Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 9. Jangan Ingat Masa Lalu


__ADS_3

Ega, masih asyik bertukar kata dengan seseorang yang ada di hadapan Handphone yang berada berbeda dengannya. Selagi asyiknya, dia dikejutkan oleh suara Nina yang bertanya.


"Oh ya Ga, apa kamu belum move on dari Ivan? Selama ini aku tidak pernah liat kamu deket-deket sama cowok selain kelima sahabat kita," ucap Nina bertanya. Nina seakan mengingatkan masa lalu Ega.


"Cukup mereka saja yang deket sama saya, kalau nambah lagi takutnya bingung yang mana harus di dengarkan," jawab Ega sekenanya.


"Lah, saya nanya apa dijawab apa? aku tidak mengharapkan jawaban seperti itu maunya jawaban bahagia," kata Nina menyelipkan harapan disana.


Ega, menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan. Ternyata rasa sesak itu masih terasa di dadanya. Dia tidak ingin mengingat masa lalu itu tapi mengapa Nina mempertanyakan kembali kejadian itu.


"Saya sudah move on, udah lama kali, hampir tiga tahunan, untuk apa masih meratapi," jawab Ega penuh keyakinan bahwa dia baik-baik saja.


"Alhamdulillah kalau kamu sudah tidak trauma. Aku jadi penasaran kenapa Ivan ninggalin kamu dan menikah dengan orang lain, bagaimana ceritanya, sih?" tanya Nina penasaran. Dia tidak tahu alasan Ivan mengakhiri hubungannya dengan Ega dan lebih memilih menikahi Gadis lain.


Ega ragu untuk menjawabnya, sama halnya dia membuka kembali lukanya yang telah terbalut oleh ketegarannya. Kejadian itu sudah lama terjadi dan selama itu Ega berusaha menata kembali hidupnya yang sempat terpuruk. Dia berusaha menyembuhkan hatinya yang terluka meskipun tak seutuh sebelum mengenal cinta.


"Sudahlah Nin, tidak perlu dibahas lagi. sudah lama kali!" balas Ega enggan menceritakannya.


"Ayolah Ga, aku ingin tahu. Selama ini aku selalu merutuki Ivan setiap aku ingat kejadian itu. Pingin rasanya mencincang si Ivan itu. Biar terang menderang saya ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Selama ini saya su'udzun sama Ivan. Tidak baik membiarkan orang dalam dosa karena salah paham," rayu Nina agar mau menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.


Ega terlihat berpikir setelah itu ia bermonolog dalam hati. "Benar juga saya harus menjelaskan kepada Nina. Selama ini, Nina tidak tahu cerita yang sebenarnya."


"Baiklah, menurut penjelasan dari Mamanya Ivan. Hari itu, dua hari sebelum akad nikah, Ivan masih tetap saja bekerja di Cafe miliknya. Nah pada saat itu ada salah satu Pegawainya yang tiba-tiba pingsan, Pegawai itu cewek.  Melihat itu otomatis Ivan menolongnya sebagai rasa tanggung jawabnya kepada Pegawainya. Menurut penuturan Cewek itu, dia pingsan disebabkan oleh khabar buruk dari orang tuanya. Pegawai Cewek itu meminta tolong sama Ivan untuk mengantarnya pulang karena dia takut nanti di jalan tiba-tiba pingsan lagi. Tanpa curiga Ivan mengantar Pegawainya tersebut. Ketika melajukan Mobilnya hendak mengantarkan Pegawai Cewek itu, ditengah jalan mobil yang dikendarai Ivan mengalami pecah Ban persis di dekat Bengkel. Mobil tersebut di perbaiki akan tetapi cukup lama Montir yang ada di Bengkel tersebut menyelesaikan tugasnya seakan mengulur waktu. Tanpa curiga Ivan menunggu dengan sabar padahal Ivan sudah menunggu begitu lama. Pada akhirnya Mobil itu sudah selesai diperbaiki namun hari sudah begitu malam.


