
Pada Magrib harinya, Ega dan Saik Aminah tengah asyik mengaji di Mushola, mereka tidak mendengar suara gerbang yang dibuka oleh seorang gadis yang muncul dari balik pagar besi. Gadis berparas cantik melangkah kearah Berugak. Dia membiarkan mereka melanjutkan mengajinya dengan tidak memberikan salam. Gadis cantik itu tidak menggangu mereka yang sedang asyik menbaca ayat-ayat suci Alquran yang terdengar begitu indah menenangkan hatinya.
Sesampainya di Berugak gadis itu menghempaskan diri, dia duduk berselonjor dan merebahkan bahunya di tiang berugak yang terbuat dari Bambu. Gadis cantik itu terlihat menikmati suara merdu Ega. Sesekali dia melirik Handphone yang ada dalam genggamannya, membaca dan membalas. Terkadang dia terlihat tersenyum, kaget, heran dan bingung yang nampak dari wajah cantiknya.
Gadis cantik itu bernama Nina Khaerunnisa. Dia memiliki kecantikan diatas standar, kulitnya putih bersih, hidung mancung terlihat begitu menggoda, bibir seksi menambah aura kecantikan ditambah mata sipit khas gadis oriental, di dukung dengan body gitar spanyol yang seksi. Body itu benar-benar menggugah selera para lelaki yang memandangnya. Parasnya memang nyaris sempurna sehingga banyak sekali cowok-cowok mengejar untuk mendapatkan perhatiannya, ada yang serius ada juga sekedar bersenang-senang.
Termasuk para cowok keren yang tak pernah absen untuk menggoda maupun merayunya. Dia tidak pernah absen mendapatkan gombalan dari para cowok keren terutama datangnya dari Rian. Dia paling wahid dalam urusan menggombali cewek. Kegiatan merayu dan menggoda Nina, merupakan kegembiraan tersendiri dalam persahabatan mereka. Nina memang dekat dengan semua Sahabatnya namun yang paling dekat dengannya adalah Laki-laki bernama Beni Hardian. Laki-laki pendiam itu yang tak pernah sama sekali tertarik untuk menggoda, merayu maupun menggombali Nina sehingga membuat Nina penasaran dan beranjak mendekat.
Nina berusaha untuk menarik perhatian Beni tapi Beni datar-datar saja. Jangankan sama Nina yang cantiknya tidak ketulungan sama Ega-pun dia dingin saja. Entah apa yang ada dalam hati dan pikirannya sehingga tak nampak wajah ketertarikannya. Orang yang tak mengenal Beni pasti akan mengira kalau Beni adalah manusia angkuh dan tersombong didunia, dia seakan tak memiliki cinta yang dia tempatkan didalam hatinya. Namun jika kita mengenalnya dia merupakan pribadi yang baik, hangat, ramah bahkan terkadang jahil hanya saja Beni tidak pernah menampakkan ketertarikannya kepada wanita, itu saja yang membuat wanita menganggapnya cowok angkuh.
“Loh, Nina kamu ada disini? udah lama?” sapa Ega yang baru aja selesai Sholat Isya.
“Iya nih, sepulang kerja aku langsung kesini. Ga, aku mau menginap disini, boleh?" Nina meminta izin untuk menginap di Rumah Ega karena dia tidak nyaman tinggal di Rumahnya yang sangatlah sempit.
“Boleh, kayak kamu orang lain saja, ayok masuk,” ajak Ega ramah.
Nina bangun dari duduknya kemudian mengikuti arah kaki Ega kedalam rumah, sesampainya didalam rumah dia langsung ke kamar Ega sedangkan Ega dan Saik Aminah ke arah Dapur.
“Kamu langsung aja ke kamar, saya mau makan dulu, laper, kamu sudah makan?” pamit Ega sekaligus menanyakan kepada Nina apakah dia sudah makan.
“ Sudah tadi, terima kasih sudah mau memberikan tumpangan. Aku kemeng dirumah, tidak dapat istirahat. Ribut, maklumlah rame penduduknya.”Nina menceritakan penderitaannya yang menyebabkan dia memilih pulang ke rumah Ega.
Ega hanya tersenyum menanggapi cerita Nina, Ega tahu persis seperti apa kondisi rumah keluarga Nina. Hal itulah yang menyebabkan Nina sering menginap di Rumah. Tidak masalah bagi Gadis manis itu untuk memberikan tumpangan kepada Nina apalagi dia hanya berdua saja dengan Saik Aminah.
