Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 27. Menyelidiki Juna.


__ADS_3

Ega benar-benar tidak bisa memejamkan matanya walaupun berusaha dengan susah payah seakan selaras dengan pikirannya yang terfokus dengan kecurigaannya kepada Juna. Entah kenapa kekagetan yang ditunjukkan Juna yang sepersekian detik memantik rasa keingintahuan dirinya.


Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Juna. Apa mungkin Juna mengenal Laki-laki bernama Lexi Aditama? Reaksinya memang diluar dugaan Ega yang melihat langsung wajah Juna seketika itu berubah tegang begitu melihat seseorang yang ada di fhoto itu. Berbeda dengan Rian dan Dipta nampak biasa saja tidak ada kekagetan disana hanya terdengar komentar konyolnya saja.


"Cakep sih, macho gitu tapi sorot mata itu seperti orang sakit jiwa," komentar Dipta bergidik.


"Ane juga merasa si Lexi sebenarnya tahanan yang lepas dari Rumah Sakit Jiwa. Lihat saja sorot mata itu kosong seakan tidak ada dirinya disana seperti di kuasai gitu. Maklumlah kalau tidak ada iman ya begitu," komentar Rian.


Begitu juga pendapat Beni, hampir sama dengan Rian dan Dipta. Lelaki yang bernama Lexi itu sakit jiwa perlu di ruqyah. Sedangkan Juna tidak berkomentar apa-apa, ia hanya diam seolah wajah Lexi membuatnya mendadak bisu.


"Tidak boleh begini, besok pagi saya bisa sakit Kepala kalau ini mata tidak bisa terpejam tapi saya penasaran dengan sikap Abang Juna. Apa sebaiknya aku tanyakan saja sama Evan karena tadi Evan cerita ada satu fhoto yang masih diselidiki karena belum jelas siapa seseorang yang bersama Lexi," ucap Ega berbicara sendiri.


Ega segera beringsut dari kasur kemudian menuju Meja tempat handphone-nya disimpan. Ia segera meraih benda Pipih itu kemudian menekan nomer Evan.


"Hai, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh," salam Ega ketika Evan mengangkat panggilan.


"Waalaikumussalam, ada apa Ga kok tumben kamu nelpon? Apa kamu kangen sama cowoknya ini yang super duper keren padahal tadi sudah dengar suara cempreng saya yang seksi ini." Terdengar suara Evan menyambutnya dengan kata-kata tanpa jeda yang membuat Ega menarik nafas kelelahan mendengarkannya.


"Van, boleh lihat enggak fhoto yang sedang kamu selidiki? saya penasaran," ucap Ega to the point tidak mau berbasa-basi.


"Untuk apa?" Tanya Evan terdengar penasaran.


"Untuk saya pakai nakutin tikus." Terdengar jawaban asal dari Ega.


"hahaha." Terdengar suara tawa cempreng membuat Ega menjauhkan handphone dari telinganya. Setelah suara tawanya reda terdengar Evan berkata, "Bukan malah takut Tikusnya tapi malah seneng karena ada teman mainnya. Pasti tuh Tikus bilang begini sama si Lexi ' eh ternyata ada Saudara saya yang sedang fhotoan."


"Bisa aja kamu. Oh ya saya serius Van, saya penasaran dengan fhoto yang kamu maksud. Kamu bilang tadi di dalam fhoto itu ada seseorang bersama Lexi yang sepertinya kamu kenal. Jujur saja saya penasaran dengan seseorang itu. Apa mungkin itu Abang Juna?" tebak Ega yang membuat Evan terkejut dengan dugaannya.


"Bagaimana ya, saya belum bisa memastikan siapa orang itu. Wajahnya samar-sama karena itu fhoto jadul yang di upload ulang. Sepertinya waktu jaman SMA," ucap Evan ragu-ragu. Ia tidak mau salah menduga membuat penyelidikannya kacau.


Ega mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan Evan.


"Oh ya apa alasan kamu mencurigai Juna? hati-hati lo, Ga! Juna itu Sahabat kita jadi jangan sampai kita tidak mempercayai Sahabat kita sendiri." Terdengar Evan mengingatkannya.


"Saya tidak mau sembarangan menuduh orang tanpa bukti yang kuat karena itulah saya ingin cari tahu agar tidak mencurigai Abang Juna. Saya juga tidak ingin Abang Juna salah faham karena saya mencurigainya oleh karena itulah saya ingin meluruskannya," jawab Ega memberikan alasan.


"Van, kamu dengar enggak apa yang saya omongin?" Terdengar tanya dari Ega begitu menyadari dari arah seberang Evan terdiam saja tanpa berkomentar apa-apa.