Ivan tetap melanjutkan perjalanan mengantar Pegawainya, akan tetapi setelah sampai di rumah cewek itu hari sudah larut malam. Tentu saja hal itu membuat orang tua cewek itu marah besar. Orang tua dari cewek itu tidak terima kalau anaknya pulang selarut itu apalagi diantar oleh seorang Laki-laki. Ivan dipaksa harus menikahi cewek itu, kalau tidak dia tidak diizinkan keluar dari Desa tersebut. Ini aturan Desa, kalau telat pulang dari waktu yang dibatasi maka harus dinikahkan. Ivan sudah menjelaskan kalau dia sudah punya calon istri sebentar lagi akan menikah. Ivan juga menjelaskan kalau dia hanya membantu Pegawainya.


Orang Tua dari cewek itu tidak mau mendengarkan penjelasan Ivan. Orang Tua Cewek itu memanggil warga untuk mengintimidasinya agar mau menikahi anak Gadisnya. Melihat warga yang datang ke rumah cewek itu dan meneriakinya agar mau bertanggungjawab dan menikahi cewek yang diantarkannya. Ivan tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi melihat warga sudah mengepungnya. Ivan hanya pasrah menerima nasip apalagi tidak diizinkan oleh warga meninggalkan Desa. Ternyata cewek itu sudah merencanakan semuanya. Dia sudah suka sama Ivan namun Ivan tak  pernah menghiraukannya."


Setelah selesai menceritakan apa yang terjadi. Ega menghela nafasnya pelan. Dia tidak menyangka kisah cintanya dengan Ivan berakhir dengan seperti ini, terluka. Ega dan Ivan benar-benar terluka akan tetapi apa yang hendak dilakukan takdir sudah menetapkannya. Mereka harus menerimanya suka maupun tidak suka karena seperti itulah kenyataannya.


"Oh begitu, kasian juga si Ivan harus menikahi Perempuan yang tidak diharapkannya? Bagaimana hasil dari pernikahan atas dasar keterpaksaan. Tentu saja tidak akan bahagia. Ivan terluka tentu saja cewek itu bakalan tekanan batin karena tidak mendapatkan cinta dari Ivan," ucap Nina panjang lebar.


"Apa kejadiannya beneran atau jangan-jangan karangan mantan calon Mertuamu saja agar terbebas dari sangkaan buruk karena tidak bisa menjaga anak perjakanya,"  kata Nina tidak yakin.


"Beneran kok cerita mamanya Ivan dengan kejadian yang dialami Ivan. Nasibnya memang malang. Detektif Evan dan Dipta sudah menyelidikinya," sahut Ega menjelaskan. Ega sempat ragu dengan berita itu tapi Evan dan Dipta mendapatkan fakta dari Cewek itu yang mengakui telah menjebak Ivan setelah dia berhasil menikahi Ivan. Cewek itu sangat menginginkan Ivan Alkhaeri, dia berusaha sekuat tenaga untuk merayu Ivan, namun tak pernah diperhatikan oleh Laki-laki itu.


Mendengar Ivan sudah meminang seorang Gadis membuat Gadis itu murka dan mengatur rencana untuk menjebak Ivan bahkan dia pernah menggunakan semacam pelet untuk merayu Ivan. Namun semua itu tidak mempan karena Ivan tidak tertarik sedikitpun. Akhirnya Cewek itu menggunakan langkah terakhir yang menggunakan Warga Desa untuk mengintimidasi Ivan agar mau menikahinya. Tentu saja Pemuda itu tidak bisa berkutik jika sudah berhadapan dengan Warga Desa yang mempergunakan Adat untuk menjeratnya. Ivan tidak bisa berlari dari adat itu, sama halnya dia telah merusak tatanan yang sudah lama ada apalagi ini menyangkut nama baik. Nama baiknya sudah tercoreng di mata masyarakat karena sudah membawa Anak Gadis orang melewati batas waktu yang telah ditentukan bersama.


"Astaga, saya lupa kalau punya sahabat yang super canggih," ucap Nina sambil memukul jidatnya pelan karena tidak ingin merasakan rasa sakit.


