
“Tidak mungkin dia?” sanggah Juna tak percaya dengan apa yang didengar.
Pada rekaman pembicaraan itu, terdengar suara Ivan menyebut nama Lexi dalam pembicaraan mereka.
[Aku sudah mencelakakan Isteri dari Beni Hardian, seperti perintahmu. Sekarang giliran kamu memenuhi keinginan Anita, Lexi Aditama]
[Hahahaha]
[Memang benar, tidak ada mantan Saudara tapi Gadis yang teramat kamu cintai bisa menjadi mantan. Pilihan yang tepat Ivan Alkaeri. Tidurku akan nyenyak malam ini. Sesuai janjiku, aku akan menikahi Anita Alkaeri]
[Lakukan]
[Okay]
Mereka terkejut begitu mendengar percakapan yang berhasil di dapatkan oleh Evan. Tidak menyangka Evan berhasil melacak dan mendapatkan bukti rekaman percakapan itu. Otak Evan memang canggih, terucap rasa syukur dari Pemuda itu atas anugerah yang diberikan Tuhan untuknya.
Semua pasang mata memandang ke arah Juna. Tidak ada yang berani menanggapi karena tentu Juna yang paling tahu tentang Lexi Aditama.
Ega juga menyangkal kalau Lexi yang melakukannya. Dia menilai Lexi merupakan Pria yang baik meskipun dia pernah terjebak dalam dunia hitam. Namun Ivan juga tidak mungkin salah menyebutkan nama. Bukankah Anita pernah menjalin hubungan dengan Lexi. Mengenai Ivan, kenapa dia setega itu melibatkan diri dalam kejahatan. Apakah dia sudah berubah? Dimana Ivan yang dulu? Apa karena Lexi dan demi kebahagiaan Anita sehingga mengabaikan hati nuraninya sendiri. Banyak Pertanyaan bermunculan dalam benak Wanita itu membuat kepalanya pusing.
“Aduh!” Ega mengaduh. Beni yang berada di sampingnya sontak mengalihkan perhatian.
‘Kamu kenapa?” tanya Beni panik.
“Tidak apa-apa Kak, hanya sedikit pusing,” sahut Ega mengulas senyum.
“Kamu istirahat saja, aku takut terjadi apa-apa dengan kamu apalagi kamu belum pulih benar,” pinta Beni hendak membimbing Isterinya. Ega menolaknya dengan menggelengkan kepala. Dia ingin mengetahui kebenaran itu sehingga tak berlarut-larut hidup dalam ketidak tenangan.
“Baiklah, nanti kalau kamu tidak kuat. Istirahat saja, jangan membantah,” ucap Beni tegas.
Ega hanya membalas dengan anggukan dan senyum manisnya sebagai cara menegaskan bahwa dia baik-baik saja.
‘Mengapa kamu yakin kalau Lexi tidak mungkin melakukannya?” tanya Evan penasaran.
“Saya tahu Lexi, dia orangnya tidak tegaan. Meskipun dia terkesan dingin dan juga pernah terlibat dalam pergaulan bebas, saya yakin tidak menghilangkan sifat baiknya,” sahut Juna yakin.
“Bisa saja dia berubah seiring rasa sakit yang pernah dia alami.” Dipta menimpali perkataan Juna. Dia melihat Juna menggelengkan kepala menyangsikan bahwa Lexi melakukan kejahatan itu.
Sedangkan Beni tidak berkomentar apapun, dia masih bingung dengan semua ini. Jika benar Lexi yang melakukan itu tapi mengapa dia lakukan dan apa hubungannya dengan Ega.
“Yakin kalau orang yang berbicara dengan Ivan itu adalah Lexi Aditama?” tanya Rian akhirnya ikut berbicara. Dia sedari tadi hanya terdiam dan menyimak rekaman itu.
Semua terdiam saling pandang.
“Benar juga, apa mungkin orang yang bernama Lexi Aditama itu adalah orang yang sama dengan Lexi Aditama yang kita kenal. Siapa tahu namanya sama tapi orangnya berbeda,” sahut Dipta mendukung pertanyaan Rian.
“Itu memang suara Lexi, saya sangat mengenal suaranya. Oh ya Van coba kamu memperlihatkan nomor Handphone yang dihubungi Ivan,” ucap Juna membenarkan bahwa suara itu memang milik Lexi Aditama, sahabatnya.
