
Flashback beberapa tahun yang lalu.
Minggu 29 Juli, pukul 05. 47 pagi.
Ega masih asyik dengan rutinitasnya di hari libur. Dia saat itu sedang membersihkan kamar dan menata benda-benda pribadinya agar terlihat cantik. Pada kamar itu hanya terpajang satu buah Figura bertuliskan kaligrafi dan dua buah fhoto yaitu fhoto keluarganya dan fhoto tujuh Sahabat.
Beberapa menit dia mengerjakan itu. Pada akhirnya selesai juga apa yang dikerjakannya. Gadis manis itu tersenyum puas namun sedetik kemudian saat jarum jam menunjukkan pukul 05.47 waktu Daerahnya tiba-tiba dia merasakan tubuhnya sempoyongan dan bersamaan dengan itu terdengar suara gemuruh yang membuatnya gemetaran.
"Ada apa ini? kok tiba-tiba goyang? Kok tembok juga bersuara." Batin Ega sedang duduk di kasurnya.
Ega berpikir sesaat begitu menyadarinya Gadis itu terlonjak kaget.
"Astaghfirullah, gempa." Pekik Ega berlari keluar. Ega juga mendengarkan suara teriakan Saik Aminah dan tetangganya yang mulai panik memanggil nama-nama keluarganya agar segera mencari tempat yang aman.
Ega berlari ke Kebun dan disana telah ada Saik Aminah dan beberapa tetangganya. Wajah mereka terlihat panik dan pucat karena terkejut dengan gempa yang tiba-tiba datang begitu saja tanpa ada isyarat apapun.
Ega duduk menyandarkan diri pada pohon Sawo. Dia berusaha mengatur nafasnya yang tidak stabil dan jantungnya terdengar begitu keras digendang telinga.
Dug dug dug.
"Astaghfirullah." Guman Ega pelan, jantungnya benar-benar terasa begitu mengkhawatirkan begitu juga tubuhnya yang mulai lemas. Dia merasakan lututnya seakan tak punya tulang karena tidak sanggup menopang beban tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, Ega berhasil menormalkan tubuhnya. Dia melihat Saik Aminah sedang berusaha mengelus dadanya untuk menenangkan dirinya. Tidak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya yang terlihat pucat.
"Saik Aminah tidak apa-apa?" Tanya Ega setelah berhasil menguasai ketidaknyamanan dari jantungnya.
Saik Aminah hanya mengangguk, dia terlihat begitu memprihatinkan, untuk bicara saja sepertinya dia tidak sanggup.
Beberapa Tetangga Ega memilih untuk tinggal di Kebun dan sebagiannya memilih untuk tetap berada didepan rumah masing-masing. Jauh dari bangunan yang mungkin saja tiba-tiba bisa roboh.
"Ega, Ega, Ega." Tiba-tiba berteriak seorang Ibu-ibu yang menghampiri kerumunan yang ada di Kebun.
"Ada apa Ibu Sumi?" Tanya Ega melihat Ibu itu ngos-ngosan. Ibu yang di panggil Sumi itu berusaha mengatur nafasnya sebelum dia menguraikan kata yang ingin disampaikannya. Pada wajahnya terlukis kepanikan. Ibu itu memegang handphonenya dengan erat.
"Pusatnya ada di Desa kamu. Ibu baru dapat informasi dari Kerabat yang ada disana." Ucap Ibu memberikan khabar setelah berhasil menenangkan laju nafasnya.
"Astaghfirullah, Mamiq, Inaq." Pekik Ega terkaget tak percaya dengan apa yang didengar dari Ibu itu.
"Iya Ga, khabarnya ada yang meninggal dan banyak korban yang luka-luka." Ibu itu menambahi informasi yang didapatkannya.
Ega buru-buru masuk ke Kamarnya untuk mengambil handphone. Beberapa menit kemudian dia kembali membawa benda Pipih itu dan langsung menekan nomer orang tuanya.
Tut tut tut
Tidak ada jawaban, Ega menghubungi nomer Mamiq.
"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi."
Terdengar operator memberitahu membuat Gadis itu semakin cemas. Dia mondar mandir sembari menahan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.
Ega mengulang lagi memanggil nomer Ibunya namun yang terdengar suara tut tut tut.
"Angkat Inaq." Ucap Ega menahan tangisnya. Jantungnya sudah mulai tidak tenang.
Namun beberapa menit menunggu tidak ada jawaban dari Ibunya. Ega memutuskan sambungan kemudian menghubungi nomer Mamiqnya namun hasilnya sama tidak bisa dihubungi.
"Astaghfirullah, kenapa nomer Mamiq dan Inaq tidak bisa dihubungi." Ega benar-benar panik, ada rasa takut, khawatir dan cemas hinggap di kepalanya namun dia segera mengusir pikiran tidak baiknya dan berharap kedua orang tuanya baik-baik saja.
