
Malam minggupun tiba. Waktu Malam Minggu di manfaatkan oleh para jomblowan dan jomblowati Tujuh Sahabat untuk berkumpul. malam ini mereka rencananya berkumpul di tempat karaoke keluarga semumpung Evan bisa ikut bergabung.
Begitu mereka sampai di Room yang dipesan. Terdengarlah suara emas mereka masing-masing. Mereka merupakan bintang Room karoke yang terkenal memiliki suara yang lumayan dapat diperhitungkan. Namun hanya sebatas di Room tersebut.
Sementara Ega dan Nina hanya diam saja mendengarkan mereka bernyanyi. Kedua Gadis itu hanya sebagai backing vocal untuk meramaikan saja. Dimana mereka bernyanyi untuk meluapkan kegembiraan saat itu dan menghibur diri mereka dari kelelahan setelah sekian lama berjuang mencari Rezeki. Pada tempat itu mereka memperlihatkan suasana hati mereka dengan penuh emosional tanpa takut diketahui oleh orang lain. Terkadang Lagu yang dipilih mewakilkan apa yang sedang dirasakan meskipun tidak seluruhnya benar.
Sedang si Cempreng Evan sibuk dengan aksi siaran langsungnya. Evan sibuk ngoceh sendiri dan mengarahkan kameranya kearah mereka untuk merekam aktivitas mereka.
Ega terkadang ikut bernyanyi itupun harus berduet untuk menyamarkan suara jeleknya. Begitu juga dengan Nina, dia kurang Percaya diri mengeluarkan suara emasnya jadinya hanya ikut-ikutan saja. Tidak ada yang serius untuk mengasah bakat yang mereka pendam.
Setelah mereka puas bernyanyi. Mereka melanjutkan acaranya di sebuah Cafe untuk mengisi perut yang sudah kerongcongan.
"Kita Makan apa nih?" tanya Juna yang sedang memilih makanan yang hendak di pesan pada Menu makanan yang tersedia disana.
Saat ini mereka sudah berada pada Cafe Favorit mereka dan di klaim menjadi tempat memanjakan Perut mereka. Mereka juga terkadang berburu makanan untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka akan cita rasa kuliner. Namun tetap saja Cafe tradisional ini yang menjadi pilihan mereka. Selain lezatnya menu yang dihidangkan dan terjangkau oleh Kantong mereka. Cafe ini juga memberikan kesan menenangkan dengan konsep alam yang menyegarkan. Terlihat beberapa tumbuhan dan berbagai jenis bunga tumbuh subur untuk memanjakan pandangan mata para pengunjung.
"Saya Nasi putih saja dengan Ikan Laut saja deh, terus lalapan, minumnya jeruk hangat." Ega memulai pesanan. Dia melirik teman-temannya yang masih asyik memilih dan menemukan makanan yang mengunggah selera mereka.
"Saya spaghetti," ucap Dipta tiba-tiba memecahkan keheningan saat yang lainnya belum memesan.
"Gaya kamu Dip, merasa diri seperti orang Itali saja." Evan mengomentari pesanan Dipta yang tak berpihak pada makanan local. Pria yang dikenal suka makan itu memang menyukai makanan kebarat-baratan. Entah mengapa Lidahnya menyukai menu ala Eropa. Namun bukan berarti tidak menyukai makanan Nusantara, hanya saja itu pengecualian.
"Biarin emangnya situ makan pelecing kangkung saja, Pantesan muka kamu seperti kangkung dengan mata sayu seperti Herman ngantuk," sahut Dipta.
"Daripada kamu Ayam kalkum, semuanya bengkak." Evan membalas olokan Dipta dengan olokan juga. Terjadi saling mengolok diantara mereka sebelum memulai menikmati makan malam.
"Ya Allah kapan makannya kalau kalian ribut terus." Ega berusaha menengahi.
"Bisa diam enggak kalian berdua, seperti emak-emak yang kehabisan gincu saja," celoteh Nina ikut meredamkan suasana yang bergejolak.
"Hahahaha, seperti apa tingkah emak - emak kehabisan gincu Nin?" tanya Juna diawali dengan tawanya yang terdengar renyah.
"Iya itu seperti Evan dan Dipta, ribut," jawab Nina sekenanya.
"Berarti kalian berdua emak-emak dong," ujar Rian ikut nimbrung sembari mengarahkan pandangan ke arah Evan dan Dipta secara bergiliran sedangkan Pria berparas tampan berkulit putih bernama Beni Hardian hanya tersenyum saja
menyaksikan sahabatnya yang berdebat tanpa ikut mengomentari.
