
Pingsan.
Laki-laki bernama Soni itu sudah beberapa menit tidak sadarkan diri begitu sadar dia berada pada sebuah kursi dengan tangan terikat. Dilihatnya sekeliling sudah ada enam orang terdiri dari lima laki-laki dan satu orang Perempuan. Hanya Wanita itu saja yang sudah dikenalnya tidak lain adalah Ega.
"Siapa kalian?" Tanya Soni terkejut begitu menyadari bahwa dirinya dijadikan tawanan oleh mereka.
"Sudah bangun ya? Kamu bertanya siapa kami ya?" Ucap Dipta malah bertanya. Laki-laki berisi itu duduk dihadapan Soni sambil mempermainkan pisau kecil.
Soni ngeri melihat Pisau yang diayun-ayunkan Dipta. Melihat Soni ketakutan membuat Dipta begitu senang karena berhasil menakuti Laki-laki itu.
"Dasar Laki-laki breng**k giliran ditakuti sama pisau dapur saja langsung seperti orang sekarat. Enggak tahu apa mau saya pakai kupas Apel." Batin Dipta tersenyum horor.
Sedangkan yang lain malah asyik duduk di sofa sambil mengobrol seolah tidak terusik dengan apa yang dilakukan Dipta. Ada yang asyik dengan Handphone, adapula yang asyik mengunyah dan ada yang asyik mengobrol.
"Siapa kalian?Apa mau kalian." Teriak Soni lagi bertanya.
"Gaes, tawanan kita bertanya? Kalian mau jawab enggak?" Tanya Dipta mengarahkan pertanyaan kearah sahabat-sahabatnya.
"Wakilin Dip, terserah dah mau diapain tuh orang. Mau dicincang kek, mau dibuat perkedel kek mau dibuat Kolak kek terserah elu dah." Ucap Evan mewakili.
"Tuh dengarkan apa mau sahabat-sahabat saya." Ucap Dipta asyik dengan pisaunya lalu mengambil Apel dari Saku Jaketnya, buah itu dibawanya dari rumah Ega.
"Kamu bawa bekal, bagi dong Dip?" Pinta Ega menghampiri Dipta yang sedang duduk dihadapan Soni.
Dipta sibuk mengupas buah Apelnya lalu memberikan sepotong kepada Ega.
"Kamu mau? beli dong!" Ledek Ega kepada Soni membuat Laki-laki itu bingung apa yang diinginkan orang-orang ini.
"Lepaskan saya." Teriak Soni berusaha menggerakkan tubuhnya namun usahanya gagal karena terlalu kuat mereka mengikat Soni sehingga tidak ada rongga yang akan membuat tali itu kendor.
"Tidak perlu teriak-teriak nanti dilepaskan juga sama Pak Polisi." Sahut Dipta sambil mengunyah buah apelnya.
"Apa maksud kalian, jangan coba mengancam saya. Kalian tidak tahu siapa saya. Kalian akan menyesal melakukan ini pada saya." Ucap Soni membeo seperti Pembeli uang sobek dan uang logam pecahan 100 dan 200 yang berkeliling kampung.
"Memangnya kita peduli apa?" Ucap Dipta menyuap potongan terakhirnya.
"Sombong, baru saja kamu anak dari seorang Bapak dan Ibu saja sudah belagu bagaimana kalau anak dari Sultan dan Sultin pasti tambah belagu dah tuh." Ucap Ega menyambung kalimat Dipta.
"Mau kalian apa?"
"Membuat kamu tidak bisa lagi bernafas dengan lega dan membuat Benda pusaka itu tidak lagi berfungsi jadi kamu tidak akan menggunakan dengan seenaknya. Bagaimana rasanya tadi setelah ditendang sama Ega, enak?" Tanya Dipta malah pura-pura meringis kesakitan.
"Mau ditambah lagi?" Ucap Ega menawarkan membuat Soni memucat sembari menggelengkan kepalanya.
"Ga, kamu duduk saja biarkan saya yang eksekusi." Ucap Dipta meminta Ega duduk bersama teman-temannya.
Plak.
Dipta menampar Soni begitu kerasnya.
