
"Kembaran Kak Beni menggunakan identitas Juna," ucap Ega serius. Saat ini Ega dan Beni bertemu dengan Rian di sebuah Cafe.
Mereka berdua dengan cepat meninggalkan Hotel saat Beni dan Nina terusir dari sana. Sepasang Suami Isteri itu melanjutkan dengan membututi kemana arah tujuan mereka.
Setelah memastikan kalau Nina kembali ke rumahnya dan kembaran Beni menuju ke rumah barulah Ega dan Beni menghentikan pemburuannya. Saat ini mereka bertiga bertemu di sebuah Cafe untuk melanjutkan rencana selanjutnya.
"Serius? ane kok jadi bingung sendiri. Tidak mungkin Juna, kan?" sahut Rian serius.
"Nah itu yang seharusnya kita pastikan." Beni menanggapi kebingungan yang tercetak di wajah sahabatnya itu.
"Tidak mungkin Juna, deh!" ucap Rian ragu.
"Kalau memang bukan Juna? lantas kemana Juna sekarang? kenapa dia tidak ada khabarnya?" Beni mempertanyakan keberadaan Juna. Semenjak disekap, dari saat itulah Juna tidak nampak kehadirannya. Meskipun sangat jelas alasannya bahwa dia ditugaskan ke luar Daerah. Namun kenapa jejaknya tidak terbaca, lenyap begitu saja. Akunnya hilang dan nomornya tidak bisa di hubungi.
Rian menggelengkan kepala tidak mampu menjawab. Dia juga sudah menghubungi Juna berkali-kali selama berkali-kali itu pula nomor Juna tidak bisa dihubungi bahkan dia diblokir. Aneh, kan?.
"Coba kita tanyakan sama Evan? Katanya dia sedang berusaha melacak keberadaan Juna," ucap Rian kemudian menanggapi pertanyaan Beni. Dia meraih Handphone lalu menghubungi Evan.
Evan menanggapi dengan cepat, terbukti dia langsung mengangkat dengan membalas salam dari Rian.
(Bagaimana, Van? apa Juna berhasil di hubungi?)
(Tidak, tapi sistem sempat melacak keberadaannya. Abang Juna sempat mengaktifkan Handphone namun sebentar. Kalau dilihat titik koordinatnya, posisinya berada di Perumahan Grand Muslim, siang tadi. Sebentar sepertinya ada informasi masuk)
Evan menghentikan pembicaraan. Terdengar suara Keyboard di tekan olehnya. Rian menunggu dengan rasa penasaran. Dia memandang Beni sejenak selanjutnya ke arah Ega yang sama-sama menanti khabar dari Evan.
(Tidak mungkin ini, Abang Juna ada di Rumah Beni. Coba Ga, cek CCTV)
Dengan cepat Ega mengaktifkan CCTV yang sudah terpasang di Handphonenya.
Benar, terlihat kembaran Beni sedang menghubungi seseorang. Ega meneliti setiap sudut namun tidak ada Juna disana. Hanya ada kembaran Beni dan tidak ada siapapun di dalam rumah maupun di sekitar rumah Beni. Seperti keterangan Evan, posisi Juna berada di dalam rumah. Itu berarti kembaran Beni adalah Juna?
(Saya tidak mau tahu, rencana kita harus berhasil)
Terdengar pembicaraan kembaran Beni dengan seseorang yang entah siapa?
"Tidak mungkin Abang Juna, kan?" tanya Ega tidak percaya.
"Entahlah, satu-satunya cara kita harus berhasil melepaskan Topeng itu agar mengetahui dia Juna atau bukan?" sahut Beni serius. Pandangannya fokus menatap layar CCTV itu. Setelah kembarannya itu berbicara, dengan cepat mematikan Handphone.
(Jejaknya hilang)
Ucap Evan di seberang.
