
Flashback hari Minggu, 5 Agustus 2018.
"Siapa yang menelpon." Batin Ega bertanya. Dia sama sekali tidak mengenal nomor itu. Namun diangkat juga oleh Gadis itu, siapa tahu sangatlah penting.
📞Assalamualaikum."
📞Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh." Terdengar suara cowok yang mengangkat. Ega berusaha untuk mengingat-ingat suara ini. Seakan dia mengenal suaranya. Kenapa begitu familiar di Telinga.
📞Dengan siapa?"
📞Ga, masak kamu tidak inget? aku Ivan."
Deg
Ega terkaget, dia menjauhkan Handphonenya dari Telinga. Dia bertanya-tanya darimana Ivan tahu nomornya. Ega buru-buru menepuk Jidatnya karena nomornya tidak pernah diganti. Mungkin saja Ivan masih menyimpan nomornya.
📞Hallo, apa kamu masih disana Ga?"
📞Eh iya, aku disini kok. Kau apa khabar? sudah berapa anaknya?" Terdengar Ega berbasa-basi untuk mencairkan rasa canggung diantara mereka.
📞Dua Ga, cewek semua."
📞Alhamdulillah." Setelahnya Ega terdiam, karena bingung harus membicarakan apa.
📞Kamu pasti kaget karena aku hubungi. Aku masih menyimpan nomor kamu Ga. Sebenarnya aku ingin selalu menghubungi kamu namun aku takut kamu menolak mengobrol denganku."
Ega masih terdiam, dia tidak mampu untuk berkata apa-apa. Dia memilih menjadi seorang pendengar mungkin dengan cara ini dia mengetahui maksud Ivan menghubunginya. Ega seakan enggan menanggapi Suami orang. Takutnya nanti orang yang menjadi Isteri dari Laki-laki ini akan berprasangka buruk kepadanya.
📞Aku selalu merindukan mu Ga? Apa kamu masih sendiri sekarang?"
📞Hem, Ada apa ya Mas Ivan?"
Ega mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin memperpanjang pembicaraan jika itu berhubungan dengan perasaan. Ega masih ingat jelas rasa bahagia ketika malam itu dia mendapatkan pesan Cinta dari Calon Suaminya itu. Pesannya itu masih dia ingat sampai detik ini.
' I Love You, Calon Isteriku. penyejuk hatiku. Aku tak sabar ingin bersamamu memupuk rindu ini bersama. Menjaga dan merawat cinta ini bersama. Kita akan bahagia, bersama anak-anak kita kelak.'
📞Maaf aku mengganggu, aku berani menghubungi kamu karena ingin bertanya keadaan Mamiq dan Inaq. Aku nonton berita, pusat Gempa tadi pagi ada di Desa kamu. Karena itu aku ingin tahu keadaan orang tua kamu begitu juga keadaan Kak Lani sama Kak Pahri."
📞Alhamdulillah mereka baik-baik saja. Hanya rumah Mamiq yang hancur."
📞Alhamdulillah, yang sabar Ga. Setiap musibah pasti ada hikmah yang menyertainya."
📞Iya Mas, terima kasih."
📞Sama-sama Ga, kalau begitu aku pamit ya Ga. Aku hanya ingin menanyakan khabar Orang Tua kamu saja. Tidak ada maksud apa-apa, takutnya entar ada yang marah."
📞Iya Mas, tenang saja kebetulan orangnya bukan Tipe pecemburu. Sekali lagi terima kasih."
📞Syukurlah kalau kamu telah menemukan tambatan hati penggantiku." Terdengar ucapan Ivan sedikit kecewa. Mungkin saja Ivan masih punya harapan bisa bersama Ega. Mengingat dulu Ivan masih ingin melanjutkan pernikahan dengan Kekasih hatinya itu namun di jadikan Isteri kedua. Tentu saja Ega menolaknya. Lebih baik patah hati daripada harus membagi cinta.
📞Assalamualaikum."
