Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 14. Rasa Aku Untuk San.


__ADS_3

Ega Pov.


Perpisahan itu sangatlah menyakitkan untukku.


Aku ingin kamu disisiku, mendengarkan suaramu.


Aku ingin kamu disisiku


Mengobrol dan tertawa bersama memandang masa depan.


Namun tentu saja aku tidak boleh egois memintamu tetap disini sementara kamu memiliki Asa yang harus engkau perjuangkan.


Aku mengakui kamu adalah Sahabatku namun ternyata hati ini menginginkan lebih dari sekedar Sahabat.


Apakah aku terlalu egois meminta lebih?


Kehilanganmu menyadarkan aku tentang rasa yang diam menyusup masuk pada relung hatiku.


Aku menginginkan kamu untuk hidupku.


Bersama mengaruhi luasnya padang pasir.


Bersama mengarungi Samudera yang tidak bertepi.


Bersamamu menghadapi semak belukar atau ranjau-ranjau kehidupan yang mungkin saja kita temui di perjalanan hidup kita.


Aku ingin bersamamu menjalani tugasku dan tugasmu beribadah dan bersujud hanya kepada Allah.


Jadikan aku halal untukmu maka aku juga ingin kamu menjadi halal untukku.


Aku ingin menikah denganmu, Hasan!.


San, Aku menulis rahasia hatiku pada buku bersampul biru bernama Diary. Di zaman canggih ini masih saja aku menjadikan Diary teman hidupku.


Aku puas mencurahkan isi hatiku pada benda itu setidaknya benda itu tidak akan pernah menghianatiku untuk mengumbar rahasia hatiku kepada orang lain apalagi kepada dirimu.


Benda ini pasti akan menjaga segala kata yang aku tulis didalam lembarnya.


Setelah puas menulis aku merebahkan diri di atas kasur berbahan kapuk yang menjadi saksi bisu rinduku padamu.


Aku berbaring menghadap ke arah tembok yang telah usang. Aku menatap takjub tulisan yang terpampang disana.


Aku menertawakan diriku betapa konyolnya aku. Pada tembok itu tertulis nama dirimu yang terlihat samar namun aku begitu jelas bisa membacanya.


Nama yang berada dalam tembok itu adalah H454n. Entah kapan aku menulis nama itu pada tembok kamarku? Aku lupa kapan persisnya, mungkin saja ketika aku teramat rindu dengan sahabatku yaitu kamu sehingga mencurahkan pada tembok kamar tanpa aku sadari.


Aku sungguh tertawa melihatnya. Seakan nama yang ada di tembok menghiburku.


Jika kamu mengetahui perihal ini seperti apa reaksimu?


Apakah kamu akan menertawakan kekonyolanku atau malah kamu senang Karena ada saksi bisu yang membuktikan bahwa aku benar ada rasa untukmu.


Entahlah aku tidak tahu itu.

__ADS_1


Aku masih ingat pagi itu aku bekerja seperti biasa dengan tugas lumayan padat. Ketika Ishoma datang aku begitu bahagia menyambutnya tentu saja aku bisa berselancar di dunia maya.


Nama yang pertama aku cari tentu saja kamu namun sungguh menyesakkan dada. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Kamu tidak menampakkan diri di dunia Maya.


Dimana dirimu berada, sedang apa? Seperti apa hidupmu? Sulitkah atau gampangkah?


Aku mencoba mengerti mungkin saja kamu sibuk. Bisa jadi karena perbedaan waktu antara tempat aku berada dengan tempat kamu berada sehingga waktu belum mempertemukan kita berdua.


Aku menarik nafas panjang berusaha menahan rindu. Aku hanya mampu berucap dalam hati semoga kamu tetap berada dalam Perlindungan Allah dimanapun kamu berada.


