Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab. 22. Makan Malam Bersama Calon Mertua.


__ADS_3

Nina menampilkan tubuh indahnya yang berbalut Dress selutut dengan lengan pendek di depan kaca. Dia nampak cantik menggunakan dress mahal itu yang dia dapatkan dari Om kenalan barunya. Nina kemudian memoles wajahnya dengan mic up mahal miliknya. Dengan sentuhan sedikit saja wajahnya berubah menjadi indah.


"Perfect, aku benar-benar cantik. Aku yakin pasti Beni terpesona dengan kecantikan yang aku miliki. Siapa yang bisa menolak dengan pesona seorang Nina. Pasti Beni enggak bakalan nahan lagi kemudian bertekuk lutut meminta cinta seorang Nina. Aku akan membuat Beni klepek-klepek macam Ikan yang kehabisan air dan aku akan memberikannya oksigen cinta agar Dia mampu bernafas saking deg-degkan begitu melihat kecantikan Nina." Nina mengobrol dengan bayangannya. Dia tersenyum indah bak Mutiara yang berkilauan.


Sayup-sayup terdengar suara Ega mengaji dari Musholla di simak oleh Saik Aminah namun tidak dihiraukan oleh Nina. Dia lebih fokus dengan penampilannya yang harus cantik dan seksi agar Beni terpesona.


Selesai berdandan Nina mendudukkan dirinya pada sofa di ruang tamu dengan cantik dan anggun layaknya Wanita kelas atas. Terdengar Ega dan Saik Aminah melaksanakan shalat Isya secara berjamaah di Musholla karena sudah memasuki waktu Isya sedangkan Nina memilih untuk melaksanakan Shalat nanti saja setelah acara selesai.


Ega dan Saik Aminah selesai melaksanakan Shalat Isya, mereka kemudian merapikan alat Shalat dan menggantungkan pada gantungan yang tersedia disana.


Mereka berdua masuk rumah menuju ke dapur untuk mengisi perutnya yang sudah meminta jatah malamnya.


"Loh Nin, kamu masih disini? Beni belum jemput kamu?" tanya Ega begitu melihat Nina masih asyik duduk di sofa.


"Iya nih, Beni belum dateng padahal tadi aku sudah ngirim pesan mungkin sebentar lagi dia nongol," jawab Nina sembari matanya serius mengamati gawainya menunggu balasan dari seseorang.


"Ooh, kalau gitu kita makan dulu saja." Ega menawari Nina untuk makan malam bersama.


"Nanti saja disana. Aku diajak makan malam bersama keluarga Beni, kalau makan disini dulu entar perutku nolak makanan lezat disana karena sudah tidak ada tempatnya." Nina menolak tawaran Ega.


"Iya sudahlah kita Dinner yok, Saik," ajak Ega sambil merangkul bahu Saik Aminah lalu berjalan kearah Dapur.


"Saik tidak setuju kalau Nak Beni sama Nina, lebih cocoknya sama Baiq, sama-sama baik dan peduli sama orang lain. Kalau Nina tuh palingan ngincer isi rekening Nak Beni saja. Kalau sudah dapat, Nak Beni bakalan di buang dan nyari yang lebih tajir lagi," bisik Saik Aminah.


"Sudahlah Saik jangan Suudzon. siapa tahu aja Nina beneran suka sama Beni terus dilepas dah gelar matrenya. Beni, Insha Allah sanggup memenuhi keinginan Nina yang wah itu," sahut Ega mengingatkan Saik Aminah agar tidak berpikiran negatif terhadap Nina. Dia mengambil Nasi dan sayur asem. Lalu memulai menikmati makan malamnya. Dia mendengarkan saja apa yang diucapkan Saik Aminah. Ega hanya tersenyum saja mendengarkannya.