📞Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Ivan mengakhiri panggilannya. Bersamaan dengan berakhirnya panggilan itu. Ada panggilan masuk lagi dari Sahabat-sahabatnya. Tujuh Sahabat itu saling berebut untuk dapat menghubungi Ega. Akhirnya mereka melakukan Grup Video agar bisa berbicara secara bareng-bareng.
Rata-rata mereka menanyakan khabar Orang Tua dan Saudara Ega. Mereka akhirnya mengobrol, menceritakan keadaan masing-masing yang tertimpa bencana.
📱Kamu yang kuat ya Ga? Insha Allah akan ada hikmah dibalik musibah ini."
📱Dan ingat kamu masih punya kita-kita yang siap menemani dan menguatkan kamu."
Terucap kalimat semangat dari Sahabat-sahabatnya membuat Ega merasa bisa melewati semua ini.
📱Terima kasih Teman-teman. Nina cantik, Abang Juna Ganteng, Kak Beni keren, Mas Rian Manis, Evan Cempreng dan Dipta bahenol. Aku sayang kalian semuanya, peyuuuuk." Ucap Ega terharu.
📱Iya sama-sama." Ucap mereka dalam waktu bersamaan. Dipta sebenarnya ingin protes karena dia mendapatkan gelar Bahenol tapi karena berhubung suasana hati Sahabat nya yang tak enak membuatnya mengurungkan protesnya.
Tidak ketinggalan San juga hadir untuk meramaikan kepedulian terhadap Sahabat yang dikenalnya. San menanyakan khabar Orang Tua Ega untuk memastikan kalau mereka baik-baik saja.
San menutup obrolannya setelah mendapatkan jawaban dari Gadis yang ada di hatinya. Bahwa orang tua dari Gadis itu dalam kondisi selamat dan baik-baik saja.
***
Pasca bencana itu terjadi, Ega dan Sahabat-sahabatnya sibuk dengan aksi Sosial mereka masing-masing. Karena itulah mereka tidak pernah hang out bareng bahkan sekedar menyapa di Medsos pun sangat jarang mereka lakukan.
Rian yang bekerja di Depsos tentu saja sangatlah sibuk untuk penanganan Pasca Gempa. Begitu juga dengan Ega, tempat dia bekerja mempunyai tugas untuk membantu salah satu Desa yang terdampak. Segala kebutuhan dari Desa tersebut menjadi tanggung jawab Kantornya. Karena setiap Instansi sudah dibagi tugas mereka masing-masing.
Saat ini, Ega ikut bersama Beni kebetulan Kantor tempat Beni bertugas mempunyai Jadwal hari Minggu untuk mengantarkan bantuannya. Sedangkan Kantor tempat Ega bertugas sudah mengantarkan bantuannya pada hari Sabtu kemarin namun Desa yang di tuju bukanlah Desanya. Sehingga Ega belum sempat mengunjungi Desanya tersebut dan bertemu kedua orang tuanya. Baru hari ini dia bisa berkunjung ke Rumahnya. Itupun karena Beni menawarkan diri untuk menemaninya.
Ega dan Beni berangkat pagi-pagi sekali. Ega ingin segera bertemu dengan orang tuanya. Memastikan keadaan orang tuanya setelah beberapa hari tidak bertemu. Ada rasa bahagia membuncah dalam hatinya karena beberapa Jam lagi akan bertemu.
"Apa kamu bahagia Ga?" Tanya Beni melihat kegembiraan pada Paras Manis Gadis di sampingnya.
Saat ini mereka menggunakan Mobil sejenis Estrada untuk membawa bantuan berupa Sembako, Selimut, obat-obatan dan keperluan lainnya.
"Iya Kak Beni, tidak sabar ingin bertemu Orang Tua." Jawab Ega masih dengan senyumnya. Namun dibalik itu tersimpan kesedihan atas apa yang akan ditemuinya nanti. Orang Tuanya dan Teman masa kecil serta warga Desa disana harus kehilangan tempat tinggal mereka. Kini mereka tinggal di Pengungsian dan ada sebagian dari mereka menggunakan Berugak yang mereka miliki dijadikan tempat tinggal.
