
Ega memberanikan diri menemui Lexi sendirian demi menyelamatkan Nina. Ega tidak menginformasikan kepada Sahabat-Sahabatnya jika dia akan menemui Lexi. Gadis itu terpaksa berbohong tidak bisa ikut mencari keberadaan Nina sesuai dengan kesepakatan mereka dengan alasan akan lembur untuk menyelesaikan angkanya yang hilang.
Sore itu sepulang kerja Ega mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang sudah di serlok oleh Lexi. Ega sudah memastikan Handphone-nya sudah dia bawa dan terisi full agar bisa dia manfaatkan untuk menghubungi teman-temannya jika Lexi mulai melakukan kejahatan.
Selang beberapa menit sampailah Ega pada sebuah Vila mewah terletak di dekat pantai dan jaraknya memang tidak terlalu jauh dari bibir pantai. Ega menelusuri jalan menuju Vila dengan perasaan takut dan tubuhnya mulai gemetaran namun Gadis itu berusaha memberanikan diri demi menyelamatkan Nina.
Ega melihat Lexi sedang berdiri menghadap ke lautan luas. Laki-laki itu terlihat begitu tampannya dengan tubuh atletis dan kulit putih yang berkilauan tertepa sinar matahari. Jujur saja diakui bahwa Lexi Aditama merupakan sosok dambaan kaum hawa. lihat saja dada bidang itu pasti para Gadis akan betah disana, bermanja-manja dalam dekapan tangan yang kekar namun ternyata kenyataan tidak seindah ekspektasi. Laki-laki itu lebih mengerikan daripada monster dan kaum hawa sebaiknya menjauhinya dan jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan dekapan ternyaman dari tubuh Lexi yang ada hanya kesengsaraan dan kesakitan.
Lexi tersenyum begitu melihat Ega menghampirinya. Senyum Lexi yang hangat itu seakan mencairkan ketakutan yang dihadapi Ega. Mata itu begitu teduh seakan menghilangkan dahaga yang di terpa kegersangan. Kini bukan rasa takut yang mendera Ega tapi rasa terpesona memandang tubuh nyaris sempurna dari Lelaki bernama Lexi Aditama.
"Aku pikir kamu tidak akan datang," sambut Lelaki itu terdengar lembut di telinga Gadis manis yang berdiri mematung.
Ega ragu-ragu untuk melangkah namun melihat wajah Lexi yang tenang dengan mata yang teduh seolah-olah
mengisyaratan tidak akan terjadi apa-apa.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu," ucap Lexi meyakinkan Gadis yang ada di hadapannya.
Ega duduk di kursi yang tersedia disana dengan perasaan was was. Ega tidak yakin dengan Laki-laki yang berdiri
kokoh di hadapannya akan bersikap baik kepadanya.
Lexi melangkah ke arah Ega yang sedang duduk. Laki-laki itu tersenyum kemudian ikut duduk pada kursi kosong
yang bersisian dengan tempat duduk Ega hanya saja disekat oleh Meja. Diatas Meja sudah tertata rapi beberapa kue dan juga minuman.
"Minumlah, legakan tenggorokanmu mungkin saja sekarang sedang dahaganya," ucap Lexi mempersilahkan Ega untuk meminum segelas jus orange yang tersedia disana.
Ega hanya diam memandang Lexi dengan tatapan menyelidik berusaha mencari kebusukan dari setiap kata dan
tingkahnya namun tidak ada sesuatu yang aneh diperlihatkan oleh Lexi.
"Kenapa ragu? apa kamu kira aku akan meracunimu, membubuhkan obat tidur atau memasukkan obat perangsang di dalam minumanmu." Lagi-lagi Lexi berbicara dengan memandang manik Ega dengan intensnya membuat Ega beristigfar dalam hati, segera memalingkan wajahnya dengan jalan menunduk. Kenapa bola mata Lexi begitu teduhnya membuatnya terhanyut disana dan mengikuti arus kemana keteduhan itu membawanya.
"Jika kamu ragu, aku akan meminumnya untuk meyakinkan kamu." Lexi meraih minuman yang disediakan untuk Ega kemudian meminumnya setengah.
"Aku kesini ingin memastikan apakah Nina bersamamu, Lexi?" tanya Ega kemudian berani memperdengarkan suaranya.
Lexi memandang Ega kemudian mengalihkan pandangannya ke depan melihat matahari dengan perlahan kembali ke peraduannya.