Beni dan Ega pada akhirnya mengambil alih, kalau nunggu mereka, bisa-bisa besok pagi mereka makan malamnya.
"Daripada kalian ribut, saya sudah pesan semua. Suka maupun tidak suka kalian harus terima dan memakannya dengan habis," Kata Beni memberitahu mereka dan mengakhiri perdebatan yang entah ujungnya dimana.
"Kalau sudah Beni beraksi mah, kita nerima-nerima saja jadinya," sahut Dipta pasrah.
"Lasingan siapa suruh kalian berdua ribut, begini jadinya, kan?" ucap Juna.
__ADS_1
"Wajar saja kita ribut, mau memberi warna dalam kehidupan persahabatan kita nanti waktu tua otomatis paling di inget sahabat kita yang sering ngajak ribut," ujar Evan panjang lebar.
"Yoi Van, pasti saat hari tua nanti yang paling saya inget kamu Van dengan suara cemprengmu itu," sahut Dipta terlihat sumringah.
"Terus yang lain tidak di inget? mungkin Nina yang paling Cantik se Pulau Lomboq," Celoteh Nina ikut masuk ke dalam pembicaraan Evan dan Dipta.
"Ogah kali harus inget kamu Nina, saya inget kamu pada urutan terakhir itupun saya terpaksa," sahut Dipta tersenyum jahil.
Terlihat Nina cemberut menampakkan wajah cantiknya, walaupun Nina sedang cemberut tetap saja keliatan cantik. Kulit putihnya bersinar-sinar terpantul oleh cahaya lampu.
"Ngambek tuh Ninanya, ante tuh Dipta bisa kagak bersikap manis sama Nina," ucap Rian menegur Dipta.
"Mulut saya bukan gula kali Mas akan tetapi mulut pare, pahit!" sahut Dipta tersenyum simpul.
"Saya juga tidak minta di inget sama kamu, cukup Beni saja yang inget saya, iya kan Beni," ucap Nina mengarahkan pembicaraannya ke Beni.
"Insha Allah saya akan inget semuanya kok," jawab Beni serius.
"Kok Beni saja yang diminta untuk inget sama Nina, terus yang lain tidak minta di inget juga. Jadi curiga nih? Jangan-jangan ada sesuatu? Apakah gerangan itu? Ayo jujur saja?" tanya Juna penasaran. Ada maksud dari lain perkataan Nina.
"Enggak ada apa-apa kok Jun," jawab Nina malu. Malu kalau Juna mengerti keinginan hatinya.
"Jangan bilang kamu suka sama Beni," tembak Dipta. Tembakan Dipta mampu membuat Beni keselek tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Dengan cepat Ega mengambilkan air minum yang ada di depannya kemudian menyodorkan segelas air mineral kepada Beni.
Ega hanya mengangguk.
Sedangkan Nina terlihat tambah malu, tembakan Dipta tepat sasaran. Nina memang mengakui itu secara diam-diam.
"Ente makanya hati-hati, jadi keselek, kan," ucap Rian yang berada disamping Beni.
Saat mereka asyik mengobrol, obrolan mereka terhenti ketika hidangan pesanan mereka datang. Mereka mulai menikmati pesanan masing-masing yang di pesan Ega dan Beni. Rupanya mereka berdua sudah tahu selera masing-masing terbukti dengan tidak adanya aksi protes dari mereka.
"Serius anti suka sama Beni? Kenapa enggak sama ane saja sih Nina? Ane kan lebih keren dari Beni. Putihnya air beras dibuang sedangkan hitamnya kopi diminum," kata Rian membuka pembicaraan disela mereka menikmati makan malam.
"Inget lo, kita itu terikat kontrak komitmen persahabatan. Masak iya kamu mau melanggar sih Nin!" kata Evan
mengingatkan.
"Komitmen itu kan berlaku untuk kita berempat. Aku, Ega, Dipta dan kamu Evan sedangkan Beni tidak termasuk didalamnya karena Beni terlambat hadir dalam kehidupan persahabatan kita jadi dia tidak pernah membuat pernyataan tentang komitmen itu. Apa salahnya jika ternyata aku suka sama Beni. Apa masalah buat kalian?" Nina menyahuti apa yang diucapkan Evan dengan nada santai.
