
Sesuai kesepakatan bersama, Beni dan Ega memutuskan berbulan madu di Desa Senaru, Sembalun dan berakhir di Desa kelahiran Ega. Pengantin baru itu berencana untuk menginap pada Villa yang ada disana. Tidak ketinggalan Tujuh Sahabat ikut meramaikan acara Honeymoon Ega dan Beni. Dan seperti rencana mereka akan berkumpul di Rumah Ega lalu berangkat bersama-sama.
Pagi ini Ega dan Beni sedang sarapan dengan Saik Aminah sembari menunggu kedatangan Evan dari Desa Jenever yang jaraknya lumayan jauh. Kira-kira satu jam perjalanan bebas macet. Dengan terpaksa Laki-laki dengan suara cempreng itu harus turun dari singgasana demi Amanda, Bidadari Petakilan itu. Evan terpaksa meminta bantuan rekannya untuk merampungkan pekerjaannya yang sudah dikerjakan dengan iming-iming Rokok satu Pak. Dia tidak ingin memberikan kesempatan kepada Dipta untuk mendekati Amanda dan memenangkan hati Amanda. Sahabat ya Sahabat, rival ya rival maka dia harus memastikan untuk mengambil bagian untuk memperebutkan Amanda.
"Ini Honeymoon atau Begawe sih? kok orang sekampung diajak?" tanya Saik Aminah keheranan dengan rencana tujuh Sahabat yang berbulan madu bersama.
"Honeymoon bersama, Saik. Kita berdua yang Honeymoon mereka yang liburan. Enggak apa-apa biar seru, kalau kita hanya mesra-mesraan bisa di rumah saja, bukan begitu Kak Beni?" ucap Ega sembari melontarkan pertanyaan kepada Beni.
"Betul tuh! oya saya sudah selesai sayang. Saya duluan mau ngecek kondisi Mobil dulu biar aman diperjalanan." Beni berpamitan setelah menyelesaikan sarapannya. Sedangkan Ega dan Saik Aminah masih melanjutkan sarapannya.
Tengah asyik mengecek kondisi Mobilnya. Beni dikejutkan oleh suara Motor seseorang yang menderu-deru di depan Gerbang, sejurus kemudian Suara Motor itu menghilang di gantikan Suara Gerbang yang di Geser ke arah Kiri.
"Evan, kamu sudah sampai?" sapa Beni begitu mengetahui siapa orang yang membuka Pintu Gerbangnya.
"Menurutmu?" sahut Evan sembari memasukkan Motornya lalu menguncinya.
"Yang lain mana?" Evan melanjutkan dengan pertanyaan. Dia melihat belum ada siapapun disana.
"Sebentar lagi sampai? kamu sudah sarapan? kalau belum langsung masuk aja ke Dapur, kamu bisa melayani diri sendiri, kan?" tanya Beni sekaligus mempersilahkan Evan untuk sarapan.
"Jadi boleh nih? saya masuk ke rumah Ega?" tanya Evan tak percaya. Selama ini Ega tidak pernah mempersilahkan sahabat-sahabatnya masuk ke dalam rumah, cukup dia menjamu mereka di Berugak.
"Boleh, Ega bukan single lagi dan dia Isteri saya lagipula ada saya disini kalau tidak ada Suaminya jangan coba-coba masuk ke dalam rumah." Beni menjawab keheranan Evan sekaligus memberikan peringatan jika tidak ada dirinya saat mereka bertamu.
"Iya, saya tahu," sahut Evan sembari berjalan masuk. Beberapa menit kemudian dia kembali lagi membawa Sepiring Nasi penuh dengan lauk di dalam Piring beserta satu botol air dingin. Laki-laki itu memilih untuk menikmati sarapan di Berugak. Dia tahu adap, meskipun berteman layaknya Saudara tapi tetap mereka bukan Mahrom.
"Kak Beni, ini bekal dan barang-barang yang kita akan bawa saya taruh dulu," ucap Ega muncul dari arah dalam. Ega tidak menyadari keberadaan Evan yang sedang mengunyah. Wanita itu sibuk menata barang-barang yang hendak dibawa ke dalam Bagasi Mobil.
