Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
69. Tidak Mungkin Dia!


__ADS_3

Ega masih tidak sadarkan diri saat mendapatkan penanganan dari Dokter di Puskemas yang ada di Bayan.


Matanya masih terpejam dengan wajah pucat. Setelah diperiksa terdapat beberapa luka di tangan dan juga kakinya. Pun begitu juga dengan Juna yang langsung mendapatkan penanganan. Beruntungnya Juna tidak separah yang dialami oleh Ega.


"Bagaimana keadaan Isteri saya Dokter?" tanya Beni kepada Dokter Wanita yang merawatnya.


"Berdasarkan hasil pemeriksaan, Isteri anda sempat mengalami sesak nafas." Dokter memberitahu keadaan pasien yang sedang ditanganinya.


"Sesak nafas?" tanya Beni terkejut dengan diagnosa dari Dokter tersebut.


"Iya, sesak nafas terjadi bukan disebabkan karena dia memiliki riwayat penyakit itu. Bisa jadi disebabkan oleh alergi sesuatu, Pengaruh cuaca, kelelahan dan sebagainya," jawab Dokter itu menjelaskan.


"Jangan khawatir, Isteri anda tidak apa-apa. Dia tidak memiliki riwayat sesak nafas. Mungkin saja dia kelelahan. Bisa jadi akibat dia terjatuh dan ada bagian tubuhnya yang dia rasakan sakit menyebabkan dia kesulitan bernafas. Untungnya pada saat itu terjadi dia segera mendapatkan pertolongan pertama. Saya memperkirakan seperti itu" lanjut Dokter menjelaskan.


"Pertolongan pertama? maksudnya Dokter?" tanya Beni tidak mengerti.


"Kemungkinan Isteri anda mendapatkan nafas bantuan dari seseorang sehingga dia bisa melewati masa kritisnya," jawab Dokter menerangkan.


Beni terkejut. Dia tidak mengira apa yang terjadi dengan Isterinya bisa separah itu. Disana hanya ada Juna, berarti yang memberikan nafas bantuan adalah Juna.


Entah apa yang dipikirkan Beni saat ini. Antara terluka dan juga bersyukur. Bersyukur bahwa Ega selamat dan ia terluka, ada Lelaki lain menyentuh bibir cherry yang dia inginkan hanya dirinya saja boleh menyentuhnya.


Apakah dia cemburu? bukan saatnya dia cemburu? masalahnya Juna yang melakukannya, tentu saja itu yang membuatnya terluka. Dia mendapati kenyataan bahwa Juna mencintai Wanitanya. Tidak menutup kemungkinan dia mengambil kesempatan untuk menikmatinya.


"Tidak mungkin Juna sepicik itu?" Beni membatin dan menolak pikiran sempitnya. Dia mempercayai sahabatnya itu sekaligus menaruh curiga kepadanya. Kini keduanya saling berperang mempertaruhkan kepercayaan itu.


Beni berperang dalam pikiran. Seharusnya dia tidak boleh egois dan cemburu. Jika menuruti keduanya akan membuat kehilangan hubungan baiknya.


"Maafkan saya Ben, hanya itu yang bisa saya lakukan untuk membuat Ega bernafas dengan baik. Dia kehilangan kesadaran dan nafasnya tersenggal, dia sangat sulit untuk bernafas. Saya khawatir melihat keadaannya apalagi saya melihatnya sangat tersiksa. Dia seakan berjuang untuk hidup dan bertahan." Juna menjelaskan. Tanpa sengaja dia mendengarkan pembicaraan Beni dan Dokter. Hal itulah membuatnya terpanggil untuk menjelaskan agar tidak terjadi kesalah fahaman di antara mereka.


Beni tersenyum, dia memilih legowo. Apa yang dilakukan oleh Juna hanya semata-mata untuk menyelamatkan Isterinya bukan untuk hal lainnya. Mungkin saja jika dia berada diposisi Juna. Dia pasti akan melakukan hal sama untuk menolong orang yang memerlukan bantuannya.


"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Saya mengerti bahkan saya berutang budi sama kamu karena sudah menyelamatkan Ega. Terima kasih Jun," sahut Beni menenangkan hati sahabatnya itu. Terlihat jelas raut Juna yang menyimpan rasa bersalah, tidak enak hati dan juga khawatir.


