
Subuh menjelang, Ega mengerjapkan kedua bolamatanya. Dia melihat sekelilingnya dan dia teringat saat ini mereka berada di ruang keluarga karena semalam terjadi gempa lagi. Walaupun skalanya kecil namun cukup membuat rasa trauma itu muncul lagi. Wanita manis itu merasakan ada sesuatu yang membebani tubuhnya. Dia melihat tangan kekar Laki-laki sedang memeluknya. Dia tersenyum bahwa tangan kekar itu milik Suaminya. Dia
membalikkan tubuh lalu wajahnya bertatapan dengan wajah Beni yang terlihat manis dalam tidurnya.
“Tampan,” ucap Ega sembari mengelus Pipi putih milik Suaminya. Wanita itu mulai berselancar pada wajah tampan milik Beni Hardian dengan sentuhan lembut tangannya.
“Kenapa hanya tangan saja, kenapa bibir ini tidak disentuh dengan bibir juga,” ucap Beni serak khas orang baru bangun tidur. Bibir saja berbicara sedangkan matanya masih terpejam. Beni terbangun saat tangan Isterinya menyentuh bibirnya dengan lembut.
“Kak Beni, malu ah,” sahut Ega terlihat merona.
“Malu malu tapi mau. Ayolah lakukan saja apalagi semalam sebelum tidur aku belum merasakan sentuhan bibir kamu. Pagi ini aku kepingin,” ucap Beni merayu.
“Sudah ah, aku mau mandi biar Isteri jelek Kak Beni ini sedikit lebih bening walaupun tidak mungkin,” ucap Ega hendak beringsut dari tempat tidurnya namun keburu ditahan oleh Beni dengan memeluk tubuh rampingnya.
“Walaupun tidak bening, kamu tetap tercantik kok. Siapa yang bilang kamu jelek? Mereka tidak tahu saja betapa indah dan eksotisnya kulit kamu yang terbungkus hijab. Hanya aku yang merasakan sentuhan dari kulit kamu yang halus dan lembut.” Beni mengungkapkan segala pujian kepada Isterinya itu.
Ega merasa tersanjung dengan apa yang dikatakan oleh Laki-laki tampan yang mendekapnya dengan erat.
“Jadi, jangan merasa minder dengan anugerah yang telah Tuhan berikan untukmu sayang. Setiap warna memiliki keindahan masing-masing begitu juga dengan keindahan dirimu. Aku menyukaimu meskipun kata orang kamu tidak menarik. Aku tidak meragukan kalau sebenarnya kamu itu manis dengan paras yang tidak bosan untuk dipandang. Mata kamu mampu membuat hati ini berdesir indah dan senyum kamu mampu membuat jantung ini berdetak tak beraturan. Tentu saja wajah kamu mampu menenangkanku. Lantas apalagi yang hendak aku cari jika keindahan dirimu mampu mentawanku.” Beni melanjutkan kata sanjungan untuk Isterinya yang mampu membuat Isterinya itu melumer laksanakan Cokelat yang dilelehkan.
“Terima kasih sayang, tapi beneran aku mau mandi sebentar lagi akan disambut oleh Subuh,” ucap Ega lembut.
“Iya, sebelumnya sentuh diri ini dulu,” pinta Beni sedikit merayu.
Tanpa pikir panjang, Beni mengangkat tubuh Isterinya dan membawanya ke kamar yang berada di lantai dua dengan tertatih-tatih karena beban berat tubuh dari Ega. Saat itu Penghuni kediaman Hardian benar-benar masih terlelap belum ada yang terjaga. Mereka benar-benar terbuai dalam indahnya mimpi.
Selanjutnya yang terjadi Sepasang suami isteri itu kembali merengkuh manisnya penyatuan cinta dalam keintiman rasa. Ada kenikmatan yang terasa tatkala kedua insan itu memadu kasih dalam penyatuan diri.
“Aku lelah Ga, tapi terasa indah dan menyenangkan,” Guman Beni lirih. Dia terlihat lemas setelah memadu kasih dengan Isterinya. Ega juga merasakan hal sama, tenaganya terkuras habis karena berjuang mencapai puncak kenikmatan yang diinginkan mereka berdua.
“Hem, sebaiknya Kak Beni mandi sebentar lagi subuh,” ucap Ega lirih. Dia melirik Suaminya yang terkulai di sampingnya namun senyumnya benar-benar mengembang.
“Iya, apa tidak terasa sakit,” tanya Beni sebelum dia meninggalkan Isterinya.
