
Beni mengunjungi kediaman orang tuanya. Dia begitu kangen dengan Anisa, Gadis Kecil berusia sekitar empat tahunan. Gadis Kecil itu Beni titipkan sama Orang Tua karena kesibukannya bekerja dan juga tidak ada yang menjaganya. Pengasuh yang biasa mengurus Anisa telah mengundurkan diri jadi Beni belum mendapatkan pengganti yang cocok untuk Anisa.
Sesampai di rumah orang tuanya, Beni disambut oleh seorang Gadis Kecil yang sangat dirindukannya.
"Papaaaa," teriak Gadis Kecil bernama Anisa menyambut kedatangan Beni. Dia berlari lalu mendaratkan diri dalam pelukan Beni.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Sayangnya Papa yang cantik ini," ucap Beni memeluk Anisa kemudian mengendongnya sambil berjalan ke dalam rumah.
"Jadi kita pergi jalan-jalan sama Mama?" tanya Anisa menatap bola mata Beni.
"Jadi dong, tadi Mama sudah WA katanya sudah di jalan menuju rumah Pasa."
"Horeeee, Anisa jalan-jalan sama Papa dan Mama," teriak Anisa kegirangan. Melihat kebahagiaan yang terpancar dalam wajah Anisa membuat Beni tersenyum. Dia ikut merasakan bahagia, kebahagiaan yang sulit diucapkan oleh beribu kata. Dia memang selalu menyediakan waktu untuk menyenangkan hati Putri satu-satunya. Bukan hanya dia sendiri, ada Mamsa yang selalu meluangkan waktu menemani Putrinya, Wanita yang merupakan Ibu dari Anisa.
"Kalau gitu Anisa siap-siap gih! terus izin dulu sama Ninik Nine sama Ninik Mame," ucap Beni mengingatkan agar dia tidak lupa meminta izin. ( Ninik Nine yaitu Nenek dan Ninik Mame yaitu Kakek ).
"Nggih Pa, tapi turunin dong," pinta Anisa.
Beni menurunkan Anisa dari gendongannya. Anisa segera berlari ke arah kamarnya dan meminta bantuan pengasuh untuk mengurusnya sedangkan Beni mencari orang tuanya. Dilihat Wanita yang sangat dicintainya sedang sibuk dengan tanaman bunga di Taman miliknya.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh," salam Beni sambil memeluk Ibunya dari arah belakang.
"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakkatuh," balas Wanita separuh Baya yang masih terlihat awet muda dan cantik.
"Anak Umi yang sudah dewasa ini, sudah punya anak masih saja manja seperti Bocil saja," komentar Umi Citra. Ibu Kandung Beni. Umi Citra tahu kebiasaan Beni yang suka memeluknya dari arah belakang.
"Baru saja umur Beni 16 tahun tapi 10 tahun ya lalu," jawab Beni cecengesan.
"Tuh kan tidak sadar kalau umurnya sudah tua. Jadi kapan Anisa dikasik Mama dan Adik? Umurmu itu semakin hari semakin bertambah bukannya semakin muda. Apa kamu masih mencari Gadis yang menolongmu? sampai kapan? kalau tidak ketemu bagaimana?" kata Citra sambil sibuk menyiram tanamannya.
Beni sudah bertemu dengan Gadis yang menolong Beni dan yang mendonorkan darahnya," sahut Beni datar. Terlihat sekali dia tidak bersemangat menceritakan perihal itu. Awalnya dia mengira akan bahagia, tapi mengapa dia tidak terima kalau Gadis itu adalah Nina. Seharusnya dia menerima siapapun Gadis itu. Kenapa dia sekarang kecewa.
Citra menghentikan aktivitasnya, dia menatap Putra semata wayangnya namun entah kenapa Citra merasa Putranya tidak senang bertemu dengan Gadis itu. Citra hanya diam saja menunggu Beni melanjutkan ceritanya.
"Namanya Nina, dia sahabat Beni dan sudah lama saling kenal. Kita sering jalan bareng-bareng hampir setiap hari bertemu dengan Nina. Beni taunya tadi malem kalau yang menolong Beni itu adalah Nina. Beni tidak menyangka sama sekali kalau Nina orangnya padahal kita sudah sama saling kenal dan hang out bareng." Beni menceritakan perihal Nina dan pengakuannya bahwa dialah Gadis yang menolongnya.
