
Ega masih saja menatap fhoto San yang terlihat begitu nyata, seolah San sedang menatapnya penuh rindu.
Ega kembali menggeser beberapa fhoto San di tempat yang berbeda dengan kostum yang berbeda. Terlihat dia berada di Negeri David Beckham, berpose di Bangku Penonton Lapangan Sepak Bola yang tidak berpenghuni. Hanya San sendiri yang berpose disana terlihat nampak bahagia. Terpampang tulisan Liverpool didalam fhotonya.
Ega tersenyum bahagia melihat Laki - laki dalam fhoto yang merupakan Sahabatnya sekaligus Calon Pendamping Hidup.
San telah bisa mewujudkan mimpinya berkeliling Eropa. Kalau dipikir - pikir itu sesuatu yang mustahil untuk di wujudkan mengingat kehidupannya begitu sederhana dan bukanlah terlahir dari orang kaya raya atau mungkin seorang CEO dari Perusahaan besar.
Ega dan San terlahir dari keluarga sederhana dan tidak punya cita - cita berkeliling Indonesia apalagi keliling Eropa atau Dunia karena itu mustahil bagi mereka.
Rupanya San mematahkan ketidakberdayaannya menjadi mustahil dilakukannya.
Tentu saja dengan tekadnya yang kuat untuk bisa mewujudkan asanya itu. Satu - satunya jalan untuk mewujudkan itu adalah dengan mendapatkan pekerjaan di Kapal Pesiar.
San berusaha mewujudkan itu dengan perjuangan panjang dan mungkin saja melelahkan. Tidak gampang bagi San untuk mendapatkan kesempatan yang sekarang sudah nyata dia jalani.
" Pandang terus photonya. Memangnya hanya dengan memandang photo laki - laki itu tiba - tiba begitu saja nongol di depan mata atau mungkin dengan memandang photonya perut jadi kenyang gitu?" Tiba - tiba terdengar suara seorang Wanita sudah berada di samping meja kerja Ega.
Ega memang sendiri di ruang kerja karena teman - temannya sudah kabur untuk Istirahat. Semumpung dia lagi halangan untuk Shalat maka dia memilih berselancar di dunia maya.
" Eh ada Mbak Ana Cantik, kepergok kan saya." Sahut Ega cengengesan menahan malu.
" Untung saja saya yang melihat kamu dengan muka pengen ketemu sama cowok yang ada di photo itu coba kalau Senopati Argadana enggak tahu deh apa yang terjadi." Komentar Ana.
Ana merupakan rekan kerja Ega yang berusia lebih tua dua tahun darinya. Umurnya 26 tahun dan sudah menikah dan sudah memiliki satu orang anak laki - laki.
" Palingan beliau bilang lanjutkan Nak, Cuti nya langsung saya ACC selama satu bulan full tanpa uang makan." Sahut Ega masih tersipu malu.
" Bilang saja gini ' bersama sumbangannya dong Pak!"
" hahahahaha, dapat enggak ya?" Celoteh Ega tidak yakin.
" Palingan dikasik ke Kota, cukup buat beli Permen."
" Hahahaha, nasip memang begitu."
" Iya sudah kita makan dulu, Mbak sudah beli Siomay." Ucap Ana menyudahi acara becandanya.
Ega mengangguk, dia menghampiri Filling Kabinet tempat dia menyimpan piring, sendok dan gelas. Diambilnya dua buah piring, sendok dan dua botol Air Mineral ber merk Narmada kemudian membawanya pada sebuah Meja tempat Ana menaruh dua bungkus Siomay.
" Apa Senopati dengar pembicaraan kita?" Tanya Ega khawatir kalau Bos keduanya itu mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
__ADS_1
Orang yang dipanggil Senopati itu merupakan Sekretaris Dinas dan Jenjangnya dibawah Kepala Dinas. Karena Bos kedua itu orangnya galak sedangkan Big bos orangnya kalem dan sabar seolah - olah Bos kedualah yang menguasai Istana tempat Ega bekerja makanya mereka memberi beliau gelar Senopati Argadana.
" Sepertinya dari tadi tidak keliatan mungkin rapat gantiin Big Bos jadi aman." Jawab Ana sambil menyuap Siomay yang sudah di bukanya.
Ega tersenyum cerah karena terhindar dari sesuatu buruk yang mungkin saja menimpanya. Ega merasa bersalah sama Bos keduanya karena telah membicarakan dan ikut - ikutan memberi gelar Senopati Argadana.