“Masih terasa, tapi tidak apa-apa nanti juga biasa,” jawab Ega dengan rona malunya.
“Gemes jadinya,” ujar Beni mencubit hidung Ega yang lumayan tinggi.
“Auuuu sakit tahu,” desis Ega menahan diri.
“hahahaha.” Beni tertawa kecil menanggapi keluhan Isterinya itu.
“Berarti kamu sudah tidak marah lagi?” tanya Beni meyakinkan hatinya.
“Tidakkah penerimaan dariku cukup sebagai bukti kalau aku sudah memaafkan Kak Beni,” jawab Ega lembut.
“Iya, aku sadar itu. Kalau begitu aku mau mandi dulu,” ucap Beni sembari berjalan menuju kamar mandinya. Ega tersenyum memandang tubuh Beni yang menawan.Tubuh tinggi dan tegap yang terasa nyaman
apabila terselimuti olehnya.
Beberapa menit Beni melaksanakan bersucinya, kini giliran Ega yang melaksanakan kewajiban bersucinya juga. Setelah keduanya selesai membersihkan diri. Beni melangkahkan kaki menuju Masjid sedangkan Ega melaksanakan Shalat Subuh di Mushola bersama Umi Citra dan Pembantu lainnya.
***
Ega pagi ini setelah mengantarkan Anisa ke Sekolah. Dia memilih untuk melanjutkan kegiatannya dengan menjadi Tukan Kebun dadakan. Dia terlihat asyik menata Taman depan milik Mertuanya itu. Dia memotong dahan-dahan yang terlihat sudah tidak cantik. Membersihkan rumput-rumput liar yang menghalangi pertumbuhan tanaman itu. Saat Ega tengah sibuk dengan kegiatannya, ada seorang Gadis yang sedang melangkah kea rah Pintu depan. Gadis itu menggunakan Celana Jeans ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan atasan Ketat juga berlengan pendek. Sedangkan rambut panjangnya yang sedikit bergelombang terurai indah. Sungguh keindahan dari Gadis itu mampu memanjakan mata dari para Laki-laki yang tergoda akan pesonanya.
“Siapa Gadis itu? hendah mencari siapa?” tanya Ega dalam hati.
Tok tok tok
Gadis itu mengetuk daun pintu yang terbuat dari pohon jati.
“Assalamualaikum,” salam Gadis Cantik itu setelah ketukan tidak berhasil membuat penghuni rumah menghampirinya.
“Abang Beni, Abang Beni ada kan? Bukain pintu, ini Amanda Abang,” Teriak Gadis itu menggema disekitar teras.
Mendengar nama yang dipanggil, Ega bergegas menghampiri Gadis tersebut.
“Cari siapa?” sapa Ega ramah.
Gadis itu menoleh ke arah Ega lalu memindai Wanita yang menghampirinya dari ujung jilbab sampai ujung kaki. Saat ini Ega menggunakan Gamis sederhana dengan jilbab Instan yang lumayan menutupi auratnya.
“Pembantu baru ya Bik? ada Abang Beni enggak dirumah? Apa Abang Beni belum berangkat ke Kantor?” tanya Gadis itu dengan memanggil Ega Bibik. Tadi dia juga bertanya apa Ega merupakan Pembantu baru di keluarga Hardian.
Ega mengernyitkan dahi tak percaya dengan apa yang didengarnya. Gadis ini mengiranya seorang Pembantu dan tadi dia menanyakan keberadaan Suaminya.“Siapa Gadis ini? Ada hubungan apa dengan Suamiku?” batin Ega, dia segera sadar ketika Gadis itu memanggilnya kembali dengan panggilan “Bibik”.
“Ada mbak, mari masuk.”Ega mempersilahkan tamunya untuk masuk dan memintanya untuk duduk pada Sofa yang berada di ruang tamu. Setelah tamunya duduk, dia melihat tamunya itu menaruh bawaan pada meja
berupa rantang makanan.
Tidak ingin terlalu lama dengan pikirannya, Ega bergegas menuju ruang kerja Abi Banu karena saat ini Beni sedang menyelesaikan laporan penjualannya.Walaupun dia cuti tapi ternyata Abi Banu masih meminta
data penjualan dari Putranya itu.
Tok tok tok
Ega mengetuk daun pintu lalu membuka handle.
“Assalamualaikum,” salam Ega sembari melangkah kea rah Meja kerja yang ditempati oleh Beni.
