Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 53. Bidadari Berkerudung Cokelat.


__ADS_3

Sore ini sepasang Suami Isteri itu sedang menikmati kebersamaan di Taman Kawasan Perumahan yang ditempati Keluarga Banu Hardian. Karena mereka belum sah secara Adat maka mereka belum boleh mengunjungi kedua orang tua Ega dan juga ke tempat-tempat yang lumayan jauh.


Saat ini Ega sedang menikmati gerakan yang dilakukan oleh seorang Instruktur Senam Wanita. Di Taman itu ada kegiatan Senam yang dilakukan oleh Ibu-ibu sehingga mengambil bagian dari kegiatan itu. Ega ikut bergerak dengan lincahnya, tubuh tinggi semampai itu seakan terbiasa dengan gerakan yang diperlihatkan oleh Instruktur senam.


Beni duduk sendiri pada sebuah bangku yang berada di area Taman. Sesekali dia melihat ke arah Isterinya yang menggunakan seragam olahraga yang longgar. Tidak nampak sama sekali bentuk tubuhnya yang indah. Beda dengan Ibu-ibu lain yang nampak sexy dengan baju ketatnya.


“Pantensan Body Isteriku indah seperti body gitar spanyol ternyata rajin senam namun hanya aku yang melihatnya,” ucap Beni tak sadar. Dia tersenyum mengingat betapa lihai dan lincahnya Wanita itu melayani kebutuhannya terutama kebutuhan biologisnya yang membuatnya tak berdaya.


Tiba-tiba seseorang mengangetkan Beni dengan suara bungkus makanan yang diberi angin lalu dirapatkan agar kembung lalu di pukul dengan kedua tangan sehingga menghasilkan bunyi yang mengagetkan seseorang yang menjadi sasaran dan bungkus makanan seketika itu akan sobek dan pecah.


Duaaaaar


“Astagfirullah,” ucap Beni spontan mengelus dadanya karena terkaget. Laki-laki Tampan itu menoleh kearah belakang tempat keberadaan makhluk iseng tersebut. Pandangannya menukik ke wajah konyol Evan yang tertawa lebar menyaksikan penderitaan Beni.


“Hahahahahaha,” terdengar tawa cempreng Evan membahana di tempat keberadaan Beni.


“Berhasil, hahahahaha,” ucap Evan tak bisa menghentikan tawanya.


“Ketawa terus ketewa terus hingga lalat membukammu,’ ucap Beni kesal. Ia hendak meraih wajah konyol itu untuk ditabok akan tetapi tangan itu tidak mengjangkaunya karena Evan buru-buru menghindar.


“tidak kena, tidak kena,” ucap Evan merasa menang dan kembali tertawa, menertawakan ketidak berhasilan dari Beni memukulnya. Dia mengolok Beni dengan mimic mukanya yang konyol.


Sedangkan Beni merasa kesal karena tidak berhasil memukul sahabatnya. Dia mendengus pelan lalu memilih untuk diam sembari memperhatikan Isterinya yang tengah asyik senam. Ega saat ini sedang melakukan pendingingan dan sebentar lagi Senam akan usai.


“Serius banget sih Kak Beni memandang Wanita itu, saya disini lo! Masak tidak tertarik dengan diriku yang unyu-unyu ini,” goda Evan mengatur suaranya dan mempermanis wajahnya.


Beni hanya diam saja malas menanggapi karena dia kesal dengan apa yang dilakukan Evan.


“Rupanya Beni serius marah sama saya, apa semalam enggak dapat jatah ya? Gara-gara ulah Nina sehingga jadi keki dan ngedongkol gini.Wuaaalaaah masalah ini,” guman Evan dengan mimik merasa bersalah.


“Masalah apa Van?” tanya Ega yang tiba-tiba sudah berada di hadapan mereka berdua.


“Masalah apa ya?” Evan malah bertanya kembali.


