
Beni lagi-lagi tersentak kaget dengan apa yang diucapkan Wanita Paruh baya itu. Dia menggelengkan Kepala membantah.
“Ya Allah Nak, kalau memang jatuh cinta kepada Kembang kenapa musti malu, utarakan saja dengan jujur kenapa musti berbohong.” Wanita Paruh baya lagi berucap. Dia seakan tidak memberikan kesempatan untuk Beni membela diri apalagi bernafas.
Beni ingin menjelaskan, tapi serangan kalimat itu bertubi-tubi terlontar dari Wanita Paruh baya itu. Dia menatap Ega berusaha meyakinkan bahwa dia tak seperti yang dikatakan oleh Wanita ini. Ega mengerti, dia mengedipkan mata meminta Beni untuk tak menjelaskan apa-apa. Kita dengarkan saja kebohongan apa yang ingin diucapkan oleh Wanita ini. Itu isyarat yang berhasil dimaknai oleh Beni.
“Miq, Pemuda ini ternyata tidak jujur, dia jatuh cinta kepada Kembang tapi malu mengakui malah menuduh saya yang memintanya untuk menikahi Kembang. Tidak masuk akal, kan? Dia sengaja berkata seperti itu, untuk memancing agar mendapatkan restu dari saya. Nak saya menerima kamu menjadi Menantu, datanglah, Kembang sedang menunggumu. Jangan malu seperti ini.” Wanita Paruh baya itu kembali melanjutkan kata-kata setelah sejenak menikmati kegusaran dan ketidak tenangan yang dilihat dari Pemuda itu.
“Bagaimana Mamiq, apa mendukung Pemuda ini melamar Kembang, sepertinya dia benar-benar tertarik dengan anak saya. Buktinya dia berkata seperti itu, sebenarnya dia ingin menyampaikan keinginan untuk menikahi Kembang tapi malah mengatakan saya yang memintanya. Ternyata Pemuda Kota sangat pemalu, tidak seperti Pemuda Desa yang suka berkata jujur dan terang-terangan tanpa menggunakan orang lain untuk menyingkap maksud hatinya.” Tak henti kalimat memojokkan Beni terlontar bak panah melesat begitu saja seakan membungkam Pria itu.
“Cukup, jangan memutar balikkan fakta. Apa anda pikir, Isteri dan Mertua saya akan mempercayai apa yang anda bicarakan, salah besar,” ucap Beni menggelegar. Dia hilang kesabaran sehingga rasa sopan itu sudah pupus.
“Nak, saya Wanita tua dan juga bodoh tak mengenal baca tulis. Mana mungkin bisa mengatur kata-kata untuk meminta kamu menikahi Kembang. Keberanian dari mana saya untuk melakukan itu. perbedaan diantara kita sangat jauh, tentu saja saya tahu diri. Jadi, jangan melakukan pembelaan jika dalam kenyataan kamu menyukai Kembang.” Wanita paruh baya itu kembali bersilat lidah. Dia tidak menyerah untuk membuat Beni tak dipercayai oleh orang lain.
Beni benar-benar frustasi, sedangkan Angga hanya diam menyimak apa yang diucapkan Wanita Paruh baya itu. Dia tentu saja tahu mana yang jujur dan mana yang sedang berbohong.
“Sudah?" tanya Angga kemudian.
“Nggih Miq, saya hanya ingin mengungkapkan kebenaran. Pemuda ini sungguh tak jujur, jangan menyiksa diri dengan cinta yang ada di hati untuk Kembang. Akui saja Nak!.” Wanita menyahuti Angga, dia menepuk bahu Beni memberikan dia semangat untuk menentukan pilihannya.
Beni benar-benar muak, dia melengos dan sejurus kemudian menatap Wanita itu dengan dingin seolah membekukan tubuh itu.
‘Saya tunggu di rumah, Nak,” ucapnya hendak berlalu.
“Tunggu, siapa yang menyuruh Inaq Kake pergi. Kita selesaikan permasalahan ini agar tidak ada siapapun yang tersakiti,” ucap Angga menahan Wanita Paruh baya itu yang ingin berlalu. Dia merasa Wanita itu sudah puas menyerang Beni dan dia memastikan bahwa serangan itu membuatnya tak berkutik.
“Apa ingin membahas kesediaan Mamiq untuk membantu Pemuda ini meminang Kembang,” sahut Wanita itu dengan senyum mengembang.