“Waalaikumussalam,” Balas Beni memamerkan senyum indah.
“Kak Beni, ada yang cari,” ucap Ega memberitahu.
“Siapa?” tanya Beni penasaran dengan tamu yang tiba-tiba menghampirinya.
“Tidak tahu, seorang Gadis cantik,” jawab Ega datar.
“Mana cantikan dia sama kamu?” tanya Beni mengusili Isterinya.
__ADS_1
“Menurut aku sih Gadis itu, sexy banget dan cantik,” sahut Ega datar.
“Jadi penasaran, ayok kita temui,” ajak Beni sembari bangun dari duduknya lalu meraih tangan isterinya untuk dia
genggam.
Mereka berdua melangkah ke arah ruang tamu, namun hanya Beni saja yang melanjutkan langkahnya karena Ega beralasan mau ke dapur untuk membuat minuman untuk tamunya.
“Abang Beniiii,” teriak Gadis itu mendaratkan pelukannya ke arah tubuh Beni ketika Beni sudah berada di hadapannya.
Beni tertegun dengan apa yang dilihatnya. Dia belum sempat menghindar dari keagresifan Gadis di hadapannya. Sejurus kemudian dia tersadar lalu melepaskan pelukannya.
“Amanda,” guman Beni datar.
“Iya Abang Beni ini Amanda. Aku seneng Abang Beni masih ingat,” ungkap Gadis yang bernama Amanda itu.Terlihat wajahnya berbinar-binar karena ternyata Beni, Laki-laki yang diam disukainya masih mengingatnya.
“Kamu sudah besar Manda, sudah lama kita tidak bertemu semenjak kamu pindah Sekolah ke Jawa.” Beni berusaha mengingat kapan dia terakhir kali bertemu dengan Amanda. Amanda merupakan anak tetangga, Teman bermain Beni walaupun usia dari Amanda jauh di bawahnya. Dia dulu sering menemani Amanda dan anak-anak yang lainnya bermain. Beni menganggap Amanda seperti adik perempuannya sendiri sehingga selalu menemaninya bermain dan melindunginya dari kenakalan anak-anak seusianya.
“Iya Abang sudah lama banget. Sekarang aku sudah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan pada Sekolah Negeri,” cerita Amanda mengenai keberhasilannya.
“Wah hebat, Abang bangga sama kamu dek,” ucap Beni memuji Gadis cantik dihadapannya.
“Oya Bang, aku kesini membawa makanan untuk Abang. Aku yang masak lo! Semoga Abang Beni suka,” ucap Amanda menyodorkan rantang berisi makanan.
“Wah hebat banget, kamu sudah bisa masak?Pasti orang yang beristeri Adek amat sangat beruntung karena memiliki Isteri yang pintar memasak.Seharusnya adek tidak perlu repot-repot membuatkan Abang makanan tapi karena sudah kadung dibawa kesini berarti Abang ucapkan terima kasih.” Beni menyampaikan pujian kepada Gadis itu yang membuat Gadis itu tersenyum bahagia.
“Semua ini Manda lakukan untuk Abang. Manda belajar masak untuk bisa menyenangkan hati Abang. Karena berharap Abang Beni mau menjadikan Amanda sebagai Isteri Abang. Jujur saja Amanda suka dan cinta sama Abang Beni.”Amanda mengutarakan keinginannya sekaligus kata hatinya yang selama ini dipendamnya. Baru kali ini dia berhasil mengungkapkan perasaannya ketika dia kembali lagi ke Kota ini. Amanda tidak ingin menunggu Beni mengetahui perasaannya, karena mungkin saja akan menyita waktunya lebih baik dia yang melangkah maju, pikir dari gadis itu.
Beni terkaget dengan pengakuan dari Amanda yang terdengar berani. Dia merasa tidak nyaman dengan pengakuan dari Gadis itu. Selama ini dia tidak memiliki perasaan apapun. Beni hanya menganggap Amanda
sebagai adiknya.
Sedangkan Ega tidak kalah kaget dengan pengakuan dari Gadis itu. Dia berdiri mematung sembari menenteng nampan yang berisi jus yang dibuatnya.
Beni terdiam sesaat, dia berusaha memikirkan apa yang akan disampaikan kepada Gadis remaja ini sehingga tidak
menyinggung perasaannya.
