Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Menghadapi Ivan.


__ADS_3

"Mas Ivan dimana Suamiku?" tanya Ega dengan sorot tajam seakan menusuk sepasang mata itu. Terkejut, itu yang terlihat pada wajah Ivan.


Sejenak dia terdiam memikirkan jawaban apa yang akan diberikan kepada Wanita yang tidak disangkanya muncul di hadapannya.


"Bukannya Beni sudah saya bebaskan dan sekarang bersamamu. Mana saya tahu kemana perginya Suamimu setelahnya. Apa mungkin dia mencari selingkuhannya," jawab Ivan santai. Akhirnya dia bisa menguasai keadaan.


"Jangan menipuku Mas Ivan. Apa kau pikir saya tidak mengetahui niat jahat kalian," sahut Ega lantang.


"Saya tidak ingin berbasa-basi, tunjukkan di mana Beni asli, Suamiku."


Kalimat Beni asli, tentu saja membuat Ivan terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Wanita di hadapannya mengetahui bahwa Beni yang bersamanya bukanlah Beni asli. Rupanya dia sangat mengenali Suaminya. Batin Ivan.


"Kenapa diam Mas Ivan. Saya sudah mendengarkan dengan jelas bahwa Mas Ivan diperintahkan untuk melenyapkan Suamiku, kan? tidak menyangka Mas Ivan ternyata sejahat ini," ucap Ega dengan pandangan dingin.


"Ega, Raka melakukan semua ini karena kamu. Kamu yang tak sabaran menunggu sehingga memilih menikah dengan Beni. Apa Raka salah ingin mengambil kembali milikku. Kamu itu milikku Ega bukan milik Beni."


Ucapan Ivan membuat Ega muak seketika. Dia tidak menyangka Ivan seegois itu dan sangat berambisi untuk mencapai keinginannya.


"Sampai kapan, sampai saya tua? Sudahlah, jangan membuang waktu. Dimana Kak Beni, Suamiku," teriak Ega tak sabar. Dia  kemudian menyerang Ivan membabi buta.


Brak


Bruk


Plak


Ivan tak diam, dia menangkis serangan yang dilakukan Wanita yang dulu hampir saja dia halalkan.


Lama, mereka bertarung hingga tersisa kelelahan. Ega mengatur pernafasan yang mulai terasa berat. Saat mereka menjalin hubungan dulu, sepasang Kekasih itu sering latihan bela diri bersama. Ivan-lah yang mengenalkan Ilmu bela diri kepada Ega dan mengajarinya agar Gadis itu bisa menjaga diri.


Jika dulu mereka berlatih diselingi canda tawa dan kata-kata romantis. Tidak dengan sekarang, mereka berdua saling menyerang dan menangkis dengan tujuan untuk melumpuhkan lawannya.


"Ega, saya tidak menyangka jurus-jurusmu semakin meningkat," ucap Ivan memuji. Dia masih mencintai Wanita yang menjadi lawannya. Dia berharap suatu saat nanti mereka berdua akan hidup bersama, itulah angannya.


"Tentu, karena Suamiku yang mengajarinya," sahut Ega bangga. Jawaban itu tidak disukai oleh Ivan. Dia kesal, wajah tampannya berubah memerah.


"Suamimu sedang berada diakhir hidupnya. Setelahnya, apa sebahagia ini kamu menyebut namanya. Jujur diakui Beni Hardian sangat tangguh. Satu cara untuk melumpuhkannya dengan menyuntiknya agar hilang kesadaran. Tentu dengan cara itu membuatnya tak berdaya." Ivan berkata-kata dengan senyum mengejek. Ada raut senang melihat wajah Ega berubah pucat. Mata indah yang dulu sangat di sukainya berubah meredup seiring dengan rasa cemas yang tersimpan. Tentu pemandangan itu membuat Ivan bahagia.


"Jika kamu kembali kepadaku, maka Suamimu akan saya bebaskan," ucap Ivan membuat penawaran. Dia sangat senang menganggu pikiran Wanita itu dan menempatkannya dalam dilema.


"Ivan Alkaeri, saya Baiq Ega Fajrina Isteri dari Beni Hardian Adha tidak sudi menerima tawaran kamu," sahut Ega lantang.