Begitu selesai menata barang-barang tersebut dan membalikkan tubuh, matanya langsung menangkap Sosok Evan yang sedang asyik menyandap makanannya.
"Kok enggak ada suara? kamu sudah disini saja?" tanya Ega sembari tersenyum.
"Iya, saya sudah disini. Tadi Subuh-subuh saya berangkat dan belum sempat sarapan mana udaranya dingin banget bikin saya menggigil," sahut Evan penuh dengan makanan dimulutnya.
"Kalau menggigil kenapa malah minum air dingin sih?" tanya Ega heran dengan pengakuan Evan.
"Badan saya yang menggigil tapi tenggorokan saya enggak," sahut Evan asal.
Ega menggeleng-gelengkan Kepala mendapatkan jawaban yang absurd.
Saat mereka asyik mengobrol terdengar suara klakson dari arah luar. Ega buru-buru menengok ke arah suara.
"Assalamualaikum." Terdengar suara salam lebih dari satu orang.
"Waalaikumussalan Warahmatullahi Wabarakaatuh," jawab Ega, Beni dan Ega serempak.
Ega menghampiri dan membuka Pintu gerbang selebar-lebarnya untuk mempersilahkan mereka masuk.
"Mas Rian, Fiza dan Amanda," sapa Ega begitu melihat siapa yang datang.
"Kakak Ipar," sapa Amanda heboh. Dia langsung menghampiri Ega lalu cium Pipi kanan dan cium Pipi kiri.
"Amanda, tambah cantik aja. Lihat tuh siapa yang ada disana?" balas Ega sekaligus memperlihat Evan yang lagi sarapan.
Evan menanggapi dengan lambaian tangan. Melihat itu Amanda langsung melepaskan ramah tamahnya dan berlalu dari hadapan Ega. Ega hanya geleng-geleng Kepala melihat tingkah Amanda. Evan tertawa melihat Amanda yang langsung saja mencomot sepotong Tempe lalu menyuapnya. Gadis itu apa adanya dan terlihat sekali tidak menjaga Imagenya.
"Mari masuk, Fiza jangan berdiri disitu! Mas Rian ajak masuk dong Fizanya," ucap Ega mempersilahkan Fiza yang masih berdiri dan terlihat nampak malu-malu.
"Ayok Za, jangan malu-malu, disinilah Base camp kita tempat kita berbagi cerita selain Rumah Beni tentunya," ucap Rian memberitahu.
"Ya ampun, Amanda! kamu belum sarapan ya?" tanya Evan yang sedari tadi sibuk memperhatikan Amanda.
"Belum," jawab Amanda singkat dengan wajah malu-malu karena telah mencomot sepotong Tempe milik Evan.
"Sini sarapan sama Abang, saya ambilin bentar ya!"
__ADS_1
Evan kembali masuk ke dalam rumah. Tidak menunggu lama Evan kembali membawa sepiring Nasi lengkap dengan lauk dan sebotol air.
"Hebat ante Van! kenapa Amanda saja yang diambilin makanan? ane sama Fiza kok dicuekin," ucap Rian melihat Evan yang hanya mau melayani Amanda.
"Mas Rian bisa ambil sendiri dan sekalian ambilin untuk Fiza. Saya cukup melayani Bidadari Petakilan saya saja," sahut Evan datar.
"Enggak sopan ante Van?" gerutu Rian kesal.
"Mas Rian mau? ambil dong!" Amanda menambahi kekesalan Rian.
"Apa ante pikir ane tidak bisa ambilin makanan buat Fiza?. Lihat saja kita akan makan sepiring berdua biar kenyang," ucap Rian sembari berlalu masuk ke dalam rumah Ega.
"Sudah izin belum sama empunya rumah? main nyelonong saja." Evan sedikit berteriak mengingatkan Rian.
"Sudah pakai telepati," sahut Rian tidak menghentikan langkah.
"Ih Abang ini? memangnya tadi juga Abang sudah izin sama Abang Beni dan mbak Ega?" tanya Amanda lalu menyuap makanannya.
