
Fiza terdiam, jujur saja saat ini dia sangat malu. Dia tidak menyangka Ega memberikan pertanyaan yang teramat menyulitkannya. Itu artinya Wanita ini mengetahui perasaannya terhadap Lelaki berparas timur tengah itu.
Melihat perubahan Fiza, Ega menyadari kekeliruannya. Dia merasa tidak enak hati karena telah menodong Fiza dengan pertanyaan yang mungkin saja menyulitkannya.
"Maaf ya," ucap Ega kemudian untuk melegakan ketidak pantasan menyinggung hati dari Fiza.
Fiza memandang Ega dengan menyunggingkan senyum manisnya. Dia menggelengkan kepala sebagai tanda bahwa tak masalah dengan hal itu. Lalu Gadis itu berkata :
"Tidak apa-apa Mbak. Tidak seharusnya minta maaf. Dalam hal ini mbak hanya bertanya. Sejujurnya saya senang mbak ternyata perhatian kepada saya. Hanya saja saya malu, mengapa perasaan yang ada untuk Abang Juna ternyata sangat mudah terbaca. Padahal saya tidak mengatakan kepada siapapun. Bukankah itu artinya saya tidak pandai merahasiakannya."
Ega tersenyum menanggapi pengakuan dari Gadis cantik di hadapannya. Terlihat jelas wajah itu tersipu sekaligus sendu. Mungkin saja di hati gadis itu tersimpan kegalauan.
"Fiza, boleh mbak memberikan gambaran tentang kedua Lelaki itu sebelum kamu mendapatkan jawaban," ucap Ega kemudian.
Fiza mengganggukkan kepala setuju. Dia memang membutuhkan masukan untuk membuat keputusan penting dalam hidupnya.
"Mas Rian terlahir dari keluarga yang berada. Bapaknya Pejabat sekaligus pembisnis. Ibunya juga Pegawai Pemerintah, pun begitu dengan Mas Rian yang mengikuti jejak orang tuanya. Orang tuanya sangat baik, ramah dan juga humoris. Keduanya tidak pernah memandang status sosial. Mau dari orang berada atau enggaknya mereka menerima dengan penuh kekeluargaan. Siapapun yang dekat dengan anaknya, mereka terima asalkan sopan dan tahu tata krama. Terus Mas Rian itu sabar orangnya dan sangat senang dengan anak kecil. Dia memiliki dua orang keponaan, kalau tidak ada kegiatan di luar maka dia menghabiskan waktu menemani keponakannya itu. Mas Rian memang Play Boy tapi dia tidak pernah merusak teman kencannya. Dia bukan penganut **** beban, begitu juga yang lainnya." Ega menceritakan secara singkat tentang Rian dan keluarganya. Karena keakraban di antara mereka sehingga mengenal satu sama lainnya.
Fiza tersenyum, dia memikirkan sesuatu. Cerita dari Ega ini berpengaruh besar dengan apa yang ada dalam pikirannya.
"Sedangkan Abang Juna. Abang Juna orangnya baik, loyal dan juga perhatian. Dia memang seorang putra bangsawan tulen. Tingkah lakunya mencerminkan darimana dia berasal. Sopan dan sangat menjaga etikanya. Orang tuanya pada dasarnya baik dan ramah hanya saja mereka masih menjunjung tinggi status sosialnya. Mereka masih menjaga siapa dirinya dan siapa orang lain. Pun begitu dengan orang lain yang masuk dalam lingkungan keluarganya. Mereka akan melihat dari mana orang tersebut berasal. Apakah mereka memiliki nama yang sama dengan mereka atau tidak. Karena itulah Abang Juna harus menikah dengan Gadis yang memiliki keturunan yang sama dengan dirinya. Abang Juna sebenarnya menginginkan kebebasannya. Dia ingin menikah dengan seorang Gadis dari kalangan manapun yang terpenting seiman dan baik. Keinginannya bertentangan dengan keinginan orang tuanya. Itu sebabnya Abang Juna sering kabur dari perjodohannya."
"Abang Juna dijodohkan?" tanya Fiza begitu mendengarkan cerita Ega tentang Lelaki itu.
"Iya, dia selalu kabur dan lebih parahnya kita ikut terlibat dalam pelariannya," sahut Ega. Jika ingat itu dia merasa bersalah dengan kedua orang tua Juna sekaligus lega karena menyelamatkan hati dari Lelaki itu.
