Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 34. Kisah Nara.


__ADS_3

" Jadi kamu meninggalkan Nara sendirian disana?" Tanya Lexi begitu mendengarkan cerita yang sebenarnya.


" Iya, Nara yang memintanya karena tidak mau saya mengganggu kalian berdua. Nara menginginkan hanya ada Nara dan Lexi disana menikmati indahnya malam. lagipula saya juga tidak mau menjadi pengganggu pada malam romantis kalian berdua." Jawab Mandala mengenang malam itu.


" Nara sebenarnya sangat mencintai kamu Lexi. Dia tidak bermaksud menolak kamu ketika kamu menembaknya. Dia hanya terkejut dan tidak bisa berkata apa - apa. Baginya apa yang didengarnya selaksa mimpi."


" Benarkah Nara mencintaiku?" Tanya Lexi terlihat begitu bahagianya. Wajahnya terlihat sumringah namun seketika berubah galau begitu matanya beradu pandang dengan manik indah milik Ega yang ada dihadapannya.


Gadis itu tersenyum dengan menganggukkan kepala tanda tidak perlu memikirkan perasaannya, tidak akan terjadi apa - apa pada hatinya.


" Saya duluan saja, lanjutkan nostalgia kalian. Saya dan teman - teman hendak melanjutkan mencari Nina sebelumnya kita akan makan dulu. Nanti Abang Juna menyusul saja." Ucap Ega kemudian balik kanan berjalan menghampiri teman - teman yang masih menunggu. Ega tidak enak menganggu mereka berdua yang baru saja bertemu, mungkin saja mereka ingin berdua saja untuk menyelesaikan kesalahfahaman diantara mereka.


" Tunggu." Ucap Lexi yang membuat Ega menghentikan langkahnya.


" Tidak perlu kalian mencari Nina lagi karena Nina berada di tempat yang aman. Sebenarnya Nina di culik sama Papa dan saya sudah membebaskannya. Kalian langsung pulang saja nanti aku akan meminta seseorang yang akan mengantarkannya pulang." Sambung Lexi memberitahu keadaan Nina.


" Alhamdulillah, terima kasih karena kamu telah menolong Nina." Ucap Ega ketika sudah membalikkan tubuhnya menghadap Mandala dan Lexi yang sedang berbicara.


" Kalau begitu kita duluan, Abang Juna nanti menyusul saja." Pamit Ega kembali berjalan kearah teman - temannya.


" Kita duluan Jun." Teriak Beni, Dipta dan Rian yang hanya dianggukkan oleh Juna sebagai persetujuannya.


Mereka meninggalkan Lexi dan Juna dengan penuh canda tawa.


" Ga, beneran wajah kamu enggak apa - apa? Nyeri enggak?" Tanya Beni prihatin melihat wajah Ega yang terlihat bengkak dan berwarna biru.


" Lumayanlah tapi ini lebih baik daripada di Bogem oleh Maag tepat di ulu hati. Saya lapar sepertinya maagh saya kambuh deh." Ucap Ega serius membuat teman - teman yang lain mempercepat langkahnya.


" Wualaaah bisa berabe kalau kamu sampai pingsan disini tidak ada yang berani membopong tubuh kamu." Celoteh Dipta mempercepat langkahnya.


" Kenapa?" Tanya Rian malah bingung.


" Takut dosa, tahu sendiri kalau Ega tidak suka tubuhnya disentuh oleh siapapun. Kalau nekat bisa - bisa kita diomelin setiap ketemu. Males saya denger omelan bak radio rusak."

__ADS_1


" Kalau seandainya saya pingsan bagaimana Dip?"


" Saya tinggalin saja disini sehingga kamu sadar sendiri." Jawab Dipta tanpa merasa bersalah.


" Aku baru tahu ternyata kamu jahat Dipta. Kamu selalu mengatakan aku ini sahabat terbaik kamu tapi nyatanya hati kamu menentangnya. Dipta jahat, saya enggak mau lagi buatin kamu Nugget. Saya ngambek nih!" Omel Ega sambil menampakkan wajah cemberutnya.


" Nah ini yang saya enggak suka, jangan dong Ga. Kamu harus ralat Ga, pokoknya kamu harus ralat aku tidak ingin kehilangan Nugget, bisa - bisa body saya entar kurus kering kerontang." Ucap Dipta memelas.


" Bodo!" Sahut Ega meninggalkan teman - temannya dengan senyum yang dikulum. Tentu saja mereka tidak melihatnya karena posisi Ega sudah membelakangi mereka.


" Ega, jangan begitu dong saya bakalan tersiksa tanpa Nugget." Seru Dipta hendak mengejar Gadis manis itu.


" Ikhlaskan saja kehilangan danau Nuggetmu Dip." Hibur Rian sambil menepuk bahunya.


" Tidaaak." Teriak Dipta dengan cepat menyusul Ega yang sudah bertemu dengan Sepeda Motornya.