Aku hendak keluar dari dunia maya ini karena kamu yang aku cari tidak aku temukan walaupun para sahabatku sibuk bercengkerama tapi mengapa hari ini aku malah enggan menyapa dan bergabung bersamanya, apa mungkin karena aku kecewa tidak adanya khabar darimu.


Aku masih ingat jelas ada pesan masuk dari seseorang yang ternyata Saudara Tertuamu. Beliau menyampaikan apa yang kamu sampaikan tidak kurang maupun tidak lebih yaitu keinginan untuk menikah denganku, Sahabatmu.


Sungguh aku bahagia membacanya namun aku juga masih takut untuk membuka hatiku untukmu padahal keinginan itu sangatlah nyata namun trauma itu lebih nyata dari rasa itu.


Entah kenapa aku begitu takut bahwa yang aku baca hanyalah khalayan.


Kini dengan keberanian yang entah darimana berasal aku tidak tahu. Dengan tangan gemetaran aku menulis di Inbox yang tertulis namamu dengan tulisan " Aku Ingin Menikah denganmu Hasan ". Dan dengan tangan gemetaran aku menekan enter.


Jujur aku ragu melakukan itu namun keinginan itu menyeretku untuk melakukan itu sedangkan Otak dan tangan seakan berdebat untuk menulis kalimat itu dan hasilnya beberapa kali aku menghapusnya. Entah berapa kali aku menulis dan menghapusnya aku tidak menghitung berapa bilangannya.


Setelah beberapa kali berdebat akhirnya rasa itu melakukan apa yang harus dilakukan yaitu mengirim pesan agar kamu membacanya dan mengetahui kalau Sahabatmu ini menerimamu menjadi pendamping hidupku.


Aku menunggu tanggapan darimu akan tetapi tidak ada balasan. Entah kalimat penerimaan itu sampai kepada dirimu atau mungkin saja terpental jatuh ke dasar Samudera sehingga kamu belum sempat membacanya. Aku masih menunggu.


"Akankah rasa ini menyesatkanku membawaku pada satu kisah tanpa sambutan darimu dan terpuruk lagi, sungguh aku sangat takut.


Yakinkan aku jika memang kamu menginginkan kita untuk bersama dalam satu ikatan yang halal."


Sore ini aku berlari menuju Lembar begitu melihat tiket kepulangan yang kamu upload di Medsos. Ini khabar yang aku tunggu, kepulanganmu dari Samudera.


Aku deg degkan dan entah apa yang aku rasakan sangat sulit aku gambarkan setidaknya ada rasa lega begitu tahu kalau kamu baik-baik saja.


Aku seperti orang tidak tahu malu mencoba menghampirimu namun rasa rindu ini menepis semuanya.


Maafkan Sahabatmu ini menjadi setengah gila berharap bisa bertemu denganmu.


Sesampai di Dermaga aku melihat kapal datang mendekat. Aku segera memfokuskan mata untuk melihat satu persatu manusia yang turun dari Kapal namun setiap orang yang turun tidak nampak dirimu membaur dengan mereka sampai penumpang terakhirpun tidak ada kamu disana.


Aku tersenyum kecut mungkin Sahabatmu ini terlalu berhayal berharap kamu datang dan menghampiriku. Sungguh aku sedang menunggumu disini.


Mungkin saja aku salah menghitung waktu sehingga kapal ini bukan Kapal yang membawamu pulang.


Aku berpikir positif, mungkin saja kapal lain yang akan membawamu kembali. Aku berbalik arah hendak pulang ketika sudah memastikan kamu tidak ada disini.


Langkah kakiku gontai masih berharap. Namun tiba-tiba secercah harapan itu seperti menghentikan langkah kakiku. Aku melihat kamu disana berjalan pergi seolah berlari menjauh dariku.


"Saaaaaan." Panggilku.


Kamu menoleh menatapku dan senyum itu menyambutku.


"Saaaan." Panggilku lagi dan berharap kamu menungguku.