"Baiklah, itu maumu membuat Beni Hardian Adha, Suami dari Baiq Ega Fajrina hanya tinggal nama."


Beni tak main-main dengan ucapannya. Dia menepuk tangan meminta anak buahnya untuk melaksanakan perintahnya. Tidak perlu berkata, dengan petunjuk maka anak buahnya akan melaksanakan perintahnya untuk mengeksekusi Beni.


Ega menunjukkan raut tak gentar, dia bahkan tak takluk dengan ancaman Ivan. Hanya doa senjatanya bukan, dia yakin senjata terampuhnya akan mampu menggagalkan kejahatan yang akan dilakukan oleh Ivan ataupun orang yang berada dibalik Topeng wajah Beni. Tuhan, tentu akan menolong. Itulah keyakinan bagi yang beriman.


Setelah beberapa menit menunggu, tidak ada tanda-tanda orang-orangnya Ivan mendekat. Ega tersenyum dengan pandangan mengejek lalu berkata dengan penuh percaya diri bahwa semua berpihak kepadanya.


"Mana? Anah buah pun sekarang tidak kamu miliki. Siapa yang akan menjalankan perintahmu, Mas Ivan? Bahkan semua orang menghianatimu, kamu sendirian ternyata?"

__ADS_1


"Apa maksudmu, Ega?"


"Mana anak buahmu? apa Mas Ivan tidak menyadari, tiada satu pun orang-orangmu disini?" sahut Ega dengan pertanyaan membuat Ivan terperanjat. Dia mengawasi sekitar dan menggunakan tangannya memberikan kode agar semua anak buahnya mendekat, namun tak satu pun yang menghampiri.


Ega tersenyum menang dengan tatapan dingin yang mampu membekukan lawannya.


"Tunjukkan dimana keberadaan Suamiku." Ega memerintah. Tidak ada kesabaran yang kini dipegangnya. Wanita itu hanya ingin secepatnya bertemu dengan Suaminya dan memastikan bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja.


"Saya tidak menyangka kamu sekuat ini Ega?"


"Apa kamu pikir Wanita itu lemah sehingga seenaknya ditindas, tidak! semua Wanita itu memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan dibalik kerapuhan dan senyum lembutnya. Sekarang kamu buktikan itu Mas Ivan Alkaeri." Seusai berkata Ega menendang bagian terlemah seorang Laki-laki membuat Ivan limbung seketika dan mengerang kesakitan. Ivan tidak menyangka Ega memanfaatkan lengahnya untuk melumpuhkannya.


"Egaaaa." Suara lirih Ivan tidak membuat Wanita itu memiliki belas kasian.


"Dipta, aku lelah sekarang giliran membuat Pria ini lumpuh," ucap Ega memanggil ketiga sahabatnya. Mereka bertiga diam-diam menghalangi anak buah Ivan untuk membantu. Terjadi pertarungan sehingga membuat anak buah Ivan tidak berdaya. Dengan ancaman, mereka pada akhirnya berpaling dari Tuannya. Tentu, Dipta mengandalkan Jabatan Ayah dan Kakaknya yang merupakan anggota.


Dipta, Evan dan Rian bergerak membantu Ega untuk mengikat Ivan yang berusaha memberontak.


"Bagaimana kalau kita bekerja sama Mas Ivan?" ucap Ega saat mereka berhasil mengikat Pria itu.


"Kerja sama? apa keuntungan buat saya?" tanya Ivan menahan amarahnya.


"Ketenangan, Mas Ivan akan hidup tenang dan Anita juga merasakannya. Tujuan Mas Ivan melakukan ini untuk Anita, kan?" sahut Ega serius.


"Kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan Anita. Apa kamu bisa mengembalikan hidupnya yang normal penuh dengan keceriaan. Anita depresi dan sekarang dia ada di rumah sakit jiwa dengan perut membuncit." Ivan menuturkan apa yang terjadi dengan Anita sekilas.


Terkejut, itulah yang dinampakkan oleh Ega. Dia tidak menyangka teman satu Kantornya dulu mengalami nasip yang miris.


"Ini semua karena Lexi Aditama dan juga karena kamu. Kamu yang membuat Lexi berpaling dari Anita," sahut Ivan geram.