"Iya saya tegar kok."


"Oh saya pikir kamu tertidur tadi. oya saya lanjutin ceritanya."


"Iya lanjutin saja saya denger kok suara kamu seperti Penyiar radio, Idola para Janda dan para Duda." Kelakar Evan memperdengarkan kembali suara cemprengnya.


"Saya serius Van malah diajak bercanda. Tadi itu reaksi Abang Juna melihat foto Lexi berbeda dengan reaksi dari Mas Rian, Kak Beni dan juga Dipta. Kak Beni sempat kaget melihat fhoto Lexi tapi yang membuat Kak Beni kaget karena di dalam fhoto Lexi ada seseorang yang bersamanya dan orang itu Teman kerjanya yang bernama Anton." Cerita Ega mengapa Ia mencurigai Juna.


Ega menarik nafas panjang. Lega rasanya sudah berbagi kekalutan yang begitu saja muncul dipikirannya.


"Terus karena itulah saya ingin mencari tahu, apa mungkin Abang Juna mengenal Lexi. Untuk mengetahui itu saya butuh fhoto yang Evan ceritakan tadi sebagai alat untuk menyelidiki Abang Juna secara diam-diam."


"Okay kalau begitu saya kirim WA saja karena memang saya harus berbagi tugas dan saya percaya kamu bisa mengerjakan dengan rapi," ucap Evan kemudian setelah ia berpikir sejenak. Ada baiknya mereka berbagi tugas.

__ADS_1


"Van, rasanya saya kembali ke Kampus kalau ada kasus yang sedang kita hadapi seperti ini." Komentar Ega teringat masa lalunya bersama Evan dan Dipta walaupun beda jurusan tapi mereka bertiga satu kampus. Ega sama Dipta satu Fakultas sedangkan Evan mengambil Fakultas yang berseberangan dengan mereka berdua.


"Iya, tragedi hilangnya helm Pak Edi. Kita bertiga diminta tolong untuk menangkap maling yang mengambil helm Pak Edi. Jadilah kita Detektif dadakan dan berusaha menyelidikinya sebagai misi pertama kita begitu kita berhasil eh malah enggak tega menyeret Pelakunya ke hadapan Pak Edi karena si Mamat memang begitu orangnya enggak normal. Helm Pak Edi dijual oleh Si Mamat karena kepingin ngerokok." Evan mengingat kembali kisah kasih di Bangku kuliah. Saat itu mereka bertiga menjadi Detektif amatiran yang berlagak profesional. Untung saja Evan memiliki otak canggih, Ega yang memiliki kejelian tingkat nasional dan Dipta mempunyai insting yang patut diandalkan dan pada akhirnya karena instingnya itu membuat Dipta mendapatkan lemparan Sandal jepit. Ega tertawa geli jika mengingat itu semua.


"Apalagi Dipta dapat kasus menyelidiki orang selingkuh. Begitu berhasil eh malah diomelin sama tuh Pelakor karena gara-gara Dipta akhirnya ketahuan perselingkuhan mereka. Apes benar Diptanya, dapat sandal jepit melayang ke lapangan Futsalnya." Ega mereply kembali cerita lama. Dia tidak bisa lagi menahan geli jika mengingat kejadian itu. Pada saat itu dirinya dan Evan hanya menonton saja tragedi melayangnya Sandal Jepit yang mendarat di Dahi lebar Dipta.


"Hahahaha." Evan tertawa menanggapi cerita yang pada saat itu dia juga berada disana. Mereka berdua seakan bernostalgia dengan cerita indah penuh tawa di bangku kuliah.


"Iya, lucu ya!"


"Hum, kamu belum ngantuk Ga?"


"Tadi sih saya enggak bisa tidur, ngeringsang mikirin Abang Juna tapi sekarang karena kamu sudah mengirim fhoto itu rasanya  ngantuk banget. Sepertinya fhoto itu berhasil mengobati rasa penasaran saya. Terima kasih Van!"


"Yoi, sering-sering ngucapin itu."


"Kamu tuh sama saja seperti Kak Beni."


"Cieeeyeeee Kak Beni, So sweeeet. Aku setuju."


"Apaan sih Van."


"Jadi siapa? Kak Beni atau Abang Juna?"


"Enggak mudeng. Kenapa enggak kamu saja Evan Noor Heriawan?"


"Boleh. Asyiiiiiik, kita jadian malam ini. I Love You sobat."


"I Love You to Sobat."


