orang lain?" Ega mengulangi pertanyaannya.


"Ini disebabkan oleh kebohongan Nina."


"Kebohongan Nina? Maksudnya?" Tanya Ega benar-benar penasaran.


"Nina pernah mengaku menjadi diri kamu. Dia mengatakan kalau Gadis yang pernah menolong saya adalah dia. Nina tidak sengaja mendengarkan pembicaraan saya dengan Juna sehingga dia tahu kalau Pemilik dari Jam tangan yang kamu simpan adalah saya. Nina mengingat apa yang pernah kamu ceritakan dan memanfaatkan daya ingat kamu yang lemot itu untuk membohongi saya. Tapi tetap saja kebohongan itu tidak akan ada hasilnya. Abi sempat bertemu Nina dari Abi lah semua itu terbongkar karena Abi sangat mengenali siapa yang menolong Putranya. Waktu kecelakaan yang menimpa saya dulu Abi bertemu dengan dirimu bahkan sempat mengobrol sebentar hanya saja Abi lupa menanyakan alamat rumah kamu dan alamat sekolah." Cerita Beni berusaha mengingatkan Ega dengan kejadian itu.


"Terus?"


"Saya mengecek golongan darah saat kamu donor darah bersama Dipta dan benar saja cocok dengan golongan darah saya. Setelah memastikan itu saya langsung menemui Abi dan memperlihatkan fhoto kamu. Begitu melihat fhoto kamu Abi langsung mengatakan bahwa Gadis yang ada di fhoto adalah orangnya." Beni menjelaskan semuanya agar tidak ada lagi rahasia yang tersimpan tentang cerita yang pernah dialaminya dulu.


"Jadi begitu? saya tidak bisa menyalahkan Nina jika dia melakukan ini. Pasti dia melakukannya karena cinta. Mungkin Nina putus asa dengan cara apalagi menarik perhatian Kak Beni yang dingin." Ucap Ega membela apa yang telah dilakukan Nina.


"Apa maksudmu Ga? Saya benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan kamu?" Tanya Beni bingung kenapa Ega seakan membenarkan apa yang dilakukan Nina.


"Apa Kak Beni tidak melihat ketulusan hati Nina? Nina melakukan semua ini demi mendapatkan cinta Kak Beni. Tidak bisakah Kak Beni melihat perjuangannya." Ucap Ega panjang lebar membuat Beni melongo.


"Apa maksud kamu Ga?"


"Nina sangat mencintai Kak Beni. Dia sekarang sedang terpuruk dan membutuhkan seseorang yang akan membantunya untuk bangkit. Orang itu adalah Kak Beni. Bisakah Kak Beni membalas cinta Nina dan menemani Nina dalam masa sulitnya." Ucap Ega menjelaskan seakan tidak mencerna apa yang diucapkannya. Lolos begitu saja dari bibirnya.


"Apa maksud kamu Ga? Apa kamu sedang menjodohkan saya dengan Nina Ga?" Tanya Beni mulai kesal. Dia baru saja menyampaikan siapa Gadis yang disukainya tapi kenapa Ega malah menjodohkannya dengan Nina. Sungguh dia tidak mengerti arah pikiran Gadis ini.


"Iya, Nina lebih membutuhkan Kak Beni daripada saya. Apa jadinya jika dia tahu ternyata orang yang dicintainya mencintai sahabatnya sendiri, ini tidak adil untuknya."


Setelah berkata, Ega dan Beni diam dalam keheningan. Dua sejoli itu sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Apa adil itu menurut kamu membiarkan hati saya tersakiti. Saya mencintai kamu Ga bukan Nina. Apa kamu tidak memikirkan perasaan saya Ga?" Pada akhirnya Beni mulai berargumen. Dari nadanya, Beni benar-benar kesal mendengar apa yang diucapkan Gadisnya ini. Bukan ini yang diharapkannya.


"Nina itu sahabat saya dari kecil, mana mungkin saya menyakiti hatinya dengan mengambil laki-laki yang dicintainya. Sama artinya saya menusuknya dari belakang dan sama artinya saya telah merusak persahabatan yang terjalin begitu lamanya. Saya tidak mau melakukan itu." Guman Ega lirih. Gadis itu siap mengorbankan diri jika itu bisa membuat Nina bahagia.


huft


Beni menghirup nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara kasar. Ada rasa sesak didalam dadanya.

__ADS_1


"Saya tidak bisa." Jawab Beni mulai emosi.