"Jadi begitu?" ucap Fiza datar.
"Iya, jika kamu memilih Abang Juna kamu harus siap meyakinkan orang tuanya bahwa kamu pantas mendampingi hidup Abang Juna. Tapi yang lebih penting kamu harus bisa meyakinkan hatinya," ucap Ega selanjutnya.
"Meyakinkan hatinya? maksudnya?" tanya Fiza penasaran.
"Abang Juna insecure dengan dirinya. Dia masih hidup dengan kenangan masa lalunya. Dulu dia pernah di cintai oleh seorang Wanita. Sebenarnya dia juga memiliki perasaan hanya saja kesempatan untuk mengutarakan perasaan itu tidak pernah dia pergunakan dengan baik. Pada akhirnya kesempatan itu tak ada lagi." Ega menjawab pertanyaan Gadis cantik ini. Ada rasa sesak jika mengingat siapa Wanita itu. Dia menghela nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Ega sejenak mengirim doa untuk mendiang.
Fiza, dia terdiam mendengar cerita tentang Juna. Dalam bayangannya pasti Wanita yang di maksud adalah Ega itu sendiri. Dia tahu Juna mencintai Ega dan terlambat menyadari. Tentu saja tidak ada kesempatan lagi karena Wanita itu telah menikah.
"Terus apa yang terjadi?" pada akhirnya Fiza bertanya. Dia tidak ingin menduga, jika ternyata dugaan itu meleset dari bayangannya.
"Wanita itu meninggal dunia, dia menderita Kanker Payudara. Awalnya dia tertimpa reruntuhan saat gempa itu terjadi. Saya dan Kak Beni berusaha menyelamatkannya, tapi kita tidak tahu penyakitnya ternyata parah. Pada akhirnya Nara Aulia meninggalkan kita dengan menitip Anisa Mutia. Saya dan Kak Beni mengadopsi Anisa dan menjadikan Anisa sebagai cucu dari keluarga Hardian." Ega menjelaskan panjang lebar.
Fiza, tidak bisa berkata apapun. Dia merasa sangat berat menghadapi hati seorang Juna. Tidak gampang melepaskan keterikatan Juna dengan Wanita di masa lalunya. Dia juga tidak nampu mendepak posisi Ega di hati Lelaki itu. Sudah jelas, Lelaki itu tak memberikan kesempatan menghampiri hatinya apalagi menyentuhnya. Lantas apa harapan yang akan dia bangun jika dia sudah di tolak.
"Innalillahi." Hanya itu yang terucap dari bibir Fiza. Dia tidak mengira hidup Lelaki itu sesedih itu.
"Fiza, saya serahkan jawaban itu. Hanya kamu yang tahu siapa hati yang ingin kamu raih. Mintalah petunjuk kepada Tuhan. Shalat istikharahlah, agar kamu tidak salah menentukan," ucap Ega sembari menepuk bahu Gadis itu. Dia melihat Fiza kebingungan dan dilema itu nampak jelas tersirat pada wajahnya.
"Menurut mbak lebih baik di cintai daripada mencintai. Jika kita di cintai maka pasangan kita sangat menghargai kita. Berbeda dengan kita yang mencintai seorang Lelaki, butuh kesabaran ekstra untuk menumbuhkan rasa itu ada untuk kita. Jika gagal maka apa yang kita lewati menjadi sia-sia. Apapun yang kita lakukan seakan tak berarti dan lebih menyakitkan jika pasangan kita berucap 'kamu yang mengejar jadi terima saja ketidak pedulian itu terjadi'. Sudah begitu mau bilang apa? protespun bukan menjadi hak." Ega melanjutkan penjelasannya. Dia berharap Fiza bisa memaknainya. Bukan maksudnya untuk menggiring Fiza untuk menerima Rian. Dia hanya menerangkan posisinya sebagai seorang wanita. Seperti itu yang ada dalam pikiran Ega.
"Hem, terima kasih mbak sudah menerangkan semuanya. Fiza jadi tahu harus berbuat apa?" sahut Fiza berparas sumringah.