“Amanda, Abang Beni minta maaf karena tidak mungkin membalas cinta Amanda. Selama ini Abang Beni hanya menganggap kamu sebagai adik, tidak lebih dari itu. Jangan salah artikan perhatian Abang dulu kepada kamu. Lagipula Abang Beni sudah menikah, apa kamu belum mendengarkan khabar kalau Abang sudah menikah,” ucap Beni lembut berusaha untuk memberikan pengertian kepada Gadis remaja itu.
“Tapi Abang, Amanda maunya sama Abang Beni. Kenapa tidak Abang ceraikan Isteri Abang lalu menikah dengan Amanda. Abang mau ya? Nanti Amanda minta sama Papa agar berbicara dengan Abi dan Umi untuk meminta Abang menikahi Amanda. Pasti Umi dan Abi setuju dan setuju juga meminta Abang untuk menceraikan Isteri Abang,” ucap Amanda panjang lebar tanpa memikirkan apa yang diucapkannya.
“Astagfirullah, “ batin Ega beristigfar. Dia benar-benar shock dengan kata-kata yang terlontar dari bibir Gadis itu. Dia tidak menyangka, Beni memiliki pengagum rahasia yang tiba-tiba muncul saat umur pernikahan baru beberapa hari. Bahkan saat ini dirinya belum sah secara adat. “Masak iya pernikahanku seumur kecambah, cepat amat Gadis lain hendak mengambil Suamiku,” batin Ega bermonolog sendiri.
“Maaf dek, Abang baru saja menikah beberapa hari yang lalu. Abang juga sangat mencintai Isteri Abang jadi mana mungkin akan menceraikannya lagipula Abang akan menikah sekali saja seumur hidup dan hanya satu Isteri Abang. Adek masih muda, adek belum tahu apa itu cinta sebenarnya. Mungkin saja saat ini adek terobsesi dengan Abang sehingga berusaha untuk mewujudkan keinginan adek. Lambat laun adek akan mengerti cinta itu seperti apa. Cinta yang tidak akan memaksa dan tidak menyakiti perasaan orang lain.” Beni memberikan pengertian kepada Gadis yang kini sedang dilanda cinta untuknya.
“Pokoknya Amanda maunya Abang,” ucap Amanda mulai berkaca-kaca.
Beni benar-benar bingung harus berbuat apa melihat sikap Amanda yang keras kepala. Dia yakin Amanda saat ini sedang labil sehingga tidak mengetahui apa yang sedang dirasakannya.
“Maaf, minumannya,” ucap Ega menghampiri. Saat ini mereka dalam kondisi diam tanpa adanya pembicaraan. Saat ini paras Beni terlihat gusar.
Ega duduk di Sofa menemani mereka berdua yang sedang dirundung nestapa.
“Wanita yang kamu kira Pembantu adalah Isteri Abang,” ucap Beni memberi tahu.
“Isteri Abang? tanya Amanda kaget.
“Jadi Abang menikahi Wanita Tukang Kebun, sudah begitu kampungan lagi. Lihat dandanan Isteri Abang tidak ada
modis-modisnya.Sebaiknya Abang ceraikan saja Isteri Abang dan menikah dengan Amanda. Lagipula lambat laun Abang akan bosan dengan Isteri Abang yang kampungan ini. Amanda tidak menyangka Abang menikah dengan Wanita sejelek ini. Cantikan Amanda kemana-kemana. Abang Beni buka matanya dong, apa yang dipandang dari Isteri abang ini.”Amanda menumpahkan kata-kata hinaan kepada Ega. Dia seakan tidak terima dengan kemenangan dari Isteri Beni yang mendapatkan hati dari Laki-laki yang selama ini dipujanya. Apa kurangnya dirinya, menurutnya dia sangat cantik, jauh berada diatas Wanita yang menjadi Isteri Beni.
“Amanda cukup, dia Isteri Abang. Jangan pernah menghina Isteri Abang, itu artinya kamu menghina abang juga. Jika Abang dengar kamu menghina Wanita ini, Abang tidak segan-segan untuk menghukum kamu dan tidak akan memaafkan perbuatan kamu, camkan itu. Abang tidak akan pernah menceraikan Isteri Abang, sampai kapanpun itu. Abang mencintai Isteri Abang jadi berhentilah mengganggu Abang,” ucap Beni panjang lebar menekan semua
kalimatnya agar Gadis bernama Amanda itu faham dan tidak lagi punya keinginan untuk mengganggu dirinya. Laki-laki itu berusaha untuk menahan amarahnya sehingga tidak menyakiti Gadis yang di anggapnya sebagai adiknya itu.
