Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Cerita Sebenarnya.


__ADS_3

"Setelah itu kita tidak pernah bertemu dengan Ranum. Kami mendengar khabar kalau Ranum menikah dengan Mandala."


Citra mengakhiri ceritanya.


"Kalian bohong, jangan mengarang cerita hanya demi pembelaan kalian," ucap Juna lantang.


"Kami tidak berbohong, Ibumu yang berbohong dan memutarbalikkan fakta karena kemarahannya. Ibu kamu orang yang sangat keras kepala dan pendemdam. Dia nekat akan melakukan apapun untuk mendapatkan segala keinginannya. Jika inginnya itu tidak bisa dia raih, maka dia tega akan menghancurkannya bagi mereka yang memiliki apa yang diinginkannya. Buktinya sekarang, Ranum menjadikan anaknya sebagai alat untuk membalaskan dendam kepada orang yang tak bersalah." Banu berusaha untuk meyakinkan Juna.


"Tidak, saya lebih mempercayai Ibuku. Karena perbuatan kalian yang menghianatinya membuat Ibu menjadi tersiksa. Saya ingin kalian berdua merasakan juga penderitaan ibu," sahut Juna lantang.


"Ega, laksanakan perintahku jika ingin Ibu Mertuamu hidup. Terserah kamu mau pilih Pelayan itu atau Bapak Mertuamu sendiri. Keputusan ada di tanganmu," lanjut Juna dengan nada dingin yang siap membekukan persendian.


Ega menghela nafas panjang. Tidak menyangka dia berada dalam posisi yang sangat sulit. Dia memandang Citra. Wanita itu terlihat sangat tenang. Dia menyunggingkan senyum tipis. Matanya berkedip menyerahkan segala keputusan kepada Menantunya. Wanita Paruh baya itu percaya padanya, bahwa dia bisa mengeluarkan mereka dari situasi tidak aman ini.


"Kenapa diam, apa kamu ikhlas Ibu Mertuamu yang harus dikorbankan," bentak Juna. Lelaki itu seakan telah kehilangan hatinya tersingkirkan oleh dendam dan kebencian yang salah.


Huft


Ega kembali menarik nafas panjang. Dia kemudian berjalan menuju Beni dengan perlahan. Dia sudah memberi kode pada Rian yang paling dekat dengan Juna. Sedangkan Evan bergerak merambat ke arah Citra yang sedang di sandera.


Sementara Dipta sudah siap-siap membantu Rian membengkuk Sahabatnya itu.


Ega mengangkat Belati dengan tangan kirinya siap untuk menghujam jantung Beni sedangkan tangan kanan menggenggam senjata yang siap melemparkan ke arah Pria yang menyandera Citra.


Prang


Awwwww


Buk


Senjata itu melayang tepat mengenai tangan Pria itu sedangkan pada tubuh Beni tertancap Belati.


Melihat itu secepat kilat Riang dan Dipta menyerang Juna lalu membekuknya. Sementara Evan berhasil membekuk anak buah Juna.


Citra secepatnya melepaskan diri tatkala senjata yang dilemparkan oleh Ega berhasil mengenai tangan Pria itu. Evan secepat kilat menyingkirkan Belati lalu membekuk Pria itu.


"Alhamdulillah." Terucap syukur dari semuanya kecuali Juna dan anak buahnya.


"Abi sebaiknya bawa Umi pulang. Biarkan kami yang akan menyelesaikannya," ucap Beni meminta kedua orang tuanya meninggalkan Perusahaan Hardian Group. Dia menyingkirkan Belati yang ditancapkan oleh Isterinya. Meskipun mengeluarkan darah tapi tak membuatnya merasakan kesakitan.


"Saya sudah melakukan perintahmu, Juna!" ucap Ega bergerak cepat menuju Juna.


Banu menyetujuinya. Dia meraih tubuh Citra lalu memapahnya. Sebelum meninggalkan Aula Banu sempat menyampaikan kebenarannya.


"Abi tidak berbohong Juna, Mandala adalah Ayah kandung kamu bukan Abi. Ranum sengaja membuat cerita bohong dan mendoktrim kamu agar memiliki dendam kepada kami. Jika Ranum sudah berkeinginan maka dia harus mendapatkannya. Termasuk mendapatkan Abi, dia tidak rela Abi menikahi Umi sehingga menjadikanmu sebagai alat untuk membalas sakit hatinya."


"Abi bohoooooong, bilang saja Abi tidak mengakui saya sebagai anak Abi, kan? Sehingga menuduh Ibu berbohong," sahut Juna marah.


Banu tak menanggapi. Dia bersama Citra melangkah pergi meninggalkan Aula itu.


"Lepaskan saya," ucap Juna memberontak.


