Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 33. Terungkap.


__ADS_3

Terpaksa mereka angkat tangan. Disaat mereka menyerah tiba - tiba seseorang melumpuhkan Indra kemudian mengambil alih Pisau yang dipegangnya dengan sedikit memukul tangan Indra Aditama sehingga pisau itu terjatuh dan dengan gerakan cepat seseorang tersebut menendang Pisau tersebut kearah yang tidak mudah dijangkau oleh Indra Aditama dan anak buahnya.


" Buuuugh." Terdengar pukulan yang membuat Ega terlepas dari bahaya. Ternyata seseorang yang berhasil melumpuhkan Indra Aditama adalah Beni. Pemuda itu diam - diam mendekati Indra Aditama saat Dipta mengajaknya berbicara. Tentu saja perhatian Laki - laki Paruh Baya itu berpusat ke Dipta dan Rian yang berusaha menyembunyikan tubuh Beni yang diam - diam bergerak ke arah Indra tanpa disadari oleh Laki - laki itu. Sedangkan Lexi dan Mandala juga berusaha mengalihkan perhatian anak buah Indra agar Beni segera menyelamatkan Ega karena posisi Beni lah yang memungkinkan untuk melumpuhkan Indra Aditama.


Ega segera mengamankan diri begitu dia terbebas dari genggaman Indra Aditama. Melihat itu anak buah Indra segera mengejar Ega namun dihalangi oleh Lexi dan Juna dan kawan - kawan. Mereka kembali menyerang dan terjadilah baku hantam antara Lexi, Juna dan kawan - kawan dengan anak buah Indra Aditama yang jumlahnya lebih banyak dari mereka. Saat mereka berkelahi tiba - tiba terdengar sirene mobil Polisi mendekat yang membuat anak buah Indra Aditama berusaha melarikan diri namun segera dilumpuhkan oleh Juna dan kawan - kawan.


" Sial, kenapa ada Polisi?" Umpat Indra Aditama marah. Indra berusaha berpikir keras apa yang hendak dikatakannya untuk membela diri. Dia sedikit lega karena tidak ada bukti yang akan menghukumnya. Tadi dia sudah menyuruh anak buahnya menghapus rekaman pengakuannya sehingga dia yakin tidak ada bukti lagi yang akan menyeretnya ke Jeruji Besi.


Polisi sudah mengepung mereka, tidak ada jalan lagi untuk kabur menyelamatkan diri begitu juga dengan Indra Aditama tidak memungkinkan dirinya akan kabur. Indra memilih untuk menyelamatkan diri dengan jalan mengkambinghitamkan anak buahnya.


" Tangkap semuanya Pak, mereka semua telah menculik sekaligus mencoba melecehkan Gadis itu." Tunjuk Indra Aditama kepada Ega mencoba untuk mengkambinghitamkan anak buahnya. Indra sangat yakin jika rekaman itu sudah dihapus oleh anak buahnya.


" Jadi seperti itu kejadiannya? Terima kasih atas keterangannya tentu kami akan menangkap mereka bersama Anda juga sekalian karena Anda telah terbukti melakukan kejahatan terhadap Saudari Nara beberapa tahun yang lalu dan juga terbukti Anda mencoba melecehkan Gadis yang bernama Ega sekaligus penodongan dengan senjata tajam kepadanya yang tentu saja membahayakannya." Ucap salah satu Polisi yang terlihat lebih Senior diantara mereka.


" Mana buktinya kalau saya melakukan itu?" Tanya Indra Aditama bersikeras untuk membantah tuduhan yang memang benar dilakukannya.


" Anda bisa membuat bantahan di Kantor Polisi tapi yang jelas bukti rekaman pengakuan kejahatan Anda sudah masuk ke Sistem kami jadi Anda tidak bisa lagi mengelak. Borgor semuanya." Perintah Polisi yang berpangkat IPDA.


Polisi segera bergerak memborgor anak buah Indra Aditama yang sudah lumpuh karena sudah di hajar habis - habisan oleh Juna dan kawan - kawan.