" Hahahaha." Rian dan Beni menertawakan tingkah Dipta. Pemuda itu seakan kehilangan sebagian semangatnya.


Sementara itu Lexi mengamati punggung Gadis manis yang diam - diam menyusup masuk kedalam hatinya sampai matanya tidak sanggup lagi menangkap sosoknya yang sudah menghilang dibalik kegelapan. Lexi tersenyum penuh arti mendengarkan celotehan teman - temannya. Dia sangat beruntung karena hanya dirinya yang pertama kali menyentuh tubuh Gadis manis bernama Ega Fajrina. Walaupun hanya memeluk tubuh gadis itu dari belakang saja cukup membuat irama jantungnya meledak - ledak.


Tidak sadar Lexi menganggukkan kepalanya memberi jawaban.


" Tapi aku bimbang, Nara cinta pertamaku dan ternyata Nara mencintaiku sementara Ega, Gadis itu mampu membuat duniaku menjadi terang menderang. Tanpa disadari olehnya, dia berhasil menarikku dari dunia yang gelap penuh rasa benci, dendam dan keterpurukan. Karena mencintai Nara aku merasakan kesakitan yang teramat menyesakkan dada. Apa mungkin Nara juga pengobat rasa sakit ini sementara saat ini aku menginginkan Ega dalam hidupku, apa yang harus aku lakukan Man?" Tanya Lexi dilema.


Mandala tersenyum, dia sangat mengerti kegalauan hati sahabatnya ini.


" Tanyakan pada hatimu sebenarnya siapa yang kamu inginkan. Jika kamu telah menemukan jawabannya maka kamu harus memperteguhkan hatimu itu bahwa hanya ada dia satu - satunya orang yang telah kamu pilih agar tidak mudah tergoyah oleh keadaan. Menurut aku sih kamu harus melangkah ke masa depan dan tinggalkan masa lalu karena hidup bukan untuk masa lalu akan tetapi hidup itu untuk masa depan. Walaupun akan ada seseorang yang hadir dari masa lalu bukan berarti kita akan kembali bersamanya bisa jadi kalian berdua sudah berdamai dengan kehidupan masing - masing." Nasehat Juna begitu bijaknya.


" Kamu benar Man, aku harus mengambil keputusan siapa yang akan aku pilih menjadi masa depanku."


" Lantas kamu pilih siapa?"


" Hati mengatakan aku harus setia dengan apa yang pernah aku ucapkan kepada Gadis itu bahkan aku telah mengajukan diriku menjadi seseorang yang berarti dalam hidupnya." Jawab Lexi begitu mantapnya tidak ada keraguan disana.

__ADS_1


" Siapapun yang kamu pilih saya akan mendukung, buatlah dia bahagia dan yakinkan dia kalau kamu benar - benar mencintainya dan tidak akan meninggalkannya. Sebenarnya Gadis itu sangatlah rapuh namun dia pura - pura kuat. Dia pernah terluka dan akan sulit mengembalikan hatinya yang pernah hancur kembali utuh. Hatinya pernah tersakiti yang membuatnya begitu terpuruk dan terluka parah, akan sulit membalut lukanya mungkin saja sampai sekarang masih menganga." Tutur Mandala menceritakan setitik kisah sedih yang pernah dialami Gadis pilihan Lexi. Semua orang tahu betapa hancurnya Gadis itu.


Lexi mengangguk mengerti, ternyata akan sulit untuk mendapatkan Gadis yang menjadi pilihannya itu. Mungkin saja masa lalu yang begitu menyakitkan membuatnya merapatkan hatinya.


" Oya Man lanjutkan ceritanya, apa yang terjadi setelah kamu meninggalkan Nara sendirian disana." Tanya Lexi kembali ke cerita malam itu.


" Saya ke parkiran hendak meninggalkan Vila namun saat sampai disana saya melihat Mobil yang sering digunakan oleh Om Indra. disana juga ada bodyguard Om Indra. Tidak sengaja saya menangkap pembicaraan mereka.


Gila si Bos suka sekali ehem- ehemnya sama daun muda, sekarang sahabat anaknya juga diembat. Apa dia tidak takut ketika dia begituan tiba - tiba itunya tidak bisa di keluarin.


" Mendengarkan itu saya langsung kembali ke tempat Nara namun saya tidak menemukan Nara disana." Mandala menghirup oksigen untuk mengisi paru - parunya yang mulai tidak normal.


" Terus apa yang terjadi?"


