Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Dia Ternyata Juna


__ADS_3

Ju-Juna!"


Ega mundur selangkah saking terkejut. Dia berhasil merobek Topeng itu dan mengetahui siapa dibalik wajah Beni. Sungguh tidak disangka, Pria itu ternyata adalah Juna, Sahabat mereka sendiri.


Bukan hanya Ega saja yang terkejut. Beni, Rian, Dipta dan Evan tidak kalah terkejut. Mereka semua sulit mempercayai ini semua tapi kenyataannya itulah yang terjadi.


"Jadi benar yang tewas terbakar itu adalah Beni Hardian, Putra dari Banu Hardian."


"Siapa Pria ini berani sekali mengambil identitas Beni dan mengganti wajahnya menyerupai Beni? Jahat sekali."


Terdengar ucapan-ucapan dari orang-orang yang masih tersisa di Aula. Mereka belum meninggalkan tempat sehingga mengetahui kebenaran ini.


Ega benar-benar syock tidak sanggup untuk berkata apa-apa. Kakinya lemas sangat sulit menopang beban tubuhnya sehingga hampir saja linbung. Untung saja dia lekas tersadar sehingga bisa berdiri tegak.


Tidak jauh beda dengan Beni, Evan, Rian dan Dipta. Mereka berempat benar-benar syock. Tidak menyangka orang di balik wajah Beni adalah Juna, Sahabat mereka.


Sulit dipercaya jika Juna sejahat ini. Siapa yang percaya? Selama ini Juna orang yang paling bijak, baik dan juga tidak tegaan. Mana mungkin dia melakukan kejahatan kepada Sahabatnya sendiri, nyamuk saja dia tidak tega memukulnya.


"Saya tidak tega memukul nyamuk, kasian!"


Mustahil? jika mengingat perkataannya itu tentu tidak ada orang yang percaya kalau dia sejahat ini. Sulit dipercaya!.


"Bapak-bapak dan Ibu-ibu dipersilahkan meninggalkan Aula. Mungkin saja ada acara lainnya. Saya Banu Hardian mengucapkan terima kasih atas kehadirannya dan mohon maaf atas kejadian yang tidak berkenan."


Banu mengambil alih. Mendengarkan pengumuman itu, satu persatu Para tamu undangan yang tersisa meninggalkan Gedung. Mereka membawa rasa penasaran itu, namun takut untuk mengetahuinya.


"Jangan ikut campur urusan orang lain jika ingin selamat."


Kalimat ini bukan isapan jempol. Bahkan ada kisahnya. Dimana seorang Pengembara menginap pada sebuah menginapan. Pada tengah malam dia dikejutkan oleh suara teriakan Seseorang di luaran. Dia ingin keluar dari kamarnya untuk mencari tahu karena rasa penasaran itu. Namun urung dilakukan, karena mengingat pesan dari Seorang Pria Baruh Baya yang merupakan Majikannya.


Esok harinya, Pemilik penginapan sangat bersyukur melihat tamunya tidak apa-apa. Lalu Pria itu bertanya apa yang terjadi sebenarnya.


Sang Pemilik Penginapan menuturkan tentang adanya seorang Pria yang selalu membuat keributan tengah malam untuk memancing setiap tamu yang menginap disini agar keluar dari kamarnya. Tentu rasa ingin tahu apa yang terjadi membuat tamu sebelumnya keluar dari kamar dan esoknya ditemukan tewas.


Mendengarkan itu tentu terucap rasa syukur karena selamat dari musibah. Untung saja mengingat pesan itu sehingga tidak keluar dari kamarnya semalam dan memilih untuk mengabaikan apapun yang terjadi diluaran sana.


Kembali ke Ega yang saat ini menatap Juna dengan tatapan tajam. Dia masih tidak percaya sehingga berusaha meyakinkan dirinya dengan apa yang dilihat.


"Apa alasannya?" tanya Ega dingin. Dia memastikan semua orang sudah meninggalkan Aula. Hanya tertinggal tujuh Sahabat, Banu Hardian dan Citra Hardian.


Juna tersenyum. Senyum itu seperti seringai jahat bukan lagi senyum yang ramah, penuh persahabatan dan sangat menawan.

__ADS_1


"Jadi kamu ingin mengetahuinya Ega, sayang?" sahut Juna dengan nada mengejek.


"Ane tidak menyangka ante sejahat ini, Jun. Di antara kita bertujuh ante yang paling baik dan sabar," ucap Rian sulit mempercayai ini semua.


"Hahahahaha."


Juna menanggapi keterus terangan Rian dengan tawa membahana. Terdengar mengerikan membuat orang yang mendengarkannya sampai bergidik.


"Kamu benar Rian, sayang sekali kalian tertipu," sahut Juna kemudian.


"Apa kamu mabuk Jun atau kerasukan? Kamu butuh di ruqiah setelahnya periksa jiwamu di Selagalas." Dipta menimpali kejujuran dari Sahabatnya itu.


"Saya waras kok, kalian saja menganggap seorang Juna adalah Sahabat yang sangat baik," sahut Juna jujur. Dia menatap Dipta dengan pandangan mengejek.


"Kenapa tidak ada komentar dari kamu Evan? apa kamu belum sadar dari keterkejutanmu? Memang, sangat sulit dipercaya namun inilah saya dan sekarang kalian mengetahuinya." Juna melanjutkan kalimat-kalimatnya. Kini pertanyaan itu dia tujukan kepada Evan yang diam saja. Setiap kata-kata itu seperti ejekan yang menghantam hati semua Sahabatnya.