“Abang hanya menganggap kamu Adik, tidak lebih dari itu dan jangan mencoba menganggu hubungan Abang dengan Isteri Abang. Abang hanya mencintai Ega, Isteri Abang dan tidak akan pernah menceraikannya jadi kamu berhentilah punya pemikiran untuk menganggu Abang.” Beni menegaskan lagi apa yang diinginkannya agar Amanda tidak berani untuk mengusik kehidupan rumah tangganya yang baru saja di semainya.
“Abang serius? Apa Abang benar-benar mencintai Kakak Ipar?” tanya Amanda tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihan.
“Serius, mana pernah Abang bercanda dan berguyon dengan perasaan Abang,” jawab Beni tegas.
Setelah bertanya, sejurus kemudian Amanda tersenyum bahagia.Dia bangkit dari duduknya lalu menghampiri dan merentangkan tangannya untuk memeluk Wanita yang sedang duduk bingung disamping Beni.
“Selamat anda telah memasuki zona kebohongan kami. Aku menginginkan Abang Beni tapi bohong,” ucap Amanda tertawa lebar.Dia memeluk tubuh Ega dengan eratnya.
Beni dan Ega melongo dengan tingkah Amanda yang tiba-tiba saja tertawa. Sekarag Gadis itu memeluk Ega dengan erat penuh kehangatan.
“Maaf Kakak Ipar, tadi Amanda mengeprank kalian. Bagaimana acting Amanda, layakkah mendapat peran Antagonis sebagai Pelakor,” ucap Amanda tidak bisa lagi menahan tawanya.
“hahahahahaha,” tawa Gadis itu membahana di ruang tamu.
“Maksudnya?” tanya Beni bingung. Beni dan Ega saling pandang tak fahan dengan apa yang terjadi.
“Amanda tadi hanya mengeprank Abang Beni sama Kakak Ipar hanya untuk konten. Lagipula mana mungkin Amanda suka sama Abang Beni. Amanda tahu kok kalau Abang Beni hanya menganggap Amanda itu adik sebaliknya juga begitu Amanda juga menganggap Abang Beni Kakak. Jadi tadi itu hanya menguji cinta kalian berdua, Amanda berhasil, iya kan?” Amanda menceritakan segala ide konyolnya untuk mengerjain pasangan yang baru saja menikah. Dia ingin mengetahui seberapa besar cinta Abang Beni kepada Isterinya.
“Jadi semua ini untuk konten?” tanya Beni tak percaya.
“Iya Bang, Maaf. Amanda juga minta maaf karena sudah menghina Kaka Ipar. Bukan maksud menghina Kakak Ipar tapi Amanda lakukan agar terkesan beneran. Maaf ya kakak Ipar.”Amanda meminta maaf kepada Ega yang telah memberikan hinaan kepadanya.
“Kakak Ipar cantik kok, pantesan Abang Beni kesemsem,” lanjut Amanda sembari tersenyum cerah.
Beni dan Ega tidak bisa mencerna apa yang terjadi. Mereka berdua melongo tak percaya dengan apa yang dilakukan Gadis Remaja itu. Ega benar-benar shock dengan apa yang terjadi pagi ini. Dia mengira bahwa dirinya mulai diserang oleh Pelakor.
“Lah kok pada melongo dan bengong. Maafkan Amanda Bang tadi Amanda hanya menjahili Abang dan Kakak Ipar,” ucap Amanda mengingatkan mereka. Dia tersenyum mengembang karena telah berhasil mengerjain pasangan yang baru saja dipersatukan oleh Pernikahan.
“Ya Allah, Amanda. Anak nakal, jadi ini hasil pendidikan yang kamu dapatkan diluaran sana? Mengerjain orang. Bener-bener enggak sopan banget. Keterlaluan kamu.”Beni mengomeli Amanda habis-habisan. Dia tadi sempat shock dengan apa yang sedang dihadapinya. Tiba-tiba saja Gadis itu datang untuk mencoba mengusik rumah tangganya. Tingkah dari Gadis itu mampu membuat Beni gusar sekaligus emosi itu hampir saja mencapai ubun-ubunnya. Dia tidak ingin ada pihak ketiga yang mencoba mengganggu rumah tangganya. Mencoba mengusik ketenangan selama ini dirasakannya bersama Ega. Beni hanya ingin menikah sekali dalam hidupnya dan hanya ingin bersama Wanita bernama Baiq Ega Fajrina. Tidak ada lagi Wanita lain selain dia. Beni akan berusaha untuk mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya meskipun nanti akan banyak godaan dan cobaan yang akan datang menghampirinya. Beni sadar itu, tidak mungkin rumah tangganya akan berjalan baik dan mulus. Pasti akan terjadi gelombang kepahitan yang akan datang menerjangnya dan menggulung lalu menyeretnya ke lembah
kehancuran.
