
Ega tengah sibuk dengan bekerjaannya. Dia melakukan Analisis terhadap Jabatan Pegawai yang ada di Instansinya. Ega harus menyesuaikan Bezetting, dengan nama Jabatan yang ada pada Peraturan Mendagri. Sungguh ini membuatnya begitu pusing. Ega pusing harus menentukan Nama Jabatan yang sesuai dengan keadaan Pegawai dan Rintusi dari OPDnya sedangkan Nama Jabatan yang ada pada Peraturan itu seakan jauh melenceng dari keadaan OPDnya. Ega terpaksa melakukan dengan sistem cocok mencocokkan nama Jabatan pada Bidang Teknis.
Setelah berkutat dengan pekerjaannya, waktu istirahatpun tiba. Ega meregangkan ototnya sambil berdiri sedikit melakukan pergerakan.
Ega menatap Gambar seseorang yang ada di Komputernya, Gambar seorang Laki-laki yang menggunakan Switer Warna merah, Celana Jeans warna Cokelat dan menggunakan Topi Warna Putih. terlihat tampan dengan senyum ramahnya. Dalam fhoto terlihat Laki-laki itu berada di bawah Menara Eiffel. Ialah Mirza Hasan, Sahabat Ega sekaligus Laki-laki yang menjanjikan kebersamaan dalam ikatan halal.
Ega tersenyum melihat Fhoto laki-laki itu dan ingatannya kembali ke masa lalu awal mula bertemu dengan Mirza Hasan. Waktu dia mengadakan syukuran kepindahannya dari rumah Papuk ke rumah baru yang telah dibangunnya. Waktu itu Evan mengajak Hasan dan memperkenalkan Hasan kepada sahabat-sahabatnya. Waktu awal perkenalan Ega terlihat cuek saja dan tidak menerima uluran tangan Hasan bukan karena tidak mau hanya saja pada saat itu dia sudah berwudu karena akan membaca Surat Yasin.
Dari perkenalan itu, komunikasi Ega dan Hasan berjalan lancar. Hasan yang pertama kali menghubunginya dengan meminta nomor handphonenya pada Evan.
Hampir setiap malam Hasan menelpon Ega dari tempat kerja, pada waktu itu dia bekerja di salah satu Gili yang ada di Kawasan tiga Gili. Hasan mengaku bekerja pada Information Tourist dan Shifnya selalu di malam hari. Ega hampir setiap malam menemani Hasan melalui Handphone. Terkadang melalui message dan terkadang langsung mengobrol lewat Handphone.
Malam itu ada sesuatu yang dikatakan oleh Hasan, Ega masih ingat jelas apa yang dikatakannya.
📱Ega." Terdengar suara Hasan memanggil Ega.
📱Iya, Kenapa San?" Terdengar suara Ega menyahuti panggilan Hasan.
Hasan terdiam, hanya terdengar suara nafas Hasan yang terdengar berat.
📱 Aku lagi Jatuh Cinta." Terdengar suara Hasan mengutarakan isi hatinya.
📱Serius, orang mana?" Tanya Ega penasaran mendengarkan curhatan Hasan yang menjadi sahabatnya.
📱 Cewek itu dari Mentaram, Dia ASN dan bertugas di Pemkot. Ga aku benar-benar sedang jatuh cinta, aku deg-degkan ketika sedang berada didekatnya, aku kangen begitu jauh darinya. pokoknya aku jatuh cinta sama dia." Cerita Hasan.
Ega tersenyum bahagia, tentu saja Hasan tidak melihatnya sedangkan Hasan senyam senyum sambil meraba jantungnya yang berdetak tak beraturan
📱 San, kamu masih disana kan?"
Hasan diam, rupanya dia sedang mengkhayal.
📱 San, kamu masih disana, kan?" Terdengar suara Ega mengulang pertanyaan.
📱Eh Iya aku masih disini, aku kangen. Entah apa yang sedang aku rasakan yang jelas Gantungku tidak lagi baik-baik saja. Ga, bantu aku menentramkannya. Aku kangen Ga" Terdengar Hasan mengguman.
📱 Hahahaha, kamu tuh ya lebay banget. Emang ya kalau orang yang lagi jatuh cinta itu bawaannya kangen melulu terus mendadak menjadi puitis. Siapa? kenalkan aku pada Gadis yang kamu suka."