"Apa Beni yakin Gadis bernama Nina itu orangnya?" tanya Umi Citra menatap wajah anak semata wayangnya dengan penuh perhatian.
"Awalnya Beni ragu tapi setelah Nina memberikan bukti Jam Tangan milik Beni yang di Pegang Nina membuat Beni percaya kalau yang menolong Beni adalah Nina," jawab Beni terdengar tak bersemangat.
"Ajak Nina kesini, Umi ingin berkenalan dengannya. Abi kamu juga pasti masih mengenalinya." Citra memberikan saran. Dengan mengajak Nina berkenalan maka kebenaran itu akan segera terungkap.
"Nggih Umi, nanti akan Beni ajak kerumah kalau Umi sama Abi ada waktu luang," sahut Beni.
"Jika ternyata Nina memang benar Gadis itu? apa kamu tetap mau menerimanya?" tanya Umi Citra serius. Dia memperhatikan wajah Putranya yang seketika memperlihatkan raut bingung. Beni tak menjawab dan memilih diam karena memang dia tidak tahu apa yang hendak di jawab. Beni tidak memiliki jawaban yang pasti tentang kelanjutan kisahnya. Beni mengakui, rasa itu masih ada dan mengalir bersama aliran darahnya tapi rasanya bukan untuk Nina. Tidak ada getaran, tidak ada kenyamanan disana. Apa mungkin karena Nina bukan orangnya? Lalu siapa? apa yang terjadi sebenar? Tanya itu selalu saja muncul dibenaknya, seakan memintanya untuk mencari tahu kebenaran itu.
"Papaaa, Anisa sudah siap nih," ucap Anisa menghampiri Beni dan Citra. Kehadiran Anisa menyelamatkan Beni dari pertanyaan yang tak kunjung ada jawabannya.
"Cucu Ninik sudah terlihat cantik dan rapi saja, mau kemana sayang?" tanya Umi Citra kepada Anisa.
"Anisa mau jalan-jalan sama Papa dan Mama," jawab Anisa dengan senyum centilnya.
"Oooh gitu, sini cium dulu."
Anisa mencium punggung tangan Citra dan diikuti oleh Beni.
"Salam sama Mamsa ya," ucap Umi Citra kepada Anisa.
__ADS_1
"Nggih Ninik." Jawab Anisa lalu meninggalkan Ninik Citra yang sedang melanjutkan kegiatannya.
"Sudah ada Mamsa, Kok Beni sibuk nyari Gadis remaja yang menolongnya padahal Umi menyukai Mamsa. Iya sudahlah Umi akan memberikan kesempatan kepada Gadis itu," batin Citra namun ada keraguan dalam hatinya tentang sosok Nina. Mengingat raut wajah Beni yang tidak begitu bahagia dan terlihat tidak antusias menceritakan sosok Nina. Sebagai orang tua, Citra tahu Beni terlihat tidak nyaman.
Beni melajukan Mobil sportnya. Ketika dia Jalan-jalan bersama Putrinya maka dia menggunakan Mobil. Itu semua demi kenyamanan Putrinya. Mobil Sport itu sengaja dia titipkan di Garasi rumah orang tuanya sehingga Sahabat-sahabatnya tidak ada yang tahu kalau Beni memiliki Mobil Sport lebih mewah dan mahal dari Mobil yang dimiliki Juna dan Rian.
Setelah sampai rumah yang dia huni, Mobil Sportnya memasuki area parkir. Rumah milik Beni bermodel minimalis berlantai dua dengan halaman belakang cukup luas. Beni membeli rumah itu dengan hasil keringatnya sendiri tanpa bantuan dari orang tuanya. Beni membeli perumahan di Grand Muslim kemudian merenovasi sesuai dengan keinginannya agar nyaman ditempati.
Beni melihat Mamsa sudah duduk pada salah satu kursi berbahan Ketak yang ada di teras rumahnya sembari memainkan gawai
"Mamaaaa," teriak Anisa begitu melihat Mamsa.
Mamsa melihat Anisa berlari ke arahnya kemudian menyambut dengan rentangan tangan untuk memeluknya.
"Mama sudah lama?" tanya Anisa sambil bergelayut manja dalam gendongan Mamsa.
"Baru saja Mama sampai. Mama kangen lo makanya meluangkan waktu untuk Anisa," jawab Mansa lembut.
"Anisa juga kangen sama Mama, Mama sibuk ya?"
Mamsa menganggukkan Kepalanya.
