
Sore di hari Jum'at Ega menelusuri persawahan yang ada di sekitar tempat dia tinggal. Perumahan yang di pilih oleh Ega sebagai kediamannya berada di pinggiran Kota dan masih adanya persawahan yang terbentang luas sepanjang mata memandang.
Hari ini Ega memutuskan untuk tidak bekerja karena dia merasakan tubuhnya meriang dan kepalanya pusing. Kemarin sepulangnya dari Kantor Ega sama sekali tidak keluar dari rumahnya. Dia mengunci rumahnya serapat mungkin dan tidak mau keluar dari kamarnya. Ega hanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudu kemudian memilih Shalat di Kamarnya. Ega mengadukan segala kepedihan hatinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dia berharap hatinya akan tenang dan bisa melupakan laki - laki yang pernah tinggal di hatinya. Ega tidak ingin terpuruk dan dia akan berusaha bangkit dari keterpurukan itu walaupun terasa sulit dan mungkin saja terasa berat tapi dia harus melakukan itu.
Ega duduk termenung di sebuah Bebalek kecil tempat para Petani beristirahat setelah seharian bekerja pengelola sawahnya. Ega memandang hamparan padi berwarna hijau seperti permadani yang terlihat begitu indahnya.
Ega melirik Siput yang diambilnya ketika berjalan di pematang sawah dan mengumpulkannya di sebuah wadah yang dibawanya. Pandangannya kosong dengan satu kenangan yang terekam di memori otaknya. Malam itu masih terdengar jelas apa yang diucapkan laki - laki itu. Kenangan indah itu seolah berputar kembali di dalam ingatannya, malam itu...!
" Ega, kenapa susah sekali aku menyentuh hatimu." Guman seorang Laki - laki yang ada disamping seorang Gadis yang dipanggilnya Ega.
Mereka berdua sedang bertengger pada sebuah kursi yang ada di balkom kamar cowok - cowok keren.
Gadis bernama Ega itu hanya tersenyum menanggapi. Matanya memandang langit pekat tanpa cahaya. Bulan dan bintang seakan enggan menampakkan dirinya.
" Apa sesakit itu yang kamu rasakan sehingga begitu merapatkan hatimu?" Sambungnya sambil memandang lekat ke wajah Ega yang terlihat pipi samping yang kepalanya terbalut jilbab.
" Saya masih takut untuk memulai kembali. Kegagalan itu seakan memburuku dan menangkap lalu menyeretku di didalam ketakutan dan kegamangan." Ucap Ega masih setia dengan langit malamnya.
" Buka pintu hati kamu dan biarkan aku masuk lalu menetap disana. Sekali aku masuk maka aku tidak akan keluar dari hatimu dan meninggalkanmu." Ucap Laki - laki sebegitu yakinnya.
" Aku akan berusaha membuat kamu bahagia Ga sehingga melupakan masa lalu yang pahit itu. Aku akan berusaha Ga maka buka hatimu itu untukku." Sambungnya lagi berharap jika Gadis yang membuatnya jatuh hati itu bersedia menerima perasaannya.
" Saya belum yakin dengan hal itu, saya takut akan membuat kamu kecewa karena pada kenyataannya rasa cinta itu sulit tumbuh dihati ini." Jawab Gadis itu ragu, bukan meragukan Laki - laki itu tapi meragukan dirinya apakah bisa mencintai seperti yang diharapkan laki - laki itu.
" Aku akan menunggu kamu mencintaiku Ga, kapanpun itu."
Gadis bernama Ega itu tersenyum pilu mendengarkan perjuangan laki - laki yang ada disampingnya. Sungguh dia tidak menyangka kalau Gadis yang membuatnya jatuh cinta adalah dirinya sementara Ega belum siap menerima cinta dari laki - laki tersebut, itu yang membuatnya bimbang.
Ega tidak mampu menjawab apapun walaupun dirinya sudah berusaha meraba hatinya namun hatinya seakan membeku tidak ada tanda - tanda kalau rasa itu ada.