📱 Pasti tunggu aku disana, nanti setelah aku libur aku akan mengajak kamu berkenalan dengan dia. Kita akan makan malam romantis."
📱 Iya San, aku akan tunggu."
📱 Kamu belum ngantuk?"
📱Belum."
📱kalau begitu temani aku malam ini."
Ega mengangguk tentu saja tidak terlihat oleh Hasan. Terjadilah pembicaraan panjang. Hasan tidak henti-hentinya tertawa mendengarkan cerita Ega. Dia tertawa mendengarkan kepolosan dari Gadis yang ada diseberang. Entah kenapa Hasan sangat senang mendengarkan cerita Ega, menikmati suara Ega dan mendengarkan kekonyolan dan kepolosannya.
Begitu juga dengan Ega terasa nyaman mengobrol dengan Hasan. Hasan sepertinya tahu bagaimana cara meladeni Ega dan tahu caranya menghadapi Ega yang sebenarnya keras kepala.
Hari-hari berlanjut, tidak ada tanda-tanda Hasan akan melaksanakan realisasinya untuk memperkenalkan seorang gadis yang membuat Hasan jatuh cinta. Hasan seakan sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan janjinya kepada Ega. Ega memaklumi itu walaupun sebenarnya dia penasaran siapa gerangan gadis itu. Seandainya dia tahu namanya mungkin saja bisa melacak identitas gadis itu tapi Hasan tidak memberitahu nama gadis itu. Rasa Pemuda itu terlihat samar, rupanya Hasan ingin membuat kejutan untuk Ega sehingga tidak mau memberitahu nama gadis itu dan memilih untuk menyimpannya dalam tempurung misteri.
Ega masih saja menunggu, berharap Hasan datang menemuinya. Terakhir kali bertemu ketika lebaran Ketupat. Waktu itu Hasan datang ke rumah, menumpang untuk melaksanakan shalat Magrib. Hasan meminjam kain sarung dan segera melaksanakan shalat Magrib di Masjid yang ada di Lingkungan Rumah Ega.
Setelah shalat Hasan meninggalkan rumah Ega dan di antar oleh Ega hanya sampai halaman rumah saja. Hasan berdiri didepannya sembari menatap Gadis itu lekat seolah menyalurkan rasa kedalam kedua netra yang indah itu. Dengan gerakan pasti Pemuda itu meletakkan tangannya di kepala Ega dan mengelus lembut rambut Ega yang ditutupi Jilbab Instan.
Ega mematung, tubuhnya rasanya membeku. Jantungnya seakan berdetak lebih kencang dan sekujur tubuhnya terasa gemetaran. Ega mendongakkan wajah menatap bola bening mata Hasan yang terlihat begitu bening. Sedetik kemudian Ega menunduk, Ega tidak sanggup menatap bola mata Hasan. Jantungnya seakan mau copot. Sumpah baru kali ini Kepalanya di pegang oleh seorang Laki-laki dan dengan beraninya Hasan melakukan itu padanya. Apa maksud dari semua ini, apa mungkin Hasan menyukainya. Ega seakan ragu untuk memaknai itu semua. Kenapa rasanya nyaman banget mendapatkan sentuhan tangan Hasan di Kepalanya.
"Ya Allah ampuni saya, biarkan saya sedikit saja menikmati sentuhan ini meskipun ini tidak boleh untukku." bisik Ega di dalam hatinya.
Hasan tersenyum meninggalkan Ega yang berdiri mematung. Ega hanya diam tak sanggup berkata apa, bibirnya seakan kelu untuk mengucapkan "Hati-hati".
Itulah malam terakhir Ega bertemu dengan Hasan dan meninggalkan kesan yang begitu manis dan kini harapannya masih sama menunggu Hasan.
Selagi asyik bercengkerama. Terdengar suara panggilan dari Handphonenya.
Hasan.
Ega cepat-cepat menggeser Icon warna hijau.
📱Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Terdengar salam dari Ega.
" 📱Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh." Terdengar suara Hasan membalas salam dari Ega.
"📱 Kangen ya makanya buru-buru angkat panggilanku."
" 📱Kenapa kamu punya kepercayaan tingkat Monas. Saya tidak suka membuat orang menunggu, kalau berada di dekat kenapa tidak langsung mengangkatnya." Kata Ega menanggapi komentar Hasan.
