Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
bab 21. Cerita Saik Aminah.


__ADS_3

"Ayo siapa yang gila?" tanya seseorang dari arah belakang.


"Copot copot copot, aku gila, aku gila, aku gila," ucap Saik Aminah saking kagetnya karena Nina tiba-tiba muncul dihadapannya macam Dedemit saja.


"Hahahaha, denger musik langsung joget," ucap Nina lagi sambil menggelitik pinggan Saik Aminah.


Otomatis Saik Aminah berjoget sambil mengucapkan " joget, joget, joget."


"Hahahaha Saik Aminah lucu, liat tuh tingkahnya," ucap Nina sambil terus saja tertawa sampai matanya


mengeluarkan air.


Sementara Ega geleng - geleng kepala dengan keusilan Nina.


"Usil banget sih kamu, tidak sopan tahu sama orang tua entar kualat kamu baru nyahok. Suka bener ngerjain Saik Aminah, Saik Aminah latah. Apa kamu pikir tidak capek apa ngomong diulang-ulang apalagi disuruh joget kayak gitu." Ega mengomeli Nina yang dirasa sudah keterlaluan.


"Maafin Nina ya Saik Aminah habisnya lucu sih, terhibur jadinya saya."


Saik Aminah hanya diam saja malas menanggapi ucapan Nina yang meminta maaf kepadanya. Saik Aminah mengatur nafasnya karena merasa lelah. Dia kemudian masuk ke dalam rumah dan tidak menghiraukan Nina yang mengiba maaf darinya.


"Salah sendiri, suka bener ngerjain orang sekarang Saik Aminah marah tuh," ucap Ega melihat raut wajah Nina yang meminta bantuan kepadanya untuk membujuk Saik Aminah agar mau memaafkan Nina.


"Ga. bagaimana ini, Saik Aminah beneran marah tadi, kan saya hanya bercanda tumben juga Saik Aminah marah biasanya anteng-anteng saja." Nina mengucap dengan nada lirih penuh penyesalan.


"Ada saatnya orang bisa marah jika merasa itu kelewatan dan tidak selamanya anteng-anteng saja begitu dirinya disakiti. Mungkin saja hari ini kamu lagi sial karena Saik Aminah lagi Badmood."


"Gawat dong," guman Nina sedih. Dia segera menghampiri Saik Aminah yang lagi ngambek.


"Saik Aminah saya minta maaf, tadi saya hanya bercanda tidak bermaksud menyakiti Saik Aminah," ucap Nina menghampiri Saik Aminah yang sedang duduk di Kasurnya. Saik Aminah nampak kelelahan dengan apa yang diperbuat oleh Nina. Pasalnya, dia merasa Nina tidak menghormatinya sebagai orang tua.


Saik Aminah hanya diam saja sambil mempermainkan tangannya meminta Nina untuk keluar dari kamarnya.


Nina menghela nafas pelan, Dia kemudian keluar dari kamar Saik Aminah dalam keadaan merasa bersalah banget.

__ADS_1


"Sudahlah Nina, biarkan Saik Aminah sendiri dulu menenangkan diri. Mungkin Dia terlalu kaget atau mungkin lagi lelah juga," ucap Ega menenangkan.


"Bener juga sih? aku kelewatan juga becandanya enggak lihat sikon. Siapa tahu aja sore ini Saik Aminah lagi Bad mood." Nina sangat menyesali apa yang dilakukannya kepada Saik Aminah. Tadi dia hanya bercanda tapi bercandanya bikin Saik Aminah kelelahan karena candaannya.


"Oya ada apa? Kok tumben kamu kesini? Pasti ada sebab musibabnya?" tanya Ega penasaran atas kedatangan Nina di luar dari kebiasaannya.


Nina lebih memilih mendudukkan tubuhnya disofa kemudian menyenderkan punggungnya.


"Ga!" Panggil Nina begitu melihat Ega hendak masuk ke kamarnya karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


"Kenapa?"


"Tadi aku lihat Beni di Mall sedang makan di salah satu Cafe bersama anak perempuan berusia sekitar empat tahunan dan juga perempuan dewasa, cuma aku tidak melihat siapa perempuan itu. Kira-kira siapa, ya? Kamu tahu enggak?" Nina bertanya dengan apa yang dilihatnya tadi padi di Mall. Mungkin saja Ega tahu siapa Wanita dan anak kecil bersama Beni.


"Taulah, itu anaknya Beni bernama Anisa sedangkan Perempuan itu pastinya Mamanya Anisa," jawab Ega santai seolah tidak terkejut dengan pertanyaan itu.


"Apa, Beni sudah punya anak?" tanya Nina kaget. Nina tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Iya, biasa aja kali Nin, kok kaget amat, amat aja enggak kaget lo!" sambut Ega bingung melihat raut wajah Nina yang berubah memerah.


"Iya, semua teman juga tahu kalau Beni sudah punya anak. Saya pikir kamu sudah tahu? Kemana aja sih Nin kok sampai enggak tahu kalau Sahabatnya sudah punya anak? makanya jangan terlalu asyik sama Omnya jadi gini deh enggak tahu kehidupan Sahabatnya sendiri," jawab Ega menggelengkan Kepala. Beni memang tertutup tapi bukan berarti kita cuek dengan sahabat sendiri. Seorang Sahabat yang baik pasti harus mengetahui informasi tentang Sahabatnya sendiri walaupun itu sedikit sebagai rasa untuk saling mengenal satu sama lain.


