
Sore yang cerah, Saik Aminah sibuk membersihkan Kebun dibantu oleh Ega. Sesekali terdengar canda tawa dari mereka berdua. Bibir mereka sibuk melemparkan canda tawa dibarengi tangan mereka gesit bekerja untuk membersihkan rumput liar yang menganggu pertumbuhan tanaman.
"Saik. Cerita dong tentang kisah cintanya, ada yang seru enggak?" tanya Ega disela kesibukan menyabit rumput liar.
Saik Aminah hanya tersenyum tak menjawab. Tangannya sibuk berkerja mengabaikan pertanyaan Gadis manis yang menemaninya. Sepertinya Saik Aminah enggan menceritakan masa lalunya.
"Jadi enggak mau cerita, nih? Saik Aminah pelit, ah," ucap Ega sesekali menyeka keringatnya.
"Kok pelit sih! kisah cinta Saik biasa aja enggak ada istimewanya. Zaman dulu mah pakai surat belum ada handphone apalagi yang namanya Medsos. Terus enggak ada tuh Bucin-bucinan." Pada akhirnya Saik Aminah mulai bercerita. Dia menghentikan kegiatan lalu pandangannya seakan menerawang masa lalu.
"Saik Aminah kok tahu tentang bucin, Saik ternyata gaul juga ya?" tanya Ega.
"Hehehe. gara-gara Sinetron jadi tahulah istilah Kid zaman now." Saik Aminah menjawad dengan diawali tawanya.
"Dulu tidak ada seperti sekarang kalau kangen tinggal telpon saja atau langsung datang ke rumahnya. Kita dulu jika kangen harus nulis surat. Terus begitu dapat surat senangnya minta ampun, kalau tidak bisa baca kita akan meminta tolong orang yang bisa baca untuk ngebacain surat tersebut." Saik Aminah melanjutkan ceritanya.
"Waduh ketahuan dong sama orang lain tentang isi surat itu, enggak ada privasinya dong?"
"Mau bagaimana lagi ya terpaksa suruh orang baca agar tahu isinya. Apalagi jika kita jadi Mak Comblang, kenyang kita karena apapun kita minta pasti dikasik, tinggal kita jual nama yang ditaksir langsung dah uang keluar," jawab Saik Aminah mengenang masa mudanya dulu. Dia tersenyum, karena mengingatkan hal lucu yang pernah di alaminya dulu.
"Zaman dulu harus punya modal gede dong biar dapat pujaan hati."
Saik Aminah menganggukkan Kepala untuk membenarkan pernyataan Gadis manis yang tetap asyik membersihkan rumput pengganggu. Namun Telinganya tetap aktif mendengarkan cerita Saik Aminah. Seketika itu dia teringat mendiang Suaminya yang selalu mengirimkan hasil kebunnya berupa Pisang, Singkong dan apapun hasil pertaniannya. Setiap dia datang pasti selalu membawa buah tangan. Tidak harus berupa makanan terkadang Saik Aminah mendapat buah tangan berupa semua Sabun dan bedak tabur bergambar bunga.
Aminah merupakan seorang Janda sebatang kara. Suaminya meninggal karena Sakit dan dia juga tidak memiliki keturunan. Pekerjaannya merupakan buruh tani. Sepeninggal Suaminya, selama ini dia menempati sebuah lahan kosong. Pemilik lahan kosong tersebut berbaik hati membiarkan Aminah menetap tinggal disana sekaligus mengelola lahan tersebut menjadi kebun sayuran.
Cukup lama Aminah menempati gubuk reotnya dan untuk menafkahi hidup, dia mengelola lahan milik orang lain dengan menanam beberapa sayuran, buah-buahan dan juga tumbuhan obat. Dari hasil Kebun itulah dia bisa menyambung hidupnya.
Setelah tanah tersebut dijual dan di beli oleh Ega, Aminah tetap diizinkan oleh Ega untuk menetap disana bahkan dibangunkan sebuah kamar tepat di samping rumah induk. Ega juga tetap membiarkan Aminah mengelola Kebun Sayurnya karena lahannya lumayan luas dan sebagian dari lahan tersebut dibangun sebuah rumah untuk tempat tinggal Ega dan Aminah. Karena Ega tinggal sendiri maka Aminah diangkat oleh Ega sebagai Ibu keduanya yang menemani sekaligus mengawasinya.
__ADS_1
"Iya seperti itu dah, kita komunikasinya menggunakan surat yang isinya puitis dan romantis gitu, ada yang menulis puisi dan adapula yang menulis Pantun. Entah siapa yang diminta tolong membuat surat-surat itu yang jelas ketika kita menerimanya seneng banget seakan terbang. Paling Saik Inget tentang surat-surat cinta zaman dulu yaitu pantun berisi ' Empat tambah tujuh sama dengan sebelas, Sempat tidak sempat harus dibalas. Ada juga nulis kalau ada Sumur di ladang boleh kita menumpang mandi, kalau ada umur kita panjang boleh kita berjumpa lagi dan terakhir pasti pantunnya Burung kutilang burung Cenderawasih, Cukup sekian dan terima kasih." Terdengar Saik Aminah melanjutkan ceritanya setelah beberapa menit terdiam mengingat masa lalunya. Saik Aminah kemudian tersenyum mengingat masa romansa di zamannya.