"Ga, bagaimana? apa bisa dihubungi orang tua kamu?" Tanya Saik Aminah melihat Ega mondar mandir tidak tenang. Sesekali dia menelpon kedua orang tuanya secara bergiliran namun tetap saja nomer kedua orang tuanya tidak bisa dihubungi. Dia juga menelpon kedua kakaknya yang berada pada Desa berbeda tapi tidak jauh dari Pusat Gempa.
"Tidak ada yang angkat." Jawab Ega tertunduk lesu, air matanya sudah mengalir membanjiri Pipi mulusnya.
"Sabar ya Nak, Insha Allah tidak terjadi apa-apa dengan Orang Tua kamu begitu juga dengan kedua saudara beserta keluarganya." Ucap Saik Aminah mencoba memberikan harapan kepada Ega.
"Iya Ga, berdoalah semoga semua keluarga kamu yang berada di Pusat Gempa maupun disekitar pusat Gempa selamat dari bencana ini." Sambung beberapa Ibu-ibu yang menjadi tetangganya. Mereka berusaha menenangkan Gadis itu yang terlihat begitu sedihnya.
"Aamiin. Terima kasih Ibu-ibu." Ucap Ega berterima kasih kepada mereka yang ada disana yang tidak henti-hentikan berusaha untuk menyemangatinya.
__ADS_1
Ega kembali menghubungi kedua orang tuanya namun hasilnya tetap sama tidak ada jawaban. Gadis itu terus berusaha sampai salah satu diantara mereka bisa dihubunginya dan memastikan kalau mereka baik-baik saja.
Terakhir dia menelpon Kakak Perempuannya yang jarak rumahnya paling dekat dengan Desa tempat tinggal orang tuanya. Panggilannya terhubung membawa secercah harapan untuk mengetahui keadaan keluarganya disana dan tentu saja berharap yang akan didengar adalah khabar baik.
📱Assalamualaikum Kak Lani, halo Kak Lani. Kak Lani dengar Ega gak?"
Ega berulang-ulang memanggil kakaknya pasalnya Kakak Perempuannya mengangkat telepon namun tidak ada pembicaraan darinya hanya terdengar suara obrolan dari orang lain yang terdengar panik.
📱Iya dek, Kakak lagi di Bukit. Signal disini lemah. Adek dengar suara kakak enggak?" Terdengar teriakan dari seberang.
📱Iya Kak, apa kakak dan keluarga baik-baik saja? Saya tidak bisa menghubungi Mamiq, Inaq sama Kak Pahri." Ucap Ega sudah mulai terisak-isak.
📱Apa? Kakak enggak denger?"
📱Mamiq, Inaq dan Kak Pahri tidak bisa dihubungi." Ega mengulang kata-katanya agar bisa ditangkap oleh kakaknya itu.
📱Oh, mungkin Inaq dan Mamiq sudah ada di bukit. Ada isu Tsunami, membuat orang-orang lari ke Bukit." Terdengar jawaban dari Kakaknya bersamaan dengan berakhirnya kalimat terakhirnya seketika itu juga sambungan tiba-tiba terputus. Ega mengulang panggilannya tapi tidak bisa terhubung lagi.
Astaghfirullah." Ega hanya mampu untuk beristigfar. Dia kembali lemas ketika mendengarkan penjelasan dari Kakaknya tentang isu yang sudah beredar disana.
Ega benar-benar mengkhawatirkan kedua orang tuanya dan juga kedua saudaranya. Rumahnya yang ada di Desa sangat dekat dengan Pantai bahkan dari belakang rumah dia bisa melihat lautan luas terbentang didepan mata. Ega kerap kali melihat Ikan besar melompat-lompat dari lautan seolah sedang bermain. Desanya juga masih berada satu kawasan dengan Gunung Rinjani. Dimana jika dia berada di depan rumah, Ega bisa melihat Gunung Rinjani yang menjadi kebanggaan dari Daerah ini nampak berdiri Kokoh, kuat dan juga anggun terlihat begitu cantiknya.
Semasa dia kecil, Gadis itu terkagum-kagum dengan Gunung Rinjani yang menjulang tinggi. Dia tidak pernah bosan untuk menikmati keindahannya setiap pagi apalagi jika Gunung itu terselimuti awan putih yang seakan tahu jika Gunung itu membutuhkan kehangatan dari dinginnya suhu di pagi hari.
"Astaghfirullah." Ega berusaha menenangkan dirinya dengan beristigfar.
Beberapa menit Dia menunggu jika saja kedua orang tuanya melihat Handphone lalu menghubunginya kembali memberikannya khabar baik agar dia merasa tenang dari rasa was-was.
30 detik tidak ada tanggapan dari kedua orang tuanya.