Rian dan Dipta tak menghiraukan permintaan Juna. Mereka berdua mengikat Juna dan membiarkan Pria itu meracau semaunya.


"Saya ingin melihat seberapa kuatnya kamu, Juna?" ucap Beni menatap Juna dengan tajam.


Juna menyeringai merasa belum kalah.


"Saya penasaran, apa wajah ini asli." Dipta menghampiri Juna lalu menggores wajah itu dengan kukunya yang sedikit panjang karena belum di potong.


Juna meringis menahan perih dan rasa kebas pada wajahnya. Karena sebelum Dipta, Rian terlebih dahulu menghajarnya untuk melampiaskan rasa kesalnya.

__ADS_1


"Saya belum kalah," ucap Juna begitu menyadari Handphonenya bergetar.


Beni meraih Handphone itu lalu melihat siapa orang yang menghubungi Juna.


"Angkat saja jika tidak ingin menyesal," ucap Juna tersenyum miring.


("Bos, kita sudah menyekap Ivan dan Anita pada tempat Bos menyekap Pria itu.")


("Bakar mereka.")


("Baik.")


Beni memukul Juna dengan sangat keras membuat Pria itu tersungkur.


"Beraninya kamu menyekap mereka. Kamu itu Manusia atau apa?" Teriak Beni menggema.


"Hahahahaha."


Juna tertawa, tak ada rasa takut apalagi memiliki rasa kemanusiaan kepada sanderanya. Hatinya sudah tertutupi oleh nafsu jahatnya.


"Kita buat kesepakatan jika kalian ingin membebaskannya," ucap Juna membuat penawaran.


"Okay saya setuju tapi kamu tunjukkan Vidio mereka agar kita yakin kalau orang-orang yang kalian sekap adalah Ivan dan Anita." Evan kali ini bersuara. Dia sedari tadi hanya diam karena belum mempercayai ini semua.


Beni dan lainnya memandang dengan raut kebingungan. Mereka belum faham arah pikiran Evan.


Rupanya tanpa sepengetahuan orang lain. Salah Seseorang meminta bantuan kepadanya dan mengatakan bahwa temannya di sekap oleh Juna. Sekarang orang tersebut tengah menunggu informasi dimana mereka disekap.


"Akan saya kabulkan tapi kesepakatan kita adalah membebaskan saya," sahut Juna mengiyakan.


"Tidak, tunjukkan dulu buktinya. Mana kita tahu kalau kamu hanya mengelabui kami. Bisa jadi kamu hanya menipu dan sebenarnya tidak ada yang disekap," sahut Beni tidak mau kalah.


Mau tidak mau Juna harus menyetujuinya. Dia memerintahkan anak buahnya disana untuk menunda dulu eksekusi kepada mereka. Dia meminta agar anak buah di sana melakukan panggilan Vidio untuk memperlihatkan tawanan mereka agar Beni percaya.


Sementara Evan menerima panggilan dari seseorang. Dia tahu orang tersebut adalah Lexi. Ada seseorang meminta bantuannya sehingga dia langsung terbang dari Jawa menuju Lomboq. Kini Lexi masih berada di Bandara menunggu informasi dari Evan.


"Apa mungkin Anita yang menghubungi Lexi."


Evan bertanya-tanya mengenai kehadiran Lexi yang secara tiba-tiba.


Beni lagi-lagi dibuat terkejut oleh fakta yang ditampilkan Juna. Mareka tidak mempercayai apa yang dilihatnya disana. Mereka menatap Juna dengan wajah keheranan. Selama ini dia dan lainnya mengira sudah sangat mengenalnya. Namun dalam kenyataannya mereka sama sekali tak mengenalnya. Banyak sekali rahasia dia simpan termasuk dendamnya kepada keluarga Beni. Sebenarnya siapa Juna?.


Beni dan lainnya sangat syock begitu mengetahui siapa salah satu orang yang di sekap oleh Sahabat yang sangat di kenalnya ini.


Dia melihat senyum Juna yang  seperti mengejek.  Beni menghela nafas yang terasa semakin berat. Semua orang tidak menyangka dengan apa yang terjadi malam ini. Sangat penuh rahasia dan satu persatu rahasia itu baru terungkap. Beni tidak ingin terlalu lama berada pada situasi yang sulit, maka secepatnya bebas dari semua masalah ini.


"Kamu sungguh cerdas Juna, tidak menyangka menyekap mereka di Gedung terbengkelai yang ada di BIL. Tentu saja kita tidak akan pernah bisa menyelamatkan mereka karena jarak yang sangat jauh. Hanya dengan satu perintah saja anak buah kamu pasti akan melaksanakannya. Kita tidak punya kuasa jadi kita akan membebaskan kamu."