Nina terlihat muram, sebagai Sahabat dia benar-benar tidak mengetahui perihal ini. Nina ketinggalan informasi mengenai sahabatnya sendiri. Apa karena Beni terlalu tertutup atau dirinya yang terlalu cuek dan sok sibuk sehingga luput dari pengetahuan padahal semua Sabahat sudah mengetahuinya.


"Berarti si Beni udah punya Isteri dong?" tanya Nina galau.


"Kenapa?" tanya Ega menyelidi perubahan wajah Nina.


"Kemarin aku nembak Beni dan ditolak, pantas saja ditolak karena dia ternyata sudah menikah." Nina menjawab dengan raut wajah sedih


"Madha? Kamu nembak Beni?" tanya Ega terkejut.


Nina menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Kamu suka sama Beni?" tanya Ega setelah dia bisa menguasai diri dari ketekejutannya.


"Iya, memang salah ya?"


" Tidak salah karena kita tidak tahu dengan siapa kita akan jatuh cinta namun kita bisa memilih untuk mendekatinya atau menjauhinya. Tinggal kita yang memilih karena cinta itu tidak pernah salah, terkadang kita yang tidak bisa memahaminya karena cinta itu cukup dengan cinta itu sendiri. Artinya kita tidak bisa memaksa jika ternyata cinta itu tidak menyambut kita. Cinta itu tahu siapa yang berhak menerimanya. Oya mengenai Beni sudah punya Isteri saya juga tidak tahu karena Beni tidak pernah cerita tuh," ucap Ega menjelaskan. Ega seakan menjaga rahasia Beni meskipun dia tahu sesuatu.


"Kalau sudah punya anak berarti sudah punya Isteri dong, lantas darimana adanya anak kalau bukan sudah menikah?" ucap Nina seperti bertanya.


"Saya tidak tahu juga, Beni pernah cerita kalau Anisa merupakan sebuah musibah dimasa lalu tapi kehadiran Anisa merupakan anugerah dibalik musibah itu bagi keluarganya." Ega sedikit membuka kisah tentang hubungan Anisa dengan Beni.


"Musibah? Apa itu artinya Anisa lahir di luar nikah hasil hubungan gelap Beni dengan pacarnya, apa seperti itu?" tanya Nina tidak bisa menyembunyikan kekecewaan jika benar itu terjadi. Kenapa terlintas pemikiran negatif dalam pikirannya terhadap Beni tapi masak iya Beni seperti itu sedangkan Beni yang dikenalnya begitu dingin terhadap lawan jenisnya dan tentu saja selalu menjaga jarak dan pandangannya. tapi bisa jadi itu hanya kedok untuk menutupi masa lalunya yang busuk.


Ega menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak bertanya lebih jauh, sepertinya Beni tidak nyaman menceritakan masalah pribadinya. Saya percaya sama Beni, laki-laki itu tidak sehina itu. Beni tidak mungkin melakukan hubungan yang dilarang Allah. Mungkin saja Anisa itu kehilangan kedua orang tuanya kemudian diadopsi sama Beni, itu mungkin maksud dari Beni. Saya percaya kok Beni masih lajang dan tidak bohong dengan statusnya itu dan satu lagi saya percaya Beni itu bukan laki-laki tidak bermoral apalagi sampai menghasilkan anak diluar nikah," ucap Ega mencoba mengurai pendapatnya.


"Benar juga sih, dari semua cowok yang menjadi teman kita, Dia satu-satunya yang paling baik, dingin sama cewek dan selalu menjaga jarak dan pandangannya sama lawan jenis dan juga yang pastinya dia itu agamis banget tidak pernah lupa sama waktu tidak seperti yang lainnya masih lalai," sahut Nina mencoba menepis pikiran Su'udzon.


Ega menganggukkan Kepalanya tanda menyetujui penilaian Nina terhadap Beni.


"Jadi mana mungkin Beni berbuat di luar dari koridor agamanya," sahut Ega yakin dengan kepribadian Beni.


"Astaghfirullah, sebenarnya aku kesini mau menunggu Beni. Tadi Beni nelpon mau ngajak aku makan malam bersama orang tuanya. Mau di kenalin sama orang tuanya. Kenapa aku jadi deg degkan gini, apa mungkin saya mau dijadiin menantu mereka." Nina menceritakan perihal Beni yang mengajak  makan malam bersama keluarganya. Dalam angannya dia berharap dapat menjadi bagian dari keluarga  Beni. Impiannya saat ini yaitu mendapatkan cinta Beni dan hidup bersamanya.


"Semoga saja Nin, saya senang kalau kamu jadian sama Beni," sahut Ega tulus. Dia tidak memiliki perasaan apapun kepada Beni. Hubungannya hanya sebatas Sahabat tidak lebih dari itu. Saat ini di hatinya hanya untuk Pemuda yang bernama Hasan. Meskipun saat ini belum ada kejelasan mengenai hubungannya.


"Kalau gitu aku siap dulu, numpang mandi dulu, dirumah ramainya jadi minta dijemput disini saja," ucap Nina sambil beranjak ke Kamar mandi.


Ega hanya menanggapi dengan senyuman. Dia senang menyaksikan Nina bahagia apalagi Beni adalah laki-laki yang baik.


Ega juga segera untuk membersihkan diri menggunakan kamar mandi luar.


Setelah mereka melakukan ritual bersih-bersih, ketiga wanita itu melaksanakan ibadah Shalat magrib secara berjamaah di Musholla keluarga Ega yang ada di halaman depan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2