"Alhamdulillah. Saya harap Fiza tidak salah faham atas penjelasan ini. Saya tidak menentukan pilihan ke siapa? jika kamu berharap sama Abang Juna maka perjuangkan harapan itu. Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti hati Abang Juna meleleh mendapatkan tetesan cinta tulus dari kamu. Bukankah harapan itu selalu ada?" lanjut Ega memberikan semangat untuk memperjuangkan rasa itu untuk Juna.
Bimbang
Meragu
Dilema.
Itu yang dirasakan Fiza kini. Memang rasa itu tertuju untuk Juna bukan Rian. Akan tetapi belum saja melangkah menghampiri hatinya. Lelaki itu sudah mengisyaratkan untuk berhenti dengan jarak yang lumayan jauh dan meminta Fiza untuk tidak menghampirinya. Seketika itu pintu hati Lelaki itu tertutup tanpa memberikan harapan. Belum saja berucap Juna sudah menyampaikan penolakan.
Fiza menghela nafas yang terasa sangat berat. Kenapa jatuh cinta serumit ini? hati itu bertanya.
"Hey, apa yang kamu pikirkan, Fiza?" tanya Ega sembari menepuk bahu Gadis itu pelan. Ega melihat Gadis itu melamun.
Fiza tersadar dari lamunannya sesaat. Dia dengan cepat menggelengkan kepala lalu berkata "Enggak ada yang dipikirkan, mbak."
"Okay, sepertinya sudah siang. keasyikan mengobrol jadinya lupa waktu. Emak-emak mah gitu, terkadang enggak sadar kalau Suaminya lewat," ucap Ega. Dia tertawa membayangkan reaksi Suaminya jika menyadari hal ini.
"Bener juga," sahut Fiza tertawa kecil.
Setelah puas bercerita, kedua Wanita itu bergegas menghampiri teman-tamannya di titik kumpul.
Hari menjelang sore, mereka memutuskan untuk meninggalkan kawasan air terjun Sendang Gile. Sebelumnya mereka menunaikan Ibadah Shalat Dzuhur.
__ADS_1
***
"Asyik kayaknya ngobrol sama Fiza? apa diobrolin hingga lupa waktu?" tanya Beni saat mereka melangkahkan Kaki meninggalkan air terjun. Mereka kini berjalan menelusuri anak tangga yang berjumlah dua ratus itu. Langkah kaki mereka menanjak membuat sedikit mempergunakan tenaganya.
"Rahasia Wanita," sahut Ega. Dia menolak untuk bercerita. Dia mengerlingkan matanya untuk mengalihkan perhatian Suaminya.
"Kamu sudah mulai menggodaku ya? kalau di tempat sepi sudah aku serang bibir kamu," sahut Beni mengulum senyumnya.
Dia mencubit hidung mancung Isterinya yang membuat Ega berteriak kesakitan. Sepasang Suami itu tertawa bahagia menikmati gurauan mereka. Keduanya juga mendengarkan celotehan temannya yang berjalan beriringan.
"Lihat tuh, saudara kamu, Van?" celoteh Dipta menunjuk Binatang berbulu abu-abu sedang bergelantungan di Pohon.
"Iya, kamu induknya Dipta. Kamu lebih tepat, bukannya gen kamu sama dengan tuh orang hutan. Lihat tuh Orang hutannya gemuk banget bukannya sama seperti kamu," sahut Evan tidak mau kalah.
"Kalau berhabitat sama jangan saling olok, terima saja kali?" sahut Amanda tersenyum. Selanjutnya dia memperdengarkan tawa renyahnya.
"Berarti kamu juga berhabitat sama dengan kita berdua. Bukankah kamu. ...!"
" .... Akan menjadi Kekasihku." Dipta memotong perkataan Evan yang membuat Lelaki itu mempelototi Dipta.
"Enggak sopan tahu, main potong saja. Memangnya ucapan saya Kue Tar apa?" sahut Evan kesal.
Amanda, melihat kelakuan dua sahabat itu hanya menanggapi dengan tawa geli.
"Hahahaha, saya hanya inisiatif untuk bertindak cepat. Bukankah kita sedang bersaing," sahut Dipta merasa menang.
"Bukan gitu kali, enggak fair namanya itu?" timpal Evan memperlihatkan ketidak sukaannya.
Sedangkan yang lain hanya tertawa geli melihat tingkah keduanya dibarengi gelengan kepala.