"Sama-sama," balas Juna menganggukkan kepala.


Saat tengah asyik mengobrol, saat itu pula Ega membuka matanya.


"Aduh sakit." Ega merintih. Dia merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya. Dia mengamati sekeliling dan pada saat itulah dia menyadari sedang di rumah sakit. Dia juga ingat ada seseorang yang menabraknya. Tabrakan itu yang membuatnya terjatuh ke Jurang. Dia juga menyadari sesuatu namun memilih untuk tidak mengingatnya.


"Kak Beni," panggil Ega lirih. Dia melihat Beni bersama Juna sedang mengobrol. Mereka berdua sedang duduk pada kursi plastik yang tersedia disana.


Beni, mendengar namanya dipanggil dia segera beranjak menuju sisi Brangkar lalu mendudukkan diri pada kursi yang tersedia. Dia meraih tangan Ega lalu menggegamnya erat. Tatapan itu penuh cinta yang tertuju hanya untuk Wanita itu.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang," ucap Beni penuh rasa syukur. Dia langsung memeluk tubuh Isterinya untuk meredakan kekhawatiran yang menderanya.


Juna yang berada disana, saat ini bisa bernafas lega. Kekhawatiran itu secara perlahan beranjak pergi. Kini yang terlihat wajah cerah yang semula berkabut kesedihan. Rasa syukur itu terucap tulus mengucapkan terima kasih atas pertolongan Tuhan Yang Maha Penolong.


"Mana yang sakit sayang?" tanya Beni lembut. Dia membelai pucuk kepala Ega yang tertutupi jilbab.


"Aku tidak apa-apa sayang, hanya nyeri sedikit pada ini," jawab Ega sembari menunjuk dadanya.


Mungkin karena terpentur batang pohon yang menyebabkan rasa sakit. Nanti juga sembuh dan rasanya tidak sakit lagi," lanjut Ega. Dia berusaha untuk kuat agar Suaminya itu tidak mengkhawatirkannya.


"Oh ya bagaimana keadaan Abang Juna?" Pertanyaan itu Ega tujukan kepada Juna sembari mengarahkan pandangannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah saya baik-baik saja. Hanya luka ringan dan sudah diobati sama Dokter," jawab Juna meyakinkan.


"Syukurlah, Alhamdulillah," ucap Ega lega.


Mereka terdiam, menikmati keheningan yang mulai terasa. Saat keheningan itu menguasai. Terdengar langkah kaki dan suara orang mengobrol. Langkah itu sepertinya menuju ke arah kamar rawat Ega. Terbukti dengan suara yang kian mendekat.


"Assalamualaikum." serempak mengucapkan salam. Salam tersebut berasal dari Evan, Rian, Dipta, Fiza dan Amanda.


"Waalaikumussalam," jawab semua yang ada di dalam.


Satu persatu mereka menampakkan diri lalu mengelilingi brangkar Ega. Terlihat wajah asing yang juga ikut bergabung.


"Bagaimana keadaan mbak?" tanya Amanda mewakilkan.


"Alhamdulillah mbak baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Ega lirih.


"Alhamdulillah," ucap mereka serempak.


"Mbak saya minta maaf, saya tidak sengaja menabrak mbak. Sumpah saya tidak sengaja dan bukan bermaksud untuk menabrak Mbak. Untuk menyenggol mbak juga tidak ada dalam pikiran saya. Saya tadi cukup hati-hati. Hanya saja saya merasa ada yang mendorong saya sehingga membuat tubuh hilang keseimbangan lalu menabrak mbak yang ada di depan saya." Pemuda yang menabrak Ega meminta maaf sekaligus menjelaskan. Ada gurat kejujuran dibalik wajahnya yang ketakutan.


"Ada yang mendorong kamu?" tanya Beni dan Juna dalam waktu bersamaan.


Pemuda itu menganggukkan kepala membenarkannya.


