Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
bab 24. Laki - laki Misterius.


__ADS_3

Ega baru saja keluar dari Kantornya menuju ke arah Timur menuju ke Perumahan tempat Ia tinggal. Selama di perjalanan Dia merasa ada yang membuntutinya menggunakan Sepeda Motor. Ega hanya bisa memperhatikan lewat kaca Spion namun tidak bisa melihat dengan jelas wajah siapa di balik helm yan tertutup.


Ega pura - pura tidak tahu sedang ada bahaya yang mengincarnya. Ia begitu tenang menghadapi laki - laki Misterius yang sedang membututinya namun tetap ia harus waspada karena bisa jadi ketika Ia lengah tiba - tiba laki - laki itu menyerangnya. Ega memang harus meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi.


Sesampainya di rumah Ega dengan cepat memasukkan Motor Matic pada Garasi yang ada di depan rumah kemudian masuk kedalam kamarnya. Tas yang melekat pada punggungnya Dia taruh pada Meja kemudian Dia bergegas untuk membersihkan diri tanpa menghiraukan keadaan penguntit itu yang jelas keadaannya sudah aman berada di dalam rumah.


Selesai mandi Ia menggunakan baju kaos berlengan panjang dengan bawahan Rok. Kalau dirumah Ega lebih suka menggunakan Kaos atau kemeja dengan bawahan Blus atau rok panjang dengan jilbab instan ataupun jilbab paris sedangkan untuk jalan - jalan atau aktivitas diluar Ega lebih suka menggunakan Gamis dengan jilbab lebar dan panjang.


Merasa Style nya sudah tertutup dengan jilbabnya Ega memberanikan diri untuk keluar mencari tahu apakah laki -  laki Misterius itu masih mengawasinya atau malah sudah pergi. Namun ternyata dugaannya salah besar laki - laki Misterius itu masih terlihat di ujung jalan menuju ke arah gang rumahnya.


Ega mendekatinya karena merasa penasaran dan ingin menyapanya dan sekaligus bertanya apa alasannya Ia membuntuti dirinya.


Hampir saja Ega mendekati laki - laki Misterius itu namun sepertinya Ia menyadari keberadaan Ega sehingga tancap gas melesat pergi begitu saja guna menghindari Ega agar rahasianya aman.


" Eh tunggu siapa kamu?" Teriak Ega tak terdengar oleh suara mesin motor yang menderu - deru.


" Siapa sih? Kalau memang ada urusan dengan saya sini kemari dan selesaikan dengan baik kok malah kabur dasar cemen dan pengecut." Omel Ega kesel karena tidak berhasil mencari tahu siapa laki - laki itu.


Laki itu ucok - ucok dateng dan juga perginya.


Ketika Ega mengomel, Dia tidak menyadari keberadaan seseorang yang berada di belakang sedang mengawasi tingkah laku Ega bersamaan dengan omelannya.


" Duaaaaar, ayok siapa di omelin?" Tanya seseorang mengagetkan Ega.


" Astaghfirullah, siapa sih enggak punya akhlak banget menggangetkan saya. Kalau saya jantungan bagaimana?" Kesal Ega dengan membalikkan badan ingin mengomeli orangnya secara langsung.


" Kak Beniiii?" Kaget Ega untuk yang kedua kalinya karena ternyata diomelinya adalah Beni yang tiba - tiba saja berada di sampingnya entah darimana datangnya.


" Ayooook? Kamu sedang omelin siapa? Dari tadi Kak Beni sudah ada di sini kamu sibuk sibuk mencak tapi orangnya tidak ada, siapa sih?" Tanya Beni penasaran karena cukup lama Dia berdiri dari kejauhan memperhatikan Ega yang sedang mengomel namun tidak ada satu orangpun yang ada disekitarnya.


" Eh ada Kak Beni, bikin saya kaget tahu! Lagian Kak Beni lewat mana sih kok tiba - tiba muncul gitu saja." Tanya Ega bingung.


" Dari arah yang sama menuju rumahmu. Tadi Kak Beni sudah sampai rumah terus enggak sengaja lihat kamu keluar dari arah samping, Kak Beni membuntuti deh karena penasaran. Lagian tadi kamu ngobrol sama siapa sih? Perasaan dari tadi tidak ada orang yang Beni lihat." Tanya Beni penasaran sambil melihat sekelilingnya.


" Kita ngobrol di rumah saja, tidak nyaman disini." Ajak Ega berjalan meninggalkan tempat sang penguntit tadi berada.


Beni nurut saja mengikuti langkah kaki Ega karena rasa penasarannya.


Selang beberapa menit mereka berdua sampai juga di Berugak.


" huft."


