Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 32. Terungkap.


__ADS_3

Lexi Aditama melangkahkan kakinya dengan cepat menuju tempat Ega menunggunya. Dia tidak ingin Gadis yang disukainya menunggunya terlalu lama sehingga dia pergi meninggalkannya. Sesekali dia bershalawat kemudian mengingat cita - citanya dulu ingin menjadi seorang Hafidz namun sekarang kenyataan seakan menertawakan dirinya karena lebih memilih jalan gelap dan mendepak cahaya yang pernah dicita - citakannya.


Begitu sampai dihadapan Ega alangkah terkejutnya Lexi dengan apa yang dilihatnya.


" Mandala."


Mandala ada disana sedang bertengkar dengan Laki - laki paruh baya yang tak lain adalah Papanya sedangkan Lika terlihat gemetaran dengan raut wajah takut.


" Mandalaaaa." Teriak Lexi penuh amarah begitu melihat apa yang telah dilakukannya terhadap Laki - laki paruh baya itu.


" Lihatlah Lexi, Sahabatmu ini telah memukul Papa padahal Papa hendak menolong Gadis ini dari kejahatan Sahabatmu ini." Tiba - tiba Laki - laki paruh baya itu mengadukan apa yang dilakukan oleh Mandala kepada dirinya.


Tanpa meminta penjelasan apapun Lexi langsung memukul Mandala sehingga membuat Mandala terjatuh.


" Baji**n setelah Nara sekarang kamu mau menodai Ega Sahabat kamu sendiri." Bentak Lexi sambil meraih tubuh Mandala hendak memukulnya kembali.


" Hentikan Lexi, Abang Juna tidak melakukan apapun yang dituduhkan Om ini." Bela Ega langsung menghampiri Lexi.


Lexi tidak mendengarkan apa yang dikatakan Ega. Lexi mendaratkan bogeman kepada wajah Mandala namun malah mengenai wajah Ega yang melarainya.


" Aduuuuuh." Pekik Ega begitu mendapatkan hadiah bogeman dari Lexi.


" Egaaa." Teriak Lexi dan Mandala secara bersamaan.


" Kamu tidak Apa - apa?" Tanya Mandala Begitu khawatirnya.


" Saya tidak apa - apa Bang." Jawab Ega mengelus Pipinya yang terasa nyeri.


" Aku minta maaf Ga, tidak seharusnya kamu menyelamatkan Baji**n ini." Ucap Lexi melembutkan suaranya. Tangannya mengelus Pipi mulus Gadis itu yang memar akibat pukulannya. Lexi benar - benar merasa bersalah karena telah meninggalkan jejak disana.


" Aku tidak apa - apa, tenang lah Lexi semua ini salah faham. Abang Juna tidak melakukan apapun yang dituduhkan Om itu. Om itulah yang sebenarnya ingin melecehkan saya." Cerita Ega berusaha menenangkan Lexi yang sudah mulai kalap.


" Mereka bohong Lexi, Apa kamu tidak percaya sama Papa mu ini dan lebih percaya sama Sahabatmu itu dan Gadis ini. Mereka ingin menghancurkan hidupmu kembali. Coba kamu ingat apa yang pernah Mandala lakukan kepada Nara, Gadis yang kamu cintai." Sambar Papa Lexi berusaha untuk meyakinkan Putranya agar Lexi mempercayainya.


Ega geleng - geleng kepala berusaha meyakinkan Lexi melalui sorot matanya.


" Beliau ini Papa ku mana mungkin Beliau membohongiku. Akui saja Mandala kenapa tiba - tiba kamu ada disini. Kenapa kamu kembali, apa kamu ingin mengulang kembali apa yang pernah kamu lakukan kepada Nara." Bentak Lexi memandang Mandala dengan tatapan dendam.


" Saya tidak melakukan apapun yang dituduhkan. Kamu harus percaya kepadaku Lexi. saya ini Sahabatmu, Sahabat Nara dan juga Sahabat Ega. Saya menyayangi kalian jadi mana mungkin saya lakukan tindakan menjijikkan itu Lexi." Mandala mulai membela dirinya. Selama ini dia hanya diam menerima segala tuduhan yang dialamatkan kepada dirinya.


" Omong kosong, semua itu bulshit Mandala." Teriak Lexi sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Lexi kembali ingin melakukan serangan namun lagi - lagi Ega berusaha menghalau pukulan Lexi dengan tubuhnya sehingga Laki- laki itu mengurungkan niatnya. Dia mengepalkan tangannya menahan amarahnya.