"Adat di sebuah Desa bikin orang terpaksa menikah. Banyak dari remaja kita yang sebenarnya belum mau berumah tangga karena masih dibawah umur terpaksa harus menikah gara-gara telat mengantar pulang pacarnya," lanjut Nina terdengar gusar.


"Menurut saya bagus tuh, biar para remaja inget waktu, tidak keluyuran malem-malem kayak kunang-kunang saja. Malem kan waktunya istirahat bukan waktunya keluyuran," jawab Ega sepakat dengan aturan Desa.


"Seperti kamu, Cinderela pukul sembilan," gurau Nina.


Ega hanya tersenyum menanggapi gurauan Nina kepada dirinya. Memang benar dirinya adalah Cinderela pukul sembilan. Dia tidak pernah pulang melebihi pukul Sembilan hingga sepuluh malam. Tidak halnya dengan Nina, dia bisa mengelabui masyarakat dengan siasatnya. Masyarakat sudah tidak perduli lagi dengan apa yang dilakukan Nina. Lelah memperingati pada akhirnya membiarkan Nina pulang sesuka hatinya. Jika terlalu larut malam maka Nina akan melangkah ke Rumah Ega untuk menghindari sangkaan masyarakat.


"Gara-gara itu jadinya kamu batal nikah sama Ivan," ucap Nina terdengar sedih.

__ADS_1


"Itu namanya takdir, sebagai muslim kita beriman kepada yang namanya takdir. Jangan kita berlarut-larut dalam kesedihan," sahut Ega terdengar tegar.


Nina merangkul Ega dengan penuh kehangatan, dia beruntung memiliki sahabat yang begitu baik yang selalu siaga membantunya. .


"Sebaiknya kita tidur aja," ucap Ega menyudahi ceritanya malam ini. Baru saja hendak merebahkan tubuhnya dari arah luar terdengar suara salam.


"Assalamu'alaikum."


"Siapa yang dateng malem-malem?" tanya Ega penasaran.


Nina yang ditanya menggelengkan kepala namun telinganya menangkap suara yang tak asing.


"Ayok kita lihat," ajak Ega. Dia beringsut dari tempat tidurnya. Kedua Gadis itu keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Ega membuka Pintu lalu bersama Nina melangkah ke halaman menuju gerbang Pintu.


Ceklek, pintu gerbang terbuka lalu menggesernya ke arah kanan. Dilihatnya seseorang yang tak asing. Kedua Gadis itu menatap seraut wajah yang nampak kelelahan namun masih ada senyum pada wajah tampannya.


"Junaaa!" teriak Nina tidak percaya kalau Cowok di hadapannya adalah Juna.


" Astaghfirullah Nina, teriakanmu bikin bangun orang sekampung," komentar Ega mengingatkan Nina agar mengecilkan volume suaranya.


"Maklumlah melihat Oppa Ganteng, jadi histeris." ucap Juna sambil tersenyum lebar menyaksikan tingkah Nina.


"Oooops, sorry, lagian malem-malem kesini, mau apa?" tanya Nina penasaran dengan kedatangan Juna.


" Saya laper, ada makanan tidak, Ga?" tanya Juna menatap Ega penuh harap.


"Ada, sepertinya masih deh, saya ambilin dulu. Nina, suruh abang Juna masuk kok malah bengong," ucap Ega kemudian berjalan masuk.


"Abang Juna nginep dimana, kok malem-malem masih saja berkeliaran di Desa orang?" tanya Nisa begitu mereka duduk di Berugak.


"Saya ngekost Nin, itu di belakang rumah Ega ada kos-kosan disana," jawab Juna memberitahu.


"Ooh gitu," ucap Nina ber oh ria.


Selang beberapa menit Ega datang sambil membawa kotak makanan dan satu botol air mineral. "Ini Bang Juna," ucap Ega sambil menyodorkan kotak makanan dan sebotol air mineral.


