Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 23. Bidadari di Lampu Merah


__ADS_3

Pagi ini Ega dan Saik Aminah sibuk menata Nasi yang sudah di bungkus menggunakan Daun Pisang. Ega menatanya di sebuah Keranjang yang biasa digunakan untuk menyimpan Kue.


Sudah menjadi kegiatan Ega, setiap tanggal 19 bulan selanjutnya akan membagi-bagikan Nasi Daun sebanyak dua ratus lima puluh bungkus yang akan di bagi-bagikan kepada setiap Pedagang Asongan, Pengamen dan Peminta yang ada di setiap Lampu Merah. Ega selalu mengalokasikan sebagian Gajinya setiap bulan untuk memesan Nasi Daun kepada Warung Nasi yang Pemiliknya merupakan tetangganya dengan harapan agar mereka mendapatkan penghasilan tambahan dari pesanannya setiap bulan.


Setelah Nasinya siap, dengan mengendarai Motor Matic Ega akan berkeliling sekitaran Kota Mentaram dan mampir di setiap lampu merah untuk membagikan makanan bagi mereka yang belum sarapan terkhusus bagi mereka yang kurang mampu. Aksi bagi-bagi Nasi Daun dibantu oleh Saik Aminah terkadang Nina juga ikut membantu dan sekarang ada Beni yang ikut serta juga membantu dan memberikan tambahan anggarannya sehingga bisa menyediakan Nasi Daun yang lebih banyak lagi.


Baru saja keluar rumah, Ega bertemu dengan Beni yang hendak menemuinya di rumah.


" Kak Beni? Kok sudah ada saja di sini, memangnya tidak kerja?" Tanya Ega begitu lihat Beni sudah menampakkan diri bersama Motor Maticnya.


"Kak Beni kerja, tapi sebelum berangkat mau bantuin kamu bagi-bagi Nasi Daun, apa boleh?" jawab Beni bersemangat.


"Kak Beni tidak takut di tegur?" tanya Ega lagi.


"Tenang saja, kantornya sudah Kak Beni kuasai, jadi mereka tunduk sama Kakak tampanmu ini," Sahut Beni menyanjung dirinya sendiri. Dia memamerkan senyum indahnya dengan mata berbinar-binar penuh semangat.


“Ih Kak Beni kok menyanjung dirinya sendiri sih?" komentar Ega geli. Dia sudah hafal bagaimana kelakuan Sahabatnya itu jika hanya mereka berdua saja. Beni mendadak menjadi apa adanya jika diantara mereka tidak ada orang lain.


“Menunggu orang untuk menyanjung Kakak mah capek! mendingan nyanjung diri sendiri aja deh kan enggak bayar juga toh." Beni bergurau sejurus kemudian memperdengarkan tawa kecilnya.


“Idih ternyata Kak Beni dahaga akan pujian," ucap Ega tersenyum.


“ Enggak juga sih," guman Beni kikuk. Terlihat sekali Pemuda itu salah tingkah jika berhadapan dengan Sahabatnya yang satu ini.


"Oh ya Kamu sendiri, kok masih asyik bagi-bagi nasi, memangnya tidak kerja?" Tanya Beni mengalihkan pembicaraan.


"Saya sudah izin telat Kak Beni, eh kok malah ngobrol, ayok berangkat. Kita bagi tugas saja, kak Beni ke arah Timur, saya yang ke Barat," ucap Ega membagi tugas.


"Wokeh," sahut Beni bersemangat.


Ega kemudian membagi Nasi Daun menjadi dua bagian. Beni mengambil keranjang yang berisi Nasi Daun yang disodorkan Ega.


Mereka berdua beriringan keluar dari lingkungan perumahan Ega menuju ke arah jalan raya. Ega mengarahkan Motornya ke arah Barat sedangkan Beni mengarahkan Motornya ke arah Timur.