"Saya mohon, cintai Nina. Nina membutuhkan sandaran hidupnya. Kak Beni tahu sendiri dia baru saja mengalami kejadian yang merenggut masa depannya dan saat ini pasti dia sangat trauma. Tadi juga sempat histeris, saya tidak tega melihat Nina menderita seperti itu. Jika Kak Beni disampingnya dan memberikannya cinta maka keadaan Nina akan membaik. Dia pasti akan hidup normal tanpa dibayang-bayangi masa lalu yang menyakitkan." Ega masih saja keukeh meminta Beni agar menerima Nina.


"Nina sendiri yang tidak bisa menjaga diri. Ketika dia terpuruk apa saya yang harus menemaninya. Saya bukanlah Laki-laki sebaik itu Ga." Ketus Beni.


"Saya mohon Kak Beni, cintai Nina berikan dia secercah harapan." Ucap Ega memohon, terlihat wajahnya mulai memelas tentu saja membuat Laki-laki itu berubah badmood.


"Bagaimana dengan perasaan kamu? Apa kamu tidak memikirkan dirimu sendiri? Ketika kamu terluka apa yang pernah dia lakukan? Tidak ada kan?" Beni mulai memperdengarkan ketidaksukaannya.


"Nina mencintai Kak Beni." Ega masih berusaha agar Beni mau membuka hatinya untuk Nina.


"Bagaimana dengan kamu? Apa kamu tidak mencintai Saya?" Tanya Beni benar-benar kesal. Nada suaranya sudah mulai naik satu okta.


Ega menunduk tidak sanggup untuk menjawab.


"Jawab saya Ga, apa kamu tidak memiliki perasaan sedikitpun untuk saya?" Tanya Beni mulai melembutkan suaranya.


Ega masih terdiam dengan wajah menunduk.


"Jawab saya Ga?"


Lagi-lagi Ega terdiam dengan wajah menunduk.


"Lihat mata saya Ga? Apa kamu mencintaiku Ga?"


"Tidak, Nina yang mencintai Kak Beni bukan saya." Jawab Ega masih dalam keadaan menunduk. Ega benar-benar tidak mau menyakiti hati Nina dan dia tidak mau Nina menuduhnya telah merebut Beni dari dirinya tentu saja tidak ingin mendapatkan cap teman makan teman ataupun pelakor. Walaupun saat ini hatinya sedang menangis merasakan tambah sesak karena rasa sesak kemarin saja belum sembuh total ditambah rasa sesak yang baru.


Beni sudah tidak bisa lagi bersikap sabar menghadapi Gadis keras kepala seperti Ega. Dia meraih dagu Ega membuat Gadis itu mendongakkan Wajah.


"Apa kamu mencintai saya Ga?" Ulangnya lagi untuk yang kesekian.


Ega tertunduk sambil menggelengkan kepalanya membuat Beni geregetan. Dia meraih Jarum pentul yang merapatkan jilbab Ega seketika itu juga jilbab Ega terlepas.


"Membuktikan bahwa kamu tidak mencintai Kak Beni." Ucap Beni terdengar kesal dengan permintaan Gadisnya ini.


Selesai berbicara Beni ******* habis bi*** sexy milik Gadisnya ini. Saat ini dia tidak bisa lagi berpikir jernih. Beni menyerang b*** ranum Gadisnya untuk meluapkan segala kekesalan, amarah, cinta dan rindu yang selama ini ditahannya. Dia ingin agar Gadisnya merasakan betapa dia mendambanya. Merasakan betapa dia mencintainya bukan orang lain tapi dirinya. Ega membulatkan matanya begitu menyadari Beni menc**mnya dan seketika itu dia memberontak berusaha melepaskan diri dari pagutan itu tapi sayang sekali Beni terlebih dahulu mengunci dirinya. Ega memukul tubuh Beni bahkan mengayunkan tinju kearah kepalanya namun Beni tidak merasakan itu. Ega benar-benar pasrah ketika Beni menggigit bi**r bawahnya entah sudah keberapa kalinya namun Ega tidak mau membukanya. Beni mencobanya kembali, laki-laki itu tidak mau menyerah tanpa sadar Ega membukanya karena sudah mulai merasakan sensasi yang luar biasa menjalari tubuhnya. Ada getaran aneh menyusup masuk pada hatinya. Tubuhnya mulai meremang dan jantungnya terpacu begitu cepat. Ega memejamkan mata mulai menikmati apa yang dilakukan Beni pada dirinya. Ega mengalungkan tangan pada leher Beni dan membiarkan Laki-laki itu menjelajahi dan mengabsen segala apa yang ada didalamnya.


"Inikah rasanya ciuman pertama? Kenapa rasanya manis banget bibir merah Laki-laki ini, bibir yang tidak tersentuh rokok, nikmat rasanya dan benar-benar indah." Batin Ega mulai menikmati ciuman pertamanya.