" Dengar ini." Pinta Ega meminta Handphone Mandala yang aktif dengan sistem yang mereka pergunakan.


Terdengar suara seseorang sedang berbicara pada rekaman itu.

__ADS_1


***


Waktu Lexi pergi meninggalkannya untuk Shalat Magrib. Ega berjalan - jalan di tepi Pantai dengan bahagianya. Nampak senyumnya tidak hilang dari Wajahnya.


" Kenapa ini? Kenapa jantungku mendadak kencang, kenapa saya merasa deg - degkan ketika berada di dekat Lexi apalagi tadi aroma maskulin dari tubuh Lexi membuatku merasa nyaman. Tidak - tidak ini rayuan setan jadi saya tidak boleh membayangkan sesuatu yang bukan - bukan. Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah." Ega bermonolog sendiri sambil berusaha menenangkan irama jantungnya yang semakin kencang jika mengingat pelukan Lexi. Dia berkali - kali beristigfar agar membuatnya sedikit tenang. Disaat Gadis itu sibuk dengan pikirannya tiba - tiba datang seorang Laki - laki paruh baya menghampirinya.


" Hai Cantik, kok sendirian saja? boleh Om temenin." Sapa Laki - laki paruh baya itu dengan pandangan mesum dan tangannya berusaha mencolek dagu lancip Ega.


" Apaan sih Om, apa tangannya tidak bisa dikondisikan. jangan asal megang - megang." Galak Ega dengan cepat menepis tangan Laki - laki paruh baya itu sambil tangan kirinya meraba sesuatu dari saku gamisnya yang tidak lain adalah handphone. Secepat kilat Ega menekan handphonenya yang sudah diaktifkan sebuah sistem dengan hanya menyentuh Hp itu saja sistem itu langsung aktif kemudian terhubung ke handphone teman - temannya tentu saja terekam segala pembicaraan dan memperlihatkan posisi dari orang yang mengaktifkannya.


" Galak, Om suka dengan Gadis galak karena pastinya akan galak diatas ranjang Hahahaha." Suara tawa Laki - laki itu menggema di sekeliling. Tercium bau Alkohol begitu menyengat dari mulut laki- laki itu.


" Jangan macam - macam Om." Ucap Ega sudah mulai pasang kuda - kuda.


" Om tidak macam - macam hanya ingin mengajak kamu bersenang - senang kamu pasti suka. Rasanya enak kamu pasti akan minta lagi, lagi dan lagi. Hahahaha." Tangan Laki - laki itu kembali hendak memegang wajah Ega namun secepat kilat Ega mendaratkan tinjunya tepat di wajah Bandot Tua itu sehingga membuat hidungnya berdarah.


" Kurang hajar, berani - beraninya kamu memukuli saya Gadis kecil. Lihat saja apa yang hendak aku lakukan dengan tubuh kotormu itu." Bentak Laki - laki paruh baya itu emosi. Terlihat matanya mulai memerah memancarkan permusuhan disana.


" Kalian semua keluar, ringkus gadis kurang hajar ini." Teriak Laki - laki itu memanggil seseorang. Keluarlah dua orang preman datang entah dari arah mana. Tubuh keduanya tinggi besar dan wajahnya nampak menyeramkan.


" Nona manis, jangan membuat Bos marah. Turuti saja kemauannya. Kamu hanya menemaninya diatas ranjang dan menikmati sensasi yang begitu nikmatnya habis itu kamu bakalan di kasik uang banyak. Kalau kamu melawan tidak ada kelembutan lagi maka kita akan melakukan dengan kekerasan."


Ucap salah satu dari Preman itu menakut- nakutinya.


" Tidak takut, mari lawan saya jangan hanya berani membacot saja. Apa kalian tidak malu berhadapan dengan seorang Wanita. Apa kalian tidak lahir dari rahim seorang Wanita." Bentak Ega sudah siap melakukan perlawanan.


" hahahaha." Terdengar suara tawa Laki - laki paruh baya begitu bahagia karena anak buahnya berhasil meringkus Ega.


" Seret dia kesini." Perintah Laki - laki itu setelah meredakan tawanya.