“Lah kok malah bingung sendiri?” guman Ega menggelengkan kepala.


Evan terlihat cengengesan sembari menggaruk tengkuknya kikuk.


“Masalah Beni yang mendiamkan saya, tadi saya mengangetkan dia terus kesal deh,” ucap Evan kemudian.


“Wualaaah ada apa hari ini? tadi kita kena prank dari Amanda dan sekarang Kak Beni dikagetkan oleh si Cepreng pantesan saja Kak Beni kesal,” sahut Ega geleng-geleng kepala.


“Kena prank? Saya pikir Beni enggak dapat jatah semalam akibat perang Sinobi,” ucap Evan merasa lega.


“Siapa bilang, semalam Ega marah lalu membiarkan saya tidur sendiri. Ini nih akibat Lidah kamu yang usil,” gerutu


Beni kesal.


“Kau beneran marah Kak Beni, maaf ya? Saya enggak sengaja, maksudnya saya bercanda eh ternyata Nina menanggapi dengan tidak baik jadi keluar deh statement Nina yang ngawur ngidul tidak jelas itu.”Evan berusaha menjelaskan kejadian di Group. Evan tidak bermaksud menyinggung siapapun. Dia hanya ingin menggoda pasangan itu tapi ternyata Nina menanggapi berbeda.


“Sudahlah Van, enggak perlu dibahas lagi. Kita juga enggak apa-apa kok. Hubungan kita baik-baik saja malah tambah mesra, iya kan sayang?” kata Ega menggoda Beni sembari mengerlingkan mata indahnya.


“Ya Allah, aku benar-benar tergoda. Kita ke kamar yok praktek goyangan tadi sepertinya hot kalau melakukannya berpasangan,” ucap Beni membalas godaan Isterinya.


“Ku Menangis membayangkan betapa kejam dirimu atas diriku yang jomblo ini. Kau bermesraan bersama dirinya sedangkan aku sendiri meratapi nasip.Inaaaak, Amaaaaaq carikan aku jodoooooh. Hikz hikz hikz.” Evan bersenandung dengan suara cemprengnya membuat orang-orang yang mendengarkan menertawakan suara dan mimiknya yang konyol ditambah lagi logat bahasanya yang unik banget. Jika bahasa berakhir L maka bahasa Evan berakhiran N. Misalnya Sambel menjadi Samben dan nyesel menjadi nyesen. Bahasa Evan benar-benar lucu meskipun kita satu Daerah akan tetapi setiap Desa mempunyai bahasa dan logat berbeda karena itulah terkadang kita tidak mengerti apa yang dibicarakan walaupun kita satu nama.


“Hahahahahaha,” Terdengar tawa dari sepasang Suami Isteri itu mendengar suara merdu dari Evan yang terdengar seperti suara kaleng yang terlempar.


“Ada apa ini? Kenapa ada artis disini?” tiba-tiba Amanda datang dengan pakaian olahraga ketatnya. Dia baru selesai jogging terlihat dari keringatnya yang bercucuran. Amanda tidak sendiri, dia bersama seorang Gadis yang penampilannya sama seperti Ega dengan hijabnya. Gadis itu terlihat lebih tua dari Amanda.


“Gila, bikin mata saya seger ini. Sexy banget,” Komentar Evan sembari membuat siluet tubuh Amanda dengan tangannya.


“Aisssh, enggak sopan banget sih?” Sahut Amanda kesal.


“Maaf Nona, penampilan anda membuat kata-kata itu tertarik keluar begitu saja dari bibir ini dan tangan ini spontan


melukiskan bentuk tubuh anda. Maaf, jika Nona marah.” Evan meminta maaf.


“Iya dimaafkan, lain kali awas!” ancam Amanda sembari mengepalkan tangannya.