"Tidakkah kamu ingin menikmati keindahan ini sejenak saja baru menanyakan tentang keadaan sahabatmu itu. Lihatlah bukankah pemandangan ini sangat indah." Lexi menunjuk ke arah pantai dengan sorot matanya. Ega memendarkan pandangannya ke arah yang dimaksud Lexi yang semula mengarahkan pandangannya ke wajah Laki-laki di sampingnya.
"Saya mengkhawatirkan keadaannya," guman Ega lirih terdengar seperti orang putus asa.
"Tenang saja, Sahabatmu itu baik-baik saja. Aku tidak menyiksanya," jawab Lexi berusaha meyakinkan Gadis di sampingnya agar tidak mengkhawatirkan sahabatnya itu.
Ega bernafas lega setidaknya Lexi tidak menyakitinya.
"Sepertinya kamu menyukai tempat ini? apakah tempat ini menyimpan banyak kenangan indah disini?" tanya Ega begitu saja. Entah kenapa rasa keponya mengalahkan ketakutan jika saja Lexi tidak menyukai pertanyaan itu. Ega meraih gelas berisi jus orange yang tinggal setengah, sisa yang sudah diminum oleh Lexi. Kini dia meyakini kalau laki-laki itu berkata jujur.
Jus orange yang setengah itu diminumnya hingga tandas karena tenggorokan benar-benar kering.
Lexi menjauh dari Ega kemudian berdiri di bibir pantai dan membiarkan kakinya tersapu ombak. "Iya, dulu waktu aku masih kecil. Papa dan Mama sering mengajak aku kesini. Kita berenang dan juga bermain pasir setelah puas kita akan makan bersama." Kenang Lexi sambil matanya tidak lepas dari gulungan ombak yang menyentuh bibir pantai.
"Dulu aku sangat bahagia karena memiliki keluarga yang sempurna. Papa yang kaya raya dan segala keinginanku terpenuhi tanpa harus susah payah untuk mendapatkannya. Aku memiliki Ibu yang lembut dan penyayang serta memiliki dua orang sahabat yang setia menemani dan menciptakan hari-hari yang ceria penuh cerita. Namun kehangatan itu berakhir ketika datang seorang yang mengganggu keharmonisan keluargaku. Seorang yang berhasil memporak-porakan istana keluarga kita. Wanita itu mengaku mengandung anak dari Papa dan Papa mengakui itu. Mendengarkan pengakuan itu membuat Mama terguncang jiwanya. Mama seakan tidak siap dengan kenyataan yang beliau alami." Lexi menghentikan ceritanya. Laki-laki itu tidak sanggup untuk melanjutkannya.
__ADS_1
Ega bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Lexi yang berdiri di hadapannya. Entah dorongan apa yang membuat Gadis itu ingin mendekati Lexi dan memberikannya kekuatan.
Melihat Ega menghampirinya dengan lembut, Lexi memeluk Ega dari belakang kemudian mempererat tangannya pada pinggang ramping Gadis itu. Tentu saja perlakuan itu membuat Ega terkejut dan berusaha untuk melepaskan diri.
"Jangan menolak, aku hanya ingin merasakan kenyamanan ini sejenak saja," pinta Lexi kemudian menancapkan dagunya pada bahu Ega.
"Mama mengalami gangguan mental dan harus dirawat oleh dokter spesialis kejiwaan. Melihat mama terluka jiwaku juga ikut terguncang. Untung saja ada Mandala dan Nara yang selalu ada untuk untuk menguatkanku. Mereka berdua sahabat yang tulus dan setia menemaniku disaat terpuruk." Lexi melanjutkan cerita sambil asyik memeluk tubuh Ega. Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya pasrah.
Ega merasakan kenyamanan dan ketenangan tatkala Lexi memeluknya. Entah kenapa dia sangat suka namun buru-buru ditepis rasa suka itu karena ini larangan.
"Kesetiaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Mandala menghancurkan begitu saja persahabatan kita. Aku tidak menyangka kalau dia tega memperkosa Nara dan membuatnya hamil."
Mendengar itu membuat Ega berhasil melepaskan pelukan Lexi dan menjauh dari laki-laki itu.
"Kenapa? apa kamu tidak percaya kalau Mandala tega melakukan itu?" tanya Lexi terdengar marah.
Ega menggelengkan kepala membatah, bukan itu maksudnya. Dia sedikit khawatir ketika mendengar nada Lexi yang mulai meninggi. "Aku hampir saja kehabisan nafas karena kamu memelukku terlalu erat." Bohong Ega agar Laki-laki itu tidak menunjukkan taringnya karena tanpa sadar dia membela Mandala yang tak lain adalah Juna Sahabatnya.