Sebenarnya Bos keduanya itu baik hanya saja suka marah didepan ramai dan tidak memperhatikan situasi dan kondisi bawahannya.
" Apa San sudah menghubungimu lagi?" Tanya Ana disela - sela makan.
Ega menggelengkan kepala.
" Sebenarnya Hasan serius enggak sih?"
" Entahlah Mbak, aku takut San hanya memberikan aku harapan palsu saja." Jawab Ega menghela nafas berat. Tidak ada kejelasan dari hubungannya dengan San.
" Ceritanya seperti apa sebenarnya?" Tanya Ana penasaran.
" Kakaknya San tiba - tiba menginbox saya. Beliau menyampaikan keinginan dari San untuk menikah dengan saya ketika dia pulang dari berlayar. San menceritakan keinginan itu pada Kakaknya dan Kakaknya menyampaikan ke saya keinginan dari San melalui Inbox." Tutur Ega.
" Terus apa yang kamu bilang ke Kakaknya."
" Saya Sahabat San bukan Pacarnya. Mengenai jodoh saya serahkan Pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Siapapun jodoh saya akan saya terima termasuk Hasan."
" Kakaknya San tidak meminta, tidak ada kalimat meminta dari apa yang beliau tulis. Beliau hanya menceritakan keinginan dari San. Bisa jadi itu hanya rencana mentah yang kemungkinan bisa diubah. Saya melihatnya begitu samar, saya takut patah hati lagi. Saya benar - benar trauma." Tutur Ega terdengar sedih.
" Terus bagaimana perasaanmu kepada Hasan sebenarnya?"
" Saya kehilangan dia, mungkin saja saya sudah mulai menyukai Sahabat saya sendiri yaitu San. Cinta itu mungkin ada untuk San namun ada ketakutan untuk mengakuinya. Saya masih mengira hanya saya saja yang memiliki rasa itu sedangkan San mungkin saja hanya kasian saja sama saya atau apalah saya juga tidak paham. Saya benar - benar takut mengakui kalau saya memiliki rasa sama San." Jujur Ega panjang lebar.
" Rumit kalau gini mah, mungkin saja Hasan juga beranggapan yang sama dengan kamu bahwa hanya dia yang memiliki perasaan sedangkan kamu tidak. Bisa jadi Hasan mengira bahwa cintanya bertepuk sebelah
tangan."
" Entahlah. Tidak ada pengakuan dari San."
" Jujur saja pada Hasan bahwa kamu mencintai dia, tidak masalah Wanita duluan mengakui akan perasaannya.
Ega terdiam, dia berusaha menenangkan pikirannya yang mulai sesak.
" Saya sudah mengirim pesan pada San bahwa saya mau menikah dengannya namun tidak ada tanggapan dari San sampai detik ini." Guman Ega terdengar parau.
__ADS_1
" Kalau seperti itu ceritanya, mbak mau bilang apa? Sabar ya Ega, kalau memang Hasan serius setelah dia pulang berlayar pasti dia akan menemui kamu dan menjelaskan semuanya. Tapi kalau dia tidak datang menemui kamu dan memilih untuk kembali lagi untuk berlayar itu artinya Hasan tidak benar - benar menginginkanmu dan pada saat itu yang harus kamu lakukan lepaskan dia, biarkan dia mencari dan menemukan keinginannya yang sebenarnya." Ucap Ana memberikan gambaran apa yang harus Ega lakukan.
" Mungkin saja saya di takdirkan hanya menjadi Sahabat San walaupun saya sudah mulai tumbuh benih - benih cinta untuknya yang sudah lama mati.
" Rasa yang ada ini namanya Cinta dalam hati atau cinta yang aku rasakan kepadanya hanya diam tidak sanggup berbicara." Jawab Ega galau.
" Sok puitis elu, jadi inget lagunya Ungu kalau tidak salah judulnya Cinta Dalam Hati." Komentar Ana sambil bersenandung.
" Sedih saya jadinya." Celoteh Ega sambil membuang sampah makanannya.
Mereka selesai makan siang sekaligus selesai acara curhatannya. Ega dan Ana kembali ke Meja Kerja masing - masing untuk melanjutkan perkerjaan begitu rekan - rekannya kembali ke Meja Kerja masing - masing.
Cinta Dalam Hati.
Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa di cintai
Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
Dalam hidupmu, dalam hidupmu
telah lama kupendam perasaan itu
Menunggu hatimu menyambut diriku
Tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
Bahagia untukku, bahagia untukku
reff:
Ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
Meski ku tunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
Dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
__ADS_1
Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja.
Bersambung.