"Makasih Ga, saya pamit dulu nanti makan di Kost saja takutnya ada yang liat bisa-bisa di digerebek kita," ucap Juna menerima kotak Nasi dan sebotol air mineral yang diberikan Ega. Juna memandang Ega dengan pancaran yang sulit terbaca, dia tersenyum yang dibalas senyuman oleh Ega dengan raut wajah tak mengerti.


"Apa Abang Juna baik-baik saja?" tanya Ega memperhatikan Laki-laki tampan berparas timur tengah itu.


"Aku baik-baik saja, hanya kecapekan saja. Jangan khawatir Ga," jawab Juna hangat. Dia tahu Sahabatnya itu pasti sedang memperhatikan dirinya. Hanya Ega, Gadis itu mampu mendeteksi dengan cepat jika terjadi sesuatu dengan dirinya. Entah mengapa hubungan mereka sedekat itu sehingga batin mereka terkadang terhubung.


"Yakin Bang, saya lihat Abang tidak lagi sehat," ucap Ega menyelidiki.


"Kamu tenang saja, Abang baik-baik saja. Kamu istirahat gih!" sahut Juna menenangkan hati Sahabat dekatnya itu.


"Benar kata Ega, sepertinya kamu terlihat tidak baik, apa perlu kita membawa kamu ke Rumah sakit," ucap Nina khawatir melihat raut Juna yang terlihat pucat.


"Kalian terlalu khawatir, saya baik-baik saja. Saya hanya kecapean saja. Selesai makan terus istirahat, Insyaa Allah besok pagi semuanya akan membaik," ucap Juna berusaha menenangkan kedua Sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kalau begitu saya ke Kost dulu, nanti ketahuan jika berlama-lama di sini."


Juna bergegas meninggalkan rumah Ega agar tidak diketahui oleh tetangga Ega. Selepas Juna meninggalkan Rumah Ega,  kedua Gadis itu masuk ke dalam rumah melanjutkan istirahatnya.


Nina merebahkan diri, tanpa hitungan menit Gadis cantik itu sudah melalang buana dalam mimpi indahnya. Sementara itu, Ega tidak sama sekali bisa memejamkan mata. Dia gelisah, entah kenapa malam ini dia segelisah ini. Pikirannya tertuju kepada Juna. Dia merasa tidak tenang karena memikirkan keadaan Sahabatnya itu yang terlihat tidak baik-baik saja.


Ega beringsut dari Kasurnya, dengan gerakan cepat dia mengambil Sweter dari Lemari untuk menutupi Daster berlengan pendek yang sedang digunakannya lalu mengambil Jilbab instan untuk menutupi Kepalanya yang polos. Gadis itu tanpa suara keluar dari Rumahnya berjalan menuju ke Kost Juna yang terletak di Belakang Rumahnya. Sesampainya di Kost tersebut, keadaan gerbang sudah terkunci. Gadis itu segera memanjat tembok, dengan gerakan terlatih dia berhasil melewati tembok lalu berjalan dengan pelan menuju kamar Kost Juna.


"Abang Juna, Abang sudah tidur belum?" tanya Ega dengan suara pelan takut membangunkan Penghuni Kost.


Juna yang masih terjaga, sayup-sayup mendengarkan ada suara dari balik Pintu. Suara itu seperti familiar di Telinganya.


"Abang Juna, Abang Juna baik-baik saja? Ega ini Bang," panggil Ega lagi. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Sahabatnya itu sehingga nekat menemuinya di Kost pada tengah malam buta ini.


Juna beringsut dari kasurnya, dia penasaran dengan seseorang yang memanggilnya. Berlahan dia berjalan ke arah Pintu lalu memutar kunci dan memegang handle pintu itu untuk membukanya.


Ceklek


Terdengar Pintu terbuka, Juna terkejut melihat sosok Gadis berdiri di hadapannya dengan wajah begitu khawatir.


"Ega," ucap Juna terlihat kaget.


"Saya khawatir sama Abang makanya kesini untuk melihat keadaan Abang," ucap Ega terlihat begitu khawatir.


