
" Abang Juna curang." Ungkap Ega tentu saja membuat Juna tak mengerti apa yang dimaksudnya curang.
" Maksudnya?" Juna menatap wajah Ega yang saat itu juga sedang memandang ke arahnya sembari bertanya kenapa Gadis itu menganggapnya curang.
" Iya, Abang sendiri masih berada dalam masa lalu yang pahit dan seakan tidak ingin beranjak meninggalkan masa lalu itu, mengapa Bang?" Tanya Gadis itu mencoba mendapatkan penjelasan dari apa yang dilakukan Laki- laki disampingnya selama ini dalam kurung waktu cukup lama. Ega menginginkan mereka berdua bersama - sama bangkit dari keterpurukan yang pernah mereka alami.
Juna tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke langit sore yang terlihat indahnya. Setelah puas Juna beralih memandang kearah yang sangatlah jauh tidak lagi ke langit.
" Lihat disana, terlihat indah namun begitu mendekat ternyata biasa - biasa saja." Tunjuk Juna malah mengarahkan pandangan Ega kearah yang dia maksud. Gadis manis disampingnya sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud dari sahabatnya ini.
" Terkadang kita melakukan itu agar terlihat indah dimata orang dengan maksud untuk melihat semuanya senang dengan keindahan itu pada dasarnya sebenarnya itu menipu." Jawab Juna melihat manik mata indah yang bertanya kepadanya.
" Itulah aku yang kau pandang indah namun ternyata tidak sebaik yang dikira." Batin Juna menghela nafas berat. Pemuda itu sangat tersiksa sebenarnya tidak seperti yang selalu ditampakkan ke hadapan teman - temannya.
Ega terdiam berusaha mencerna ucapan dari sahabatnya ini namun ternyata otaknya terlalu bodoh untuk mengartikan apa yang terselip dari perkataan itu.
" Sudahlah tidak usah dipikirkan, ada saatnya abang akan beranjak meninggalkan masa lalu itu tapi tidak untuk saat ini masih ada hati yang harus abang lindungi dan memastikan kebahagiaan untuknya." Ungkap Juna mencoba untuk mengelus Pipi manis dari Gadis dihadapannya namun diurungkannya.
" Selalu begitu, terserah Abanglah." Ega mulai menampakkan rasa kesalnya.
Mendengarkan Sahabatnya yang mulai kesal membuat Juna menghela nafas panjang kemudian menghempaskan dengan kasar. Juna lelah sebenarnya dengan hidupnya namun apa yang bisa dilakukannya selain mengurung diri di sudut kesendirian. Rasa bersalah pada seseorang membuatnya tidak mampu untuk memulai.
" Jangan kesal, Abang tidak suka itu." Cicit Juna membuat Ega mendelik tambah kesal dan bibirnya sudah mulai monyong membuatnya terlihat tambak sexy.
" Sudah Abang bilang jangan memasang tampang manismu itu, Abang tidak suka karena bisa saja Abang khilaf kemudian ******* yang kamu monyongkan itu." Ungkap Juna lagi memberi peringatan.
" Abang vulgar." Spontan Ega langsung melindungi bibirnya dan menyembunyikannya. Melihat itu membuat Juna tergelak dan tidak bisa lagi menahan tawa karena Gadis itu terlihat lucu sekali.
" hahahahaha." Tawa Juna menggema di sekitar persawahan itu. Setelah terasa melelahkan Juna menghentikan tawanya.
" Kamu sungguh lucu, Aku pria normal tentu saja menginginkan kehangatan dari benda kenyal itu." Ucap Juna sambil menatap Ega selekat mungkin. Ingin rasanya mengambil ciuman pertama dari Gadis disampingnya namun kesalahan dimasa lalu menghadangnya untuk tidak melaksanakan hasratnya itu.
Ega terbengong tidak percaya dengan apa yang didengar oleh telinganya karena tumben Laki - laki yang dipanggilnya Abang ini berbicara aktivitas orang dewasa.
