Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
60. Sinisme.


__ADS_3

Rian dan Fiza berjalan berdampingan. Tidak ada pembicaraan yang terjadi. Mereka memilih diam dengan pikiran berkiaran dan belum berkumpul pada satu pusat.


"Mas, terima kasih sudah meminjamkan Jaketnya," ucap Fiza sedikit meramaikan keheningan yang terasa dari tadi.


"Sama-sama Za. Bagi ane, apa yang ane lakukan itu sebenarnya istimewa tapi tidak tahu dengan ante?" sahut Rian datar.


"Istimewa kok, setidaknya Jaket Mas Rian berhasil menyelamatkan saya dari dinginnya angin." Buru-buru Fiza menjawab agar Laki-laki berkulit eksotis ini tidak tersinggung.


"Jadi begitu? syukurlah," ucap Rian terlihat bahagia. Fiza menanggapi dengan senyuman. Dia berpikir, dia akan berusaha membuka hatinya untuk Rian. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan hatinya esok. Bisa jadi, dia mempunyai rasa yang akan dia berikan kepada Laki-laki itu. Lebih baik bertumpu pada sesuatu yang jelas terlihat daripada bertumpu pada sesuatu yang semu. Dia tidak ingin terjatuh dan merasakan rasa sakit itu. Saat ini hatinya masih ingin mengejar angannya. Namun dia sadar, angan itu adalah penipu ulung yang tak mungkin berpotensi benar. Angan hanya ada dalam benak tidak mungkin nyata lalu menjadi bersama.


"Za, apa ante suka sama Juna?" tanya Rian gamblang. Dia tidak ingin berpura-pura tidak tahu bahwa Gadis itu menaruh cinta di hatinya untuk Juna.


Pertanyaan itu sukses membuat Fiza terkejut. Ternyata Rian menyadarinya dan apa semua orang menyadarinya termasuk Juna. Pikirnya. Padahal dia tidak pernah mengatakan apapun, kepada siapapun. Lantas kenapa mereka langsung berasumsi bahwa dia memang benar mempunyai rasa untuk Juna. Fiza memaki dirinya yang tak mampu menyembunyikan rasa itu hingga tak terdeteksi oleh siapapun. Nyatanya apa? Rian mengetahuinya sehingga mengajukan tanya untuk mendapatkan pembenaran.


"Apaan sih Mas Rian ini, ngarang? mana ada itu?" jawab Fiza tak tepat. Dia yakin, jawaban yang dia berikan membuka celah untuk menyingkap kebenaran. Rian, Pria itu pasti sudah bisa menebak pertanyaan itu benar. Dan jawaban yang diberikan Fiza salah.


"Tak apa jika kamu tidak menjawab benar. Kamu berhak untuk jatuh cinta kepada siapa? termasuk kamu jatuh cinta kepada Juna. Tidak ada yang larang," ucap Rian datar. Sebisanya dia menekan kecewa karena Gadis yang membuatnya menanggalkan Gelar Play Boynya ternyata menyukai orang lain. Ini mungkin hukuman untuknya karena kerap kali membuat Para Gadis patah hati.


"Kamu berhak memiliki perasaan kepada Juna. Dia lebih tampan dan keren daripada ane. Dia lebih baik dan perhatian daripada ane. Ane membebaskan kamu untuk menentukan pilihan. Ane tidak ingin menyakitimu dengan perasaan ini. Jika Juna bisa membuat kamu bahagia ane rela kok, jadi tenang saja." Rian mengucapkan apa yang ada dalam pikirannya meskipun tidak sesuai dengan hatinya. Dia tidak ingin memaksa jika memaksa membuat Fiza tersakiti. Tidak ingin zholim, maka satu-satunya cara untuk membuktikan rasa itu ada adalah membiarkannya terlepas.


Rian menepuk pundak Fiza lembut memberikan kekuatan kepada Gadis itu untuk menggapai apa maunya hati dari Gadis itu.


"Ayok, kita masuk. Lama-lama kamu beku disini," ucap Rian mengajak Fiza masuk. Sedangkan Fiza masih terlelap dalam lamunannya. Dia menyimak semua kata yang diucapkan oleh Rian. Entah mengapa? apa yang diucapkan Rian berpengaruh pada suasana hatinya. Ada rasa galau menerpanya dan juga rasa terluka. Dia tidak ingin Rian menyerah untuk mendapatkannya. Disisi lain, dia tak ingin memberi harapan apapun kepada Pria itu.


"Fiza, kok malah bengong? entar kesambet lo? Saat menjelang Magrib waktu Jin berperang. Kamu mau ragamu jadi sasaran persembunyiannya," ucap Rian mengingatkan. Rian memegang Lengan Fiza untuk membimbingnya masuk. Tinggal beberapa langkah lagi mereka sampai di dalam Vila.