Disepanjang perjalanan Ega berhenti untuk memberikan Nasi Daun yang dibawanya kepada Pedagang Asongan, Petugas kebersihan yang menyapu jalan raya dan juga orang-orang kurang mampu yang membutuhkan Sarapan.


Para Pedagang ataupun Petugas kebersihan jalan raya sangat mengenal Ega. Setiap tanggal 19 mereka akan berkumpul untuk menunggu kedatangan Ega ataupun utusan Ega jika saja pada tanggal itu Ega tidak sempat membagikan sendiri Nasi Daunnya karena kesibukannya bekerja. Bagi mereka, Ega adalah Gadis yang baik dan


selalu meluangkan waktunya sekedar bercengkerama dengan mereka ketika ada waktu luang. Terkadang Ega tidak segan membantu mereka jika membutuhkan bantuannya.


"Mbak Ega, apa khabar? Kok sendirian?" Tanya Ibu Siti Pedagang asongan yang suka mangkal di APILL Jalan Majapahit.


"Alhamdulillah baik-baik saja, Iya nih pada sibuk semua, hari ini kan hari kerja, mereka pada kerja semua," jawab Ega sembari memamerkan senyum indahnya.


"Terus pacarnya Mbak Ega yang biasa menemani itu mana? Tumben tidak ikut?" tanyanya lagi.


"Pacar? Saya tidak punya pacar Bu," jawab Ega bingung. Dia memang tidak memiliki pacar hanya ada Sahabatnya yang selalu setia menemaninya. Sementara Pemuda yang bernama San itu bukanlah seorang Kekasih melainkan Sahabat yang mengikatnya dengan harapan untuk hidup bersama dalam ikatan halal.


"Saya pikir cowok cakep yang berkulit putih itu pacarnya Mbak Ega. Serasi lo Mbak, Ibu lihat cowok itu orangnya baik dan peduli sama kita-kita yang kecil gini. Dia tidak risih bercengkerama dengan kita padahal kalau Ibu lihat sepertinya dia orang berada lo mbak," sahut Ibu Siti menilai kepribadian Cowok yang dimaksudnya.


"Saya berteman saja Bu, namanya Beni, sekarang Beni membantu saya membagikan Nasi Daun ke arah Timur," jawab Ega memberitahu.


"Oo gitu, padahal Ibu berharap kalian berjodoh. Kalian serasi banget sama-sama memiliki kepedulian kepada orang lain," lanjut Ibu Siti berharap penuh agar Ega dan Beni berjodoh. Dalam hati Ibu Siti mendoakan agar Ega dan Beni benar-benar berjodoh. Meskipun bukan anggota keluarganya, kenapa ia sangat bahagia melihat sepasang Sahabat yang nampak serasi dan saling melengkapi satu sama lain. Ega dan Beni merupakan pasangan yang cocok menurut mereka. Keduanya sangat bersahaja dan siap mengabdikan hidup untuk mereka yang tak mampu. Tak ada yang tahu jika Ega dan Beni meluangkan waktu mereka untuk berbagi ilmu. Mereka mengajar mengaji untuk anak-anak jalanan dan mengajar membaca untuk Ibu-ibu Pedagang kecil agar tak buta aksara. Mereka juga berbagi tips Marketing. Beni yang merupakan Manager Pemasaran, tidak pelit berbagi ilmu tentang ilmu marketing. Sedangkan Ega membagikan ilmu tentang ilmu Akuntansi. Ini penting bagi Pedagang, dari catatan itulah kita akan tahu perkembangan usaha kita sendiri.


Ega hanya tersenyum menanggapinya. Mana mungkin dia ada rasa dengan Beni karena Ega telah menganggap Beni adalah Sahabatnya. Lagipula juga Nina jatuh hati sama Beni, Nina lebih tepat bersama Beni daripada dirinya yang biasa-biasa saja tidak secantik Nina. Mustahillah Beni akan melirik dia karena perbedaannya terbentang nyata begitu luasnya. Dia hanya gadis buluk yang tak memiliki daya pikat untuk memenangkan hati seorang Beni. Hatinya sudah terlanjur terkunci untuk Pemuda yang sepadan dengannya.