"Sudah dong, wong Beni yang mempersilahkannya," jawab Evan lembut. Dia hanya menemani Amanda menikmati sarapannya.
Sementara itu Fiza hanya terdiam menatap sepasang anak manusia berjenis kelamin berbeda itu.
"Za kok diam? sudah sarapan belum?" sapa Ega mendekati Fiza yang terdiam saja seperti tak dihiraukan oleh Amanda dan Evan. Jika mereka sudah bertemu dia seakan dilupakan saja.
"Sudah mbak," jawab Fiza singkat.
"Jangan sungkan-sungkan, mereka sudah terbiasa kok disini. Kalau laper tinggal langsung mencari makanan di Dapur. Kalau mengantuk tinggal mereka istirahat di kamar cowok-cowok keren." Ega menceritakan hubungan persahabatan mereka yang berasa seperti saudara, jadi tidak adanya kesungkanan diantara mereka.
Fiza hanya menganggukkan Kepala menanggapi cerita singkat dari Isterinya Beni. Selanjutnya dua Wanita berhijab itu tenggelam dalam obrolan ringan yang riang. Saat Ega dan Fiza asyik mengobrol, Rian kembali dengan membawa sepiring Nasi, dua buah botol air dan sebotol kecap.
"Tuh kan? botol kecap tidak pernah ketinggalan. Fiza, kalau kamu berjodoh siap-siap buat Pabrik kecap demi memenuhi kebutuhan seleranya," ucap Evan mengolok selera Rian.
"Kecap itu layaknya belahan jiwanya, hati-hati kamu Za entar saingan sama kecap." Beni yang sedari tadi sibuk dengan kegiatan mengecek kendaraan ikut menanggapi komentar Evan.
"Wah sepertinya saya punya proyek besar nih! menanam Kedelai hitam si Malika sebagai bahan baku Pabrik kecapnya Fiza. Kak Beni setelah ini kita siap-siap bercocok tanam ya?" Ega ikut menyambung obrolan Beni dan Evan.
"Sayang, enggak sabaran banget. Kita bercocok tanam nanti malam saja, bukan kedelai hitam maupun kedelai kuning tapi anak," ucap Beni manja.
"Anak? maksudnya apa Beni?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.
"Ninaaaa?" kaget mereka serempak dengan kehadiran Nina yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
Rian yang lagi mengunyah makanannya tiba-tiba terbatuk. Fiza dengan cepat memberikan air kepada Rian. Amanda seketika menoleh ke arah Wanita yang baru saja datang dengan tanda tanya besar di wajahnya. siapa dia?
Nina melihat Beni dan Ega yang terlihat begitu dekat. Tadi sempat merangkul pinggang Isterinya dan terlepas begitu saja mendengar suara Nina. Untung saja Nina tidak melihatnya.
"Itu anak Kucing, lagi beranak di Loteng rumah Ega. Anaknya lucu-lucu banget mau saya bawa pulang untuk saya adopsi," jawab Beni sekenanya.
"Ooo begitu, kirain ada apa? kamu hanya boleh buat anak sama aku Ben," ucap Nina tanpa malu.
"Uhuk uhuk uhuk," Amanda terbatuk. Dia merasa ambigu dengan pernyataan Wanita yang tiba-tiba datang dan memproklamirkan diri seolah-olah hanya dia saja yang boleh mengandung anak Beni.
"Mbak siapa ya? kok perkataan Mbak Ambigu ya? Abang Beni hanya boleh buat anak sama mbak? memangnya mbak Isterinya?" tanya Amanda terheran sekaligus kesal.
"Saya calon Isteri Beni sebentar lagi tentu saja selanjutnya menjadi Isteri, kamu siapa ya?" jawab Nina dengan percaya diri sekaligus bertanya.
"Astaghfirullah, Mbak melarikan diri dari rumah sakit jiwa ya? saraf nih?" ucap Amanda memperlihat kekesalannya. Satu jari tangannya menempel di Kening membentuk garis miring yang berarti orang yang diajak atau yang dibicarakan dia gila.
