
Ega terdiam, tidak mudah menasehati seseorang yang memiliki kepala batu. Walaupun mulut sampai berbusa-pun Nina tidak akan mengindahkannya. Ega menarik nafas panjang dan menghembusnya pelan. Setidaknya dia sudah mengingatkan Nina kalau Nina tidak mendengarkannya itu haknya dia.
"Sepadaaaa." Terdengar teriakan seseorang yang membuyarkan lamunan Ega dan mengalihkan perhatian Nina.
“Siapa sih?" tanya Nina penasaran.
“Suara Dipta kayaknya, Nin," sahut Ega yakin.
“ Tuh anak bikin rusuh aja," komentar Nina sambil beranjak menghampiri Pintu. Dia membuka pintu dan mendapati wajah Bakpao Dipta dibalik Pintu.
“Stop disitu, jangan masuk. Ini bukannya beri salam malah gaya-gayaan pake bahasa orang. Kamu tuh muslim atau bukan?" Nina mengomeli Dipta yang menampakkan wajah cerianya.
“ Assalamu'alaikum Nina cantik," salam Dipta dengan lembut.
“ Waalaikumussalam. Gitu dunkz, kan enak dengernya," balas Nina datar.
“Sejak kapan penghuni rumah ini berubah menjadi gadis jadian-jadian?" tanya Dipta meledek Nina yang berdiri sembari menyedekapkan tangannya. Dipta mulai melancarkan aksi perangnya. Dia dan Nina tidak pernah damai. Setiap bertemu pasti selalu ribut dan saling mengolok. Kebersamaan yang mereka miliki jauh dari kata akur. Ada saja yang membuat mereka bertengkar.
“Apaan sih? kalau aku Gadis jadi-jadian, nah kamu lebih pantas jadi cowok Kelelawar," jawab Nina tidak mau kalah.
Dipta tidak menanggapi perkataan Nina, dia terlalu malas untuk melanjutkan perdebatan mereka. Dia malah meminta Gadis cantik itu untuk memanggil Pemilik Rumah yang tak kunjung datang menghampiri.“Ega ada, panggilin, dong!"
“Ogah, panggil sendiri," sahut Nina cuek.
“Masak aku harus teriak, entar bikin bangun orang sekampung," ujar Dipta kesal melihat Nina tak menghiraukannya.
“Lagian kamu malem-malem nongol di rumah orang, kayak Kelelawar tahu."
“Astagfirullah, kalian berdua setiap bertemu selalu saja ribut, damai kenapa?" Ega menengahi perdebatan mereka berdua. Dia menghampiri saat telinganya menangkap Dipta menanyakan dirinya. Ega memperhatikan keduanya yang memasang wajah tak cerah. Gadis itu geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua sahabatnya yang kekanak-kanakan.
"Kebiasaan nih! kalian berdua kalau bertemu selalu ribut, kalau salah satunya tidak ada berasa ada yang kurang katanya." Ega melanjutkan perkataannya yang tak ditanggapi oleh Dipta dan Nina.
Huft
Ega menghela nafas, setelah lega dia memperhatikan Dipta lalu bertanya“ Ada apa Dipta?"
"Sebaiknya kita ke Berugak jangan berdiri seperti tiang listrik." Ega mengajak Dipta dan Nina untuk duduk di Berugak setelah Dipta tidak menjawab pertanyaannya. Ega berjalan ke arah berugak yang diikuti oleh Nina dan Dipta
“Begini dong, harus lembut menyambut tamu, tidak seperti kamu Nina tidak ada lembut-lembutnya, kasar seperti batu cadas." Dipta mengomentari ketidak ramahan yang diperlihatkan oleh Nina.
__ADS_1
“Ogah berlembut ria sama cowok Kelelawar," sahut Nina dongkol.
“Tau ah, males lama-lama mendengarkan suara kamu," kata Dipta terlihat mulai kesal.
“Apalagi aku, kemeng telingaku," balas Nina tidak kalah kesal.
“Udah dong! kalian berdua, kapan akurnya, sih?" ucap Ega mencoba menengahi perdebatan mereka.