"Tamparan ini untuk apa yang telah kamu lakukan kepada Nina sahabat saya." Ucap Dipta sudah mulai kalap.
Dia menampar dan sekaligus memberikan bogem mentah. Berkali-kali bogem mentah Dipta mendarat pada Wajah Soni membuat Wajah Laki-laki yang semula terawat kini tak jelas bentuknya.
"Saya sudah puas, sekarang tugas kamu Van." Ucap Dipta kepada Evan sembari melangkahkan kaki kearah Sahabat-sahabatnya yang sedang duduk santai.
"Wokeh, beres Dip." Balas Evan langsung aktif dengan gawainya. Tidak butuh waktu lama Polisi datang dengan ditandai suara Sirene.
Mendengarkan Suara Mobil Polisi datang tentu saja membuat otak Soni bekerja. Dia dengan liciknya akan membalikkan keadaan karena sekarang dia masih diikat otomatis orang-orang itu akan menjadi tersangka telah melakukan penganiayaan terhadap dirinya.
Polisi sudah masuk langsung membuka tali yang mengikat Soni.
"Mereka semua yang menganiaya saya hingga babak belur bahkan Perempuan itu menendang Benda Pusaka saya hingga membuat saya pingsan." Soni mengadukan segala apa yang dilakukan Dipta dan juga Ega setelah dirinya dibebaskan. Dia tersenyum sinis kepada Tujuh sekawan itu karena merasa terselamatkan dengan kehadiran Polisi.
"Silahkan anda membuat laporan dan sertakan dengan bukti." Jawab salah satu Polisi.
"Baik Pak, disini ada CCTV tentu merekam kejadian saat dia memukul saya." Ucap Soni sambil menunjuk kearah Dipta.
"Baik kita periksa."
Mereka melakukan pemeriksaan terhadap CCTV namun ternyata CCTV dalam keadaan rusak. Tentu saja rusak karena Evan sudah menekan sistemnya dimana sistem itu sudah menguasai CCTV yang terpasang di Vila Soni. Sekali tekan saja otomatis CCTV menjadi error lalu hasil rekamannyapun menghilang.
"Sial, tidak ada bukti sama sekali." Umpat Soni dalam hati.
"Tadi saya diikat oleh mereka tidak cukupkah itu menjadi bukti jika mereka melakukan penganiayaan apalagi wajah saya yang sudah babak belur." Ucap Soni mencoba membuat alibi agar mereka ditangkap dengan tuduhan penganiayaan.
__ADS_1
"Mereka hanya mengikat Anda agar tidak kabur. Jadi sekarang Anda ditahan karena mencoba melakukan tuduhan palsu dan juga memperkosaan disertai penganiayaan terhadap Saudari Nina tadi malam pukul 12.00 malam bertempat di ruangan ini."
Soni terkejut dengan apa yang didengarnya. Rupanya Nina telah melaporkannya ke Polisi dan mengirimkan sahabat-sahabatnya untuk mengerjain dirinya.
"Saya tidak melakukan pemerkosaan. Kita suka sama suka dan Nina itu pacar saya." Soni berusaha untuk membela diri.
"Nanti anda membela diri di Pengadilan sekarang tangkap Saudara Soni." Ucap seorang Polisi memerintahkan anak buahnya menangkap Soni.
Seketika itu juga Soni ditangkap dan digiring ke Mobil Polisi.
"Terima kasih Dipta karena lagi-lagi kamu dan kawan-kawan menangkap penjahat. Soni memang buruan kami. Dia begitu licin dan sulit ditangkap karena dia anak seseorang yang berpengaruh disini. Kami sering kali menerima laporan kalau Para Wanita yang dekat dengannya mendapatkan perlakuan tidak senonoh bahkan kerap kali dianiaya selain itu juga Soni salah satu Pengedar yang menjadi target kami. Selama ini dia bebas tidak sampai dihukum karena tidak adanya bukti kuat untuk menyeret dia ke Penjara. Untung kalian segera mendapatkan bukti dan mengirimkannya ke sistem kami sehingga kami cepat bergerak." Cerita Pak Polisi itu kepada Dipta yang tidak lain anak dari Atasannya. Tentu saja sangat mengenal Pemuda itu.