Ega berlalu meninggalkan Nina yang menuju kamar. Dia hendak menuju Dapur untuk mengisi Perutnya yang sudah keroncongan.
Ega menikmati makan malamnya bersama Saik Aminah. Setelah selesai dia masuk kamarnya dan menemukan Nina yang lagi asyik mendengarkan music lewat handphone. Nina menggunakan headset jadi tidak tahu musik apa yang sedang didengar sehingga tidak menghiraukan kehadiran Ega. Ega hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kesenangan yang dinampakkan oleh sahabatnya.
Nina Khaerunnisa. Gadis cantik itu merupakan sahabat Ega dari zaman SD dulu. Ega tidak sengaja bertemu dengan Nina. Pada saat itu Nina terlihat ketakutan berlari ke arah Ega yang sedang berkunjung ke rumah Neneknya yang berada di Kota bernama Lingkungan Gebang.
“Sembunyikan saya," ucap Nina terdengar bergetar.
Melihat ada seorang anak kecil yang seumuran dengannya nampak ketakutan tanpa berpikir lagi Ega kecil menyuruh Nina kecil masuk kearah kamarnya. Ega pura-pura tidak tahu ketika ada seorang Bapak-bapak menanyakan tentang keberadaan anak kecil. Setelah merasa aman, Ega kemudian masuk dan mendapati Nina yang masih menangis. Nina kecil terlihat ketakutan dan wajahnya pucat dengan banjir air mata.
“Aku tidak mau kembali lagi bersama Amaq ke rumahnya. Inaq Tiri saya suka memukul, saya mau ikut sama Inaq saja.” Gadis kecil itu menceritakan kepedihannya yang selama ini dialaminya saat berada di Rumah Bapaknya. ( Amaq panggilan untuk Bapak sedangkan Inaq panggilan untuk Ibu ).
Ega hanya mendengarkan apa yang diceritakan oleh Gadis kecil yang belum dikenalnya.
“Alhamdulillah kamu sudah aman, Bapak-bapak tadi yang menanyakan kamu sudah pergi,” ucap Ega menenangkannya.
Ega kecil bingung harus berbuat apa. Jujur saja dia tidak paham dengan kondisi yang dialami oleh gadis kecil berusia sama dengannya, yang tiba-tiba meminta perlindungannya. Apalagi saat ini tidak ada Neneknya di Rumah hanya dia sendiri.
Gadis kecil itu tidak mengeluarkan sepatah kata hanya memperdengarkan suara tangisan yang membuat Ega pilu.
“Saya Ega.” Ega memperkenalkan diri untuk memecahkan kerisauan gadis kecil tersebut.
“Aku Nina," jawab Nina menyambut uluran tangan Ega sembari tersenyum.
Ega hanya menganggukkan Kepala tanda ia mengerti. Dia membiarkan Gadis kecil bernama Nina itu menenangkan diri. Ega menunggu Nina untuk menceritakan kisah hidupnya. Dia yakin teman barunya itu ingin bercerita terbukti dengan cara dia memandang Ega memintanya untuk mendengarkannya.
"Sekarang kita Teman, kalau ada yang ingin kamu ceritakan diceritakan saja, saya bersedia mendengarkannya," ucap Ega tulus. Dia meyakinkan Nina bahwa mulai saat ini dia akan menjadi Temannya.
“Terima kasih sudah membantu saya. Saya sudah tidak sanggup lagi, setiap hari saya harus berjualan sehabis pulang sekolah. Tidak peduli apakah saya lelah, mengantuk ataupun lapar. Saya tetap harus berjualan jika jualan saya tidak habis maka saya tidak mendapatkan jatah makan malam dan saya hampir setiap hari menerima pukulan dari Inaq .” Nina kecil menceritakan segala kepedihan hatinya. Mata indahnya mulai berkaca-kaca mengingat itu semua. Ega kecil yang mendengar cerita dari Teman barunya berusaha untuk menenangkannya.
“Kok ada orang tua sejahat itu. Apalagi usianya masih kecil, bukan kewajibannya untuk mencari uang.” Ega membatin. Dia merinding mendengar cerita Nina. Ega melihat Nina kecil yang berusaha tersenyum untuk memudarkan penderitaannya. Wajah itu sangat pucat namun tidak memudarkan kecantikan alami yang terpahat disana.