" Jangan coba - coba melawan saya jadi begini jadinya. Kenapa susah banget diajak bersenang - senang." Ucap Bandot itu sambil membelai pipi Ega membuat Gadis itu berusaha memberontak. Bandot Tua itu hendak melepaskan hijab yang digunakan Ega namun tangannya keburu di pelintir oleh seseorang dari arah belakang.


" Om Indra, apa yang hendak Om lakukan sama Ega? Apa belum puas telah menodai Nara." Seseorang itu membentak Bandot Tua yang di Panggil Indra.


" Mandala, lepaskan saya. kalau tidak, lihat saja apa yang akan Om lakukan. Om akan membuat hidupmu mendekam seumur hidup di Penjara." Ancam Indra berusaha melepaskan diri dari kuncian yang dilakukan Mandala. Bersamaan itu terdengar suara teriakan Lexi sehingga spontan Mandala melepaskan kunciannya.


Ega mematikan handphone yang memperdengarkan kenyataan yang sebenarnya.


***


" Jadi Papa yang telah memperkosa Nara bukan Mandala, jawab Pa?" Teriak Lexi tidak percaya apa yang didengarkannya. Walaupun dia belum tahu pasti kalau Papanya adalah Pelaku dari pemerkosaan Nara beberapa tahun yang lalu tapi tingkah Papanya yang berusaha melecehkan Ega membuat Lexi meyakini kalau Papanya adalah Pelakunya.


" Kenapa Papa melakukan ini? Kenapa Papa tega melakukannya kepada Nara, Gadis yang Lexi cintai dan Papa juga telah memfitnah Mandala sehingga aku membencinya. Kenapa Pa? jawab Lexi Pa." Teriak Lexi meluapkan segala kekesalannya, kekecewaannya kepada Laki - laki paruh baya yang dihormatinya.


" Jangan dengarkan mereka Lexi, mereka berdua bersengkokol memfitnah Papa sehingga kamu membenci Papa mu ini." Sangkal Papanya Lexi yang bernama Indra.

__ADS_1


" Tenang lah Lexi, kamu sudah melihat kebenaran di CCTV itu kan? Kenapa malah terhasut oleh fitnah mereka berdua." Indra berusaha memperdaya Lexi agar tidak terpengaruh oleh apa yang didengarnya.


" Cukup Pa, sekarang mataku terbuka siapa Papa yang sebenarnya. Apa maksud Papa ingin melecehkan Gadis bernama Ega itu. Apa Papa lagi - lagi ingin menyakiti Lexi. Dulu Lexi mencintai Nara, Papa malah merenggut kehormatan Gadis yang Lexi cintai sekarang Papa lagi - lagi ingin menghancurkan Lexi untuk kedua kalinya. Ega itu Gadis yang aku cintai Pa kenapa tega - teganya melakukan itu." Ucap Lexi meluap - luap segala apa yang ingin dikatakan. Lexi benar - benar Shock ternyata Papanya yang melakukan semua ini. Beliau menyakiti Mamanya dan juga Nara sekarang Papanya hendak melecehkan Gadis yang dicintainya. kenapa Laki - laki yang begitu dicintai oleh Mamanya tega melakukan itu.


" Diam kamu Lexi, Papa memang memperkosa Nara karena tidak tahan melihat kemolekan tubuh Gadis itu dan Papa juga menginginkan Gadis ini karena dia begitu eksotis sehingga Papa tertantang ingin mencicipinya." Racau Indra dengan cepat bergerak menyambar tubuh Ega tanpa disadari oleh mereka. Pada akhirnya Indra mengakui itu.


" Hahaha, Papa memang pelakunya tapi tidak ada bukti yang menyeret Papa ke Penjara karena bukti itu sudah Papa hapus hanya memperlihatkan gambar saat Mandala menolong Nara. Bukti itu cukup kuat untuk menghukum Mandala. Papa hebat kan? menjadi Penulis Skenario dari Tragedi itu. Papa juga yang merencanakan kecelakaan Nara dan sialnya, lagi - lagi Mandala mengacaukan semuanya." Cerocos Indra sudah tidak terkontrol mengakui segala kejahatan yang pernah di perbuatnya. Indra yakin tidak ada bukti yang akan menghukumnya.


" Tono, panggil anak buahmu semuanya dan hajar mereka sedangkan aku ingin menikmati tubuh gadis ini. Pastikan bukti dari segala yang aku ucapkan tadi kalian hapus dari handpone mereka." Terdengar Perintah dari Indra kepada orang bernama Tono yang tidak lain adalah anak buahnya.