"Maafkan aku karena telah menyakitimu," sesal Lexi mulai meredamkan emosinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ega mulai penasaran.
"Malam itu Nara menelpon untuk memintaku datang ke sebuah Vila yang terletak di kawasan Pantai. Sesampainya aku disana tidak ada Nara malah aku bertemu dengan Papa dan Papa memperlihatkan CCTV dimana dalam CCTV itu terlihat Nara sedang memakai bajunya dalam kondisi memprihatinkan. Nara menangis ketakutan dan Mandala berusaha untuk menenangkan dengan berkata akan baik-baik saja kemudian membawa Nara pergi. Papa menceritakan bahwa dia melihat Mandala melakukan pelecehan kepada Nara dan Papa berusaha untuk membantu Nara namun rupanya tidak berhasil malah Papa dipukul oleh Mandala membuatnya tidak sadarkan diri." Lexi menceritakan apa yang menimpa Nara pada malam naas itu. Ega sudah mengetahui perihal itu dari Beni. Terlihat sorot mata itu menyala tatkala Lexi mengingat kejadian malam itu. Lexi mengepalkan tangan menahan emosinya yang sudah diubun-ubun.
"Melihat itu membuat aku sangat membenci Mandala. Aku benar-benar frustasi dan melarikan diri ke dunia malam. Aku mulai berkenalan dengan minuman, Wanita penggoda bahkan aku sempat mencicipi obat terlarang. Aku menjadi liar dan mulai ikut-ikutan yang terlarang itu. Kamu pasti sudah tahu apa itu, kan? Penyuka sesama pedang." Lexi melanjutkan ceritanya setelah seperkian detik dia terdiam. Lexi menarik nafas lega karena telah membagi sesak hatinya kepada Ega. Entah kenapa Lexi sangat mempercayai Gadis yang bersamanya sehingga mau membagikan duka lara yang selama ini dikuncinya.
Ega seolah merasakan apa yang di alami Laki-laki di sampingnya. Rasa sakit hati, terpuruk dan terluka yang terlihat nyata pada sorot matanya yang nanar. Pantas saja Lexi melarikan diri ke dunianya yang gelap dan sesat tapi kenapa harus seperti itu? terlalu sakitkah yang dirasakan Lexi?.
Lexi kembali meraup tubuh Ega dan menaruhnya pada dada bidangnya, tangannya merangkul pinggang ramping Gadis itu sedangkan wajahnya dia rebahkan pada bahu Gadis itu.
"Aku lelah dengan hidupku. Kenapa rasa sakit dan dendamku begitu menyiksaku. Aku Ingin menghancurkan dan menyiksa hidup Mandala namun rupanya Mandala dikelilingi orang-orang yang menyayanginya termasuk kamu. Jujur saja aku cemburu dengan kebersamaan kalian dan aku ingin menghancurkan persahabatan kalian tapi aku malah jatuh cinta sama kamu. Aku menyukai kamu Ega, entah kapan rasa suka itu ada tapi rasanya itu terlihat nyata." Lexi mengatakan segala keluh kesahnya dan perasaan yang muncul dilubuk hatinya.
"Kamu pasti bingung, kan? kapan aku mulai menyukaimu. Saat itu kamu mungkin tidak sadar kalau pernah bertemu denganku. Waktu itu kamu pernah membagikan makanan bersama Beni. Waktu aku sedang mabuk berat dan paginya menemukan diriku di emperan toko. Kamu dan Beni menghampiriku dan memberikan satu bungkus Nasi dan satu botol air mineral." Lexi menceritakan pertemuan pertama mereka tanpa disadari oleh Ega maupun Beni.
Dari hari itulah berawal, Lexi mulai mencari informasi tentang Ega dan Beni. Tanpa disadari oleh tujuh sahabat, Lexi secara diam-diam mengikuti kegiatan mereka berdua terutama Ega. Teror itu adalah caranya untuk menarik perhatian mereka. Mendengarkan cerita Lexi membuat Ega mengalihkan pandangannya ke wajah Lexi yang masih asyik merebahkan kepala di bahunya dan mencoba mengingat-ingat.
"Tentu saja kamu tidak ingat karena terlalu banyak orang yang kamu temui. Waktu itu kita makan bareng-bareng. Kamu dan Beni juga ikut sehingga kita makan bersama dan tertawa bersama. Hari itu pertama kalinya aku tertawa begitu mendengarkan guyonanmu." Lexi melanjutkan ceritanya sambil mengenang pertemuannya dengan Ega dan Beni. Tatkala pagi itu dia dalam keadaan lapar dan dahaga, Ega dan Beni datang menghampirinya. Mereka berkumpul bersama anak jalanan, pedagang asongan dan juga tukang sapu jalanan.