"Wadowwwh anak mama ini tambah berat saja, Anisa makan apa saja kok berat banget?" tanya Wanita berhijab yang dipanggil Mamsa, singkatan dari Mama Anisa.
"Berat ya Ma? Kalau begitu Anisa diet saja deh biar bisa di gendong sama Mama terus," Anisa memberitahu keinginannya agar terus dapat di gendong oleh Mamanya itu.
"Jangan dong, Mama tidak mau Anisa yang cantik ini kurus kering seperti lidi. Harus sehat dong? Tidak apa-apa, Mama akan gendong Anisa walaupun seberat apapun," ucap Mamsa menghilangkan niat negatif yang ada dalam pikiran bocah itu. Meskipun hanya berupa celotehan saja, siapa tahu saja Putrinya itu melaksanakan niatnya. Jadi harus diberi pengetahuan dan pengertian.
"Janji Ma."
"Insha Allah."
"Anisa memang pinter, anak baik dan Sholeha."
Mamsa melirik Beni setelah mendengarkan pengakuan Anisa.
Sementara itu Beni hanya tersenyum saja menyaksikan keasyikan dua Wanita yang begitu berarti dalam hidupnya. Dia merasa sedang bersama Gadis itu. Bersama Mamsa getaran itu ada dan nampak nyata.
"Kita tidak jadi pergi nih?" ucap Beni mengingatkan mereka berdua. Kalau mereka sudah bertemu Beni merasa dirinya disisihkan.
"Jadi dong Pa, apa Papa kesel sama Mama ya?"
"Kesel kenapa?"
"Mamsa cuekin Pasa karena lebih Sayang sama Anisa," sahut Anisa nyengir memamerkan Gigi susunya.
Beni menatap Mamsa, sedangkan Wanita itu terlihat menunduk karena merasa malu diperhatikan begitu intens olehnya.
"Jangan begitu mandangnya, Mama jadi malu tuh." Celotehan Anisa sukses memutuskan keterikatan di antara mereka. Terlihat Mamsa tersipu malu sedangkan Beni salah tingkah dengan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Kita mengobrol saja dah disini, tidak jadi pergi," ucap Beni setelah berhasil menenangkan dirinya.
"Papa ngambek, ayok Ma," ajak Anisa sambil menggandeng tangan Wanita yang memiliki paras ayu dengan sifat ke ibuan itu.
Beni membuka pintu Mobilnya dan mempersilahkan Anisa masuk pada jok belakang kemudian membuka pintu mobil depan untuk Mamsa.
"Makasih Pa."
__ADS_1
Beni hanya mengangguk. Dia kemudian mengitari mobilnya kearah kemudi. Setelah masuk kemudian menghidupkan mesin mobil dan melajukan dengan kecepatan sedang.
Beni mengajak Anisa dan Mamsa ke Fun City tempat bermain anak di Pusat Berbelanjaan terbesar yang ada di Mentaram.
Begitu sampai, Anisa begitu senang. Anisa mengajak Papa dan Mamanya bermain Mobil-mobilan.
Mereka bertiga saling kejar mengejar. "Ayo Pa kejar Mamsa, jangan sampai cinta Mamsa lepas," teriak Anisa menyemangati pengejaran Beni.
Teriakan Anisa membuat Mamsa tersenyum malu sedangkan Beni hanya terdiam memandang Wanita itu dengan gesit melajukan mobilnya.
Beni mengendarai mobil bom bomkarnya begitu terkejar dia sengaja menabrak mobil yang dikendarai Mamsa. " Ketangkap juga Mama," guman Beni pelan.
Terlihat Mamsa hanya tertawa karena telah kalah dari permainan bom-bomkar.
Sementara itu Beni begitu terpukau menyaksikan paras manis Wanita berhijab ini.
"Izinkan aku menangkap hatimu agar aku bisa membawanya di dalam hati ini Menyatukan rasa kamu dan rasa aku menjadi satu sehingga bisa bersama dalam kesatuan yang di Ridhoi Allah Azza Wa Jala dalam ikatan yang halal. Apakah kamu Gadis itu sebenarnya? Mana mungkin aku jatuh cinta sama Gadis lain selain Gadis yang sama. Jika tidak benar, hati ini akan aku perjuangkan untuk kamu. Mungkin saja Gadis itu bukan takdirku," batin Beni.