"Ehem."


Mereka disambut deheman dari Nina yang berdiri di ambang Pintu.


"Nina!"


"Jadi ini Gadis yang kamu suka?" Nina menyerang Rian dengan pertanyaan. Dia mengamati Fiza dari atas hingga ke bawah dengan pandangan tak bersahabat.


"Apa tidak ada cewek lain selain dia? mengapa harus dia? enggak banget!" sambung Nina memberikan pendapatnya.


"Satu hal lagi, apa yang kamu miliki hingga berani jatuh cinta kepada Juna? kamu jangan terlalu ber-angan. Sama Rian saja kamu enggak pantas apalagi sama Juna. Berhayal itu jangan terlalu tinggi keles! jatuh, sakit. Sadar diri dong, muka pas-pasan berharap mendapatkan Pangeran. Cari yang sepadan dengan kamu, jelek!" Nina mengejek sekaligus melumpuhkan mental dari Gadis itu. Dia tersenyum puas karena telah menumpahkan kata-kata pedasnya.


"Keterlaluan ante Nina? kenapa jadi angkuh gini sepulang dari liburan? Apa disana ante menginstal ulang Otak sehingga yang tersisa hanya keangkuhan saja. Apa ante ngerasa diri paling baik sehingga pantas untuk merendahkan orang lain?" Rian mengomeli Sahabatnya itu. Boleh saja dia diam saat Nina merendahkan Ega karena ada yang membelanya. Tidak dengan Fiza, dia tidak mungkin diam saja menyaksikan Gadis itu di rendahkan begitu saja.


"Kenapa kamu membela dia? dia baru kemaren mengenal kamu Rian sedangkan aku sudah mengenal kamu puluhan tahun. Apa layak aku mendapatkan omelan. Jangan gara-gara kamu menyukainya sehingga boleh mengomeliku seperti ini. Lagian dia juga tidak tahu malu menyukai Juna. Apa pantas?" Nina menyahuti Rian dengan pancaran tak suka. Lalu beralih ke wajah Fiza dengan pandangan sinis. Nina berlalu dengan angkuhnya. Nina marah karena semua Sahabatnya telah mengalihkan perhatiannya kepada kedua Gadis yang baru saja masuk ke lingkungan persahabatan mereka dan mengabaikannya.


"Jangan dipikirkan apa yang diucapkan oleh Nina. Ane tidak tahu apa yang terjadi sehingga moodnya berubah buruk. Sebenarnya Nina itu orangnya baik. Mungkin karena pengalaman buruknya yang membuatnya gampang marah dan mungkin saja ada masalah sehingga melampiaskan ketakutannya dengan merendahkan orang lain. Nina selama ini menempatkan diri sebagai Ratu di Persahabatan kita. Semua perhatian dan pujian terpusat kepadanya. Mungkin saja karena ada saingan yang menurutnya mengancam kedudukannya sehingga berusaha menjatuhkan mental dari saingannya itu. Termasuk Ega, dianggap saingannya bukan lagi Sahabat. Apalagi dia tahu Beni menyukai Ega. Hal itu membuatnya marah. Dengki sedang menghasud akal sehatnya."


Rian menuturkan pemikirannya dan meminta Fiza untuk mengabaikan segala apa yang diucapkan Nina.


Fiza mengangguk mengerti. Dia menyeka matanya yang mulai berembun. Jujur saja dia merasa malu dengan perasaannya kepada Juna. Tidak semua perkataan Nina salah. Seharusnya dia sadar diri untuk tidak memiliki perasaan kepada Juna. Bukankah dia juga berusaha menyembunyikan perasaannya dan tidak berkata apapun. Entah kenapa perasaan yang secara diam di simpan pada hatinya yang terdalam ternyata mudah terbaca. Saat ini, dia merasa malu. Dia ingin rasanya menghilang dari hadapan semua orang sehingga tak melihat betapa malunya dia.


"Hai kalian berdua, kenapa berdiri di situ? apa kalian enggak denger sudah adzan, ayok Shalat."

__ADS_1


Suara cempreng itu nenyadarkan keduanya dari lamunan akan pikiran masing-masing.


"Oh iya, enggak nyadar kalau sudah mau iqomat. Kita Shalat dulu." Rian mengajak Fiza masuk menuju kamar masing-masing untuk mempersiapkan diri melaksanakan Shalat Magrib.


Sedangkan Evan memilih untuk menggelar Tikar tempat mereka akan melaksanakan Shalat. Mereka memilih untuk melaksanakan Shalat di Vila karena belum tahu jalan ke arah Masjid. Hanya suara Adzan yang begitu samar terdengar menandakan kalau di sekitar Vila ada Masjid.


