
*Kau yang tak sengaja kupuja. Menatap senyum, mencuri tawamu.
Tingkahmu, candamu tak mampu ku tepis, tak dapat pula ku rengkuh.
Dapatkah kau bayangkan perasaanku, isi hati ini.
Tak dapat diungkap dan tak boleh terucap.
Waktu menahan mimpiku, meredam anganku.
Aku terpuruk dan terasa meredup.
Semoga mimpi ini kembali, mengobati luka dalam hati ini.
Adakah sesuatu yang bisa menggantikan rasa ini? Adakah seseorang yang bisa?
( Catatan Lun )
*Aku diam diam mencuri senyummu.
Aku diam diam menikmati candamu.
Dan Aku diam diam menyimpan dekapan yang pertama kali ku rasakan.
Apa aku salah selalu mengenangnya dan kenapa rindu itu ada ketika aku tidak ingin mengingat siapa.
Bertemu denganmu bak embun di Pagi hari. Menyejukkan namun begitu menyesakkan ketika hilang berganti siang karena tentu saja tidak ada embun itu lagi sama sepertimu tidak ada lagi ku lihat. Sama, hanya singgah sebentar lalu menghilang*.
Selesai Apel pagi Ega kembali ke Meja Kerja kemudian melanjutkan pekerjaannya. Semalam dia sudah begadang hanya untuk menyelesaikan laporannya sehingga pagi ini laporannya dikirim melalui WA ke Admin yang ada di BPKAD.
" Alhamdulillah selesai juga, enggak sia - sia saya begadangnya." Ucap Ega tersenyum. Dia segera merapikan hasil kerjanya kemudian melanjutkan pekerjaan lainnya. Disaat ia asyik dengan aktivitasnya tiba - tiba Atasan Langsung memanggilnya.
" Mbak Ega."
" Iya Bu." Jawab Ega sambil menghampiri Atasan Langsungnya merupakan seorang perempuan yang terbilang masih muda.
" Hari ini Mbak Ega bersama Mbak Ana ditugaskan untuk berkunjung ke UKM Ketak yang ada di Desa Darmaji. Ini Surat Tugasnya, maaf baru saya informasikan karena Acc nya baru keluar." Ucap Atasan Langsungnya bernama Erika kepada Ega yang sudah duduk dihadapannya.
" Baik Bu, kebetulan juga saya sudah mengirim laporan hasil Rekonsiliasi ke Admin Aset jadi saya tidak terlalu sibuk." Ucap Ega siap melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Lumayan dia bisa jalan- jalan dan jarang juga dia tugas lapangan.
" Alhamdulillah, kalau begitu tinggal menunggu Ana. Tadi saya meminta Ana untuk mengecek Proposal yang akan dibawa. Sekalian kalian berdua melakukan Verifikasi bantuan Peralatan kepada salah satu penerima disana. Oh ya satu lagi ajak Pak Andi yang akan menjadi Driver kalian menggunakan Mobil Dinas Operasional." Terang Ibu Erika.
" Baik Bu, kalau begitu saya permisi." Pamit Ega segera melaksanakan perintah Bosnya kemudian mencari Ana yang sudah siap dengan proposal nya.
Ega dan Ana meninggalkan Kantornya menuju Desa Darmaji bersama Andi Sang Driver. Kira - kira sekitar 53 menit mereka sampai di Desa tersebut dengan jarak sekitar 43.3 km dari Mentaram ke Desa tersebut.
Begitu sampai Ega dan Ana disambut oleh salah satu Pegawai Art Shop Ketak. Mereka dipersilahkan untuk duduk pada ruang penerimaan tamu sembari menunggu kehadiran Pemilik Pengrajin Ketak bernama Pak Kadri. Dari penjelasan Pegawainya Pak Kadri sedang menghadiri resepsi pernikahan anak tetangganya.
" Ga kita lihat - lihat saja dulu sambil selfi, kapan lagi kita bisa kesini dan mengambil latar belakang Ketak." Ajak Ana sambil beranjak Dari duduknya. Ana sesekali melihat, sesekali Selfi dan tentu saja memotret produk - produk berbahan Ketak seperti Tas, kursi dan meja, tempat tisu dan berbagai jenis kerajinan yang berbahan Ketak lainnya.
( Kerajinan dari Ketak ).
Saat Ana sedang asyik Selfi tidak sengaja Ega melihat undangan yang tergeletak begitu saja di atas meja yang terbuat dari Ketak. Ega mengambilnya bukan bermaksud kepo hanya saja nama yang tertera disana membuatnya terpanggil untuk meraihnya.