"Aku menyukaimu Ega." Lexi kembali lagi mengungkapkan perasaannya. Laki-laki itu memperelat pelukannya kemudian wajahnya menyusup masuk ke dalam jilbab yang membungkus Kepala Ega, dia menghirup bau wangi dari rambut Gadis itu. Lexi hendak mencium leher jenjang Gadis manis yang di peluknya dan ingin meninggalkan jejak disana.
Ega merasakan itu dengan cepat dia mengiba agar Lexi tidak melakukan itu.
"Saya mohon jangan lakukan itu Lexi, ini sudah tidak benar. Aku takut kamu mengambil sesuatu yang bukan hakmu." Terdengar suara Ega terbata-bata dan mulai menangis.
Mendengar Ega menangis membuat Lexi mengurungkan keinginan untuk mencium dan menikmati manisnya leher jenjang Gadis yang disukainya. Lexi melepaskan pelukannya dan membiarkan Ega menenangkan diri. Gadis itu melorotkan diri membiarkan dirinya terjatuh di atas pasir sambil menundukkan wajahnya. Dia menangis cukup lama dengan rasa berdosa yang membuatnya sesak. Ega berusaha menenangkan diri dengan beristighfar sebanyak-banyaknya.
"Lexi aku merasa gagal sebagai wanita jika tidak bisa menjaga kehormatannya. Jujur saja aku merasa diri ini kotor karena membiarkan laki-laki yang belum halal untukku memeluk raga ini. Entah kenapa saya menyukai itu. saya suka kamu memelukku, ada rasa nyaman dan tenang menjalari hati. Saya merasa deg-degkan dan jantungku rasanya begitu cepat berdetak. Aku tidak bisa menenangkannya Lexi. Apa yang aku rasakan itu adalah salah. ini benar-benar salah." Ega mengutarakan segala apa yang dia rasakan berharap Lexi mengerti bahwa tidak sepantasnya Laki-laki itu menyentuhnya apalagi dia mengenakan hijab.
"Maafkan aku Ega. Bangunlah aku tidak bermaksud melukaimu. Aku terbawa perasaan karena aku serius menginginkanmu untuk menemani sisa hidupku," ucap Lexi mengangkat tubuh Ega untuk berdiri. Dia melihat mata indah gadis itu banjir dengan airmata.
Lexi melangkah ke arah Meja kemudian mengambil Tissu lalu memberikan kepada Ega.
"Hapus air matamu menggantikan tangan ini," ucap Lexi menyodorkan Kotak Tissu. Dia memandang wajah indah gadis di hadapannya yang sedang menunduk.
"Maafkan aku, kamu pasti ingin orang pertama yang boleh menyentuhmu adalah Laki-laki yang sudah halal untukmu. Maafkan aku juga tidak mengetahui bahwa ini pelukan pertama bagimu dan hanya aku orang yang telah berani memelukmu oleh karena itu jadikan aku Suamimu," ucap Lexi terdengar tulus sambil tidak melepaskan tatapannya pada wajah Ega.
__ADS_1
Gadis itu terkejut dan mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Lexi dengan tanda tanya besar disana. Apakah dia tidak salah mendengar.
"Jadikan aku Suamimu," ucap Lexi lagi sambil menatap manik Indah Ega dengan intensnya.
"Jadikan aku Suamimu Ega karena aku menyukaimu. Jadikan aku Suamimu Ega karena aku jatuh cinta kepadamu. Entah kapan itu dan cintaku kepadamu mengalahkan dendamku kepada Mandala. Jadikan aku Suamimu Ega karena aku tidak ingin kamu merasa bersalah sama laki-laki lain yang menjadi pendampingmu selain aku. Jadikan aku Suamimu Ega karena aku tidak punya alasan lagi untuk memintanya." Lexi mengutarakan segala isi hatinya kepada Gadis di hadapannya. Dia berharap Gadis manis di hadapannya menerima pernyataannya yang mendadak. Dia sadar, saat ini Gadis manis bernama Ega itu terkejut dan bingung harus memutuskan apa. Terlihat dari rautnya yang terkejut, keheranan dan kebingungan.
"Bukannya kamu menyukai Kak Beni karena Kak Beni bisa membuat irama jantungmu berdetak kencang bak musik yang dimainkan DJ Macho. Saya masih ingat itu Lexi." Ega sengaja mengingatkan apa yang pernah diucapkan oleh Lexi. Dia juga penasaran dengan kondisi kejiwaan Lexi, apa laki-laki ini normal dan tentu juga ingin memastikan kalau dia tidak menyimpang dari kodratnya.