Mereka semua dibawa ke Mobil Patroli bersama Indra Aditama. " Lexi bantu Papa, katakan kepada mereka kalau Papa tidak bersalah. Mandala lah yang harus dipersalahkan, dia yang harusnya di hukum karena terbukti Mandala yang ada di CCTV itu." Racau Indra Aditama namun tidak ditanggapi oleh Lexi, laki - laki itu tidak bergeming sama sekali. Dia muak dengan apa yang diperdengarkan oleh Papa kandungnya. Dia benar - benar muak dengan apa yang telah dilakukan oleh Papanya kepada Mamanya dan juga Nara. Kenapa Laki - laki Paruh Baya itu tidak punya hati dan tega melakukan semuanya hanya demi melayani nafsunya.


" Astaghfirullah, Om ini kenapa sih? masih saja meracau tidak jelas, sudah salah masih saja mencoba mencari kambing hitam dan mencoba melemparkan kesalahannya kepada orang lain. Seharusnya Om tobat dan menjalani hukuman dengan baik malah pingin berkeliaran yang membuat Om terlena dan lupa sama Tuhan. Insyaf Om, dunia sudah tua dan bencana terjadi dimana - mana terutama di akibatkan oleh kelakuan Om sendiri." Ucap Dipta panjang lebar menceramahi Papanya Lexi.


" Diam kamu, tidak ada yang bisa menahan seorang Indra Aditama lagipula tidak ada bukti yang bisa menghukum seorang Indra Aditama, camkan itu. Setelah saya bebas, saya akan mencari kalian dan membuat perhitungan dengan kalian semua." Ucap Indra masih saja tidak mendengarkan segala nasehat. Laki - laki itu seakan menyombongkan dirinya dan tidak mau menerima nasehat dari orang lain terutama dari anak bau kencur seperti Dipta.


" Saya tunggu Om, kita lihat nanti saja Om siapa yang lebih mahir ilmu matematikanya, Om atau Dipta." Ucap Dipta senyam senyum tentu saja yang mendengarkannya tersenyum geli sambil geleng - geleng kepala.


" Sadar Om, tidak ada gunanya membantah kejahatan yang pernah Om lakukan. Walaupun Om mencoba menutupi serapat mungkin dan mencoba menghapus segala bukti dengan mencoba memfitnah orang lain pada akhirnya terbongkar juga. Allah sedang memperlihatkan kuasaNya. Percuma Om koar - koar tapi kenyataan itu sudah menyeret Om ke Jeruji Besi untuk mempertanggungjawabkan kejahatan Om. Memang benar Om telah menghapus bukti rekaman di handphone kami tapi rekaman yang ada di Server masih utuh dan bukti itu yang langsung di kirim ke Sistem Kepolisian. Silahkan saja Om berurusan dengan sistem yang dimiliki kepolisian jika om punya nyali." Ucap Beni sudah mulai jengah dengan tingkah Laki- laki paruh baya ini. Sudah ditangkap masih saja bertingkah.


" Apa kalian sudah selesai mengeluarkan unek - uneknya?" Tanya Bapak Polisi Senior kepada Dipta dan kawan - kawan.


" Siap, Iya Pak." Jawab Dipta mewakilkan teman - temannya.


" Nak Ega tidak apa - apa kan?" Tanya Bapak Polisi Senior itu mengarahkan pertanyaan kepada Ega.


" Saya tidak apa - apa Pak." Jawab Ega berusaha menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya karena tadi dia sempat bertarung.


" Tidak ada apa - apa, apanya? lihat wajah kamu memar kalau tidak segera diobati akan mengakibatkan infeksi."


" Ini cuma memar sedikit saja Pak, tadi tidak sengaja mendapatkan bogeman salah sasaran." Ucap Ega cecengesan.


" Harus kudu segera diobati biar tidak bengkak. Oh ya kalian semua harus segera pulang dan jangan berkeliaran lagi." Ucap Bapak Polisi Senior itu kepada Ega dan kawan - kawan.

__ADS_1


" Siap Komandan." Ucap mereka serempak sambil hormat kecuali Lexi karena tidak mengerti kenapa Pak Polisi itu memberikan perhatiannya kepada Ega. Sepertinya mereka mengenal Bapak Polisi tersebut.


Mereka semua menyalami Bapak Polisi Senior itu kemudian mencium punggung tangannya. Sebelum meninggalkan Lokasi lagi - lagi beliau mengingatkan mereka agar segera kembali ke rumah masing - masing.


Rupanya Bapak Polisi Senior itu adalah Bapak Kandung dari Dipta bernama IPDA Lalu Candra Prayoga. Tentu saja Pak Candra mengenal semua teman - teman anaknya terutama Enam Sekawan.