" Telingaku jadi tercemar dan sudah tidak perawan lagi mendengarkan cicit abang kali ini." Komentar Ega sambil menahan malu jika mengingat apa yang diucapkan Juna. Wajahnya merah merona saking malunya karena apa yang diucapkan Juna bagi Ega itu merupakan kalimat yang sangat tabu.
" Sudahlah, kita pulang sebentar lagi Adzan Magrib dan kita juga harus membersihkan diri." Ajak Juna lalu bangkit dari tempat duduknya, dia tidak mau tiba - tiba dirinya khilaf karena mereka hanya berdua saja sementara setan mengintai mereka.
Ega mengikuti langkah kaki Juna yang berada di depannya.
" Bagaimana keadaan hatimu, apakah sudah baikan?" Tanya Juna sambil terus saja berjalan.
Ega menganggukkan Kepalanya sebagai jawaban tentu saja tidak terlihat oleh Laki- laki yang ada dihadapannya.
" Jangan khawatir, akan ada Musafir yang datang menemuimu dan itu Musafir yang sebenarnya karena tujuan dari perjalanannya adalah kamu." Sambung Juna sambil terus melanjutkan langkahnya.
Mereka sampai di kediaman masing - masing dimana rumah mereka berada pada satu lingkungan yang sama.
***
Malam harinya Ega menatap langit malamnya. Disana terlihat bintang gemintang yang menghiasi malam untuk menemani bulan sabit yang nampak sedikit bercahaya.
Itulah malam minggu Ega, kini dia benar - benar sendiri yang biasanya ada San yang menemani malam minggunya walaupun hanya melalui benda pipih yang bisa berbicara, tentu saja benda itu bernama handphone. Benda itu yang mengantarkan kata demi kata yang berhasil didengar oleh telinga lainnya.
Disinilah sekarang di lantai dua dari berugak yang merupakan kamar cowok - cowok keren. Ega memanfaatkan serambinya untuk merebahkan tubuhnya sambil memandang lautan bintang.
" Apa ada wajah saya disana sehingga kamu begitu terpesona melihat langit." Ucap seseorang yang tiba - tiba saja ada di dekat Ega yang membuat Gadis itu terbangun kemudian menengok ke bawah.
Dilihatnya Beni sudah ada di Berugak sambil merebahkan diri seperti apa yang dilakukan dirinya. Beni hanya mampu menatap langit - langit Berugak dan tidak bisa memandang langit karena terhalang atap.
" Astaghfirullah, Kak Beni bikin saya kaget saja. Copot jantung saya Kak Beniiii." Teriak Ega membuat gendang telinga Beni iritasi.
" Bisa dikecilkan suaranya, saya tidak budeg." Gerutu Beni sambil mengelus telinganya.
" Kak Beni sih tiba - tiba saja nongol, macam jailangkung saja." Sambar Ega.
" Mana ada Jailangkung seganteng Kak Beni, bisa ramai publik melakukan pemanggilan kalau seperti itu mah!" Sahut Beni penuh percaya diri dengan melemparkan seutas senyum indah pada bibirnya yang berisi.
" Mulai dah kepedean." Imbuh Ega.
__ADS_1
" Kenapa Kak Beni tiba - tiba ada disini, tidak ada suara apalagi salam." Sambungnya.
" Hampir soak mulut saya melafalkan salam kamunya saja yang tidak denger saking asyiknya memandang langit." Jawab Beni terdengar datar.
" Oh gitu." Ucap Ega ber oh ria.
Beni hanya terdiam saja mendengarkan tanggapan Ega. Dia masih dalam posisi merebahkan diri.
Sedangkan Ega kembali ke posisi semula seperti apa yang dilakukan Beni namun terpisah tiang penyangga.
" Terus kenapa Kak Beni kesini?" Pertanyaan yang terdengar begitu konyolnya. Bukankah Beni itu Sahabatnya tidak ada alasan bagi Beni untuk mengunjunginya.
" Menemani Gadis jomblo." Jawab Beni santai.
" Apa? kayak Kak Beni tidak jomblo saja."
" Justru karena saya jomblo makanya ada disini. Sama - sama jomblo, iya sudahlah saling menemani." Sahut Beni menanggapi komentar Ega.