“Jangan bermimpi, malah saya ingin anda berhenti menganggu Menantu saya,” jawab Angga tegas.
“Aa-apa, me-menantu?” tanya Wanita Paruh baya itu terkejut. Dia tak mengira Pemuda yang diserangnya adalah Menantu dari Angga. Sosok yang sangat ditakuti sekaligus sungkan. Pria ini pernah menyelamatkan hidupnya, jika tidak ada dia maka hidupnya akan berakhir dengan cara mengenaskan. Dia juga takut, Angga tahu rahasia keluarganya apalagi dia tak sanggup untuk melawan. Wanita itu gemetaran, seketika itu Kakinya lemas dan tubuhnya lunglai. Tadinya dia mengira, Pasangan Suami Isteri itu adalah tamu disini. Kehadirannya disini hanya untuk berlibur dan menikmati ketenangan Desa. Ternyata dia salah kaprah menyerang orang yang berpotensi menghancurkan hidupnya.
Beni menatap Wanita itu dengan perasaan lega, dia melihat ketakutan pada raut itu. Ega di sampingnya kini berani meraih tangan Suaminya lalu mengelusnya lembut. Beni memandang Ega, memberikan senyumnya setelah terguncang dengan apa yang didengar.
“Kak Beni, tenang saja, aku mempercayai Suamiku,” bisik Ega lembut di telinga Beni. Suara lembut berhasil menenangkan Beni yang semula diliputi rasa frustasi.
“Jadi Pemuda ini Menantu Mamiq?” tanya Wanita itu masih tak percaya.
“Iya,” jawab Angga singkat.
“Alhamdulillah, dengan kejadian ini Mamiq jadi mengetahui kalau Menantunya ternyata tak setia. Dia secara diam-diam menyukai Kembang tapi dia malu mengatakan malah sengaja membuat alibi seolah saya yang meminta itu, mana mungkin saya berani meminta Laki-laki yang tidak saya kenal,” ucap Wanita itu lirih sambil menundukkan Kepalanya. Dia masih dengan kebohongan hanya demi untuk Kembang. Pikirnya, dia harus mempertahankan kebohongan yang diucapkan dan dia yakin Angga akan menaruh curiga kepada Menantunya. Setelah ini, Mertuanya sendiri yang akan memisahkan mereka. Tentu hal itu menjadi kesempatan untuk Kembang memikat Pria tampan ini. Hal ini menjadi rencana besar di Kepalanya. Dia akan membuat Angga tidak mempercayai Menantunya sendiri.
__ADS_1
"Meskipun saya takut dengan Angga, kebohongan itu harus tetap dikobarkan. Dengan ini bisa saja Angga tidak mempercayai Menantunya,” batin Wanita Paruh baya itu tersenyum tipis.
Senyum itu berhasil di tangkap oleh Angga.
“Apa yang kamu senyumkan?”
Deg
Wanita itu terkejut, dia tak menyangka senyum itu berhasil dilihat oleh Angga. Buru-buru dia menggelengkan Kepala tak ingin menjawab.
Beni tak percaya dengan apa yang dilakukan Ibu dari Kembang ini, ternyata pandai sekali berbohong. Dia ternyata licik.
Pandangan dia alihkan karena gusar, tak sengaja matanya tertuju kepada Handphone yang tergeletak di Kursi kayu itu. Ia melangkah, sesampai disana lalu mengambil Handphone tersebut.
“Ya Allah, Alhamdulillah.” Beni membatin. Dia melihat Handphone itu masih aktif dengan rekaman Vidio yang tidak sempat di matikan saat mengambil gambar. Tentu saja merekam pembicaraan sebelum Angga datang. Beni tersenyum lalu kembali ke hadapan mereka bertiga.
“Mamiq, ikhlaskan Menantunya untuk Kembang. Jangan memaksanya untuk tetap berada di samping Isterinya jika ternyata hatinya telah berpaling kepada Gadis yang lebih cantik yaitu Putri saya Kembang,” ucap Wanita Paruh Baya itu berlalu dengan membawa kesombongannya.
“Tunggu, tidakkah anda ingin mendengar apa jawaban saya?” ucap Beni sambil memberikan sebuah senyum indah dan ramah.