“Hahahaha, anda sungguh lucu Nona, jika tidak mau mendengarkan perkataan saya tadi alangkah cantik dan eloknya jika Nona tidak memamerkan keindahan tubuhnya agar tidak menarik Lidah tak bertulang ini berkata tidak sopan dan otak ini tidak berkeliaran dan berpetualangan ke lembah kotor penuh kengeresan.” Evan menambah kata-katanya yang membuat gadis itu mendelik.


“Sudah, sudah kok malah kalian berdua asyik sendiri,” Ega memutus kata-kata yang terucap dari Evan. Jika Evan sudah mengeluarkan kata-kata panjangnya maka ada yang harus mengambil inisiatif untuk menghentikannya karena akan berlanjut tak terputus-putus.


“Iya nik Kakak Ipar, kenapa orang ini sangat menyebalkan,” ucap Amanda sembari mengerucutkan bibirnya lalu mempelototi Evan.


Evan hanya tersenyum menanggapi paras dari Gadis itu yang terlihat menggemaskan.


“Memang seperti itu Laki-laki ini tapi sebenarnya dia baik. Tidak bermaksud menyinggung kamu, jika dia sudah mengeluarkan kata-katanya maka itu artinya dia memperhatikan apa yang dilihatnya. Kau tahu apa artinya? Dia sedang tertarik.”Ega menjelaskan sedikit tentang Laki-laki bersuara cempreng bernama Evan Noor Heriawan.

__ADS_1


“Kenapa kalian malah mengobrol, jadi lupa memperkenalkan sahabat kita yang keren ini mengalahkan Arya Saloka dan Cinta Bryan,” ucap Beni mengingatkan mereka.


“Iya, iya sebaiknya kita berkenalan agar kita nanti bisa saling menyapa jika seandainya bertemu di tempat yang berbeda. Kita bisa memanggil dengan nama tidak memanggil dengan kata hai kamu, lya kamu yang cantik,” komentar Evan menyahuti ucapan Beni.


“Hai nama aku Evan Noor Heriawan panggil saja Evan,” ucap Evan memperkenalkan diri. Dia menyodorkan tangannya dan disambut oleh Amanda.


“Amanda Salsabila, panggil saja Amanda,” jawab Amanda datar. Dia memperhatikan Laki-laki yang berkenalan dengan dirinya. Laki-laki itu tidak tampan. Dia kurus tinggi dan berkulit sawo matang. Tidak pula jelek, ada senyum tulus dari parasnya yang manis. Jika Beni berwajah tampan maka Evan berwajah manis yang begitu manarik untuk dipandang.


“Jadi ini bernama Evan, lumayan untuk diajak ke arisan tidak malu-maluin,” batin Amanda.


Evan beralih ke teman Amanda yang berada disampingnya yang sedari tadi hanya diam saja menyimak pembicaraan.


“Ada Bidadari berkerudung cokelat rupanya ada disini,” ucap Evan begitu menyadari keberadaan Gadis disamping Amanda. Dia sangat ingat dengan wajah Gadis itu yang membuat Rian tertarik.


Mendengarkan Evan berceloteh tentang Bidadari berkerudung cokelat. Ega dan Beni menatap ke arah Gadis yang bersama Amanda. Seketika itu dia teringat akan tugasnya mencari tahu tentang Gadis yang dimaksudkan Rian. Sedangkan Gadis itu bingung tak mengerti kenapa tiba-tiba Laki-laki bernama Evan ini menyematkan nama Bidadari Berkerudung Cokelat kepada dirinya padahal saat ini dia tidak menggunakan kerudung warna cokelat. Terlihat kebingungan pada paras gadis itu.


“Jadi Gadis ini Bidadari Berkerudung Cokelat yang dimaksudkan Rian?” Tanya Beni memandang Gadis itu. Dia tidak pernah melihat sebelumnya Gadis yang berdiri disamping Amanda.


“Iya Beni, ini orangnya,” sahut Evan sangat yakin.