__ADS_1
" Astaghfirullah, apa aku salah mengeja? Apa nama yang tertera di undangan ini sama dengan nama dia atau mungkin namanya saja yang sama tapi bukan dia. Di Dunia ini banyak yang memiliki nama yang sama tapi kenapa saya merasa jika nama ini adalah dia karena alamat ini sangat jelas tertera. Dia orang yang sedang aku harapkan kehadirannya dan terpatri kenangan bersamanya walaupun hanya sekejab." Batin Ega. Ega merasa begitu sesak namun Gadis itu berusaha menenangkan pikirannya. Mungkin saja nama itu sama dengannya belum tentu juga dia. Untuk memastikan itu Ega segera menghampiri tempat hajatan tersebut yang tidak terlalu jauh dari Art Shop milik Pak Kadri.
Tidak terlalu lama Ega sampai di tempat resepsi. Benar saja Laki - laki yang memberikannya harapan dan menawarkan cinta untuknya sedang duduk bersanding dengan perempuan lain bukan dirinya. Laki - laki itu terlihat bahagia. Ega seketika limbung, bagaikan disambar petir.
Jedaaaaaaaar
Hatinya benar - benar hancur untuk kedua kalinya namun ini lebih sakit dari apa yang pernah dilakukan Ivan. Setidaknya Ivan tidak pernah menghianati dirinya hanya saja Ivan terjebak oleh keadaan dan adat yang menuntutnya harus menikahi gadis itu. Berbeda dengan Ivan, Ega tidak melihatnya sedangkan laki - laki itu Ega melihatnya dengan kedua matanya. Ega benar - benar terpuruk. Kakinya seakan tidak sanggup lagi menopang tubuhnya yang lemas hampir saja dia terjatuh saking terkejutnya namun lagi - lagi rasa malu itu menyadarkannya, Dia tidak mau terpuruk di hadapan Laki - laki itu. Ega menguatkan diri lantas memilih untuk menghadirinya kemudian berjalan dengan gontai kearah pelaminan. Untung saja hari ini hari kamis sehingga tidak menjadi pusat perhatian dari mereka yang ada disana ketika tiba - tiba dirinya yang menggunakan seragam dinas nyasar ke resepsi orang. Ega menggunakan Kain Tenun bermotif Kembang komak berwarna hitam dan baju berwarna kuning sehingga tidak kentara kalau itu memang pakaian dinasnya.
Saat dia berjalan gontai ada seseorang yang menyelamatkannya dari sesuatu yang mungkin saja tidak diharapkannya.
" Ga, kamu juga diundang." Tanya seseorang tersebut menepuk bahunya dari belakang.
Ega seakan mengenali suara cempreng dari seseorang yang menegurnya.
" Evan, Alhamdulillah ada teman saya tidak kelihatan seperti orang nyasar di pelaminan orang." Ucap Ega pura - pura bahagia padahal hati terasa nyeri. Ega berusaha menghalau air matanya yang siap meluncur kemudian membuat aliran sungai yang deras.
" Kamu sama siapa?" Tanya Evan melihat kearah samping kanan dan kiri berharap ada yang dikenalnya namun tidak menemukan siapapun.
" Cari siapa?" Tanya Ega bingung dengan tingkah Evan.
" Cari pasangan kamu tapi tetap saja masih sendiri dan betah amat menjomblonya. Sahabatku ini ternyata tidak laku - laku sama seperti Group Band Wali, hehehehe." Ledek Evan cengengesan.
" Lah kamu sendiri sama siapa? Sendiri juga toh?" Ega balik meledek sahabat cemprengnya itu.
" Siapa bilang, saya tidak sendirian kok! ngarang saja kamu nih!" Imbuh Evan tidak mau kalah juga.
" Mana, saya lihat kamu sendirian kok. Atau jangan- jangan kamu bersama pacar khayalan. Halu ya? Ih Evan halu, bilang saja sendirian juga, itu kok malu sama saya." Ledek Ega berusaha menyembunyikan hatinya yang hancur lebur. Luka itu lagi ditempat yang sama dan dia belum sempat memulihkannya dan sekarang luka itu kembali seakan tidak ingin Ega sembuh dari kesakitannya.
Evan memalingkan wajahnya kearah belakang seolah sedang mencari seseorang. " Nah itu dia." Sambutnya bahagia begitu melihat sosok yang dia tunggu menampakkan hidung mancungnya sedang berjalan kearah mereka.
" Abang Juna, Abang Juna datang juga?" Guman Ega seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" Hehehe, lupa."
" Loh Ga, kamu kok ada disini juga? sama siapa?" Tanya Juna begitu menyadari keberadaan Ega disisi Evan ketika langkahnya sudah sampai dihadapan mereka berdua.