" Terus kita ngapain sekarang?" Tanya Rian sepeninggalnya Pak Candra dengan membawa hasil tangkapannya.


" Bukannya tadi kita disuruh pulang sama Pak Candra ya?" Ucap Beni mengingatkan mereka.


" Aduh Kak Beni penurut amat sih? Bagaimana kalau kita cari tempat makan yang enak. Saya laper dari tadi sore perut belum diisi apalagi tadi sudah mengajaknya berantem tambah kriuk dah tuh." Ucap Dipta memberi saran.


" Ente ya Dipta giliran perut di inget, tapi bener juga sih saya juga laper. Ayok kita cari makanan, kalian semua pasti ngikut kan?" Ajak Rian sambil merangkul bahu Dipta.


" Kalian bagaimana sih? Nina belum ditemukan nih? malah cari tempat makan." Tiba - tiba Juna mengingatkan teman - temannya, tujuan awal mereka sebenarnya mencari Nina namun mereka malah terjebak di masa lalu Lexi dan Mandala.


" Iya juga sih, tapi saya laper tidak bisa ditunda - tunda lagi bagaimana kalau selesai makan kita cari Nina lagi. Kita butuh energi untuk mencari Nina." Usul Dipta.


" Benar juga sih, akan susah berpikir kalau perut dalam keadaan kosong." Sambung Beni.


" Ayok kita makan di mana Ga?" Rian mengarahkan pertanyaan ke Ega yang terlihat berjalan mendekati Lexi guna mencari tahu dimana keberadaan Nina, hanya Lexi yang tahu nasib Nina yang sebenarnya.


Mereka baru menyadari keberadaan Lexi ditengah - tengah mereka.


" Man, saya minta maaf karena sudah menuduh kamu yang melakukan itu, bahkan aku menyimpan rasa dendam dan berusaha ingin membuat kamu menderita. Maafkan aku Man, sungguh aku tidak tahu itu ." Ucap Lexi mulai berbicara ketika Juna sudah ada dihadapannya.


" Tidak apa - apa, wajar saja kamu marah dan juga membenci saya. Siapapun pasti akan marah ketika mendapati sahabatnya dengan tega melakukan kejahatan kepada sahabatnya sendiri." Sahut Juna tersenyum.


" Tapi saya tidak percaya dengan sahabat saya sendiri. Sahabat macam apa yang lebih percaya dengan apa yang dilihat di CCTV tanpa melakukan croscek atas kebenaran itu. Maafkan saya." Ulang Lexi sekali lagi meminta maaf atas kesalahpahaman yang mengakibatkan hubungan mereka retak.


" Sudah tidak apa - apa, saya juga tidak bisa membuktikan kalau saya tidak bersalah karena bukti itu benar - benar jelas hanya ada saya disana. Saya dan Nara terpaksa melarikan diri dan mengganti identitas sehingga tidak terlacak oleh anak buah Om Indra. Saat Nara dirumah Sakit. Anak Buah Om Indra berusaha untuk mencelakakan Nara kembali dan saya segera membawa Nara kabur." Cerita Juna membuat Lexi teriris hatinya, lagi - lagi Pelakunya adalah Papanya sendiri.


" Maafkan Papa Man?" Ucap Lexi lirih dengan menundukkan wajahnya. Terlihat jelas rasa sakit yang terpajang pada wajahnya. Mata teduhnya mulai berkaca - kaca namun segera dihalaunya. Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan mereka terutama Ega. Seorang Gadis yang menemukannya didalam kegelapan hidupnya. Memberikan sedikit terang agar dia bisa kembali dari kesesatannya.


" Iya, semoga saja dengan kejadian ini Om Indra sadar dan bertobat." Ucap Mandala terdengar tulus menerima segala perlakuan Papa dari Sahabatnya. Percuma juga dia marah sama Om Indra karena tidak akan ada gunanya. Mandala lebih memilih berdamai dengan musibah dan fitnahan yang menimpanya.


" Terus, bagaimana keadaan Nara? Apa Nara masih bersama kamu? sebenarnya apa yang hendak Nara ingin katakan pada malam Naas itu. Jika saja aku sampai tepat waktu kejadian ini tidak mungkin terjadi." Ucap Lexi terdengar parau, dia benar - benar merasa bersalah atas keterlambatannya datang untuk menemui Nara.