"Hahahaha ." Lexi tertawa renyah mendengarkan Ega menirukan segala apa yang pernah diucapkannya beserta suara dan mimik mukanya.
"Jika benar aku menyukai Beni kenapa aku malah mengajukan diri menjadi Suamimu," ungkap Lexi tidak melepaskan diri dari wajah manis Ega.
Ega mencari kebenaran dari kata-kata diucapkan oleh Laki-laki itu dengan langsung menancapkan ke manik
matanya.
Merasa diselidiki dengan seksama Lexi malah menggoda Gadis manis yang terlihat polosnya.
"Apa kamu perlu bukti kalau aku masih normal dan akan terus normal," ucap Lexi mendekatkan wajahnya kepada wajah Ega sehingga tidak ada jarak sedikitpun. Ega buru-buru menjauhkan wajahnya.
"Kemarin aku hanya meneror saja. Sengaja aku lakukan untuk menarik perhatian kalian. Aku menyukai Beni bukan dijadikan pasangan hidup tapi memang menyukai kepribadiannya yang baik, sederhana dan juga taat dengan agamanya. Tentu kalian sudah mencari tahu tentang diriku sehingga menemukan jadi diri yang bobrok. Aku memang bergabung bersama mereka karena terseret pergaulan tapi aku sadar. Aku bukan berasal dari kaum Nabi Luth tapi dari kaum Rasulallah hanya saja sedang tersesat." Lexi menjelaskan tentang dirinya agar Ega tak menjudgenya negatif.
"Iya aku percaya bahwa kamu memerlukan Sarungmu."
"Hahaha." Tawa Lexi menggema begitu mendengarkan apa yang diucapkan oleh Gadis ini. Kenapa dia merasakan tubuhnya meremang ingin segera memangsanya namun ditahan karena Lexi tidak ingin menyakiti Gadis yang disukainya.
Setelah tidak ada pembicaraan lagi. Mereka berdua duduk memandang Sunset yang mulai perlahan-lahan kembali ke
garis edarnya dan esoknya lagi kembali melaksanakan titah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Lexi dan Ega tidak menyadari ada seseorang sedang mengawasinya. Seseorang itu memandang Gadis manis itu
dengan penuh gairahnya. Seseorang itu menampakkan senyum seringainya.
Matahari sudah mulai terbenam digantikan oleh pekatnya malam. Sayup-sayup terdengar suara Adzan
berkumandang dari arah Masjid terdekat.
"Lexi apa kamu tidak Shalat?" tanya Ega begitu kumandang adzan berakhir.
"Entah kapan terakhir Shalatnya aku sudah lupa. Kalau begitu mari kita shalat," ajak Lexi sambil berdiri hendak meninggalkan tempat itu.
"Aku sedang libur," sahut Ega masih asyik duduk di atas pasir.
Mendengar itu Lexi kembali mendudukkan diri di atas pasir. "Aku juga mau libur sepertimu," ucap Lexi dengan senyum nakalnya.
"Hey, mana benar itu, apa keluar darah dari kepunyaanmu itu sehingga meminta liburan Shalatnya," ucap Ega geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli.
"Kenapa kamu serius padahal aku hanya becanda lagipula aku sudah terlalu lama liburannya. Baiklah aku shalat dulu dan tunggu disini, jangan kemana-kemana," sahut Lexi meninggalkan Ega, namun baru selangkah dia kembali ke hadapan Ega.
"Sepertinya aku lupa bacaan Shalat, ini Shalat Magrib dan tiga rakaat, kan?" tanya laki-laki itu kemudian.
"Iya, ikuti iman saja kalau kamu lupa," jawab Ega.
"Baiklah akan aku lakukan. Sepertinya aku harus kembali ke TPA untuk belajar ngaji dan shalat bersama anak-anak kecil," guman Lexi berjalan menuju Masjid terdekat sambil bersenandung mengucapkan huruf hijaiyah dengan terbata-bata sesekali Lexi terdiam mencoba mengingatnya setelah ingat baru melanjutkan lagi.
__ADS_1
Ega mendengarkan Lexi mengeja huruf Hijaiyah sampai suara Lexi tak tertangkap oleh telinganya karena tubuh Lexi sudah menghilang. Dia tersenyum memandang lautan luas sehingga tidak menyadari bahaya sedang mengintainya.
Terima kasih.