"Hahahahaha." Ega tidak bisa menahan tawa dan tawanya itu berhasil mengusir kesedihan yang dirasa. Pantun yang begitu lucu yang mampu mencairkan suasana tegang menjadi nyaman. Dulu mereka kaya akan sastra, mereka mendadak menjadi Pujangga cinta tatkala cinta itu mengetuk pintu hati lalu masuk dan bertahta di hati seseorang. Jelasnya, jatuh cinta.
"Wah ternyata zaman dulu lebih bucin dan romantis dari zaman sekarang. Kalau sekarang perasaan mereka lebih transparan dan tidak ada yang namanya malu, kalau suka langsung bilang, tidak peduli siapa yang duluan. Hati mereka lebih gamblang dan lugas," ucap Ega geleng-geleng kepala tentang tingkah remaja di zamannya. Mereka bebas mengekspresikan perasaannya. Tidak ada yang namanya Ilak-Ilak kelewe, ilak-ilak laguk mele (Malu tapi mau)." Ega melanjutkan pendapatnya sekaligus menggambarkan keadaan remaja sekarang yang tergelus kebebasan. Banyak diantara mereka harus merasakan kepahitan. Belum waktunya memikul beban tapi harus memikulnya karena kebablasan. Mau berkata apa? jika dalam diri sudah tidak adanya benteng sebagai pertahanan untuk melawan kebebasan itu. Iman itu seakan sulit dipegang bahkan sangat gampang terlepas manakala kemewahan dan gemerlapnya dunia dipertontonkan. Iman adalah benteng, tapi ternyata benteng itu sangat mudah runtuh. Seharusnya tetap kuat dan kokoh dipegang, bukan malah membiarkan cepat hancur di gempur oleh kehidupan yang bebas. Seharusnya moral kita yang tak boleh berubah tapi mindset kita yang berubah untuk selalu mengikuti perkembangan zaman. Kita harus mengikuti zaman tapi jangan membiarkan zaman memperdaya kita. Kita harus berpegang teguh pada iman kita sebagai benteng untuk memajukan langkah meraih masa depan yang gemilang di Dunia dan Akherat.
"Seperti Baiq dan Hasan, sama-sama malu mengungkapkan perasaan. Kalian berdua lebih memilih diam dan memendamnya dalam hati," ucap Saik Aminah hati-hati. Dia menatap Ega seketika itu juga wajah Ega yang awalnya ceria berubah menjadi mendung.
"Maafin Saik, karena sudah lancang membahas tentang Hasan," ucap Saik Aminah merasa bersalah.
Ega tersenyum untuk mengusir mendung diwajahnya.
"Tak apa, saya baik-baik saja. Memang benar rasa malu itu lebih besar dari rasa cinta itu sendiri. Saya malu menampakkan cinta di dalam hati karena bisa jadi ternyata cinta itu tidak bersambut. Sedangkan untuk menghasilkan suara, tangan itu harus disambut dengan tangan lainnya begitu juga cinta." Ega menanggapi komentar Saik Aminah dengan perkataan bijak. Meskipun saat ini dia galau tapi bukan berarti membiarkan kesedihan itu menguasai hatinya. Dia tetap harus melangkah dengan pasti bersama senyuman mekar. Apapun yang terjadi nanti mengenai kelanjutan hubungannya dengan Hasan, ia harus siap.
Semenjak kepulangan Hasan tidak ada khabar lagi mengenai Pemuda itu. Dia seakan menghilang bahkan Medsosnya dihapus. Ega seakan kehilangan jejak, nomor handphonenya tidak bisa dihubungi. Ega berusaha untuk menghubunginya namun nomornya tak aktif. Sepertinya San tidak menggunakan nomornya lagi yang biasa digunakan untuk menghubunginya. Mungkin saja San telah mengganti nomer Handphone. Dugaan itu yang ada dalam pikiran Ega. Gadis itu menyimpulkan, bahwa San sedang melupakannya.
"Apa Baiq, baik-baik saja? Kenapa terdengar sesak?" tanya Saik Aminah khawatir.
"Tidak ada apa-apa." Ega menjawab lirih. Dia menyadari dadanya sesak saat ini karena terlalu memikirkan ketidakjelasan yang terjadi. Dia tidak mau seperti ini? hidup dalam ketidakjelasan membuatnya tak bisa melanjutkan langkah. Jika dia melanjutkan langkah ternyata San inging melangkah bersamanya. Itu sama saja dia yang meninggalkannya. Namun jika dia hanya diam saja, dan ternyata San tidak ingin melangkah bersama, sama artinya dia membiarkan waktu terbuang percuma dan sia-sia. Tentu saja ketidakjelasan itu menghentikan langkahnya, kebimbangan itu yang menekannya. Dia tidak mau hidup seperti ini, dia ingin bergerak kearah yang lebih pasti.