Laki - laki itu masih menunggu jawaban dari bibir seksi Ega yang teramat menggoda imannya namun dia berusaha menekan gejolak rasa ingin menikmati sedikit saja keindahan itu.
" Bukankah kita berteman kenapa tiba- tiba menginginkan sebuah cerita roman picisan diantara kita berdua tentu saja perubahan alur ini membuat saya berada di posisi sulit. Terus terang saja ini sangat sulit bagiku untuk mendapatkan jawaban karena keadaan yang belum memberikan saya jawaban atas pernyataan yang kamu minta, maafkan saya."
huft
Laki - laki itu menghela nafas berat.
" Baiklah, aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggu sampai keadaan memberikan jawaban kepadamu dan segeralah menghubungi aku dan menjelaskan jawaban itu tentu aku menginginkan jawaban yang akan menyatukan kita berdua." Sambutnya untuk meyakinkan Gadis yang berada disampingnya sekarang.
Itulah akhir dari pembicaraan malam itu dan laki - laki itu meninggalkan Ega dengan perasaan kecewa namun tidak membuatnya berhenti mengharapkan cinta dari Gadis itu.
Dari pembicaraan itu Ega mulai berpikir apa salahnya dia membuka hati dan memberikan kesempatan pada Laki - laki itu. Memulai kisah cinta yang baru bersamanya. Sampai kapan dia akan memenjarakan dirinya dalam kesendirian dan kesunyian. Dia butuh seseorang untuk mengusir rasa sepi itu dan membebaskannya dari kunkungan kepedihan.
Pada akhirnya Ega memberikan kesempatan untuk laki - laki itu walaupun mungkin terlalu lama dia meyakinkan hatinya. Rupanya laki - laki itu menyambutnya dengan kebahagiaan. Tidak sia - sia dirinya menanti jawaban dari Gadis yang membuatnya jatuh hati.
" Ga, tunggu aku kembali dan aku kembali untuk kita bersama - sama merajut cinta kita yang indah."
Kalimat terakhir yang didengar Ega dan kalimat itu mampu membuat Gadis itu tersenyum bahagia. Sesaat Ega hidup dalam angan - angan kebahagiaan. Hidup bersama orang yang mencintainya dan tentu saja orang yang menginginkannya untuk mendampingi hidup dari seorang Laki- laki yang teramat mencintainya dengan menjadikan dirinya sebagai calon Isteri.
Cerita itu kabur dan menghilang bersama mata Ega yang mulai berkaca - kaca lalu retak membuat aliran yang begitu derasnya. Keindahan padi yang hijau dihadapannya tidak mampu merefresh pikirannya yang kalut.
" Saya benar - benar telah menunggu kamu, menunggu kamu untuk melihat kebahagiaanmu bersanding dengan wanita lain. Inilah akhir dari penantianku, terluka dan ternyata penantianku sia - sia." Guman Ega berusaha menyeka air mata yang membanjiri pipi mulusnya.
" Ternyata kamu disini Ga? Kenapa?" Tiba - tiba seseorang menghampirinya dan sudah duduk disamping Ega tentu saja membuat Ega terkejut. Kenapa ada seseorang begitu saja berada disampingnya? Apa dianya yang terlalu sibuk dengan kenangan masa lalunya sehingga mengabaikan sekelilingnya dan tidak menyadari kedatangan Sahabatnya itu. Entah kapan Sahabatnya itu sudah berada disana. Apa dia mendengarkan apa yang diucapkannya tadi.
__ADS_1
" Abang, bikin saya kaget saja." Ucap Ega yang berusaha menetralisir suasana hatinya agar terlihat normal kembali.
" Itu pasti karena kamu melamun, Apa yang terjadi?" Tanya Juna penasaran dengan raut wajah Ega yang terlihat mendung. Tadi Juna sempat melihat Ega menyeka air matanya seperti baru saja menangis.
" Tidak ada apa - apa Bang?" Jawab Ega berusaha menata hatinya agar terlihat baik - baik saja di hadapan Juna.