“Tunggu dulu, ada apa ini? Kenapa Mbak Fiza dipanggil Bidadari Berkerudung Cokelat?” Tanya Amanda ikutan bingung. Dia seakan mewakilkan rasa ingin tahu tentang Bidadari Berkerudung Cokelat itu.


“Jadi begini, saat hari pernikahan Beni dan Ega kita bermalam di rumah orang tua Beni. Paginya kita bersama-sama shalat Subuh di Masjid. Saat selesai Shalat dan hendak pulang, seorang Gadis keluar dari Masjid dan berjalan di depan kami. Waktu itu kamu menggunakan Jilbab warna cokelat dan Rian memanggil kamu dengan sebutan Bidadari Berkerudung Cokelat. Jadi seperti itu ceritanya.” Evan menceritakan asal dari panggilan Bidadari Berkerudung Cokelat.


“Jadi begitu? Apa Laki-laki itu suka sama Mbak Fiza?” tanya Amanda penasaran dengan Laki-laki bernama Rian itu.


“Mas Rian mah gitu, enggak bisa melihat cewek bening sedikit langsung matanya melek,” ucap Ega sedikit membuka rahasia Rian.


“Apa si Rian Rian itu Play Boy?” tanya Amanda terlihat serius.


“Raja Play Boy tapi semoga saja kali ini dia beneran serius,” sahut Evan tersenyum.


“Wah kalau begitu, Mbak Fiza jangan mau kalau dideketin sama Laki-laki bernama Rian itu,” ucap Amanda mengingatkan Fiza.


Sedangkan Fiza yang menjadi objek pembicaraan hanya diam saja. Dia bingung dengan situasi yang tengah dihadapinya. Jujur saja, ini baru pertama kali ada seorang cowok yang tiba-tiba memperhatikannya dan memberikan panggilan yang terdengar begitu indahnya ‘ Bidadari Berkerudung Cokelat’.


“Dek, jangan mencoba mempengaruhi pikiran temanmu dong. Memang mas Rian itu Play Boy tapi mungkin saja dengan Fiza dia menjadi serius. Selama ini Wanita yang bersama mas Rian tidak ada yang benar dan masuk kriteria kita. Bisa jadi karena itu mas Rian hanya senang-senang saja bersama mereka sebelum menemukan Gadis yang tepat untuk menemani hidupnya.” Beni mencoba memberikan gambaran kepada kedua Gadis itu agar tidak menjugde Laki-laki bernama Rian itu dengan pikiran buruknya.


“Iya, mas Rian itu baik orangnya, perhatian dan juga penyabar. Mungkin saja saat ini dia belum menemukan yang tepat. Jujur saja, saya dan Nina selalu menggelengkan kepala tak setuju jika mas Rian memperkenalkan Cewek- cewek yang dekat dengannya. Hanya satu Gadis yang menurut kami baik yaitu Gadis bernama Tika namun Gadis itu sepertinya sudah tidak tertarik dengan mas Rian lagi. Gadis yang lainnya hanya memanfaatkan kebaikan mas Rian.” Ega menambahkan sisi Positif dari Laki-laki yang sedang dibicarakan.


“Betul itu, jadi jangan ragukan jika mas Rian benar-benar serius,” sambung Evan.


“Tidak, jika ada sifatnya yang baik darinya maka kita akan mengatakan dia baik dan jika ada sifatnya yang jelek maka kita akan mengatakannya jelek. Memang kita akui kalau mas Rian itu Play Boy,” tambah Evan meyakinkan hati Amanda terutama Bidadari berkerudung Cokelat.


“Bagaimana Mbak? Apa hati Mbak berkenan untuk berkenalan dengan Laki-laki bernama Rian. Terus terang saja, dia meminta Kak Beni untuk mencari informasi tentang kamu,” ucap Ega memberitahu keinginan dari Rian.