60 detik. lagi-lagi Ega menarik nafas getir
30 menit Ega kembali berusaha untuk menghubungi namun lagi-lagi dia kecewa.
"Saik Aminah, kemana orang tua saya? Kenapa mereka tidak ada yang bisa dihubungi." Keluh Ega terisak-isak dalam tangis.
📱Assalamualaikum Inaq, Mamiq."
📱Ini aku Beni, Ga. Aku lihat berita di Televisi Pusat Gempa ada di Desa kamu dan sekitar Desa Kawasan Gunung Rinjani. Desa kamu hancur Ga, hampir semua rumah disana roboh rata jadi tanah. Bagaimana keadaan Mamiq dan Inaq?" Terdengar Suara Beni dari seberang sana memberitahu dan juga bertanya tentang keadaan orang tua dari sahabatnya itu.
📱Hikz, hikz, hikz." Ega hanya memperdengarkan suara tangisnya ketika Beni mengabarkan keadaan Desanya.
📱Ga, jangan nangis Ga, tenang Ga Insha Allah Mamiq sama Inaq baik-baik saja. Kamu yang sabar Ga ya?" Beni berusaha menenangkan Sahabatnya itu.
Tidak ada jawaban dari Ega hanya tangisan yang menggema di telinga Beni yang membuat laki-laki itu begitu mengkhawatirkan sahabatnya itu.
Ega seakan tuli, tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan Beni selanjutnya. Gadis itu buru-buru masuk kedalam rumahnya lalu menyalakan Televisi dan mencari saluran yang menayangkan Berita Gempa pagi tadi.
Ega melihat beberapa rumah roboh menyatu dengan tanah. Dalam berita itu mengabarkan keadaan Dusun Ketapang Desa Madayin yang merupakan nama Desanya. Matanya dengan teliti melihat gambar rumah Penduduk yang roboh dan matanya berhasil menangkap rumahnya yang juga hancur. Dia sangat mengenali rumahnya. Dimana pada halaman rumahnya ada pohon Jambu Batu dan juga pohon Mangga.
"Astaghfirullah, Mamiiiiq, Inaaaaq." Pekik Ega, sejurus kemudian Gadis itu tidak sadarkan.
Beni yang masih ada di seberang berusaha memanggil Ega karena sambungan belum dimatikan olehnya. Beni mendengarkan pekikan Ega beberapa detik kemudian tidak ada suara dari Gadis itu.
📱Ega kamu kenapa? kamu baik-baik saja?"
📱(_____)"
📱Ega, apa yang terjadi? kamu baik-baik saja?"
Terdengar Beni kembali bertanya, ada rasa cemas terpancar dari nada suaranya namun lagi-lagi tidak ada balasan dari Gadis yang dipanggilnya.
Saik Aminah tergopoh-gopoh menghampiri Ega begitu mendengarkan pekikan dari arah dalam. Alangkah terkejutnya melihat Ega tergeletak di lantai tidak sadarkan diri.
"Astaghfirullah, Ga kenapa kamu tidur disini? bangun Ga." Ucap Saik Aminah berusaha menyadarkan Ega dengan cara menepuk-nepuk pipinya namun tidak ada tanda-tanda jika Gadis itu tersadar.
📱Pingsan." Terdengar gumanan Beni dari seberang namun tidak ada yang mendengarkan apa yang diucapkan oleh laki-laki itu.
__ADS_1
Sementara itu Saik Aminah berusaha membangunkan Ega. Dia bergegas mencari minyak kayu putih lalu menggosok-gosok pada hidung Ega. Beberapa detik kemudian usaha Saik Aminah sepertinya membuahkan hasil. Ega tersadar dari pingsannya. Dia mengerjakan mata yang berhias bulu lentik dan tebal.
"Apa yang terjadi Saik? kenapa kepala saya pusing?" Tanya Ega. Dia bangun dari tidurnya dan memegang kepala yang terasa nyut nyut.
"Inaq, Mamiq, Kak Pahri. Apa ada telepon balasan dari mereka." Sambung Ega dengan pertanyaan yang tidak mungkin bisa dijawab oleh Saik Aminah.
"Enggak tahu Nak, Saik tidak mendengar adanya suara telepon." Jawab Saik Aminah apa adanya.
"Oh." Ega mencari handphonenya lalu menekan nomer Ibunya karena hanya nomer Ibunya yang bisa dihubungi sementara nomer Mamiqnya tidak aktif mungkin saja handphone sedang lowbat.
Tersambung tentu saja membuat Ega sedikit lega. Mata sembabnya sedikit cerah menandakan Gadis itu kembali tenang.
📱Assalamualaikum, Inaq? Alhamdulillah nomer Inaq bisa dihubungi. Apa Inaq dan Mamiq baik-baik saja?"