Ega tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan mereka. Akankah mereka bisa melewati rasa trauma mereka. Kehilangan tempat tinggal mereka mungkin bisa mereka ikhlaskan. Tapi bagaimana dengan rasa trauma yang mereka hadapi. Trauma itu tentunya akan mengganggu aktivitas mereka. Memperlambat pemulihan menuju kehidupan normal kembali.
Sekitar tiga Jam perjalanan, pada akhirnya Mereka berdua sampai di Desanya. Ketika memasuki Desanya, terlihat beberapa rumah yang berada di Pinggir Jalan Raya dalam keadaan rusak berat. Sudah tidak berpenghuni. Tersisa puing-puing bangunan yang menandakan bahwa dulu Bangunan itu pernah berdiri Kokoh.
Melihat itu, Ega dan Beni merasa prihatin. Ada rasa sedih dihati Ega. Rasa sedih yang tidak mampu dihibur dengan berjuta-juta semangat.
__ADS_1
Terlihat sekali Paras mereka berdua yang tidak ada senyum. Hanya kesedihan yang mereka tampakkan. Tidak perlu ditanyakan lagi apa yang mereka rasakan, raut mereka cukup menjawab. Ada kesedihan disana.
"Alhamdulillah sudah sampai Ga." Beni menyadarkan Ega dari lamunannya.
Ega menganggukkan Kepalanya, dia berguman mengucapkan rasa syukurnya. Mereka berdua turun lalu menemui Kepala Desa disana.
Saat ini mereka mampir di Kantor Desa. Kebetulan juga Posko Pengungsian ada disana sehingga memudahkan mereka untuk menyalurkan bantuan langsung kepada Masyarakat.
Ega bertemu dengan Teman masa kecilnya. Mereka menghampiri Ega lalu merangkul Gadis itu.
"Ga, kapan kamu datang?"
"Aku baru saja sampai Mar. Bagaimana keadaan kalian?" Tanya Ega memandang satu persatu temannya. Ada Mar, Ria, Yeni, Humairah dan terlihat Zain yang sibuk mengangkut bawaan Beni. Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang mengenal Ega terlihat menyapa Ega dengan senyum. Ega membalas mereka dengan senyuman penuh semangat.
"Alhamdulillah baik-baik saja. Kami selamat tapi rumah kami yang tidak selamat. Rumah kami rusak Ga." Jawab salah satu dari mereka mewakili.
"Iya, kita sama-sama mengalaminya. Kita hanya bisa bersabar dan berusaha berlapang dada menerimanya. Kita tidak boleh larut dalam kesedihan dan keputusasaan. Kita harus berjuang kembali seperti titik awal kita dulu." Ucap Ega mencoba memberikan semangat untuk teman-temannya dan kebetulan beberapa Ibu-ibu ikut memperhatikan mereka.
"Iya Ga, dulu kita tidak memiliki cita-cita. Kita tidak tahu tujuan dan tidak tahu juga bagaimana cara menggapai tujuan itu." Sahut Ria.
"Iya, saat Pak Guru Syam bertanya tentang cita-cita. Kita malah balik bertanya kepada beliau apa itu cita-cita. Beliau dengan sabar menjelaskan sampai kita memahaminya." Ucap Ega tersenyum.
"Saat itu cita-cita kita menemukan teman-teman kita yang hilang dan meminta Teman kita untuk kembali ke Sekolah. Itulah awal perjuangan kita kan?" Mar mengingatkan mereka. Dimana waktu mereka SD mereka jarang ke Sekolah. Ini semua karena kurangnya Guru sehingga Teman-teman yang lain tiba-tiba hilang dan memilih mencari rumput atau membantu Orang Tuanya di Sawah dan ladang daripada berjalan jauh menuju ke Sekolah.
"Iya, aku mencarimu Ria sampai ke tepi hutan dibawah Gunung dan juga teman-teman yang lainnya. Sekarang kamu sudah menjadi Guru begitu juga dengan Zain yang aku temukan sedang memikat Burung-burung. Zain, Mar dan Ria kalian telah sukses menemukan cita-cita kalian. Mengabdikan hidup demi mencerdaskan anak Bangsa." Ucap Ega mencoba mengingat masa kecilnya.