Ega mengakhiri pembicaraannya dengan Ibu Siti karena dia harus kembali lagi ke rumah untuk mengganti pakaian kerjanya setelah dia menyelesaikan kegiatannya pagi ini.


*******


Sementara itu Beni sudah menyelesaikan tugasnya. Beni melanjutkan perjalanannya menuju Kantor.


Selang beberapa menit Beni sudah sampai Kantor dan di sambut oleh anak buahnya untuk menangkap buah tangan yang selalu di bawa oleh Beni yaitu Nasi Daun untuk sarapan mereka.


Seperti hal yang sama dilakukan oleh Ega, Beni akan meminta pada Ega agar melainkan beberapa bungkus Nasi Daun untuk diberikan kepada rekan-rekan kerjanya di Kantor.


"Pagi Pak Beni, hari ini ada Nasi Daun, kan?" Sapa Anton yang merupakan anak buahnya sekaligus sahabatnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, Kok lupa salamnya? Malah Nasi yang di tanya?" sahut Beni datar.


"Astaghfirullah lupa saya nih, Wa'alaikumussalam Pak Beni," ucap Anton mengulang sambil membalas salam.


"Nah gitu, baru adem dengernya, ini bagikan sama teman-teman," ujar Beni sambil memberikan keranjang berbahan Ketak berisi Nasi Daun.


Anton menerima dengan raut bahagia, dia segera berjalan ke arah rekan-rekannya kemudian membagikan Nasi daun yang diberikan oleh Beni.


Sedangkan Beni masuk ke ruang kerja dan duduk di kursi kebesarannya. Terdengar lantunan Basmalah untuk memulai hari.


Beni sibuk bekerja namun sekelabat dia mengingat sesuatu yang membuat Beni menghentikan pekerjaannya.


"Aku yakin Gadis itu adalah orang yang sama dengan seorang Remaja SMA yang menolongku. Sepertinya aku harus menyelidikinya, karena menurut keterangan Perawat yang membantu penanganan waktu itu namanya sama dengan nama Gadis itu, iya walaupun di Lomboq ini banyak yang bernama sama akan tetapi kenapa aku yakin banget kalau dia adalah Gadis itu." Kata Beni bermonolog. Dia menatap langit-langit ruangnya mencoba menggambarkan sketsa wajah dari Gadis remaja yang pernah menolongnya. Kenapa dalam sketsanya tergambar wajah seorang Gadis yang sangat dekat dengannya, sangatlah dekat. MAMSA, itulah yang tergambar dalam benaknya.


"Gadis pasti ada hubungannya dengan Nina yang mengaku bahwa dirinya yang menolong saya. Nina pasti mencuri cerita dari Gadis dan seolah-olah dia yang melakukan itu. Saya memang harus membuktikan kalau


Nina berbohong," lanjutnya.


Beni mengingat membicaraannya dengan Abinya setelah dia kembali dari mengantar Nina pulang.


"Beni, duduk sini," suruh Banu Hardian ketika melihat Beni hendak menuju kamarnya karena malan ini Beni akan menginap.


Beni mengikuti perintah Abi nya.


“Ada apa ya Abi? tumben terlihat serius?” tanya Beni begitu duduk di Sofa yang ada di ruang keluarganya.


Terlihat Banu Hardian nampak berpikir menimbang apakah perlu membicarakan kelakuan Nina kepada Beni tapi menurutnya ini sangat serius karena menyangkut hati dan masa depan Beni. Banu tidak ingin anak satu-satunya mendapatkan pesangan yang tidak baik seperti Nina.


“Ben, apa hubunganmu dengan Nina? Apa Dia pacar kamu?" tanya Banu to the point.