Evan kembali fokus kepada Laptopnya. Tadi memang sudah mengakses nomor Handphone yang dihubungi Ivan. Setelah dapat, dia memperlihatkan nomor itu dan nama yang terdaftar sebagai pemilik Handphone. Memang benar, nama Pemilik adalah Lexi Aditama.
Juna melihatnya, dia juga mengecek pada Handphone apa dia menyimpan nomor itu.
“Ada dua nomor,” ucap Juna memberitahu.
“Kita hubungi saja Lexi, kita harus mendapatkan keterangan dari dia. Kamu hubungi saja nomor yang terbaru sedangkan nomor yang lama biar Evan yang menghubungi. Kita pastikan apakah Lexi mengangkatnya dalam waktu bersamaan,” ucap Beni memberikan petunjuk.
"Maksudnya berarti ada dua Lexi?" tanya Evan yang dijawab anggukan oleh Beni.
__ADS_1
“Apa mungkin itu?" tanya Evan tak percaya.
"Kita mencoba saja."
Evan dan Beni akhirnya mengikuti saran Beni.
"Saya yakin Lexi tidak mungkin berbuat jahat. Buktinya dia tidak bertindak apapun meskipun Lexi sangat membenci saya karena Nara. Dia bisa saja memerintahkan para preman untuk mencari dan menyiksa saya untuk melampiaskan rasa bencinya tapi dia tak melakukan itu. Dia malah menyakiti dirinya sendiri untuk melampiaskan rasa sakit di hatinya.” Juna menimpali perkataan Beni. Dia yakin, Beni menyangsikan bahwa Lexi pelaku dibalik semua ini.
Setelah berkata Juna menghubungi nomor Lexi yang diberikan sesaat sebelum kepergiannya. Cukup lama menunggu, tidak ada jawaban membuat Juna kian penasaran. Dia menghubungi kembali nomor Lexi, pada saat bersamaan Ivan juga menghubungi nomor Lexi yang dihubungi oleh Ivan.
Namun dua nomor itu tidak ada yang bisa dihubungi. Mereka menunggu sesaat untuk melakukan panggilan kembali. Saat mereka tenggelam dalam pikiran, tiba-tiba Handphone Juna bergetar. Melihat siapa yang menghubungi, dia memberikan perintah untuk tak bersuara karena itu dari Lexi. Juna menyalakan Loudspeaker agar bisa bersama-sama mendengarkannya.
Juna memberi salam yang dibalas salam oleh Lexi. Terdengar suaranya sangat tenang di seberang. Dia juga meminta maaf karena tidak langsung menjawab panggilan Juna karena ada yang dikerjakannya. Juna dan Lexi berbasi-basi menanyakan khabar masing-masing.
[Man, bagaimana khabar Ega? Apa dia baik-baik saja?]
Juna melihat ke arah Ega dan juga Beni. Pada raut Ega terpampang kekhawatiran entah tentang apa sedangkan Beni terlihat keheranan.
[Alhamdulillah, dia baik-baik saja]
[Alhamdulillah, sampaikan salamku kepadanya. Apakah dia masih menungguku, maksudku dia bersedia menungguku?]
Deg
Juna tidak sanggup berkata apapun. Dia tidak lantas menjawab, pikirannya berkecamuk memikirkan apa yang harus dikatakan kepada Lexi. Dia tidak melaksanakan amanah yang diberikan Lexi. Dia juga tidak menyampaikan pesan yang diminta oleh Lexi agar Ega menunggunya. Jika saja dia sampaikan mungkin saja saat ini Gadis itu akan menunggu Lexi dan tidak menjadi Isteri dari seorang Beni Hardian.
Terdengar suara helaan disana lalu dengan bergetar Lexi kembali memperdengarkan suaranya.
[Aku merindukannya, Man. Setiap saat jika mengingat Ega rasa rindu itu kian nyata. Untuk menahannya, aku selipkan dalam doa agar Tuhan menjodohkan kami. Sekarang ini aku belum layak menjadi Imamnya. Sampaikan padanya, tunggu sebentar lagi agar aku lebih pantas mendampinginya]
Deg
Beni tak kuasa menahan rasa cemburu di hatinya. Dia tidak menyangka ada Pria lain mengharapkan Gadis yang kini sudah sah menjadi Isterinya.