Setelah puas Evan dan Ega mengingat masa lalu, mereka berdua menyudahi obrolan dengan mematikan sambungan telepon kemudian Ega menaruh kembali Handphone-nya lalu merebahkan diri.


Detik ini Ega sudah bisa tidur nyenyak karena hari esok akan melaksanakan rencananya semumpung hari Sabtu dia tidak bekerja dan Juna pasti masuk pagi. Ada kesempatan untuk mengobrak abrik Kostnya Juna dengan alasan membersihkannya pasti Juna tidak akan curiga.


***


Esok harinya selesai membantu Saik Aminah berjualan Ega bergegas menemui Juna sebelum Juna berangkat kerja. Benar saja Juna sudah siap-siap mau berangkat kerja dan Ega tidak mau kehilangan kesempatan ini. Ia segera menghampirinya.


"Abang Juna sudah mau berangkat aja nih? tidak butuh bantuan saya membersihkan Kostnya?" Tawar Ega sembari memamerkan senyum manisnya.


Juna terlihat berpikir, ia merasa heran kenapa Ega mendadak perhatian seperti ini apalagi mau membersihkan Kostnya.


Melihat Juna diam membuat Ega hendak meninggalkan Juna. "Ya udah kalau tidak mau, ini tawarannya hanya sekali saja tidak bisa diminta lagi semumpung saya lagi baik nih! besok-besok enggak tahu deh apa mood saya sebaik sekarang," ucap Ega memutar tubuh melangkahkan kakinya selangkah masih menunggu Juna memanggilnya.


"Ga, tunggu!" panggil Juna membuat Ega tersenyum lebar.


Ega memutar tubuhnya kembali ke hadapan Juna. "Kenapa Bang? jadi mau saya bantuin membersihkan Kostnya?" tanya Ega tetap memamerkan senyum manisnya.


"Okay, ini kuncinya lagipula Kost saya berantakan banget saya belum sempat membersihkannya," ucap Juna melemparkan kuncinya ke arah Ega yang disambut dengan baik oleh Gadis itu. Nampak Ega menerbitkan senyum sumringahnya. Seperti biasa tanpa Gadis itu sadari Juna menikmati wajah manis itu sejenak dengan senyum tipis yang menghiasi bibirnya. Setelah puas baru Juna masuk ke dalam mobil berlalu meninggalkan Ega yang masih terpaku ditempat.


Sepeninggalnya Juna, Ega segera menuju Kost Juna dengan kunci di tangannya. Ega mulai beraksi membongkar kamar Kost Juna untuk mencari sesuatu yang bisa di jadikan bukti. Setelah lama mencari tidak ada satupun yang dia dapatkan membuat Ega frustasi.

__ADS_1


"Gila, ternyata rapi banget menjaga rahasianya," guman Ega terdengar putus asa.


Ega kembali merapikan semua barang milik Juna yang sudah diobrak-abriknya. Tidak di sangka ketika Ega merapikan semuanya seperti semula tidak sengaja dia melihat sebuah kotak yang tersimpan di bawah kolong tempat tidur. Ega bergegas menyusup masuk ke bawah kolong mengambil Kotak tersebut. Ega terlihat girang seolah-olah mendapatkan berlian yang mustahil dimilikinya.


"Mungkin ada bukti disini," batin Ega segera membuka kotak tersebut dengan hati-hati takut meninggalkan jejak disana yang membuat Juna curiga.


Jantung Ega terdengar dag dig dug saat membukanya. Jantungnya serasa mau copot membuka barang yang bukan miliknya. Ega melihat apa isi dari Kotak itu dan ternyata isinya satu buah Jaket, Jam tangan dan juga gelang Kokka. Ega mengamati benda tersebut kemudian mencocokkan dengan apa yang digunakan oleh seseorang yang ada di Fhoto Lexi.


"Astaghfirullah, cocok semua barang yang ada disini sama Jaket, Jam tangan dan juga gelang Kokka yang digunakan seseorang yang bersama Lexi di dalam fhoto ini. Tunggu dulu bukannya Abang Juna suka pakai Gelang ini ya? aku lihat selalu dipakainya kenapa sekarang disimpannya. Apa mungkin ada hubungannya dengan seseorang yang ada di Fhoto ini. Atau mungkin orang itu adalah Abang Juna. Ini sulit dipercaya tapi barang-barang ini belum membuktikan kalau orang yang di Fhoto Lexi adalah Abang Juna bisa jadi barang ini milik orang lain." Ega bermonolog. Dia mencocokkan Jaket, Jam tangan dan Gelang Kokka milik Juna dengan barang yang digunakan oleh seseorang yang ada dalam fhoto itu. Hasilnya memang sama, tidak diragukan lagi.