"Iya, tadi saya menginterogasi Pemuda ini. Dia menjelaskan dengan detail. Dia juga anak baik dan sedang mondok pada Pesantren di wilayah ini. Jadi, ini murni bukan kelalain dari Pemuda ini." Dipta menjelaskan. Tadi sebelum mereka ke Puskesmas Dipta dan sahabat menyisir tempat kejadian dan berharap mendapatkan petunjuk.


"Saya menemukan Pin ini?" ucap Evan memperlihat Pin temuannya.


Beni melihat Pin itu lalu mengamati dengan seksama.


"Iya, kamu benar Ben. Kita sudah seaching untuk mengetahui Bunga apa itu tapi kita tidak menemukannya," sahut Dipta sedikit frustrasi. Dia merasa gagal menjadi detektif dadakan.


"Kasus besar ini," ucap Juna serius. Dia berpikir begitu lama kemudian dia berteriak membuat semua terlonjak kaget.


"Saya inget, waktu kita istirahat ada Lelaki juga ikut istirahat bersama kita. Dia menggunakan Jaket berwarna hitam dan wajahnya ditutupi masker. Terus pada Jaket bagian kiri ada bordiran bertulis RD dan bordiran bunga. Bordiran itu kecil hampir tak terlihat. Karena mata saya jeli dan juga saya paling dekat dengan lelaki itu membuat saya bisa melihatnya dengan jelas." Juna berucap untuk mengurangi ketegangan yang ditimbulkan dirinya.


"Ane juga melihat Lelaki itu. Sedikit mencurigakan,sih?" sahut Rian ikut menanggapi.


"Lantas apa hubungannya dengan jatuhnya kamu dengan Ega?" tanya Dipta berusaha menghubungkan.


"Dipta, kamu inget enggak? ada orang yang tiba-tiba menyalip kita dengan kostum yang sama?" tanya Juna.


Dipta berpikir sebentar lalu mereply gambaran ingatannya.


"Iya, saat itu kita berjalan beriringan, terus Pemuda ini di depan kita, terus ada Ega dan Beni di depan Pemuda ini. Ketika kita asyik mengobrol, orang itu menyalip kita dan seketika itu Ega tertabrak. Kejadiannya sangat cepat sehingga tidak tahu apa yang terjadi. Anehnya Lelaki itu menghilang. Seharusnya dia yang menolong mengingat posisinya yang memungkinkan untuk melakukan itu, nyatanya dia melangkah dengan santai ketika kita sedang paniknya." Dipta menjawab apa yang sempat dilihatnya. Namun dia tidak menyadari apa yang dilakukan oleh orang yang sengaja menyalipnya.


"Fix, orangnya sama. Dia sengaja melakukannya?" sahut Juna kembali berpikir.


"Untuk apa? apa orang tersebut mengincar Isteri saya dan berusaha mencelakainya? lantas untuk apa?" tanya Beni serius. Dia mulai mencerna apa yang dijelaskan oleh Juna dan Dipta. Dia memandang Isterinya yang memutuskan untuk beristirahat. Ega tertidur dengan nafas yang teratur.


"Coba saya lihat Beni," ucap Juna meminta Pin tersebut. Beni menyodorkan Pin tersebut kepadanya.


"Sepertinya saya pernah melihat Pin yang sama dengan ini? Tapi siapa yang pernah memakainya, ya?" Juna berucap sembari mengamati.


"Saya juga merasa seperti itu. Tapi siapa yang pernah menggunakan Pin ini," sahut Beni membenarkan pernyataan Juna.

__ADS_1


"Coba saya lihat." Evan mengambil Pin yang di pegang oleh Juna.


Evan mengamati dengan seksama lalu mengalihkan pandangannya kepada Ega yang tertidur.


"Saya pernah melihat Ega menggunakan Bros yang mirip dengan Pin ini. Ada inisial RD dan bunga seperti ini. Bros itu sepertinya dibuat dengan menggunakan perak." Evan kemudian memberitahu apa yang diingatnya. Dia ingat, Ega sering menggunakan bros yang berbentuk bunga dengan inisial RD seperti bentuk Pin yang ditemukan.


"Nah bener, Ega pernah memakai bros yang bentuknya sama dengan Pin ini," sahut Juna kemudian setelah mengingatnya.


