
Hai teman-teman, Kisah Tujuh Sahabat saya lanjutkan kembali. Maaf baru bisa dilanjutkan lagi. Semoga masih ada yang mengingat dan berkenan membacanya.
Selamat membaca, Happy reading.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah beristirahat cukup, Ega menikmati sore hari dengan bersantai ria di Berugak yang ada di serambi rumah. Wanita itu sangat menikmati udara sore hari yang jauh dari kata polusi. Sementara Beni membantu Ibu Mertua menyapu halaman rumah yang begitu luas. Dengan bersemangat dia membersihkan daun-daun berguguran dan sesekali memangkas dahan pohon. Beni terlihat terbiasa melakukan itu dan sangat menikmatinya. Jika melihat keseharian Pria itu, tidak akan ada yang percaya jika dia merupakan Pewaris tunggal perusahaan otomotif terbesar di Daerah ini.
“Nak Beni, istirahat dulu biar Inaq yang melanjutkannya,” ucap Ibu Siti Fatimah. Dia tidak enak hati melihat Beni yang melakukan pekerjaan kasar.
“Tidak apa-apa Inaq, biar Beni yang menyelesaikannya, tidak baik mengerjakan pekerjaan setengah-setengah, harus dituntaskan,” sahut Beni bersemangat. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Iya sudah, Inaq ke Dapur dulu,” Ibu Siti Fatimah berlalu dari hadapan Menantunya.
“Maaf Kak Beni, saya tidak bisa membantu.” Ega berucap sedih. Wanita itu terlihat murung mengingat dirinya tidak bisa membantu pekerjaan rumah lantaran dia masih sakit.
“Tidak apa-apa sayang, kamu istirahat dulu dan pulihkan tenaga. Kalau sudah sehat baru bisa membantu Inaq,” sahut Beni menenangkan Isterinya.
Ega hanya tersenyum menanggapi perkataan Suaminya. Dia kembali terduduk dengan menyandarkan tubuhnya pada tiang berugak. Tak ada kegiatan akhirnya memutuskan mencari informasi dari Gawainya.
Beberapa menit kemudian, Beni menyelesaikan pekerjaannya. Dia menghampiri Ega yang masih duduk di Berugak untuk mengambil Teko berisi air putih. Beni lantas meminum langsung dari Teko yang terbuat dari tanah liat. Air itu terasa segar mengaliri kerongkongannya yang kering.
“Alhamdulillah, terasa segar banget,” ucap Beni memperhatikan Teko yang terlihat sangat sederhana dan unik. Teko itu terbuat dari tanah liat dan zaman sekarang jarang orang yang menggunakannya.
“Sepertinya Kak Beni menyukainya? Kalau Kak Beni mau nanti saya pesankan pada UKM Pengrajin Gerabah. Ada Teko dan juga gelas yang terbuat dari tanah liat dan juga dari batok Kelapa. Kalau dari Batok Kelapa kita bisa mampir di Pengrajin Batok Kelapa yang ada di Wilayah Utara. Saya mengenal dengan baik pengrajin tersebut.”
Beni mengangguk menyetujui dengan apa yang disampaikan Isterinya. Ega seolah mengerti keinginan dari Suaminya dan bisa membaca apa yang dipikirkan dengan hanya melihat apa yang sedang di amatinya.
“Oh ya Apa ada informasi dari teman-teman?” tanya Beni selanjutnya. Dia meletakkan Teko itu lalu beralih memusatkan perhatian pada wajah Ega.
“Tidak ada, mungkin mereka masih sibuk bekerja. Kita tunggu saja, kemungkinan informasi itu kita dapatkan esok hari,” sahut Ega serius. Dia melirik Beni kemudian meraih Tissu lalu menghapus sisa keringat yang menempel pada wajah Suaminya.
__ADS_1
“Terima kasih sayang,” sahut Beni lembut.
Ega hanya mengangguk sebagai jawaban bersama senyum manisnya. Beni lantas memeluk Isterinya berniat berbagi keringat dengan Wanita itu. Ega berteriak dengan menyebut bau asem, namun sejurus kemudian menenggelamkan diri dalam dekapan hangat sang Suami. Dia cukup menikmati harum parfum bercampur keringat yang menurutnya sangat maskulin.
“Suka?”
“Tentu, karena Kak Beni adalah Suamiku. Aku sangat menghargai keringat yang bercucuran daripada harumnya parfum. Karena keringat ini menandakan bahwa Suamiku pekerja keras dan tak memilih mana yang harus dikerjakan. Suamiku sangat hebat dan tak sombong. I Love you my Husband,” ucap Ega panjang lebar.
