Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 43. Kejutan.


__ADS_3

Ega mengerjapkan kedua bola matanya ketika dia mendengar suara Adzan dari sebuah Masjid. Gadis itu menggeliatkan badannya sesekali dia menguap dengan menutup mulutnya agar Setan tidak berhasil masuk melalui jalan saluran pengecapnya.


Ega menatap di sekeliling kamar, dia merasa kamar yang ditempatinya begitu asing. Gadis itu begitu kaget setelah menyadari ini bukan kamar cowok-cowok keren dan juga bukan kamarnya. Lantas dia berada dimana sekarang? Dia mencoba mengingat-ingat tapi tetap saja dia tidak berhasil mengetahui apa yang terjadi semalam dan kenapa tiba-tiba dirinya ada disini. Apa dia semalam tidur sambil berjalan namun mana mungkin itu? Gadis itu hanya ingat ketika Beni meninggalkan dirinya begitu saja. Kepergian Beni membuatnya menangis, lelah menangis langsung merebahkan diri pada kasur empuk milik cowok-cowok keren.


"Saya ada dimana? Kenapa kamar ini asing banget? Bukan kamar cowok-cowok keren dan bukan pula kamar saya?" Ega bermonolog sambil menggaruk kepalanya yang benar-benar gatal saking bingungnya. Gadis itu beringsut dari kasurnya lalu berjalan mengelilingi kasur tersebut mencari petunjuk.


"Masak iya saya tidur sambil berjalan yang ada nabrak sini dan nabrak sana tapi body saya baik-baik saja." Ucap Ega masih asyik dengan kebingungannya. Dikamar itu tidak ada fhoto, yang terpajang hanya kaligrafi. Benar-benar tidak ada petunjuk sama sekali. Dengan hati-hati Ega membuka pintu lalu dengan langkah pelan menelusuri rumah yang ternyata begitu luasnya. Ega baru tahu ternyata dirinya berada di lantai atas dan keadaan begitu sepinya dengan rumah sebesar itu.


Ega menuruni tangga dengan pelan berusaha agar kaki telanjangnya tidak menghasilkan suara. Gadis manis itu mencari Dapur karena pada Subuh ini pasti Pembantu dari Pemilik rumah ini sudah bangun dan telah menyibukkan diri di Dapur.


Sesampainya di Dapur Ega melihat Sosok Ibu-ibu yang sedang sibuk dengan aktivitasnya memasak. Umurnya sekitar sama dengan Saik Aminah kurang lebih 45 tahunan.


"Saik, Saik tahu enggak saya berada di rumah siapa?" Tanya Ega begitu berada disisi Wanita itu tanpa basa basi tentu saja pertanyaannya membuat Wanita itu terlonjak kaget.


"Eh tahu, eh tempe makanan kesukaan Den Beni." Ucap Pembantu itu tanpa sadar, dia langsung mengelus dadanya begitu melihat Ega yang sudah berada disampingnya.


"Kaget, kaget, kaget." Sambungnya lagi sambil berusaha mengatur laju pernafasannya.


Spontan Wanita ini mengatakan Den Beni berarti Ega sekarang berada dirumah Beni.


"Den Beni? apa saya berada di rumah Kak Beni terus bagaimana saya bisa ada disini. Apa yang terjadi sebenarnya? Tidak mungkin saya jalan sendirian sehingga sampai disini? Apa mungkin Jinnya Aladdin yang membopong saya kesini? Tapi itu mustahil terjadi karena itu kan fiksi." Ega sibuk bermonolog sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Astaghfirullah mana jilbab saya?" Tanya Ega begitu menyadari dia tidak menggunakan jilbab seketika itu Ega menjadi panik karena mana mungkin dia akan berpenampilan seperti ini dirumah orang.


Wanita yang semula sibuk memasak kini beralih sibuk memperhatikan Gadis Manis yang sedang berbicara sendiri.


"Saik, Jilbab Ega mana?" Tanya Ega kepada Wanita itu membuat Wanita itu mengerti apa yang membuatnya tampak bingung dan panik.


"Sebentar Bibik ambilin, pakai jilbab Bibi tidak apa-apakan?" Ucap Wanita itu yang memanggil dirinya Bibik.


Ega mengikuti arah Kaki Wanita itu dan sampailah pada sebuah kamar yang cukup luas dan bersih. Wanita Paruh Baya itu membuka Lemari lalu meraih selembar jilbab miliknya.