Selesai Shalat mereka melanjutkan dengan makan malam bersama. Saat makan, Nina berulah lagi. Dia tidak ingin ikut bergabung bersama mereka jika kedua Gadis itu berada disana.


"Aku di kamar saja, melihat dua muka cantik seperti pantat Panci membuatku sulit menelan makanan," ucap Nina mengutip majas sinisme.


"Hidup ini rasanya tenang tanpa si cantik. Aku jadi bisa makan enak meski yang ku telan adalah Duri," Amanda menimpali dengan sindiran juga.


Nina mempelototi Amanda yang tengah asyik menyuap makanannya setelah selesai berkata. Dia tidak memperdulikan amarah yang bergemuruh lebih hebat dari gemuruh guntur.


"Kalian berdua kenapa saling sindir? seperti majas saja?" ucap Evan menengahi.


"Kenapa sih Nin? sensi banget? apa tamu bulanan kamu macet?" tanya Dipta. Dia menyadari perubahan sikap yang terjadi pada Nina. Nina seakan berbeda, apa kepalanya terbentur sehingga Otaknya bergeser. Batinnya.


"Males berdebat dengan kalian. Jun bawakan aku air ke kamar, aku tidak bisa membawanya," ucap Nina meminta bantuan kepada Juna. Dia seperti memerintah Lelaki itu.


"Dasar manja, aku melakukan ini karena aku baik," sahut Juna. Dia bangkit dari duduknya lalu menenteng satu botol air mineral yang diinginkan Nina.


Fiza memandang kepergian Pria itu. Dia begitu perhatian, pantas saja memanfaatkan kebaikannya. Fiza membatin.


"Huft, Wanita jadi-jadian itu main perintah saja. Kalau saya mah ogah disuruh-suruh," ucap Dipta datar.


"Benar, kah? bukannya kamu juga perhatian banget sama Nina. Waktu Nina terkena deman berdarah, siapa ya? yang paling khawatir terus dengan setia menemani di Rumah sakit. Kenapa kamu jadi lupa Dipta?" Evan mengingatkan kebersamaan Dipta dulu yang dengan setia menemani dan merawat Nina. Dia seakan enggan beranjak dari sisi Nina.


"Kamu benar, setidaknya kamu bisa bersikap manis walaupun kamu sering mengajak Nina ribut," balas Evan.


"Apa Dipta dulu pernah suka sama Nina?" tanya Amanda yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka berdua.


"Uhuk uhuk uhuk." Dipta terbatuk. Dia tidak menyangka mendapatkan pertanyaan itu. Dia segera meneguk air putih untuk melegakan tenggorokannya.


"Tentu saja tidak, lebih pastinya Mas Rian yang memiliki perasaan kepada Nina hanya saja karena komitmen yang kita buat makanya rasa itu hanyut begitu saja lalu hilang." Dipta membuka rahasia yang selama ini di pendam.


Rian membisu namun terlihat sekali kegusaran timbul pada raut wajahnya. Melihat perubahan wajah Lelaki itu membuat Dipta buru-buru meminta maaf.


"Maaf Mas Rian, saya keceplosan," ucap Dipta merasa bersalah. Dia memaki dirinya dalam hati. Kenapa dia keceplosan dan tak menyaring perkataannya. Dia berniat untuk membuat bantahan atas pertanyaan Amanda akan tetapi malah menimbulkan masalah untuk Rian.


"Tidak apa-apa Dip, itu memang kenyataan. Dulu ane memang pernah menyukai Nina. Itu di awal kita bertemu, lama kelamaan rasa menentukan pilihan. Pilihan untuk menjadi Sahabat saja, itu terasa lebih nyaman. Ane tidak mau membantah, itu memang benar." Rian menjawab dengan jujur. Tidak ingin menutupi apapun tentangnya. Dia ingin Fiza melihat apapun tentangnya jadi tak perlu ditutupi. Jika Fiza jodohnya, tentu dia akan bersama.


Fiza terharu mendengarkan penuturan Rian. Dia tidak menyangka Rian berkata jujur. Kenapa hatinya tersentuh oleh pengakuan Rian. Rian selama ini selalu berkata jujur, menceritakan seperti apa hidupnya sebelum bertemu dengannya. Dia tidak pernah menutupi apapun. Fiza memandang Rian, seketika itu Rian mendongakkan wajahnya. Netra mereka bertemu, menyalurkan desiran halus yang awalnya hanya dimiliki Rian. Fiza menatap sepasang netra yang begitu hangat yang tersirat cinta.