" Pokoknya Saik tidak rela kalau Nak Beni jadian sama Nina. Saik lebih suka Nak Beni jadian sama Baiq terus menikah. Cocok banget. Nak Beni putih terus Baiq kulitnya Cokelat yang cantik. Susu ketemu cokelat akan menciptakan sensasi rasa yang luar biasa beda susu sama susu bikin eneq," ucap Saik Aminah berpendapat.


Ega hanya menggelengkan kepala. Kenapa warna kulit dihubungkan sama rasa susu dan Cokelat mana ada nyambungnya. Selera manusia terhadap lawan jenis bukan dilihat dari warna kulitnya tapi hanya rasa yang tahu seperti apa selera seseorang. Batinnya.


"Sudah ah jangan bergosip. Saya sama Beni hanya bersahabat mana mungkin Sahabatan tiba-tiba jadi sepasang suami Isteri. Itu mah ada dalam Dunia Ayu dan Dito," sahut Ega sembari tersenyum. Dia menyuap makanannya.


"Siapa mereka? Itu, kan ada? berharap kalau Ega dan Beni berjodoh bukan Nina dan Beni," ucap Saik Aminah berharap.


"Saya lebih suka menjaga persahabatan daripada menjaga perasaan. Lagipula mana mungkin Beni suka sama Ega begitu juga sebaliknya. Saya takut juga melanggar komitmen persahabatan kita, bisa ngamuk Dipta," balas Ega menyangkal harapan Saik Aminah.


"Loh kok gitu? Nina boleh sedangkan Baiq enggak boleh? kalau memang kalian ada komitmen seharusnya Nina juga tidak boleh ada rasa sama Beni tapi malah melanggar, bagaimana sih?" tanya Saik Aminah heran.


"Tau sendiri Nina kayak gimana orangnya, jangankan komitmen persahabatan segala aturan juga dilanggar sama Nina. Kita larang ditanggapi sama Dia ibarat kita menyuruh enggak bakalan didenger." Saik Aminah seakan tidak suka dengan kedekatan Nina dengan Beni. Dia tahu seperti apa Gadis itu. Gadis yang tak cocok dengan Beni. Saik Aminah sudah menganggap Beni dan Ega seperti anaknya. Karena itulah dia sangat menginginkan Beni dan Ega agar hidup bersama.


Huft.


Saik Aminah sudah kehabisan kata untuk menyahuti pemikiran Ega yang menolak dijodohkan dengan Beni.


Sementara Nina merasa dongkol karena Beni tidak kunjung datang. "Apa Beni akan ingkar janji tapi bukan Beni namanya kalau ingkar janji karena Beni selalu amanah. Apa yang dia ucapkan akan sama dengan perbuatannya," batin Nina. Dia mondar mandir gelisah.


Nina tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. "Aku tidak boleh gagal makan malam bersama orang tua Beni, ini kesempatan aku mengambil hati Umi dan Abinya Beni. Aku harus berhasil mengambil hati mereka agar dijadikan menantu satu-satunya di keluarga Beni itu artinya aku bakalan jadi Nyonya Beni dengan limpahan harta kekayaan orang tua Beni. Tentu saja seperti itu karena Beni anak tunggal dan kemana lagi akan dilimpahkan hartanya kalau bukan ke Beni. Kalau aku berhasil malam ini apa aku akan pensiun mengejar Om Om, lihat nanti aja dah," ucap Nina bermonolog.


Selagi asyik Nina bermonolog terdengar suara Motor berhenti di depan gerbang pintu masuk halaman rumah Ega. Tidak begitu lama terdengar gerbang didorong kemudian seseorang masuk ke halaman rumah Ega.


"Itu pasti Beni, panjang umur baru saja aku pikirin eh dia sudah nongol saja. Apa aku berjodoh sama Beni? iya pastilah aku berjodoh, buktinya aku diundang sama Umi dan Abinya Beni untuk ngebahas ini. Beruntung banget dah aku." Nina membatin dengan senyum mengembang.


Dia segera beranjak menghampiri pintu arah keluar kemudian membuka handle pintu. Dengan senyum cantik, dia menyambut kedatangan Beni yang sedang membuka helmnya.