"Sekarang biarkan saya yang berbicara, jangan di potong lagi," ucap Evan serius.
Mendengarkan keseriusan dari Evan, pada akhirnya mereka memutuskan untuk singgah.
"Amanda, kamu mau menikah denganku? aku tidak memintamu menjadi Kekasihku melainkan menjadi Isteriku. Sekarang aku sedang tidak bercanda apalagi untuk konten. Aku serius ingin menapaki jawaban kamu yang akan menuntunku bertemu hatimu. Sekarang apa jawaban kamu?" ucap Evan serius.
Sontak semua orang terpana mendengarkan ungkapan Lelaki kurus itu. Tidak menyangka Evan langsung mengajak Amanda ke Pelaminan.
"Wadowwh saya kalah strategi ini," komentar Dipta terkejut dengan pernyataan Evan. Jika dia mengajak Amanda berpacaran berbeda dengan Evan yang langsung mengajak Amanda menikah. Rupanya Evan sudah memantapkan hatinya untuk mempersunting Gadis bernama Amanda itu.
"Mau jawab apa ya? aku bingung," sahut Amanda bingung. Sejujurnya dia sangat terharu.
"Jawab saja iya," ucap Juna mendukung.
"Iya saja, Dek," ucap Beni ikut mendukung.
"Saya juga Yes," sahut Ega sembari tersenyum.
"Ane sama Fiza juga YES," ucap Rian yang dianggukkan oleh Fiza setuju.
"Kalau saya tentu saja No, jawaban iya untuk saya saja Amanda," ucap Dipta memelas. Dia berharap Amanda memilihnya sebagai kekasih. Menurutnya terlalu dini membicarakan pernikahan. Dia belum siap untuk itu mengingat baru saja mereka berkenalan.
Amanda tersenyum, dia merasa lebih nyaman bersama Evan. Dia merasa menjadi dirinya sendiri apalagi dengan minat yang sama. Hubungan mereka terasa asyik dan penuh canda tawa.
"Iya saya terima," jawab Amanda dibarengi dengan anggukan setuju. Dia tersenyum bahagia karena memutuskan jawaban yang tepat. Dia tidak bisa memungkiri bahwa hatinya memilih Evan.
"Serius? ini serius, kan?" tanya Evan tak percaya.
Amanda sekali lagi menganggukkan kepala meyakinkan Lelaki itu.
"Yeees, horeeeeee. Aku diterima. Emaaaaaak anakmu ini mau menikaaaaah." Evan berteriak membuat orang-orang disekitar memperhatikan mereka. Mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
"Hahahahaha." Mereka tertawa melihat tingkah Evan yang kekanak-kanakan. Sedangkan Amanda tersipu sembari mengulum senyum.
Berbeda yang dinampakkan Dipta. Lelaki itu bersedih dengan wajah sendunya.
"Huaaaaaaa. Hikz, hikz,hikz. Emaaaak aku di tolak." Dipta berteriak histeris membuat yang mendengarkannya terkejut. Mereka memperhatikan Dipta yang nampak sedih namun terlihat lucu.
"Dipta, ini Nugget untuk kamu," ucap Ega menyodorkan Kotak makanan berisi sisa Nugget tadi.
Dipta mengambil Nugget tersebut dengan masih diliputi kesedihan dan lalu berkata "Enggak dapat Amanda, Nuggetpun jadi."
"Hahahahahaha." Mendengarkan ucapan Dipta membuat semuanya kembali tertawa.
__ADS_1
"Abang Dipta, maafin Amanda ya? Abang Laki-laki baik, saya juga sangat senang menjadi sahabat Abang Dipta. Tapi Abang Dipta maunya pacaran sedangkan amanda enggak mau itu. Jadinya kita enggak sehati dan sepenanggungan. Maafin Amanda ya?" ucap Amanda serius. Dia menenangkan hati Sahabatnya itu agar tidak galau.
"Amanda, kamu membuat saya patah hati. Sakitnya tuh disini," sahut Dipta sembari menunjuk perutnya.
"Mules kamu Dipta?" tanya Juna sembari merangkul bahu Lelaki berpipi bakpao itu.
"Sakit Jun, sakiiiiiiit perut saya karena penolakan Amanda," sahut Dipta mendramatisir.