📱 Kiraen kangen, nanti juga pasti bakalan kangen dengan diriku yang tampan, baik dan menyenangkan ini. Cowok yang selalu menemani seorang Gadis yang menjomblo." Terdengar celotehan dari Hasan.
__ADS_1
📱 Enak saja, siapa ayo yang bakalan kangen mendengarkan kepolosan Ega kalau bukan kamu San." Terdengar sahutan Ega.
Hasan terdiam membuat Ega terdiam.
📱Aku pasti akan merindukanmu, Ga." Terdengar suara Hasan bergumam. ada nada kesedihan disana.
📱 Maksudnya apa?"
📱Mungkin malam ini terakhir aku bisa mengobrol leluasa dengan kamu. besok-besok mungkin akan terasa sulit. Aku pamit Ga, aku akan berlayar karena aku mendapatkan pekerjaan di Kapal Pesiar. Aku pamit ya Ga, jaga diri kamu baik-baik, aku pasti merindukan kamu. Hanya kamu yang aku beritahu mengenai keberangkatan ku ini. Besok subuh aku akan pergi ke Denpasar karena aku akan berangkat dari sana."
Ega terdiam, entah kenapa hatinya begitu sedih. Tidak sadar Ega mengeluarkan air matanya. Hasan tidak tahu itu.
📱Kamu Hati-hati San, jangan lupa Shalat." Terdengar suara Ega. Hanya itu yang mampu dia ucapkan.
Hasan terpaku menatap Handphonenya. Hasan sedih, berat rasanya meninggalkan Sahabatnya ini. Namun dia harus melakukan itu demi masa depannya. Ada mimpi yang ingin dia wujudkan.
Pun begitu dengan Ega, dia sedih harus jauh dari Pemuda yang usianya lebih muda darinya. Dia menatap benda Pipih itu dengan pandangan sedih. Benda Pipih itulah saksi kebersamaan mereka setiap malam meskipun raga mereka jarang bertemu. Ega menghirup udara sepuasnya untuk menenangkan dadanya yang mulai tak nyaman. Mengapa kebersamaannya dengan Pemuda itu secepat itu. Baru saja merengkuh kebahagiaan dan kini bahagia melangkah pergi menjauh meninggalkannya.
Rela
Hanya itu yang bisa diharapkan untuk mengiringi kepergian Pemuda itu. Toh juga kepergiannya untuk mewujudkan mimpi yang berada dalam asa Pemuda itu.
Dia tidak boleh egois, karena sejatinya dia tidak bisa meminta Hasan agar tetap berada di sisinya. Permintaan itu rasanya terlalu naif jika dia jadikan permohonan kepada Laki-laki itu.
Ega tersadar dari kenangannya. Dia masih saja menatap fhoto San yang terlihat begitu nyata, seolah San sedang menatapnya penuh rindu.
Ega kembali menggeser beberapa fhoto San di tempat yang berbeda dengan kostum yang berbeda. Terlihat dia berada di Negeri David Beckham, berpose di Bangku Penonton Lapangan Sepak Bola yang tidak berpenghuni. Hanya San sendiri yang berpose disana terlihat nampak bahagia. Terpampang tulisan Liverpool didalam fhotonya.
Ega tersenyum bahagia melihat Laki-laki dalam fhoto yang merupakan Sahabatnya sekaligus Calon Pendamping hidup.
San telah bisa mewujudkan mimpinya berkeliling Eropa. Kalau dipikir-pikir itu sesuatu yang mustahil untuk di wujudkan mengingat kehidupannya begitu sederhana dan bukanlah terlahir dari orang kaya raya atau mungkin seorang CEO dari Perusahaan besar.
Ega dan San terlahir dari keluarga sederhana dan tidak punya cita-cita berkeliling Indonesia apalagi keliling Eropa atau Dunia karena itu mustahil bagi mereka.
Rupanya San mematahkan ketidak berdayaannya menjadi mustahil dilakukannya.
Tentu saja dengan tekadnya yang kuat untuk bisa mewujudkan asanya itu. Satu-satunya jalan untuk mewujudkan itu adalah dengan mendapatkan pekerjaan di Kapal Pesiar.
San berusaha mewujudkan itu dengan perjuangan panjang dan mungkin saja melelahkan. Tidak gampang bagi San untuk mendapatkan kesempatan yang sekarang sudah nyata dia jalani.
