
[Ivan, saya tidak mau tahu, bereskan Beni Hardian Adha. Pastikan tidak ada jejak yang tertinggal disana. Jangan sampai ada yang curiga bahwa Beni asli sudah lenyap]
Vidio menampilkan Beni yang sedang di sekap seketika itu menjadi perhatian semuanya. Mereka mengarahkan pandangan ke arah layar. Seketika itu keadaan menjadi riuh manakala melihat seseorang yang memerintahkan untuk melenyapkan Beni memiliki wajah yang sama dengan Beni. Itu artinya ada dua Beni disini.
Hal itu menjadi tanda tanya, terlihat dari cara mereka memandang satu sama lain. Kini fokus mereka ke arah layar dan mengabaikan Beni yang sedang mengoceh tidak jelas.
“Apa yang terjadi? Apa Putra Pak Banu Hardian ada dua dan kembar? Bukannya Pak Banu hanya memiliki satu anak Laki-laki. Lalu anak Pak Banu yang mana? Yang disekap atau yang sekarang sedang berdiri disini?”
Pertanyaan itu bermunculan di benak masing-masing.
Menyadari suasana yang bergejolak, Beni mengernyitkan dahinya. Dia belum tahu apa penyebab mereka berubah riuh. Dia membalikkan tubuhnya saat mendengar suaranya sendiri. Matanya langsung bersitatap dengan tokoh yang ada di layar.
Terkejut!
Itulah yang ditampilkannya, dengan wajah pucat dia berusaha untuk menenangkan diri. Dia harus mengendalikan keadaan agar tidak satupun yang mencurigainya.
Aman, tidak ada satupun yang menyadari perubahannya. Mereka terlalu fokus menonton cerita yang ada di layar. Dimana dalam cerita selanjutnya, Beni terbakar hidup-hidup. Kembali, wajah yang mirip dengan Beni nampak di layar sedang berbicara dengan seseorang yang di duga Ivan.
Kembaran Beni lagi-lagi terkejut, apa yang sedang terjadi sebenarnya? mengapa segala aktivitasnya bisa terpampang di layar. Selama ini tidak ada yang mengetahui kalau dirinya bukan Beni. Ega pun tidak mengetahui hal ini. Namun kenyataannya dirinya ada di layar sana dengan berlokasi di rumah Beni sendiri.
Dia menatap ke arah Ega yang terlihat syock. Tidak mungkin Ega yang melakukannya? Pikir Beni menyelidiki raut itu.
“Tenang, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, saya memang benar pernah disekap seperti yang ditampilkan di layar. Namun saya berhasil selamat berkat bantuan Isteri saya Ega. Dia yang langsung mendatangi Pelaku dan meminta agar saya di bebaskan.” Beni mengambil alih kemudian meredamkan ketegangan. Dia menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Dan mengkonfirmasi bahwa yang terbakar itu bukanlah dirinya melainkan seseorang yang mirip dengannya.
Mereka nampak percaya dengan segala penjelasan Beni. Sebagian dari mereka berucap syukur karena Putra dari Pemilik Perusahaan tempat mereka menaung ternyata selamat.
Ega bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ke panggung tempat Beni berdiri.
“Benarkah ini Kak Beni?” tanya Ega menyelidiki itu.
“Tentu saja dek,” jawab Beni singkat dan jelas.
“Kenapa aku tidak mempercayainya,” sahut Ega dengan wajah datar.
Jawaban itu seperti pukulan telak bagi Beni. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa Ega kini mencurigainya gara-gara drama yang ada di layar itu.
Percakapan itu terdengar jelas oleh semua orang yang menyaksikannya. Mereka tidak menyangka Isteri dari Beni meragukan Pria di hadapannya adalah Beni asli. Segala tanggapan mulai beredar disana. Antara mempercayai Pria ini atau membenarkan keraguan dari Ega tentang Suaminya.
__ADS_1
“Dek, saya Suami kamu, Beni Hardian Adha. Orang yang terbakar itu bukan saya melainkan orang yang hanya mirip dengan saya. Kamu sendiri yang mendatangi Ivan dan meminta agar saya dibebaskan dengan beberapa imbalan. Dia menyetujui itu sehingga saya sekarang berada di tengah-tengah keluarga.” Beni berusaha untuk meyakinkan Ega agar mempercayainya.
