Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Beni Berbeda


__ADS_3

“Kak Beniiiii,” teriak seorang Wanita menggema di sebuah bangunan kosong. Dia memendarkan pandangannya menyelidiki setiap sudut-sudut dari Bangunan tersebut. Keadaan di dalam sungguh gelap padahal masih sore hari. Minimnya pencahayaan menjadikan semua ruangan begitu gelap.


Wanita itu menggunakan Senter dari Handphone untuk menerangi jalannya. Dia nekat sendirian masuk menelusuri masing-masing ruangan untuk menemukan dimana keberadaan Suaminya.


Kosong, tidak ada tanda-tanda ada orang memasuki bangunan ini. Saat Wanita itu menelusuri ruang peruang, telinganya menangkap langkah kaki yang mendekatinya. Dia sudah bersiap-siap jika orang dibalik langkah kaki itu menyerangnya.


“Kamu sudah datang.”


Suara baritone itu mengangetkannya. Dia sangat mengenal suara itu, tidak lain adalah Beni Hardian Adha.


‘Kak Beni.”


Pria yang dipanggil Kak Beni itu tersenyum.


“Kak Beni tidak apa-apa, kan? Kak Beni tidak diapa-apakan sama Ivan, kan?” tanya Wanita itu bertubi-tubi yang tidak lain adalah Ega Fajrina.


Semalam Beni menghilang tanpa jejak. Tujuh sahabat berkiaran mencari keberadaan Beni. Dia menghilang setelah mendapatkan pesan dari Lexi Aditama dan sempat memberikan petunjuk kepada Evan.


Titik petunjuk itu berpusat di sebuah bangunan kosong. Selain itu Ega juga mendapatkan pesan dari Ivan agar menemuinya di alamat yang di kirimkannya. Ega harus mendatanginya sendirian jika ingin Pria bernama Beni itu selamat. Alamat yang dituju sama dengan titik terakhir Beni berada.


Sudah beberapa hari ini mereka melakukan penyelidikan. Mulai meminta informasi dari Mila, mantan Isteri Ivan. Wanita itu tidak mengetahui apapun yang terjadi. Dia bahkan tidak tahu menahu tentang paket Kamera pengintai itu. Setelah bercerai dari Ivan, dia tidak pernah berhubungan lagi. Dia menyadari kesalahannya sehingga meminta maaf kepada Ega yang kebetulan juga ikut saat itu.


Dari Mila dia mendapatkan informasi mengenai hubungan Anita dengan Lexi. Dia mengatakan hubungan itu hanya sebatas teman. Tapi Anita menganggapnya lebih. Dia ternyata diam-diam mencintai Lexi namun tak mendapatkan tanggapan darinya. Lexi menolak Anita dengan alasan dia bukan Laki-laki baik. Sudah sepantasnya Anita mendapatkan Laki-laki baik yang tulus mencintai Gadis itu.


Keterangan Mila sejalan dengan pengakuan Lexi Aditama. Dia memang menjalin hubungan dengan Mila dan juga Anita. Sedangkan hubungan dengan Mila, Pria itu hanya bermain-main saja. Mila membutuhkan pelampiasan hasratnya sedang Lexi masih hidup dalam kejahilyahan. Sementara Anita, dia Gadis baik-baik sehingga pantang bagi Lexi untuk menodai Gadis itu sehingga tidak sama sekali menyentuhnya.


“Sayang, aku rindu,” ucap Beni merentangkan tangannya hendak memeluk Isterinya. Dia melangkah mendekat.


Ega yang sangat khawatir dengan Suaminya, segera bergegas hendak menghamburkan diri dalam peluk hangat sang Suami. Saat dia mendekat, dia menyadari ada perbedaan dengan warna kulit Suaminya. Kulit Suaminya berwarna sangat putih sedangkan Pria di hadapannya sedikit gelap.


"Aneh," batin Ega. Dia memindai tubuh Beni yang terlihat berbeda.


"Kenapa Mas Ivan segampang ini melepaskan Kak Beni? apa sebenarnya tujuannya?" pertanyaan itu bermuculan dibenak Wanita itu.