__ADS_1


Benar saja kamu menungguku dengan senyuman lebar hendak memelukku.


Aku berlari mengejarmu namun begitu aku hampir mendekatimu tiba-tiba aku merasakan kamu semakin jauh.


Aku masih berusaha mengejarmu namun kamu semakin jauh kemudian menghilang dalam kerumunan orang.


Mimpikah aku tadi? tapi kenapa terlihat nyata. Aku melihat San, dia ada disana dan dia tersenyum padaku tapi mengapa aku tidak mampu mengejarnya.


Aku lelah tapi aku berusaha mengejarnya sehingga tanpa sadar sebuah batu menghentikan pengejaranku. Aku terjatuh dan lutut terasa nyeri terkena bebatuan yang ada dijalan. Aku benar-benar lelah tidak sanggup lagi untuk melangkah.


Saat aku berada dalam keterpurukan, ada seseorang datang menghampiri sembari mengulurkan tangan menyambutku dan mengajakku untuk bangun kembali.


"San." Panggilku berharap kamu yang datang menghampiri dan mengulurkan tangan namun ternyata harapan itu memudar ketika aku menemukan wajah yang berbeda. Seorang anak perempuan yang terlihat tersenyum mengulurkan tangannya. Aku meraihnya dan berusaha untuk berdiri.


"Kata Kakak Tampan, Kakak harus bangkit dan melanjutkan hidup. Ini untuk kakak dari kakak tampan," ucap anak perempuan yang berusia sekitar sembilan tahunan.


"Terima kasih," jawabku lesu.


Aku membuka sebuah kotak kecil dan ternyata berisi gelang perak dengan mainan menara Pixa.


Aku ingin berteriak memanggil namamu namun aku sudah tidak sanggup lagi. Butiran bening pada kedua bola mataku seolah mengambil alih memanggilmu agar kamu mau menemuiku. Akan tetapi tangisanku tidak mampu menyeretmu kesini. Apa yang terjadi sebenarnya?.


****


Aku bangkit dari duduk beralas pasir. Saat ini aku sudah puas memandang lautan lepas dan harapanku yang seakan tidak bertepi. Setidaknya keindahan Pantai itu telah menghiburku. Masya Allah, aku berguman atas keindahan yang telah Allah ciptakan.


"San mengapa kamu tidak mau menemuiku, entah apa yang terjadi sehingga kamu lebih memilih menghindariku dan hanya mengantarkan sebuah gelang melalui perantara.


Kamu benar San, aku harus melanjutkan hidup tanpa berharap lagi tapi aku tidak mau berakhir seperti ini tanpa penjelasan darimu."


Aku berusaha menghapus airmata. Kenapa sesak rasanya melihat kamu ada dihadapaku namun tidak mau menemuiku.


Ega melangkah pergi kearah parkiran. Ketika dia hendak mengambil motor, terdengar handphone-nya berdering.


Nama Evan muncul di layar Handphone. Ega segera menggeser tombol warna hijau.


📱Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh." Salam Ega.


📱Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh, Ga kamu dimana? Aku di rumah kamu nih?" Terdengar Evan berbicara.


📱 Aku di Lembar Van, ini aku mau balek." Terdengar jawaban dari Ega.


📱 Ngapaen kamu di Lembar? Memangnya ada yang kamu jemput?" Terdengar pertanyaan dari Evan.


📱Enggak Van, saya cuma main-main saja, siapa tahu saja ketemu jodoh Bule lokal kesasar." Terdengar sahutan dari Ega berusaha untuk berkelakar namun hatinya benar-benar menangis.


📱 Hahahaha." Terdengar tawa dari Evan.


📱 Buruan balek, malem minggu ini kita diajak karokean oleh Juna."


📱Siap, saya siap meluncur." Ega menjawab setelah itu mengakhiri pembicaraannya dengan Evan.


Ega meninggalkan Lembar dengan harapan bahwa hatinya akan baik-baik saja.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2