"Kamu balik juga Jun? siapa tahu saja Nina minta di keloni," ucap Evan menggoda Juna. Lelaki itu sudah ada di tengah-tengah mereka.


Sebelum menjawab dia mengarahkan netranya ke arah Rian sejenak lalu ke arah Fiza. Dia tersenyum menemukan roman yang mulai terasa di antara mereka meskipun kecil kemungkinannya.


"Sembarangan, saya masih punya iman kali! mana mau menyentuh sesuatu yang belum halal untuk disentuh," sahut Juna sembari melempar Evan dengan Tissu.

__ADS_1


"Hahahaha. Saya terkesima mendengarkannya," sahut Evan menghindarkan diri dari lemparan itu.


Tawa Evan saat ini sukses memutuskan sihir yang siap mengikat kedua insan berbeda jenis kelamin, insan yang dilanda cinta. Seketika itu Rian memutuskan aliran itu. Tersenyum canggung dibawah wajah yang menduduk. Sedangkan Fiza, dia tidak bisa menyembunyikan malu. Dia tertunduk seakan malu memerintahkan seperti itu.


"Tentu saja kita semua masih Perjaka Tong Tong. Boleh gaul tapi kesucian harus dijaga dong?" ucap Evan menguasai kecanggungan yang samar terjadi di antara mereka. Jelas, ucapan itu sukses menormalkan kembali kecanggungan yang terjadi. Bukan semua orang tapi sepasang hati yang berada di antara mereka.


Semua orang yang mendengarkan pernyataan Evan sepakat menyetujui. Kelima Bujang Lapuk itu memang selain keren, gaul dan juga terlihat bebas tapi mereka bukan penggemar **** bebas, obat-obatan terlarang maupun alkohol. Meskipun terkadang lalai tapi mereka tetap mengingat batasannya. Rian, si Play Boy itu juga tidak sampai melakukan lebih dari sekedar berpelukan dan ciuman, itupun karena terbawa suasana.


"Assalamualaikum." Tiba-tiba terdengar salam dari seseorang.


"Siapa, ya?" tanya mereka serempak.


"Sebentar, biar saya yang lihat," ucap Dipta. Dia mengambil inisiatif untuk membuka Pintu karena hanya dia saja yang sudah selesai makan sedangkan lainnya masih menikmati makan malam mereka.


"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh." Dipta membalas salam lalu terdengar Pintu dibuka.


Ceklek


"Ternyata Kalian berdua, ayok masuk." Dipta mempersilahkan kedua tamu yang ternyata Beni dan Ega.


"Kalian lama bener nyampenya? memangnya nyangkut dimana?" tanya Dipta penasaran.


"Memangnya kita berdua itu layang, apa?" sahut Ega cemberut.


"Nah ini yang bikin saya demen liat. lucu!" ucap Dipta terkekeh.


"Ya, bikin aku gemes jadinya," balas Beni sembari mencubit Pipi mulus Ega.


"Hem, mentang-mentang udah boleh jadi bebas Bos," goda Dipta sembari menggelengkan Kepala melihat kelakuan sepasang Suami Isteri itu.


"Serius nanya tadi?" Dipta kembali mengingat. Dia ingin tahu kemana mereka berdua.


"Saya mampir di Pesantren terus nyari penginapan," jawab Beni menjelaskan.


Terlihat Dipta nampak berpikir. Dia menatap Beni dan Ega penuh tanya karena dia belum mendapatkan penjelasan mengapa kedua Sahabatnya itu memisahkan diri.


"Menghindari masalah," ucap Ega seolah mengerti arah pikiran Dipta.


"Bukan itu saja, kita menghindari Nyamuk Betina. Nguing nguing terus, kemeng telinga terus Gigit pula." Beni menimpali.


"Hahahaha. Nyamuknya cantik gitu namun karena kelewat agresif jadinya hilang pesona," ucap Dipta diawali kekehan.


"Ayok kita gabung, kok malah ngobrol di depan Pintu sih!" Ega mengingatkan.


"Oh iya, untung ingetin," ucap Beni kikuk begitupun Dipta yang cengengesan. Ketiganya kemudian berjalan menuju ruang makan tempat keberadaan semua Sahabatnya.


Baru saja sampai, mereka disambut oleh pekikan Nina yang terlihat senang dengan kehadiran Beni.


"Beniiiii! Akhirnya sampai juga, kemana aja sih kamu? enggak mikir apa aku begitu khawatir karena menunggu batang hidung kamu yang mancung itu. Bukan itu saja aku juga kangen," ucap Nina manja. Dia tersipu menyadari ucapan terakhirnya.

__ADS_1


Mereka yang mendengarkan mendadak membisu dengan wajah yang tak seterang cahaya Lampu yang membias.


Bersambung.


__ADS_2