"Nina kapan pulang? kemana aja sih Nin? kok tiba-tiba enggak ada khabar beritanya?" Ega menghampiri Nina dengan serbuan pertanyaan untuk mengalihkan perhatian Nina.
Evan buru-buru menenangkan Amanda dan berbisik akan menjelaskan nanti. Rian dan Beni hanya terdiam terlebih Beni yang terlihat kalut dan berusaha menahan kekesalan. Dia tidak menyangka Nina tiba-tiba datang mengganggu ketenangan mereka tadi.
Fiza, gadis itu dirundung tanya dengan perkataan Wanita Misterius ini. Apa hubungannya dengan Beni? apa tadi? menjadi calon Isteri Beni? bukannya Beni sudah menikah dengan Ega lalu siapa Wanita ini? terlalu banyak pertanyaan yang bermunculan di Otak Fiza.
Rian seolah mengerti dengan pikiran Fiza, pasti Gadis itu akan bertanya sebenarnya apa yang terjadi.
__ADS_1
"Kemaren sore Ga, ini saya bawakan oleh-oleh untuk kalian semua dan ini spesial untuk Beni," jawab Nina sembari menyerahkan Paper Bag kepada Ega setelahnya berjalan ke arah Beni lalu menyerahkan Paper Bag khusus itu.
Beni ragu mengambil Paper Bag itu dengan pandangan ke arah Ega meminta pertimbangannya.
"Terima saja Beni, ini spesial untuk kamu? saya kangen lo! hampir dua minggu lebih sepertinya kita tidak bertemu," ucap Nina tersenyum indah.
"Duh ketenangan saya tiba-tiba lenyap," keluh Evan seolah menyindir.
"Apaan sih Van? saya tersinggung lo! bukan sama Beni saja sama semuanya kok saya kangennya tapi tetap saja spesial kangennya hanya untuk Beni," ucap Nina menanggapi perkataan Evan yang terkesan memojoknya seolah-olah kehadirannya membuat orang tidak tenang.
"Iya Nina cantik, kita semua merindukan ante juga. Habisnya ante hilang khabar dan ngakunya sedang berlibur. Bagaimanapun juga ante itu personil Tujuh Sahabat, kan pincang kalau tidak ada salah satu diantara kita," ucap Rian mencoba menenangkan suasana yang terasa tidak enak.
Mendengarkan itu Fiza menatap Rian dengan seribu tanya. Kenapa Laki-laki itu begitu lembut kepada Wanita bernama Nina yang terlihat jelas ingin memiliki Beni. Itu artinya dia Pengganggu dan berada di antara Beni dan Ega.
Raut wajah Amanda juga tidak seindah tadi. Terlihat kekesalan dan ini juga kenapa semuanya bersikap baik kepada Nina yang terang-terangan menyukai Suami orang. Sungguh tidak masuk akal?.
"Tentu, kalian pasti merindukan paras cantikku. Disini hanya aku yang tercantik dan tersexy, bukan begitu Beni?" ucap Nina percaya diri.
"Tidak, masih tercantik dan tersexy Umiku," jawab Beni bangga.
"...Dan juga Isteriku Ega," lanjut Beni dalam hati.
"Beni kok gitu sih?" Nina menampakkan wajah cemberutnya.
Semua orang yang mendengarkan ingin tertawa namun takut dosa jadi mereka lebih baik menahanya dan nanti kalau ada kesempatan akan meledakkannya.
"Duh mbak, percaya dirinya tinggi banget. Berharap diakui sama Abang Beni tahu-tahunya terpental, sakit enggak? sakit toh, duh duh duh saya pingin tertawa dengan gaya Salto dan guling-guling tapi iya itu saya punya adap jadi enggak saya lakukan. Saya enggak mau dong kehilangan adap seperti Mbak." Amanda mengejek Nina dengan raut yang membuat Nina kesal.
"Kamu siapa sih? naksir juga sama Beni? oh sorry ya kamu enggak selevel dengan saya. Mana mungkin juga Beni suka dengan Gadis model kamu cewek belagu enggak punya etika dan asal nyahut aja," balas Nina merendahkan Amanda.