[Ah ya, aku terlalu terus terang, karena hanya kamu yang aku percaya mendengarkan suara hatiku Man. Mungkin aku terlalu rindu sehingga berkata jujur seperti ini]
Lexi menimpali setelah tidak ada tanggapan dari Juna di seberangnya.
[Ega mengalami musibah, dia terjatuh menuju jurang saat kita pulang dari air terjun sendang gile]
Juna mengalihkan pembicaraan dan langsung saja ke tujuan dia menghubungi Lexi.
[Astaghfirullah, Innalillahi. Apa Ega tidak apa-apa? Kenapa bisa terjatuh?]
Semua orang mendengarkan kepanikan dan rasa khawatir yang berhasil ditangkap dari nada Pria itu.
[Dia baik-baik saja, ada seseorang yang berusaha untuk mencelakakan Ega dan kami berusaha menyelamatkan Ega tapi gagal, dia terjatuh ke jurang. Untung saja ada Tim penyelamat yang turun ke Jurang dan mengevakuasi Ega. Setelahnya di rawat di Puskesmas Bayan, disana juga Ega kembali di serang untung saja ada Beni yang menyelamatkan Ega dan membawanya lari dari Puskesmas]
[Innalillahi, siapa orang yang tega melakukan itu? Apa Ega punya musuh?]
[Tidak, kita tidak tahu apa alasan dia mencelakakan Ega]
[Ya Allah, berarti Ega dalam bahaya. Maaf aku tidak bisa melindunginya, hanya doa yang mampu aku panjatkan agar Ega senantiasa dalam Perlindungan-NYA]
Setelah Juna dan Lexi mengobrol panjang lebar, menceritakan segala kecurigaan pada akhirnya Lexi mengakhiri obrolan karena dia hendak menuju Masjid.
Selepas obrolan itu berakhir, saat itu kebingungan itu menjeratnya. Apa yang harus dikatakan jika Ega menuntut penjelasan.
__ADS_1
“Membingungkan,” ucap Dipta menggaruk kepalanya yang mulai gatal karena masalah yang tambah rumit.
“Iya, saya menyangsikan kalau Lexi yang melakukan itu. Jika kita menyimak kata perkata, dia sepertinya tidak mengetahui apapun tentang Ega,” ucap Evan menambahkan.
“Lagi dimana dia, sih? Ane malah lebih penasaran dengan kalimat Lexi yang mengatakan ‘Apakah dia masih menungguku, maksudku dia bersedia menungguku.” Rian mempertanyakan kalimat yang diucapkan oleh Lexi.
Juna terdiam, gurat wajah kian menegang. Ada rasa bersalah yang nampak disana. Semua pasang mata tertuju ke arah Juna, karena hanya Juna-lah yang mengetahui hal ini.
“Abang jelaskan? Kenapa Lexi mengatakan hal itu? Apa maksudnya? kenapa dia mengira aku akan menunggunya, menunggu untuk apa? Dia tidak pernah meminta saya untuk menunggunya.” Ega menanyakan apa yang diucapkan oleh Lexi. Dia ingin kejelasan agar tidak terjadi salah faham di antara dia dan Beni.
Juna menarik nafas berat, dia benar-benar frustasi tapi mau tidak mau harus menjelaskannya.
“Lexi pernah meminta Abang untuk memberikan surat sebelum dia pergi meninggalkan Daerah ini. Abang tidak tahu isi surat itu dan sebelum pergi Lexi meminta Abang untuk menyampaikan pesannya kepada kamu. Dia berpesan agar kamu menunggunya dan ketika dia kembali dia akan langsung melamar kamu. Namun surat dan pesan Lexi tidak Abang sampaikan. Abang memilih menyimpan surat itu dan juga tidak menyampaikan pesan itu. Abang pikir Lexi hanya becanda. Maafkan Abang, Ega. Sungguh Abang menyesal dan juga merasa bersalah dengan Lexi.” Juna menjelaskan apa yang pernah diamanahkan oleh Lexi.
“Astaghfirullah. Jadi Lexi mengira aku menunggunya karena pesan itu?” tanya Ega yang dijawab anggukan oleh Juna.
“Kak Beni, aku tidak tahu menahu soal ini dan aku juga tidak ada pera. …!”