"Ben, baru nyampai?" tanya Nina basa basi.


"Iya, sorry terlambat tadi saya disuruh ke rumah Paman dulu sama Umi," sahut Beni datar.


"Oh gitu, enggak apa-apa."


"Kok kelihatan sepi? Ega sama Saik Aminah mana?" tanya Beni menanyakan keberadaan pemilik rumah.


"Ada di dalam sedang dinner berdua. Biarkan saja kita tidak usah ganggu. Ayok kita berangkat saja," ucap Nina hendak menahan Beni agar tidak bertemu dengan Ega.


"Enggak boleh gitu dong, saya harus izin sama yang punya rumah. Saya jemput disini seharusnya minta izin sama Ega. Enggak sopan rasanya langsung pergi begitu saja. Ini juga ada titipan untuk Ega dari Umi." Setelah berkata Beni menuju ke arah Nina yang berdiri di depan pintu sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh," salam Beni.


Dijawab oleh mereka bertiga.


"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh."


"Kak Beni sudah datang? Apa langsung berangkat atau........" tanya Ega menggantungkan pertanyaan karena Nina lebih dahulu memotong kalimat Ega.


". .... Kita Langsung saja, iya kan Ben?" potong Nina.

__ADS_1


"Enggak sopan memotong pembicaraan orang, seharusnya kamu denger dulu apa yang akan dikatakan Ega," ucap Beni kesal atas sikap Nina yang main serobot saja.


"Iya tuh macam es potong saja kamu Nin?" seru Saik Aminah ikut menimpali.


"Sorry." Nina meminta maaf dengan wajah yang sulit terbaca.


"Iya sudah, kita berangkat saja. Oya Ga ini ada titipan dari Umi," kata Beni memberikan sebuah bungkusan titipan dari Umi Citra.


"Umi Citra kok repot-repot sih? Ini apa?" tanya Ega penasaran sambil menerima bungkusan mencoba menetralisir keadaan.


"Tidak tahu juga, tadi pas dikasik sudah dibungkus jadi ndak bisa ngintip deh," jawab Beni.


"Kiriman saya terima dengan keadaan baik dan sampaikan terima kasih sama Umi Citra. Oya sebentar saya titip Bluberry untuk Anisa, dia pasti seneng," ucap Ega kemudian masuk ke arah dapur sambil menenteng sebuah bungkusan yang dititip oleh Umi Citra. Tidak menunggu waktu lama Ega kembali dengan menenteng kotak buah.


"Ini buah Bluberry untuk Anisa, tadi kita panen sama Saik Aminah," ucap Ega memberikan kotak buah tersebut.


"Makasi Ga, kalau begitu saya berangkat dulu takutnya entar kemalaman." Beni berpamitan kepada Ega dan Saik Aminah begitu kotak buah tersebut beralih ke tangannya.


Mereka berdua meninggalkan kediaman Ega sebelumnya tidak lupa mengucapkan salam yang dibalas oleh Ega dan Aminah beserta doa keselamatan.


Motor Matic Beni terdengar meninggalkan rumah Ega menuju kediaman orang tua Beni.


"Kenapa enggak pakai Mobil sih Ben, kalau gini mah rusak penampilan aku. Kamu tuh harus peka jadi cowok. Masak cewek secantik aku kamu jemput pakai motor, nanti dikata-katain kita gembel padahal kamu punya mobil, kan? Kenapa malah dianggurin?" Omel Nina kesal karena tidak sesuai ekspektasinya yang dijemput menggunakan Mobil Lamborghini. Ia ingin orang iri melihat Nina si Gadis cantik di Kota ini dijemput sama pangeran tampan


yang turun dari Lamborgini, pasti bikin orang yang melihatnya akan iri sekaligus gigit jari karena Beni memilihnya. Dalam diam, dia ingin melihat Ega iri dan kecewa karena tidak mampu meraih hati Beni. Putra tunggal dari Pengusaha nimor wahid di Daerah ini. Kenapa Nina ingin banget melihat Ega iri dengan keberhasilannya menggaet Lelaki lajang yang tampan nan tajir. Tapi angannya tak seindah kenyataan. Nyatanya dia dijemput menggunakan motor matic.