"Jadi begitu? bagaimana kalau saya bilang kalau saya salah satu orang yang terpenting dalam hidup Abang Beni. Kalau saya bilang jangan pilih Wanita model rendahan seperti mbak, Abang Beni pasti akan mendengarkannya. Menurutku lebih baik Abang Beni memilih Mbak Ega daripada mbak, satu lagi terima saja jika ternyata Abang Beni lebih mengagumi mbak Ega dan mengakui mbak Ega tercantik sama dengan Uminya. oya disini siapa sebenarnya tidak punya etika? saya atau mbak? saya harap mbak belajar untuk memahami apa yang mbak ucapkan." Amanda langsung menyerang Nina dengan kata-kata pedas sebagai upaya untuk menumpahkan kekesalannya.
"Kamuuu! berani-beraninya? apa Beni akan membelamu?" Nina membentak Amanda. Terlihat wajah putihnya memerah menahan amarah.
"Beni, lihatlah apa yang dilakukan oleh Gadis tidak sopan ini? lakukan sesuatu untuk saya sayang. Kamu tidak mau Wanitamu ini direndahkan, kan?" Nina berusaha merayu Beni agar bertindak.
Beni hanya mendengus kesal, suasana hatinya memburuk. Dia memandang Nina jengah dan memandang Ega dengan pandangan yang sulit dimaknai. Sementara yang lainnya terdiam bingung harus berbuat apa.
"Manda, sudahlah jangan mengacaukan suasana yang indah tadi dan kamu Nina jaga bicara kamu? apa etis seorang Wanita baik-baik berkata seperti itu. Beni itu sudah memiliki hati yang harus dia jaga dan kamu harus menghargainya. Kamu mengerti maksud saya, kan?" Evan menengahi perdebatan diantara Nina dan Amanda.
"Maksud kamu apa Van?" tanya Nina sedih.
"Beni memiliki Gadis yang dia cintai dari dulu dan Wanita itu bukan kamu. Kamu hanya sahabatnya jadi jangan merusak persahabatan kita," jawab Evan menjelaskan.
"Iya Nina, Beni hanya menganggap kamu sahabatnya jadi jangan kamu merubah sesuatu yang terjaga dengan baik selama ini. Itu tidak baik dan alangkah tidak eloknya berkata seperti tadi." Rian menambahkan wejangan yang diberikan oleh Evan.
"Memangnya kenapa sih? aku hanya mengungkapkan perasaanku? apa salahnya aku suka sama Beni dan mengejarnya hingga aku dapatkan," ucap Nina menepis nasehat dari kedua sahabatnya itu.
Ega bingung harus menjelaskan apa? dia dan Beni terjebak dalam situasi yang tidak nyaman ini. Ega ingin berkata jujur namun melihat sikap Nina membuatnya khawatir.
"Mbak jika kekeuh ingin mendapatkan Abang Beni berarti Mbak Ega boleh dong mencintainya dan mendapatkannya?" ucap Amanda memanasi Nina sehingga membuat Nina mempelototi Amanda dan lalu beralih ke Ega yang terlihat terkejut. Beberapa menit kemudian terdengar suara Nina.
"Apa maksudnya? Ega itu bukan sainganku? dia itu sudah sadar dengan dirinya sendiri bahwa dia tidak pantas untuk Beni. Lagipula mana mungkin Beni melirik Ega, syukur-syukur dia dianggap sahabat oleh seorang Beni. Jadi dalam anganpun Ega itu tidak pantas untuk Beni apalagi dalam kenyataan. Lihatlah Ega dan bandingkan denganku, dia jauh dibawahku. Jangan mimpi! Ivan saja mendepaknya dan memilih Wanita yang jauh lebih cantik dan molek. Hasan juga begitu, dia benar-benar khilaf jika memilih Ega. Ega itu terlalu percaya diri ingin mendapatkan laki-laki tampan dan tidak memperhatikan dirinya sendiri yang biasa-biasa saja. Nah Beni, La tak mungkin tertarik dengan Ega. Kamu dengar itu Gadis Belagu, tidak mungkin." Nina membabi buta menyerang Amanda bahkan dia menyakiti hati sahabatnya sendiri. Dia tidak peduli dalam pikirannya hanya ingin membukam Amanda.