Beni yang tersenyum manis dengan mata berbinar-binar tidak sabaran ingin meluapkan kelegaannya. Dia menatap wajah Isterinya yang terus bergerak menyongsongnya.


Ega berhenti sejenak, dia berpikir. Tidak mungkin warna kulit Suaminya berubah dalam semalam. Kaos yang dipergunakan pun berwarna merah, warna yang sangat dihindari oleh Beni. Bukan tak menyukai warna itu, hanya saja tidak mau sama dengan warna favorit Juna. Dia takut, mereka berdua bakalan susah dibedakan. Itu melupakan alasannya.


Dia tetap tersenyum sembari menatap lekat Suaminya. Ega menyadari sorot matanya berbeda. Seperti bukan mata milik Beni yang teduh.


“Pria ini bukan Suamiku,” batin Ega. Dia berusaha bersikap setenang mungkin meskipun hatinya diliputi rasa was-was dan khawatir. Instingnya mengatakan ini bukan Beni lantas dimana sebenarnya Suaminya itu. Lalu siapa Pria yang mirip dengan Beni Hardian. Apa yang sebenarnya ingin dimainkan oleh Pria yang ada di hadapannya.


Ega akan bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa dan menjalani apa yang diinginkan Pria itu. Dia akan mengikuti permainan yang sedang dijalankan oleh orang yang telah menyandera Suaminya. Wanita itu berkeyakinan sekarang Suaminya di jadikan tawanan dan orang lainlah yang menggantikan posisi Suaminya. Untuk apa? tujuannya apa? berbagai pertanyaan meliputi Otak, membuat Wanita itu dirundung gelisah dan kekhawatiran. Ia akan mencari tahu dengan berpura-pura tak mengetahui apapun.


Ega mendadak pusing, terlalu banyak teka teki yang terjadi. Mulai dari Lexi Aditama yang memiliki kembarannya, entah itu benar atau tidaknya. Sekarang giliran Beni yang terlihat berbeda.


Wanita itu semakin mendekat, dia mencium aroma tubuh yang sangat dikenalnya. Seperti dia terbiasa dengan wangi parfum ini tapi milik siapa?. Ega berusaha mengingat-ingat, tapi ingatannya seakan buyar. Parfum ini bukan milik Suaminya. Beni tidak pernah menggunakan parfum yang terlalu menusuk. Prianya itu lebih suka menggunakan parfum yang kalem. Ketika mendekat tercium aroma yang menenangkan hati dan sangat wangi yang tak berlebihan. Tentu hal itu membuat dirinya betah berlama-lama dalam pelukan hangat Suaminya.


Semakin dekat, dia teringat siapa yang suka menggunakan parfum yang tercium di hidungnya saat ini. Seketika dia terkejut sendiri, dia menatap lekat  bola mata itu. “Tidak mungkin Juna?”

__ADS_1


Ia Parfum itu milik Juna, dia sangat mengenal masing-masing Parfum yang digunakan tujuh sahabatnya. Aroma tubuh itu milik Juna. Warna kulit dan postur tubuhnya juga mirip dengan Juna. Juna sekarang tidak ada di Daerah ini. Dia sedang melakukan perjalanan bisnis di luar Daerah. Dia berpamitan untuk itu dan tidak ikut serta dalam penyelidikan selanjutnya.


“Tidak mungkin Abang Juna,” ucap Ega terkejut. Dia berusaha mendamaikan keterkejutannya. Dia tidak ingin Beni menyadari bahwa dirinya mencurigainya. Tentu sekarang dia harus berpikir, apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Suaminya. Untuk sementara waktu, dia berpura-pura tidak tahu bahwa Beni ini bukan Beni Suaminya.


“Ya Allah, dimana Suami hamba? Kenapa ada orang lain yang mirip dengan Kak Beni dan tujuannya untuk apa?” Ega membatin dengan doa-doa agar Suaminya tetap dalam penjagaan Tuhan dan agar segera membuka tabir kebenarannya.


“Kak Beni, kita pulang saja,” ucap Ega tersenyum manis. Dia tidak membalas pelukan Suaminya karena dia sadar Pria itu orang lain.