“Enggak, Abi. Nina itu Sahabat saya, memangnya ada apa, Abi?" jawab Beni penasaran. Dia juga bertanya kenapa Banu Hardian terlihat begitu serius. Dia juga heran tumben-tumbennya Abi bertanya masalah pribadinya, biasanya cuek-cuek saja. Keheranan itu hinggap di Kepala Beni, dia menatap wajah Banu Hardian yang nampak serius berpikir.


Banu terlihat ragu untuk memceritakan kelakuan Nina saat mencoba menggodanya tadi.


“Ada apa Abi?”


“Astaghfirullah, masak Nina berani menggoda Abi?" Tanya Beni kaget. Dia tidak menyangka Nina senekat itu menghampiri Banu Hardian lalu menggodanya.


“Iya, Abi tidak bohong karena itulah Abi menceritakan masalah ini sama Beni agar tidak mendengarkan cerita dari orang lain," sahut Banu menjelaskan.


“Pantesan Nina langsung minta dianter pulang, jadi seperti itu kelakuan Nina sebenarnya?" guman Beni lebih tepatnya bertanya karena selama berteman dengan Nina tidak terlihat kalau Nina seperti Gadis Penggoda malah terlihat kalem, alim dan elegan.


“Kok kamu tidak tahu kelakuan Sahabatmu sendiri, apa kamu tidak dekat sama Nina?" tanya Banu heran. Mana mungkin anaknya itu tidak tahu menahu mengenai Sahabatnya sendiri.


“Deket sih tapi selama ini Beni tidak curiga dengan Nina, Nina terlihat biasa-biasa saja dan nampak manis jika kita kumpulnya. Dia tidak pernah memperlihatkan sesuatu yang aneh," sahut Beni heran.


“Terus kenapa kamu ngajak Nina makan malam? Abi pikir kamu sudah jadian sama Nina karena tumben kamu mengajak cewek ke rumah ini," tanya Banu penasaran.


“Umi yang minta, Umi ingin berkenalan sama orang yang pernah menolong Beni waktu kecelakaan dulu. Abi ingat enggak waktu Beni kecelakaan saat merayakan kelulusan terus ada seorang Gadis Remaja yang menolong dan mendonorkan darahnya untuk Beni, nah Gadis itu adalah Nina," cerita Beni mencoba untuk mengingatkan Abinya.


Banu Hardian nampak berpikir dan mencoba mengingat sesuatu dengan kejadian beberapa tahun yang lalu dan kejadiannya lumayan lama kenapa juga Beni masih mengingatnya.


“Seingat Abi Gadis itu berkulit Sawo Matang dan menggunakan jilbab bukan Nina orangnya. Abi sangat ingat wajahnya tapi Abi lupa menanyakan namanya," jawab Banu Hardian begitu mengingat kejadian itu. Dia sangat yakin Gadis itu bukan Nina tapi orang lain yang mungkin saja berhubungan dengan Nina.


Beni tampak bingung, kenapa Nina mengarang cerita kalau dirinya yang menolongnya, siapa sebenarnya yang menolongnya?


“Sepertinya ada yang tidak beres dengan Nina, mungkin Nina tahu kejadian yang sebenarnya dan dia juga tahu siapa sebenarnya yang menolong saya." Beni membatin dan menduga-duga. Setidak ada harapan dia bertemu dengan Gadis dari kebohongan yang dilakukan Nina dengan mengambil cerita dari Gadis itu.


“Ben, kenapa malah bengong? Abi yakin banget kalau Nina itu bukan orangnya." Banu mengulang pernyataannya.


“Iya Bi, Beni percaya tapi kenapa Nina mengaku kalau dirinya yang menolong Beni apa tujuannya?" tanya Beni bingung.


“Sepertinya Nina suka sama kamu dan Abi rasa Nina tahu siapa Gadis yang menolong kamu makanya dia memanfaatkan cerita itu untuk mendekati kamu. Abi rasa Gadis yang menolong kamu itu sangat dekat dengan Nina, mungkin saja Gadis itu menceritakan kejadian itu kepada Nina," terang Banu mencoba untuk memberikan gambaran mungkin saja disana ada petunjuk.