" Sama Evan sih sekarang, kalau tadi saya sendiri terus kalau kesini nya saya sendiri juga tapi kalau jalan dari Mentaram ke sini nya saya sama teman, kita bertiga." Terang Ega yang terdengar ribet di telinga kedua sahabat.
" Sudah ah ribet denger nya. mendingan kita langsung ke Pengantin soalnya saya laper belum makan ini." Ajak Juna sambil menggiring kedua temannya menuju pelaminan.
Sesampainya di Pelaminan Ega berusaha menahan dirinya yang mulai sesak. Ega berusaha menarik nafas panjang dan menghembuskan nafasnya secara perlahan untuk menenangkan dirinya. " Ya Allah kuatkan hatiku dan tenangkan pikiranku. Ikhlaskan Hatiku untuk menerima takdir ini kalau laki - laki yang ada di pelaminan ini bukan jodoh hamba dan gantikan yang lebih baik dari dirinya." Doa Ega dalam hati, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu betapa hancur hatinya menyaksikan resepsi pernikahan laki - laki yang pernah memintanya untuk mendampingi hidupnya. Namun tanpa sebab dan tanpa memutuskan hubungan mereka tiba - tiba dia sudah resmi menikahi Gadis lain yang sekarang menjadi Isterinya. Jika saja dia tidak di tugaskan untuk mengunjungi UKM Ketak hari ini maka dia tidak akan pernah tahu kalau laki - laki yang diharapkannya sudah menikah. Apa dia akan selalu menunggunya dan berharap tanpa tahu bahwa harapan itu ternyata palsu.
Pengantin Pria menyambut kedatangan Evan dengan bahagianya dan dia belum menyadari keberadaan Ega yang berada di belakang tubuh Juna.
" Selamat Bro, semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawaddah dan Warohmah. Ternyata kamu mencuri start dari saya, curang kamu. tidak ada khabar sama sekali tiba - tiba datang khabar eh ternyata undangan pernikahan." Ucap Evan panjang lebar sambil menepuk bahu Pengantin Pria.
" Terima kasih Van."
" Lama amat sih? Apa sih yang kalian obrolkan, pegel ini." Ucap Juna disela - sela obrolan Evan dengan Pengantin Laki - laki.
" Eh ternyata ada Abang Juna, sama siapa Bang? sepertinya ada ekornya." Tanya Pengantin Laki - laki yang melihat ada seseorang berada dibelakang Juna.
" Tadi saya nemu di ujung jalan itu. Saya kasian sama dia jadinya saya gandeng deh, hehehe." Jawab Juna cengengesan.
" Abang Juna jahat ah, tega banget sama saya." Ucap Ega pura - pura sedih namun pada kenyataannya Ega benar - benar lagi sedih.
__ADS_1
Mendengar suara yang teramat dikenalnya Pengantin laki - laki itu mencari sumber suara itu dan betapa kagetnya ia ketika matanya beradu pandang dengan manik Ega yang terlihat hancur. Seketika itu Pengantin laki - laki berubah menjadi sedih begitu melihat kehadiran Gadis yang ada di hatinya mungkin saja masih ada sampai saat ini. Dia menundukkan wajahnya tidak mampu memandang wajah Ega. Semula dia sangat bahagia namun ketika melihat wajah Ega seketika itu wajahnya berubah menjadi murung.
" Hai Bro, selamat semoga menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Warahmah." Giliran Juna yang memberi selamat kepada Pengantin dan juga mendoakan kebahagiaan untuk kedua mempelai.
Juna beralih ke Pengantin Perempuan lantas turun dari pelaminan. Kini Giliran Ega yang memberikan selamat kepada Laki - laki dimana detik tadi masih ada di hatinya namun sekarang Ega harus segera mendepaknya bahkan menyeretnya keluar dari relung hatinya bila perlu melemparnya sejauh mungkin sehingga dia tidak lagi bertemu dengannya. Ini terakhir kalinya dia melihat laki - laki yang dengan suksesnya memberikannya harapan kemudian menghancurkan harapan itu tepat dihadapannya.
" Selamat, Barakallahu laka, wa baraka 'alaika, wa jama'a bainakuma fi khairin wa 'afiyah." Doa Ega di hadapan Pengantin Laki - laki. Selesai berdoa Ega tersenyum manis kemudian mengatupkan kedua tangannya. Pengantin Laki - laki tertunduk menahan kesedihan, dia berusaha menahan air matanya yang hampir saja lolos. Ada rasa bersalah menyusup masuk di relung hatinya karena tidak bisa menepati janjinya kepada Gadis manis dihadapannya.
Ega beralih ke Pengantin Perempuan dan memberikan doa untuknya lalu meninggalkan pelaminan dengan langkah tegar.