"Apa maumu Juna?" tanya Ega. Dia sudah tidak ingin bermain-main dengan Pria jahat di hadapannya. Juna telah sukses menipunya bertahun-tahun dengan tampangnya yang innocent dan sifatnya yang sangat baik seakan tak ada cela. Ternyata hanya kepura-puraan semata.


"Abang Juna, dong! Kenapa panggilan sayangmu itu kamu hilangkan? Apakah sudah terkikis sopanmu itu, Ega?"


Juna tidak menjawab, dia malah mempertanyakan perubahan sikap Ega yang terdengar sangat dingin. Dia tersenyum, menatap wajah Wanita itu dengan sangat lekat.


"Okay, saya jawab apa mauku," sahut Juna serius. Dia hendak meraih wajah manis Ega. Namun Wanita itu buru-buru mengalihkan pandangannya sehingga tak tergapai.


"Singkirkan tanganmu itu dari wajah Ega, Juna! Jangan coba-coba kamu menyentuhnya," ucap Beni berang. Dia tidak tahan melihat Isterinya dipermainkan oleh Pria yang selama ini menikmati kebersamaan mereka berdua dalam keakraban.


"Rupanya ada Pelayan yang membelamu, Ega. Ckckckck, berani sekali dia. Jika saya tidak mau apa yang akan kamu lakukan?"


Juna menatap pelayan itu dengan sinis dan merendahkan.


Beni benar-benar marah, dia berusaha mengendalikan diri agar tak lepas kontrol. Belum saatnya dia meluapkan amarahnya.


"Hahahahahaha."


Juna tertawa.


"Tidak bisa berbuat apa-apa, kan? Jadi diamlah dan nikmati tontonan ini," ucap Juna. Tidak henti-henti dia tertawa diiringi kata-kata hinaan.


Ega telah muak. Dia menatap Juna dengan tajam seolah membelah wajah tampan itu.


"Kamu semakin menarik dengan raut itu, Ega dan saya suka," ucap Juna semakin lekat dan berhasrat.

__ADS_1


"Sayangnya saya tidak suka. Jika kamu mengenal saya dengan baik, pasti kamu tahu bahwa saya tidak suka berbasa-basi. Apa tujuanmu?" Ega menanggapi dengan dingin dan kembali bertanya.


"Tidak sabaran banget, sih? Bagaimana kalau kita bermain-main sembari menikmati wajah sensual kamu. Heemmm bagaimana rasanya bibirmu ini? Saya ingin mengulang menyentuhnya, boleh?"


"Junaaaaaa!" Ega berteriak. Teriakan Ega menghasilkan tawa membahana dari Pria itu.


"Okay, kedua saya ingin seluruh harta kekayaan Banu Hardian menjadi milikku. Bukankah itu hakku, Abi? Sekarang Putera kebanggaan Abi telah tewas tentu saya bersedia mewarisi haknya." Juna dengan tidak tahu diri meminta semua milik Beni. Dia memerintahkan anak buahnya untuk mengambil dokumen peralihan kekayaan.


"Minta dia tanda tangan," ucap Juna kepada anak buahnya. Sebelum sempat sampai di hadapan Banu Hardian, Beni terlebih dahulu merampasnya. Dia merobek secarik kertas itu lalu membuatnya menjadi potongan kecil-kecil kemudian menghamburkan di hadapan orang suruhan itu.


"Bilang pada Tuan kamu, dia tidak berhak merampas milik orang lain."


"Kurang ngajar." Tanpa menunggu perintah, orang suruhan itu menyerang Pelayan yang tidak lain adalah Beni.


Seperti di komando, seluruh anak buah Juna yang tersisa mulai menyerang. Baku hantam tidak bisa dielakkan lagi. Beni, Banu dan ketiganya melakukan perlawanan.


Ega sudah memasang kuda-kudanya bersiap untuk menyerang Juna yang ada di hadapannya.


"Kamu sudah mulai berani melawan Abangmu ini, Ega?" Tanya Juna dengan tatapan hasrat.


Ega tak menjawab. Dia mengamati pergerakan Juna yang sudah mulai bergerak memutarinya.


"Abang tidak suka melakukan kekerasan terhadap Wanita. Bagaimana kalau kita bertarung atau berkelahi di atas Ranjang dengan lembut dan penuh keimtiman? Apa kamu tidak ingin berbagi nikmat denganku, Ega? Heeeem, saya janji akan memuaskanmu. ..."


Juna menyerang Ega dengan kalimat-kalimat hasrat. Wanita itu semakin muak. Tergambar kemarahan yang tidak bisa lagi disembunyikan. Perkataan Juna sangat merendahkannya membuat Wanita itu tidak akan sudi memaafkannya.


"Tidak perlu kamu marah sayang! Daripada kita saling memukul lebih baik kita berbagi kenikmatan. Saya tidak tega membuat tubuh sensualmu memar-memar akibat serangan ini. Kamu tahu saya tidak ingin melukai dan menyakitimu."


Juna meracau. Dia seperti Juna yang berbeda bukan Juna yang mereka kenal. Juna tidak akan pernah merendahkan orang lain apalagi berkata tidak sopan. Dia sangat menghormati Wanita dan berusaha untuk membuat kaum hawa itu tidak tersinggung.


Hari ini, hal berbeda yang ditunjukkannya. Entahlah, seperti apa Setan yang merasukinya sehingga tega berbuat jahat.


"Saya tidak takut, apa kamu yakin bisa menyentuh kulitku?" Selesai berkata Ega melemparkan senyum tipis. Senyum itu seolah mengejek Juna.


Plak


Plak


Plak


Ega mulai menyerang dengan mengarahkan tinjunya langsung pada wajahnya. Tak sempat menghindar, tangan keras Wanita itu berhasil menyerepet wajah rupawan itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2