Beni memotong kalimat Isterinya dengan menaruh jari telunjuk di bibirnya. “Aku percaya sama kamu. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menjelaskan kepada Lexi tentang pernikahan kita. Kamu juga tidak mengetahui tentang dia meminta kamu untuk menunggu.” Beni berusaha menenangkan Isterinya. Dia tidak menyalahkan karena memang Ega tidak mengetahui tentang pesan itu. Beni juga mempercayai bahwa Isterinya itu hanya mencintai dirinya.
“Biar saya yang akan menjelaskan kepada Lexi. Itu semua karena kesalahan saya. Saya munafik, tidak menjalankan amanah Lexi,” ucap Juna. Dia yang akan menyelesaikan permasalahannya dengan Lexi Aditama. Dia menyesal karena alasan perasaan sehingga mengabaikan amanah. Nyatanya perasaan dia abaikan juga dan memilih tak bersama orang yang ada di hatinya, Ega.
“Apa mungkin Lexi sudah mengetahui kalau Ega sudah menikah. Dia marah kemudian mencelakakan Ega dengan memanfaatkan Ivan.” Evan bersuara mencoba menarik kesimpulan dari kejadian ini. Dia mengabaikan amanah yang pernah dipesankan oleh Lexi kepada Juna.
Mereka saling pandang, Juna masih menyangsikan kalau Lexi yang melakukan itu.
“Sebaiknya kita hubungi nomor Lexi yang di hubungi Ivan. Kita lihat apa yang akan terjadi,” ucap Beni memberi usul.
Mereka mengangguk menyetujui itu. Dengan cepat Evan kembali menghubungi nomor itu. Tidak ada balasan, berulang-ulang Evan menghubungi namun tetap nomor itu tidak aktif.
“Sial, apa nomor ini tidak terpakai lagi setelah Ivan menghubunginya?" Tanya Evan entah kepada siapa.
Hening, tak ada jawaban karena memang tidak ada jawaban saat ini.
“Sebaiknya kita istirahat. Ini juga sudah larut malam. Besok kita bahas lagi,” ucap Beni mengakhiri diskusi mereka untuk malam ini. Melihat teman-temannya sudah tidak mampu untuk berpikir lagi.
“Jadi kamu menginap di kamar cowok-cowok keren, Van?” Beni menimpali perkataannya.
“Jadi, saya sama Juna,” sahut Evan.
“Kalau begitu ane sama Dipta pulang, besok hubungi kapan kita ngumpulnya lagi,” ucap Rian. Setelahnya dia berpamitan disusul oleh Dipta.
“Malam ini saya bakalan tidur nyenyak ini karena lelah otak,. Semoga saja dalam mimpi diberikan petunjuk oleh Tuhan siapa Lexi yang sebenarnya. Apa mungkin ada dua Lexi, ah pusiiiiing,” ucap Dipta saat dia melangkah ke arah Motornya. Tidak ada tanggapan dari Rian. Pria berkulit cokelat itu memilih untuk masuk ke dalam Mobilnya. Karena dia juga bingung harus berkata apa.
Sementara Evan dan Juna memilih untuk melangkahkan kaki menuju lantai dua tempat kamar cowok-cowok keren berada.
Sepeninggal teman-temannya, Ega menarik nafas panjang. Dia belum lega sepenuhnya karena belum mengetahui dengan jelas siapa Lexi yang dimaksudkan oleh Ivan. Apa motif semua ini, apa karena dia tidak menunggu Pria itu? sehingga terjadi seperti ini. Bukan kesalahannya, karena dia tidak mengetahui apa-apa. Namun kenapa dirinya dipersalahkan dan menjadi tujuan amarah itu.
“Apa mungkin Lexi?”
Beni seakan mengetahui arah pikiran Isterinya itu. Dia meraih tubuh lemah itu karena beban berat yang mendadak menjeratnya, membimbing menuju kamarnya semasa masih Gadis.
“Jangan dipikirkan sayang, kita akan menemukan siapa sebenarnya Lexi? Kak Beni juga yakin bukan Lexi pelakunya, kita akan langsung mengarahkan tujuannya kepada Ivan. Dia yang tahu siapa sebenarnya Lexi,” ucap Beni menenangkan Isterinya.
“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Ega penasaran dengan rencana Beni.
“Besok kita akan bahas lebih lanjut,” ucap Beni. Dia memita Ega untuk merebahkan tubuh kemudian dia juga merebahkan tubuhnya di samping tubuh Isterinya. Memeluknya agar memberikan rasa nyaman kepadanya.
__ADS_1
Bersambung.