(Iya Van, kembaran Kak Beni mematikan Handphonenya)
(Aneh, jika Abang Juna seharusnya sadar kalau segala tingkah lakunya bisa dilacak dan dipantau)
(Ante benar, Van? Dia juga semestinya tahu kalau di rumah Beni pasti di lengkapi dengan CCTV sehingga dia tidak gegabah berbicara. Atau jangan-jangan dia sengaja memperlihatkan identitasnya sendiri)
(Jujur, saya pusing siapa sebenarnya Beni palsu ini terus kemana Abang Juna?)
Evan terdengar frustasi.
(Van, tenang ya? Kita akan mengungkapkannya. Siapapun dia, Insyaa Allah, Tuhan pasti akan memberikan petunjuk. Sekarang kamu istirahatlah)
(Iya Beni)
Rian mengakhiri panggilan. Bersamaan itu pula terjadi keheningan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Saya tahu bagaimana caranya mengetahui kalau itu Abang Juna atau bukan?" ucap Ega tiba-tiba. Tentu saja ucapan itu mengagetkan Beni dan Rian.
"Bagaimana caranya?" tanya Beni penasaran.
Ega menyampaikan rencananya. Kedua Pria itu menyimak dengan baik apa yang di sampaikan oleh Wanita itu.
"Ante yakin, Ga?"
"Tidak salahnya mencoba?" sahut Ega menanggapi keraguan dari Rian.
"Okay, kita jalankan besok pagi," ucap Beni mendukung apa yang akan dilakukan Ega.
Setelah kesepakatan terjadi mereka bertiga meninggalkan Cafe.
Ega menuju rumah di Grand Muslim sedangkan Beni akan menginap di sebuah rumah yang sudah di sewanya. Jaraknya tidak jauh dari rumahnya sendiri.
"Hati-hati sayang," ucap Beni setelah sampai di rumah tempat tinggalnya sementara.
"Iya sayang, aku pulang dulu," jawab Ega. Dia meraih tangan kanan Beni lalu menciumnya.
Beni meraih tubuh Isterinya kemudian mendekap sangat erat. Ada kekhawatiran yang diluapkan disana. Sejenak mereka berdua menikmati kehangatan itu. Setelah puas, Beni melanjutkan dengan mencium bibir itu. Terjadi pagutan panas yang tak rela Pria itu melepaskannya.
Ega menyadari, ciuman yang diberikan Suaminya memiliki sejuta makna. Ada kecemburuan, rasa frustasi dan ketakutan yang diluapkan disana.
__ADS_1
Beni melepaskan diri setelah puas menikmati bibir merekah itu.
"Pergilah sayang dan hati-hati," pesan Beni yang dijawab anggukan oleh Ega.
Wanita itu meninggalkan Beni yang masih terpaku di tempat mengarahkan pandangannya ke Isterinya. Setelah Ega memasuki rumahnya, baru Beni masuk ke dalam rumah yang dia tempati.
Sedangkan Ega, Wanita itu memarkirkan Sepeda Motornya di Garasi. Setelah Motornya terparkir dia melangkah melalui Pintu samping yang menghubungkan Garasi dengan Dapur.
Ceklek
Wanita itu membuka Pintu. Dia melangkah dengan pasti menuju kamarnya.
"Kamu sudah pulang Dek?"
Disambut pertanyaan oleh Beni di ruang keluarga.
"Iya Kak, maaf ya aku langsung menjenguk Saik Aminah. Tidak apa-apa, kan? untuk sementara aku tidak menemani Kak Beni," sahut Ega menunduk. Dia merasa bersalah karena tidak ada waktu menemani Suaminya sendiri.
"Tidak apa-apa sayang, saya faham kok! Saik Aminah sama pentingnya dengan Ibu," ucap Beni hangat. Dia tersenyum dengan mengulurkan tangan ingin menggapai kedua pipi mulus berwarna Cokelat itu.
"Kak Beni mulai dah! Mau mencuri kesempatan ya?" ucap Ega menggoda diakhiri dengan kekehan kecil. Dia menghindar.