Ega memberondong Ibunya dengan pertanyaan.
📱Alhamdulillah Inaq, Mamiq dan keponakan kamu baik-baik saja tidak mengalami luka. Tadi kita berlari ke Bukit karena ada khabar akan terjadi Tsunami. Sekarang kita ada di lapangan Kantor Desa. Kita semua berkumpul disini dan semua masyarakat tidak berani masuk ke rumah masing-masing apalagi rumah mereka sudah rusak parah termasuk rumah kita Ga."
Bersamaan kalimat terakhir itu. Ibu Ega bernama Siti Fatimah terdiam sejenak. Terdengar suara helaan nafas yang terasa beratnya.
📱Rumah kita rusak Ga, sedangkan Mamiq sepertinya trauma. Mamiq tidak berani masuk ke dalam rumah. Inaq hanya meminta untuk mengambil uang dan perhiasan yang Inaq simpan Mamiq tidak mau masuk untuk mengambilnya."
📱Astaghfirullah. Sekarang Mamiq ada dimana?"
📱Sedang berkumpul bersama teman-temannya. Saat kejadian Mamiq masih tidur bersama keponakan kamu. Mamiq setelah Subuh dia kembali melanjutkan tidurnya. Inaq berusaha membangunkannya namun tak didengar-dengar sampai Inaq berteriak sekuat tenaga. Mamiq tersadar saat plafom rumah kita hampir saja mengenai Fani untung saja Mamiq berhasil menyambar Fani lalu membopong keluar. Sudah sampai ambang pintu seketika itu rumah kita ambruk."
Ibu Siti Fatimah terdiam setelah menceritakan apa yang terjadi pagi tadi.
Sedangkan Ega tidak bisa berkata apa-apa karena dadanya sesak mendengarkan cerita Ibunya. Hanya rasa syukur yang mampu diucapkannya karena kedua orang tuanya selamat dari becanda itu walaupun dia harus kehilangan rumahnya. Tapi tak apa yang terpenting kedua orang tua dan keluarganya selamat. Rumah bisa dibangun kembali.
📱Inaq sabar ya? Insha Allah akan ada hikmah dibalik musibah yang terjadi pagi ini."
📱Iya , Insha Allah yang terpenting kita selamat dan sehat-sehat saja."
📱Mamiq sama Inaq kenapa tidak pulang ke Cermen Asri. Rumah disini tidak apa-apa. Insha Allah aman untuk ditempati.
Ega memberi saran kepada kedua orang tuanya.
📱Inaq maunya seperti itu tapi menurut khabar Jembatan yang menghubungkan Bagian Utara menuju Mentaram terputus belum di buat Jembatan darurat. Tidak ada juga kendaraan Umum yang berani menuju kesini. Lantas Inaq pakai apa pulangnya? lagipula Mamiq kamu ada tanggung jawab sama murid-muridnya."
Ibu Siti Fatimah menjelaskan keinginannya namun terkendala oleh transportasi yang belum berani menuju ke Desa tempat terjadinya gempa.
📱Nanti kalau sudah ada Engkel langganannya, Inaq pulang saja ya?"
📱Iya Ga, oh ya Inaq udahan teleponnya. Mau masakin Mamiq. Moga-moga Mamiq kamu mau makan. Mamiq kehilangan selera makannya karena kaget."
📱Nggih Inaq, Mamiq dan Inaq jaga diri baik-baik dan jangan sampai Mamiq tidak makan. Harus dipaksa agar Mamiq mau makan. Ega enggak mau denger Mamiq dan Inaq sakit lantaran ogah makan."
📱Iya Ga, Assalamualaikum."
📱Waalaikumussalam."
Ega mengakhiri panggilannya, dia sedikit lega karena kedua orang tuanya baik-baik saja meskipun rumah mereka rusak berat.
Saat rasa syukur terus saja terucap dari Bibir Ega. tiba-tiba suara dering datang menyambangi handphonenya.
"Siapa ya?" Batin Ega bertanya.
Bersambung.
Hai Sahabat Cinta Itu Sahabat.
Pada Bab ini saya sedikit menceritakan tentang Gempa yang pernah melanda Daerah saya beberapa tahun lalu. Dimana Gempa pertama berpusat di Desa saya. Ceritanya memang berbalut fiksi tapi mengenai pengalaman dari orang tua saya dan Mamiq saya yang trauma sedikit saya tuliskan disini. Saya sengaja memasukkan peristiwa itu kedalam cerita pada novel ini hanya sebagai mengingat untuk saya di masa depan jika bencana itu pernah terjadi dan tentu saja erat kaitannya dengan Tokoh Anisa.
Semoga berkenan memberikan Like, komentar dan juga Vote.
Happy Reading, semoga suka karya receh nan amburadul ini.
__ADS_1
Terima kasih.