Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Beni Berbeda 2


__ADS_3

Magrib pun tiba, Ega masuk ke kamar mandi hendak mengambil air wudhu untuk menunaikan Shalat. Beberapa menit kemudian keluar dari kamar mandi dengan tetap menggunakan jilbabnya. Dia melihat Suaminya masih asyik bermain Handphone. Tidak seperti biasanya bersikap sesantai ini.


“Kak Beni kok belum siap-siap?” tegur Ega menghampiri Beni yang sedang asyik dengan Handphonenya.


“Siap-siap untuk apa?” tanya Beni terlihat bingung.


“Kok malah bertanya, bukankah setiap Magrib Kak Beni akan shalat ke Masjid terus akan berdiam diri di Masjid sampai Isya. Setelah menunaikan kewajiban Isya baru pulang untuk bersama-sama makan malam.” Ega menjelaskan. Suaminya itu tidak pernah mengabaikan Shalat berjamaah di Masjid.


“Sudah Adzan ya? Maaf karena Handphone aku melalaikan ini,” sahut Beni meninggalkan kegiatannya. Dia meletakkan Handphone ke dalam Laci. Dengan cepat beranjak menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia kembali dalam keadaan tersapu air wudhu.


“Saya Shalat di rumah saja,” ucap Beni tersenyum.


Ega memandang Beni dengan pandangan menyelidik. Tidak seperti biasanya Beni akan bersikap seperti ini. Ini semakin memperjelas bahwa Laki-laki yang bersamanya bukanlah Beni. Sejurus kemudian dia tersadar, Ega menganggukkan Kepala tak ingin berdebat.


"Kak Beni Shalat dulu, aku mau ke dapur untuk menyiapkan makan malam kita," ucap Ega berpamitan. Dia hendak melaksanakan Shalat Magrib di tempat lain agar kebohongannya tidak diketahui oleh Beni.


Beni mengangguk, kemudian bersiap-siap melaksanakan Shalat saat Ega meninggalkan kamar mereka.


Beberapa menit kemudian, Ega selesai melaksanakan Shalat Magribnya. Dia kembali ke kamarnya, disana dia menemukan Beni sudah selesai melaksanakan kewajibannya. Entah benar dia melakukannya, Ega tak memikirkannya itu. Dia melihat Pria itu tengah fokus dengan Handphone.


Ega tidak peduli, dia memilih mengambil Alqur'an, mendudukkan diri pada Sofa kemudian mulai membacanya.


Mendengar suara Ega mengaji, Beni mengalihkan perhatiannya. Dia menatap Ega dengan lekat diliputi pertanyaan.


Ega menghentikan sejenak bacaan, setelah menyadari ada sepasang mata memperhatikannya.


"Katanya berhalangan?" tanya Beni kemudian.


"Berhalangan bukan berarti tidak boleh mengaji," jawab Ega datar. Dia menyunggingkan senyum. Beni terlihat mengerti dengan cara menganggukkan kepalanya. Pria itu tidak bertanya lebih lanjut, dia lebih tertarik memperhatikan Gawainya.


"Kamu memang bukan Suamiku. Kak Beni tidak mungkin secuek ini, dia pasti mengajak berdiskusi karena hal ini berhubungan dengan ibadah." Ega membatin. Tak ambil pusing dia memilih untuk melanjutkan membaca Alqur'an.


Saat dia asyik, terdengar deringan. Suara itu mengalihkan kembali perhatian Ega sejenak. Dia melihat Beni melangkah ke arah Balkon. Lagi-lagi tingkahnya berbeda, Beni tidak pernah meninggalkannya selagi ada dia di kamar. Dia pasti akan menerima panggilan di dekat Isterinya tanpa menutupi apapun.


Ega menyudahi bacaan Alqur’an, dia mempertajam pendengaran dengan mendekat ke arah Balkon.


[Ivan, saya tidak mau tahu, bereskan Beni Hardian Adha. Pastikan tidak ada jejak yang tertinggal disana. Jangan sampai ada yang curiga bahwa Beni asli sudah lenyap]


“Astaghfirullah.” Ega tersentak kaget mendengarkan ucapan Beni yang sedikit berbisik. Dia tidak menyangka Suaminya kini dalam bahaya. Siapa sebenarnya yang berniat ingin membunuh Beni. Sebenarnya siapa orang dibalik Topeng ini.


Beni mengakhiri panggilan, dia beranjak masuk. Menyadari itu, Ega kembali membaca Alquran seolah tidak mengetahui apa yang terjadi. Namun di dalam hatinya, ada rasa sesak yang tak mampu di bendungnya. Hanya ayat Alquran yang mampu meleburkan sesak yang kini sedang menghimpitnya.