Ega terdiam sesaat. Dia tidak menyangka Anita yang merupakan temannya mengalami nasip sesakit ini. Ada apa dengan para Breng**k seenaknya merampas kehormatan seorang Wanita, bukankah mereka dilahirkan dari rahim seorang Wanita. Apa dia lupa dengan hal itu? atau memang menutupi kejujuran hatinya dengan lebih menuruti nafsunya.


"Saya tidak ada hubungannya dengan Lexi. Lagipula Lexi hanya menganggap Anita sebagai seorang teman dan tidak pernah memiliki perasaan sedikit pun." Pada akhirnya Ega mengucapkan pembelaan.


"Kamulah sebabnya."


Pernyataan singkat itu mampu menggores hati Ega. Dia tidak menyangka Ivan menganggapnya sebagai menyebab hati Lexi berpaling. Sungguh sakit dituduh seperti itu sementara dia belum saja menyentuh perasaan Pria itu. Tak sedikit pun dia memiliki rasa untuknya. Dia hanya memiliki cinta untuk Suaminya.


"Mas Ivan, perasaan Lexi yang tidak ada untuk Anita bukan karena saya. Lexi mengakuinya, dia tidak ingin menyakiti Anita itulah alasannya. Anita Gadis baik sedangkan dia terjerumus dalam pergaulan bebas karena itulah Lexi menghindarinya." Ega membantah segala tuduhan dengan menuturkan alasan dari Lexi yang diketahuinya.


"Penipu, lantas kenapa dia mendekati Anita dan mengambil mahkotanya dengan paksa hingga membuat Anita depresi. Sekarang apa alasanmu untuk membela Lexi? bahkan Lexi ingin mengambil identitas Beni, Suami kamu. Atau jangan-jangan kamu bersengkokol dengan Lexi untuk mengambil milik Beni dan melenyapkannya setelah itu kalian bisa hidup bersama. Kalian berdua memanfaatkan amarahku untuk melakukan semua ini, iya, kan Ega? Saya tidak menyangka kamu selicik ini." Ivan menumpahkan sangkaan demi sangkaan. Saat ini hatinya dikuasai amarah sehingga tak mampu memendungnya.


"Saya tidak menyangka Otak Mas Ivan sedangkal ini. Untuk apa saya mencelakai diri saya sendiri dan membela Lexi. Saya sudah katakan tidak ada hubungannya dengan Lexi. Jika orang dibalik wajah Beni bisa mirip dengan Beni Suamiku, tentu dia juga bisa mirip dengan Lexi Aditama. Kenapa Mas Ivan tidak pernah berpikir kalau dia hanya memanfaatkan amarah Mas Ivan. Mas Ivan hanya dijadikan Talenan untuk memuluskan keinginan orang itu sendiri," sahut Ega membantah segala tudingan yang diarahkan kepadanya.


"Maksud kamu?"


"Lexi yang sekarang menyamar menjadi Kak Beni bukanlah Lexi asli. Lexi asli sudah lama meninggalkan Kota ini dan memilih untuk tinggal pada Pondok Pesantren yang ada di Pulau Jawa sana. Dia memutuskan untuk memperbaiki hidupnya dan sekarang dia sedang memperdalam ilmu agama." Ega pada akhirnya menceritakan keadaan Lexi yang sebenarnya.


Ivan terkejut, Pria itu memandang wajah Ega dengan pandangan menyelidik. Ketidak percayaan yang tersirat pada raut wajah itu.


"Kamu bohong, kan?" tanyanya kemudian setelah melihat keseriusan pada wajah Wanita di hadapannya.

__ADS_1


"Untuk apa saya berbohong, kita sudah menyelidiki semenjak menemukan Bunga bintang itu. Mila juga mengakui seperti apa hubungan Anita dengan Lexi karena dia yang tahu pasti hal itu," sahut Ega serius.


Ega kemudian menceritakan hasil penyelidikan dan juga pengakuan Lexi asli yang tidak pernah mendekati Anita setelah dia bertemu dengan Ega dan memutuskan untuk meninggalkan dunia kelamnya. Jadi, tidak mungkin Lexi asli yang telah merampas kegadisan Anita sehingga membuatnya hamil.