Setelah puas bermain mobil-mobilan mereka berdua lanjut bermain basket. Satu lawan dua, tentu saja permainan basket dimenangkan oleh Beni sedangkan Mamsa dan Anisa dengan susah payah memasukkan Bola basket yang hasilnya loncat kesana kemari.
Begitu puas bermain mereka bertiga kelelahan dan perut sudah mulai keroncongan. Beni mengajak Mamsa dan Anisa untuk mencari makanan.
Mereka bertiga meninggalkan Fun City menuju Cafe yang ada di Mall.
"Anisa mau makan apa?" tanya Beni kepada Putrinya. Saat ini mereka berjalan untuk menuju Cafe dan Restaurant.
"Anisa mau makan Ayam Goreng Upin Ipin dan ayam goreng Mail Pa," jawab Anisa dengan mata berbinar-binar membayangkan lezatnya Ayam Goreng tersebut.
Tentu saja membuat Beni bingung dengan permintaan anaknya. Beni menatap Mamsa dengan sorot mata mencari tahu.
Mamsa seolah mengerti, Wanita itu hanya tertawa kecil menyaksikan kebingungan dari Beni.
"Papa rupanya tidak pernah nonton Upin Ipin jadinya enggak tahu tuh. Jelasin sama Papa, Nisa," ucap Mamsa melemparkan kebingungan Beni ke Putri kecilnya.
"Itu lo Pa, ayam goreng yang di makan oleh Upin dan Ipin, seperti ini lo cara makannya, aum." Cerita Anisa sambil
memperagakan cara makan ayam goreng itu dengan tangannya.
Beni tambah bingung soalnya dia tidak pernah menonton Upin dan Ipin jadinya tidak tahu apa itu Ayam Goreng Upin Ipin dan Ayam Goreng Mail.
"Itu Lo! ayam goreng Upin Ipin itu maksudnya paha ayam karena Upin Ipin sangat suka ayam goreng dan di dalam cerita Upin Ipin ayam goreng yang sering dimakan itu bagian pahanya sedangkan Mail penjual ayam goreng bagian sayap. Jadi Anisa menamai paha ayam dengan nama ayam goreng Upin Ipin sedangkan sayap ayam dengan nama ayam goreng Mail," jawab Mamsa menjelaskan panjang lebar.
"Hahahahah." Beni tertawa mendengarkan penjelasan Mamsa.
"Putri Papa ini pinter, tahu saja menamai makanan. Kalau gitu kita makan Ayam Goreng Upin Ipin dan Ayam Goreng Mail. Kalau kita pesan dengan nama pesanan itu pasti Pelayan bingung," komentar Beni setelah itu melanjutkan tawanya dan membayangkan reaksi Pelayan tersebut.
Begitu menemukan Cafe, Beni, Anisa dan Mamsa duduk pada sebuah Meja yang kosong.
"Ada ayam goreng Upin Ipin dan Ayam Goreng Mail, enggak? Saya pesan itu," ucap Beni kepada Pelayan, tentu saja membuat Pelayan itu bingung karena nama itu tidak ada dalam daftar menu yang dimiliki Cafe.
Beni tertawa lebar, Anisa cengengesan sedangkan Mamsa hanya tersenyum menyaksikan raut wajah bingung dari Pelayan itu.
"Maksudnya Paha ayam dan Sayap Ayam mbak," ucap Mamsa menerangkan.
"Wualaaah benar juga, baru ngeh saya. Itu kan ayam goreng di serial Upin Ipin. Setiap hari Ayam Goreng itu saja yang keluar," komentar Pelayan itu sembari tersenyum ramah.
Selesai mencatat pesanan, Pelayan itu meninggalkan Meja Beni untuk melanjutkan pesanan mereka ke Koki Cafe tersebut.
__ADS_1
Selagi mereka asyik makan. Sepasang mata mengawasi mereka dari kejauhan. " Itu kan Beni, siapa anak kecil itu dan siapa Wanita yang bersamanya? aku tidak bisa melihatnya secara jelas apalagi Wanita itu membelakangiku. Aku ingin samperin tapi lagi sama Om Ricky, entar incaran aku kabur kalau ngurus mereka. Nanti sajalah tanya langsung sama Beni," batin Gadis itu yang ternyata Nina. Ternyata Nina juga sedang berada disana. Jalan- jalan bersama Om barunya. Rupanya Nina sedang Shopping terbukti dengan beberapa Paper bag di tangannya.
Bersambung.