"Kenapa Baiq tidak langsung saja menanyakan ke Hasan, mengapa dia tiba-tiba menghilang. Bukannya Baiq tahu alamatnya," saran Saik Aminah. Saik Aminah menatap Gadis manis disampingnya. Dia sedih dengan kisah cinta dari Gadis itu yang tak pernah pasti. Kariernya cemerlang, dia memiliki Sahabat yang sangat baik dan perhatian namun ternyata cintanya yang tak seperti kariernya. Dia pernah gagal menikah, begitu move on lagi-lagi dia terluka.
Ega menggelengkan kepala.
"Malulah Saik, apa alasan saya kesana? Apa kata keluarganya melihat seorang Gadis datang ke rumah laki-laki hanya untuk minta penjelasan kenapa tiba-tiba Pria itu menjauhinya. Saya punya harga diri, mungkin saja Hasan memang ingin menjauhi saya dan tidak ingin berhubungan lagi dengan saya," jawab Ega menolak saran Saik Aminah.
Angan kenapa kamu begitu Indahnya
Membuat rasa ini terlalu berharap
__ADS_1
Sedangkan kenyataan itu membeberkan bahwa tentangmu selalu menipu.
Mungkin saja aku pernah tertipu sedangkan untuk selanjutnya aku tidak ingin tertipu lagi dan lagi.
( Suara Hati Ega )
Ega pernah merancang sebuah pertemuan dengan Hasan. Pertemuan tidak sengaja di dalam kesengajaan. Ega pura-pura kesuatu tempat dan nyasar kesana kemudian mampir hanya sekedar untuk istirahat sejenak. Ketika mereka bertemu mereka bisa berbicara dari hati ke hati menjelaskan semua hal tapi diurungkan ide konyol itu.
Ega pernah berpikir untuk menyerahkan diri saja, mau tidak mau keluarga Hasan harus menerimanya tapi ide gila itu ditepisnya. Rasa malu itu kembali menendang segala ide yang tidak masuk akal yang hanya akan meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang Gadis.
Ega berpikir logis saja, jika Pemuda itu tiba-tiba menghilang berarti dia tidak ingin berhubungan lagi dengannya.
"Bangkitlah kemudian lanjutkan hidupmu," batin Ega mengingat pesan dari laki-laki itu.
"Sudahlah Baiq, kamu sabar ya? Cinta itu harus dimengerti dan jangan biarkan cinta itu terlalu menguasai kita hingga melakukan sesuatu di luar nalar. Tempatkan Cinta itu sefleksibel mungkin dan jangan terlalu kaku karena ketika kita tidak bisa menggapai cinta itu sendiri maka kita akan baik-baik saja." Saik Aminah memberikan wejangan kepada Gadis manis berhati baik yang bersedia menganggapnya keluarga.
"Cinta kepada Manusia terkadang menyakitkan karena itu bersifat fana dan semu sedangkan cinta kepada Allah seharusnya kita perjuangkan karena Allah tidak pernah ingkar dengan Janji-Nya." Saik Aminah melanjutkan nasehatnya setelah menjeda beberapa menit, memberikan ruang kepada Ega untuk memikirkan hal itu. Ega diam bukan berarti tidak mencerna apa yang disampaikan Saik Aminah. Dia sedang memikirkan hal itu dan membenarkan hal itu. Nalar, harus dipergunakan jangan hanya berbicara angan yang hanya sekedar keinginan namun tak ada kuasa untuk mewujudkan menjadi nyata.
"Bener banget Saik Aminah, tidak sepantasnya kita terus-terusan larut dalam kesedihan masih banyak yang harus kita lakukan. Kebahagiaan itu bukan hanya sekedar bisa meraih hati seseorang dan bisa bersamanya tetapi kebahagiaan itu adalah hati yang lapang disebabkan oleh keikhlasan dan kesabaran menerima segala takdir yang terjadi tentu saja dengan rasa syukur yang menjadikan kita kuat." Ega akhirnya sependapat dengan Saik Aminah. Dia juga mengingatkan dirinya untuk selalu bersyukur.
"Betul tuh, ada hikmah dari segala kejadian."
"Saik, doakan saya dari kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Saya manusia biasa yang memiliki sifat rapuh dan mudah terluka. Sekuat apapun manusia jika disakiti pasti akan tersakiti, jika ditinggal oleh orang yang diharapkan pasti akan merasa kehilangan dan terluka. Wajar kalau kita patah hati," ucap Ega mencurahkan rasa sedihnya. Entah kenapa dia merasa akan terluka lagi, kenapa pikirannya itu mengarah ke arah sana yang sulit sekali dia enyahkan. Dia tidak mau memikirkan itu, tapi dari sikap Hasan bisa ditebak luka itu semakin jelas dan nyata. Tunggu waktu saja, saat ini dia sudah mulai merasakannya dan waktu itu akan tiba untuk menghantam hatinya lebih parah lagi.
"Asal jangan menjadi gila saja," sahut Saik Aminah datar.
"Ayo siapa yang gila?" ucap seseorang dari arah belakang mengagetkan mereka berdua.
Bersambung.
__ADS_1