" Teman - teman yang lain mana Ga? Kok tumben tidak ada Dipta kesini mengunjungi Nuggetnya? terus Abang Juna juga tidak ada di kost, tadi saya nyamperin kesana dulu. Kemana tuh anak." Tanya Beni berurutan.
" Entahlah, mungkin saja mereka sudah punya gebetan untuk dikunjunginya." Jawab Ega sekenanya.
" Kalau mereka berdua sudah dapat gebetan terus tinggal kita berdua dong yang jomblo, Raja dan Ratu jomblo, jadinya sepasang mata Bola." Ucap Beni seolah menertawakan dirinya.
" Miris banget, kenapa Kak Beni enggak cari pasangan. Kak Beni Jailangkung Ganteng dan keren jadi akan banyak yang ngantri untuk mendapatkan perhatian Kak Beni." Saran Ega yang membuat Beni trenyuk.
" Itulah kelemahan saya, saya tidak mampu mengungkap kata - kata aku......" Beni terdiam tidak mampu melanjutkan kata - katanya.
" Aku.... apa kak Beni?" Tanya Ega penasaran karena tiba - tiba Beni terdiam.
huft
" Inilah kelemahan seorang Beni di hadapan Gadis yang di sukanya. Lidah tiba - tiba mendadak kelu. Saya tidak mampu mengucapkan kalimat sakral itu." Guman Beni terdengar galau.
" Kak Beni suka seseorang?" Tiba - tiba Ega sudah berada disamping Beni yang masih asyik merebahkan diri.
" Hahahaha." Ega malah tertawa menertawakan wajah Beni yang terlihat begitu polosnya. Wajah putih bersihnya itu tiba - tiba berubah berwarna merah seperti tomat matang.
Beni duduk disamping Ega dan sekarang mereka berdua memandang lurus kedepan.
" Kak Beni suka seseorang, siapa? Apa Gadis itu Nina?" Tanya Ega menyelidiki.
Beni menggelengkan kepalanya.
" Lalu siapa?"
Beni mengalihkan pandangan ke wajah Ega dan saat itu juga Ega sedang memandang kearah Beni. Mata mereka bertemu. Beni tidak ingin mengalihkan lagi pandangan kali ini. Beni menatap Gadis manis dihadapannya seolah ingin mengatakan sesuatu. Ega terpaku menatap bola mata Beni yang menenangkan hatinya. Ada rasa yang berbeda kali ini yang dirasakannya tapi tidak tahu apa itu. Beni selama ini selalu menjaga pandangannya namun apa yang terjadi dengan Laki- laki ini yang tiba - tiba saja mendongakkan wajahnya kemudian menancapkan manik matanya tepat dimanik mata milik Gadis manis itu.
" Apa ini? apa yang terjadi sebenarnya? suasana ini tidak seperti saat Juna memandangku yang tidak memiliki makna apapun tapi berbeda dengan Pemuda Tampan yang ada dihadapanku ini, apa ini?" Batin Ega bertanya - tanya.
Beni tidak mau melepaskan semua ini. Terasa begitu indahnya. " Izinkan sebentar saja aku menikmati wajah indah ciptaanMu. Mamsa aku telah menemukanmu dan tidakkah kau tahu rindu itu sangat menyiksaku, dekat denganmu namun tidak mampu aku mendekapnya." Batin Beni tidak ingin malam ini berakhir.
" Tengkek, tengkek, tengkek." Tiba - tiba suara Tokek membuyarkan lamunan dua sejoli ini.
" Hahahaha." Beni tertawa mendengarkan suara dari Tokek itu. Mungkin saja itu cara Allah untuk menyadarkan keduanya dari pandangan yang sudah masuk area terlarang.
" Iya, mengganggu saja." Gerutu Ega ikutan terkekeh.
Lelah tertawa mereka berdua kembali terdiam dan hening.
" Jadi siapa orangnya Kak Beni, jangan bikin saya penasaran deh?" Tanya Ega mulai bertanya lagi setelah mereka berdiam diri cukup lama.
Beni hanya mengelus tengkuknya tidak mampu menjawab.
" Sudahlah Ga, kamu enggak bakalan tahu." Ucap Beni kemudian sambil nyengir kuda poni.