"Oh Jadi begitu, syukur Alhamdulillah bisa tertangkap kalau masih berkeliaran tentu jadi meresahkan Masyarakat." Ucap Dipta menanggapi cerita Pak Polisi itu.
"Oh ya kenapa kalian tidak bergabung saja menjadi agen rahasia kami untuk menangkap para Penjahat." Tawar Pak Polisi terdengar sedang bergurau.
"Boleh tapi Om yang jadi Ketua Gengnya, saya dan kawan-kawan pasti akan setuju." Jawab Dipta juga ikutan bergurau.
"Ide bagus, kita konsultasi dan koordinasikan dulu pada Pimpinan." Imbuh Pak Polisi itu sambil tersenyum.
"Siap 86."
"Okay saya pamit, kita akan proses Saudara Soni agar mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang diperbuatnya." Pamit Pak Polisi lalu meninggalkan Dipta dan kawan-kawan.
"Nah kita ngapaen sekarang?" Tanya Evan sepeninggalnya Pak Polisi.
"Bengong lihat dinding tembok." Sahut Dipta sekenanya.
"Maksudnya enggak gitu kali peak!" Sungut Evan.
"Kita makan saja, sudah laper nih lagipula sudah masuk makan siang." Usul Ega menengahi kalau enggak bakalan berlanjut dengan episode selanjutnya.
"Habis itu kita mampir di Islamic Center untuk Shalat Dzuhur." Sambung Beni.
"Ide bagus, ayok." Ajak Juna sambil merangkul Beni kemudian berjalan meninggalkan Vila disusul yang lainnya.
Mereka terlihat memasuki Mobil Rian yang digunakan untuk membututi Mobil Soni. Ega duduk disamping Rian sedangkan teman-temannya duduk di Jok belakang. Setelah semuanya aman dan terucap doa, Rian melajukan Mobil membelah Jalan Raya mencari Cafe atau Restaurant yang nyaman dan enak untuk dijadikan tempat mengisi perut.
"Kita makan dimana nih?" Tanya Rian membuka pembicaraan.
"Ante selalu membuat ane kesal Ben! Apa enggak bisa sekali saja bikin ane seneng." Gerutu Rian menekuk wajah eksotisnya.
"Bukannya Mas Rian tiap hari dibuat senang oleh cewek gebetan Mas. Iya harus ada orang yang membuat Mas Rian kesal dong biar lebih berwarna. Bukan berwarna hitam saja harus ada warna putihnya dong." Ucap Ega ikut nimbrung mencegah sahutan yang berkepanjangan.
"Bela dah bela, mentang-mentang pernah dibawain Durian ke Kantornya." Sahut Rian masih dengan muka ditekuk.
"Ante cemburu Mas Rian? tenang saja nanti ane bawain Kecap manis asin sekolam Ikan Cupangnya." Sahut Beni terkekeh.
"Bisa berenang dah tuh Mas! siapa tahu jadi Sexy dengan perut Kotak-kotak macam Roti Sobek. Terkikis habis dah lemak-lemaknya di perut." Timpal Evan ikutan terkekeh.
"Daripada Ante Van, kurus kering kerontang tinggal kentutnya saja. Dateng angin kecil saja langsung diangkut lalu diempaskan ke atas atap rumah ane." Jawab Rian tidak mau kalah.
"Stop." Teriak Juna mendadak membuat semua penghuni Mobil Rian sama-sama menyerbu Juna dengan kedua bola mata.
"Ada apa?"
"Lampu merah, si Komo mau lewat Pak Polisi jadi bingung orang-orang ikut bingung. La lala lala lala lala. Tarik Mas tancap Gas. nyeeeeeeng." Gurau Juna menyegarkan suasana yang terdengar mulai tidak enak.
"Yeeeeee kiraen beneran si Komo lewat tahunya cuma ngeprank." Seru mereka serempak.
"Lasingan kalian semua ribut sekali kemeng saya. Kayak berada dipasar saja, udah gontok-gontokan nawarnya tahu-tahunya enggak jadi, gondok kan?" Sahut Juna asal ngomong, terserah dah mau nyambung atau kagak yang penting berkomentar.
