
San Pov.
Aku mencurahkan isi hatiku pada Abang tentang rasa yang aku miliki untuk seorang Gadis yang menjadi Sahabatku.
Aku ingin menikah dengannya, Gadis Manis yang membuatku jatuh hati. Gadis itu bernama Ega.
Entah kapan rasa itu ada?
Ketika aku mendengarkan suaranya hatiku berdebar-debar. Ketika aku mendengarkan ceritanya yang konyol aku benar-benar tertawa bahagia. baru kali ini aku bertemu dengan seorang Gadis yang begitu polosnya.
Tingkahnya membuat aku gemas dan selalu kangen.
Rasa ini nyata untuknya namun aku tidak sanggup mengungkapnya karena aku takut rasa yang aku punya tertolak olehnya.
Mungkin saja dia hanya menganggap aku sahabatnya bukan seseorang yang istimewa di dalam hatinya.
Pada malam harinya disaat aku istirahat dari pekerjaanku yang melelahkan aku membaca pesan darinya.
"Aku Ingin Menikah denganmu, Hasan."
Kalimat itu mampu menghiburku dikala keletihan melanda.
Aku akan usahakan itu, berusaha untuk memperjuangkanmu walaupun sesulit apapun itu. Aku sadar kamu sulit untuk diraih karena adanya perbedaan diantara kita.
Kamu itu harapanku maka aku akan berusaha untuk memperjuangkan harapan itu.
Berhari-hari aku berada di atas Samudera dan singgah di beberapa Negara tempat kapal ini bersandar.
Tentu saja rindu itu ikut menemaniku dimanapun aku berada namun aku berusaha menahannya.
Pada saat itu tiba aku diizinkan untuk cuti dan pulang ke tanah airku. Senang rasanya bisa menginjakkan kaki di Pulau kelahiranku yaitu Lomboq.
Kapal yang membawaku bersandar dengan aman. Aku turun dengan bahagia, terlihat keluarga menyambutku dan begitu juga kamu berdiri disana.
Aku melihat kamu melihat dan mengamati satu persatu orang yang turun dari Kapal berusaha untuk menemukan diriku di antara mereka.
Aku ingin berlari untuk menyapamu, sungguh aku bahagia melihat kamu disana namun kenyataan itu menghadangku.
Keinginan ini, rindu ini dan rasa ini sangat ingin mendekatimu tapi aku tidak bisa karena kenyataan itu menahanku.
Aku ingin kamu tidak melihatku agar aku tidak menorehkan luka di hatimu. Coba saja tidak ada khabar mengenai kenyataan itu mungkin saja saat ini aku telah berlari menghampirimu disana.
Aku ingin segera pergi menjauh agar kamu tidak menemukanku.
__ADS_1
Rupanya sepasang mata indah telah berhasil menangkap sosokku yang berjalan menjauh darimu.
Aku mendengar suaramu memanggil. Terus memanggil, aku tidak tega dan berhenti untuk memperlihatkan diriku agar kamu lega. Mungkin ini satu-atunya cara agar kamu tidak kehabisan suara karena terus saja memanggilku.
Aku terdiam dan membalikkan badan dan tersenyum menunggumu di tempatku berdiri
Aku melihat kamu berlari menghampiri namun batu itu menghentikan langkahmu.
Aku ingin menghampiri dan mengulurkan tangan untuk membantumu bangun dan berdiri akan tetapi kenyataan itu menahanku.
Aku lihat kamu meneteskan airmata. Hatiku nyilu merasakan kesakitan yang kamu alami. Aku ingin menghampiri dan menghapus airmatamu lagi-lagi kenyataan menahanku.
Ku utus seorang Gadis Kecil untuk membantumu dengan pesanku.
"Bangkitlah, lanjutkan hidupmu. Kenyataan tidak memihak kita."
Perih ini menderaku namun tetap saja kenyataan tidak perduli itu.
Aku tidak tega meninggalkan kamu sendiri disini maka aku hanya bisa mengawasi dari kejauhan memastikan kamu baik-baik saja. Sebenarnya aku sangat ingin mendekatimu menceritakan semua keluh kesahku, menceritakan semua masa depan yang sudah aku rancang bersamamu namun itu hanya mimpi indahku disaat aku terbangun mimpi itu lenyap tidak bisa aku raih lagi. sangat sulit mewujudkan mimpi itu karena lagi-lagi kenyataan menekanku untuk tidak melanjutkan mimpi itu bersamamu.
Seandainya kamu tahu seperti apa aku berharap. Harapan ingin segera menghalalkanmu meneguk manisnya kebersamaan kita dalam sebuah tali pernikahan yang diridhoi Allah akan tetapi kenapa kenyataan itu datang memalingkan semua impianku yang sudah aku isi namamu.
Aku hanya bisa menatap punggungmu menjauh dari tempat ini, sadarkah kamu bahwa aku setia mengawasimu hingga benar-benar hilang dari pandanganku.
Kamu yang aku suka namun kenyataan tidak menyukai itu.
Kamu yang aku rindu namun kenyataan tidak merindukan itu.
Kamu yang aku harapkan untuk menjadi pendamping hidupku namun kenyataan tidak mengharapkan itu.
Aku memiliki rasa untuk kamu namun kenyataan tidak ingin memiliki rasa atas nama kamu.
Maafkan aku karena tidak bisa lari dari kenyataan itu.