Semua orang yang mendengarkan menahan amarah. Ega tertunduk, hatinya sangat sakit tersayat oleh kata-kata Nina. Airmatanya tumpah. Dia berusaha menahan tangisnya agar tak terdengar. Beni yang melihat Isterinya begitu terluka. Dia mengepalkan tangannya menahan amarahnya.
"Cukup Nina, berani-beraninya kamu menghina Ega. Ega sangat pantas untuk seorang Beni bahkan menjadi Isteri seorang Beni, Ega merupakan Bidadari untuk Beni Hardian. Kalau boleh jujur saya Beni Hardian menyukai Baiq Ega Fajrina. Mencintai dia, menyayangi dia dan dia satu-satunya Wanita yang menjadi Bidadari di hati saya. Kamu dengar itu Nina?. Kamu itu sahabatnya, apa pantas merendahkannya dihadapan orang-orang, apa pantas Nina?" Beni tidak tahan lagi, dia mengutarakan perasaan yang selama ini ada untuk Ega. Dia menahan kemarahannya disetiap kata-katanya bahkan membentak Wanita itu dengan sorot mata tajam menusuk Jantung Wanita bernama Nina itu. Meskipun sahabat, dia sudah tidak mempertimbangkan itu semua. Sahabat yang baik tidak akan merendahkan sahabat sendiri.
"Beni, kenapa kamu memarahiku? aku hanya kesal dengan Cewek belagu ini. Lagipula aku hanya menceritakan kenyataan dan Ega juga tidak masalah dengan apa yang aku ucapkan. Dia sama sekali tidak tersinggung. Iya, kan Ga, kamu baik-baik saja, kan?" Nina berusaha membela diri. Dia sama sekali merasa tidak bersalah. Dia meranggul tubuh Ega dan menaruh Kepala di pundak Wanita itu agar terlihat sangat akrab.
"Aku beruntung memiliki sahabat yang baik sepertimu Ga? tadi aku hanya kesal, maafkan aku dan jangan tersinggung dengan segala ucapanku. Suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja. Aku berharap ketika bertemu Beni suasana hatiku menjadi membaik karena hanya Beni yang aku butuhkan untuk menenangkanku, kamu pasti mengerti itu kan Ga?" Nina berkeluh kesah kepada Ega. Ega sebagai tempat pelampiasan emosional Nina hanya terdiam saja. Dia berusaha menyeka airmatanya, menyabarkan hatinya dan berusaha tegar. Mungkin saja sekarang dia dan Beni sedang diuji seberapa kuat cinta mereka berdua.
Semua orang terheran dengan Nina yang terlihat merasa tidak bersalah dengan segala kata yang diucapkannya, baginya itu tidak penting karena berupa fakta yang tidak menyinggung siapapun.
Setelah puas berkeluh kesah, Nina melepaskan diri dari Tubuh Ega yang dirangkulnya. Dia berbalik menatap Beni sangat lekat seolah ingin mencari ketidaksungguhan dari apa yang diucapkan Laki-laki itu tentang pernyataan cintanya.
__ADS_1
"Beni, pernyataan cinta kamu kepada Ega hanya bercanda, kan? Aku tahu kamu sedang marah sehingga tidak mampu mengendalikan diri. Aku percaya mana mungkin kamu menyukai Ega? saat ini kamu sedang khilaf dan ketika sadar kamu akan menyesali karena telah mengatakan itu. Kamu pasti akan merutuki diri betapa bodohnya telah menyatakan cinta kepada Ega yang bukan selera kamu. Pernyataan cinta itu seharusnya untuk aku, Nina dan aku tunggu itu." Nina masih saja berada dalam angannya. Baginya dirinya yang berhak atas Beni dan Ega hanya Upik Abu yang pantas menikmati yang sama dengannya, itu menurut Nina.
Bersambung.