Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 29. Nina Hilang.


__ADS_3

"Kok Nina bisa hilang?"


Sebuah kalimat yang membuka pertemuan antara Beni, Dipta dan juga Ega. Beni baru bisa menghampiri Dipta dan Ega yang menghubunginya sudah lama. Namun Beni tidak bisa segera menghampiri mereka berdua karena di Kantornya ada Meeting dadakan yang mengakibatkan Beni terlambat.


Mereka sedang berkumpul di rumah Ega setelah Dipta dan Ega sedari tadi sudah berbagai tugas mencari keberadaan Nina begitu mereka berdua mengetahui kalau Nina hilang.


"Saya juga tidak tahu, kita tidak sengaja mengetahui kalau Nina sebenarnya telah hilang dua hari yang lalu. Kita tahunya tadi siang ketika selesai donor darah kemudian memutuskan untuk makan siang di Warung Bibinya Nina. Disana ada Ibunya Nina. Ibunya Nina menanyakan keberadaan anaknya kenapa sudah dua hari Ninanya tidak pulang. Saya jadi shock ditanya seperti itu. Ibunya Nina mengaku kalau Nina pamit dengan mengatakan mau menginap di rumah saya. Kalian tahu semua, kan? kalau Nina tidak pernah ke rumah bahkan dia absen ketika diajak ngumpul dengan alasan sibuk." Ega menceritakan pertemuannya dengan Ibu dari sahabatnya itu sehingga mengetahui hilangnya Nina.


"Kenapa jadi membingungkan seperti ini sih? apa mungkin ada hubungannya dengan Lexi?" tanya Beni mulai mencari tahu.


"Entahlah, apa maksud dari semua ini? siapa sasaran dari Lexi sebenarnya?" Ega berguman lirih seakan tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Pikirannya mendadak buntu. Mungkin saja karena kelelahan mengakibatkan kecerdasannya memudar.


"Sepertinya Lexi menembak ke segala arah dan tidak ada sasaran yang sebenarnya. Kita harus hati-hati karena mungkin saja kita semua kena tembakan si Lexi," ucap Dipta akhirnya ikut berkomentar sedari tadi hanya menyimak saja.


"Kalau memang dia mengincar saya kenapa tidak langsung saja mengarahkan tembakan ke arah saya kenapa malah menganggu orang-orang terdekat saya. Saya juga tidak mengenal Lexi lantas apa alasannya mengganggu kita?"


Beni bertanya bingung dengan semua ini. Wajahnya mulai tidak menampakkan senyumnya dan berusaha menahan emosinya yang sudah berada diubun-ubunnya.


"Tunggu dulu, kemarin kamu bilang salah satu orang yang ada di fhoto itu bernama Anton. Anton itu teman sekantor kamu, kan? Mungkin saja si Lexi tahu dari Anton." Dipta mulai menjabarkan akar dari permasalahan ini.


"Saya sudah tanya Anton. Anton memang mengenal Lexi, Lexi itu sepupu jauhnya Anton tapi Anton mengaku sudah lama tidak berhubungan lagi dengan Lexi." Beni mulai menceritakan apa yang disampaikan Anton.


"Kenapa? pasti ada alasan kenapa Anton tidak mau lagi berhubungan dengan Lexi?" tanya Dipta mulai penasaran.


"Anton mengaku kalau dia takut dekat-dekat lagi dengan Lexi semenjak Lexi bergaul dengan orang-orang gila dan mulai ketularan mereka. Anton tidak mau terkena juga akhirnya memilih menghindari Lexi." Beni melanjutkan ceritanya sekaligus memberitahu alasan Anton menjauhi Lexi.


"Tadi Anton bilang semenjak? berarti sebelumnya si Lexi baik-baik saja dan normal-normal saja dong?" Ega ikut berkomentar yang sedari tadi hanya menyimak cerita Beni.


"Berdasarkan ceritanya Anton, dulunya si Lexi orang baik dan normal-normal saja akan tetapi semenjak tragedi yang menimpa Nara membuatnya berubah total," jawab Beni.


"Nara? siapa Nara?" tanya Dipta penasaran dengan seseorang yang bernama Nara.


Beni lalu menceritakan kembali apa yang diceritakan oleh Anton persis seperti apa yang diceritakan Anton tanpa mengurangi ataupun menambahkannya.


"Ceritanya membingungkan dan janggal. Apa mungkin cerita ini versinya Lexi ya?" tanya Ega begitu mendengarkan cerita Beni.