“Jadi ada apa Dipta?" Ega kembali mengulang pertanyaan.
“Aku cuma nengok, apakah kamu baik-baik saja, Ga," jawab Dipta sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Dia merasa alasannya itu terlalu dibuat-buat. Kalau hanya ingin mengetahui khabar Sahabatnya itu dia bisa menanyakan lewat Handphone. Dia tidak perlu langsung menemuinya pada jam menjelang sembilan waktu berakhirnya kunjungan.
"Alah alasan kamu saja Dip, pasti ada maksud terselubung. Kalau hanya ingin mengetahui keadaan Ega kenapa aku dilupakan," sahut Nina sewot.
"Nah itu sudah terbaca, kamu tahu saja sih, Nin? sebenarnya saya bingung mau kemana, Mas Rian sedang ngapelin ceweknya yang sekian, Juna sedang kerja sedangkan Beni tidak ada khabarnya. Langkah kaki saya ke sini jadinya," jawab Dipta terlihat memprihatinkan karena kehilangan teman-temannya.
“Ooooh gitu, kirain ada yang serius," guman Ega ber-oh ria.
“Ada yang serius juga sih, aku kesini mau ambil jatah Nuggetku," jawab Dipta jujur sambil mengumbar senyum tidak berdosanya.
“Tuhkan, ini anak selain bikin rusuh juga bikin orang repot. Emangnya kamu tidak bisa beli Nugget di luaran sana, kenapa harus capek-capek kesini, sih?" Nina mengomeli Sahabatnya yang dikenal tukang makan.
“Jangan ribut dong, cuma Nugget saja masih banyak stocknya, entar saya goreng dulu, tunggu disini, Dip," ucap Ega diakhiri dengan senyuman. Dia bangun dari duduknya kemudian pergi masuk ke rumah meninggalkan kedua sahabatnya.
Tidak butuh waktu lama, Ega datang kembali dengan membawa satu Piring penuh Nugget lalu menyajikan Nugget itu di hadapan Dipta. Di lihatnya Dipta dan Nina masih saling diam tanpa adanya suara "Mungkin capek kali ya debatnya." Ega membatin.
“Jadi siapa yang menang, nih?" Ega memancing Dipta dan Nina dengan pertanyaan agar mereka berdua kembali memperdengarkan suaranya. Mereka sedari tadi melancarkan aksi diam dengan kegiatan masing-masing. Dimana perhatian mereka dialihkan pada Gawai yang dipegang seolah-olah mereka tidak berada pada satu alas.
Mendengarkan pertanyaan Ega, baik Dipta dan Nina secara bersamaan menghentikan Jarinya yang asyik menari pada Keyboard. Mereka berdua beradu pandang kemudian detik berikut saling membuang muka. Ega cekikikan menyaksikan dua sahabatnya yang tidak pernah akur sama sekali. Tapi kalau sudah salah satu tidak ada, maka khawatirnya luar biasa.
“Dimakan Nuggetnya nanti kalau dingin tidak enak," tawar Ega pada kedua sahabatnya.
“Ternyata sudah ada, Saya tidak menyadarinya, kenapa Nuggetnya tidak menyapa saya, ya?" ucap Dipta tersenyum sumringah. Dia terlihat bahagia mendapatkan Makanan yang menjadi makanan kesukaannya.
Dipta mengambil satu Nugget kemudian mencelupkan ke sambal selanjutnya memasukkan ke mulutnya. Dengan langkah cepat dia mengunyah Nugget tersebut. Usai di telan di ambil lagi begitu seterusnya. Dia tidak peduli dengan pandangan Nina yang bergidik, sementara Ega seakan terhibur dengan cara makan Dipta.
Dipta merupakan penggemar Nugget, hampir setiap hari dia datang ke rumah Ega hanya untuk menikmatinya. Karena itulah selalu ada stock Nugget di Kulkasnya untuk menjamu Dipta.
"Kenapa sih kamu suka banget sama Nugget?" tanya Nina penasaran.
__ADS_1
"Suka aja, Nugget kan enak banget," sahut Dipta sambil tetap mengunyah.