Ega bersyukur dia memiliki orang tua yang baik, penyayang dan selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Kehidupan yang sederhana tetapi tidak merasa kekurangan apapun. Rasa syukur itu mencukupkan apa yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Meskipun sedikit tapi tetap harus disyukuri setidaknya kita masih bisa bertahan untuk melanjutkan hidup. Apa yang didapatkan oleh keluarga Ega lebih dari kata cukup sedangkan untuk orang lain mungkin saja jauh dari kata cukup. Tergantung apanya yang akan dicukupkan, jika keinginan tentu saja jauh dari kata cukup walaupun di berikan harta seluas samudera Hindia-pun tetap bakalan tidak cukup, karena keinginan manusia itu tak terbatas.
Semenjak hari itu, Nina tinggal bersama Ibu Kandungnya dan Adik tirinya. Karena setelah bercerai dengan Bapaknya, Ibunya kembali menikah dan memiliki satu orang anak perempuan.
Nina melanjutkan sekolahnya di Sekolah tingkat pertama bersama dengan Ega. Semenjak Ega lulus Sekolah Dasar dia melanjutkan sekolah ke Kota karena di Desanya belum ada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama hanya ada Sekolah Dasar saja. Karena alasan itu Ega di kirim ke Kota bersama dengan kakaknya bernama Fahri dan Lani yang pada saat itu sudah menjadi Mahasiswi.
__ADS_1
Pendidikan Nina hanya sampai SMP saja, dia tidak melanjutkan Sekolah ke SMA lantaran Ibunya yang Janda tidak mampu membiayai sekolahnya apalagi harus membiayai sekolah adiknya. Nina memilih ikut bekerja di Warung milik Tantenya.
Nina tidak berkecil hati, dia selalu berjuang dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Ibu dan juga adiknya. Walaupun dia hanya bekerja di Warung Nasi tapi tidak membuatnya patah arang, dia selalu semangat melanjutkan pendidikannya untuk tahap selanjutnya meskipun yang dia ikuti program paket C. Dia mengikuti program itu karena tidak memungkinkan untuk melanjutkan sekolah lagi Karena mengingat usianya. Dia berhasil mendapat Ijazah paket C, dengan Ijazah tersebut dia diterima di sebuah Toko sebagai pelayan.
Ega masuk ke kamarnya, dilihatnya Nina sedang asyik dengan gawainya. Ega mendekati Nina kemudian ikut merebahkan diri disamping Nina.
" Asyiiik bener, denger lagu apa sih?”tanya Ega sambil mengambil Headseat yang ada ditelinga Nina.
“ Apaan sih? ganggu saja," ucap Nina kesal.
“ Sewot ni yeee? kayak saya mau ambil telinga kamunya saja," ucap Ega asal.
“ Apaan sih?” terlihat mata Nina sedikit melotot.
“ Takut ah, matamu serem banget, mengalahkan mata Suzananya Luna Maya,"komentar Ega pura-pura bergidik.
“ Matanya Suzana atau matanya Luna Maya?" Nina malah bertanya dengan pandangan bingung. Dia menggelengkan Kepalanya tak mengerti dengan perkataan Sahabatnya itu.
“Maksudnya matanya Luna yang berperan jadi Suzana, itu loh serem," sahut Ega menjelaskan.
“Masak mata cantikku disamain sama Luna Maya, jauuuuuuuuh bangeeeeet,” kata Nina merentangkan tangannya seolah – olah memperlihat jaraknya.
"Iya jauh banget jaraknya, tapi Cantikkan dialah,” ucap Ega sambil tersenyum.
“Ah kamu mah selalu belain orang lain, tidak pernah namanya sekata dan sepaham denganku,” kata Nina sedikit ngambek.
“Iyalah kamu lebih cantik dari saya,” sahut Ega menghibur. Ega tidak mau memperpanjang aksi ngembeknya Nina. Dia tidak memungkiri kalau Sahabatnya itu memang cantik. Beda dengan dirinya yang berwajah biasa-biasa saja dengan kulit berwarna Sawo Matang dengan julukan si Buluk.
“Kalau itu mah semua orang tahu, kalau aku lebih cantik dari kamu, tak diragukan lagi. Udah ah aku mau melanjutkan dengerin music jangan ganggu.” Nina kembali merebahkan diri lalu mulai mendengarkan musik dari Handphonenya sesekali dia bernyanyi mengikuti lirik lagu dengan disertai gerakan.
“Emangnya kamu tidak di apelin, Nin?” Ega malah bertanya tak menghiraukan ancaman gadis yang sedang asyik kembali menikmati lagu-lagu yang ada di Handhphone. Ega mengambil headset yang ada ditelinganya karena Nina tidak menjawab pertanyaannya.
