Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Misteri Kembang Desa.


__ADS_3

“Kembang.” Tanpa sengaja Ega lirih berucap.


Beni yang terheran dengan Kucing yang tiba-tiba terlepas. Dan keheranannya tak berhenti begitu saja, tatkala pendengaran menangkap Ega menyebut sebuah nama dengan suara lirih.


“Kembang? Apa maksudnya?” pada akhirnya bertanya melihat perubahan raut Isterinya. Ega menatap Beni dengan setenang mungkin. Namun dibalik ketenangan itu menyiratkan rahasia yang berusaha disembunyikan pada kedua mata itu. Ega lebih memilih menggelengkan Kepala tak ingin menjawab.


“Tidak ada maksud apa-apa, Kak Beni salah dengar mungkin. Kita masuk yok! Tadi aku telepon tapi kok malah di reject, ada apa sih? Apa perjalanannya aman?” Ega memilih mengalihkan jawaban dengan memberondong Beni dengan banyak pertanyaan.


“Kamu tuh ya, mulai dah bawelnya,” sahut Beni sembari menjawir hidung Ega.


Di dalam hati, sebenarnya dia diburu rasa ingin tahu tapi melihat Ega yang enggan berucap, akhirnya rasa ingin tahu itu diabaikan. Dia tak ingin merusak momen romantis yang kini sedang mereka rajut, dengan hal-hal yang tak penting. Beni memilih untuk menjawab dan menceritakan keanehan yang baru saja dialaminya.


Ega menatap wajah Beni dengan raut sulit dimengerti, dia mendekat lalu menenggelamkan diri dalam pelukan Prianya. Beni tak mengerti dengan tingkah Isterinya kali ini. Ada rasa takut yang berhasil ditangkap pada kedua mata itu. Dia tersenyum sembari memperelat pelukan tak menolak.


“Alhamdulillah, Tuhan masih melindungi Kak Beni.” Kalimat itu terucap dari balik punggung. Beni tak mengerti apa yang sedang terjadi sebenarnya. Mengapa Ega mendadak panik dan ketakutan tergambar jelas disana. Dia merasakan ada yang janggal dibalik sikap Ega yang berlebihan. Mungkin perasaan saja, sehingga memilih diam sembari mengelus punggung Isterinya untuk memberikan rasa nyaman.


“Ada apa?” pada akhirnya bertanya jua, karena merasakan tangan lembut itu semakin erat memeluknya. Beni sangat menyukai itu, tapi dia sadar Ega sebenarnya sedang meluapkan apa yang sedang dirasakan kini.


“Aku hanya takut, Kak Beni tak ingat lagi denganku.” Ega berucap lirih terdengar bergetar. Saat ini dia menatap wajah Suaminya dengan lekat seolah tak ingin kehilangan wajah teduh itu walaupun sedetikpun.


“Itu tidak akan terjadi, percayalah,” sahut Beni tulus sembari menangkup kedua Pipi Ega membentuk bingkai yang indah.


Ega tersenyum, dia kembali memeluk tubuh tinggi tegap untuk mencari kehangatan dan rasa nyaman.


“Kita main yok?” ucap Beni tersenyum nakal. selepas mereka menikmati keheningan yang cukup lama.


“Main apa, Kak?”


“ Sudah menjadi Isteri, kok malah belum faham,” jawab Beni gemas. Ega menanggapi dengan menunduk malu. Tentu tingkahnya itu membuat Beni kian terpikat.


“Mau?”


Ega mengangguk tak menolak. Melihat itu dengan cepat Beni membawa Ega ke Kamar mereka untuk berbagi kehangatan dan memadu cinta.


***


Beberapa jam berlalu, Beni tak perdaya oleh kenikmatan yang baru saja mereka raih bersama. Dia mengelus pucuk Kepala Ega kemudian mencium keningnya.


“Terima kasih sayang, aku puas,” ucap Beni hangat, dia melihat Ega tersenyum manis sembari menganggukkan Kepalanya.


Di luaran terdengar lolongan Snoopy dan binatan lainnya. Suaranya terdengar mengerikan membuat bulu kuduk berdiri, merinding!


“Sayang, dari tadi suara gonggongan Snoopy tak henti-hentinya, apa kamu dengar?” tanya Beni tak lepas dari wajah Ega. Dia mengelus rambut panjangnya.