"Jelas masalah, itu menganggu kenyamanan kita selama ini. Jika ada yang namanya rasa itu akan mengakibatkan kondusivitas persahabatan kita terganggu." Dipta mengomentari Nina yang seakan ingin melanggar Komitmen persahabatan yang pernah diikrarkan dulu. Meskipun Beni paling terakhir bergabung tetap saja kalau sudah menjadi bagian dari Tujuh Sahabat maka komitmen itu tetap berlalu baginya.
"Perasaan kamu saja kali Dipta, kamu tidak mau melihat aku sama Beni pacaran, kan? makanya menggunakan komitmen persahabatan itu sebagai senjata untuk memisahkan aku dengan Beni, bilang saja begitu? Egois!" sahut Nina kesal.
__ADS_1
Pernyataan Nina membuat semua terdiam apalagi Beni yang menjadi topik pembicaraan terlihat tidak nyaman sama sekali.
"Hai kenapa malah diam, enggak seru ah. Aku mau buat tebak tebakan, merasa paling jenius silahkan menjawab," ucap Ega tiba - tiba berusaha mencairkan suasana yang sudah mulai tidak kondusif.
Ucapannya mampu membuat mereka melupakan ketidaknyamanan mereka tadi.
"Apa tebakannya?" Tanya Juna penasaran.
"Bulu ketemu bulu dunia dilupakan," kata Ega melemparkan tebakannya.
Terlihat mereka mulai berpikir disela mereka menikmati makanan masing-masing.
"Ah ngeres dah jawabannya ini," Celoteh Evan terlihat membayangkan.
"Cuci pikiran kotormu itu Van, entar bikin kepala kamu pusing terserang Virus," sahut Ega menepis pikiran kotor Evan.
"Lasingan tebakannya kok seperti itu, jadi pikirannya ke arah lain deh," sahut Evan diakhiri dengan menyuap makanannya.
"Alah bilang saja tidak tahu, nyerah saja," ucap Ega mematahkan semangat Evan untuk bisa menemukan jawabannya.
"Jadi tidak ada yang tahu nih?" Ega bertanya ketika menyadari beberapa menit dia menunggu jawaban namun tak ada satupun dari mereka membuka suara untuk memberikan jawaban yang benar.
"Mas Rian bagaimana? Mas tahu kan jawabannya? Secara kan Mas paling ahli merayu cewek pasti banyaklah punya kosakata, pantun atau tebakan - tebakannya. Biasanya kan play boy pandai mengolah kata," ucap Ega bertanya sama Rian. Dia mengarahkan pandangannya ke arah Rian yang masih asyik menikmati makanannya tanpa bersuara. Sedari tadi hanya diam menyimak mereka meskipun dalam diam dia sedang berpikir juga untuk bisa menebak jawaban yang memungkinkan jawabannya itu benar.
Setelah berpikir pada akhirnya Rian menggeleng tanda tidak tahu. " Modal gue cuma tampang keren dan fitti saja makanya cewek mendekat," Gumannya penuh percaya diri.
"Alah soknya, padahal saya lebih keren dari kamu Rian," ucap EvanĀ percaya diri.
"Iyalah ante keren tapi lebihnya tetap nempel ke ane dong, lebih keren gitu. permak dulu tuh muka biar bisa saingan sama ane," sahut Rian tersenyum.
"Sombong, muka gitu saja sudah merasa paling keren padahal ada orang yang jauh lebih kerenpun hanya diam saja, yaitu saya." Juna menyela pembicaraan antara Evan dan Rian untuk menengahi mereka sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Wualah tadi kita main tebak tebakan kok malah lari dari topik pembicaraan sih?" ucap Ega geleng-geleng kepala.
"Tau tuh, padahal orang paling Keren, tampan dan tajir melintirpun hanya diam saja enggak sombong seperti kalian." Tiba - tiba Nina berceloteh yang sedari tadi hanya diam menikmati makanannya.
"Emang siapa cowok yang dimaksud Nin?" Tanya Juna penasaran.
"Tuh cowok yang ada dihadapan saya." Tunjuk Nina dengan ekor matanya.
" Beni," ucap mereka serempak mengarahkan pandangannya ke arah Beni.
Beni yang menjadi pusat perhatianpun kikuk.
Cowok-cowok yang tadi berisik mendadak gagu. Mereka mengakui kalau Beni memang paling keren dan tampan tapi kalau tajir tentu saja tanda tanya besar dalam benak masing-masing.
__ADS_1
Bersambung.