"Pakai ini saja dulu Non." Ucap Wanita itu sembari menyodorkannya ke Ega.


Ega segera mengambil Jilbab tersebut lalu menggunakannya.


"Saik saya berada dimana?" Tanya Ega kembali untuk memenuhi segala rasa ingin tahunya. Kenapa tiba-tiba dia berada di rumah ini. Apa sekarang dia berada di alam mimpi dan belum benar-benar terbangun.


"Di rumah Bapak Banu Hardian dan Ibu Citra Hardian." Jawab Wanita itu yang merupakan Pembantu dari keluarga Hardian.


"Apa? Kenapa saya bisa berada disini?" Tanya Ega bingung.


"Loh bukannya Non ini Calon Pengantinnya Den Beni. Semalam Den Beni membawa Non ke rumah ini." Jawab Wanita itu lagi.


"Apa? Saya Calon Pengantin?" Teriak Ega tidak sadar membuat Wanita itu ikutan terkejut.


"Kalian berdua merarik semalam makanya Den Beni membawa Non kesini. Bapak Banu dan Ibu Citra juga sudah tahu." Lanjut Wanita itu menjelaskan.


"Bik Siti." Panggil seseorang yang ada di Dapur. Begitu namanya dipanggil Wanita itu bergegas melangkahkan kakinya kearah Sumber suara. Ega mengikuti langkah kaki Wanita itu.


"Dewek." Jawab Wanita yang dipanggil Bibik Siti.


Wanita yang memanggil itu ternyata Umi Citra dan matanya langsung menangkap sosok Ega di belakang Tubuh Bik Siti.


"Nak Ega sudah bangun?" Tanya Ibu Citra begitu lembutnya. Bibirnya tersenyum indah dibarengi sorot mata yang lembut seperti mata Beni yang ternyata terwarisi dari Ibunya.


"Nggih Umi." Jawab Ega segera menghampiri Wanita cantik itu lalu meraih punggung tangan Ibu Kandung dari Beni itu kemudian menciumnya. Ega merasakan kepalanya dielus oleh tangan lembut milik Umi Citra.


"Kenapa rasanya nyaman, apa mungkin Umi menerimaku." Batin Ega karena dia sekarang berada dirumah orang tua dari Laki-laki yang bernama Beni dan Beni telah menculiknya.


Jika sudah berada di rumah Laki-laki dan pihak keluarga laki-laki sudah melapor kepada Kepala Lingkungan kalau di rumahnya ada Calon Pengantin otomatis sekarang dirinya sudah menjadi status Calon Pengantin dari Laki-laki tersebut dan ini dinamakan MERARIK. Kalau sudah begini tidak bisa menolak lagi apalagi dia sudah menghilang semalaman dari rumahnya tentu saja kalau kembali ke rumahnya akan membuat Sang Gadis dan keluarganya malu karena pihak desa dari keluarga Gadis akan menganggap Warganya itu merarik dan tinggal menunggu pemberitahuan saja.


( Tentang tradisi merarik ini saya sudah ceritakan di Kisah Lika dan Reynand pada Karya Kisah Cinta Gadis Tenun ).

__ADS_1


"Sudah Shalat Subuh?" Tanya Umi Citra kepada Calon Menantunya yang sebentar lagi menjadi menantunya.


Ega menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Kalau begitu Nak Ega bersih-bersih dulu di kamar Beni. Kita Shalat berjamaah di Musholla. Kebetulan Abi sama Beni sudah berangkat ke Masjid." Ucap Umi Citra memberitahu.


"Nggih Umi." Jawab Ega sembari berpamitan lalu melangkah kembali ke kamar tadi tempat pertama kali menemukan dirinya.


Ketika mandi Ega belum percaya semua ini dia menepuk pipinya berulang-ulang apa dia masih berada di dunia mimpi semakin dia keras menepuk semakin dia menyadari bahwa ini benar-benar nyata.


"Saya benar-benar diculik, kalau sudah berada disini mana bisa saya keluar dari rumah ini. Kalau saya kabur bisa mempermalukan keluarga Beni dan tentu juga keluarga saya. Gadis yang pernah gagal menikah eh gagal untuk kedua kalinya karena kabur. Iya sudahlah terima sajalah mungkin ini yang namanya jodoh. Jodoh yang tidak bisa dielakkan walaupun saya sudah berusaha menolak." Ucap Ega bermonolog. Dia memegang bibirnya yang bengkak dan teringat perbuatan Beni semalam yang membuatnya melayang-layang saking menikmatinya.


