Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Nikahi Kembang!


__ADS_3

Subuh menjelang, dari arah Masjib terdengar suara Adzan berkumandang. Beni terjaga tatkala mendengar merdunya suara Muadzim dari sebuah Masjid yang tidak jauh dari Rumahnya. Saat membuka mata, terlihat Ega tengah menatapnya dengan gurat bahagia. Dia tersenyum manis, seolah menggambarkan suasana hatinya saat ini.


“Pagi, Kak! Alhamdulillah kita masih diberikan kesempatan untuk bernafas lagi,” ucapnya hangat.


“Iya, Alhamdulillah.” Beni meraih tubuh Ega kemudian mendaratkan kecupan di keningnya.


“Aku bersyukur karena bisa melihatmu kembali setelah apa yang terjadi tadi malam,” lanjutnya setelah menikmati kemesraan yang mereka rengkuh bersama.


“Iya, meskipun sekarang badan ini rasanya masih sakit dan tenggorokanku rasanya perih, setidaknya kita berhasil melewati bahaya yang mengerikan dan hampir saja mencelakakan kita berdua. Tentu semua ini karena pertolongan Tuhan sehingga kita selamat.” Ega menumpahkan rasa syukurnya. Tak henti-hentinya mengucapkan hamdalah hingga Beni menyadarkannya agar segera menunaikan dua rakaat.


Sebelum itu, keduanya terlebih dahulu bersuci, setelah beberapa menit kemudian, Beni dan Ega selesai dengan ritual mandinya.


Beni melangkah ke arah Masjid untuk melaksanakan Shalat berjamaah, sedangkan Ega melaksanakan Shalatnya di rumah.


Setelah selesai melaksanakan dua rakaat dan ibadah sunnah lainnya, Beni berjalan kembali menuju Rumah. Saat melintasi beberapa orang Ibu-ibu yang sedang bercengkerama di salah satu Berugak. Beni mendengar salah satu dari mereka menyebut nama Kembang. Hal itulah membuatnya menghentikan langkah. Dia berpura-pura menerima panggilan agar mengetahui isi obrolan mereka.


“Apa Inaq Har? Kembang sakit? Kok bisa? Perasaan semalam dia baik-baik saja, saat belanja ke Warung.” Tanya bertubi-tubi itu terlontar dari Pemilik Warung yang dikunjungi Beni semalam.


“Iya, saya kan tetangga dekatnya. Saya mendengar Kembang sakit, karena itulah saya langsung menjenguknya. Sakitnya parah lo! Dia kesakitan, sekujur tubuhnya memar seperti habis dipukul. Sepertinya di bukul sama kayu, terlihat luka pada lengan dan punggungnya. Melintang gitu!” Wanita itu menceritakan kondisi Kembang. Mendengarkan itu seketika para Inaq-Inaq saling pandang dengan raut keheranan sekaligus lega.


“Apa mungkin semalam Kembang berkeliaran terus mengganggu orang. Orang tersebut mengetahui sisi lemahnya,’ ucap seorang Wanita dengan mengernyitkan dahinya berpikir. Dia menduga tapi dugaannya seakan tak beralasan.


“Kira-kira siapa yang diincar dan diserang oleh Kembang?” tanyanya kemudian.


Beni semakin tertarik dan menguping pembicaraan karena rasa penasaran dengan cerita itu. Ini ada sangkut pautnya dengan Sosok Perempuan yang menyerangnya.


“Mas, baru dari Masjid, ya?” Pemilik Warung itu menyapa ketika melihat Beni berdiri tak jauh dari Berugak tempat mereka berkumpul.


“Nggih,” sahut Beni singkat.


Pemilik Warung itu memperhatikan Beni, wajahnya terlihat berbeda dengan apa yang dilihat semalam. Wajah itu terlihat memar-memar dan pada lengannya juga ada luka. Tentu hal itu memantik rasa penasaran dari Wanita Paruh Baya itu. Apa yang terjadi dengan Menantu Mamiq Angga? Tanya itu muncul di Kepalanya.


“Mas, perasaan semalam wajahnya cakep, tapi sekarang kok jadi memar-memar? Apa berantem sama Mbak Ega, ya?” tanyanya kemudian melegakan rasa ingin tahunya.


“Tidak Saiq, ini semalam terjatuh saat pulang dari Warung. Enggak lihat lubang, terperosok deh!” jawab Beni datar sambil menampilkan senyum ramah.


“Oh begitu, kirain di serang oleh Makhluk jadi-jadian.”


“Memangnya siapa dia? Saya baru lihat, tampan sekali kayak orang kaya di TV TV?” tanya seorang Inaq.