“Bisa jadi seperti itu Abi, karena tiba-tiba saja Nina mengaku kalau dia suka sama Beni bersamaan dengan pengakuan ia yang menolong Beni. Beni akan mencari tahu karena bisa jadi Gadis itu adalah Sahabat Beni yang selama ini sangat dekat dengan Beni selain Nina," sambut Beni sumringah karena ada titik terang yang akan menemukan Gadis yang selama ini dicari. Dalam benaknya siluet wajah itu muncul dan dalam pikirannya hanya ada satu nama yaitu Mamsa.


Langkah pertama yang harus dilakukannya adalah bertanya sama Ega karena Ega satu-satunya Sahabat dekat Nina. Ega adalah kunci yang akan menghubungkan dirinya dengan Gadis yang menolongnya.

__ADS_1


“Baiklah, Abi percayakan sama kamu, kamu pasti bisa mencari tahu siapa sebenarnya yang menolong kamu dan kenapa juga Nina sampai berbohong, apa motif sebenarnya. Sepertinya Nina seorang penghianat sehingga memanfaatkan kejujuran orang lain untuk kepentingannya sendiri. Nanti kalau kamu sudah yakin Gadis itu orangnya, kamu perkenalkan sama Abi. Abi yakin Gadis itu adalah Gadis yang baik," ucap Banu memberikan semangat dengan menepuk bahu Beni kemudian beranjak pergi meninggalkan Beni sendirian di ruang keluarga.


Beni terdiam sendiri di Ruang Keluarga. Dia nampak berpikir untuk langkah selanjutnya.


***


Selanjutnya Beni mengingat awal bertemu dengan Ega. Waktu pagi di hari minggu dia jalan-jalan keliling Kota Mentaram menggunakan Mobil Sportnya. Pada waktu itu dia sedang libur semester. Saat di lampu merah dia melihat Ega yang berada di sekitar APILL sedang menenteng Box berisi Nasi Daun.


Beni terpesona dengan Gadis berwajah manis dan lembut yang berdiri disana. Kenapa jantungnya berdebar-debar begitu menyaksikan senyumnya yang terlihat manis.


Pada saat itu Beni mengiranya Pedagang makanya Beni memanggilnya.


"Mbak berhijab yang membawa Box, sini!" teriak Beni memanggil Ega.


Terlihat Ega berjalan menghampirinya


"Iya Kak, ada yang bisa di bantu?" tanya Ega begitu sampai di samping mobil Pemuda yang memanggilnya.


"Nasinya satu bungkus," ucap Beni meminta.


Ega bengong namun kemudian tersadar ketika terdengar suara petikan dari tangan Pemuda itu. "Oh maaf, ini Nasi Daunnya. Maaf saya tidak jualan, ini gratis," jawab Ega sambil menyodorkan satu Nasi Daun dan satu Botol air mineral tanggung.


"Kok gratis, ini saya bayar," ucap Beni menyodorkan uang kertas merah bernilai seratus ribu.


“Terima saja, kalau memang ini gratis kamu simpan saja, pada lembar itu ada nomer saya siapa tahu saja kita bisa bertemu kembali dan menjadi teman,” pinta Beni berharap Ega mau mengambil Uang tersebut dan berharap Gadis ini mau menghubunginya ketika membutuhkan teman bicara.


Ega mengambil uang yang disodorkan Beni dan pada saat bersamaan warna merah berganti hijau menandakan Beni harus melajukan mobilnya.


Semenjak hari itu Beni hampir setiap pagi datang lagi ke Lokasi tempat pertama kali bertemu namun hasilnya nihil, esoknya lagi Beni datang namun lagi-lagi hasilnya nihil. Hingga akhirnya Beni memutuskan untuk melanjutkan Studinya karena waktu liburannya sudah usai. Beni kembali ke Malang tanpa khabar dari Gadis manis berhijab Pink, Bidadari di Lampu Merah.