Ega memotret Jaket, Jam tangan dan gelang Kokka. Setelah Ia mendapatkan bukti, Gadis manis itu merapikan kembali barang-barang tersebut seperti keadaan semula. Sebelum dia menaruh barang tersebut ke dalam kotak, Ia merogoh kembali kotak tersebut untuk mencari bukti lain yang mungkin saja sangat penting.


Speechless.


Ega terdiam sejenak melihat temuannya. Ia menemukan sebuah fhoto dengan sebuah kalimat. Ega membaca kalimat yang tertera dibalik fhoto tersebut.


" Amigos X Simpre, persahabatan adalah segalanya."


Ega membaca deretan nama-nama yang ditulis oleh tangan yang terlihat begitu indah. Ada nama seorang Gadis yang menarik perhatiannya, siapa Gadis itu?. Gadis yang bernama Nara Aulia itu yang membuat Ega penasaran. Ega membalikkan lembar fhoto tersebut dan terlihatlah Tiga orang Remaja menggunakan seragam SMA dengan memamerkan senyum bahagia. Dimana dalam fhoto itu sama dengan fhoto yang dikirimkan oleh Evan


"Aku tidak menyangka ini, temuanku benar-benar luar biasa," sorak Ega bergembira.


Ia segera merapikan kembali barang-barang milik Juna dan mengembalikan ketempat semula. Lalu Ega membersihkan Kost Juna dengan sebersih-bersihnya dan serapi-rapinya agar Juna tidak curiga sedang dimatai-matai.


Ega segera meninggalkan Kost Juna setelah membersihkan Kost tersebut karena pagi ini ada janji dengan Dipta untuk bertemu di PMI. Hari ini jadwal mereka mendonorkan darah dan Ega tidak mau mendengarkan omelan Dipta bak radio rusak jika dia terlambat.


***


Ega memasuki Gedung PMI yang berada di jalan protokol, dia disambut senyum lebar oleh Dipta yang menunggunya di Lobi.


"Sudah siap Ga?"


"Sudah dong! bukankah saya terbiasa tertusuk jarum," ucap Ega tersenyum.


"Iya, betul itu tapi cuma satu jarum yang belum menusukmu yaitu jarum yang membuat kesakitan diawal dan nikmat setelahnya. Jarum itu, saya memilikinya, mau coba enggak?" ucap Dipta menggoda Sahabatnya itu. Dia tertawa lebar melihat perubahan wajah Ega yang terlihat merona dan tersipu. Rupanya Gadis itu mengerti apa yang dimaksudnya.


"Dipta ini, famali tahu," sahut Ega menggelengkan kepala tak percaya dengan perkataan Dipta kali ini.


"Enggak famali kok, kita sudah dewasa bukan anak dibawah umur lagi, wajar dong kita ngebahas itu," ucap Dipta cengengesan.


"Belum saatnya, lagipula malu kali! sudah ah, aku mau daftar dulu," ucap Ega berlalu mempercepat langkahnya.


"Tunggu dong, jangan ninggalin Sohib baikmu ini. Ini, aku lupa memberikan kamu sebotol air mineral." Dipta mengejar Ega lalu memberikan sebotol air mineral kepadanya.


"Jadi inget masa SMA kita dulu, kamu selalu memberikan aku sebotol air mineral dan sepotong donat karena aku tidak punya cukup uang membeli makanan untuk makan siangku. Kamu selalu membagi jatahmu itu sehingga aku tidak kelaparan." Ega mengingat masa SMAnya itu. Uang sakunya cukup untuk biaya ongkos Mobil berwarna kuning yang disebut Bemo dari sekolah sampai Jalur yang telah ditentukan lalu selanjutnya menggunakan Cidomo  (alat transportasi tradisional yang menggunakan Tenaga Kuda ) menuju Rumahnya. Terkadang dia harus jalan Kaki dari tempat dia di diturunkan oleh Mobil Bemo sesuai jalur menuju Rumahnya karena kehabisan ongkos.


"Jangan dipikirkan, aku sahabatmu masak tega membiarkan kamu kelaparan sih?" ucap Dipta tulus.


"Kamu memang sahabat karibku, makasih ya Dipta," ucap Ega tulus.


"Yoi, sama sahabat sendiri juga? Apa sih yang enggak buat kamu." Dipta menjawab sembari tersenyum.

__ADS_1


Sepasang Sahabat itu menyunggingkan senyum bahagianya. Mereka berdua segera menuju kesebuah ruangan untuk mendonorkan darahnya.


Bersambung.


__ADS_2