" Masih saja kamu menyembunyikan hatimu Ga. Kamu ingin mengaburkan segala permasalahan yang sedang melandamu namun Abangmu ini tidak bisa kamu bohongi dengan kalimat tidak apa - apa dibalik itu pasti ada apa - apanya." Pancing Juna berusaha mencari tahu ada apa dengan sahabatnya ini. Semenjak dia bertemu di Pelaminan teman mereka mendadak Ega menjadi galau tentu saja terasa oleh Juna dan Evan. Mereka menyadari perubahan sikap Ega dan menjadi tanda tanya besar pada kedua Sahabatnya itu.
" Tidak ada apa - apa Kok Bang. Perasaan Abang saja kali." Elak Ega berusaha untuk tersenyum.
" Oh ya? Kenapa senyum yang kamu tampilkan berbeda? Bibir kamu bisa saja berbohong tapi tidak dengan mata kamu. Mata kamu menggambarkan suatu kesedihan namun dia tidak bisa berucap karena itu tugas dari bibir kamu. Sekarang ceritakan sebenarnya ada apa? jangan membuat Abang kamu dan Evan penasaran. Abang maupun Evan tidak mau mencampuri urusan pribadi kamu tapi kami tidak bisa berdiam diri melihat kamu terluka seperti yang nampak dimata kamu." Ucap Juna panjang lebar berusaha mengorek informasi dari Ega. Mereka hanya ingin sahabatnya ini mau berbagi dukanya sehingga tahu bagaimana cara mensuportnya ataupun menghiburnya.
Ega menundukkan wajahnya. Ternyata kedua sahabat yang bersamanya kemarin menyadari kesedihannya dan tidak luput dari pengamatan mereka berdua.
" Kalau kamu tidak mau bercerita tidak apa - apa. Kamu tidak sendiri Ga, kamu masih punya kami sahabatmu. Ada Abang, Kak Beni, Mas Rian, Evan, Dipta dan juga Nina. Kita akan selalu ada untuk sahabat kita jadi bicaralah apa yang membuatmu segalau ini. Tidak sedap dipandang mata ah." Ungkap Juna berusaha menghibur hati Ega.
" Siput, kenapa kamu bersembunyi di dalam cangkangmu? Apa kamu sedang terluka?."
"......."
" Benarkah?"
" ......."
" Sama dong dengan Gadis disamping saya ini, sedang ada rahasia kesedihan yang disimpannya. Bantuin untuk membuka cangkang rahasia itu ya?"
" ....... "
" Janji, jadi kita berteman, mulai detik ini kita berteman."
" Hahahahaha."
Ega tertawa melihat kekonyolan Juna berbicara dengan siput. Terlihat begitu lucu sehingga tidak bisa lagi menahan rasa gelinya.
" Abang Juna." Panggil Ega sambil mengambil seekor Siput kemudian sengaja menaruh pada lengan Juna yang terlihat putih bersih tentu saja membuat Juna terlonjak kaget. Pemuda itu jingkrak - jingkrak berusaha menepis binatang itu dengan tangan kirinya.
" Jijiiiiik." Teriaknya.
" Ega singkirkan itu, saya tidak bisa lendirnya." Teriak Juna lagi.
" Hahahahaha." Bukannya membantu malah Ega tertawa sambil menakuti Juna dengan Siput yang di pegangnya.
" Abang Juna tampan, cium dong." Ucap Ega mengarahkan Siput itu ke wajah Juna.
" Singkirkan Ga." Ucap Juna berusaha menghindar namun justru Ega semakin semangat menakuti Juna. Alhasil Juna terperosok di Pematang Sawah karena berusaha menghindari kejahilan Ega.
" Egaaaaaaa." Teriak Juna begitu dirinya terjatuh tentu saja membuatnya terkena lumpur tanah sawah. Tidak mau dirinya saja yang kotor dengan cepat Juna balik menjahili Sahabatnya itu tentu saja membuat Ega merasakan hal yang sama.
" Hahahaha." Mereka berdua tertawa melihat keadaan tubuh mereka yang penuh dengan tanah sawah yang becek. Melihat Padi yang rusak akibat ulah mereka, Ega dan Juna buru - buru memperbaiki tatanan padi itu agar tidak seberantakan tadi.