"Nasip oh nasip," batin Nina kesal.


"Kendaraan saya hanya motor saja, jadi jangan terlalu berkhayal kalau saya bakalan jemput kamu pakai Mobil mewah. Saya tidak punya mobil, itu punya orang tua saya lagipula peduli amat sama kata orang, memangnya saya kenyang dengan perkataan orang, enggak kan? cuek aja kali jadi jangan protes!" jawab Beni santai.


Nina hanya mendengus kesal. Dia lebih memilih memperelat pelukannya agar semua memandang iri melihat sepasang Kekasih yang sempurna. Lelakinya tampan dan Gadisnya cantik sehingga tidak sanggup untuk bersaing dengannya.


"Kalau gini mah aku tidak dapat apa-apa dong? dapatnya hanya omelan, bete banget deh," gerutu Nina dalam hati.


Selang beberapa menit mereka sampai di rumah orang tua Beni.


Beni mengetuk pintu dan tidak menunggu lama pintu rumah dibukakan oleh Bi Siti yang bekerja di rumah orang tua Beni.


Beni langsung mengajak Nina ke ruang makan keluarga karena Umi dan Abinya sudah menunggu disana.


Nina terbengong melihat penampakan rumah Beni yang luas dan mewah. Dia melihat perabotan dan furniture yang pastinya harganya mahal. Beda dengan gubuknya yang kecil dengan beberapa penghuni di dalamnya karena itulah Nina sering menginap di rumah Ega untuk menghindari sempitnya kehidupannya. Apa salahnya jika dia menjelma menjadi cewek matre dan mencari pacar tajir yang akan dia nikahi agar kehidupannya bahagia dan terpenuhi segala keinginannya.


Begitu sampai ruang makan keluarga terdengar ucapan salam dari mereka berdua.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh."


"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh," jawab orang tua Beni.


"Ini namanya Nina, cantik banget," sambut Umi Citra ramah.


"Iya Tante, saya Nina," jawab Nina sambil meraih tangan Citra kemudian mencium punggung tangan Uminya Beni.


Sedangkan Abi Beni nampak berpikir keras begitu melihat wajah Nina.


"Saya pernah melihat dimana Gadis ini?" Batin Abi Beni mencoba mengingat-ingat. Dia seperti pernah melihat Gadis itu dalam pertemuan.


"Jangan panggil Tante, panggil saja Umi, Umi Citra dan ini Abinya Beni namanya Abi Banu Hardian," ucap Umi Citra memperkenalkan Suaminya.


"Hai Om aku Nina," sapa Nina mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Abi Beni namun Banu Hardian tidak menanggapi uluran tangan Nina, Banu mengatupkan kedua tangan sambil menganggukkan kepala tanda menerima perkenalan Nina.


"Sok suci banget enggak mau bersentuhan tangan sama aku padahal pingin banget elus-elus tangan mulus aku, kan? Apa mungkin karena ada Umi Citra. Lihat saja Om Banu, aku pastiin Om tidak akan pernah lepas dari sentuhan lembut seorang Nina. Om pasti akan ketagihan dan rela memberikan apa yang aku minta," batin Nina berusaha menggoda Banu dengan pesonanya.


"Kok malah asyik berdiri, mari kita duduk," ucap Umi Citra menyadarkan mereka.


"Gadis cantik ini siapa? Ini pasti Anisa, ya?" Tanya Nina mengarahkan pandangan ke arah Anisa yang sedang asyik duduk mendengarkan pembicaraan mereka.


"Iya Tante saya Anisa," jawab Anisa dengan sopannya.


"Pasa, Tante ini siapa?" Tanya Anisa mengarahkan pertanyaan kepada Papanya.