Wanita Paruh baya itu berbalik arah menatap Beni, dia menunggu apa yang ingin dikatakan Pemuda itu.
“Sampaikan kepada Kembang agar menunggu di rumah nanti malam. Dia harus berdandan cantik, aku ingin melihat wajahnya terutama kedua matanya yang indah itu dengan lekat, tak boleh menunduk,” ucap Beni tegas dengan menyungging senyum khasnya.
Glek
“Satu hal lagi, aku ingin menikmati masakannya, siapkan menu daun kelor sebagai lauk makan malam kita. Bisakah Kembang memasak daun kelor untukku,” lanjut Beni terdengar datar.
Glek
Lagi-lagi dia menelan rasa pahit, Wanita paruh baya itu tergulai lemas. Wajahnya berubah pucat dan juga ada raut kecemasan yang dia tampilkan.
“Jangan mengancam, saya bisa menjebloskan anda ke Penjara. Tadi anda mengancam ingin melenyapkan Isteri tercintaku, iya kan? Saya mempunyai bukti, mudah saja melakukannya. Satu hal lagi anda juga memfitnah saya yang menyukai Kembang, tentu itu mencemarkan nama baik saya, hal itu juga bisa memberatkan anda di pengadilan, bagaimana apa anda menyukai ini? calon Ibu Mertua?” Beni melanjutkan kalimat bernada ancaman. Sekarang tidak ada orang yang boleh menekan dan mengintimidasi karena ada bukti dalam genggaman. Jika tadi dia tidak berkata apapun itu disebabkan oleh Wanita Paruh baya itu yang tak memberikan kesempatan untuk membantah.
Wanita itu ketakutan, terlihat badannya bergetar dan keringat dingin sebutir Jagung bermunculan tak terkendali. Dia bergegas pergi tak ingin berkata-kata lagi. Tak menyangka senyum dari Pemuda itu merupakan sebuah ancaman yang mematikan untuknya.
Meskipun Kembang bisa meluluhkan hati setiap Pria dengan pesona yang dihiasi jampi-jampi tapi pada kenyataannya pesona itu tidak mampu membuat Pemuda itu bertekuk lutut dan memalingkan wajahnya dari Isteri yang mendampinginya.
"Nak lawan kita kali ini berat, mereka senantiasa menjaga shalatnya dan tak lupa berdoa."
***
__ADS_1
"Selaq?"
Beni kembali tersentak kaget. Dia menyeruput Kopi untuk merilekskan diri. Semalam dia diserang fisiknya dan tadi pagi diserang mentalnya oleh kata-kata. Sebuah tuduhan yang bisa saja dipercayai oleh Ega dan Ayah Mertuanya. Untung saja hal itu tidak terjadi, Ayah Mertuanya tidak buru-buru mempercayai setiap kata yang diucapkan oleh Wanita Paruh baya itu yang merupakan Ibu Kandung Kembang. Dia juga bersyukur mempunyai bukti untuk menghentikan segala kebohongan itu.
Rasa syukur itu terus saja terucap dari bibir Beni dan tak lelah melantunkan doa demi kesalamatan mereka.
Ia memandang Isterinya dengan penuh cinta. Tersenyum lalu mengelus pucuk Kepalanya dengan lembut.
"Kamu mengetahuinya sehingga meminta untuk selalu berhati-hati. Kamu juga mendengarkan apa yang diucapkan Ibu Kembang, memerintah saya untuk menikahi anaknya." Beni berucap setelah cairan berwarna hitam itu berhasil meringankan rasa berat di Kepalanya.
Ega mengangguk
"Alhamdulillah. kini yang aku takutkan sekarang, Kembang akan menggunakan ilmu hitamnya untuk memisahkan kita. Bagaimana jika ancaman itu benar-benar dilaksanakan oleh mereka?" tanya Beni cemas.
"Berdoalah, hanya Tuhan tempat kita meminta perlindungan dari segala kejahatan orang-orang yang berniat buruk." Angga menimpali Menantunya itu, memberikannya ketenangan.
"Ibunya Kembang tidak akan berani lagi menganggu. Kembang pun juga dalam kondisi parah, dia tidak berani bertindak tentu akan membahayakan nyawanya jika itu yang dia lakukan." Angga melanjutkan cerita. Sejenak dia terdiam seperti termenung mengingat sesuatu.