“Kamu tidak kangen, Dek?” tanya Beni kecewa.


"Dek?" Lagi-lagi Ega terkejut, Beni selama ini tidak pernah memanggilnya 'Dek'. Suaminya itu selalu memanggilnya dengan sebutan nama atau sesekali memanggil sayang. Kecurigaan semakin benar, dia bukan Beni lantas siapa?


“Kangen, tapi nanti saja di rumah. Tubuh Kak Beni perlu disegarkan dulu,” ucap Ega berpura-pura menutup hidungnya. Setelahnya memperdengarkan tawanya.


‘Saya bau ya?”


‘Iya, diapain saja sama Mas Ivan?” tanya Ega penasaran.


“Saya disekap terus entah kenapa dia membebaskan begitu saja setelah dia menghubungi kamu?” jawab Beni terkesan dibuat-buat.


‘Apa sih maunya Mas Ivan itu?” tanya Ega. Dia memperlihatkan raut ketidak sukaan dan kemarahan.


“Sepertinya dia ingin agar kita berpisah. Dia masih mencintai kamu,” sahut Beni meyakinkan.


“Benar, kah?” Mata Ega membola menatap Beni. Terlihat dia mengangguk, tidak ada kecemburuan yang dinampakkan oleh Beni. Biasanya, ketika dia menyebut Pria lain kecemburuan itu terlihat nyata dipelupuk matanya. Bukan hanya terlihat disana saja, Beni akan langsung menyerangnya dengan ciuman kasar untuk meluapkan kecemburuannya. Sedangkan sekarang tidak sama sekali. Dia terlihat tenang, seolah tak terjadi sesuatu dalam hatinya. Kecurigaannya semakin benar, kalau Beni di hadapannya bukanlah Beni yang sebenarnya tapi orang lain.


“Kita langsung pulang saja, takutnya nanti anak buah Ivan dan Lexi datang,” ucap Beni segera mengajak Ega berlalu.


Ega tidak sendiri melainkan bersama Evan, Rian dan Dipta yang selalu mengawasi dari kejauhan. Dia tidak membiarkan Ega sendirian menemui Ivan sesuai dengan permintaan itu.


Evan yang mendapatkan pesan, sedikit mengerutkan dahi. Dia tidak mengerti kenapa Ega memintanya mundur. Ingin bertanya lebih lanjut, tapi urung ketika melihat Ega dan Beni berjalan beriringan.


“Gaes, kita kembali ke markas. Mungkin nanti mereka akan menjelaskannya,” ucap Evan mengajak Dipta dan Rian meninggalkan tempat itu.


Sementara itu, Ega dan Beni sampai di tempat dia menaruh Motor. Dia menyerahkan kunci motor, seperti biasa dia berperan seperti Isteri seorang Beni.


Beberapa menit perjalanan, Ega telah sampai di rumah tempat tinggal setelah menikah. Dia melangkah bersama Beni di sampingnya. Memutar anak kunci lalu membuka Pintu dengan lebar kemudian mempersilahkan Beni untuk masuk.


“Kak Beni mandi dulu,” ucap Ega yang dianggukkan oleh Beni tanpa berbicara apapun.


“Sungguh aneh, biasanya Kak Beni akan menjahiliku terlebih dahulu bahkan mengajak aku mandi bersama meskipun sudah kulakukan,” batin Ega meneliti Pria yang ada di hadapannya.


“Siapa laki-laki ini, tidak mungkin Juna. Sementara Juna ada di luar Daerah?” Ega kembali menimpali perkataannya.


“Saya masuk dulu,” ucap Beni melangkah ke arah kamar seolah sudah hapal dengan setiap sudut ruangan ini.


Ega mengangguk, dia mengikuti langkah kaki Suaminya. Setelah sampai kamar, dia meraih handuk lalu menyerahkan kepadanya. Beni mengambil dengan memberikan senyum indah kepada Wanita itu.


“Setelah ini boleh ya?” ucap Beni berlalu menuju  kamar mandi.

__ADS_1


“Kak Beni jahil deh,” sahut Ega terkekeh.