"Alaaah lagakmu, sakit karena cinta itu sakitnya itu di hati bukan malah di Perut. Kalau itu mah kebanyakan makan kamu," ucap Juna.
"Kalau sakit di Kepala apa itu penyebabnya?" tanya Dipta terpancing obrolan dari Juna.
"Itu mah kebanyakan hutang, lelah mikir besok mau nyetor pakai apa? makanya hutang menyerang Kepala jadinya sakit deh," sahut Juna berkelakar.
"Sepertinya pengalaman banget, apakah sedang membuka jati diri anda Raden Lalu Mandala Juna," ucap Dipta menggoda sahabatnya itu.
"Sembarangan, jangan keras-keras saya kan jadi malu," bisik Juna yang berhasil di dengar oleh orang lain.
"Hahahahahaha." Mereka kembali tertawa, kali ini menertawakan tingkah Juna yang terlihat tersipu sembari menggaruk tengkuhnya sebagai pengalihan ketegangannya.
"Lantas kalau sakit jejengku (lutut) apa penyebabnya?" tanya Evan usil. Lirikan mengarah kepada Beni yang sedang menikmati air putihnya.
"Ayok Abang Beni jawab," tuntut Amanda. Dia melihat Ega sudah tersipu malu.
"Kenapa saya yang harus menjawab," sahut Beni santai.
"Di antara kita ante yang sudah menikah," timpal Rian.
"Iya, iya sakit lutut itu karena asam urat tapi kalau lemas lutut itu disebabkan oleh terlalu nikmat olahraga malamnya. Bercinta maksudnya itu, apa kalian puaaaas," jawab Beni gamblang.
"Kira-kira berapa ronde agar bisa membuat lutut seorang Beni lemas?" tanya Dipta memburu Beni dengan ledekan.
"Menikah saja biar kalian tahu rasanya. Setiap orang mempunyai takaran masing-masing," sahut Beni santai menanggapi ledekan Dipta dengan ledekan juga.
"Hahahaha." Lagi mereka tertawa mendengarkan tanggapan Beni yang terdengar mengada. Sedangkan Ega, hanya tersenyum dan tersipu malu menanggapi serangan dadakan itu. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Jika membahas itu dia memilih diam karena menurutnya itu sangat tabu.
"Okay, kita kembali ke pasangan yang baru jadian. Kamu benar-benar telah menemukan petasan yang sekali tembak langsung jadian," ucap Ega mengalihkan pembicaraan.
Evan tertawa ngakak karena mengingat statusnya disalah satu medsos yang ditulisnya.
"Info donk gan, dimana kita beli petasan yang sekali tembak langsung jadian 😃😍."
(By. Evhans Syahreza).
"Abang, jadi saya disamakan dengan petasan?" sahut Amanda kesal.
"Hahahahaha, baru saja jadian langsung ada prahara," sambar Dipta riang.
"Makanya sama saya saja, kamu akan saya ibaratkan seperti berlian yang sangat berharga," lanjut Dipta mencuri perhatian.
"Dipta, jangan menjebak calonku agar berubah pikiran? lagian Amanda itu bukan gadis labil," sahut Evan serius.
"Takut ya?" tanya Dipta selanjutnya dia tertawa bahagia karena berhasil membuat sahabatnya itu gundah gulana.
"Benar kata Abang Evan, saya bukan Gadis labil. Saya serius menerima Abang Evan. Enggak apa petasan deh, itu hanya perumpamaan," sahut Amanda mantap. Dia menenangkan hati Kekasih hatinya itu.
Glek
"Kamu selalu membuatku kecewa Manda," sahut Dipta bersedih.
"Jangan bersedih, masih ada saya yang dengan setianya menemani kamu Dipta," ucap Juna kembali merangkul Lelaki itu.
"Kamu serius, kamu masih normal, kan?" tanya Dipta berkelakar.
"Tentu, saya lebih suka Apem daripada Celilong," sahut Juna diakhiri dengan tawa renyah.
"Sama, kalau begitu kita jari cewek, nyok?"
"Ayok, tapi jangan mencari disini yang ada hanya dari habitatmu saja, noh," ucap Juna menunjuk orang hutan yang bergelantungan di atas pohon.
"Sumpret!" Dipta menggerutu sedangkan Juna kembali memperdengarkan tawanya.
Bersambung.
__ADS_1