"Iya tuh, sekarang dia sudah menjadi Pejabat Desa. Bukankah dia musuh Bebuyutan kamu Ga sekaligus Pengagum rahasia kamu." Tiba-tiba Eni yang tadi hanya diam saja ikut menimpali.
"Iya, iya dulu aku selalu berantem sama dia. Setiap ketemu bawaannya pingin marah saja. Habisnya dia itu nyebelin, ngeselin dan enggak banget. Pingin saya tabok mukanya yang sok." Ucap Ega berapi-rapi seakan dia kembali ke masa kecilnya dulu."
"Tapi saat kamu meninggalkan Desa. Zain sangat kehilangan kamu. Mungkin saat itu cit-citanya ingin berdamai dengan kamu." Ucap Mar menggoda.
"Cinta masa kecilnya adalah Ega. Kamu yang membuatnya berjuang untuk menggapai cit-citanya. Melanjutkan ke SMA dan ke Perguruan Tinggi. Jika malam itu kamu tak memintanya untuk melanjutkan ke SMA. Mungkin saja saat ini Zain hanya Petani biasa dengan ilmu seadanya." Ucap Mar menyambung godaannya tentang musuh Bebuyutan dari Gadis itu.
Sedangkan Humairah hanya menyimak saja pembicaraan mereka. Sesekali dia tersenyum menanggapi senda gurau mereka.
"Ya Humairah kenapa kamu diam saja? Apa perlu aku bertanya apa kepanjangan dari UUD dan DPR?" Ega menyapa Humairah yang sedari tadi hanya diam saja.
"Hahahaha, setiap ditanya saya pasti lupa apa kepanjangan UUD dan juga DPR. Setiap detik saya didikte kepanjangannya saat itu juga saya lupa." Jawab Humairah malu-malu.
"Hahahaha, kamu itu Ra bersama Man merupakan hiburan bagi kita di kelas. Bukan mengolok hanya saja gregetan sekaligus ada rasa syukur karena Allah memberikan kecerdasan kepada kita dan kesabaran pada kamu Ra." Ucap Ega menepuk bahu temannya itu.
Humairah dan Man, dua Sejoli itu memiliki Otak yang lemah. Mereka tidak mampu untuk menangkap apa yang disampaikan orang lain kepadanya. Sampai lulus SD pun mereka tidak bisa membaca dan menulis. Daya ingat mereka pun sangat lemah. Walaupun berulang-ulang menjelaskan dan secara berulang-ulang pun mereka tak ingat. Saat itu Pak Guru Syam dan Teman-teman sekelas secara bergiliran membantu mereka berdua belajar. Dan setiap orang yang mendampingi Humairah dan Man dalam belajar semuanya gagal dan pada akhirnya menyerah juga.
"Assalamualaikum." Salam Zain yang tiba-tiba saja menghampiri kerumunan Para cewek. Disana ada Beni bersamanya.
"Waalaikumussalam." Jawab mereka serempak.
"Siapa yang gosip? orang kita lagi mengingat masa-masa Dasar kita dulu." Sahut Eni sembari melirik Beni yang berada disamping Ega.
"Menjawab tapi matanya sibuk melirik cowok cakep, enggak sopan tahu. Ini mah namanya lain di mulut lain di mata." Omel Ria yang sedari tadi diam-diam memperhatikan arah pandang Eni.
"Emak-emak ketemu cowok cakep langsung melek jadi lupa kalau kita lagi terkena bencana." Imbuh Eni, pandangannya tidak lepas dari Sosok Beni.
"Nyebut, kamu kerasukan Jin genit itu." Celoteh Mar terkekeh.
"Astaghfirullah, lupa sama anak dan Suami di rumah tapi saya kan udah enggak punya rumah. Maksudnya berada di Pengungsian hahaha." Ucap Eni terkekeh menyamarkan kesedihannya.