Bidadari berkerudung Cokelat itu hanya tertunduk merasa malu. Dia belum siap dengan semua ini, apalagi berkenalan dengan seorang laki-laki. Selama ini dia terjaga dari pergaulannya meskipun dia tidak membatasinya. Ini pertama baginya ada Laki-laki yang ingin berkenalan tentu saja dia bingung harus berbuat apa.


Mereka yang ada disana berpusat pada Bidadari berkerudung Cokelat dan menunggu jawaban dari Gadis itu.


“Jika memang Laki-laki bernama Rian itu serius, Insha Allah saya akan mencoba berta’aruf dengannya,” ucap Bidadari Berkerudung Cokelat itu lirih hampir tak terdengar.


“Alhamdulillah, kita senang mendengarkannya. Kita akan memberitahu mas Rian tentu dia akan senang dengan khabar ini,” ucap Beni terlihat senang.


“Kita panjang lebar berbicara tapi tidak tahu menahu tentang Bidadari Berkerudung Cokelat ini,” ucap Ega sembari


mengulurkan tangannya.


“Saya Ega, ini Beni Hardian dan Laki-laki terkeren itu bernama Evan Noor Heriawan,” ucap Ega menyebut satu persatu sahabatnya.


“Saya Fiza Cicilia Putri, panggil saja Fiza Mbak. Saya sepupu dari Amanda. Saya beberapa minggu tinggal disini sebelumnya saya tinggal di Kota Selong,” sahut Bidadari Berkerudung Cokelat itu menyambut uluran tangan Ega sekaligus menceritakan sedikit tentang dirinya.


“Pantesan saja saya tidak pernah melihat kamu, ternyata warga baru disini,” timpal Beni.


“Iya Bang, saya mendapatkan pekerjaan sebagai Guru bersama dengan Amanda makanya ikut dengan keluarga Amanda,” sahut Fiza menjelaskan.


“Jadi begitu, senang berkenalan dengan Fiza si Bidadari Berkerudung Cokelat,” sahut Evan menanggapi cerita Fiza.


Ega dan Beni mendukung pernyataan Ega. Hari menjelang Magrib dan terlihat semburat jingga menandakan saatnya manusia kembali ke peraduan untuk menjalani istirahatnya dari segala aktivitas duniawi.


***


Malam ini kembali Tujuh Sahabat itu berkumpul di kediaman Banu Hardian tanpa Nina. Lagi-lagi khabar Nina tak terdengar. Menurut informasi yang mereka dapatkan, Nina masih berada di luar Daerah. Entah dalam rangka apa Nina berada disana, semua Sahabatnya tidak ingin mencampuri urusan pribadinya. Mereka hanya cukup mengetahui keberadaan dirinya dan dalam keadaan baik-baik saja dan tidak harus mencampuri urusan Pribadinya.


Saat ini mereka mempersiapkan segala keperluan untuk melaksanakan Adat. Yakni Nyongkolan yang menjadi bagian dari Prosesi pernikahan adat Sasak. Lusa minggu pagi, Beni dan Ega akan menjalankan Prosesi Sorong serah aji krama dan Nyongkolan sesuai dengan adat sasak sehingga mereka dinyatakan inggas atau sah menurut adat. Mengingat Ega mempunyai nama Baiq di depan namanya maka harus menjalani prosesi sorong serah aji krama dan nyongkolan.


Ketika para Cowok asyik bercengkerama, Ega datang menghampiri sembari membawa minuman dan jajanan tradisional yang dibuat oleh Para Ibu-ibu. Jajanan tradional itu berupa jajanan kering yang hendak dibawa menuju kediaman orang tua Ega saat acara nyongkolan berlangsung.


“Serius banget, ini saya bawakan Rengi, Tempeyek dan Bugan Matahari,” ucap Ega menaruh Toples yang berisi jajan kering tersebut.

__ADS_1


“Bersama ini saya membawa Bidadari berkerudung cokelat dan Bidadari Petakilan,” sambung Ega sembari mempersilahkan kedua Gadis itu untuk bergambung.