"Maksudnya?" tanya Beni dan Dipta serempak. Mereka berdua memperhatikan Ega yang sedang berpikir. Kemudian melihat bibir Gadis itu mulai bergerak ingin mengatakan sesuatu.


"Mari kita uraikan ceritanya. Pertama saat terjadi kecelakaan yang menimpa Nara dan pada saat itulah barulah ketahuan Nara sedang mengandung. Orang Tua Nara menuduh Lexi yang melakukan itu tetapi Lexi menyangkalnya malah melemparkan tuduhan ke arah Mandala."


Ega menarik nafas panjang kemudian menghembuskan dengan pelan. Dia terlihat kembali berpikir beberapa detik kemudian melanjutkan apa yang ada dalam pikirannya itu.


"Nara ada disana, seharusnya Nara memberikan penjelasan siapa Pelaku yang sebenarnya. Dalam cerita ini tidak ada penjelasan dari Nara atau jangan-jangan Nara tidak mengetahui siapa yang telah menghancurkan kehormatannya sehingga tidak ada komentar apa-apa dari Nara."


Ega sengaja menjeda agar Beni dan Dipta bisa mencerna penjelasannya dan mulai berkelana untuk menemukan benang merahnya.


"Bener juga sih? tidak ada cerita dari sisi Nara seperti pembelaannya. Mungkin saja Nara tahu siapa Pelaku sebenarnya namun memilih diam. Bisa jadi karena dirinya diancam." Beni akhirnya mengeluarkan pendapatnya.


"Jangan-jangan kecelakaan yang menimpa Nara sebenarnya sudah direncanakan. Orang yang bernama Mandala itu yang menyelamatkan Nara dan membawanya ke rumah sakit," ucap Dipta ikut menyuarakan perkiraannya.


"Saya juga beranggapan seperti itu. Mari kita uraikan kejadian yang kedua merunut kebelakang saat terjadinya tragedi yang membuat Nara mengandung. Saat malam kejadian Mandala yang ada disana dan informasi ini dari Lexi sendiri. Pertanyaan saya darimana Lexi tahu kalau Mandala ada disana pada malam naas itu?. Apa dia paranormal sehingga tahu kalau Mandala yang ada disana? Atau jangan-jangan Lexi juga ada disana?. Sedangkan dia mengatakan pada orang Tua Nara kalau dirinya tidak ada disana pada malam naas itu."


Beni dan Dipta menyetujui perkiraan Ega. Mereka berdua terlihat berpikir untuk menemukan sesuatu dari penjelasan Ega.


"Nah ketemu, Lexi ada disana dan Mandala juga ada disana tetapi Lexi mengakui kalau dirinya tidak ada disana. Apa kalian tidak curiga sama Lexi? Dia seolah-olah menutupi sesuatu dan sengaja menggiring opini kalau Mandala adalah Pelakunya. Iya enggak sih?" ucap Dipta terlihat serius.


"Bingung saya, ceritanya tidak jelas. Ini hanya dugaan kita saja. Antara Mandala dan Lexi tidak ada yang menjadi tersangka karena mereka berdua terhindar dari tuduhan. Atau jangan-jangan bukan mereka berdua tapi orang lain," ucap Beni mengutarakan pendapatnya. Dia berpikir ada aktor lain dari tragedi malam naas itu. Hanya Nara yang mengetahui siapa sebenarnya Pelakunya? lantas apa hubungan dirinya dengan kejadian itu. Dia tidak mengenal Lexi dan juga Nara. Kebingungan itu terlihat jelas pada wajah Lelaki itu.


"Iya juga sih, rumit banget. Semuanya terlihat suram tidak ada titik terang," guman Ega lirih. Dia seakan pesimis untuk berhasil menyingkapi semua ini.


"Iyaaah, kok malah sudah lemah sebelum melakukan penyelidikan," ucap Dipta mencoba memberikan semangat.


"Keberadaan Nina saja kita tidak tahu apalagi kasus Lexi ini ngejelimet banget," sahut Ega lesu.

__ADS_1


Mendengarkan perkataan Ega membuat Beni dan Dipta terdiam. Mereka berdua menyadari kasus ini memang terlihat sukar karena tidak ada petunjuk yang jelas terlihat oleh mereka.


Semenit kemudian terdengar suara Ega bersorak membuat Beni dan Dipta terjungkal.


"Apaan sih Ga? bikin dagu saya tertonjok gara-gara kaget," omel Dipta karena tadi Dipta sedang menopang dagunya dengan kepalan tangannya sedang Beni lain lagi ceritanya. Dia sedang meminum air putih yang membuatnya keselek.