“Iya, aku mendengarnya tapi karena kita terlalu asyik jadi suara itu seperti tak terdengar saja,” sahut Ega datar sejurus kemudian menampakkan rona di wajahnya.


“Iya, suara diluaran sana kalah bersaing dengan ******* kamu.” Beni berucap jahil, dia mempermainkan Pipi mulus berwarna cokelat itu. Matanya tak beranjak dari wajah Ega yang menurutnya sangat eksotis.


“Aku malu.”


“Aku malah suka, itu artinya kamu sangat menikmatinya dan ada kepuasan yang kamu rasakan saat kita mencapai puncak itu. Kita berdua harus merasakan yang sama, yaitu sama-sama puas. Ini penting dalam hubungan kita.” Beni berucap panjang lebar menanggapi rasa malu yang ditunjukkan oleh Isterinya itu.


Dia mengerti, bahwasannya salah satu penyebab perselingkuhan itu terjadi karena ketidak puasaan yang dirasakan oleh salah satu pasangan Suami Isteri, sehingga mencari kepuasaan di luaran sana. Meskipun harus melakukan hal hina, tak di hiraukan asalkan hasrat itu terpuaskan. Sejenak, Ega mengucapkan doa perlindungan agar dijauhkan dan dihindarkan dari perbuatan buruk dan maksiat.


“Apa karena tidak puas? Seorang oknum memilih selingkuh dan melakukan perbuatan yang dilarang agama?” tanya Ega kemudian.

__ADS_1


“Penyebab terbesar, iya itu?” jawab Beni singkat tak menjelaskan.


Dia bangun dari rebahannya kemudian mengambil boxer dan Kaos yang berceceran di sampingnya. Beni memakainya karena rasa tak nyaman jika tidur dalam keadaan telanjang bulat meskipun selimut menutupi seluruh tubuhnya. Ega juga melakukan hal sama, dia memungut pakaian dalam dan Daster, kemudian dengan cepat menggunakannya. Di luaran saja masih saja terdengar lolongan Snoopy, yang kian detiknya terdengar mengerikan.


“Krek, krek, krek.”


Sayup-sayup terdengar suara orang mencakar dari balik dinding yang terbuat dari kayu. Ega berusaha bersikap setenang mungkin, dia seakan merasakan ada makhluk lain di luaran saja.


Krek, krek, krek


Suara itu makin jelas terdengar dan angin semakin kencang berhembus menciptakan suhu yang semakin dingin. Kini suara itu beralih ke atap rumah, seakan ingin mengangkat atap yang terbuat dari Ilalang lalu menghempaskan ke segala arah.


Beni menatap Ega dengan penuh tanda tanya, dia melihat raut itu yang berusaha setenang mungkin namun di pelupuk matanya tersimpan ketakutan yang berusaha di tekan.


“Apa Kak Beni akan selingkuh jika tak puas dengan pelayananku?” tanya Ega mengalihkan perhatian dari ketakutan yang sedang melandanya.


“Tidak, hanya orang yang diperbudak oleh nafsu yang tak puas dengan pasangannya. Jika tujuannya untuk ibadah, maka kekurangan pasangannya tak akan mengganggu keharmonisan dalam rumah tangga. Aku rasa, tak ada orang yang tak puas, hanya nafsu yang di dalamnya disusupi Setan membuat seseorang merasa tak puas.” Beni menjawab dengan jelas. Dia seakan menegaskan kesetiaannya kepada Sang Isteri, hanya cukup satu Isteri saja.


Krek, krek, krek


Kini suara itu beralih ke Jendela, Jendela itu seakan berusaha untuk di buka paksa.


Brak


Wuuuuuz


Angin berhembus dari luar, setelah jendela berhasil terbuka, entah kekuatan apa membuat Jendela itu tak berdaya.


“Astaghfirullah.”


Tiba-tiba dari balik Jendela muncul sesosok Perempuan berambut panjang menghampiri Beni dan Ega. Beni tentu saja terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Belum saja hilang dari keterkejutan, Sosok itu meraih tubuh Beni lalu menghempaskannya di Lantai membuat Pria itu terbelanting.


Brak


Beni mengaduh kesakitan, dan berusaha untuk bangkit karena melihat Sosok Perempuan itu kini menghampiri Ega yang berdiri dengan tubuh gemetaran. Ega sangat syock dengan apa yang tengah di hadapinya sekarang, dia tidak menyangka mendapatkan serangan dari makhluk itu.