Ega tidak berlama - lama menemani Evan dan Juna karena tadi dia meninggalkan begitu saja Ana di Art Shop Pak Kadri. Dengan bergegas Ega meninggalkan resepsi pernikahan laki - laki yang pernah di hatinya dan tidak mau menoleh lagi.
Sesampainya di Art Shop Ega diomelin sama Ana karena sudah meninggalkannya sendirian tanpa pesan. Ana benar - benar kebingungan apalagi Handphone Ega tidak bisa dihubungi.
" Kemana aja sih? hampir saja saya mau melaporkan kalau ada orang hilang bernama Baiq Ega Fajrina." Ucap Ana terlihat kesal karena telah meninggalkannya sendirian.
" Maaf, tadi saya ketemu sama temen jadi lupa deh. Maaf ya mbak Ana cantik." Ega mengatupkan kedua tangannya memohon maaf sembari menyanjung teman kerjanya itu.
" Iya sudah, kali ini dimaafkan lain kali mah ogah." Ucap Ana masih terlihat kesal.
" Wualah enggak ikhlas banget, ikhlas dong mbak Ana biar kecantikannya double paripurna." Rayu Ega yang membuat Ana senyum mengembang.
" Iya dah saya maafkan tanpa dibarengi rasa kesal."
" Alhamdulillah kalau begitu kita lanjutkan tugas kita." Ucap Ega berusaha untuk memupuk semangatnya. Ini cara satu - satunya untuk melepaskan diri dari bayang - bayang harapan manis bersama laki - laki yang sekarang sudah sah menjadi Suami Wanita lain.
Selesai memverifikasi penerima hibah. Ega dan Ana meninggalkan Desa tersebut kembali ke Kantor. Selama kurang satu Jam perjalanan mereka sudah sampai di Kantor namun keadaan kantor sudah sepi. Ega segera meninggalkan Kantornya dengan perasaan hancur sesampainya dirumah Ega bergegas masuk ke kamarnya. Ega melepaskan semuanya dan di sudut kamarnya yang gelap Ega menangis sesenggukan menumpahkan segala sesak yang ditahan sedari tadi. Mungkin tadi dia bisa menahannya dan pura - pura tegar tapi dia hanyalah manusia yang akan lemah ketika hatinya disakiti.
" Ya Allah sakit banget rasanya." Ucap Ega berusaha memegang dadanya yang terasa nyeri.
" Ini benar - benar sakit, hati ini sakit dan dada ini terasa nyeri. Saya tidak sanggup, saya tidak sanggup kenapa rasanya sesakit ini." Isak Ega berusaha menahan rasa sakit di dadanya.
Ega memukul - mukul dadanya dan menangis sejadi - jadinya. Rasa sakit di dadanya terasa sangat menyiksa semakin berusaha tegar rasa sakit itu semakin berusaha menyeruak keluar dan sekarang Ega terpuruk dalam kehidupannya yang sepi dan sunyi. Selama ini dia berusaha menahan rasa sakit ditinggal oleh calon Suaminya sehari sebelum akad nikah berlangsung dan sekarang lagi - lagi laki - laki lain menusuknya tepat di luka yang sama dan menyiramnya dengan air keras yang membuatnya bertambah parah. Hatinya benar - benar hancur berkeping - keping dan rasanya tidak mungkin bisa merekatnya kembali utuh.
" Aaaaaaaargh, sakiiiiiiiiiiit." Teriak Ega tidak bisa lagi menahan rasa sakit di dadanya. Walaupun dia memukul sekuat apapun akan tetapi rasa sakit itu semakin menjadi - jadi seakan menertawakan ketidak berdayaannya.
Ega hanya mampu menangis duduk sendirian di sudut kamarnya. Menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya yang dia peluk. Lututnya seolah sandaran tempat Ia menopang hatinya yang rapuh.
" Hikz, hikz, hikz." Isaknya menggema di kamarnya seakan menemaninya.
" Hikz, hikz, hikz."
*Jika aku tahu bertemu denganmu menjadi sesakit ini maka takkan pernah aku izinkan kata - kata manismu menyentuh hatiku.
Jika aku tahu bertemu denganmu hanya ingin menebar janji palsumu maka takkan aku izinkan harapan itu ada.
Tapi sekarang aku bisa apa?
Aku sudah terluka, lantas apa?
Bahagiakah kau melihat aku terpuruk.
Senangkah kau melihat aku kesakitan.
Puaskah kau melihat aku hancur sehancurnya sehingga tidak mampu lagi untuk bangkit.
__ADS_1
Sekarang tertawalah karena kau menang dan aku kalah dengan keadaan*.
Bersambung.