“I love you to, seharusnya aku yang mengatakan bukan kamu sayang. Kamu hanya menerima dan membalas cinta Suamimu ini saja." Beni membalas ungkapan Isterinya itu. Dia membelai pipi Isterinya dengan penuh kelembutan.
“Tida apa-apa, aku hanya ingin mengatakan apa yang aku rasakan saja. Aku harap Kak Beni tidak berlaku sombong dan besar kepala. Cukup menghargai dan merasa bangga karena dicintai oleh Isteri sendiri,” sahut Ega tersenyum merekah. Dia masih asyik menikmati hangatnya dekapan Suami. Untungnya tempat mereka terhalangi oleh Pohon Jeruk sehingga orang-orang lewat tidak memperhatikan kemesraan mereka berdua
***
Malam harinya, mereka tenggelam dalam obrolan. Beni dan Ega duduk di Balkon yang ada di Lantai dua. Beni menikmati bintang-bintang yang terlihat jelas di langit. Sedangkan Ega duduk bersisian dengan menaruh Kepala pada bahu kokoh itu.
“Indah ya?”
“Benar, kah?” tanya Beni tak percaya.
“Iya, tentu saja bukit itu ada tapi sekarang tidak ada satupun yang mempercayai keberadaan Bukit itu selain orang tua kita dan generasi yang sudah lahir sebelum Bukit itu di ratakan. Di sanalah kita bermain, biasanya kita main pelosotan menggunakan pelepah Pohon Kelapa. Dari atas kita meluncur tentu saja terasa begitu menegangkan. Dulu kita sangat menikmati hidup tanpa beban. Kita bermain bersama, tawa bersama dan makan bersama. Kita berkumpul dan berbaur menjadi satu dengan akrab. Sedangkan sekarang, generasi kita sudah berkotak-kotak sesuai minat masing-masing. Mereka hidup dalam dunia maya tanpa tahu seperti apa wujud sebenarnya. Mereka sibuk dengan dunia itu tanpa memperhatikan sekelilingnya. Yang mereka kenal adalah orang yang entah berada dimana sedangkan tetangga tak tahu siapa dia. Tidak ada teman sepermainan yang ada lawan dalam pertarungan tokoh Game. Menurutku sangat miris, iya kan?” Ega mulai menceritakan masa kecilnya.
“Kamu benar, kita beruntung masih memiliki tujuh sahabat. Semoga saja kita tetap akan bersahabat hingga diteruskan oleh anak-anak kita nantinya,” sahut Beni berharap.
“Aamiin.”
Ega mengamini, setelahnya terdiam. Dia mengalihkan perhatian ke arah langit menatap Bintang yang bertaburan. Dalam hatinya, dia berharap semoga saja ketenangan tidak berganti dengan rasa was-was. Wanita itu berharap tidak ada satupun seseorang yang mengusik hidupnya seperti yang terjadi hari kemarin.
“Kak, semoga saja orang yang hendak bermain-main dengan kita segera di ketahui dan tertangkap. Jika dia belum tertangkap maka hidup kita berada dalam bahaya,” ucap Ega mulai cemas. Entah kenapa dia memikirkan kejadian yang menimpanya. Pada saat inilah dia merasakan ketakutan karena khawatir tidak bisa menikmati kebersamaan dengan orang-orang tercintanya.
“Insha Allah, tidak akan terjadi apa-apa,” sahut Beni meyakinkan. Itu yang terucap nyatanya dalam hati berbeda. Beni sebenarnya sangat cemas atas keselamatan Isterinya namun berusaha tenang agar Ega tidak memikirkan hal itu.
__ADS_1
“Kita bicarakan yang lain, ceritakan masa kecil kamu saja.” Beni mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin mengingat hal buruk yang pernah menimpa Isterinya. Dan dia tidak ingin hal buruk itu menghantui mereka berdua. Hanya doa yang mampu menghalau segala macam niat jahat seseorang.
“Ah iya, dulu waktu aku kecil, kami pernah tinggal di rumah reok. Rumah beratap Daun re, berdinding bambu yang disebut Pagar dan berlantai tanah. Disana sini dindingnya bolong dan daun pintu tak bisa tertutup rapat. Mau bagaimana lagi, kita belum mempunyai rumah Pribadi. Selama ini kita tinggal di Rumah dinas Sekolah.” Ega mulai menceritakan masa kecilnya. Dia terdiam sejenak mengingat-ingat alur kehidupannya dulu. Wanita itu mengurai kembali cerita lama yang pernah dialaminya.