"Sudah jangan ribut, saya kenalin kok. Ini namanya Beni Hardian panggil saja Beni." Ucap Ega menengahi Teman-temannya yang sibuk berdebat.
"Aku Eni, nama kita sama tinggal ilangin B saja jadi kita sehati, sejiwa dan sepenanggungan." Ucap Eni mengulurkan tangannya yang disambut ramah oleh Beni.
"Bang, tahu Lilin kan?" Sambung Eni sembari memasang wajah cantilnya.
"Iya tahu, kenapa?" Tanya Beni sudah mengerti arah pembicaraan Wanita bernama Eni.
"Jika Lilin meleleh karena di bakar oleh Api sedangkan aku meleleh karena di bakar oleh senyuman kamu. Eaaaa." Seru Eni kegirangan.
"Ya ampun centil banget. Giliran dong kenalannya memangnya kamu aja yang mau kenalan sama Harimaunya Ega." Ucap Mar menggeser Tubuh Eni.
"Ndada perlu geser-geser kali. Wong bisa kenalannya lewat tempat kamu berdiri." Sewot Eni dengan logat Bataknya diawal berakhir di Jawa.
"Biarin, biar akrab gitu daripada dengerin kamu ngomong setengah Batak setengah Jawa. Bingung aku jadinya." Canda Mar sembari melirik Beni yang sedang tertawa kecil melihat tingkah mereka.
"Aku Mar, Teman sebangku Ega. Aku dulu saingan terberatnya namun tetap saja aku berada di Posisi satu dia berada di Posisi kedua. Namun pada akhirnya aku kalah karena Ega sudah berstatus Negeri sedangkan aku masih Guru Honorer. Akan tetapi Ega tetap kalah dengan aku karena dia belum berstatus Isteri orang." Ucap Mar panjang lebar seperti sedang bercerita.
Beni mengangguk saja menyimak cerita dari Temannya itu yang terlihat lebih Dewasa dari keempat Wanita yang ada disana.
"Mar, kamu itu mau kenalan atau mau berpidato sih?" Tanya Ria yang belum kebagian.
"Bukan berpidato tapi lagi asyik mendongeng." Sahut Mar masih asyik dengan perkenalannya.
"Oooh kiraen mengomel." Timpal Ria lagi.
"Ya ampun Emak-emak kalau sudah ngumpul lupa kalau berada di Pengungsian." Komentar Zain ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka. Saat ini mereka seakan Reunian. Terus terang saja mereka jarang bertemu walaupun mereka dalam satu Desa. Kalau kebetulan bertemu di Jalan palingan mereka hanya memanggil nama atau hanya membunyikan klakson tanda mereka menyapa.
"Duh Zain Cinta Kucing nya Ega. Mau ikutan nimbrung sama Emak-emak yang ada hanya mengeong enggak jelas." Sahut Eni.
"Cinta Kucing, maksudnya apa ya?" Tanya Beni penasaran. "Tadi kalau tidak salah mendengar saya dipanggil Harimaunya Ega, maksudnya apa ya?" Beni malah membatin.
"Maksudnya si Eni itu, Cinta Monyet. Dia saja mengganti dengan Istilah Cinta Kucing dan Dewasanya jadi Cinta Harimau. Dia itu ada-ada saja." Jawab Mar menerangkan.
"Oh Gitu." Guman Beni mangut-mangut.
__ADS_1
Sedangkan Zain yang menjadi Aktor dibalik kata Kucing hanya senyam-senyum menggaruk tengkuknya.
"Tidak perlu diingat lagi. Itu kan zaman kanak-kanak, wajar kalau kita sering berantem dan saling olok. Dulu mana kita tahu yang namanya cinta-cintaan. Tahunya bermain dan berantem sama Teman-teman." Komentar Zain dengan tersipu malu jika mengingat kejahilan dirinya.
"Iya, lagipula sekarang kalian sudah jadi Emak-emak dan Bapak-bapak hanya aku saja yang tertinggal jodoh." Ucap Ega menambahi.