“Aduh ganggu aja sih, lagi asyik nih!” Gerutu Nina sambil melepas Headseatnya.
“Tadi saya nanya, harus jawab dong! aturannya kalau ada yang bertanya kudu harus dijawab, iya kan?” sahut Ega menjelaskan.
“Lagian kamu juga, nanyanya tidak penting, males ah.” Nina cemberut sembari memainkan rambut sebahunya. Setelah puas dia kembali fokus dengan Handphonenya.
“Iya sudah saya pergi, saya mau nonton aja, percuma ada kamu disini malah dicuekin,” guman Ega datar. Ega
segera beranjak dari kasurnya hendak meninggalkan Nina yang asyik dengan Dunianya.
Baru saja beranjak keluar dari kamar tiba-tiba Nina menghentikan keasyikan. “Iya deh saya pasrah. Saya akan menemani sahabatku yang paling baik sedunia ini.”
“Tidak apa-apa, tadi aku cuma bercanda lagian juga aku mau keluar ada yang mau aku beli.” Ega menjawab sambil cengengesan karena berhasil mengganggu sahabatnya itu.
“Dasar Ega, keterlaluan,” Gerutu Ninas kesal.
“hahahaha.” Ega tertawa sambil berlalu meninggalkan Nina.
Nina memperlihatkan wajah dongkolnya karena Ega telah mengganggu keasyikannya.
Selang beberapa menit Ega kembali membawa kantong plastic yang berisi snack. Kebiasaan Ega mengemil dimalam hari. Snack-snack tersebut seakan menjadi menghibur dirinya yang jomblo akut. Setiap hari minggu dia duduk manis di depan Televisi menonton acara lawakan dan juga anime Naruto.
Ega juga tidak absen menonton MotoGP,
acara Favoritnya. Dia jarang menonton Sinetron, palingan awalnya saja lama-lama bosen kalau jalan ceritanya sudah menyimpang dari kenyamanan hatinya. Kalau sudah ada rasa kesel pada hatinya maka Ega tidak akan menonton sinetron lagi. Mendingan nonton Upin Ipin walaupun di ulang-ulang daripada harus nyesek ingin memakan Televisi.
“Nih Snack, yang akan menemani kita malam ini,”Kata Ega menaruh kantong plastic di atas meja yang ada diruang tamu. terlihat Nina sudah duduk manis menonton Televisi. Dia menoleh sebentar kemudian kembali ke pandangan semula.
“Kamu tidak diapelin?”Ega kembali mengulang pertanyaannya. Biasanya malam minggu Nina asyik dengan kegiatan waktu kunjung pacarnya tapi kali ini malah asyik nangkring di gubuknya Ega.
__ADS_1
“Tidak, sudah tadi sepulang dari toko aku dijemput terus diajak jalan-jalan. Tuh dikamar hasilnya. Hari ini waktu keluarganya." Nina menjawab pertanyaan Ega yang membuatnya merasa terganggu. Dia tidak mengalihkan pandangannya dari acara yang dia tonton.
Mendengar itu, Ega penasaran apa yang dimaksud Nina. Ega masuk terus mencari tahu apa itu? Jiwa keponya berontak untuk segera mengetahui apa itu. Ega melihat dua buah Paper Bag. Ega membuka Paper bag tersebut, dia menemukan sehelai gaun yang begitu cantik dari merk ternama. Ega kembali membuka Paper bag satunya lagi, terlihatlah Tas nongol dihadapan Ega dari dalam Paper Bag tersebut.
“Cantik banget, Ini mah mahal banget, merk terkenal." Ega membatin dengan barang-barang yang dilihatnya.
Ega keluar dari kamar menuju ke ruang tamu.
“Gaun sama Tas ini maksudnya?" Ega bertanya menunjukkan barang yang dipegangnya.
“Iya. Keren, kan? dibeliin sama pacarku. Kalau aku mana sanggup beli walaupun nabung beberapa tahunpun aku
bakalan tidak sanggup beli," jawab Nina dengan riang.
“Hehehe iya, sama aku juga gaji setahun belum cukup beli nih tas. Maklumlah gaji PNS hanya cukup untuk makan
sehari-hari," ucap Ega sumringah seakan tidak merasa kekurangan apapun.
Nina tersenyum. “ hebat, kan? aku berhasil mendapatkan Gaun dan Tas mahal. Om-ku itu royal banget.”