Beni menyudahi setelah pasokan oksigennya benar-benar menipis. Dia berebut oksigen dengan Ega yang nampak ngos-ngosan.


"Apa yang telah kita lakukan Kak Beni?" Tanya Ega seketika dia mulai menyadarinya. Airmata Gadis itu mulai merembes. Dia menangis sesenggukan karena telah melanggar aturan Allah sebelum mereka halal melakukannya dan juga melanggar prinsip hidupnya.


Beni juga menyadari itu, dia juga telah melanggar janjinya kepada Gadis itu untuk tidak menyentuhnya.


"Maafkan saya Ga, saya khilaf." Lirih Beni menyadari kesalahannya.


Ega menangis sambil sibuk beristigfar begitu juga dengan Beni sibuk beristigfar memohon ampun atas apa yang dilakukannya tadi.


Setelah keadaan tenang, Beni meraih wajah Ega yang sedang menangis. Dia melihat Wajah Gadisnya itu begitu kacau. Matanya sembab dan bibir ranum itu terlihat begitu bengkak akibat apa yang dilakukannya tadi. Beni benar-benar merasa bersalah dan menyesal karena telah menyakiti hati Gadisnya ini.


"Maafkan saya Ga? Saya tidak bisa mengendalikan perasaan ini. Saya benar-benar mencintai kamu. Saya hampir putus asa cara apalagi yang harus saya lakukan agar kamu mengerti." Guman Beni lirih. Dia menangkup wajah Ega dan memandangnya secara lekat dan begitu intensnya.


"Nanean neoreul johae, Saranghaeyo, Cheorang-kyeoron-hae jullaeyo?" Ucap Beni menyatakan perasaannya kepada Ega terdengar begitu tulusnya.


Ega terkesiap mendengarkan pernyataan Beni sepertinya pernyataan cinta. Beni terdengar begitu kesulitan melafalkan kalimat itu. Kenapa Laki-laki ini mendadak jadi Oppa-Oppa padahal Beni sangat tidak menyukai Drakor.


Hati Ega tergelitik mendengarkan apa yang diucapkan Beni. Gadis itu tertawa ngakak seakan melupakan apa yang pernah terjadi.

__ADS_1


"Hahahahaha."


"Kenapa? Kalimat saya salah ya?" Tanya Beni jadi salah tingkah, dia malu banget karena sok-sok an menggunakan bahasa Oppa untuk menunjukkan perasaannya.


"Hahahahaha."


Ega tidak berhenti tertawa sampai air matanya berair dan perutnya terasa sakit.


"Kak Beni lucu, dialeknya benar-benar lucu. Tidak ada Oppa-Oppanya sama sekali." Terang Ega di sisa tertawanya. Ega sibuk menekan perutnya yang sudah sakit.


"Hehehehe." Beni malah cecengesan sambil menggaruk kepalanya yang gatal.


"Darimana Kak Beni belajarnya?" Tanya Ega mulai serius dan meredakan suara tawanya.


"Dari Internet, mana ada ongkos kalau langsung belajar ke Negeri Oppa-Oppa mah." Jawab Beni masih cengengesan.


"Lumayanlah, bisa dapat jempolan dan saya bilang Yes." Ucap Ega masih menahan senyum.


"Alhamdulillah saya diterima, terima kasih Ga." Ucap Beni kegirangan tidak sadar memeluk tubuh Ega. Semenit kemudian ketika dia ingat, Beni langsung melepaskan pelukannya. Tentu saja membuat Ega bengong binti bingung. Gadis itu menggaruk kepalanya yang belum terbalut jilbab ketika Beni membukanya secara paksa.


"Ga, maukah kamu menikah dengan saya, menjadi Isteri dan Mamanya Anisa serta anak-anak kita yang nantinya lahir dari rahimmu. Kita akan bersama-sama membangun keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Warohmah. Bersama-sama beribadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hanya kamu yang saya inginkan tidak ada orang lain lagi apalagi Nina." Ucap Beni terdengar serius dan tulus dari hatinya yang terdalam.


Ega terdiam mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh Beni. Gadis itu masih dalam dunia bengongnya. Dia tidak mendengarkan apa yang diucapkan Beni setelah itu.


"Egaaaa!" Panggil Beni sedikit berteriak.


"Ah eh kenapa?" Kak Beni ngomong apa?" Tanya Ega gelagapan karena tidak berhasil menguasai keterkejutannya. Sahabatnya ini sedang melamarnya dan sedangkan dia memikirkan bagaimana perasaan Nina jika dia tahu bahwa Beni menolak karena dirinya. Nina pasti akan merasa sakit.