"Nah itu ada Abang Beni, dia Harimau kamu kan Ga?" Tanya Eni dengan raut penasaran.
"Bukan, dia sahabat aku." Jawab Ega.
"Ya ampun Ga sahabat melulu kapan jadi Suami sih? kamu itu di buru Usia lo!. Usia itu terus bertambah mana bisa dipangkas jadi pendek lagi." Timpal Ria mengingatkan.
"Iya Ga, enggak kayak aku tamat SD langsung nikah nah sekarang punya anak banyak. Jangan sampai sudah jadi Nenek-nenek anaknya masih bayi." Ucap Humairah menambahi.
"Nah itu si Humairah pinter. Sepertinya sudah tahu kepanjangan UUD dan DPR." Ucap Mar mendukung ucapan Humairah.
"Hahahahaha." Mereka tertawa melihat wajah Humairah yang parasnya berubah menjadi merah merona.
"Lama-lama ngumpul bersama kalian membuat saya lupa rumah. Sebenarnya aku mau pulang lihat keadaan Inaq dan Mamiq. Eh malah tertahan disini." Ucap Ega menyudahi pembicaraan mereka.
"Kapan lagi kita ketemu Ga?"
"Kita ketemu di Medsos saja. Mana nomer kalian." Ucap Ega sibuk menyimpan nomer teman-temannya.
"Ide bagus, buat group Emak-emak Rempong." Ucap Eni tersenyum cerah seakan menemukan Harta Karun pada puing-puing bangunan.
"Okay, sudah aku save semua. Aku pamit dulu mau ke rumah orang tua." Ucap Ega merangkul satu persatu teman-temannya sedangkan sama Zain hanya menangkupkan kedua tangan saja.
"Lihatlah Gunung Rinjani, dia masih berdiri Tegak walaupun mungkin saja ada retak-retaknya. Sama juga dengan kita, harus bangkit lagi dan berdiri Kokoh pada pijakan kita. Kita harus bisa bangkit dari trauma, keterpurukan dan keputus asaan. Kita harus yakin bahwa Allah akan memberikan kesabaran, ketegaran dan kehidupan yang layak lagi. Kita harus berjuang bersama-bersama dengan doa yang selalu kita panjatkan hanya kepada Allah. Semangat teman-teman." Ucap Ega mencoba memberikan semangat untuk dirinya sendiri dan orang lain.
Ega meninggalkan Kantor Kepala Desa menuju Rumahnya. Jaraknya tidak jauh dari Kantor Kepala Desa, tinggal beberapa langkah dengan jalan Kaki sudah kelihatan Pohon Mangga yang berada di Depan Rumahnya.
"Assalamualaikum." Salam Ega dan Beni begitu berada di halaman rumah Ega yang luas.
"Waalaikumussalam." Balas Ibu Siti Fatimah menyambut kedatangan Putri Bungsunya. Ega mendaratkan tubuhnya pada pelukan Ibunya.
"Inaq sehat-sehat saja?" Tanya Ega.
"Alhamdulillah sehat-sehat saja. Kamu sama siapa nak?" Tanya Ibu Fatimah sembari mengurai pelukannya.
"Sama Kak Beni." Jawab Ega, sembari mempersilahkan Beni untuk bersalaman dengan Ibunya.
"Inaq sehat-sehat saja?" Beni menyalami Ibu Fatimah.
"Alhamdulillah baik-baik saja. maaf Nak Beni Inaq tidak tanda, Inaq pikir siapa tadi?" Jawab Ibu Fatimah menyambut Sahabat dari anaknya.
"Mamiq mana Inaq?" Tanya Ega karena tidak melihat keberadaan Mamiqnya.
"Lagi di Kebun, sebentar lagi pasti akan pulang. Mamiq kamu masih memperbaiki Kebun. Kena dampak juga, Kebun kita rusak terus mata airnya juga berubah menjadi keruh." Cerita Ibu Fatimah.
"Oh begitu? bagaimana dengan air Kerannya, apa keruh juga?" Tanya Ega.