"Memang enggak boleh menyentuh Isteri sendiri, ya? Kamu manis banget sayang jadinya tangan ini pingin membelai kedua Pipi kamu," ucap Beni. Terlihat jelas hasratnya terpancar dari kedua bola mata itu.
"Kak Beni enggak sabaran, ah! Aku mau mandi dulu, gerah dan bau amis," sahut Ega berlalu dari hadapan Beni.
"Jadi saya harus berpuasa, nih? kapan saya boleh menyentuhmu sayang? Please help me, saat ini saya menginginkannya," ucap Beni merengek.
"Sabar dong!"
Setelah menjawab, Ega masuk ke kamarnya lalu mengunci Pintu dari dalam. Dia membiarkan kembaran Beni yang kesal dan uring-uringan.
Beberapa menit membersihkan diri, Ega keluar dari kamar dengan Daster berlengan panjang dan juga Jilbab yang terpasang pada Kepalanya.
"Kak Beni di sini rupanya?" ucap Ega menyapa Pria itu yang sedang menonton Televisi di ruang keluarga.
"Iya sayang, sini duduk," sahut Beni menepuk Sofa di sampingnya.
Ega melangkah ke arah Sofa lalu mendudukkan diri memberi jarak.
"Lagi nonton apa, sih?" tanya Ega berbasa basi.
"Kartun Dua Budak kembar, habisnya tidak ada tontonan yang menarik," sahut kembaran Beni meletakkan remot setelah mengecilkan volumenya.
Sejenak mereka berdua terdiam memikirkan pembicaraan selanjutnya. Terjadi kecanggungan mewarnai kebersamaan mereka.
"Kak Beni!" Ega pada akhirnya memulai pembicaraan setelah lama berdiam diri.
"Iya?" jawab Beni lembut. Dia mengarahkan pandangan ke wajah Ega yang manis.
Ega menangkup wajah itu, mengelus lembut. Tentu saja membuat Beni berbinar-binar. Pria itu membiarkan tangan lembut Isterinya menelusuri wajahnya.
Ega sengaja melakukan itu hanya untuk mengetahui celah yang bisa merobek Topeng yang digunakan Pria yang menyerupai Suaminya. Dia meneliti dengan seksama apakah wajah itu melakukan operasi plastik atau hanya menggunakan Topeng yang dibuat mirip dengan wajah Beni.
Ega terus saja memamerkan senyum menawannya. Sedangkan matanya awas melihat wajah itu. Sementara tangannya meneliti letak dimana wajah itu bisa disingkap.
Setelah memastikan bahwa wajah itu tidak melakukan operasi plastik dan juga tahu letak titik pentingnya barulah Ega melepaskan tangannya dari wajah Pria itu.
"Kok berhenti dek? padahal saya suka lo!" ucap Beni muram. Ada kekecewaan yang ditampilkan pada wajah itu. Baru saja menikmati elusan tangan halus Wanita itu. Secepat itu melepaskan rasa nikmat itu.
Ega beristgfar dalam hati. Tidak bermaksud menyentuh wajah bukan mahromnya. Dia hanya ingin mengetahui seluk beluk Topeng itu agar bisa melepaskan pada saatnya nanti dari wajah penggunanya.
Ega tersenyum menanggapi kekecewaan Pria itu.
Beni mengambil air minum lalu meneguknya untuk mengalihkan kegugupan sekaligus rasa kecewa di hatinya.
"Kak Beni, apa Abang Juna menghubungi Kak Beni?" tanya Ega.
Uhuk uhuk uhuk
Beni terbatuk begitu mendengar nama Pria itu disebut.
"Enggak, emangnya kenapa?" tanya Beni dengan wajah datarnya.
"Tidak apa-apa, sih? semenjak Abang Juna pergi ke luar kota, nomor Handphonenya tidak bisa dihubungi, terus semua akun medsosnya ditutup," sahut Ega dengan mimik penasaran.