"Ega, yeee kok malah bengong. Kamu terima Gak lamaran saya?" Tanya Beni berharap kepada Gadis itu agar mau menerima dirinya sebagai pendamping hidupnya.


"Bagaimana dengan perasaan Nina? Apa saya terlalu jahat telah mengambil Kak Beni dari hatinya. Saya tidak bisa melakukan itu Kak Beni. Saya harus menjaga hati Nina dan ingin melihat dia bahagia." Ega malah memikirkan apa yang akan terjadi jika Nina mengetahuinya. Sungguh dia tidak ingin menyakiti sahabatnya itu. Seandainyapun dia memiliki cinta untuk Beni tapi Nina yang terlebih dahulu mencintai laki-laki itu dan tidak ingin menjadi perusak hubungan orang.


"Nina lagi Nina lagi, bisakah kamu memikirkan dirimu sendiri dan kebahagiaan kamu Ga?" Bentak Beni mulai emosi.


"Saya tidak ingin bahagia diatas luka orang lain. Kak Beni harus mengerti itu apalagi Nina sahabat saya dan Nina begitu sangat mencintai Kak Beni." Lagi-lagi Ega mempertahankan pikirannya.


"Cukup Ga, saya tidak mau mendengarkan itu semua." Bentak Beni lagi sambil berusaha menahan rasa sesak di dadanya.


"Saya melakukan ini semua demi kebaikan kita semua dan demi kebahagiaan Kak Beni. Kak Beni pasti akan mudah jatuh cinta dengan Nina. Nina Gadis yang sangat cantik dan baik, akan mudah bagi seorang laki-laki jatuh hati kepada dirinya." Ucap Ega memberikan gambaran agar Beni mau merubah pikirannya.


"Saya tetap dengan keputusan saya, bahwa saya hanya mencintai satu Gadis yaitu kamu Ga! Tidak bisa lagi digantikan oleh seorang Wanita seperti Nina secantik apapun dia." Ucap Beni sambil bangkit dari duduk lalu meninggalkan Ega sendirian menuruni satu demi satu tangga dengan membawa amarah yang semakin membucah. Kepala Beni benar-benar panas mendengarkan penolakan dari Ega, sungguh ini kenyataan yang tidak pernah diharapkannya.


Ega memandang tubuh Beni yang mulai menghilang hanya suara deru motor yang terdengar.


"Maafkan saya Kak Beni, saya sungguh bahagia mendengarkan pernyataan cinta yang terdengar romantisnya tapi saya tidak bisa menyakiti hati Nina Sahabat saya. Dia lebih membutuhkan Kak Beni ketimbang saya. Saya masih bisa berdiri sedangkan Nina apakah dia bisa bangkit lagi." Ucap Ega terisak-isak.


Gadis itu menangis sesekali dia memukul dadanya yang terasa sesak. Rasa sakit ini lebih dahsyat dari rasa sakit yang pernah dilakukan Ivan dan Hasan untuknya.


Ega hendak beranjak dari duduknya namun matanya berhasil menangkap benda yang tergeletak di dekatnya. Sebuah Kotak perhiasan berwarna merah dengan bentuk hati. Ega membukanya dan dia semakin menangis melihat apa isinya. Sebuah cincin yang terlihat begitu cantik. Cincin itu begitu mungil bermahkota berlian. Ega mengambil cincin itu lalu memasukkannya ke jari manis. Pas, benar-benar Pas!.


Ega membiarkan cincin itu bertengger manis di jarinya kemudian masuk ke kamar cowok keren dan tidak ingin beranjak pergi dari sana.


"Kak Beni kembali? sebenarnya saya menerima kak Beni. Saya juga suka sama Kak Beni. Saya tidak sanggup hidup tanpa Kak Beni tapi saya bisa apa Kak? jika diantara kita ada yang tersakiti." Racau Ega dibalik tidurnya. Samar-samar Ega mendengarkan suara Beni.


"Tidur sayang, saya akan menemani kamu disini." Terdengar suara Beni disampingnya menyusup masuk pada selimut yang dipergunakan Ega lalu memeluk Gadis itu dari belakang. Ega merasakan kenyamanan tatkala Beni memeluknya dari belakang. Dia tertidur lelap dengan sisa airmata di kedua pipinya.


Bersambung.


Maaf, Kak Beni dan Eganya khilaf jadi bagi Adek-Adek yang belum menikah jangan ditiru ya? walaupun hanya sebatas ciuman saja.

__ADS_1


Happy Reading semoga suka jangan lupa Like, Komen dan Vote.


Terima kasih.


__ADS_2