"Sorry, Sorry saking semangatnya," sahut Ega cecengesan.


"Apa yang membuatmu semangat, Ga?" tanya Beni penasaran.


"Kita tanya saja sama Mandala apa yang sebenarnya terjadi pada malam Naas itu?" jawab Ega terlihat berbinar-binar karena telah menemukan solusi yang menurutnya sangat bisa diandalkan. Solusi yang akan menemukan cerita yang sebenarnya.


Beni dan Dipta kompak menjitak kepala Ega membuat Gadis itu teriak histeris.


"Ada apa ini?" Saik Aminah yang berada di Dapur tergopoh-gopoh berlari kearah mereka bertiga sambil membawa sutilnya.


"Tidak ada apa-apa Saik Aminah. Tadi ada Nyamuk di Kepala Ega terus kita tabokin eh Nyamuknya pendarahan itu yang membuat Ega kaget." Dipta mengarang cerita yang membuat Saik Aminah ber oh ria.


"Saik Aminah, apa tidak ada sesuatu yang akan gosong jika Saik Aminah ada disini?" tanya Beni mengingatkan Saik Aminah.


"Masha Allah, saya lagi menggoreng Sayap Ayam. Jangan-jangan sayapnya terbakar oleh panasnya api." Saik Aminah bergegas kembali kearah Dapur. Membuat mereka bertiga trenyuk.


"Bagaimana ide saya? canggih, kan?" tanya Ega kembali ke topik pembicaraan dengan memamerkan wajah semangatnya.


"Canggih darimana? Malahan kamu mengajak kita pada kubangan kemustahilan. Sosok yang bernama Mandala saja kita tidak tahu lantas kita menanyakan sama siapa? Pada rumput yang bergoyang," sahut Dipta kesal. Dia tidak percaya dengan ide konyol Ega.


"Nah ini yang kalian tidak tahu. Saya dan Evan sudah tahu lo siapa Mandala yang sebenarnya?" ucap Ega terdengar serius.


"Siapa?" tanya Beni dan Dipta serempak seperti dikomando.


"Seseorang yang bernama Lalu Naufal Mandala. Orangnya itu jreng jreng jreng, Kasik tahu enggak ya?" ucap Ega sengaja menggantungkan kalimatnya membuat Beni dan Dipta kian penasaran.


"Siapa, Ga? Jangan buat kita penasaran deh!" ucap Beni lelah menunggu karena beberapa menit menunggu Ega malah terdiam. Dia sibuk memperhatikan mereka berdua dengan senyum gelinya.


"Hah! enggak mungkin itu? jangan bercanda, Ga? darimana kamu tahu kalau Mandala itu adalah Juna?" tanya Beni dengan ekspresi terkejut tidak menyangka dengan apa yang didengarnya. Dia meragukan apa yang disampaikan oleh Ega terkait siapa mandala sebenarnya.


"Iya nih? kamu jangan buat guyonan yang terdengar tidak lucu, sakit hati saya dengarnya?" komentar Dipta meragukan pernyataan Ega.


Dipta sulit percaya dengan apa yang disampaikan oleh Ega. Dia mengorek telinganya untuk memastikan pendengarannya tidak bermasalah.


Ega melihat tampang dua Sahabatnya yang terkejut dengan apa yang didengar dan terlihat sekali ketidak percayaan tercetak pada wajah mereka berdua. Mau percaya atau tidaknya kenyataannya memang seperti itu.


"Siapa yang lagi bercanda dan berguyon. Saya mengatakan fakta dan ada bukti nyata kalau Mandala itu Juna," jawab Ega sedikit kesal karena kedua Sahabatnya tidak mempercayainya.


Beni dan Dipta saling pandang kemudian sepakat untuk mempercayai apa yang dikatakan Ega karena Sahabatnya ini tidak mungkin mengada-ngada tentu saja bersama bukti yang akurat dan teruji klinis.


"Baiklah saya percaya sama kamu terus darimana kamu mendapatkan kesimpulan kalau Mandala itu adalah Juna?" Tanya Beni kembali fokus ke topik permasalahan yang sedang mereka hadapi.


"Dari fhoto yang berhasil didapatkan oleh Evan. Inget waktu itu Evan pernah cerita kalau ada fhoto yang sedang dia selidiki karena dalam fhoto itu ada seseorang yang rasanya dia kenal tapi belum bisa memastikan siapa orang itu karena wajahnya tidak jelas." Ega mengingatkan apa yang pernah dijelaskan oleh Evan. Ega juga menjelaskan bahwa hal itulah sebagai dasar Ega mencurigai Juna. Dia juga menceritakan raut wajah Juna yang berubah risau manakala melihat foto yang diperlihatkan Evan. Karena itulah Ega diam-diam menyelidiki Juna.