Terdengar Ega menghirup udara segar dan mendudukkan diri di Berugak diikuti oleh Beni.


" Ada apa sih Ga, sepertinya kamu terlihat gusar?" Tanya Beni benar - benar penasaran melihat wajah Ega yang gusar dan ada kepanikan pada wajah manisnya.


" Apa saya ceritakan sama Kak Beni atau diam saja karena saya juga belum memastikan apa maunya penguntit ini." Batin Ega berpikir.


" Hello, kok malah diam?" Tanya Beni sambil menjentikkan tangannya dihadapan Ega.


" Eh, kenapa Kak Beni? Ada apa?" Ega malah bertanya.


" Kok malah tanya Kak Beni sih! kamu tuh aneh banget memangnya ada apa? Dari tadi bengong saja tidak menjawab pertanyaan Kak Beni." Selidik Beni memperhatikan raut wajah Ega yang gelagapan.


" Tidak ada apa - apa Kok Kak Beni, anu tadi ada kucing yang nyuri Ikan Saik Aminah jadinya saya kejar dan ngomel - ngomel. Enggak sopan banget kan tuh kucing main embat saja padahal kita sudah sediakan untuk kucing itu masih saja nyolong. Bener - bener dah tuh kucing rakus banget hehehe" Karang Ega mencoba mengalihkan perhatian Ega dengan memasang tampang cengengesan.


" Masak, Kak Beni kok enggak percaya ya? Mata kamu itu tidak pandai menipu. Ayo ceritakan saja ada apa?" Selidik Beni lagi.


"  Bagaimana ini, Kak Beni enggak akan nyerah untuk mendapatkan informasi yang diminta. Apa saya bilang saja." Batin Ega menimbang - nimbang.


" Yeee, kok malah ngelamun? Benar dah nih pasti telah terjadi sesuatu? Wajah kamu itu seolah ingin mengungkapkan." Tebak Beni menunggu Ega mau berbicara sebenarnya apa yang telah terjadi pada diri Ega.


" Tadi saya dibuntuti sama orang waktu pulang kerja." Jawab Ega akhirnya buka suara juga. Mungkin lebih baik Ia


menceritakan saja karena mustahil bisa menyelesaikan sendiri tanpa bantuan Teman - temannya.


" Apa? Kamu dibuntuti, terus kamu tidak apa - apa? Tidak diapain - apain sama orang itu kan? Apa orang itu menyerang dan ada luka enggak?" Tanya Beni bertubi - tubi. Pemuda itu benar - benar kaget dan panik.


" Tidak apa - apa Kak Beni, tadi kan saya bilang di buntuti bukan diserang." Sahut Ega menyaksikan kekagetan Beni sampai Ia tidak bisa mencerna omongannya.

__ADS_1


" oh iya, Sorry saking kagetnya jadinya ngelantur kesana kemari." Ucap Beni cengengesan.


Ega hanya senyam senyum melihat tingkah Sahabatnya yang terlihat konyol.


" Kejadian ini mah tidak bisa dibiarkan karena ini sudah menyangkut kenyamanan seseorang. Apa coba maksudnya membuntuti kamu? Apa ada masalah dengan kamu Ga?" Tanya Beni serius. Muncul bawelnya jika sudah menyangkut kenyamanan salah satu sahabatnya.


Lika hanya cengengesan melihat Beni nyerocos terus tidak ada jeda. Sifat pendiamnya mendadak hilang.


" Iya dah kita hubungi The Gengs biar kita bahas nanti malam." Ucap Beni serius kemudian Ia mengambil hp di Saku Jaketnya dan menulis sesuatu pada layar sentuh itu.


" Kita kumpul di Bascame ada yang perlu kita bahas, Urgent."


Tulis Beni dan langsung di kirim ke Group WA mereka yang terdiri dari Ega, Nina, Rian, Juna, Dipta, Evan dan dirinya.


Mendadak ribut di Group penuh dengan tanda tanya namun Beni malas menanggapi biar dibahas nanti saja kalau sudah ngumpul.


***


Malam harinya Ega and The Gengs sudah berkumpul tanpa Nina.


" Ada apa sih? Kok serius amat?" Tanya Dipta terakhir datang.


" Iya nih ada apa sih? Katanya Urgent banget? Mana ane batalin kencan ane dengan harem baru." Ucap Rian cemberut.


" Ente ya heb, harem melulu yang diingat. Bisa tidak kita mendengarkan penjelasan Beni dulu." Komentar Juna sambil mentoyor kepala Rian.


" Bisa tidak berkomentarnya dengan tangannya tidak ikutan juga main toyor." Sahut Rian mendelik.