“Dia Suaminya Mbak Ega, anaknya Mamiq Angga,” jawab Pemilik Warung memberitahu.


“Ooh.” Semua Para Inaq berohria sambil memandang ke arah Beni yang selalu menampilkan senyumnya.


“Tabek, Inaq-Inaq saya permisi dulu. Assalamu’alaikum.” Beni berpamitan. Dia bergegas meninggalkan kerumunan para Inaq-Inaq.


“Jangan-jangan Kembang menyukai Pria tadi kemudian menyerang Isterinya. Karena tidak berhasil memikat Pria tadi terus dia marah sehingga menyerang mereka,” ucap seorang Inaq yang di anggukkan oleh mereka semua dengan mengatakan “Bisa jadi”


“Wallahu a'lam,” lanjut mereka kemudian tak ingin berprasangka.

__ADS_1


Mereka mengetahui siapa Kembang, Pun begitu juga Para Pemuda disini sehingga tak ada satupun yang berani mendekatinya. Dulu, Kembang merupakan Bunga Desa dan tentu diperebutkan oleh Para Pemuda di Desa ini dan Desa lainnya. Tapi setelah mereka tahu siapa Kembang sebenarnya, mereka tak berani mendekatinya kecuali orang-orang yang tak mengetahui siapa dirinya. Setelah Warga kampung mengetahuinya, tak seorang pun yang berani mengusik. Mereka bergaul seperti biasa seolah tak mengetahui apa-apa. Kembang juga bergaul seperti biasa, layaknya Manusia normal. Namun ada sesuatu yang berbeda pada dirinya dan sesuatu yang berbeda itu telah di ketahui oleh semua Warga Desa Lobe-lobe. Dan itu merupakan rahasia umum yang tak pernah mereka bicarakan jika tak terjadi apa-apa.


Beni telah sampai di rumahnya. Di lihat Ega menaruh dua Piring Nasi Goreng di atas Meja makan yang tersedia di Dapur.


‘Wangi sekali aromanya, sungguh mengunggah selera,” ucap Beni berjalan ke arah Meja makan. Dia menggeser kursi lalu mendudukkan dirinya tepat di hadapan Ega.


Mereka kemudian menikmati sarapan dengan sesekali membahas hal yang ringan. Selesai sarapan, Ega bergegas mencuci peralatan memasak yang dipergunakannya. Sedangkan Beni keluar rumah untuk membersihkan halaman. Dia berusaha menyapu meskipun tangannya masih terasa sakit akibat terpelanting semalam. Dia merasa tangannya sulit digerakkan. Walaupun terasa sakit ia berusaha menggerakkan secara berlahan agar tak kaku dan berharap cepat pulih kembali.


Setelah sekian lama berusaha, pada akhirnya Beni menyerah. Dia membiarkan dedaunan itu berserakan di halaman. Dia menghela nafas dalam-dalam lalu dengan perlahan melepaskannya, mengulang beberapa kali hingga terasa ringan.


Saat dia asyik memandang jernih air sembari merekam keindahan itu.


“Nak, boleh saya berbicara sebentar,” ucap Wanita Paruh Baya yang entah dari mana berasal.Beni baru menyadari ketika Wanita itu sudah berada di sampingnya.


Beni mengernyitkan dahi penuh dengan tanya. Dia tak mengenal Wanita Paruh Baya ini dan apa tujuannya mengajaknya berbicara.


"Boleh Saiq, silahkan kita duduk dulu disana." Beni mempersilahkan Wanita Paruh baya itu mengobrol dengan dirinya, meskipun dalam hati diliputi tanya. Entah kenapa ada kekhawatiran terasa, mungkin saja kejadian semalam yang membuatnya awas.


Beni dan Wanita Paruh Baya itu duduk pada sebuah Kursi yang terbuat dari batang pohon yang berukuran besar. Mereka berdua duduk berdampingan menatap keindahan mata air.


Sejenak tak ada pembicaraan, hanya helaan nafas yang terdengar. Beni menunggu dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Wanita paruh baya yang tak dikenalnya sehingga tak memulai pembicaraan.


"Nikahi Kembang."


Lirih terucap namun jelas terdengar oleh pendengaran Beni. Pria tampan itu tersentak kaget dengan apa yang diucapkan oleh Wanita yang tak dikenalnya. Dia diliputi keheranan, pasalnya mereka tidak saling mengenal dan apa yang teruncap itu seperti memerintahnya.


Beni memandang Wanita Paruh Baya itu dengan pandangan tak suka. Ada kemarahan yang menguasai tapi ditahan. Dia tidak mau bersikap kasar kepada orang tua, bagaimana pun juga tetap harus dihormati.