"Egaaaaaa."


“Kak Beni, cari batang Kelor,” teriak Ega dengan suara gemetar.


Makhluk itu semakin mendekat dengan mengulurkan tangannya, kuku panjang terlihat jelas pada jari-jarinya. Ega segera memutar Kunci lalu Membuka Pintu, Dia menutupnya, namu sial dia lupa mengambil kunci untuk mengunci pintu itu dari luar.


Ega segera berlari ke arah luar, tujuannya sekarang mencari batang kelor sebagai senjata untuk melawan Sosok Perempuan itu. Baru saja dia mencapai halaman depan rumah, Sosok itu berhasil meraih tubuh Ega lalu mengempas tubuh itu. Ega terpelanting menyentuh tanah dan bebatuan yang ada di rumah. Dia mengaduh kesakitan merasakan tulang-tulangnya remuk saking kerasnya makhluk itu melemparkannya.


Dia berusaha menghindar, dengan doa yang tak putus-putus terucap. Ega menyeret tubuhnya menuju batang pohon Kelor yang tumbuh di pojok halaman rumah. Dia baru saja mencapai batang pohon itu, lagi-lagi Sosok itu menggagalkannya. Ega sekali lagi mengaduh, dia hanya mampu menyebut nama Tuhan dan tak putus berdoa memohon perlindunganNYA. Ayat Kursi dan ayat-ayat lainnya tetap saja terucap, berharap Tuhan menolong dan melindunginya.


Ega berusaha bangkit, dia kembali menyeret tubuhnya, namun lagi-lagi gagal. Kali ini Sosok Perempuan itu mencekik Ega membuatnya kesulitan bernafas, dia terbatuk-batuk untuk memastikan bahwa dia masih  bernyawa.


Beni melihat Ega dalam bahaya, dengan tertatih dia berusaha menyelamatkan Isterinya. Sosok Perempuan itu melepaskan cekikannya, dia menyerang Beni dengan membabi buta. Beni berusaha melawannya, karena yang di hadapinya merupakan makhluk yang bersekutu dengan Jin tentu saja ketangkasan Beni tak membuahkan hasil.


Sosok itu berhasil melumpuhkan Beni dan menghempaskannya. Beni kembali menyentuh tanah dengan rasa kesakitan setelah beberapa kali terbanting.


Sementara Ega, dia merasakan tubuhnya remuk sehingga tidak mampu menggerakkan diri. Dia berusaha menggapai Batang Kelor, baru saja tergapai, Sosok itu terlebih dahulu mencekik.

__ADS_1


Uhuk uhuk uhuk


Ega hanya bisa terbatuk, melihat itu Beni mengucapkan doa dan berusaha bangun dari ketidak berdayaannya. Dia ingat apa yang diucapkan Ega, untuk menggunakan Batang Kelor sebagai senjata melawan Makhluk Jadi-jadian itu. Dengan sisa kekuatannya, dia bangkit lalu bergerak cepat mendekati pohon kelor, mengambil batangnya. Dengan mengucapkan basmalah, membaca ayat kursi dan ayat-ayat lainnya untuk mengharapkan pertolongan dari Tuhan. Dengan secepat kilat, Beni mengarahkan batang kelor itu menuju tubuh Sosok Perempuan itu.


Sosok itu melepaskan tangannya pada leher Ega. Ega kembali memperdengarkan suara batuknya sembari memegang lehernya yang terasa sangat sakit. Dia menghela nafas panjang beberapa kali untuk menormalkan kembali pernafasaan setelah dia hampir saja tak bernafas lagi.


Beni kembali mengayunkan batang kelor itu untuk ketiga kalinya, baru saja mengudara. Dengan cepat Ega menghalaunya dan menghentikan apa yang dilakukan Beni.


“Berhenti, Kak Beni bisa membunuhnya,” teriak Ega menghentikan batang pohon itu mendarat pada tubuh Sosok Perempuan.


Batang pohon itu mengambang di udara, Beni mengernyitkan dahi tak mengerti. Kesempatan itu di manfaatkan oleh Sosok Perempuan itu untuk menyelamatkan diri. Dia melesat meninggalkan tempat itu lalu hilang dikegelapan malam.