__ADS_1
“Anak nakal, sini kamu.” Beni mengambil Telinga dari Gadis itu lalu menjewernya secara keras membuat Gadis itu mengaduh kesakitan.
“Awwww, sakit Abaaaaang,” pekik Amanda menahan rasa sakit yang sedang melandanya.Terlihat wajahnya meringis menahan kesakitan akibat dari tangan keras Beni yang menjewernya.
“Lepasin Bang, sakit ini. Lama-lama Telinga Manda putus.”Amanda merengek agar Beni mau melepaskan tangannya. Namun Laki-laki itu seakan enggan melepaskan hukuman dari keisengan yang dilakukan Gadis itu.
“Kakak Ipar, tolongin Amanda dong. Tangan Abang Beni keras banget. Bisa-bisa Amanda kehilangan pendengaran nih!” rayu Amanda kepada Ega yang diam saja memperhatikan tingkah mereka berdua.
“Jangan mencoba merayu Isteri Abang, biar Abang Beni menghukum kamu agar kamu jera tidak seenaknya menjahili orang lain lagi. Untung Isteri Abang Beni yang kamu kerjain kalau orang lain bisa retak kemudian hancur rumah tangga orang. Untungnya Kakak Ipar kamu orangnya tenang dan tidak gampang percaya.Coba kalau Kakak Ipar kamu emosional bisa-bisa terjadi perang dunia ke empat.” Beni menumpahkan semua omelan kepada Amanda.Tangannya belum dia lepaskan dari Telinga Gadis itu untuk memberikan efek jera.
“Iya Abang, Amanda sudah minta maaf. Lain kali Amanda tidak lagi deh isengin Abang dan Kakak Ipar. Sekarang lepasain tangannya ya, sakit ini,” pinta Amanda memelas. Wajahnya sudah berubah memerah menahan rasa sakit yang mendera Telinganya.
“Kak Beni, kasian Amanda. Lepasin tangannya nanti kalau Telinga Amanda putus bagaimana? Kasian Kak.” Ega mencoba mengakhiri apa yang dilakukan Suaminya kepada Gadis remaja itu.
Beni memandang wajah Ega yang memohon agar dia mau menghentikan hukumannya kepada Amanda. Ada ketenangan pada diri Ega dan ada keteduhan pada paras Wanita itu. Paras teduh itu mampu membuat Beni tenang
dan nyaman.
“Baiklah Amanda, cukup hukuman untuk kamu. Ini semua demi Kakak Ipar kalau bukan parasnya itu Abang Beni tidak akan mau melepaskan tangan ini sampai kamu benar-benar menyesal,” ucap Beni mengakhiri hukuman yang diberikan kepada Amanda.
“Abang Beni ternyata sadis, dulu Abang selalu menjaga Amanda kenapa sekarang Abang jadi jahat gini,” guman Amanda sembari mengelus kupingnya yang mungkin saja membengkak.
“Dulu waktu masih kecil kamu anteng banget dan sekarang kenapa jadi pecicilan begini,” sahut Beni datar.
“Hehehehehe,” Amanda hanya cengengesan.
“Kakak Ipar terima kasih sudah mau membantu Amanda,” ucap Amanda mengarahkan pembicaraan kepada Ega.
“Sama-sama dek,” balas Ega sembari tersenyum.
“Kakak Ipar tidak marah dan sakit hati dengan apa yang Amanda lakukan?” Tanya Amanda hati-hati.
“Tadi sih sempat shock karena jujur saja Kakak tidak siap menerima cobaan yang secara tiba-tiba muncul namun berusaha menghadapinya dengan tenang. Kalau Kakak langsung percaya saja dan mengandalkan emosi tentu saja semuanya akan menjadi Bumerang bagi rumah tangga kita. Tadi Kakak pikir untuk meyimak saja apa yang sebenarnya terjadi dan berusaha untuk mencari jalan penyelesaiannya.” Ega menjawab bertanyaan yang ingin diketahui oleh Gadis Remaja itu yang ternyata hanya ingin mengerjain dirinya bersama Suami.