"Ais saya jadi malu jika ingat semalam, Kak Beni begitu ganas banget permainan lidahnya dan aku suka." Ucap Ega sembari senyam senyum. Pipinya mulai merah merona jika mengingat apa yang mereka lakukan semalam.


"Saya benar-benar malu." Guman Ega menutup Wajahnya. Dia bergegas menyelesaikan mandi lalu memakai Gamis yang diberikan oleh Umi Citra beserta jilbabnya.


Ega nampak cantik dengan gamis yang diberikan oleh Umi Citra. Ukurannya pas dan sangat cocok dengan tubuh Ega yang tinggi dan berkulit sawo matang, Ega benar-benar anggun dan manis.


Gadis itu segera melangkah ke Musholla yang ada di depan rumah keluarga Hardian terpisah dari rumah induknya. Sengaja Musholla itu dibangun di halaman depan agar memudahkan siapapun yang singgah untuk melaksanakan Shalat sedangkan Abi Banu dan Beni memilih untuk Shalat berjamaah di Masjid yang ada di Komplek.


Sesampainya di Musholla, Ega sudah ditunggu oleh Umi Citra dan Bibik Siti. Mereka bertiga melaksanakan Shalat Subuh secara berjamaah yang di imani oleh Ega.


Beberapa menit mereka melaksanakan Shalat. Terlihat Ega mengucapkan salam ke Kanan yang diikuti oleh Makmun selanjutnya mengucapkan salam ke Kiri dan diikuti makmumnya.


Selesai Shalat Ega meraih punggung Umi Citra kemudian mencium tentu saja dibalas ciuman pada pucuk kepalanya oleh Umi Citra. Ada rasa tenang, haru dan bahagia bergelayut manja pada hatinya. Perasaan ini yang selalu Ega rasakan ketika bersama Ibunya, tenang, damai, tentram dan terasa nyaman ketika sudah berada di pangkuan Ibu yang melahirkannya. sebesar apapun masalah itu.


Ega benar-benar terharu, ternyata dirinya disambut dengan kebahagiaan oleh keluarga Hardian. Lantas apa yang dicari lagi jika sudah ada penerimaan dari Calon Ibu Mertua dari keluarga Laki-laki yang menginginkannya. Sungguh bodoh dirinya jika menolak ini semua. Mungkin ini hadiah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas kesabarannya menerima kegagalannya selama ini.


Cukup lama Ega menikmati sentuhan itu, dia segera beralih mencium punggung tangan Bik Siti sebagai bentuk penghormatan sebagai orang yang lebih Tua dari dirinya.


Selesai melaksanakan Shalat Umi Citra dan Bik Siti beranjak pergi meninggalkan Musholla sedangkan Ega melanjutkannya dengan membaca Alquran sampai pagi menjelang.


Pagi ini disini Ega berada, di Meja Makan milik keluarga Hardian. Mereka sedang menikmati Sarapan. Ega sibuk menatap Beni dengan pandangan horornya sedangkan Beni yang menjadi sasaran mata horornya nampak asyik menyuap makanannya. Laki-laki itu tidak terusik sama sekali dengan pandangan Ega yang meminta pertanggungjawaban dari Laki-laki itu yang berani menculiknya.


Ega mendengus kesal karena Beni tidak menghiraukannya malah tidak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya.


"Hahahahaha." Beni tergelak melihat wajah Ega.


"Kenapa Ben? Kok malah ketawa apa ada yang lucu?" Tanya Umi Citra mendengarkan suara tawa dari buah hatinya.


"Umi ini kayak tidak pernah jadi Calon Pengantin saja. Anaknya itu sedang bahagia sebentar lagi mau belah duren pasti sedang membayangkan sedapnya buah duren pilihannya." Ucap Abi Banu berkelakar tentu saja membuat Ega tersipu malu mendengarkan guyonan Calon Abi Mertuanya.


"Abi ini, belum saatnya bicarakan duren, itu bikin calon Menantu kita tersipu malu." Ucap Umi Citra menanggapi gurauan dari Suaminya itu.


"Hahahaha." Tawa Beni malah tambah meledak melihat rona malu pada wajah Gadisnya itu.


"Ninik, Calon Pengantin itu apa? Belah duren itu apa?" Tanya Anisa yang sedari tadi sibuk mendengarkan pembicaraan orang dewasa.