Mendengarkan penuturan Ega membuat Dipta dan Beni mempercayai keterangan Gadis itu. Mereka berdua tidak menyangka sekali kejadian ini ada hubungan dengan Juna. Hanya satu yang menjadi tanda tanya besar yaitu Beni yang ikut terseret dalam masalah ini dan sekarang Nina juga terbawa arus selanjutnya siapa lagi?.


"Saya tidak menyangka kalau Mandala adalah Juna pantas saja Lexi meneror Juna dan berimbas ke kita juga," komentar Dipta tak percaya. Dia menggelengkan kepala sebagai ekspresi ketidak percayaannya itu.


"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang? Bagaimana caranya kita mengorek keterangan dari Juna. Kita tahu sendiri Juna itu sangat tertutup kalau sudah berhubungan dengan kehidupan pribadinya," ucap Ega seperti mengeluh. Dia menyadari sangat sulit mengusik Juna jika itu berhubungan dengan pribadinya. Bisa saja akan marah lalu mendiamkan mereka dalam waktu yang sangat panjang.


Mereka semua tahu siapa Juna dan seperti apa sifatnya. Sangat sulit untuk membongkar hal pribadi dari diri Juna apalagi ini menyangkut suatu kejadian yang mungkin saja menyesakkan dadanya dan mungkin saja tidak ingin mengingatnya kembali.


"Tambah rumit ini?" imbuh Beni yang sudah tidak tahu jalan mana yang akan mereka tempuh.


"Apanya yang rumit?" Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Beni yang membuat Beni terlonjak kaget begitu juga Dipta dan Ega mendapatkan percikannya juga.


"Abang Juna, bikin saya kaget saja? kok tidak ada suaranya?" tanya Beni berusaha menetralisir keadaan agar kembali normal.

__ADS_1


"Kalian sih, terlihat serius banget? Apanya yang rumit?" Juna mengulang kembali pertanyaannya.


Ega, Dipta dan Beni saling pandang untuk memberikan kesempatan siapa yang akan menjelaskan kepada Juna.


"Lah kok kalian saling pandang sih? ada apa sebenarnya?" Juna kembali bertanya yang membuat Pemuda Tampan itu tambah penasaran melihat tingkah laku ketiga Sahabatnya itu yang terlihat mencurigakan.


"Rumit karena sampai sekarang kita belum tahu keberadaan Nina."


Ega memberikan penjelasan untuk meredakan kecurigaan Juna kepada mereka. Semoga saja Juna tidak mendengarkan pembicaraan mereka. Hati membatin.


"Oh begitu, benar juga sih rumit banget. Kok bisa Nina hilang? kalian sudah cari kemana saja? terus apa kata Evan? apa dia sudah melacak keberadaan Nina dengan kecanggihan yang dia punya?" Bertubi-tubi pertanyaan dari Juna, terlihat jelas Juna juga risau dengan khabar hilangnya Nina.


"Astaghfirullah Bang, panjang amat pertanyaannya macam tembok besar Cina saja," Komentar Dipta geleng-geleng kepala.


"Iya abang ini? khawatir sih iya tapi jangan buat tembok cina lagi kali? kan, sudah ada tuh!" Ega ikut menambahi.


"Lah kalian berdua kenapa malah menjadi tembok berlin yang hancur," ucap Juna heran atas jawaban yang diberikan mereka berdua. Tanya apa? jawaban apa? kenapa semuanya menjadi tidak nyambung. Dipikiran Juna.


"Yaok! kenapa kalian malah ribut pakai bawa tembok segala, berat tahu entar kalau ketiban tahu dah rasanya sakitnya tuh disini." Beni menengahi mereka yang sudah mulai keluar dari jalur kereta api tut tut siapa hendak ikut... sembari menunjuk kesuatu tempat ala Cita Citata.


"Ribut, macam Tokek yang tidak punya akhlak yang tiba-tiba mengeluarkan suara disaat orang terlelap dalam tidurnya," ucap Dipta dengan entengnya.


"Iya. Tokek yang mengingatkan kalian akan pentingnya fokus ke masalah yang kita hadapi. Sekarang kita kembali ke arah yang benar," ucap Beni terlihat mulai kesal dengan Sahabat-sahabatnya.