"Oh ya? lantas orang yang mirip Kak Beni itu siapa?" tanya Ega dengan pandangan bingung.
"Saya tidak tahu siapa dia?" jawab Beni dengan menampakkan raut heran. Ega menampilkan wajah tak percaya. Sorot mata menyelidik seakan menelanjangi kebohongan yang sedang dilakukan Pria yang berwajah sama dengan Beni.
"Terus orang yang selama ini berada di rumah kami itu Kak Beni, kan? bukan orang lain yang berwajah sama dengan Kak Beni?" tanya Ega dengan raut penasaran.
"Tentu saja itu saya dek?" Beni berusaha meyakinkan Ega agar mempercayainya sebagai Beni asli. Dia menggenggam tangan Ega dengan erat kemudian menatap sangat lekat seolah wajah Ega pusat hidupnya.
"Dasar Pria manupulatif," batin Ega berusaha menahan kegeramannya.
"Gitu ya? Jika itu memang Kak Beni kenapa dalam rekaman vidio itu seperti bukan Kak Beni Suamiku. Kak Beni tidak akan sejahat itu, jadi jelaskan apa maksudnya? kamu telah membakar hidup Suamiku, kan? dan menggantikannya dengan wajah palsumu yang mirip dengan Suamiku." Ega menghujani Pria di hadapannya dengan segala tuduhan.
Kalimat panjang itu seakan membasahi sekujur tubuh Pria itu, terlihat tubuhnya gemetar dengan wajah pucat pasi. Dia tidak ingin rencananya yang selama ini telah di susunnya dengan rapi harus gagal malam ini. Sebagai jalan satu-satunya dia harus berusaha meyakinkan Isteri dari Beni. Sekarang Wanita itu sudah mencurigainya dan tidak menuntut kemungkinan dia mencari tahu kebenaran itu secepatnya. Beni berusaha membujuk Ega agar mempercayai Suaminya sendiri.
"Dek, percayalah saya adalah Suami kamu," ucap Beni kemudian dengan tatapan sedih dan terluka.
“Kamu bukan Suami saya. Kak Beni tidak pernah memanggil saya dek, sedangkan kamu selalu memanggil saya dengan panggilan Dek. Satu hal lagi, dia tidak memiliki tanda lahir di Lengan kanan sementara kamu mempunyainya. Apa perlu di tunjukkan ke public agar orang-orang mengetahuinya.” Ega berucap panjang lebar. Dia menatap wajah palsu itu dengan sorot mata tajam.
Dengan cepat dia kembali meraih tangan Ega hendak menyeretnya meninggalkan panggung. Dia tidak ingin kejadian ini membuat rencananya berantakan.
Ega tidak bergeming sama sekali. Dia menghempaskan tangan itu dan tetap berdiri tegak.
Sementara Nina tidak mengerti apa yang terjadi. Dia menatap sepasang Suami Isteri itu yang sedang bersitegang. Dia tersenyum sinis memandang keduanya dengan kalimat menggerutu yang hanya dia saja mendengarkannya "Apa mereka sengaja membuat drama agar menjadi pusat perhatian. Dasar udik!"
“Apa-apaan ini? kenapa terjadi drama disini?” pada akhirnya Nina menengahi. Suaranya menggema membuat sebagian dari mereka memusatkan perhatian ke arah Nina.
Dia menuju ke arah panggung menghampiri Beni dan Ega yang masih bertahan disana.
“Acting, apa ini akal-akalan kamu agar terlepas dari Beni. Kamu malu karena tidak sebanding dan selevel dengan Beni atau jangan-jangan kamu ingin kembali dengan Mantan Calon Suami kamu itu, Ivan Alkaeri sehingga mempercayai yang tewas terbakar itu adalah Beni. Kamu ternyata tidak mengenal Suamimu sendiri Ega.” Setelah sampai di hadapan Beni dan Ega, Wanita hamil itu berucap lantang membuat orang-orang yang masih berada disana tercengang.