"Pandang terus photonya. Memangnya hanya dengan memandang photo laki-laki itu tiba-tiba begitu saja nongol di depan mata atau mungkin dengan memandang photonya perut jadi kenyang gitu?" Tiba-tiba terdengar suara seorang Wanita sudah berada di samping meja kerja Ega.
Ega memang sendiri di ruang kerja karena rekan kerjanya sudah kabur untuk istirahat. Semumpung dia lagi halangan untuk Shalat maka dia memilih berselancar di dunia maya.
"Untung saja saya yang melihat kamu dengan muka pengen ketemu sama cowok yang ada di photo itu coba kalau Senopati Argadana enggak tahu deh apa yang terjadi," komentar Ana sambil tersenyum.
Ana merupakan rekan kerja Ega yang berusia lebih tua dua tahun darinya. Umurnya 26 tahun dan sudah menikah dan sudah memiliki satu orang anak laki-laki.
"Palingan beliau bilang lanjutkan Nak, Cuti nya langsung saya ACC selama satu bulan full tanpa uang makan," sahut Ega dengan sedikit menahan tawa, mengingat apa yang ada dalam pikirannya.
"Bilang saja gini ' bersama sumbangannya dong Pak!"
"Hahahahaha, dapat enggak ya?" celoteh Ega tidak yakin.
"Palingan dikasik ke Kota, cukup buat beli Permen."
"Hahahaha, nasip memang begitu."
"Iya sudah kita makan dulu, Mbak sudah beli Siomay," ucap Ana menyudahi acara becandanya.
Ega mengangguk, dia menghampiri Filling Kabinet tempat dia menyimpan piring, sendok dan gelas. Diambilnya dua buah piring, sendok dan dua botol Air Mineral ber merk Narmada kemudian membawanya pada sebuah Meja tempat Ana menaruh dua bungkus Siomay.
"Apa Senopati dengar pembicaraan kita?" tanya Ega khawatir kalau Bos keduanya itu mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
Orang yang dipanggil Senopati itu merupakan Sekretaris Dinas dan Jenjangnya dibawah Kepala Dinas. Karena Bos kedua itu orangnya galak sedangkan Big bos orangnya kalem dan sabar seolah - olah Bos kedualah yang menguasai Istana tempat Ega bekerja makanya mereka memberi beliau gelar Senopati Argadana.
"Sepertinya dari tadi tidak keliatan mungkin rapat gantiin Big Bos jadi aman," jawab Ana sambil menyuap Siomay yang sudah di bukanya.
Ega tersenyum cerah karena terhindar dari sesuatu buruk yang mungkin saja menimpanya. Ega merasa bersalah sama Bos keduanya karena telah membicarakan dan ikut-ikutan memberi gelar Senopati Argadana.
Sebenarnya Bos keduanya itu baik hanya saja suka marah di depan ramai dan tidak memperhatikan situasi dan kondisi bawahannya.
"Apa San sudah menghubungimu lagi?" Tanya Ana di sela-sela makan mereka.
Ega menggelengkan kepala.
"Sebenarnya Hasan serius enggak sih?"
"Entahlah Mbak, aku takut San hanya memberikan aku harapan palsu saja," jawab Ega menghela nafas berat. Tidak ada kejelasan dari hubungannya dengan San.
"Ceritanya seperti apa sebenarnya?" tanya Ana penasaran.
__ADS_1
"Kakaknya San menginbox saya. Beliau menyampaikan keinginan dari San untuk menikah dengan saya ketika dia pulang dari berlayar. San menceritakan keinginan itu pada Kakaknya dan Kakaknya menyampaikan ke saya keinginan dari San melalui Inbox." Ega menuturkan apa yang disampaikan oleh Kakak Kandung dari Hasan.
"Terus apa yang kamu bilang ke Kakaknya?"
"Saya Sahabat San bukan Pacarnya. Mengenai jodoh saya serahkan Pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Siapapun jodoh saya akan saya terima termasuk Hasan." Ega menjelaskan tanggapan apa yang disampaikan kepada Kakak dari Hasan atas niat baik dari Sahabatnya itu.
"Terlalu polos kamu, kenapa kamu tidak bilang saya bersedia menikah dengan Hasan," sahut Ana geregetan pada Ega yang terlihat polos banget.