"Ini sahabat Papa, namanya Nina panggil saja Tante Nina," jawab Beni.


"Oh Sahabat Papa, oh ya Tante Ega kan Sahabatnya Papa juga, kok enggak diajak Pa?" tanya Anisa lagi.


Nina terbatuk, dia tidak menyangka sama sekali kalau Anisa mengenal Ega dan sudah sedekat itu. Memang sih Ega sangat menyukai anak kecil beda dengan dirinya yang tidak suka sama sekali.

__ADS_1


"Wadowh bisa-bisa Anisa jadi penghalang aku untuk mendapatkan perhatian Beni. Sepertinya aku harus baik-baik sama anak kecil ini." Ega membatin.


"Tante Ega sibuk, ada acara keluarga juga. Ini dititipin Bluberry sama Tante Ega," jawab Beni berbohong sambil menyodorkan kotak berisi Bruberry.


"Asyik Tante Ega tahu saja kesukaan Anisa, bilang Makasi Pa sama Tante Ega," sambut Anisa bahagia mendapatkan buah Bruberry kesukaannya.


"Siap laksanakan 86," jawab Beni sambil hormat.


"Iya sudah kita makan saja," ucap Umi Citra memulai acara makan malam mereka.


"Nak Nina dulu waktu SMA sekolah dimana?" Tanya Umi Citra disela dia menikmati makan malamnya.


"Aku mau jawab apa ya? Aku kan enggak melanjutkan ke SMA hanya sampai SMP saja. Apa aku pakai info sekolah Ega aja kali ya?" Batin Nina.


"Ditanya tuh kok malah bengong," tegur Beni.


"Maaf Umi, tadi nanya dimana aku Sekolah ya? Aku Sekolah di SMK," jawab Nina pasti setelah dia berhasil menguasai pikiran kalutnya.


"Sekolah kejuruan, ambil jurusan apa?"


"Akuntansi Tante," jawab Nina gugup mencoba mengingat jurusan yang diambil Ega.


"Pinter dong hitung-hitungannya?" tanya Umi Cinta terkesan memuji.


"Lumayan Tante."


"Terus kalau Kuliah dimana?" Tanya Umi Citra lagi.


"Tidak kuliah Tante, aku langsung kerja sebagai kasir di Toko Tas dan Sepatu," jawab Nina ragu karena Uminya Beni seperti sengaja menginterogasi dirinya.


Umi Citra mengamati penampilan Nina yang terlihat berkelas. Tas yang di tentengpun kalah dengan Tas miliknya yang biasa dan enggak mahal. Umi Citra terkenal sederhana dan tidak memiliki koleksi sepatu, baju, tas bermerk ataupun perhiasan mahal padahal Umi Citra merupakan Pengusaha Mutiara terbesar di Kota ini bahkan Mutiara-mutiaranya tembus pasar Internasional. Alasannya cukup sederhana saja, dia tidak mau kalau koleksinya akan merepotkan di akherat nanti.


Umi Citra bukan bermaksud untuk menilai Nina apalagi merendahkannya. Dia hanya ingin mengenal gadis itu.


"Kalah saya dengan Gadis ini. Penampilannya berkelas banget padahal hanya kerja di Toko. Apa Gajinya Gede ya? Beda dengan Mamsa atau juga Ega penampilannya sederhana banget, saya suka itu," batin Umi Citra. Dia tidak ingin terburu-buru berprasangka buruk kepada Nina. Dia ingin mengenal gadis dulu jika memang Gadis ini yang menolong Putranya.


"Pa, Ninik dan Tante Nina, Anisa duluan ya?" Pamit Anisa bangkit dari tempat duduknya kemudian menuju kamarnya untuk istirahat.


"Abi juga duluan, mau melanjutkan pekerjaan," pamit Banu setelah menyelesaikan makan malamnya.


Tinggallah mereka bertiga di meja makan.


"Beni, maaf Toiletnya dimana ya?" Tanya Nina setelah dia menyelesaikan makannya.