Setelah Beni masuk ke kamar mandi dan beberapa menit kemudian terdengar suara air mengguyur tubuhnya. Ega lekas meraih Handphonennya kemudian menekan nomor Evan.


[Van, Beni sekarang yang bersamaku bukan Suamiku]


[Apaaa? Saya tidak mengerti, maksud kamu?] Terdengar kekagetan dari seberang.


[Iya Van, Beni yang ada di rumah ini bukan Kak Beni. Dia terlihat berbeda meskipun wajahnya sama. Saya tidak mungkin tidak mengenali Suami saya sendiri. Setiap hari saya bersamanya bahkan tahu luar dalamnya Kak Beni]


[Membingungkan, lalu siapa Beni yang sekarang bersama kamu? Terus dimana Beni asli? Lexi palsu saja belum kita ketahui siapa, sekarang ada  Beni palsu. Kepalaku benar-benar pusing]


Terdengar keluh kesah yang dilontarkan oleh Evan. Ega mengerutkan dahinya lebih pusing yang dirasakan Evan. Dia harus bersama orang asing di kamar pribadinya. Tentu dia harus bertindak agar tidak terjadi apa-apa.


[Van, minta tolong selidiki rumah kosong itu. Tadi sebelum keluar, saya mendengar bunyi sesuatu. Seperti petunjuk, mungkin saja Kak Beni masih di sekap disana]


[Baik, kamu hati-hati jangan sampai Beni palsu itu menyadari kalau kamu mengetahui rahasianya]


[Iya]


Ega mengakhiri panggilan. Dia menaruh Handphone di saku Gamis dan segera menghampiri kamarnya.


Ceklek


Terdengar suara Pintu dibuka, Beni keluar dari kamar mandi dengan hanya handuk melilit Pingggannya. Ega melihat tubuh itu yang berotot dengan garis perut yang membentuk kotak-kotak. Beni juga memiliki tubuh itu tapi tidak sebesar tubuh yang terlihat di hadapannya. Beni cenderung lebih ramping dan indah.


‘Kamu terpesona ya?” ucap Beni dengan membentuk senyum nakalnya.


“Kak Beni ini, sudah tahu kenapa bertanya lagi,” sahut Ega berpura-pura tersenyum.


“Enggak sabaran jadinya, boleh dong” Beni menggoda dengan menelan cairan yang membasahi kerongkongannya. Terlihat hasrat yang tersembunyi di pelupuk mata itu.


Ega berpura-pura tak mengerti padahal sejatinya dia sangat ketakutan. Jika itu Suaminya, dengan senang hati dia akan menghamburkan diri dalam hangat pelukan itu lalu melayaninya dengan tulus.


Ini tidak tahu siapa, tentu saja bukan orang yang halal untuk menerima belaiannya.


“Kak Beni lupa, kalau saya lagi halangan," sahut Ega berbohong. Dia memamerkan senyum indahnya membuat Beni terpukau sesaat.


“Sudah ah, aku masak dulu,” ucap Ega melanjutkan sebelum Beni berkata apa-apa. Terlihat kekecewaan melebur menjadi satu dengan hasrat yang tidak mampu dibendungnya.


“Kak Beni akan melakukannya dengan berpuasa jika ingin disaat aku sedang berhalangan. Masak lupa, sih? Suamiku tidak akan pernah kecewa karena dia tahu itu merupakan kodrat Wanita,” ucap Ega datar sebelum benar-benar meninggalkan kamarnya.


Beni tidak menjawab, dia lebih memilih menghela nafas untuk menekan gejolak hasrat yang sudah berada di ubun-ubunnya.


Ega berlalu meninggalkan Beni yang masih menyembunyikan kekesalan.


“Sial.”


Ega mendengarkan umpatan itu dibalik Pintu. Beni tidak pernah mengumpat sekasar itu. Semakin jelas, orang yang bersamanya bukanlah Beni. Ega menitikan air mata, rasa khawatir itu menguasai pikirannya. Dia merasakan sesak yang tak berkesudahan. Hanya doa yang mampu dipanjatkan agar Tuhan memberikan petunjuk siapa Pria bersamanya dan dimana sekarang Suaminya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2