"Sepertinya kamu perhatian banget sama Juna? sepentingkah itu dia?" tanya Beni dingin. Ada ketidak sukaan dan cemburu tersirat dari setiap huruf yang diucapkannya.
Ega mengernyitkan dahi kebingungan. Dia dirundung tanya dengan sikap Kembaran Beni yang terlihat seperti membenci Juna.
"Tidak bermaksud apa-apa hanya saja saya mengkhawatirkan Abang Juna yang tidak ada khabarnya. Bagaimana pun juga Abang Juna sahabat kita dan Kak Beni juga sangat dekat dengannya." Ega menerangkan alasannya.
"Iya saya tahu itu, bisa kah kita tidak membahas orang lain selagi kita berdua. Saya ingin di antara kita tidak ada orang lain. Hanya ada kamu dan aku?" ucap Beni serius. Terlihat wajahnya tidak sedap di pandang mata. Mungkin karena gagalnya menyalurkan hasratnya kepada Nina membuat suasana hati Pria itu tidak karuan. Itu yang dipikirkan oleh Ega.
__ADS_1
"Saya hanya bertanya, wajahnya jangan dibuat masam begitu? Saya merasa Kak Beni berbeda?" ucap Ega datar.
"Maaf, dek."
Beni buru-buru meminta maaf. Entah apa maksud dari perkataan itu? mungkin saja ingin mengelabui Ega agar tidak menaruh curiga kepada dirinya. Sebisa mungkin Pria itu bersikap seperti Beni agar penyamarannya tidak terbongkar.
"Baiklah, saya maafkan Kak Beni. Lain kali jangan bersikap seperti itu, tidak memiliki kepedulian kepada orang lain apalagi dengan sahabat sendiri," sahut Ega berpura-pura memaafkan.
Beni menggangguk mengerti. Dia menyadari kesalahan yang tak sengaja dilakukan. Kesalahan sekecil itu bisa saja membongkar rahasianya. Tidak mungkin Wanita ini tidak menyadari bahwa dirinya tidak seperti Beni. Kalimat itu berkecamuk dalam benak Pria itu.
"Sebaiknya kita main tebak-tebakan," ucap Ega mengalihkan pembicaraan.
"Boleh," sahut Beni singkat.
"Komitmen persahabatan?" tanya Ega memulai pertanyaan.
Beni mengernyitkan dahinya tak mengerti lalu menggelengkan kepalanya.
Ega tersenyum, dia sengaja memancing dengan pertanyaan seputar persahabatan mereka. Jika dia Juna, tanpa sadar dia akan menjawabnya.
"Rupanya Kak Beni lupa," ucap Ega kecewa.
"Maaf, semenjak di sekap, sepertinya banyak yang saya lupakan," sahut Beni merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, wajar itu mungkin saja Kak Beni trauma," sahut Ega datar.
Ega melanjutkan lagi dengan pertanyaan.
"Merah berarti?"
"Keren," jawab Beni antusias.
Ega memandang wajah kembaran Beni dengan raut yang sulit terbaca. Dia melanjutkan pertanyaan seputar rahasia Juna. Ada beberapa kebiasaan Juna dan hanya Ega yang mengetahuinya. Tentu hal itu yang ditanyakan oleh Wanita itu. Jika berhasil menebak, tentu saja Pria kembaran Beni adalah Juna.
"Bagaimana? Jawaban Suamimu ini benar semua, kan?" tanya Beni dengan perasaan senang.
Ega menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Lelaki yang berada di sampingnya.
"Berhubung benar semua, saya dapat hadiah, dong?" ucap Beni tidak bisa lagi menampakkan rasa bahagia di hatinya.
"Iya, ada kejutan nanti di acara perusahaan. Kak Beni lupa lagi ya?" sahut Ega mengingatkan dengan hari jadi perusahaan dan Banu Hardian sudah jauh-jauh hari mengingatkan Putra dan Menantunya.