Sedangkan Beni menatap wajah Isterinya dengan rasa penasaran. Mengapa hal itu bisa terjadi padahal mereka mendapatkan rumah dinas. Hal itu yang ada dalam pikirannya. Namun dia tidak ingin bertanya, karena pastinya akan dia tahu dari cerita selanjutnya.
“Saat itu Mamiq pindah tugas pada Sekolah Dasar yang ada di Dasan Bilok. Mamiq dan Inaq sepakat tidak pindah ke rumah dinas yang ada di sana. Kita sudah betah disini, lagipula disinilah kita memiliki sebidang tanah. Mamiq memutuskan akan membangun rumah pada tanah yang sudah menjadi haknya. Lagipula tempat tugas baru Mamiq di pelosok sana, satu wilayah dengan Sembalun. Karena itulah Mamiq meminta izin untuk menempati rumah dinas beberapa hari sebelum kita menemukan tempat tinggal sementara. Mamiq mendapatkan izin dari Dinas. Namun kenyataannya, ada seorang Guru ingin menempati rumah yang ditempati keluarga kami. Padahal Guru tersebut menempati rumah dinas juga. Guru tersebut mengusir kita secara halus dengan dalih tempat tugas Mamiq yang tidak lagi sama dengannya. Jadi Mamiq tidak punya hak untuk menempati rumah dinas itu walaupun mengantongi izin. Tanpa berkata apapun, hari itu kami pindah ke rumah seorang Janda yang berbaik hati memberikan rumahnya untuk kita tinggali. Di bantu oleh murid-murid, kami sekeluarga pindah dari rumah dinas. Kami tinggal di rumah tersebut dengan berbagai macam problemnya. Saat hujan, rumah yang kita tempati bocor disana sini dan saat tak hujan makanan Inaq sering kemalingan. Siapa lagi Pelakunya kalau bukan Kucing. Namun kita sangat menikmatinya dengan penuh rasa syukur. Beberapa bulan kita tinggal di rumah reok sembari menunggu rumah kita selesai di bangun. Di rumah reok itulah kesabaran teruji dan ketegaran itu harus dipeluk erat. Meskipun kita mengalami keterpurukan dalam hidup dan mengalami kesulitan ekonomi. Namun kebersamaan itu sangat menguatkan kita. Kita tidak memiliki apapun selain sebidang tanah dan harapan agar kita memiliki rumah. Bertahun-tahun Mamiq menjadi Kepala Sekolah selama itu pula Mamiq tidak memiliki apapun. Mamiq pergi ke Sekolah pun menggunakan angkutan umum. Mamiq rela bergelantungan di kendaraan Umum jika tidak mendapatkan Kursi. Itu sangat membahayakan apalagi jalurnya menanjak. Mamiq tidak gentar meskipun rasa sakit itu terkadang menderanya. Demi anak didiknya, Mamiq tetap akan mengajar, meskipun banyak rintangan. Mamiq berprinsip selama badan bisa digerakkan maka selama itu pula Mamiq siap untuk mengajar. Kecuali kalau tidak lagi bisa berjalan maka saat itulah Mamiq mengistirahatkan diri untuk mendidik murid-muridnya. Pada akhirnya rumah kita selesai dibangun dengan penuh rasa syukur. Rumah di sebelah barat merupakan rumah pribadi kita dulu, rumah sederhana yang dibangun oleh Saudara-saudara Inaq. Kini rumah itu sudah hancur karena gempa yang pernah melanda Desa ini. Karena rumah itu rusak parah, Mamiq kemudian membangun rumah panggung ini.”
Selesai bercerita, Ega menunjuk rumah di sebelah barat yang kini hanya sisa puing-puing saja. Rumah tersebut belum bisa di renovasi karena menunggu dana bantuan yang tak kunjung ada kejelasannya.
Beni mengikuti telunjuk Ega tanpa berkata apa-apa. Namun dalam hatinya terbersit keinginan untuk Mertuanya itu. Dia merencanakan sesuatu tanpa mengutarakan kepada Isterinya. Beni sangat mengagumi sosok Mertuanya itu.
Beliau sangat bersahaja dan juga baik, karena hal itulah sangat disegani oleh Masyarakat di sekitarnya. Beliau siap membantu dalam bentuk apapun tanpa mengharapkan imbalan. Beliau, sosok guru yang sangat di kagumi oleh murid-muridnya. Menurut para murid, Lalu Angga Ramadhan merupakan yang sebenarnya Pahlawan tanpa tanda jasa. Beliau rela mengabdikan diri di Desa yang sangat terpencil.