"Kembang murid saya, dia anak yang cerdas, baik dan penurut. Setelah beranjak remaja, dia tumbuh bagaikan mawar yang indah. Dia cantik, menjadi Bunga Desa. Tentu banyak Pemuda yang jatuh hati kepadanya. Dia itu dulu teman dekat Isterimu Ega, teman sepermainan saat masa kanak-kanak. Setelah Ega melanjutkan Sekolah ke Mentaram barulah hubungan itu renggang. Ega masih mengingat Kembang dan selalu menanyakan khabarnya. Tidak lupa menitip salam untuk Kembang. Pada akhirnya, Warisan itu turun kepadanya setelah dia cukup umur." Angga melanjutkan cerita setelah lama termenung.
"Warisan?"
"Iya, warisan ilmu Selaq. Kembang tidak bisa menolaknya sekuat apapun dia menghindar. Dialah yang dipilih oleh moyangnya yang penganut ilmu hitam itu. Sedangkan semua saudaranya tak mewarisi ilmu tersebut. Mereka bisa hidup normal menjalani kehidupan sehari-hari dengan tenang bersama keluarganya. Kembang juga menjalani kehidupan dengan normal, bergaul dengan tetangganya, bekerja dan juga melaksanakan ibadah. Hanya saja ilmu hitam itu melekat pada dirinya sehingga pada malam hari dia berkiaran tak tentu arah. Kasian juga dia tapi mau bagaimana lagi, ilmu itu di peroleh dari keturunan. Mamiq tidak tahu apa bisa disembuhkan, hanya keajaiban dari Tuhan hal itu bisa terjadi. Berbeda dari ilmu hitam yang diperoleh dari mempelajari, tentu Pemakainya bisa melepaskan dan menghilangkan ilmu hitam itu dari dirinya." Angga kembali melanjutkan cerita tentang Kembang. Tentu cerita itu benar adanya bukan fitnahan karena Angga tak sengaja mengetahuinya. Waktu itu Kembang terjebak saat dia tak tahu arah pulang dalam kondisi seperti itu. Angga membebaskan dan mengantarnya pulang. Hal itu dirahasiakan agar masyarakat tak mengetahuinya. Entah kenapa tentang rahasia Kembang diketahui juga oleh warga. Mereka sering mempergoki Kembang berkiaran malam-malam dalam bentuk itu, dulu saat dia baru memperolehnya dan ilmunya belum sempurna.
Kembang juga senantiasa membuntuti Laki-laki yang menjadi Kekasihnya dan sering menampakkan diri di hadapannya dengan rambut panjang terurai menutupi wajahnya.
Awalnya tidak ada yang mengetahui bahwa Selaq yang sering menganggu dan menakuti warga adalah Kembang. Sampai akhirnya mereka menyelidikinya. Dan betapa terkejutnya mereka setelah mengetahui perihal ilmu warisan itu. Dimana Generasi seterusnya Kembanglah yang mewarisinya.
Angga menghela nafas, dia menatap Ega dan Beni secara bergantian. Angga sangat bersyukur anak dan Menantunya selamat dari serangan itu.
Tidak bisa dibayangkan jika Ega tewas dalam serangan itu dan Beni terjerat oleh pesona Kembang. Tentu, hanya doa yang mampu menyelamatkan Beni dari jeratan ilmu hitam itu. Untung saja, Menantunya itu Pria yang sulit ditaklukkan.
"Sebaiknya kalian beristirahat, bukankah besok pagi hendak kembali ke Mentaram." Angga mengakhiri cerita dan meminta anak dan Menantunya itu beristirahat.
***
"Inaaaaq, kenapa aku mewariskan ilmu Setan ini?" tanya Kembang marah. Saat ini dia merasa tubuhnya remuk terkena batang Pohon Kelor. Jika saja Teman masa kecilnya itu tak menghentikan Beni memukulnya dengan membabi buta, mungkin saja sekarang Kembang hanya tinggal nama.
"Inaq juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang lupakan Pria itu, Kembang. Dia bisa membahayakan kamu."
Selesai berucap Wanita Paruh Baya itu memeluk tubuh Putrinya yang lemah tak berdaya.
__ADS_1
Kembang hanya mengangguk lemah, dia baru mengetahui Wanita yang diserangnya adalah teman masa kecilnya. Dia tak mengenalinya sedangkan Ega tak pernah melupakannya.
Bersambung