" Hahaha, saya lupa kepala kamu kan lemah baru saja di ceplokin telur busuk langsung masuk UGD, bagaimana sih Play Boy kita harus KO dengan sebutir telur." Olok Dipta tidak bisa lagi menyembunyikan tawanya dan lain ikut juga menertawakan insiden itu sedangkan Ega memasang tampang unyu - unyunya karena keisengannya dulu menyebabkan Rian harus dirawat. Benar - benar apes.


" Ketawa terus ketawa terus lama - lama ane sumpel dengan kulit durian." Sungut Rian kesel.


" Jangan kulitnya Mas Rian, isinya saja pakai sumpel mulut kita baru kita doyan. Ayok kita pesta Durian." Sambut Ega sumringah.


" Ide yang bagus, setuju saya kalau yang itu mah." Sambar Dipta bersemangat


Terdengar canda tawa apalagi setelah Saik Aminah membawa Kue dan minuman sebagai pengisi perut mereka di hidangkan tentu saja menjadi rebutan mereka.


" Ben? Sebenarnya ada apa sih?" Tanya Juna serius sambil mengunyah kue hasil buruannya. Sedangkan yang lain sibuk menunggu Beni menyampaikan sesuatu. Semua mata memandang ke arah Beni.


" Ega dibuntuti sama seorang laki - laki Misterius sepulang Ega kerja." Jawab Beni menjelaskan.


" Benar begitu Ga?" Tanya Juna dan lainnya mengarahkan pandangannya ke Ega.


Ega Menggangguk memberi jawaban.


" Bagaimana ceritanya Ga? Kira - kira Ante tahu gak siapa orangnya." Tanya Rian penasaran.


" Saya tidak tahu soalnya Laki - laki itu pakai Jaket warna hitam terus menggunakan helm warna hitam juga. Wajahnya ketutup helm. Saya tidak bisa melihat jelas dan saya juga tidak bisa memastikan postur tubuhnya karena Dia tidak mau turun dari Motornya ketika nangkring di ujung jalan sana." Cerita Ega sedetailnya.


" Ini benar - benar aneh, kira - kira apa maunya dari Penguntit itu?" Guman Dipta serius.


" Apa jangan - jangan ada hubungannya dengan yang meneror saya." Ungkap Juna tiba - tiba tanpa sadar dengan suara rendah namun berhasil didengar oleh yang ada disana.


" Apa?" Tanya mereka serempak mengalihkan pandangan ke Juna.


Melihat dirinya jadi pusat perhatian Juna malah cengengesan dengan memasang wajah setampan mungkin.


" Saya tahu diri kalau wajah saya ini tampan rupawan jadi jangan pandang saya seperti muka pingin kayak gitu dong." Narsis Juna menaikkan kedua alisnya.


" Muka pingin tabok kamu. Orang lagi serius juga, memang kamu tidak tahu muka serius atau tidak? ini saya tunjukin." Omel Dipta sambil memasang tampang selucu mungkin.


" Hahahahaha." Sontak mereka tertawa melihat wajah lucu Dipta.


" Sudah becandanya? Serius dong." Ucap Beni mengembalikan teman - temannya ke topik pembicaraan.


Mereka kemudian kembali fokus ke masalah yang dihadapi Ega dan mungkin saja The Gengs karena Juna juga mendapatkan teror.


" Jadi ada orang meneror saya lewat salah satu medsos dan saya tidak kenal akun tersebut. Isi pesannya sih terlihat sepele namun cukup menganggu saya karena dikirim berulang - ulang." Ungkap Juna menceritakan teror yang Ia alami.

__ADS_1


" Isinya apa?" Tanya Beni Penasaran.


" Tinggalkan persahabatan kalian kalau tidak kamu akan lenyap karena salah satu diantara kalian itu adalah milikku. Aku paling tidak suka milikku dimiliki orang lain."


Juna membaca pesan yang masuk ke Handphonenya kemudian memberikan kepada temannya untuk mereka baca ulang.


" Apa orang yang dimaksud adalah para Gadis karena mungkin saja itu Pengagum rahasia kamu Jun? Bisa jadi kamu tidak menghiraukannya sehingga dendam." Duga Rian.


" Bisa jadi seperti itu dan orang itu adalah Ega. Karena mungkin saja si Peneror tahu kalau kamu lagi deket sama Ega." Sambut Beni mendukung dugaan Rian.


" Bener juga sih tapi jangan lupa ada Nina karena bisa jadi Peneror itu mengarahkan Bidak Sterikelnya ke arah saya tapi sasaran sebenarnya adalah Nina sehingga kita luput dari perhatian." Ucap Ega tiba - tiba ikut berkomentar yang sedari tadi hanya menyimak.