"Tentu saja saya tidak lupa, jadi kamu akan memberikan hadiahnya pada acara perusahaan." Beni berkata-kata dengan wajah tak sabaran. Dia tidak sabar akan melaksanakan rencananya.
"Oh ya Dek, besok kita ke rumah Abi dan Umi ya! Ada yang ingin saya sampaikan," lanjut Beni setelah tersadar dari angannya.
"Iya," sahut Ega singkat.
"Oh ya, KTP saya kok enggak ada Dek?" tanya Beni mempertanyakan keberadaan identitas milik Beni Hardian Adha.
Ega terdiam, dia sengaja berpikir dan mengingat-ingat dimana keberadaan benda itu.
Sebenarnya Ega sudah mengamankan semua aset pribadi Suaminya termasuk KTP miliknya. Dia tidak ingin identitas Beni disalah gunakan oleh Pria palsu ini. Apalagi rencananya yang ingin menikahi Anita dengan mengatas namakan Beni. Bisa saja dengan Identitas yang dikantonginya itu akan mempermudah niat busuknya.
Untung saja Dompet Beni tertinggal di rumah saat bergegas menemui Lexi sebelum dia di sekap.
"Bukannya KTP disimpan di Dompet Kak Beni dan Kak Beni selalu membawanya," sahut Ega berpura-pura bingung.
Beni terdiam memikirkan perkataan Wanita itu. Saat dia menyekap Beni dan mengambil barang-barangnya, tidak ditemukan apapun selain Kunci Mobil.
"Kamu benar Ga, mungkin saja Dompet itu terjatuh."
"Kak Beni buat lagi KTP baru saja. Tidak ingin menjadi warga ilegal, kan?" ucap Ega menanggapi keresahan Pria itu.
"Hah?" Beni terkaget. Dia menatap Ega dengan gelisah selanjutnya menggelengkan Kepala.
Jika dia mengurus KTP baru, secara tidak sengaja akan membongkar siapa dirinya. Sidik jarinya tidak akan sama dengan sidik jari yang dimiliki oleh Beni Hardian.
"Sial, kenapa identitas Beni bisa hilang, sih?" ucap Beni mengumpat dalam hati.
"Iya, nanti saya akan urus." Beni pada akhirnya menyetujui saran dari Ega.
"Kalau begitu, Kak Beni istirahat saja. Bukankah Kak Beni esok hari akan sibuk mempersiapkan hari jadi Perusahaan."
Beni menanggapi dengan anggukan. Dia bangkit dari duduknya lalu melangkah ke arah kamar Pribadi mereka. Sedangkan Ega menyusul, dia hendak memeriksa Pintu dan Jendela apakah sudah terkunci semuanya. Tentu saja dia tidak mau tidur sekamar dengan Pria yang bukan Suaminya sehingga berbagai alasan diajukan. Beni manut saja, berpura-pura menjadi Beni yang sebenarnya.
***
Esok hari, saat pagi menyapa terdengar suara raungan Ambulance dari jalan perumahan Grand muslim. Beni yang baru saja bangun dari tidur, tiba-tiba terkejut. Dia menutup kedua telinga dan memejamkan matanya. Terlihat wajah tampan itu memucat memperlihatkan rasa takutnya.
"Nguing, nguing, nguing."
"Sepertinya kamu benar-benar Abang Juna?" Ega membantin saat melihat perubahan wajah Beni yang ketakutan mendengarkan suara Ambulance itu. Itulah salah satu rahasia dari Juna. Dia phobia dengan suara itu, jika mendengar sirene Ambulance dan melihatnya akan menyebabkan dirinya ketakutan. Nah terbukti sekarang, Pria yang mirip dengan Beni itu ketakutan dengan bunyi sirene dari Mobil Ambulance.
__ADS_1
Bersambung