Amanda menggangguk-anggukkan Kepalanya tanda faham. Dia jadi kagum dengan Isteri dari Abangnya itu. Wanita itu sangat tenang dan tidak langsung menghakiminya.Tidak ada kata kasar dan hinaan untuk membalas perlakuan kasar darinya maupun hinaan yang dialamatkan kepada Wanita itu. Dia memilih untuk menjernihkan pikiran dan mencoba menyelesaikan semuanya dengan cara baik-baik tanpa mengandalkan amarahnya.
“Kakak Ipar, kalau seandainya beneran ada yang tiba-tiba suka sama Abang Beni dan berusaha untuk berebut Abang Beni bagaimana?” tanya Amanda penasaran dengan kepribadian dari Wanita Manis ini.
Ega tersenyum, dia berusaha untuk berpikir langkah apa yang harus dia lakukan jika itu terjadi.
“Ada dua kemungkinan sih dek,” jawab Ega kemudian setelah beberapa detik berpikir.
“Dua kemungkinan, apa itu sayang?” tanya Beni penasaran dengan kemungkinan yang akan dilakukan oleh Isterinya itu jika kemungkinan ada Pelakor yang menganggu rumah tangganya.
“Mempertahan atau melepaskan,” jawab Ega datar.
‘Maksudnya?”
“Iya, mempertahankan manakala pasangan benar-benar setia. Laki-laki yang mencintai kita dan tidak tergoda oleh rayuan Wanita lain. Laki-laki yang baik dan mempunyai Iman yang kuat, dia tidak akan berpaling dari pasangannya karena dia akan memegang teguh prinsip yang telah dia tanam dalam dirinya setelah memutuskan untuk berumah tangga. Sejatinya Laki-laki punya keinginan untuk menikah sekali saja dalam hidupnya namun ternyata ditengah perjalanan hidup rumah tangganya ternyata dia tergoda oleh Wanita lain maka dia akan merasakan kehidupan rumah tangganya akan hambar dan mulai bosan. Berbeda dengan mereka yang memegang teguh komitmen. Mereka tidak akan mudah goyah dan sekuatnya mempertahan rumah tangganya sampai akhir hayat. Terkadang dalam hubungan itu pasti ada rasa bosan dan hambar tapi berusaha untuk menghangatkan kembali hubungan itu. Jika kita anggap pernikahan yang kita jalani adalah Ibadah kita kepada Allah. Tentunya rasa bosan dan hambar pasti tidak akan terjadi karena kita merasakan nikmatnya Ibadah. Tapi kita tidak bisa mengelak dari rasa jenuh itu. Kenapa bisa itu terjadi? karena kita Manusia, mempunyai sifat fana. Hanya iman kita yang mampu mempertahankannya.”Ega mengutarakan pendapatnya dan sikapnya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh
Amanda. Dia terdiam sejenak untuk memberikan kesempatan kepada Amanda untuk mencerna kata-kata yang diucapkannya sekaligus membiarkan dirinya untuk bernafas.
Amanda mangut-mangut tanda mengerti. Sedangkan Beni mempersiapkan hatinya untuk selalu mencintai Isterinya.
“Melepaskan jika terjadi dua hal yaitu pasangan kamu tidak lagi mencintai dan menginginkan kamu. Jika itu terjadi maka lepaskan dia meskipun kamu sangat mencintainya. Jangan pernah merendahkan dirimu untuk mengemis cinta darinya meskipun alasan adalah untuk menjaga perasaan anak-anak. Apa yang bisa diharapkan lagi jika rasa yang memperelat hubungan sudah tidak ada lagi. Lebih baik melepaskan dan menjalani hidup sendiri meskipun sulit. Kita pasti bisa melakukannya, lebarkan sayapmu dan kepaklah sejauh apa yang kamu mau. Alasan yang kedua yaitu jika kamu tidak sanggup untuk berbagi dengan orang lain maka lepaskan dia meskipun kamu sangat mencintainya. Biarlah dia bersama orang lain jika dia tidak memilih kamu. Jangan pernah bertahan jika yang kamu rasakan ketidak sanggupan karena sama artinya kamu bunuh diri secara berlahan-lahan. Daripada merasakan sakit lebih baik kamu melepaskan dan menjalani hidup sendiri meskipun pada akhirnya kita akan mendapatkan anggapan buruk dengan status kita. Kita harus kuat dan tidak boleh menanggapi omongan yang buruk itu. Lebih baik membahagiakan diri dan memperbaiki diri kita sendiri serta mendekatkan diri kepada Tuhan yang telah menciptakan kita. Kita memperbaiki ibadah kita dan jadikan diri kita lebih berkualitas dari sebelumnya. Kita tunjukkan bahwa kita mampu berdiri sendiri dan bahagia dengan apa yang telah dipilih. Memang perpisahan sangat di benci oleh Allah tapi jika bertahan hanya akan membuat rapuh tak berdaya maka lebih baik melepaskan.” Ega menyambung penjelasannya yang terdengar begitu panjangnya. Beni dan Amanda dengan setia menyimak kata demi kata yang terlontar dari bibir yang sangat disukai oleh Beni.