Mendengar Ega menyebut Gadis Berkerudung Cokelat, Rian sontak mengarahkan pandangannya ke arah kedua Gadis tersebut.


“Waalaikumussalam, Manda dan Fiza. Ayok sini gabung jangan malu-malu. Saya akan memperkenalkan siapa yang bernama Rian, cowok paling ganteng se Kota Mentaran ini tapi kalau paling keren se Jenever tetap Sayalah,” ucap Evan menyapa kedua Gadis itu yang tampak malu-malu.


“Evan, sok keren kamu. Padahal  Saya yang lebih luas wilayahnya tidak pernah berkoar-koar tuh kalau saya paling ganteng,” sahut Juna menanggapi ocehan Evan.


“Biarin, suka-suka saya dong!” sahut Evan tetap percaya diri.


“Kamu sudah kenal, Van?” tanya Rian.


“Sudah dong, curi star saya,” sahut Evan bangga.


Mereka berkenalan satu sama lain dan ikut bergabung dalam pembicaraan yang penuh kekeluargaan dan persahabatan. Terlihat Rian mulai serius pendekatan dengan Fiza sedangkan Dipta ingin bersaingan dengan Evan untuk memperembutkan Amanda, Si Bidadari Petakilan.


“Saya gabung sama Evan dan Dipta untuk memperembutkan Bidadari Petakilan,” ucap Juna beranjak ke tempat Dipta, Evan dan Amanda berkumpul. Juna hendak memberikan kesempatan kepada Rian untuk lebih mengenal Fiza.


“Serius kau Bang, wah tambah banyak saingan saya nih!. Tapi tak apa walaupun jelek begini , saya percaya Gadis ini tidak mampu menolak pesona Sang Cempreng,” ucap Eva penuh percaya diri.


“Yeeee, percaya diri banget kamu?” sahut Dipta.


“Harus percaya diri dong!” timpal Evan tidak mau kalah dan menyerah.


“Manda, jangan mau sama Evan, dia jorok. Mendingan sama saya saja,” ucap Dipta menyingkap rahasia Laki-laki itu.


“Mulai bertingkah tidak sportif, kalau begini caranya saya juga bisa bersikap tidak sportif,” sahut Evan serius.


“Jangan mau sama Laki-laki gratisan dan pelit, medit bersama saudara-saudaranya,” sambung Evan sembari memberikan olokan kepada Dipta.


“Siapa yang pelit, saya hanya hemat,” sanggah Dipta tidak mau kalah.


“Iya hemat untuk orang lain, boros untuk diri sendiri. Kasian kalau Amanda sampai punya Suami seperti kamu. Apa-apa kudu harus di kalkulasikan dulu. Di hitung dulu Debet dan kreditnya habis itu di ukur dan di timbang. Kenapa enggak sekalian menyuruh tenaga ahli rekan kerja Ega untuk melakukan tera kepada pengeluaran kamu biar langsung sesuai dengan standar kehidupan kamu,” sahut Evan panjang lebar.


“Kenapa para Penera itu dibawa-bawa? Niat banget ingin menjatuhkan citra saya dihadapan Amanda,” oceh Dipta memasang wajah kesalnya.


“Memang kenyataannya seperti itu. Jangan menutupi sisi negative kau jika ingin serius. Takutnya entar Isteri kamu kaget begitu tahu kalau kau seperti apa,” ucap Evan menimpali.


“Apa salahnya hemat,” sahut Dipta membela diri.


“Tidak ada yang salah, tapi jangan kelewat hemat untuk sesuatu yang kamu benar-benar butuhkan,” ucap Evan datar.


Amanda dan Juna melongo melihat perdebatan mereka berdua yang sepertinya tak akan berakhir.


“Lanjutkan perdebatan kalian, karena saya memilih bersama Abang Juna yang ganteng, baik hati, loyal dan juga tidak hemat atau pelit serta tidak jorok,” ucap Amanda terlihat serius. Sebisa mungkin dia menyembunyikan senyum simpulnya.