Beni berucap panjang lebar. Sengaja berbicara tak karuan untuk memberikan kesempatan kepada Lexi membebaskan mereka.


Secara diam-diam mereka melakukan komunikasi.


Evan menyembunyikan alatnya jadi segala pembicaran akan di dengar oleh orang yang menghubungi Evan. Dia memberikan isyarat kepada Beni untuk mencari tahu lokasi tempat mereka di sekap.


Atas petunjuk Tuhan, Beni melihat ada nama Gedung pada Whitboard yang tertempel pada tembok. Whiteboard itu terlihat sangat jelas.


"Gedung itu Aset Provinsi. Dulu tempat pelatihan para Tenaga kerja asing dan sekarang di gunakan lagi. Gedung itu dalam keadaan kosong," Ega menimpali.


(Saya mengerti, saya yang akan membebaskan mereka. Kalian tenang saja)


Terdengar suara Lexi di seberang sana. Hanya Evan yang mendengarkannya. Lexi masih berada disana dan dia yang paling memungkinkan untuk menyelamatkan mereka.

__ADS_1


"Kalian sangat cerdas," sahut Juna. Senyumnya kini sangat merekah karena terbebas dari ikatan yang menyiksanya.


"Sekaligus bodoh, karena percaya begitu saja," lanjutnya dengan senyum jahat.


Dia meraih Handphone untuk menghubungi seseorang.


(Bakar)


Satu kata itu sontak membuat orang terkejut. Bersamaan itu pula terdengar pemberitahuan dari Lexi bahwa sekarang mereka sedang membebaskan Anita dan Ivan.


"Aman," ucap Evan yang dipahami oleh semuanya kecuali Juna.


"Kamu sudah kalah, saatnya sekarang menyerahkan diri di Kantor Polisi," ucap Dipta bersemangat.


"Benarkah? tidak semudah itu mengalahkan seorang Juna," sahut Juna masih tidak mau kalah. Dia secepat kilat meraih Pisau yang tergeletak di Lantai lalu hendak menusuk seseorang.


"Kak Beni awaaaaas."


Tanpa terduga Juna mengarahkan Pisau ke arah tubuh Beni. Namun Ega buru-buru menghalau sehingga Pisau itu mengenai tubuh Ega.


"Awwwww."


"Astaghfirullah, Egaaa."


Beni langsung menangkap tubuh yang seketika limbung. Ega tak sadarkan diri membuat Beni meraung.


Rian, Dipta dan Evan langsung menghajar Juna secara membabi buta membuat Juna tak berkutik.


Beni bergegas membawa Ega dari ruang Gedung kemudian menuju Mobil. Dia dengan kecepatan tinggi melajukan Mobil menuju rumah sakit.


Sedangkan Dipta langsung menghubungi Polisi. Sementara menunggu kedatangan polisi, Juna dan anak buahnya di ikat agar tidak bisa melarikan diri.


***


"Bagaimana keadaan Ega?" tanya Citra.


"Belum sadarkan diri Umi. Dia mengeluarkan terlalu banyak darah. Gara-gara Beni, Ega seperti ini. Seharusnya Beni yang tertusuk. Lagi-lagi Gadis manis ini menyelamatkan seorang Beni."


Beni menjawab dengan berusaha menahan air matanya yang ingin tumpah.


"Kamu sabar ya Nak. Insyaa Allah Isteri kamu akan baik-baik saja," ucap Citra membesarkan hati anak semata wayangnya. Dia menepuk bahu Beni untuk memberikannya kekuatan.


Sementara di balik Pintu terlihat seorang Pria menatap ke arah Ega yang sedang terbaring lemah.


"Maafkan Abang, Ga. Semoga kamu cepat sadar dan bahagia bersama Beni," ucapnya lirih. Cukup lama dia berdiri pada akhirnya dia meninggalkan bangsal tempat Ega di rawat.


Dipta, Rian dan Evan menyapanya. Dia membesarkan hati Pria itu.


"Maafkan saya," ucapnya lirih.


"Tidak apa-apa, itu bukan kesalahan kamu, Jun?" ucap Evan mewakilkan.


"Saya malu berada di tengah-tengah kalian. Saya memutuskan untuk meninggalkan Kota ini. Mungkin di Kota lain saya bisa melupakan semua ini," ucapnya pelan.


"Kamu ingin melupakan kami?" tanya Rian.


"Tidak, mana mungkin melupakan kalian. Kita tujuh Sahabat dan akan terus begitu. Hanya saja saya ingin melepaskan kesakitan ini. Dan memulai hidup baru." Pria itu menjelaskan alasannya.


"Salam sama Beni dan Ega. Sampaikan permintaan maaf saya," lanjutnya.


Setelah tidak ada pembicaraan, Pria itu meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


***


__ADS_2