" Benar juga sih. Karena itulah kita harus cari tahu siapa pelakunya. Oya kamu simpan enggak akunnya biar kita lacak." Tanya Dipta.


" Saya yakin Peneror itu pakai akun palsu." Jawab Juna yakin.


" Kita coba saja, siapa tahu saja meninggalkan jejak yang bisa kita lacak." Sahut Dipta yakin.


" Kita minta tolong Evan saja untuk melacaknya." Ucap Ega memberi usul.


Baru saja Ega hendak menelpon Evan tiba - tiba terdengar Rian berteriak saking terkejutnya.


" Lihat medsos." Teriak Rian dengan pandangan tidak percaya.


Serempak mereka membuka akun masing - masing.


" Hai para Lelaki jangan bersembunyi pada Dua Wanita bodoh itu untuk menutupi penyimpangan kalian. Apa ini cara kalian untuk menutupi kedok kalian yang terlihat sok alim padahal be**t. Mari kesini sayang pada duniamu yang sebenarnya maka akan ku sambut dengan sempurna."


Isi dari komentar seseorang pada fhoto yang di Upload oleh Ega. Dalam Fhoto tersebut menampilkan mereka semua.


" Astaghfirullah." Ucap mereka serempak beristigfar.


" Apa maksudnya ini?" Tanya mereka bingung.


" Hapus Ga fhotonya bila perlu brokir akun yang menulis itu." Ucap Beni marah. Tumben - tumbennya Beni naik tengsi membaca pesan yang tidak masuk akal dan sulit dipahaminya.


" Jangan Ga, disembunyikan saja biar orang tidak membacanya. Kita nyari tahu lewat akun ini. Ini pasti saling berkaitan dengan akun yang meneror Juna. Saya rasa orangnya sama." Duga Dipta.


" Bener itu, coba kamu ajak bicara Ga? Siapa tahu saja tuh orang merespon." Saran Rian.


Ega melakukan apa yang dikatakan Dipta dan Rian. Dia mensetting fhoto yang dikomentari oleh seorang akun yang tidak dikenal. Hanya dirinya saja yang melihatnya.


Ega mengomentari balik akun abal - abal tersebut sedangkan Dipta segera menghubungi Evan untuk melacak pemilik akun yang diduga palsu.


" Ada apa sih kok serius banget kalian semua?" Tanya Evan mengeluarkan suara nyaringnya ketika berhasil dihubungi.


" Kita diserang Van? Bisa tidak kamu melacak dua akun yang menyerang kenyaman the gengs." Terdengar suara Dipta memberitahu.


" Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Evan terdengar mulai serius biasanya Evan tidak seserius yang terlihat di hp, hidupnya selalu dibarengi dengan guyonan.


Dipta menceritakan mulai dari Ega yang dibuntuti seorang laki - laki Misterius, Juna yang diteror dan malam ini fhoto yang ada kita semua menjadi sasaran komentar julid akun palsu tersebut." Cerita Dipta dengan tidak mengurangi apapun.


Sedangkan Evan mangut - mangut di seberang sana tanda memahami cerita Dipta. Terlihat keningnya mengkerut tanda berpikir.


" Kirimkan akunnya, saya akan mencoba lacak dengan Ilmu IT saya." Tiba - tiba terdengar suara nyaring Evan yang membuat mereka terkaget karena Evan tadi diam beberapa detik membuat mereka ikutan terdiam.


" Kamu tuh Van bisa tidak jangan memperdengarkan suara nyaringnya bikin ane kaget tahu." Omel Rian sambil mengelus dadanya.


" Suara saya anugerah terindah dari Allah jadi mana mungkin saya tidak mamfaatkan dengan sebaik - baiknya. Aset berharga saya tahu. Jantung ante kali rapuh sedikit dengar suara nyaring saya langsung retak." Sahut Evan cengengesan.


" Aduh Evan jangan gitu dong, Mas Rian aset berharga kita. Kalau Mas Rian ngambek buyar dah dunia perekonomian kita." Bela Ega tersenyum jahil.


" Ega tuh membela saya atau malah membanting saya sih? Sakit hati ane Ga." Guman Rian pura - pura meringis sambil memegang jantungnya.


" Hehehe Piss, saya padamu Mas Rian." Balas Ega sambil memainkan kedua tangannya. Satu membentuk huruf V yang satunya membentuk tanda cinta ala Korea.


" Alah kalau merasa bersalah pasti itu tuh senjata rayuannya. Ane tidak bisa marah kalau udah lihat muka memelas kamu Ga." Ucap Rian mengalah.


" Dibalas." Teriak Ega memberitahu.

__ADS_1


__ADS_2