"Kakaknya San tidak meminta, tidak ada kalimat meminta dari apa yang beliau tulis. Beliau hanya menceritakan keinginan dari San. Bisa jadi itu hanya rencana mentah yang kemungkinan bisa diubah. Saya melihatnya begitu samar, saya takut patah hati lagi. Saya benar-benar trauma," tutur Ega terdengar sedih.
"Terus bagaimana perasaanmu kepada Hasan sebenarnya?"
"Saya kehilangan dia, mungkin saja saya sudah mulai menyukai Sahabat saya sendiri. Cinta itu mungkin ada untuk San namun ada ketakutan untuk mengakuinya. Saya masih mengira hanya saya saja yang memiliki rasa itu sedangkan San mungkin saja hanya kasian saja atau apalah saya juga tidak paham. Jujur saja saya takut mengakui kalau saya memiliki rasa sama San," jujur Ega panjang lebar.
"Rumit kalau gini mah, mungkin saja Hasan juga beranggapan yang sama dengan kamu bahwa hanya dia yang memiliki perasaan sedangkan kamu tidak. Bisa jadi Hasan mengira bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan."
"Entahlah. Tidak ada pengakuan dari San," ucap Ega sedih. Dia saat ini sedang bimbang, belum tahu harus melangkah ke arah mana. Tidak ada kejelasan dari Pria itu membuat Ega gamang. Benar yang dikatakan Ana bahwa tidak ada keterbukaan disini. Ega maupun San sedang meraba hati, apakah disana ada rasa untuknya? Ega belum berani mengungkapkan perasaannya walaupun dia sudah mengirim pesan jika dia bersedia menikah dengan Pemuda itu.
"Jujur saja pada Hasan bahwa kamu mencintai dia, tidak masalah Wanita duluan mengakui akan perasaannya."
Ega terdiam, dia berusaha menenangkan pikirannya yang mulai sesak.
"Saya sudah mengirim pesan pada San bahwa saya mau menikah dengannya namun tidak ada tanggapan dari San sampai detik ini," guman Ega terdengar parau.
"Kalau seperti itu ceritanya, mbak mau bilang apa? sabar ya Ega, kalau memang Hasan serius setelah dia pulang berlayar pasti dia akan menemui kamu dan menjelaskan semuanya. Tapi kalau dia tidak datang menemui kamu dan memilih untuk kembali lagi untuk berlayar itu artinya Hasan tidak benar-benar menginginkanmu dan pada saat itu yang harus kamu lakukan adalah melepaskannya. Biarkan dia mencari dan menemukan keinginannya yang sebenarnya," ucap Ana memberikan gambaran apa yang harus dilakukan Ega.
"Mungkin saja saya di takdirkan hanya menjadi Sahabat San walaupun saya sudah mulai tumbuh benih-benih cinta untuknya." Ega mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya. Dia menghirup oksigen yang terasa berat. Mengapa kisah cintanya tak berjalan indah.
"Rasa yang ada ini namanya Cinta dalam hati atau cinta yang aku rasakan kepadanya hanya diam tidak sanggup berbicara," jawab Ega galau.
"Sok puitis elu, jadi inget lagunya Ungu kalau tidak salah judulnya Cinta Dalam Hati," ucap Ana diakhiri dengan menyanyikan lagu yang disebutkannya.
"Sedih saya jadinya," Celoteh Ega
Dia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju Keranjang sampah lalu membuang sampah makanannya.
Mereka selesai makan siang sekaligus selesai acara curhatannya. Ega dan Ana kembali ke Meja Kerja masing-masing untuk melanjutkan perkerjaan begitu rekan kerjanya kembali ke Meja Kerja masing-masing.
Cinta Dalam Hati.
Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa di cintai
Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
Dalam hidupmu, dalam hidupmu
telah lama kupendam perasaan itu
Menunggu hatimu menyambut diriku
Tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
Bahagia untukku, bahagia untukku
reff:
Ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
Meski ku tunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
Dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja.
Bersambung.
\=============
Hai Readers, terima kasih sudah berkenan mau membaca kisah persahabatan ini.
pada Bab ini saya menceritakan tentang Sahabat saya. sesuai ceritanya itu terakhir kali bertemu dengannya.
Semoga saja suka.
Jangan lupa Like, komentar dan votenya.
__ADS_1
Terima kasih.