"Berarti orangnya sangat mengenal Ega. Buktinya Lelaki itu memiliki barang yang sama dengan milik Ega. Mungkin barang ini adalah barang couple. Bisa jadi Lelaki itu pernah menjadi orang yang spesial," ucap Beni menduga.


"Kira-kira siapa, ya? setahu saya Ega hanya pernah menjalin hubungan dengan Ivan Alkaeri dan Mirza Hasan," sahut Evan sembari berpikir.


"Sepertinya bukan Hasan, dia tidak mungkin melakukan itu," lanjut Evan kemudian setelah berpikir.


"Kamu benar Van, saya menduga yang melakukannya adalah Ivan Alkaeri. Inisial ini mungkin saja Raka dan Dinda. Raka dan Dinda merupakan panggilan kesayangan mereka," sahut Beni serius. Dia sangat yakin inisial RD itu adalah Raka dan Dinda.


"Apa? mana mungkin Mas Ivan tega melakukan itu. Ivan orangnya baik. Membunuh Nyamukpun dia tak tega apalagi tindakan kejahatan," sahut Dipta tidak mempercayai itu.


"Iya, saya rasa bukan Mas Ivan. Dia Lelaki baik dan juga memiliki kedalaman agama yang patut perhitungkan. Dia juga taat sekali dengan kewajiban waktu. Agak ragu jika Mas Ivan setega itu," sahut Evan ikut mendukung pernyataan Dipta.


"Tapi bukti mengarah kepada Ivan Alkaeri. Ini tidak bisa dibantah lagi," sahut Beni serius.


"Ini baru dugaan sementara kita. Jangan sampai menuduh Ivan tanpa bukti yang kuat?" Juna menengahi. Dia juga meragukan bahwa Lelaki itu yang melakukan itu. Meskipun dia baru mengenalnya tapi dia bisa menilai bahwa Ivan bukan orang jahat.


"Lantas siapa? apa maksud orang tersebut mencelakai Ega? Jika Ivan yang berbuat pasti sasarannya adalah saya. Apa mungkin sebenarnya saya tapi Ega yang kena," ucap Beni menduga.


Hening, mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Petunjuk memang ada dan sangat jelas mengarah ke siapa. Namun mereka tidak mau membuat kesimpulan yang tergesa tanpa bukti yang kuat. Kelihatan ini akan rumit namun kebenaran haruslah diketahui.


"Sebaiknya kita jangan menduga-duga. Bagaimana kalau kita menyelidikinya? ini kasus yang harus kita pecahkan dan saatnya kita keluar dari hiatus," ucap Evan bersemangat dengan kejadian yang dialami oleh sahabatnya itu.


"Sepakat," ucap Dipta bersemangat.


Sementara itu, Pemuda yang menjadi talenan dari seseorang itu hanya tertunduk dengan gelisah. Dia berharap tidak mendapatkan masalah dalam hari-harinya. Tapi apa yang terjadi dengan hari ini? Dia tanpa keinginannya telah mencelakai seseorang.


Huf


Pemuda itu bernafas dengan gelisah. Dia melihat semuanya terdiam membuatnya mempunyai kesempatan untuk bersuara.


"Abang, apa bisa saya dibebaskan? saya mohon jangan melibatkan saya dalam hal ini. Saya tidak mengenal Lelaki yang dimaksud. Saya juga tidak tahu menahu apa yang terjadi. Saya ke Sendang Gile hanya untuk rekreasi bukan untuk mencelakai orang." Pemuda yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan yang tak dimengertinya pada akhir berbicara. Dia memohon dengan wajah memelas agar dibebaskan.


"Baiklah, kamu boleh kembali ke Pondok. Belajar yang rajin, ya!" ucap Dipta membebaskan Pemuda itu.


"Terima kasih Abang," ucap Pemuda itu bahagia. Dia menjabat tangan Dipta dan semua yang ada disana.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam," balas semuanya serempak.


Selang beberapa menit kepergian Pemuda itu. Ada orang lain memberikan salam membuat orang yang ada di kamar inap Ega mengarahkan pandangannya ke arah Pintu.


Mereka tentu saja terkaget melihat seraut wajah menampakkan diri dengan kekhawatiran.


"Mas Ivan?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2