Ivan tampak bingung, jelas-jelas dia berhadapan dengan Lexi dan mulai melancarkan niat awalnya mencelakakan Ega atas perintah Lexi.


"Tidak mungkin ini?"


"Jika Mas Ivan tidak percaya, iya sudahlah. Bagaimana kalau kita membuktikannya," ucap Ega. Dia berpikir untuk menyusun siasat.


"Bagaimana caranya?"


Ega mengarahkan pandangannya kepada ketiga sahabatnya. Dia memberikan isyarat kemudian mereka menjauh dari Ivan. Ega mengutarakan rencananya, sedangkan Dipta, Evan dan Rian mendengarkan dengan baik. Sesekali mereka juga memberikan usul agar rencana itu berjalan sesuai dengan keinginan mereka. Seusai mereka merembukkan rencana, keempatnya kembali menemui Ivan.


"Apa Mas Ivan siap bekerja sama dengan kami?" tanya Ega dengan sorot tenang mengintimidasi.


Ivan berpikir, menimbang baik dan buruknya dan juga memikirkan keselamatan Anita jika rencana ini tidak berhasil.


"Apa Mas Ivan memikirkan keselamatan Anita? tenang saja, Dipta akan mengurusnya. Lagipula Beni palsu tidak akan mengetahuinya. Kita akan bermain cantik dan mengikuti alur cerita yang dirancang oleh Beni palsu itu. Tentu rencana ini akan membongkar siapa dia sebenarnya."


Ega berusaha meyakinkan Ivan agar ikut terlibat dalam rencana ini. Mereka akan menjebak Beni palsu tentu dengan bantuan Ivan. Ivanlah pemegang kunci dari keberhasilan rencana ini.


"Baiklah, saya ikut kalian. Saya juga tidak ingin larut dalam kejahatan. Saya melakukan ini semua demi Anita, agar dia mendapatkan keadilan," sahut Ivan setuju.


'Mas Ivan memang Pria baik, jangan sampai Setan memperdayakan Mas Ivan sehingga terperosok di dalam keinginannya untuk menjauhkan Mas Ivan dari Tuhan," ucap Dipta menimpali keputusan Pria itu.


Ivan tertunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya terbetot dengan kata-kata yang diucapkan oleh Dipta. Seorang teman yang tepat tidak akan menjerumuskan temannya dalam perbuatan nista. Seorang teman yang baik akan menarik temannya yang terjerembab dalam kubangan keburukan dan bersama-sama memperbaiki diri.


"Sekarang apa rencana kalian?" tanya Ivan setelah bisa menguasai perasaannya.


"Bebaskan dulu Suamiku," jawab Ega serius. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan Beni. Rasa cemas, khawatir dan juga rindu berpadu menjadi satu.


'Baiklah."


Setelah berkata, Ivan meminta bantuan Dipta untuk memapahnya menuju sebuah ruangan. Ikatan tangannya belum dilepaskan oleh Ega karena takut Ivan akan mengingkari kesepakatan mereka.


Mereka melangkah ke arah ruang rahasia, setelah lama berjalan pada akhirnya Ivan menemukan Pintu yang menghubungkan dengan ruang tersebut.


Ceklek


Pintu terbuka, Ega mendorong pintu itu agar terbuka sempurna. Disana, Ega dan yang lainnya melihat Beni meringkuk dengan tangan dan kaki terikat disertai mulut dilakban.


"Kak Beni."


Ega berhamburan memeluk tubuh itu. Tak ada reaksi membuat Ega memperelat pelukannya.


"Apa yang terjadi dengan Suami saya?" tanya Ega tak melepaskan tubuh lemah itu. Air matanya tumpah melihat kondisi Suaminya yang tak berdaya.


"Lexi menyuntikkan sesuatu sehingga Beni kehilangan kesadaran dan juga seperti yang saya katakan tadi, Beni dilumpuhkan dengan suntikan cairan yang berbahaya. Kalau tidak, dia pasti bisa melarikan diri dan menghancurkan semuanya,"  jawab Ivan memberitahu.


"Jahat kalian, Beni palsu akan saya hancurkan kamu," ucap Ega geram.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2