" Nara sebenarnya ingin memberikan kamu kejutan pada Hari Ulang Tahun kamu Lexi. Kami berdua telah mempersiapkannya dan Nara juga ingin menjawab pernyataan cinta yang pernah kamu ucapkan kepada Nara." Mandala mulai bercerita.


Flashback.


" Alhamdulillah selesai juga dekorasinya, kira - kira Lexi suka enggak ya?" Tanya Nara kepada Mandala yang sibuk menata bunga - bunga di sekeliling tempat itu. ditengah ada Meja dengan dua kursi lengkap dengan makanan dan minuman tidak ketinggalan Kue Tar.

__ADS_1


" Pasti suka lah, apalagi hari ini kamu mau jawab pernyataan cinta dia dengan jawaban Ia aku mau menerima cintamu Lexi, bila perlu kita nikah yok?" Gurau Mandala terdengar menggoda Nara membuat Gadis cantik itu bersemu merah.


" Idih kok langsung minta dinikahi sih?"


" Enggak apa - apa, daripada pacaran ujung - ujungnya......." Mandala sengaja menggantungkan kalimatnya agar Nara mencoba menerka arah pembicaraannya.


" ......Ujung - ujungnya bubar, begitu maksudnya? baru saja mau memulai tapi malah sudah mendoakan yang jelek sih." Potong Nara menekuk wajahnya yang cantik. Kulit putihnya semakin bersinar diterpa rembulan yang terlihat indahnya. Masha Allah.


" Kamu yang bilang bukan saya lo! padahal belum tentu itu yang ingin saya ucapkan, makanya didenger dulu jangan langsung main potong kan jelek hasilnya."


" Terus maksudnya apa coba?" Tanya Nara sambil mengarahkan pandangannya ke arah wajah Mandala. Laki - laki tampan itu masih asyik dengan aktivitasnya menata bunga - bunga.


" Ujung - ujungnya bakalan nikah juga kan? alangkah baiknya langsung Nikah untuk menutup jalan Setan menggoda kalian. Siapa tahu saja kalian tidak tahan berlama - lama dengan irama jantung yang katanya Dag Diq Dug duaaaar dan rasa nikmat bersentuhan. Awalnya cuma sentuh tangan terus senggol - senggolan, cubit - cubitan, sentuh - sentuhan, peluk - pelukan, cium - ciuman teruuuus....."


" Stop, jangan dilanjutkan karena aku tahu arahnya yaitu jatuh ke jurang kan? karena terus melulu." Kelakar Nara mendengarkan ocehan Mandala.


" Kalau sudah tahu, jangan coba - coba untuk terus - terus entar tidak sadar nyemplung deh! Siapa yang rugi coba?" Tanya Mandala sambil berdiri karena dia sudah menyelesaikan tugasnya.


" Iya, iya Insha Allah semoga tidak terjadi." Jawab Nara tersenyum simpul.


" Semoga, ini sudah beres terus sekarang cepet telepon Lexi suruh tuk anak kesini. Semoga saja si Lexi tidak Lelet."


Nara menelepon Lexi dan langsung diangkat oleh Lexi dan dia berjanji akan datang tepat waktu.


" Sudah beres, tinggal kita tunggu saja." Jawab Nara setelah menghubungi Lexi.


" Terus saya ngapaen?"


" Terserah, mau jadi Nyamuk atau Tokek."


" Yee kok Nyamuk dan Tokek sih? enggak banget sih. Masak ganteng - ganteng di suruh jadi Tokek dan Nyamuk sih? kamu tuh ya?" Ucap Mandala sambil mengacak rambut lembut Nara sehingga membuatnya berantakan.


" Mandala jahat, jadi berantakan rambut saya nih, nanti kalau Lexi tidak suka bagaimana?"


" Bodo, saya pergi saja males mengganggu orang yang mau pacaran. Saya enggak mau jadi Nyamuk apalagi Tokek. Tekek. tekek. tekek." Ucap Mandala sambil menirukan suara Tokek.


" Kalau begitu, pergi sana biarkan saya menikmati malam ini berdua saja bersama Lexi."


" Yakin? kamu tidak takut tiba - tiba Monster laut datang menelan kamu dan membawa kamu berkencan didalam lautan sana." Mandala pura - pura menakuti Nara tapi malah Nara tertawa mendengarkan cerita yang adanya didalam Film.


" Saya tidak takut, sana - sana pergi." Suruh Nara sambil mendorong tubuh Mandala untuk meninggalkannya.


Flashback end.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2