"Masuk Ga." Juna mempersilahkan Gadis itu untuk masuk karena takut seseorang melihatnya masuk ke Kamar Kostnya. Ega masuk dengan membawa Kotak obat di tangannya, dia segera duduk di Kursi yang tersedia di sana sementara itu Juna segera mengunci Pintu kamar Kostnya.


"Abang tidak apa-apa Dek, hanya deman," ucap Juna sembari mengeratkan selimutnya.


"Astaghfirullah, Abang jangan meremehkan penyakit."


Setelah berkata, Gadis itu merebus air. Sembari menunggu air itu matang dia mengolesi tengkuk, area dada dan lengan Juna dengan Minyak kayu putih yang dicampuri bawang merah. Dengan telaten dia merawat Sahabatnya itu. Juna memandang Gadis manis yang ada di hadapannya dengan tatapan yang begitu mendalam. Jantungnya bergemuruh namun berusaha untuk menetralisir agar tak didengar oleh Sahabatnya itu.


"Dek, terima kasih ya?" ucap Juna sambil tersenyum. Saat mereka berdua, maka Juna akan memanggil Ega dengan panggilan Adek meskipun tidak sesering itu. Entah mengapa ada perasaan nyaman yang dia rasakan saat berdekatan dengan Ega. Juna menyadari perasaan itu bukan perasaan Pria dewasa kepada lawan jenisnya. Rasa itu lebih mengarah ke hubungan persaudaraan. Iya, Ega menganggap dirinya adalah Saudara Laki-lakinya, diapun juga begitu menganggap Ega adalah saudara Perempuannya meskipun debaran itu dia yakini bukan hanya sebatas persahabatan. Juna belum mau mengakui apa yang dirasakan karena masa lalu itu yang tidak membolehkan dia memiliki rasa.


"Abang istirahat saja," ucap Ega segera bergeser untuk mengambil kain bersih yang dibawanya lalu mencelupnya pada air hangat. Ega memerasnya lalu menempelnya pada Ketiak Laki-laki itu untuk mengompresnya.


"Demamnya tinggi banget Bang," ucap Ega terlihat nampak khawatir.


Juna tersenyum, dia menatap wajah teduh di hadapannya. Dia ingin meraih tubuh itu untuk dipeluk tapi diurungkan. Dia sangat ingin membawa raga Gadis manis ini ke dalam dekapannya. Namun mengingat keinginan untuk menjaganya sehingga mengurungkan hasratnya itu.


"Abang baik-baik saja, sebaiknya kamu istirahat Dek," ucap Juna menyuruh Ega mengistirahatkan raganya yang terlihat kelelahan. Juna menarik selimutnya untuk membungkus Tubuhnya yang menggigil.


"Saya akan merawat Abang hingga Abang membaik. Oya Abang, jangan membungkus tubuhnya dengan selimut tebal," ucap Ega sembari menarik selimut itu. Tentu saja tindakan Ega membuat Juna bertanya-tanya.


"Selimut tebal akan menghambat proses pengeluaran panas melalui kulit dan menyebabkan suhu tubuh tidak kunjung turun."


Ega menjelaskan apa yang diketahuinya. Mendengarkan penjelasan itu Juna mengangguk tanda mengerti.


"Terima kasih Dek, Abang istirahat dulu." Juna memejamkan mata setelah dia merasa sedikit enakan. Sedangkan Ega duduk di sisi ranjang Juna sembari menyandarkan tubuhnya. Dia sesekali memeriksa suhu tubuh Laki-laki itu dan juga mengganti kompres agar tetap terasa hangat di Ketiak Juna. Beberapa jam menemani Juna, Ega mulai merasakan kantuk. Dia hendak merebahkan diri di samping Juna tapi diurungkan karena mengingat Juna bukan siapanya dia. Dia beranjak keluar setelah memastikan Juna sudah membaik dan suhu tubuhnya sudah kembali normal. Dengan hati-hati Ega keluar dari Kamar Kost Juna agar tidak mengusik tidur lelapnya. Dia meninggalkan Wilayah itu melewati tembok itu lagi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2