" Bagaimana ini Bang? Padinya rusak kalau Petaninya tahu kita kena omel." Kata Ega sambil menegakkan kembali yang pingsan karena ulah mereka berdua.
" Makanya kita tanam kembali biar kelihatan seperti tadi." Ucap Juna sibuk menanam Padi itu kembali agar tetap seperti sedia kala. Untungnya sore itu tidak ada siapapun selain mereka berdua burungpun seakan mendukung tingkah kedua bocah yang sudah dewasa itu.
Setelah berhasil menata Padi itu Ega dan Juna kembali duduk di Bebalek yang ada disana untuk beristirahat.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan hati kamu? Apa sedikit bahagia?" Tanya Juna memandang wajah Ega yang kelelahan. Gadis itu hanya menganggukkan kepala sebagai tanda jawaban.
" Alhamdulillah, Apa kamu belum bersedia untuk bercerita? Itu tidak apa - apa, kapanpun kamu curhat kami siap mendengarkannya." Lanjut Juna kembali membahas masalah yang belum mau dibicarakan Ega.
Huft
Ega menarik nafas panjang kemudian secara perlahan melepaskannya. Keadaannya sudah mulai tenang. Mungkin saja dengan berbagi duka dengan Juna akan membuatnya sedikit plong dan juga sesak di dadanya sedikit longgar.
" Abang, apa laki - laki yang dekat denganku hanya seorang Musafir." Ucap Ega memulai ceritanya.
" Maksudnya?" Tanya Juna nampak bingung dengan apa yang diutarakan Ega.
" Laki - laki yang dekat denganku hanyalah seorang Musafir. Dia hanya singgah untuk memulihkan kembali staminanya dan menyegarkan kembali pikirannya setelah keadaan pulih lalu meninggalkan aku dengan membawa harapanku bersamanya. Dia tidak berencana untuk menetap di hidup seorang Ega. Kenapa dia sejahat itu mencuri waktuku dan mengambil hari - hariku dan hanya mengisakan kenangan manis namun pahit dalam kenyataan." Jawab Ega sambil menatap langit sore yang berwarna jingga.
" Apa ini ada hubungannya dengan San? Apa laki - laki itu telah menjanjikan sesuatu hingga membuat kamu begitu terlukanya?" Tanya Juna menatap wajah Ega yang hanya keliatan pipi sebelah kirinya.
Ega menganggukkan kepala masih posisi lurus menatap kedepan kemudian menundukkan wajahnya menahan rasa sesak itu kembali.
Huft
Juna menghela nafasnya.
" Abang baru tahu kamu ada hubungan dengannya. Terus terang ini mengejutkan saya, kamu teramat pintar menyembunyikan perasaan kamu kepadanya sehingga semua sahabatmu tidak mengetahui itu." Ucap Juna parau. Ada sesal yang tiba - tiba menyusup masuk dalam pikirannya. Kenapa baru tahu sekarang dan sekarang tidak ada gunanya lagi untuk menelisik apa yang terjadi sebenarnya. Jika Juna tahu kalau Ega dan Hasan menjalin hubungan setidaknya dia dan Evan akan berusaha memperjuangkan hubungan mereka sehingga mereka menyatu. Ada rahasia besar yang terjadi dengan Laki - laki itu sehingga memutuskan untuk menyerah. Juna maupun Evan tahu persis siapa San, laki - laki itu cukup bertanggung jawab dengan segala apa yang diucapkannya dan dia selalu berpikir sebelum bertindak. Juna tidak ingin mencari tahu penyebab kenapa laki - laki itu memilih untuk meninggalkan Ega. Sekarang yang perlu diperhatikan olehnya adalah mengembalikan kembali senyum Ega, sahabatnya.
" Mencintai bagaikan dua sisi mata uang. Kebahagiaan dan penderitaan. Kedua - duanya harus kita pegang secara bersamaan." Ucap Juna kemudian setelah seperkian menit terdiam.
Ega mengalihkan pandangannya kearah Juna untuk menyimak apa yang dimaksudkan sahabatnya itu.