“Wooow, detail banget penjelasannya Kakak Ipar. Ada bekal yang akan diingat jika nanti Amanda berkeluarga. Semoga saja Amanda mendapatkan Suami yang setia dan tidak pernah menghianati sakralnya pernikahan,” ucap Amanda terlihat bersemangat.
Sedangkan Beni hanya diam memandang paras Isterinya yang manis. Paras yang membuatnya jatuh cinta. Laki-laki itu mengungkapkan doa dalam hati, berharap Allah selalu menjaga cinta yang dimiliki hanya untuk Isterinya dan berharap pernikahan yang akan dijalani selalu harmonis, bahagia dan penuh dengan keberkahan.
“Abang Beni jangan macam-macam, Abang Beni harus satu macam kalau sampai nakal Amanda yang akan maju untuk mengeksekusi Abang Beni, awas!” Amanda memberi ultimatum kepada Beni.
“Iya Dek,Abang Beni hanya cinta sama Ega, tidak ingin Wanita lain lagi. Insha Allah semoga Allah selalu menjaga rumah tangga ini,” balas Beni menanggapi ultimatum yang dikeluarkan oleh Amanda.
“Aku tidak bisa menjanjikan apapun tentang hari esok tapi aku punya harapan agar hati dan cinta ini selalu milikmu
Isteriku.Untuk hari ini, esok dan selanjutnya hingga nafas ini terhenti. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi di hari selanjutnya. Kita hanya bisa berharap dalam doa agar senantiasa tetap bersama. Aku bersama kamu Isteriku Baiq Ega Fajrina.”Beni melanjutkan kata-kata indah bernada harapan yang dia panjatkan hanya kepada Allah.
“Aamiin,” Jawab Ega merasa bahagia. Dia tersenyum bersamaan dengan matanya yang ikut tersenyum membuat Beni dirundung cinta.
Sedangkan Amanda, tersenyum bahagia melihat sepasang kekasih halal yang membuat iri.
“Abang, Kakak Ipar kenalin aku sama cowok keren. Aku juga mau menikah muda,” celoteh Amanda melihat kemesraan yang terpampang dihadapannya.
Beni dan Ega melihat kearah Amanda yang sedang serius dengan permintaannya.
“Evan Noor Heriawan, sepertinya cocok untuk kamu, mempunyai hobby yang sama,” ucap Ega mengingat sahabat cemprengnya itu.
“Bagaimana kalau Lalu Dipta Prayoga atau Lalu Mandala Juna,” saran Beni.
“Sepertinya enggak cocok mereka berdua. Dipta hemat banget, entar kalau Amanda minta jalan-jalan pasti berat di ongkos lebih baik sama Evan lebih tepat. Kalau Juna, susah menyentuh hatinya apalagi keturunan Menak Pencitynya itu loh, beraaaaat.” Ega menyampaikan pendapatnya.
“Iya juga sih,” ucap Beni menimbang-nimbang.
“Mereka siapa?”
“Sahabat-sahabat Abang yang tergabung dalam Tujuh Sahabat.”Beni menjawab pertanyaan Amanda.
“Memangnya siapa saja, jadi penasaran Manda,” tanya Amanda.
“Jadi Abang punya sahabat akrab bernama Rian, Juna, Evan, Dipta, Nina dan Ega,” jawab Beni.
“Apa Ega itu Kakak Ipar, jadi Abang menikah dengan sahabat Abang sendiri?” tanya Amanda tak percaya.
“Iya Isteriku adalah Sahabatku,” jawab Beni tersenyum bahagia.
“Kepingiiiin, kalau begitu kenalkan Amanda dengan Abang yang bernama Evan itu saja,” pinta Amanda sekenanya.
“Double pecicilan dong,” guman Ega sembari tersenyum.
__ADS_1
hahahaha
Bersambung