"Uhuk, uhuk, uhuk." Mereka terbatuk semua dan sibuk melegakan tenggorokan dengan segelas air putih. Mereka lupa kalau ada Anisa di tengah mereka.


"Calon Pengantin itu yaitu Papa Anisa dan Mama Anisa akan melakukan Akad Nikah atau janji kepada Allah agar bisa hidup bersama-sama seperti Ninik Selaki dan Ninik Bini. Setelah sah atau boleh baru Mama Anisa akan hidup bersama-sama dengan kita." Ucap Umi Citra menjelaskan sesederhana mungkin agar Gadis kecil itu mengerti.


"Oh gitu, asyiiiik Mamsa akan tinggal sama Anisa." Ucap Anisa kegirangan karena Mamanya itu tidak lagi jauh-jauh darinya.


"Iya sayang, Mamsa akan jadi Mama Anisa seutuhnya tidak lagi dipanggil Tante Ega." Ucap Ega sembari mengelus pucuk kepala Gadis kecil itu.


"Oh ya kenapa Papa tertawa tadi?" Tanya Anisa mengarahkan pertanyaan kearah Beni.


"Tadi ada Thriller Film horor dan Pemain Perempuannya Cantik banget bukannya menakutkan tapi malah terlihat lucu banget." Ucap Beni akhirnya memberitahu apa penyebab dirinya meledakkan tawanya.


"hahahahaha." Abi Banu dan Umi Citra sepakat ikutan tertawa sementara Ega menjadi salah tingkah sedangkan Anisa bingung sendiri tak mengerti.


"Oh ya mana Juna, kenapa dia belum datang? Kita segera berangkat ke Rumah Orang Tua Ega untuk Sejati Selabar, nuntut Wali dan juga mengantarkan Pisuke. Kita akan melaksanakannya sekaligus.

__ADS_1


"Memangnya Kepala Lingkungan sudah siap Abi?" Tanya Umi Citra.


"Insha Allah sudah siap, kepala lingkungan juga sudah mengutus salah satu perwakilannya untuk memberitahu ke tempat tinggal Ega." Jawab Abi Banu memberitahukan kesiapan dari mereka.


Selesai sarapan Banu Hardian masuk ke Ruang kerjanya sedangkan Umi Citra pamitan untuk mengurus katering dan Anisa Gadis kecil itu diantar oleh Bibik Siti ke Sekolah kebetulan jarak Sekolahnya tidak terlalu jauh.


Tinggal mereka berdua di Meja Makan saling pandang memandang.


"Kenapa Kak Beni menculik saya?" Tanya Ega dengan sorotan mata tajam.


"Cara baik-baik kamu tolak jadi jalan satu-satunya iya dengan menculik kamu." Jawab Beni tersenyum simpul.


"Ini namanya pemaksaan, bukannya Kak Beni bilang cinta itu tidak memaksa dan terpaksa tapi kenapa malah menculik saya." Tanya Ega lagi belum sepenuhnya membenarkan tindakan yang dilakukan Beni.


"Siapa yang memaksa dan siapa yang terpaksa. Wong kita suka sama suka hanya saja kamu gengsi mengakuinya." Sahut Beni terdengar santai.


Beni bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kaki menuju lantai Dua. Ega membututi langkah kaki Beni dan sampailah pada sebuah kamar. Beni masuk ke kamar itu, Ega juga ikutan masuk karena Gadis itu belum puas dengan jawaban yang diberikan Beni.


"klik."


Tiba-tiba pintu kamar dikunci oleh Beni, dia membawa Gadisnya itu pada dinding dan menguncinya disana.


Ega terkaget karena tidak menyangka Beni lebih horor dari apa yang dilakukan tadi.


"Apa kamu sedang menyerahkan diri sayang?" Ucap Beni memasang tampang Mesumnya.


Ega geleng-geleng kepala sambil berusaha menggerakkan tubuhnya namun Laki-laki ini benar-benar sedang memepetnya. Ega malah merasakan hembusan nafas darinya karena jaraknya begitu sangat dekat.


"Jangan takut, hanya ada kita berdua disini. Mari kita melakukannya lebih awal karena kamu sudah berada dikamar ini dan hanya kita berdua tidak ada yang akan mengganggu sayang." Ucap Beni masih dengan wajah Mesumnya.