" Saya mencari Nara ke Vila namun ternyata Vilanya di kunci. Saya berusaha mendobrak pintu Vila tersebut. Disaat saya hendak mendobrak pintu Vila tiba - tiba ada anak buah Om Indra yang mempergoki saya kemudian menyerang saya. Saya harus membereskan anak buah Om Indra dulu baru masuk ke Vila. Sayup - sayup terdengar suara meminta tolong dan saya bergegas mencari ke sumber suara tapi karena di Vila banyak kamar sehingga saya kesulitan menemukan Nara. Beberapa menit mencari pada akhirnya saya menemukan keberadaan Nara namun terlambat. Saya melihat Om Indra tengah menin**h tubuh Nara yang berusaha memberontak." Mandala Lagi - lagi menjeda ceritanya. Ada rasa sakit ketika dia mengingat kejadian itu, saat kehormatan Nara direnggut oleh Papa Sahabatnya sendiri yang seharusnya melindunginya tepat dihadapannya.


" Saya menghajar Om Indra sampai dia tidak sadarkan diri. Saat itu amarah saya benar - benar berada di ubun - ubun. Tidak ada yang saya pikirkan lagi selain membuat Bandot Tua itu merasakan rasa sakit yang dirasakan Nara." Sambung Mandala menceritakan kejadian yang sebenarnya.


" Saya menyesal meninggalkan Nara sendirian pada malam itu. Jika saja saya tidak menurutinya tentu semua itu tidak akan terjadi." Sesal Mandala terlihat nyata di pelupuk matanya.


" Dalam hal ini seharusnya aku yang disalahkan. jika saja aku datang tepat waktu pasti Papa tidak punya kesempatan untuk mendekati Nara. Aku tidak bisa menepati janjiku kepada Nara agar tepat waktu sampai ke tempatnya. Pada saat itu aku berusaha mengejar waktu tapi apesnya tiba - tiba saja Mobil yang aku pergunakan mogok. Aku tidak habis pikir kenapa pada saat itu mobil saya mogok dan aku harus memperbaikinya dengan waktu yang lumayan lama. Itu penyebabnya kenapa aku terlambat sampai di tempat Nara." Jelas Lexi yang membuat Mandala semakin curiga ada seseorang dengan sengaja membuat Mobil yang digunakan oleh Lexi mogok dan orang itu mungkin tahu jika Lexi hendak menemui Nara. Ini pasti sudah direncanakan dan tentu saja orang itu tahu kalau Nara ada disana. Tentu saja yang merencanakan itu semua adalah Indra Aditama, Papanya Lexi sanggup melakukan itu semua jika dia menginginkannya.


" Sudahlah, tidak ada yang perlu kita sesalkan semua itu telah terjadi. Kita tidak bisa mencegah sesuatu yang akan menimpa kita baik itu buruk maupun baik. Itu sudah menjadi takdir dari Allah yang harus kita imani. Kita hanya bisa menerima dengan bersabar dan berlapang dada karena mungkin saja ada hikmah dari segala kejadian buruk yang menimpa kita." Ucap Mandala berusaha menguatkan diri sendiri.


" Lantas kemana kamu membawa Nara?"


" Saya membawa Nara ke rumah orang tua ke Selatan tapi itu tidak berlangsung lama karena anak buah Om Indra berhasil menemukan kami. Berkat pertolongan Allah melalui Kakak Laki - laki saya, kita berhasil kabur dan memilih menetap di Desa yang terletak di bagian Utara. Agar kita berdua tidak mudah terlacak, kakak akhirnya menyarankan untuk mengganti identitas kami berdua. Segala mengenai Administrasi Kakak yang mengurus semuanya. Nara tinggal di Desa tersebut dan melahirkan seorang bayi cantik bernama Mutia Anisa."


" Maksud kamu anaknya Papa? Itu artinya Bayinya Nara itu adalah adik aku?" Tanya Lexi


" Iya, Mutia Anisa sangat cantik, dia mirip banget sama kamu seakan dirinya ingin diakui sebagai keluarga Aditama. Mungkin sekarang Mutia Anisa sudah berumur lima tahun." Jawab Mandala menjelaskan anak yang dilahirkan Nara yang merupakan adiknya Lexi.


" Sekarang dimana keberadaan mereka Man? Saya ingin bertemu, bagaimanapun juga mereka adalah keluargaku sekarang. Aku Ingin membahagiakan Nara dan juga adikku."

__ADS_1


Mandala terdiam, ada kesedihan yang dia pendam selama ini dan luput dari teman - temannya. Laki - laki itu menghela nafasnya yang terasa berat. Apa yang hendak dikatakanya kepada Lexi, sahabat yang selama ini sangat membencinya. Haruskah dia menggoreskan luka lagi kepada hatinya Lexi yang sudah terluka parah. Lexi sangat mencintai Nara sudah sewajarnya mereka berdua bersama - sama untuk menikmati kebahagiaan namun kenyataan malah menceritakan sesuatu yang berbeda. Mandala terdiam dengan pikiran yang menerawang jauh sementara Lexi menunggu dengan harapan penuh agar dia bisa bertemu kembali dengan Nara, Cinta Pertamanya.


Bersambung.


__ADS_2