“Sorry ya, ternyata gadis ini memilih saya,” sahut Juna terlihat riang.


“Mari kita kencan Nona,” sambung Juna sembari mengerlingkan mata indahnya kepada Amanda.


“Iyaaaah, kalau saingannya Abang Juna mah kita enggak ada apa-apanya. Belum mempersiapkan senjata kita sudah kalah,” ucap Evan sedih.


“Ho’oh,” sambung Dipta muram.


Amanda dan Juna tertawa lebar menyaksikan mereka berdua yang nampak sangat memprihatinkan.


Sementara itu Beni dan Ega menyisihkan diri dari mereka semua. Sepasang Suami itu memilih mengawasi dari jauh acara pendekatan Sahabat-sahabat mereka dan tidak ingin menganggu. Sesekali mereka tersenyum mendengarkan ocehan yang terdengar lucu terutama berasal dari Amanda dan Evan.


“Kak Beni, sepertinya ada seorang Gadis yang suka sama Abang Juna,” ucap Ega lembut di telinga Suaminya. Setelah dia memperhatikan secara diam-diam. Gadis itu sesekali melirik ke arah Juna namun sepertinya Juna tidak menghiraukannya malah terlihat biasa-biasa saja meskipun sesekali menggoda Gadis itu.


Beni melirik ke arah Gadis yang dimaksudkan Ega kemudian ke arah Juna yang nampak biasa saja.


“Aku khawatir perasaan Gadis itu tidak bersambut. Abang Juna seakan sulit tersentuh dan memagari dunia pribadinya agar orang lain sulit memasukinya,” sahut Beni terlihat gelisah.


“Iya, Abang Juna masih hidup di masa lalu meskipun dirinya berada di masa sekarang. Dia sepertinya tidak ingin melepaskan diri dari masa lalunya itu. Hatinya sudah berada disana dan sulit sekali menariknya ke masa sekarang,” sambung Ega datar.


“Semoga saja Gadis itu hanya terpikat oleh Pesona Juna tidak langsung menempatkan hatinya kepada Laki-laki itu,” harap Beni terlihat serius.


“Semoga, aku takut Gadis itu akan kecewa dan patah hati. Lebih baik menerima cinta yang terulur untuknya daripada berharap menyentuh hati Abang Juna yang rasanya tidak mungkin tersentuh dan sulit terjangkau.”


Sepasang Suami Isteri itu sibuk membicarakan Gadis itu dan Juna, Laki-laki yang sulit tersentuh cinta. Dia seakan menempatkan dirinya jauh dari jangkauan Para Gadis yang menginginkannya dan membangun tembok tinggi yang mengamankan hatinya. Juna memang seorang Pangeran Pencity yang terjaga hidupnya dengan adat dan terjaga hatinya dengan masa lalunya yang sulit dia lepaskan. Cinta Juna tertanam pada masa lalu itu bersama rasa bersalah yang selalu menemaninya hingga membuatnya sesak. Ega tahu perihal itu namun Gadis itu tidak mampu melepaskan Juna dari belenggu itu karena Juna tak ingin melakukan itu.


Bersambung.


Ayo tebak, siapa Gadis yang menyukai Juna? Bisakah Juna melepaskan diri dari rasa bersalah itu?


Silahkan pendapatnya, saya juga akan bertanya sama Abang Juna asli kenapa sampai sekarang belum menikah. Apakah dia hendak menunggu anak saya dewasa yang baru saja berumur dua tahun. Semoga saja Abang Juna memberikan jawaban yang benar  dan tidak memberikan jawaban yang memblokir diri ini. Ooops semoga Abang Juna tidak singgah di Novel ini, sorry Abang Juna. hehehehe


Happy Reading para sahabat.

__ADS_1


__ADS_2