“Apa? Om-ku? jadi pacar kamu Om Om?” tanya Ega tidak bisa menyembunyikan kekagetannya.
Terlihat Nina menggangukkan kepalanya bangga.
“Astaghfirullah." Ega beristigfar.
“ Kok malah istigfar, seharusnya bahagia dong kalau sohibmu ini mendapatkan cowok tajir," Kata Nina tersenyum. Dia bangga dengan apa yang diperolehnya. Tidak perduli dengan siapa dia berpacaran asalkan Pacarnya itu dapat memenuhi gaya hidupnya.
“Tapi tidak harus Om Om kali Nina, apa kamu tidak kasian sama istri dan anaknya?" Ega menasehati Sahabatnya itu agar berhenti mencari dan memanfaatkan Om Om tajir yang menjadi target cintanya.
"Aku tidak merusak kebahagiaan keluarga mereka, Pacarku tetap kok perhatian sama keluarga mereka. Aku hanya mengambil sedikit waktu dan uangnya saja, tidak salahkan?” sahut Nina membela diri dan membenarkan tindakannya.
“Astaghfirullah, Nina Nina." Ega menggelengkan Kepala atas pembenaran yang dilakukan oleh Nina.
“Tenang saja, aku tidak akan jadi pelakor, aku hanya menjadi pacarnya saja. Cuma senang-senang saja. Para Om itu
butuh hiburan, aku butuh barang-barang bermerk yang aku inginkan. Deal, kan? Lagian mana berani aku merebut laki orang. Bukan Nina kali, kayak tidak ada cowok lajang saja yang mau sama aku," ucap Nina panjang lebar menjelaskan.
“Terus yang ini apa maksudnya?" tanya Ega tidak habis pikir dengan jalan pikiran Nina.
“Cuma senang-senang saja, kapan lagi ketemu om tajir yang mau membagi-bagikan rezekinya sedikit untukku, kalau pacaran sama cowok lajang mah pelit, enggak ada modal jadi pacarannya sama Om tajir dan loyal,” ungkap Nina jujur.
Lagi-lagi Ega mengelus dada sambil geleng-geleng kepala. Dia menghempaskan nafasnya kasar.
“ Jangan Khawatir Ga, aku baik-baik aja, semua barang yang aku dapatkan dikasik kok bukan aku yang minta. Masak rezeki ditolah kan mubazir.”
“Tapi Nin, Apa kamu tidak berpikir kalau nanti tuh Om akan mengungkit pemberiannya, menjadikan kamu terikat dengannya. Mungkin saja kamu hanya senang-senang saja tapi kita tidak tahu hatinya Om itu, mungkin saja dia serius sama kamu. Dengan kamunya menerima segala pemberiannya, ia mengartikan kalau kamu itu miliknya. Biasanya kalau cowok sudah berkorban dan memberikan segala yang diinginkan sama cewek maka dia akan menuntut yang sama.” Kata Ega menasehati Nina.
“Maaf Nina, bukan maksud aku sok menasehati atau ikut campur urusanmu, aku cuma mengingatkan akan dampak buruknya nanti.” Ega melanjutkan ucapannya.
“Sudahlah tidak usah dipikirin, akan baik – baik saja. Kapan lagi aku memiliki barang – barang mahal dan
bermerk, entar aku pinjemin deh.” Ujar Nina menawarkan gaun dan Tas mahalnya untuk dipergunakan oleh Ega.
“Nina, kamu tuh ya? Aku ingetin malah nawarin sesuatu yang tidak aku suka." Kesal Ega.
“Iya dah, iya dah. Ega yang tak silau dengan barang branded. Jadi biarkan aku menikmati hidup semumpung ada yang bersedia untuk memberikannya,” ucap Nina bahagia.
Ega terdiam, dia kehabisan kata-kata untuk mengingatkan Nina, tapi iya sudahlah itu pilihan Nina pikirnya. " Aku bisa apa kalau berhadapan dengan kepala batunya, yang terpenting aku sudah mengingatkannya.” Batin Ega.
Nina tetap bersyukur, karena mengingat pendidikannya yang hanya SMA, ya wajar saja lowongan yang di isi hanya pelayan toko. Berkat kesupelannya dan kepintarannya dia dipercaya untuk mengelola keuangan toko. Awalnya dia begitu bingung tapi berkat bantuan Ega yang mengajarinya Komputer dan ilmu akuntansi sehingga sedikit tidaknya dia mengerti bagaimana caranya membuat laporan keuangan.
__ADS_1
Bersambung.