Dengan satu suara saja preman - preman yang entah darimana berasal sudah mulai datang mengepung Lexi dan Mandala.


" Lepaskan aku Om, jangan macem - macem." Teriak Ega sehingga membuat Lexi dan Mandala saling pandang. Mandala berusaha memberi kode yang dimengerti oleh Lexi. Mereka berdua sedang mengatur siasat untuk mendekati Indra.


" Diam, kalau tidak Pisau ini akan mengukir indah di pipi mulusmu." Bentak Indra sambil menempelkan pisau itu di Pipi Ega.


" Pa, jangan coba - coba menyakiti Ega. Lepaskan dia." Pinta Lexi sudah mulai ketakutan dengan keselamatan Gadis yang dicintainya.


" Minggir kalian, Papa akan melepaskan Gadis ini jika sudah puas merasakan tubuh indahnya. hahahahaha." Indra malah terbahak - bahak mengabaikan peringatan Lexi.


Saat mereka dalam kegentingan tiba - tiba Beni, Dipta dan Rian sudah berada di lokasi. Pemandangan pertama yang mereka lihat membuat mereka terkaget, sahabatnya berada dalam bahaya.


" Om hati - hati bermain dengan pisau kata Emak kalau kelolosan bisa melukai Om sendiri atau orang lain. Apa Om tidak kasian sama kulit mulus Gadis itu nanti kalau terluka bagaimana." Cerocos Dipta begitu saja membuat Rian yang ada disampingnya mentabok kepala Dipta.


" Aduh, apaan sakit tahu." Oceh Dipta tidak terima Rian menaboknya.


" Apa ante tidak lihat situasi sedang genting eh malah bercanda. Itu Ega sedang dalam bahaya." Ucap Rian kesal.


" Memangnya saya buta apa, saya lihat kali." Seru Dipta.


" Sudah diem, apa kalian tidak berpikir bagaimana caranya menyelamatkan Ega dari Bandot Tua itu." Beni mengingatkan kedua Sahabatnya yang sudah mulai ribut sendiri.


Mereka bertiga hendak maju namun Indra meminta mereka mundur kalau tidak dia tidak akan segan - segan melukai Gadis yang ada dalam genggamannya.


"Pa, Lexi mohon jangan sakiti Ega. Lepaskan dia." Mohon Lexi lagi berusaha membuka pintu hati Papanya namun Indra tidak mengubrisnya malah semakin menekan mereka membuat mereka belum bisa berbuat apa - apa demi keselamatan Ega karena tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu padanya.


" Om, lepaskan Ega. Istighfar Om bukannya memperbanyak ibadah malah bermaksiat terus. Apa Om tidak sadar apa, paling terdekat dari Om itu adalah kematian. Sadar om Dunia sudah Tua dan juga Om sudah Tua jadi sebentar lagi akan kiamat dunia om." Cerocos Dipta lagi tidak menyaring apa yang diucapkannya.


" Diam kamu." Bentak Indra tidak mendengarkan segala ocehan Dipta. Indra seperti kesetanan sehingga hati nuraninya sudah tertutup yang ada dalam bayangan hanya kesenangannya apabila bisa menikmati manisnya tubuh dari Gadis yang ada dalam genggamannya. Indra menyeret tubuh Ega hendak membawanya kedalam Vila sedangkan Sahabat - sahabatnya sudah mulai maju dengan hati - hati agar Indra tidak menggores sedikitpun Tubuh Ega. Anak buah Indra mencoba menghalangi mereka sehingga terjadi baku hantam.


" Berhenti kalian, kalau tidak aku tidak akan segan - segan mengukir Wajah Gadis ini." Ancam Indra begitu menyadari kalau anak buahnya kewalahan menghadapi Mandala and The Gengs ditambah Lexi yang memiliki ketangkasan yang cukup tinggi.


Mereka berhenti melakukan perlawanan karena takut Indra akan melancarkan ancamannya. Lexi cukup paham watak Papanya dia tidak main - main dengan segala ucapannya apalagi berbentuk ancaman.


Terpaksa mereka angkat tangan. Di saat mereka menyerah tiba - tiba seseorang melumpuhkan Indra kemudian mengambil alih Pisau yang di Pegangnya

__ADS_1


" Buuuugh." Terdengar pukulan yang membuat Ega terlepas dari bahaya.


Bersambung.


__ADS_2