Ini namanya takdir dan takdir harus kita Imani dan aku tahu kamu mengimani itu.
Maafkan aku sahabatku, Cintaku Ega.
Maafkan aku hanya ini yang bisa aku ucapkan mengiringi langkah kakimu menjauh dariku.
Maafkan aku.
***
__ADS_1
Malampun tiba, ragaku lelah begitu pula dengan hatiku, lelah menanggung rindu. Kata orang memang benar rindu itu berat. Meskipun lelah aku akan selalu memikul rasa yang aku miliki hanya untukmu.
Aku sadar, kita tidak akan pernah bersama untuk merajut mimpi kita berdua. Kenyataan yang aku hadapi begitu beratnya meskipun ku ringankan dengan kepasrahanku.
Maafkan aku Ga, aku kalah berseteru dengan kenyataan itu. Walaupun aku berupaya untuk mempertahankanmu di hadapannya.
Ku ingat apa yang terjadi sebenarnya yang membuatku lari menjauh darimu. Aku Laki-laki pengecut yang tidak mampu menjelaskan mengapa cinta yang aku punya hanya sebatas di hati saja tanpa mengikrarkan untuk menyatukan hatimu dan hatiku agar menjadi kita dalam ikatan halal. Jujur aku ingin melakukan itu namun aku tidak sanggup menggapai ridho. Aku bisa apa? Selain berlari menjauh tanpa sepatah katapun untuk menguatkan keterpurukan yang akan terjadi padamu. Maafkan aku Ga, harus menerima keputusan keluarga.
Aku berusaha memejamkan mata namun kalimat-kalimat memisahkan kita masih menggema di sekelilingku.
"Hasan, Amaq dengar dari KakakmuĀ kamu ingin menikah? Benarkah, Nak?"
Aku terdiam menunduk saat itu. Terus terang saja ada rasa cemas berbaur dengan kebahagiaan jika ternyata kedua orang yang aku cintai dan hormati itu mengizinkan. Aku menganggukkan Kepala sebagai jawaban atas keseriusanku.
"Ceritakan tentang Gadis itu," perintah Amaq melihatku penuh kasik sayang.
Dengan ragu, aku memandang wajah tua kedua orang tuaku satu persatu di dampingi kedua Kakak Laki-laki.
Kala aku menatap mereka, ada isyarat yang meyakinkan aku untuk memulai bercerita. Tanpa ragu lagi aku bercerita panjang lebar tentangmu, awal kita bertemu dan seperti apa dirimu.
"Jadi, namanya Baiq Ega Fajrina?" ucap Amaq lembut. Namun ada nada kesedihan terselip disana saat beliau menyebut namamu.
"Nak, dengarkan Amaq. Amaq berat untuk mengatakan ini, sejujurnya Amaq sudah mencarikan seorang Gadis untukmu. Apa Kakak sudah menceritakan saat masih berlayar? maka menikahlah dengan Gadis pilihan Amaq. Amaq harap kamu bisa mewujudkan keinginan dari orang tua renta ini. Tunjukkan baktimu kepada kedua orang tuamu ini yang tak tahu kapan waktu menghadap-Nya, yang jelas semakin dekat. Maafkan Amaq, bukan maksudnya tidak merestui hubungan kamu dengan Gadis pilihanmu hanya saja Gadis itu terlalu tinggi kedudukannya denganmu, Nak. Dia bernama BAIQ sedangkan kamu tidak memiliki nama LALU. Apa kita sanggup untuk memenuhi adat dan juga Pisuke yang kedua orang tuanya minta. Gadis itu seorang ASN dan Pendidikannya setingkat lebih tinggi dari kamu. Tentu hal itu memiliki jarak antara kamu dan dia. Maka dengarlah permintaan kami, lupakan dia dan menikahlah dengan Gadis pilihan kami, kamu mengerti, San?"
Apa yang diucapkan Amaq begitu membekas di ingatanku. Jujur saja aku shock memdengarkannya. Namun nada lembutnya memintaku untuk tidak boleh membantah. Itu titah yang harus aku jalankan.
"Maafkan atas ketidak perdayaanku, Ga! Aku tidak bisa memperjuangkanmu untuk mewujudkan impianku bersamu. Aku telah ingkar janji, janji itu dengan mudah aku ucapkan dan semudah itu pula aku tak menepatinya. Aku munafik, tapi aku ingin berbakti.
Aku harus apa? Saat ini aku merasakan hati teriris Belati tapi apa daya, kenyataan tidak berpihak kepada kita.
Takdir, aku berupaya untuk menerimanya dan aku harap kamu bisa menerimanya.
Aku melihat sekat diantara kita terlihat nyata sekarang. Awalnya aku tak menyadari itu, karena aku telah memantapkan hatiku untuk jatuh cinta kepadamu dan membiarkan cinta itu memenuhi rongga dada dan sekarang aku merasakan rasa sesak karena tak bisa bersama.
"Ega, aku ingin bersua. Tidakkah kamu rasakan rinduku semakin berat?"
Aku berkata lirih, namun tak tersampaikan kepada Telingamu, maka aku harus apa?
Maafkan aku.
Ternyata kita tidak bisa bersama. Tadi pagi terakhir kali aku melihat wajah manismu dan malam ini aku ingin terakhir kali mengingatmu. Hadirlah malam ini, temani tidurku yang gelisah.
Bersambung.
__ADS_1