" Iyaaaaah, Kak Beni enggak asyik ah." Gerutu Ega kesal karena tidak mendapatkan jawaban. Ega semakin penasaran siapa kira - kira Gadis beruntung yang mampu mengikat hati dari seorang Beni yang terkenal cuek dan dingin itu bahkan Nina yang cantikpun tidak mampu meluluhkan hatinya. Gadis itu benar - benar hebat tidak sadar Ega memujinya.
Mereka berdua kemudian terdiam larut dalam pikiran masing - masing. Hening dan sunyi seperti hati mereka.
__ADS_1
" Kak Beni." Panggil Ega membuka pembicaraan ketika dia sudah kembali ke peraduannya.
" Iya."
" Menurut Kak Beni cinta itu apa?" Tanyanya walaupun dia sudah mendapatkan penjelasan dari Juna.
" Cinta ya? menurut Kak Beni cinta itu tanda kepatuhan dan ketunduhan kita atas apa yang Allah perintahkan kepada Manusia. Tunduk dan patuh bersujud hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itulah bentuk cinta kita kepada Sang Pencipta hanya saja kita masih lalai dengan cinta itu sendiri. Selanjutnya cinta itu memelihara tanpa merusak. Memberi tanpa meminta tapi tentu saja akan bersambut jika itu sudah menjadi takdir. Cinta itu senantiasa memberikan kebahagiaan kepada orang yang ada dihati orang tersebut tanpa ingin menyakitinya apalagi merusaknya. Cinta itu rasa bahagia dan rasa sakit, keduanya akan berjalan beriringan tidak akan pernah terpisahkan. Kenapa bisa begitu? karena mencintai manusia atau lawan jenis terkadang kita disambut dan terkadang kita diabaikan tapi yang namanya mencintai kita bisa menahan rasa sakit itu demi orang yang dicintai. Cinta itu tidak memaksa dan terpaksa jika itu terjadi itu artinya obsesi." Terang Beni panjang lebar menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya.
Ega tersenyum, kurang lebih sama dengan apa yang disampaikan Juna.
" Lantas cinta Kak Beni kepada siapa?" Tanya Ega menjebak sahabatnya.
Beni merasa dirinya terjebak dalam pertanyaan dari Sahabatnya itu. Pertanyaan itu seakan mencekik lehernya. Bukan dia tak mau mengakui tapi dia belum siap jika dirinya di tolak apalagi ketika dia hendak mengucapkan seakan lidahnya tidak mau diajak berteman. Beni juga belum tahu seperti apa perasaan dari Gadis yang membuat hari - harinya penuh rindu.
" Kepada orang tua, Anisa, keluarga, kerabat dan tentunya sahabat serta semuanya." Jawab Beni sekenanya.
" Bukan jawaban itu yang ingin saya dengar." Cicit Ega gemas sama salah satu sahabatnya ini.
" Maunya yang seperti apa sih?" Tanya Beni pura - pura tidak mengerti apa yang diinginkan Gadis manis ini.
" Cinta Beni kepada lawan jenis, siapa sih?" Ulangnya.
" Anu, ini sepertinya sudah malam takut saya nanti dipergokin sama Satpam." Elak Beni berusaha mencari aman.
Ega terbengong.
" Ga, saya pulang dulu saja ya?" bangkit Beni dari rebahannya. Dia duduk sebentar lalu hendak melangkah ke motor yang disimpannya di Garasi.
" Tunggu Kak Beni." Tahan Ega, Gadis itu turun dari peraduannya kemudian menghampiri Beni persis dihadapannya. Keadaan benar - benar hening dan juga sunyi.
Beni menatap wajah Gadis manisnya yang sudah berada di depannya dengan intensnya. Perlahan tapi pasti dia mengulurkan tangannya lalu melepaskan jilbab dari Gadis itu, Gadis itu diam tidak ada penolakan sama sekali tentu saja membuat Beni senang. Jantungnya terpompa lebih cepat melihat Gadis manis yang ada dihadapannya dengan rambut panjang, hitam dan juga lembut. Lantas dia menarik ikat rambut yang mengikat rambut panjang dari sahabatnya itu dan seketika itu tergerai indah, cantik.