"Namanya juga kita kumpul Bang. Iya gini ribut kalau senyap iya jangan kumpul diam aja di rumah masing-masing." Celoteh Evan.
"Iya boleh saja tapi wong yang berfaedah dong! misalnya nih ya! tiba-tiba Dipta ribut mau traktir kita makan siang. Ini baru namanya berfaedah. Lah ini ribut yang ngawur." Sahut Juna sembari tersenyum dikulum.
"Saya ribut nih, saya lagi ribut nih. Saya mau traktir Abang Juna, tapi.......! Tiba-tiba Dipta teriak heboh sambil menggantung kalimat pada Penantan jemuran.
"Tapi bohong kan Dip?" Sambar Evan.
"Yeee, Sok tahu kamu? makanya didengerin jangan main potong jalur orang, nabrak kan?"
"Lantas apa?" Tanya mereka serempak.
"Tapi air gelas mineralnya saja. Yeeee berfaedah kan omongan saya?" Seru Dipta sambil tertawa riang gembira.
__ADS_1
Mendadak semuanya menjadi hening sambil menelan Saliva mereka yang pahit.
"Lah kok malah diam sih?" Tanya Dipta menghentikan tawanya melihat semua sahabatnya mendadak jadi bisu.
Tidak ada yang menanggapi perkataan Dipta membuat laki-laki itu salah tingkah.
Dibalik keheningan Rian memasuki parkiran sebuah Cafe dan menghentikan laju mobilnya.
"Sudah sampai turun yok!" Ajak Rian memberitahu. Rian mematikan mesin mobil kemudian membuka Seat belt lalu keluar dari Mobil disusul sahabat-sahabatnya.
Mereka semua duduk pada satu meja sehingga tidak terpisah dan segera memesan makanan kesukaan masing-masing. Beberapa menit kemudian makanan disajikan langsung mereka menyantapnya dengan lahabnya. Begitu selesai makan mereka melanjutkan ke Islamic Center untuk melaksanakan Shalat Dzuhur. Selesai Shalat Rian balik menuju rumah Ega karena mereka meninggalkan kendaraan masing-masing dirumah Ega dan mereka berjanji akan berkumpul kembali nanti malam.
***
Malam harinya mereka kembali berkumpul dalam rangka menyenangkan hati Nina. Tujuh Sahabat itu sekarang berada pada sebuah Karaoke keluarga.
Mereka berusaha untuk menghibur Nina agar melupakan kejadian menyakitkan yang menimpa dirinya. Walaupun tidak mungkin bisa melupakan kejadian naas yang merenggut kesuciannya setidaknya sahabat-sahabatnya akan selalu ada untuknya. Memberikan dukungan moril dan akan senantiasa menjadi sandaran hidupnya ketika Nina membutuhkan mereka.
Saat ini Nina duduk disamping Beni dan disebelah dirinya ada Ega yang sedang asyik berduet dengan Juna.
"Ben, pinjam bahunya," Ucap Nina. Tanpa menunggu persetujuan dari Beni, Nina langsung menyandarkan kepalanya.
"Sabar ya Nin, ini cobaan untuk kamu. Allah sedang mengangkat derajat kamu jika kamu mampu melewati semua ini. Jadikan ini pelajaran agar kamu lebih hati-hati lagi sama orang yang baru dikenal." Ucap Beni berusaha untuk menyemangati Nina.
"Hikz, hikz, hikz." Nina malah menangis membuat Sahabat-sahabatnya menghentikan kegiatan bernyanyinya.
"Sabar, kamu pasti sanggup melewati semua ini. Saya percaya kamu orang kuat dan tegar. Seseorang yang tidak mudah tumbang walaupun sebesar apapun cobaan itu." Ucap Beni lagi memberikan suntikan Vitamin untuk Sahabat nya itu.
"Hidup saya hancur Ben, saya kehilangan kesucian saya. Mana ada orang yang mau sama seorang Gadis yang tidak perawan lagi." Sahut Nina terisak-isak.
"Pasti ada Nin, sekarang jangan nangis ya?jelek tuh! Masak kamu rela kecantikan kamu terkikis oleh air mata." Hibur Beni lagi mencoba menenangkan Nina.