Beni tersenyum jika mengingat itu. Dan pada akhirnya Bidadari di Lampu merah itu menjadi Sahabatnya. Waktu mempertemukan Ega dengan dirinya. Tentu saja pertemuannya dengan Gadis di lampu merah itu karena Juna yang saat itu mengajaknya Touring. Dimana saat Touring, ada dua Gadis dan empat Lelaki yang ternyata merupakan para Sahabat Juna. Dan akhirnya dia resmi bergabung dengan sebutan tujuh Sahabat. Saat itu mereka masih sangatlah muda dengan segala impian masing-masing.


"Lagi melamun ni yeee? Siapa kira-kira Gadis yang ada dalam lamunan Si Bos pasti orangnya istimewa banget," ujar Anton tiba-tiba datang menghampiri Beni. Dia mengacaukan lamunan Beni dengan mengagetkannya.


"Ngaco ah, siapa yang melamun, saya lagi berpikir bagaimana strategi kita kali ini untuk menarik hati pelanggan." Beni mengelak sembari meraih Dokumen yang ada di Meja lalu mulai serius memeriksanya.


"Mengelak terus padahal sangatlah tadi senyum-senyum sendiri, itu apa maksudnya? Apa mungkin dalam lamunan seorang Beni yaitu bagaimana strateginya untuk menarik hati seorang Gadis, bukan Pelanggan." Anton menggoda Sahabatnya itu beserta memainkan ackting bagaimana menaklukkan hati para Gadis.


Beni hanya diam saja menggelengkan kepala tanda mengelak.


"Kemungkinan ada dua sih? Bos sedang mengingat sesuatu yang begitu indah makanya tersenyum atau Bos sedang berada dalam fase gila, hilang akal hingga senyum-senyum sendiri. Kalau itu bisa gawat, apa perlu saya bawa Bos ke Selagalas," lanjut Anton sambil tersenyum jail. Dia mendudukkan diri sembari memperhatikan Beni yang terlihat serius namun pikirannya berkiaran kemana.


( Selagalas dan Selubung merupakan nama Desa tempat Rumah Sakit Jiwa berada ).


Beni mengalihkan perhatiannya kepada wajah Anton. Pada wajah itu terlihat keusilan yang nyata.


"Eh kedul, saya masih waras kali. Kamu tuh yang gila ngatain Bosnya tidak waras, pergi sana." Beni mengusir Anton sambil tangannya mengambil kertas kemudian membentuk bulatan seperti Bola dan melemparkan ke arah tubuh Anton.


"Lariii," teriak Anton kemudian menutup pintu, alhasil bola kertas membentur pintu.


“Bruuuk.”


"Hahahaha, tidak kena," ucap Anton sambil tertawa bahagia menikmati kemenangannya.


"Awas saja, saya dendam lo orangnya, nanti pas kamu lengah saya bales," teriak Beni tentu saja didengarkan Anton dari arah luar.


"Hahahaha, berani dalam kandang saja. Ayok buktikan jika seorang Beni itu sebenarnya Pemberani bukan cemen yang takut sama perempuan," sahut Anton dari arah luar diawali dengan tawa yang menggema di sekitar.


"Kamu belum tahu saja siapa Beni sebenarnya, sudah ah kerja sana mau kamu kehilangan ladang Rezekinya," sahut Beni dari arah dalam.


"Nah ini nih? Senjata andalan Beni, aku mah kalah kalau soal ini, takut Ladang Rezekiku beralih ke orang lain. Iya deh Pak Bos saya mau kerja dulu," sahut Anton dari arah luar. Pemuda itu memilih meninggalkan ruang kerja Beni untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sepeninggalnya Anton, Beni melanjutkan pekerjaannya. Dia masih sempat bermonolog sembari mengembangkan senyumnya.


"Mamsa, kamu telah berhasil membuatku tak fokus."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2