Beni memandang wajah indah dihadapannya tidak bisa lagi menahan hasratnya dengan perlahan laki - laki tampan itu menc**m bibir cherry milik Ega dan ternyata tidak ada penolakan darinya tentu saja membuat Beni senang. Dia menginginkan lebih sehingga laki - laki perindu itu menggigit bibir bawah Ega membuat Gadisnya membuka akses untuk masuk. Beni tidak menyia - nyiakan kesempatan itu, dia menerobos masuk lalu melu**t habis bibir sexy milik Gadis yang teramat dicintainya. Tidak ada penolakan dari Ega, tanpa sadar dia mengalungkan tangannya dileher milik Beni dan pastinya menarik tengkuk gadis itu. terjadi luma**n - lum**n yang panas dan keduanya tidak ada yang mau mengalah. Beni yang merindu dan Ega yang merana sehingga menyatu dalam hasrat yang begitu menggebunya. Mereka tidak bisa lagi mengontrol irama jantung yang meledak - ledak membuat tubuh mereka semakin menyatu tanpa jarak. Semakin nikmat Beni tidak mau melepaskan permainan lidahnya begitu juga dengan Ega semakin menuntut untuk mengeksplor kedalam rongga manis milik laki - laki tampan ini. Desahan - desahan penuh kenikmatan terdengar dari ciu**n panas mereka berdua, insan yang sedang mabuk kepayang. Setelah mereka benar - benar kehilangan oksigennya baru melepaskan pagutannya.
( Ops maaf Authornya khilaf, ini nulisnya malam - malam semoga bacanya juga pada waktu malam hehehehe ).
" Terima kasih kamu tidak menolakku Ga."
" Ini ciu**n pertamaku, terasa manis dan nikmat saya benar - benar senang."
" Aku beruntung mendapatkannya." Ucap Beni menempelkan kedua tangannya pada Pipi Ega yang mulus. Beni menempelkan dahinya didahi Gadis yang teramat dicintainya.
" Aku mencintaimu Ga." Ungkapnya sambil memejamkan matanya. Beni merasa lega karena berhasil mengungkapkan perasaan yang disembunyikan selama ini.
tiba - tiba.....
" Pletaaaaaak."
" Awwwww sakit, kasar amat jadi cewek sakit nih!" Gerutu Beni tiba - tiba mendapatkan jitakan dari Ega.
" Habisnya Kak Beni bengong ditanya, lamunin apa sih? Saya pikir Kak Beni kesambet makanya ada kesempatan untuk menjitak keningnya." Ungkap Ega tersenyum jahil.
" Kesambet apaan tadi Kak Beni nungguin kamu turun dari tuh lantai atas. Mau jitak orang pelan - pelan dong enggak jadinya sakit nih dahi." Ucap Beni mengelus dahinya yang mengkerut eh maksudnya sakit. Beni bingung sebenarnya telah terjadi apaan sih? mungkin iklan lewat kali ya?.
" Maaf, habisnya lapangan Futsal Kak Beni begitu menggoda untuk saya jitak, hehehehe." Ega cengengesan sedangkan Beni dongkol dengan menampilkan muka cemberut.
" Iya udah Kak Beni beneran pulang nih, kamu jangan begadang nonton Oppa - Oppa ganteng itu karena Kak Beni enggak mau kamu sakit." Pesan Beni sebelum benar - benar melajukan motornya.
" Makasih, Kak Beni perhatian banget, Kak Beni so sweet banget bikin diriku terharu." Sahut Ega sok imut dan manja.
" Itu karena saya tidak mau repot, siapa coba mau ngurus kamu sementara tidak ada Saik Aminah disini." Jawab Beni pura - pura.
glek
" Kirain Kak Beni beneran peduli. Aok uah aneh terlalu berharap."
Beni tersenyum dikulum kemudian benar - benar pergi meninggalkan Ega sendirian di rumahnya sebelumnya dia mengucapkan salam. Sepeninggalnya Beni kini tinggal sendirilah Ega karena Saik Aminah masih menginap di Rumah kerabatnya.
Bersambung.
__ADS_1