Beni hendak mengejar Sosok Perempuan itu, namun Ega menahan langkahnya dengan menggelengkan Kepala.


“Astaghfirullah.”


Beni segera meraih tubuh Ega lalu membawa ke dalam rumah dengan menahan rasa remuk di sekujur tubuhnya. Beni merasakan tubuhnya remuk setelah beberapa kali terpelanting dan wajahnya terasa nyeri karena mendapatkan cakaran dari Sosok Perempuan itu.


Saat Beni sampai di dalam rumah, dia memilih merebahkan tubuh Ega di Sofa.


“Mana yang sakit? Maaf untuk kedua kalinya aku gagal melindungi kamu,” ucap Beni lirih merasa bersalah.


“Tidak apa-apa, Kak. Jangan berbicara seperti itu, Kak Beni tidak gagal, malah Kak Beni berhasil atas kehendak Allah, Tuhan yang Maha Penolong.” Ega menenangkan kegelisahan yang nampak jelas di wajah Beni. Dia tersenyum hangat menebarkan rasa tenang untuk Suaminya.


Beni meraih tubuh itu lalu menempatkan dalam pelukannya, dia mengelus lembut punggung itu.


“Aku tak faham, apa yang terjadi sebenarnya? jika dia Jin, dengan membaca ayat kursi saja maka dia akan kepanasan lalu pergi,” ucap Beni bingung.


“Dia Manusia, mungkin saja dia merasakan tubuhnya panas karena kita membaca doa. Tapi kekuatannya sangat luar biasa sehingga dia bisa menahannya.” Ega menjawab kebingunan Suaminya. Dia seakan menyingkap sedikit rahasia tentang Sosok Perempuan yang menyerangnya.


“Manusia? Kenapa dia menyerang kita?”


“Dia menginginkan Kak Beni, dan berusaha untuk mencelakanku. Jika dia berhasil melenyapkan Wanita yang dicintai seorang Beni, tentu itu menguntungkan dia dan dengan mudah untuk menaklukkan Kak Beni. Tanpa Kak Beni sadari, Sosok Perempuan itu berusaha memikat Kak Beni. Untung saja Kak Beni lekas tersadar, kalau tidak maka Kak Beni berhasil di kendalikannya. Bahkan akan menikahinya tanpa penolakan.” Ega kembali menjelaskan panjang lebar,  apa yang diinginkan Sosok Perempuan yang menyerang dan berusaha untuk mencelakakannya.


“Astaghfirullah.”


Beni beristighfar, dia tak menyangka semua ini terjadi kepada mereka. Ada dua ancaman yang sedang merongrong rumah tangganya. Ancaman pertama belum berhasil terungkap dan sekarang ancaman kedua penuh dengan Misteri. Remuk badannya tak sesakit remuk Kepalanya memikirkan semua ini.


“Kamu tahu siapa dia?”


Ega mengangguk namun enggan menjawab siapa Sosok itu.


“Sebaiknya kita istirahat, biar Mamiq yang menjelaskannya. Esok kita akan pulang saja, disini tidak aman,” ucap Ega datar.


Beni tak memaksa, dia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya. Dia memeriksa Jendela yang tak bisa lagi tertutup rapat. Di luar terlihat hutan belukar yang rimbun dengan pepohonan. Keadaan hening dan sepi, hanya suara binatang yang meramaikan sunyinya malam ini.


Beni menghela nafasnya, berusaha menghilangkan kegelisahan dan kekalutan pikiran yang tak berujung lega. Kejadian tadi membuatnya harus meningkatkan kewaspadaan. Bisa saja, Sosok Perempuan itu menyerangnya kembali disaat mereka lengah.


Dia mengambil kasur, membawanya di ruang tamu. Mereka memutuskan untuk merebahkan raga di ruang tamu mengingat kamar yang mereka tempati tak memungkinkan untuk mengamankan mereka. Jendelanya dalam keadaan rusak, tentu hal itu membahayakan bagi mereka.


Beni mengunci Kamar dari luar, agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan mereka.


Setelah Kasur tergelar, dia memindahkan tubuh Ega yang semula tidur di Sofa. Kemudian merebahkan raganya di samping Ega dengan memeluk tubuh itu agar tak lepas dari jangkauannya. Dia memejamkan mata karena rasa letih dan remuk disekujur tubuhnya membuat Beni ingin terlelap.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2