"Siapa Ben? bisakah kamu mencintai aku Ben? Bisakah kamu memberikan perasaan kamu untuk aku, Ben? Kamu sudah tahu perasaan aku kan? Cintai aku Ben?" Pinta Nina kepada Laki-laki disampingnya. Nina memandang wajah Beni yang mendadak diam.
Sementara semua sahabatnya ikut terdiam dalam keheningan.
Beni tentu saja terkaget. Jujur saja diakui dia tidak merasakan apa-apa ketika Nina disampingnya walaupun dengan jarak sedekat ini berbeda dengan Mamsa walaupun jaraknya begitu jauh debaran jantungnya seakan terdengar nyata.
"Saya bisa mencintaimu sebagai sahabat tapi tidak bisa lebih dari itu." Jawab Beni akhirnya mampu untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.
"Saya menginginkan lebih dari itu, saya masih membawa perasaan ini untuk kamu Beni. Berharap kamu mau mencintaiku." Sahut Nina masih berharap mencoba meluluhkan hati Beni yang sudah lama membeku.
"Nin, kita terikat komitmen persahabatan. Jadi kita tetap menjadi seorang sahabat tidak lebih dari itu. Dari awal kita sudah berkomitmen bahwa kita tidak boleh memiliki perasaan diantara kita bertujuh, apa kamu lupa itu?" Beni berusaha mengingatkan Nina dengan apa yang pernah mereka ikrarkan.
"Aturan yang kita buat untuk kita langgar. Jika itu yang membuat Kak Beni tidak bisa mencintai Nina, kalian bisa melanggarnya." Ega angkat bicara mencoba menyelesaikan kerumitan diantara mereka.
Ega tahu Nina benar-benar mencintai Beni apalagi sekarang hidupnya sedang terpuruk. Tentu saja Nina membutuhkan Beni sebagai sandaran hidupnya yang sedang rapuh. Nina membutuhkan cinta Beni yang akan mampu membuatnya bertahan.
Mendengarkan Ega berkata seperti itu tentu saja membuat Beni kecewa. Beni menatap manik Ega dengan tatapan penuh rindu, kecewa dan kesal. Pandangan itu bercampur aduk menjadi satu kesatuan yang begitu menyesakkan dada.
"Saya tidak bisa!" Ucap Beni tegas langsung meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan panggilan dari teman-temannya.
"Saya ditolak Ga." Ucap Nina menangis. Nina menghamburkan diri dalam pelukan Ega. Sedangkan Sahabatnya yang lain tidak bisa berkata apa-apa bingung dengan semua ini.
"Kejadian ini yang saya takutin, ketika ada perasaan cinta maka semuanya jadi berantakan." Ucap Dipta terdengar kesal.
Rian menarik tubuh Dipta keluar dari Room agar Dipta tidak ngoceh yang akan memperkeruh keadaan.
"Sebaiknya kita pulang." Ajak Juna melihat situasi sudah tidak nyaman.
Mereka semua meninggalkan tempat karaoke dan pulang kerumah masing-masing.
Ega melangkahkan kakinya dengan gontai. Dia tadi diantar oleh Juna sebelumnya mendrop Nina ke rumahnya.
Saat Ega memasuki pelataran rumahnya, ia melihat Beni sedang bertengger di Balkon kamar cowok-cowok keren.
"Kak Beni!" Panggil Ega melihat keberadaan Beni yang ada disana.
Ega melangkahkan kakinya menuju kesana. Dia menapaki tangga satu demi satu dan pada akhirnya berhasil berada disisi Beni.
"Cinta itu tidak memaksa dan terpaksa." Ucap Beni mengusir keheningan diantara mereka berdua.
"Tapi apa salahnya Kak Beni memberikan kebahagiaan untuk Nina. Nina sangat mencintai Kak Beni dan Kak Beni sudah tahu itu. Apa susahnya menyambut uluran cinta yang tertuju kepada Kak Beni." Ucap Ega berusaha memberi pengertian kepada Beni agar sedikit saja memberikan perasaan kepada Nina.
"Saya tidak bisa melakukan itu karena.....!
__ADS_1
Bersambung.