"Pantesan muka kamu seperti Nugget, berminyak," komentar Nina.
"Enggak masalah yang penting aku tetap terkeren dan gara-gara Nugget bodyku berisi dan terlihat macho," sahut Dipta sekenanya.
"Pantesan tubuh kamu bongsor kebanyakan lemak dari minyak Nugget, sih!" celoteh Ega ikut nimbrung. Dia tersenyum melihat Dipta yang melahap habis Nugget yang di hidangkannya. Melihat Dipta mengunyah membuatnya kenyang seketika.
"Terserahlah yang penting aku suka,makanan praktis dan mengenyangkan," ucap Dipta riang.
Tidak butuh lama pada akhirnya Dipta menghabiskan Nugget yang ada di hadapannya. Dia mengambil air minum yang disediakan oleh Ega lalu meminumnya hingga tandas. "Alhamdulillah, terima kasih, Ga," ucap Dipta berterima kasih.
"Iya," jawab Ega singkat.
"Kalau gitu aku pamit, aku kesini cuma minta jatah Nugget aja bukan nyari ribut ama nih cewek jadi-jadian," lanjut Dipta sambil tersenyum jahil.
“Siapa juga yang mau ribut sama kamu, kamu aja yang nyari, ribut aja ogah mau ketemu sama kamu," sahut Nina ketus. Dia mendelik memainkan wajah cantiknya.
“Hahaha, tuh kan ngejawab. Udah ah saya pulang ntar saya di nikahkan ama nih cewek jadi-jadian kalau di tahu sama RT saya memolor waktu," ucap Dipta sambil bangkit dari duduknya.
“Pulang sono, cepetan!" Nina mengusir Dipta tak sungkan. Sedangkan Ega hanya tersenyum saja melihat tingkah mereka.
“Duh pasangan serasi ini, tidak capek apa? saya aja capek dengernya tiap kali melihat kalian ribut. Beneran dah lama-lama saya nikahkan kalian berdua biar ributnya di kamar aja," ucap Ega berniat menjodohkan mereka berdua.
“Ogah," ucap Nina tegas.
“Sama, ogah." timpal Dipta tidak kalah tegas.
"Kalau gitu aku pamit Ga. Assalamu'alaikum," salam Dipta tanpa berpamitan kepada Nina. Dia hanya menampilkan senyum mengejek ke arah Nina.
“Hus hus sana pergi."
“Emangnya saya kucing apa? Iya ini aku pulang, tadi kan udah pamit, tidak sabaran banget, entar kangen lo!" celoteh Dipta sambil berlalu.
Nina menanggapi celotehan Dipta dengan wajah mendelik dan isyarat "Sorry ya, enggak bakalan kangen sama kamu."
Dipta mengambil sepeda motornya yang terparkir di Garasi kemudian keluar dari halaman rumah Ega. Dia tidak bisa berlama-lama di rumah Ega karena kampung tempat tinggal Ega membatasi jam kunjungnya hanya sampai jam 09.00 malam. Tadi dia telat datang, untung saja masih ada waktu. Dipta memang harus tertib, dari kecil terbiasa dengan kedisiplinan, karena Bapak dan Kakaknya Dipta merupakan Anggota kepolisian.
Lalu Dipta Prayoga merupakan Sahabat Ega dari zaman Sekolah Menengah Kejuruan. Pertemuan mereka terjadi karena insiden Bola Basket yang dimainkan Dipta. Bola itu melayang ke arah Ega yang sedang berjalan ke Kelasnya. Alhasil Bola itu menghantam Tubuh Ega, sehingga membuat Ega seketika itu limbung. Berawal dari hari itulah persahabatan mereka terjalin. Dipta dan Ega kerab kali belajar bersama meskipun beda jurusan. Terkadang mereka sering hangout bareng layaknya seperti Sepasang Kekasih. Semua Teman-teman Sekolah mengira mereka berpacaran dengan melihat keakraban mereka berdua. Dipta dan Ega mengabaikan prasangka teman-temannya karena pada kenyataannya mereka hanya berteman.
__ADS_1
Bersambung.