Ega benar-benar bergidik melihat wajah Beni yang sudah berubah menjadi Pria mesum. Sorotan mata itu seakan siap menerkamnya bahkan mengkoyak-koyak tubuhnya. Ega benar-benar takut, apa ini wajah asli Beni yang sebenarnya?. Kenapa Wajah ini berubah menjadi menakutkan bahkan sorot mata yang lembut itu seakan sirna menjadi liar tak kendali.


Ega menggigil, Wajahnya sudah pucat pasi bagaimana jika Beni merenggut kesuciannya sekarang terus setelah dia dapat dirinya akan dicampakkan. "Ya Allah kenapa laki-laki ini berubah menjadi menakutkan." Batinnya.


"Kak Beni, kau membuat saya takut." Lirih Ega hampir tidak bisa bernafas.


"Kenapa takut, saya ini laki-laki yang kamu cintai dan bukankah kedekatan seperti ini yang kamu inginkan? kamu yang mengantarkan diri ke kamar ini dan saya tidak bisa menahannya lagi" Ucap Beni masih dengan tampang menginginkannya. Wajahnya semakin dekat dengan Wajah Ega dan siap mendaratkan ciumannya. Ega menutup matanya karena tidak ingin melihat wajah laki-laki yang begitu mengerikan semacam psikopat.


"Hahahahaha."


Beni tertawa lepas melihat wajah Gadisnya itu yang terlihat pucat pasi hampir kehilangan darahnya.


"Maaf sayang tadi saya hanya ngeprank. Mana mungkin saya akan menjamahmu ketika kita belum halal. Sana siap-siap jadi Isteri seorang Beni. kamu mempersiapkan diri secantik dan sewangi mungkin untuk saya buat bibir itu menjadi bengkak. Bukan hanya bibir atas saja yang akan bengkak tapi bibir bawah akan saya buat bengkak juga nanti malam." Ucap Beni menggoda Gadisnya ini. Wajahnya berubah menjadi normal kembali mata yang lembut dan raut wajah yang menenangkan.


Ega melongo dengan segala apa yang didengarnya. Tadi Beni terlihat horor dan sekarang terlihat begitu Cutenya.


"Siapa sebenarnya Calon Suaminku ini? Apa Dia Manusia atau Bunglon sih?" Batin Ega. Saking gregetan dengan Laki-laki ini membuat Ega menjitak kepalanya.


"Pletaaaaak."


"Aduh sakit, semalam kamu tinju kepala saya dan sekarang malah di jitak. Lama-lama kamu ketularan Mas Rian nih!" Ucap Beni sambil mengelus kepalanya yang kena jitakan.


"Semumpung Kak Beni masih berstatus sahabat saya nanti kalau sudah menjadi Suami mana berani saya menjitak kepala Kak Beni. Kalau nekat juga namanya saya Isteri durhaka." Sahut Ega menampilkan seutas senyum yang begitu manisnya membuat Beni terpaku sesaat.


"Sana ke Ruang perawatan kalau lama-lama melihat senyummu itu bisa-bisa saya khilaf untuk yang kedua kalinya." Ucap Beni meraih tangan Ega menuntunnya keluar dari kamar itu lalu mengajak Gadisnya ini ke kamar perawatan untuk melakukan luluran dan sebagainya. Umi Citra sudah memanggil Salon langganannya yang akan mempercantik tubuh dan Wajah Ega.


"Nah ini ruangannya." Ucap Beni ketika sudah sampai di ruang perawatan kecantikan pribadi milik Uminya.


"Mbak, dibikin tambah cantik Gadisku ini ya!" Perintah Beni kepada Dua Pegawai Salon yang sudah dihubungi Umi Citra.


"Baik Mas." Jawab Kedua Gadis itu dengan senyuman ramah.


Ega masuk ke kamar itu sedangkan Beni turun ke lantai dua karena Juna sudah berada disana. Mereka berdua berbagi tugas. Juna yang akan mengantar Banu Hardian dan Pejabat Desa untuk memberitahukan kepada Orang Tua Calon Pengantin Wanita bahwa anak Gadisnya merarik dengan Laki-laki bernama Beni Hardian.

__ADS_1


Mereka akan berangkat pagi ini mengingat Desa yang akan dituju lumayan jauh kira-kira tiga jam perjalanan. Sedangkan Beni akan mendaftarkan pernikahannya di KUA dan mengurus segala Administrasi yang diperlukannya.


Bersambung.


__ADS_2