"Saya mohon Nak, saat ini Kembang sakit parah, dia sedang sekarat. Satu-satunya jalan agar dia selamat hanya dengan kamu menikahinya. Dia akan sembuh jika kamu menikahinya, dia jatuh cinta kepadamu karena cinta itu membuat dia sakit." Wanita paruh baya itu menuturkan dengan isakan yang terdengar pilu. Dia berusaha meluluhkan hati Beni dengan rasa tak tega yang dimiliki Pemuda itu.


"Tidak, sekali lagi saya tegaskan saya tidak bisa menikahi Kembang. Saya mencintai Isteri saya dan tidak akan menyakitinya," ucap Beni kembali menolak.


"Saya mohon Nak, selamatkan Kembang. Inaq tahu di dalam hati kamu sebenarnya telah jatuh cinta kepada Kembang. Semua Pria yang melihat Kembang pasti akan langsung jatuh cinta kepadanya termasuk kamu. Hanya karena telah menikah sehingga berusaha menutupi, iya kan?" Wanita Paruh baya berucap dengan lantangnya. Dia percaya Pemuda Kota ini telah terpikat dengan Pesona Kembang. Tidak ada yang bisa menolak Pesona yang terpancar dari raga Kembang termasuk Beni. Itu yang diyakini Wanita itu.


Beni terdiam sejenak dengan pandangan lurus di depan, lalu berkata dengan tegas bahwa dia tidak akan menikahi kembang dan tidak ada ketertarikannya Kepada Gadis itu.


"Kamu menolak Kembang? Tidak bisakah menjadikan dia Isteri kedua kamu? Lagipula Kembang lebih cantik dan menarik dari Isteri kamu. Saya rasa Kembang lebih cocok dengan kamu, dia akan lebih panas di atas Ranjang." Lagi, Wanita Paruh baya berucap dengan membandingkan Anak Gadisnya dengan Isteri Beni. Nadanya terkandung kekesalan tak ingin dibantah.


Perkataan itu membuat Beni kian marah namun berusaha dikendalikan.


"Kecantikan Kembang tidak mampu membuat hati saya berdesir jadi jangan memaksa. Sesuatu yang dipaksa apalagi di rampas dari orang lain itu akan berpotensi membuat anak gadis anda menderita dan terluka. Lebih baik menderita sekarang daripada menderita sepanjang waktu." Beni memberikan pengertian kepada Wanita paruh baya itu, bahwa semua keinginan tidak harus dipenuhi apalagi memaksakan kehendak kepada orang lain.


"Jadi kamu tetap menolak? Apa yang bisa membuat kamu menerima Kembang?" tanya Wanita itu dengan sorot mata tajam menusuk kedua mata Beni.


Beni berusaha mengendalikan amarah. Jujur saja dia tidak suka ada orang lain memaksa apalagi menekannya.


"Apa Isteri kamu harus dilenyapkan dulu atau membuatnya tak menarik dan kehilangan kewarasannya sehingga membuatmu terpesona dengan Kembang. Saya bisa membuat kamu meninggalkan Isterimu itu lalu memilih menikahi Kembang." Wanita paruh baya itu marah dan menghujani Beni dengan ancaman yang terdengar mengerikan.


Beni menyadari, apa yang diucapkan Wanita ini bukan sebuah isapan jempol melainkan sebuah keseriusan. Dia beristighfar dalam hati kemudian dilanjutkan dengan doa untuk membentengi diri dari kejahatan yang tak nampak.

__ADS_1


Ega yang setia mendengarkan pembicaraan mereka, seketika lututnya lemas, tak sanggup untuk berdiri. Dia berpegangan pada dinding untuk menopang tubuhnya yang tak berdaya.


Tak sadar air mata merembes dari sela-sela kedua mata indahnya. Bukan rasa sakit melainkan haru karena Beni tak goyah kesetiaannya. Suaminya itu sangat mencintainya dan tak terpikat dengan pesona Kembang Desa. Namun tetap saja rasa takut dengan ancaman itu membuatnya luluh lantah. Bagaimana kalau Ibu dari Kembang itu berhasil memisahkannya dengan Beni. Bagaimana jika dia kehilangan kewarasan seperti yang dia ucapkan. Tentu hal itu membuat Beni akan tersiksa dan kesetiaan itu pasti tak bertahan.


Ega tak ingin memikirkan ini semua, ia memilih memanjatkan doa agar terhindar dari apa yang dipikirkan sekarang. Hanya kepada Tuhan tempat menyerahkan segala urusan hidup dan nasip rumah tangganya. Hanya doa yang dipanjatkan kepada Tuhan agar senantiasa mendapatkan perlindungan dari niat buruk seseorang.