Juna mengalihkan pandangannya ke arah Ega sehingga mata mereka bertemu. Juna tersenyum melihat manik Ega yang sedikit cerah. Mata bening itu yang teramat disukai dari Ega. Teduh dan tulus tanpa adanya topeng kepalsuan hanya saja Gadis ini terlalu polos untuk dihancurkan oleh Laki - laki yang tidak punya hati dan itu tugas sebagai seorang Sahabat untuk melindunginya dan juga Nina.
Ega masih menunggu penjelasan dari apa yang diucapkan Pemuda Tampan disampingnya.
" Iyah, mencintai itu harus siap bahagia dan terluka sekaligus karena ketika kita merasa bahagia tanpa kita sadari ada orang lain terluka dengan kebahagiaan kita dan ketika kita berada pada posisi terluka kita seolah - olah memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Itulah hakikat dari kita mencintai lawan jenis, akan ada yang bahagia dan akan ada yang terluka berbeda dengan cinta kepada Allah tentu saja kebahagiaan saja yang kita raih. Cinta orang tua kepada anaknya begitu sebaliknya hanya ada kebahagiaan disana. Namun bukan berarti kita harus pobia untuk mencintai lawan jenis karena itulah anugerah sehingga kita bisa merasakan kedua - duanya. Hanya saja kita harus bijak menyikapinya dan menjadikan itu semua bagian dari cara Tuhan untuk memberikan nikmat iman bagi kita yang berlapang dada menerima segala takdir dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ketika kita mencintai kita harus siap dan berusaha bangkit lagi dari rasa sakit itu mungkin saja selanjutnya kita berada di posisi bahagia dan berharap tidak ada orang lain yang merasa terluka dengan kebahagiaan kita karena seseorang mungkin saja sudah legowo dan ikhlas menerima segala takdir." Ucap Juna menjelaskan sejelas - jelasnya.
Ega tersenyum dan ada secercah terang menerangi sudut hatinya yang gelap.
" Berarti saya begitu lemah dan cengeng, iya Bang? mudah sekali hati ini remuk dan gampang sekali diri ini terpuruk." Ungkap Ega merasa sedih.
" Wajar itu, namanya juga manusia. Hati kita begitu rapuh pada saat berada dalam titik terlemah tapi bukan berarti kita terus - terusan berdiam diri dalam titik terlemah itu kita harus bangkit dan melanjutkan hidup kita. Kita harus menata kembali hati kita yang pernah hancur dan membalut luka kita yang menganga. Nah itu dia setiap insan mempunyai waktu yang berbeda untuk kembali tegak berdiri dan sembuh kembali." Terang Juna terdengar begitu bijaknya.
" Abang ternyata pintar memaparkan tentang cinta tapi kenapa Abang sendiri masih berada pada titik lemah kapan Abang move onnya?" Tanya Ega membalikkan keadaan dirinya kepada Pemuda Tampan disampingnya.
" Siapa yang belum move on sembarangan saja?" Elak Juna agar Ega tidak mengungkit kehidupan pribadinya.
" Buktinya setiap cewek yang mau di kenalin Mamiq, Abang selalu tolak bukan itu artinya Abang belum move on dan tidak mau memberikan kesempatan pada Gadis lain untuk lebih mengenal Abang."
" Sudah ah jangan menyinggung Abang bukankah sekarang saya sedang berusaha menghibur kamu dan mengembalikan senyum indahmu itu kenapa pula mencoba menelisik Abang." Juna berusaha untuk mengalihkan pembicaraannya dan tidak ingin mengungkit kehidupan pribadinya yang menurutnya sudah nyaman dengan kesendiriannya.
" Selalu begitu, baiklah saya tidak mau Abang ngambek terus saya dicuekin." Kata Ega menyerah. Juna sungguh gampang memecahkan masalah temannya dan memberikan solusi tapi tidak untuk dirinya begitu sulitnya.
Juna terdiam dengan pikiran entah kemana.
" Abang Juna curang." Ungkap Ega tentu saja membuat Juna bingung tak mengerti apa yang dimaksudnya curang.
Bersambung.
__ADS_1