"Nina, saya harap kamu jangan ikut campur. Sebaiknya kamu pulang demi keselamatanmu dan bayi yang sedang kamu kandung. Kamu tidak mengetahui apa yang sedang terjadi," ucap Ega memperingatkan Wanita hamil itu.
Nina tak bergeming, dia melajukan langkahnya mendekati Beni kemudian bergelayut manja pada tubuhnya.
"Jika kamu tidak mempercayainya lagi, berikan saja Suamimu padaku. Aku akan mencintai dan mempercayainya sepenuh hatiku. Lagipula kamu tidak pantas menjadi Isteri dari Beni Hardian Adha, Sang Direktur Utama Hardian Group. Lihatlah dirimu, kampungan!" Nina memandang Ega dengan tatapan sinis dan merendahkan. Tatapan dan perkataan itu seakan menunjukkan kepada semua orang betapa tidak berkelasnya Isteri seorang Beni Hardian Adha.
__ADS_1
"Dasar Wanita tidak tahu malu. Apa di pikirnya dia sudah berkelas apa? memangnya situ sudah okay?" ucap seseorang yang entah siapa.
"Iya, Isteri Beni terlihat cerdas dan berkualitas. Nah kamu, apa yang bisa diandalkan, cantik? semua orang bisa menjadi cantik kali?" Seseorang menimpali perkataan seorang Wanita.
"Huuuuuuu." Terdengar teriakan menggema di Aula. Teriakan itu di dominasi kaum hawa.
Ega menggelengkan Kepala tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Nina. Wanita itu sangat berani, bahkan di hadapan semua orang dia meminta Pria yang sudah sah menjadi Suami Wanita lain untuk di lepaskan.
Wanita ini benar-benar tidak memiliki hati nurani. Bukankah hati yang diciptakan oleh Tuhan itu sama bentuk dan warnanya tapi kenapa Wanita ini tidak memiliki rasa kasih sayang itu sebagai sesama Wanita.
Entahlah? kini bukan permintaan Nina yang menjadi perhatian Ega. Namun keselamatan Wanita itu yang membuat Ega kian gusar.
Melihat pertunjukan di atas panggung membuat orang-orang kian penasaran. Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa acara Perusahaan besar disusupi oleh drama rumah tangga. Ada Pelakor pula yang muncul menunjukkan talentanya.
Evan yang berada di balik layar bergegas menghampiri Nina. Dia meraih tangan Wanita itu kemudian menyeretnya meninggalkan Aula. Meskipun Nina memberontak, Evan tak melepaskan pegangan. Dia terus saja menyeret Nina dan membawanya ke tempat aman.
Banu Hardian dan Citra Hardian hanya terpaku menyaksikan perdebatan antara anak dan Menantunya. Beni yang sedang menyamar menjadi Pelayan segera menghampiri sepasang Pengusaha itu. Memberikan isyarat agar berusaha setenang mungkin. Mereka berdua mengangguk dan siap-siap dengan kemungkinan yang akan terjadi.
Sementara Rian dan Dipta secara diam-diam meminta para tamu undangan untuk meninggalkan Aula. Tugas mereka sudah selesai melumpuhkan orang asing yang di duga menjadi anak buah Beni palsu meskipun tidak semuanya berhasil ditaklukkan.
"Ega, kamu harus percaya. Aku ini Beni, Suami kamu." Beni kembali memohon. Dia meraih tangan Ega lalu menciumnya dengan lembut.
Ega berpura-pura percaya, dia tersenyum.
"Benarkah, kamu tidak lagi berbohong, kan?" tanya Ega melunak.
Beni mengangguk dengan menampilkan senyum hangatnya. Melihat itu membuat Ega semakin muak. Dia menggerakkan tangan untuk menangkup dan mengelus wajah itu.
"Berani-beraninya Pria ini mengambil wajah Suamiku," batin Ega dengan senyum yang tetap saja mengembang.
Saat menemukan titik, dengan kuat dia menarik wajah mirip Beni sehingga kepalsuan itu terlepas. Topeng mirip Beni itu terlepas menampilkan wajah aslinya.
Beni terkejut dengan apa yang diperbuat oleh Ega. Tidak menyangka Ega, Wanita itu merobek kepalsuannya dan membongkar siapa dirinya.
"Juna?"
Bersambung.
__ADS_1