Saat mereka dalam keheningan, terdengar langkah mendekat selanjutkan salam terucap dari seseorang yang datang.


Beni membalas salam, dia bangkit dari duduknya untuk menyambut seseorang tersebut.


"Mamiq." Beni meraih tangan Pria Paruh Baya itu dengan takzim. Dia merasa terbebas dari suasana yang mencekam dengan kehadiran Mertuanya.


"Ma- Mamiq Angga." Tergagap Wanita Paruh Baya itu menyebut Angga.


Angga melirik Wanita itu dengan tatapan tajam, seketika itu Wanita Paruh Baya itu menunduk ketakutan. Dalam benaknya bertanya-tanya, siapa Pemuda ini dan apa hubungannya dengan Angga. Mengapa Pemuda ini mengenalnya.


Saat tak terdengar suara pun, Ega berjalan menghampiri mereka.


"Mamiq sudah datang?" sambut Ega langsung meraih tangan Ayahnya untuk dicium.


"Apa kalian baik-baik saja, katanya kalian di serang?" tanya Angga. Tercetak kekhawatiran pada rautnya yang sudah menua. Dia memindai tubuh Ega, karena tertutupi hijab sehingga tak terlihat memar-memar.


Angga menyentuh lengan Putrinya, seketika itu Ega meringis kesakitan.


"Alhamdulillah kami baik-baik saja. Berkat pertolongan Allah sehingga kami selamat." Beni menjawab setelah tak ada jawaban dari Isterinya.


Angga mengalihkan pandangan kepada Menantunya. Ada luka cakar yang tercetak di wajah Beni, Memar-memar di lengannya dan juga Kakinya. Beberapa kali dia terpelanting membentur tembok dan bebatuan grapil yang tertata apik di pekarangan depan. Dia juga membentur Kayu penyangga yang membuat tubuhnya terasa remuk.


Entah kekuatan apa yang dimiliki Sosok itu sehingga berhasil melumpuhkan ketangkasan Beni. Pun juga Beni kekuatan dari mana sehingga tetap bertahan dan berjuang menyelamatkan Ega.


Tentu itu dari Tuhan, karena sejatinya Manusia tidak mempunyai daya dan upaya melainkan Pertolongan dari Tuhan.


Setelah dia memastikan keadaan anak dan Menantunya dalam keadaan baik-baik saja, kini perhatiannya dialihkan kepada Wanita Paruh Baya yang berada di tengah-tengah mereka. Kehadirannya menimbulkan rasa curiga.


"Inaq Kake, sedang apa disini?" tanya Angga dengan raut keheranan penuh selidik.


"In- ini, tadi saya hendak ke pancuran terus melihat ada orang disini akhirnya saya menyapa dan mengajaknya mengobrol," jawab Wanita itu dengan terbata-terbata. Ada kegelisahan yang nampak pada wajah tuanya.


Jawaban itu membuat Beni lagi-lagi tersentak kaget. Dia tak menyangka Wanita ini pandai berbohong. Beni menatap Wanita Paruh Baya itu meminta penjelasan. Alih-alih menjelaskan malah dia mendapatkan tatapan penuh ancaman dan juga senyuman sinis.


"Ia, Saiq ini mengajak saya mengobrol, dia memerintahkan saya untuk menikahi Kembang dan saya menolaknya dengan tegas." Beni mengungkapkan isi pembicaraan diantara mereka. Ia tidak ingin menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Mertuanya itu harus mengetahui ancaman yang hendak ditujukan kepada dirinya dan Ega.


Penuturan dari Menantunya itu membuat Angga terkejut. Dia menatap Wanita itu meminta penjelasan.


"Tidak, Pria ini berbohong. Saya hanya menceritakan tentang kearifan lokal di Desa ini. Karena dia tamu, itu membuat saya berkewajiban untuk menjelaskannya," jawab Wanita itu dengan lancar. Dia mengarahkan senyumnya kepada Beni. Senyum itu seperti gambaran akan kemenangannya.


"Atau jangan-jangan kamu menyukai Kembang dan ingin menikahinya. Jangan malu-malu jika suka, kenapa harus memutar balikkan kata. Berkunjunglah ke rumah, Kembang akan senang dengan kedatangan kamu." Wanita Paruh Baya itu berkata dengan wajah senang. Dia menghilangkan ketakutan dengan memutar balikkan kata untuk menjebak Beni.


Beni, lagi-lagi tersentak kaget. Dia menggelengkan Kepala membantah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2