"Gawat, Kak Beni mulai marah tuh?" Seru Ega mulai mengingatkan Dipta dan Juna.


Mereka serempak memandang wajah Beni yang terlihat memprihatinkan dengan tingkah laku Sahabatnya yang diluar kendalinya.


"Maafkan kami, terlalu asyik berbicara sehingga tidak melihat tikungan yang membuat keluar dari jalur lintasan," sambung Ega tersenyum simpul.


"Ega, apa kamu sedang balapan sehingga meraba trek," sahut Beni tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia tersenyum sembari menikmati wajah yang cengengesan bersama salah tingkahnya.


Sontak Juna dan Dipta mengarahkan pandangannya kepada wajah Ega karena penasaran dengan pernyataan Beni dan juga apa yang didengar. Mereka lantas tersenyum melihat tingkah Ega sahabatnya itu.


" Maaf Ben, kita bergurau saja jangan dimasukin ke hati dong entar jadi bisul setundun," gurau Dipta kembali melanjutkan gurauan Ega. Dia berusaha mencairkan suasana yang kian membeku disebabkan oleh masalah yang sedang mereka hadapi.


"saya mengerti tapi jangan dibawa bercanda dong? sekarang kita sedang kebingungan dengan hilangnya Nina."


"Iya sudah kita cari ke tempat yang biasa dia kunjungi dan mencoba menanyakan keberadaan Nina kepada semua kenalannya," saran Juna.


"Okay, kita sepakat akan mencari Nina esok hari sampai Evan berhasil melacak keberadaan Nina. Tadi kita sudah menghubungi Evan, Evan berusaha mengecek beradaan Nina dengan sistem canggihnya namun ternyata Nina meng non aktifkan sistem yang sudah terpasang di hpnya sehingga Evan kesulitan melacak keberadaan Nina." Ega menceritakan langkah terakhir yang melakukan setelah tidak berhasil menemukan Nina. Mereka berdua menghubungi Evan sebagai orang yang yang memiliki Otak tercanggih diantara mereka berdua dan tentu hasilnya tinggal menunggu saja.


"Terus bagaimana ini? Butuh waktu lama untuk mencari Nina sementara kita tidak ada petunjuk apapun." Terlihat kebingungan di wajah Juna.


Mereka hanya bisa diam dengan pikiran masing-masing untuk menemukan ide pada otak yang semakin lemot kian detiknya.


pada saat mereka mengheningkan cipta tiba-tiba dari arah handphone Ega yang tergeletak tak berdaya di hadapannya terdengar bunyi ting yang menandakan ada sesuatu yang merangkak masuk.


Ega segera mengambil handphone-nya kemudian membuka dengan harapan ada suatu petunjuk entah dari siapa itu.


"Siapa? Apakah Nina?" tanya Beni begitu melihat mata Ega berbinar-binar pertanda ada kehidupan disana.


"Evan, dia mengirim lokasi terakhir Nina. Benar saja seperti apa yang disampaikan Ibunya kalau Nina menuju kesini. Berdasarkan lokasi yang dikirim Evan, terakhir Nina berada di Jalan Raya yang menunjuk ke arah jalan komplek tapi tiba-tiba handphonenya mati disaat Nina mengirim pesan bahwa dia tidak bisa bergabung."


Ega menyampaikan apa yang bisa dibacanya dari posisi lokasi terakhir Nina yang dikirimkan Evan.


"Kita bisa menanyakan pada Pemilik Warung Makan yang ada disekitar Lokasi ini. Pasti ada yang melihat Nina berada disekitar sana," saran Beni.


"Benar juga, bagaimana kalau kita beraksinya entar Ba'da Isya saja kalau sekarang saya sudah tidak bisa berpikir lagi karena sudah gerah. Saya ingin memanjakan Body saya yang sudah lengket dan capek karena dari tadi sama Ega keliling mencari Nina," usul Dipta yang terlihat kian lusuh, kucel dan dekil.


"Sepakat, sepertinya kita belum siap sore ini untuk melanjutkan pencarian Nina," sambut Beni bahagia. Dia juga sudah mulai lelah dan merasakan kadar kesegarannya sudah meluntur.


Setelah mereka sepakat untuk melanjutkan pencarian Nina pada ba'da Isya. Mereka pulang kerumah masing-masing tidak lupa salah satu dari mereka menginformasikan kepada Rian untuk bergabung nanti malam karena siang ini mereka memaklumi jika Rian sedang menjalankan aksi rayuan gombalnya kepada Gadisnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2