__ADS_1


‘Kak Beni dimana? Apa yang terjadi dengan Kak Beni?” dalam hati terucap tanya dengan lelehan air mata yang tidak mampu di bendungnya. Bersama ayat yang di baca dia mengucapkan doa agar Tuhan segera memberikan petunjuk. Dia berharap bisa menyelamatkan Suaminya. Hanya doa yang menjadi senjata untuk melawan kejahatan yang terlihat nyata di depan matanya.


“Kamu kenapa, Dek? Kok nangis?” tanya Beni begitu melihat wajah manis Ega dibanjiri oleh air mata.


Ega menggeleng, dia menyeka air mata setelahnya menampilkan senyum indahnya. Beni beranjak hendak meraih tubuh itu. Namun dengan halus Ega menolaknya. Mana mungkin dia akan membiarkan raganya di sentuh oleh orang lain. Meskipun yang terlihat di hadapannya adalah Beni tapi bukan Beni yang pernah mengucapkan ijab Kabul untuk menghalalkan hubungannya.


Beni terlihat kecewa, dia lagi-lagi menahan gejolak yang kian berkecamuk di dadanya.


“Kak Beni lupa, Isya belum ditunaikan,” ucap Ega menenangkan Beni yang nampak kecewa.


"Kamu benar, gara-gara saya disekap oleh Ivan membuat kepala ini sedikit linglung," ucap Beni berusaha untuk menutupi ketidak tahuannya tentang dirinya sendiri.


Ega tersenyum. Senyum itu mendapatkan balasan dari Beni yang kemudian mendudukkan diri di samping Ega.


"Pantas saja Ivan, Mandala dan Lexi jatuh hati kepada kamu, ternyata Isteriku ini sangatlah manis," ucap Beni. Dia hendak meraih wajah manis milik Ega, namun Wanita itu sebisa mungkin menghindar.


"Mandala?" Lagi-lagi Ega terkejut, namun sebisa mungkin dia menyembunyikannya. Beni tidak akan pernah memanggil Juna dengan panggilan Mandala meskipun itu memang nama lahirnya.


"Kak Beni lupa lagi. Sebelum menunaikan Shalat Isya, Kak Beni tidak ingin menyentuhku. Sebisa mungkin akan menahannya," ucap Ega kembali membuat alasan agar Pria di hadapannya tidak berhasil menyentuh raganya. Tentu perkataan itu membuat Beni kecewa. Lagi-lagi dia gagal menyentuh Wanita yang sangat menggodanya.


"Jadi begitu?" ucap Beni singkat. Dia berusaha memahami setiap kata yang diucapkan oleh Ega. Dia merasa kehidupannya sangatlah membosankan. Tidak sebebas yang dia kira, ternyata dia harus menjalani aturan-aturan yang telah mereka sepakati. Ternyata hidup Beni seteratur dan sekaku yang kini dirasakannya.


Pada akhirnya mereka terjebak dalam keheningan. Setelahnya, tidak ada lagi pembicaraan. Ega terlalu sibuk memikirkan langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya. Tidak mungkin dia akan menghindar, hanya akan membuat Beni curiga. Tidak mungkin juga menuruti segala keinginan dari Pria itu. Itu sama artinya dia berbuat maksiat. Hidup bersama Pria asing yang berkedok Beni Hardian juga telah melanggar aturan agama.


"Kak Beni, kenapa kita tidak melaporkan Ivan dan Lexi ke Penjara? bukankah Kak Beni memegang bukti?" ucap Ega serius. Pertanyaan itu membuat Beni terkejut. Dengan cepat dia menggelengkan kepala.


"Tidak perlu, Ivan dan Lexi telah berjanji tidak akan menganggu kita lagi. Lagi pula Saya sudah disini, bersama kamu," ucap Beni beralasan.


'Benar, kah? ada buktikah kalau  Mas Ivan dan Lexi membuat pernyataan itu? bisa jadi dia melanggarnya suatu saat nanti."


Beni sekali lagi terkejut, tidak menyangka dia menghadapi Wanita yang sangat awas.


"Tidak Dek, saya percaya sama mereka. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan, yang terpenting sekarang kebahagiaan kita," sahut Beni meyakinkan Isterinya.


Ega mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya lalu melangkah ke arah Lemari untuk menaruh Alquran. Dia termenung, mengarahkan pandangannya ke dalam Lemari.