"Alhamdulillah sudah jernih." Jawab Ibu Fatimah.
"Mari nak Beni ke Berugak, maaf seperti ini keadaan orang tua Ega. Untuk sementara tinggal di Berugak, enggak tahu sampai kapan?" Ucap Ibu Fatimah mempersilahkan tamunya.
"Ayok Kak Beni, anggap rumahnya Ega." Canda Ega terkekeh.
"Buatin Nak Beni minuman Ga sekalian makan siangnya juga." Perintah Ibu Fatimah begitu mereka sudah naik di atas Berugak yang tingginya sepinggang Orang Dewasa.
"Jangan repot-repot Inaq."
"Tidak repot kok, sudah sewajarnya menjamu Tamu. Lagipula sudah waktunya makan siang." Sahut Ibu Fatimah.
"Kopinya saja dulu Ga, nanti makannya tunggu Mamiq biar bareng-bareng." Ucap Beni memberitahu agar mereka menunggu Mamiq pulang dulu agar mereka bisa makan siang bersama.
"Iya sudah, tunggu bentar ya Kak."
Ega mulai merebus air lalu meracik Kopi Hitam. Kopi yang dibuat oleh Ibunya. Rata-rata Ibu-ibu disini bisa meracik Kopinya sendiri. Disini jarang menyukai Kopi Sasetan sehingga mereka membuat Kopi sendiri yang disebut Kopi Hitam. Beni juga tidak menyukai Kopi Sasetan, dia lebih suka Kopi lokal yang dibuat oleh Ibu Rumah Tangga yang memang memiliki keahlian meracik Kopi. Biasanya mereka memiliki rahasia Dapur masing-masing jadi setiap Ibu akan memiliki cita rasa yang berbeda.
Beberapa menit kemudian Kopi yang ditunggu Oleh Beni akhirnya tersaji juga di depan mata.
"Seperti Kakek-kakek sukanya Kopi Hitam." Ejek Ega melihat Beni yang sudah mulai menyeruput Kopinya.
"Biarin, ini nikmat tahu. Coba kamu tahu rasanya kamu pasti enggak bakalan bisa melihat telinga kamu sendiri saking nikmatnya. Makanya dicoba pasti ketagihan." Ucap Beni begitu menikmati Kopi Hitamnya.
"Enek, aku enggak suka. Bikin sakit tenggorokanku." Sahut Ega mendelik.
"Inaq, enak banget Kopinya. Turunin resepnya sama Ega dong Inaq. Ajarin dia bagaimana menggoreng Kopi terus kasik tahu mana warna Kopi yang mateng dan mana warna Kopi yang gosong. Nanti kalau sudah menjadi Isteri saya, dia sudah tahu mana Kopi mateng dan mana Kopi Gosong. Biar mahir gitu membuat Kopi Hitamnya untuk Suami tercinta." Ucap Beni berkelakar.
"Idih percaya diri banget bakalan nikah sama saya." Ucap Ega mendelik.
"Inaq mau enggak saya jadi Mantunya." Tanya Beni kepada Ibu Sahabat nya itu. pertanyaannya itu membuatnya mendapat cubitan di lengan dari Ega.
"Awww sakit tahu, apaan sih kamu Ga? mengacaukan acara pedekate saya sama Calon Ibu Mertua." Seru Beni dengan wajah meringis kesakitan. Sementara itu Ibu Fatimah hanya tersenyum saja melihat tingkah mereka berdua. Ibu Fatimah tahu Beni dan Ega hanya bersahabat. Jadi dia tidak terlalu menanggapi guyonan dari Pemuda itu.
"Kalau Nak Beni jodohnya Ega, Inaq mah senang-senang saja. Tapi kita kan enggak tahu jodoh kalian siapa?" Jawab Ibu Fatimah terdengar bijak.
"Ngarep banget sih? inget kita terikat Komitmen." Bisik Ega membuat tubuh Beni sedikit meremang.
"Aku tahu tadi aku cuma bercanda." Sahut Beni tersenyum kecut.
Bersambung.
__ADS_1