Beni menunjuk dengan jempolnya arah menuju Toilet sambil menjelaskan secara singkat.


"Makasi Ben, aku ke Toilet dulu, permisi Tante," pamit Nina yang dibalas dengan anggukan.


Nina menuju ke arah Toilet namun pikirannya malah menuju ke arah ruang kerja Banu Hardian karena tadi Nina sempat melirik kemana arah kaki Banu Hardian berjalan.


Nina tersenyum misterius begitu sampai pada ruang kerja Banu Hardian. Nina langsung saja membuka pintu tanpa diketuk. Nyembullah dirinya dihadapan Banu Hardian yang terlihat terkejut. Nina langsung minta maaf seolah-olah salah alamat.


"Maaf Om aku nyasar, tadi aku pikir ini Toilet," ucap Nina mulai memainkan dramanya.


Banu mengangguk tanda mengerti, karena mana mungkin ke Toilet mengetuk pintu atau mengucapkan salam.


"Om Beni selalu sibuk ya? padahal ini di rumah lo Om? tapi kok masih saja kerja? bukannya rumah tempat kita istirahat dan kantor tempat kita kerja ya Om?" Celoteh Nina sambil duduk di depan Banu Hardian menampilkan senyum terindahnya dan duduk secara anggun. Dia sedikit menaikkan dressnya agar terlihat paha putih mulusnya.


"Mau bagaimana lagi, banyak kerjaan yang harus diselesaikan jadi Om kerjakan dirumah," jawab Banu menanggapi ocehan Nina. Dia tetap fokus kearah layar laptopnya.


"Apa Om enggak capek, aku pijetin ya?" ucap Nina memulai aksi pijetnya di pundak Banu Hardian.


Tentu saja membuat Banu Hardian terkaget karena tidak menyadari kalau Nina sudah ada di belakang sambil mencoba memijitnya.


"Astaghfirullah." Ucap Banu Hardian terlonjak kaget mencoba menghindari tangan Nina yang sudah mulai memberikan sentuhan lembut pada bahunya.


" Nina apa-apaan ini? apa yang kamu lakukan kalau ditahu sama Beni dan Umi bakalan salah paham ini. keluar kamu dari ruang kerja saya," bentak Banu Hardian. Dia terlihat emosi, wajah teduh Banu Hardian berubah jadi menyeramkan.


Nina terkaget, dia tidak menyangka mendapatkan penolakan dari Banu Hardian. Keinginannya untuk menggoda Banu Hardian ternyata pupus sudah. Dia tidak menyangka kalau Banu Hardian bukan laki - laki hidung belang yang terpikat dengan kecantikan dan mau dirayu oleh kecantikan parasnya namun ternyata dugaannya salah total. Banu Hardian bukanlah Om - om yang selalu ditemaninya dan bersedia menjadi pacar gelapnya.


"Maaf Om." Ucap Nina panik kemudian meninggalkan ruang kerja Banu Hardian.


Nina segera menghampiri Beni dan Umi Citra dan meminta Beni untuk mengantarkannya pulang karena Dia merasa kurang enak badan. Setelah Nina pamitan dengan Umi Citra dengan langkah cepat Dia meninggalkan rumah Beni karena tidak mau berurusan dengan Banu Hardian yang akan menahan langkahnya untuk mendapatkan Beni Hardian.


" Mati aku, aku pikir Abinya Beni bakalan gampang aku taklukin tapi malah aku memecahkan kesempatan itu. Dasar bodoh, kalau sudah begini bakalan susah untuk mendapatkan Beni." Umpat Nina dalam hati.

__ADS_1


Beni mengantarkan Nina ke rumahnya tanpa pembicaraan. Beni seakan malas berbicara sedangkan Nina menyesali kebodohannya sekarang langkah apa yang harus dilakukannya. Rupanya Nina salah perhitungan dan salah langkah, kali ini Dia tidak mempelajari mangsanya dan main serobot saja.


Bersambung.


__ADS_2