"Pasti ada yang diinginkannya dari Kak Beni. Aku harus menyembunyikan segala apa yang dimiliki Suamiku sebelum beralih ke tangannya." Ega berpikir, orang ini pasti ada tujuannya. Tidak mungkin dia hanya datang tanpa membawa tujuannya.


"Kak Beni Shalat dulu, baru kita makan malam," ucap Ega setelahnya. Dia beranjak meninggalkan kamar untuk melaksanakan Shalat Isya di tempat lain.


Setelah mereka selesai melaksanakan kewajiban. Ega dan Beni menikmati makan malam tanpa pembicaraan. Beni terlihat sangat menikmati hidangan yang ada di depannya. Biasanya dia iringi makan malam dengan bercerita tapi sekarang dia seakan tak memiliki bahan cerita. Hanya dentingan Sendok dan Piring yang menggema.

__ADS_1


Selang beberapa menit, mereka menyelesaikan suapan terakhir. Ega melafazkan syukur. Dengan cepat dia membereskan Meja makan. Sedangkan Beni memilih langsung menuju kamar tidur.


Ega dengan cepat merapikan meja makan. Menaruh alat makan yang kotor pada Westafel dan berniat untuk membersihkan nanti. Dia ingin segera menyusul Beni untuk mengetahui apa yang hendak dilakukan Pria itu.


Sesampainya di Kamar, dia melihat  Beni membongkar semua Laci. Termasuk Lemari yang ada disana tidak luput dari perhatiannya.


"Apa yang mau di cari?" guman Ega penasaran.


Untung saja dia tidak pernah menyimpan dokumen penting di kamarnya. Beni menyimpan dokumen itu pada ruang baca sekaligus di sulap menjadi ruang kerja. Ega sudah mengantisipasi ini akan terjadi. Dia segera menyelamatkan Dokumen milik Beni yang berhubungan dengan perusahaan.


Kini mata Beni beralih pada Laptop yang tergeletak di Meja. Dia meraihnya kemudian membuka Laptop itu. Terlihat dia mulai serius mencari sesuatu yang tersimpan pada Laptop itu.


"Kenapa hanya Game?" tanyanya bingung.


Ega tersenyum, dia kemudian masuk dengan menenteng sebotol air mineral.


"Kak Beni sedang apa?" tanya Ega sambil tangannya menaruh botol itu pada Nakas.


"File Desain Mobil Sport yang saya buat kok tidak ada Dek?"


"Desain Mobil sport?" tanya Ega terkaget. Dia memang tidak tahu menahu tentang itu. Namun kecurigaan semakin nyata, ada yang diincar oleh orang ini. Apa mungkin dia mengincar Desain Mobil Sport yang dimaksudkannya.


Ega tahu, selain menjadi Manager marketing. Beni juga sangat suka menggambar, terutama Desain Mobil. Mungkin karena perusahaan tempat dia bekerja bergerak pada bidang otomotif membuat dia menekuninya juga.


"Gambarnya bagus, kak?" ucap Ega kala itu.


"Iya, Kak Beni pingin punya Mobil ramah lingkungan yang tidak terlalu memakan bensin tapi kecepatan lajunya mengalahkan para pembalab," sahut Beni sambil tersenyum. Di pelupuk matanya tersimpan harapannya itu, tentu harapannya itu akan segera di wujudkannya.


"Memangnya Kak Beni sedang ada projeck mendesain Mobil Sport?" tanya Ega menimpali pertanyaan karena Beni tak kunjung mengatakan apapun.


Beni mengernyitkan dahi sambil memandang Ega. Lantas tersenyum untuk mengurangi kegugupan karena mungkin saja tingkahnya membuat Wanita di hadapannya akan bertanya lebih lanjut.


"Lupakan," ucap Beni singkat. Dia mematikan Laptop lalu menaruh kembali benda itu pada tempatnya.


"Kita tidur sekarang, saya sudah mengantuk," ucap Beni merebahkan tubuhnya pada kasur. Dia melambaikan tangannya meminta agar Ega merebahkan tubuh di sisinya.


Ega diam mematung tak bergeming. Ada ketakutan jika Pria di hadapannya berbuat macam-macam kepadanya. Jika dia Suaminya, tentu dengan cepat akan memenuhi ajakannya itu.


"Kenapa diam?"


"Ada yang kelupaan," sahut Ega. Dia segera beranjak tapi terdengar suara dari Beni yang menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Kamu aneh Dek! kamu sepertinya mau menghindar dari Suamimu sendiri. Saya tidak apa-apain kamu Kok, hanya ingin memeluk," ucap Beni kesal. Dia menarik selimut lalu memejamkan mata untuk mengurangi hasratnya.


Bersambung.


__ADS_2