Dulu, saat pertama kali menginjakkan kakinya. Kondisi di Desa ini sangat primitif. Tidak ada penerangan, sarana prasarana dan juga pusat kesehatan. Untuk mencapai Desa, kita harus berjalan kaki melewati pesisir pantai dengan jarak berkilo-kilo. Itu dulu, sedangkan sekarang Masyarakat sedang bangkit lagi dari keterpurukan saat Gempa dahsyat pernah melanda Desa ini.
Beberapa menit mereka berdua berkiaran dalam pikiran masing-masing. Saat mereka tak bersuara, Ega menatap jauh di sana seolah berusaha mengingat masa kecilnya. Dia menghela nafas berat yang terasa tak nyaman.
Jika diingat, dia merasa oknum Guru itu tak menghargai kedua orang tuanya, padahal Lalu Angga Ramadhan merupakan Kepala Sekolah yang pertama kali meletakkan batu pertama atas pembangunan Sekolah Dasar tersebut dan mengukur tanah yang menjadi aset Sekolah. Beliau juga yang menyambut dan mengupayakan rumah dinas untuk oknum guru tersebut. Setelah pindah tugas, tanpa segan lagi dia mengusir dengan secara halus tak berperasaan.
Hingga kini Ega sangat mengingat Sosok Guru itu dan sekarang entah dimana beliau bertugas dia tak lagi mendengar khabarnya. Ega berpikir, apa Oknum guru itu dendam dengan Mantan Kepala Sekolahnya lantaran pernah menegur dengan sangat keras.
Di hari itu Oknum Guru tersebut masih asyik menggunakan sarung dan baju singlet menikmati secangkir Kopi di rumah dinasnya padahal jam pelajaran sudah berlangsung beberapa jam lalu. Entahlah, Ega tak tahu apa yang ada dalam pikiran Gurunya itu.
“Terus, saat pembangunan rumah, aku ikut membantu. Aku mengangkut Pasir, batu dan juga tanah uruk. Suatu hari saat asyik membantu, tidak sengaja aku menginjak Paku berkarat. Telapak kaki ini luka dan mengeluarkan darah yang tak henti-henti. Lantas Inaq membawa ke Puskesmas yang berada di Desa Obel-obel, jaraknya sekitar 2,5 km. Aku dan Inaq berjalan kaki menuju Puskesmas itu. Aku berjalan dengan menahan kesakitan dan darah itu berceceran sepanjang jalan beraspal. Di tengah perjalanan hujan turun sangat deras, aku dan Inaq tetap berjalan tak memperdulikan hujan. Yang kita pikirkan segera sampai untuk mengobati luka agar tidak terjadi infeksi. Apesnya, tak ada satu pun kendaraan yang lewat. Aku terpaksa menyeret langkah dengan tertatih sembari menahan perih. Air mata bercampur dengan rinai hujan sehingga tak terasa kesedihanku. Sesampainya di Puskesmas aku langsung ditangani karena melihat keadaanku yang menggigil. Setelah di obati, kita tidak berlama-lama di Puskesmas. Inaq langsung mengajak aku pulang dengan pakaian basah masih melekat di Badan. Untung saja ada kendaraan umum lewat sehingga tak berjalan kaki lagi saat pulang. Malamnya aku langsung deman parah, terus bekas tusukan paku itu membekas hingga sekarang.” Ega melanjutkan ceritanya, dia memperlihatkan telapak Kaki sebelumnya dia mengucapkan kata tabek sebagai bentuk kesopanan.
Beni melihat lingkaran berwarna hitam kecil di tengah lingkaran. Pada titik berwarna hitam itu tempat Paku berkarat itu tertancap. Dia menatap wajah Ega dengan rasa sedih. Dia meraih tubuh itu lalu memeluknya sangat erat.
“Aku tidak menyangka kamu pernah mengalami masa sulit. Kesulitan itu kamu rasakan disaat masih sangat kecil. Aku tak menyangka, Gadis kecil itu bisa menahan kesakitan sembari menerobos hujan dalam jarak begitu sangat jauh. Kamu hebat sayang, pengalaman hidupmu sangat luar biasa. Sedangkan aku, pada usia itu tidak tahu apa itu terluka dan kesulitan. Aku hidup bahagia dengan segala fasilitas tanpa memikirkan esok akan terjadi apa,” ucap Beni. Dia merasa sedih mendengarkan cerita Ega yang ternyata sangat miris.
Setelah mereka puas mencurahkan segala isi hatinya. Pasangan Suami Isteri itu memilih untuk merebahkan diri karena malam kian larut dan dini hari akan segera menghampiri.
__ADS_1
Bersambung.