Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 25. Laki - laki Misterius.


__ADS_3

"Dibalas," teriak Ega memberitahu membuat Rian terkaget.


"Astaghfirullah, kenapa suka banget buat Masnya ini kaget, bisa copot jantung ane Ga," ungkap Rian sambil mengelus dadanya.


Sementara yang lain menatap Ega penasaran apa yang dikatakan akun palsu itu selanjutnya.


"Bagus kalau begitu, aku bisa manfaatkan kamu untuk memuluskan niatku. Aku hanya minta milikku saja."


Tertulis kalimat seperti itu dalam balasan yang disampaikan oleh Akun Palsu itu.


"Kita jawab apa ini?" tanya Ega meminta saran apa yang akan ditulisnya selanjutnya.


"Balas saja begini, 'Siapa yang menjadi milikmu? Gadis Cantik itukah? Karena jujur Gadis itu memang cantik jadi banyak orang yang mengaku kalau Gadis itu miliknya'. Tulis itu saja kita lihat responnya." Beni mengutarakan kalimat yang harus ditulis untuk menjebak Akun Palsu itu.


Ega menulis seperti apa yang disampaikan Beni. Setelah kalimat itu selesai ditulis dia ragu-ragu untuk menekan kirim. Dalam pikiran Ega kemungkinan bukan Nina yang di incar oleh Akun Palsu itu tapi salah satu dari para Laki-laki yang ada di sekelilingnya. Nina memang Play Girls yang suka gonta ganti pacar dan pacarnya itu kebanyakan Om Om jadi mana mungkin salah satu dari mereka yang sedang meneror, itu sungguh perbuatan kekanakan.


Ega menatap Beni meminta penjelasan. Beni memandang Ega dengan kepala mengangguk untuk meyakinkannya.


"Kita sedang memancing Ga, jadi ikuti saja apa yang diucapkan Beni," ucap Juna kemudian mendukung langkah yang dilakukan Beni. Ega mengikuti saja dengan mengirim kalimat itu.


Tidak butuh waktu lama, akun palsu itu membalas dengan Emotion mengejek.


"Aku tidak suka Wanita itu, secantik apapun dia dan sayang sekali hasrat ini tidak bersemangat memandangnya walaupun kata orang Gadis itu seksi dan cantik akan tetapi aku lebih menarik dari Gadis yang kamu maksud."


"What? aku jadi pusing dengan kalimatnya. Dia cewek atau cowok sih?" tanya Dipta mengelus keningnya yang sudah mengkerut. Tidak ada keindahan disana.


"Kenapa lapangan Futsalnya, apa terkena angin topan makanya jadi berantakan seperti itu?" ledek Rian melihat kening Dipta yang lebar bak lapangan Futsal.


"Saya tidak lagi baik jadi jangan banyak bicara," sahut Dipta terlihat serius untuk berpikir.


"Ups sepertinya kita dapat Client untuk memperbaiki hati seorang Manusia pada Bengkel hati milik Ega. Ega siapkan Jus Parenya," celoteh Juna lalu tertawa lebar.


Ega hanya diam saja tanpa mengindahkan gurauan sahabat-sahabatnya. Ia lebih tertarik dengan akun palsu ini. Sedikit lagi mereka mendapatkan informasi siapa sebenarnya yang menjadi targetnya. Benar kata Dipta sebenarnya Akun Palsu ini laki-laki atau Perempuan karena tidak ada info jelas mengenai Pemiliknya.


"Apa dia cewek? mungkin saja ia memang cewek karena tidak tertarik dengan Nina. Mungkin saja cewek yang pernah deket sama Rian dan cewek itu mungkin saja sakit hati sehingga meneror kita. Tapi orang yang membuntuti saya itu jelas-jelas cowok. Ya Allah kenapa semua ini membuat saya pusing," batin Ega bertanya-tanya.


"Maaf, sepertinya saya salah mengira, jadi milik anda yang mana? Apa mungkin cowok yang menggunakan Baju warna biru berkulit putih itu karena cowok itu Kakak saya yang lainnya Saudara lain Ibu dan Bapak."


Tulis Ega kemudian, iya yakin pasti akan menunjuk Rian. Ega menunggu tidak terlalu lama untuk mendapatkan apa yang Ia mau.


"Iya, Beni Hardian."


Tulis Akun Palsu itu dengan jelas bahkan dengan Emotion Hati.


"Apa!" ucap Beni terkaget melihat tulisan yang tertera pada akun Ega. Beni menggosok mata untuk memastikannya tapi nama tidak berubah menjadi orang lain. Itu memang namanya, Beni sangat shock begitu juga yang lain. Seketika itu dugaannya mengarah kepada Nina karena saat ini Ninalah yang sedang mendekatinya.


Ega juga berpikiran yang sama dengan Beni namun segera ditepisnya karena Ega sangat mengenal Nina jadi ia yakin Nina bukan orang yang suka main belakang. Nina orangnya ceplas ceplos kalau tidak suka maka Nina langsung melabrak yang bersangkutan dan langsung mengucapkannya di depannya setali dengan dirinya.


"Sudah terbuka sekarang, jadi yang diincar adalah Beni tapi kenapa saya dan Ega jadi sasaran? Ini sungguh aneh? Terus yang membuntuti kamu itu siapa, Ga? Sepertinya bukan orang yang sama. Akun Palsu ini sepertinya tidak mengenal kamu dan orang yang membuntuti kamu itu pasti orang yang sangat mengenal kamu buktinya dia tahu tempat kamu kerja dan Jam berapa kamu pulang berarti bukan orang yang sama dengan tujuan yang berbeda tapi bisa jadi mereka bekerjasama dengan tujuan masing-masing," ucap Juna mulai memaparkan benang merah dari masalah yang menimpa mereka.

__ADS_1


"Bisa jadi seperti itu, aku merasa ada bau-bau kelicikan diantara mereka tapi siapa yang menebarkan bau kelicikan ini?" ucap Dipta menanggapi.


"Benar tuh, tugas kita untuk mencari tahu siapa orang yang telah berani mengusik kenyamanan kita kalau dapat biar ane becek jadi bergedel," komentar Rian terlihat emosi.


"Terus Mas Rian makan jadi cemilannya iya, kan?" gurau Ega tersenyum lebar.


"Isssh kamu tahu sendiri ane tidak suka bergedel jadi kasik yang suka bergedel saja yang memakannya," sahut Rian sambil melirik Dipta.


Dipta yang merasa dilirik hanya memasang tampang cemberut. "Saya tidak doyan hasil masakan Mas Rian jadi buat Beni saja," ucap Dipta melemparkan ke arah Beni.


"Nah apalagi saya, masakan Mas Rian itu penuh dengan kecap jadi saya alergi dengan kecap buat Juna saja yang satu selera," balas Beni mengoper Bergedel akun palsu itu kearah Juna.


"Maaf saya tidak tertarik dengan guyonan kalian jadi lemparkan saja Perkedel Akun Palsu itu ke kandang Ayam pasti jadi rebutan mereka," sahut Juna dengan santainya.


"Ngomong ngonong kok Evan belum ada khabarnya ya? Apa Evan belum berhasil melacak akun palsu ini?" tanya Ega penasaran.


"Iya benar juga sih? Kita tinggu saja," sahut Dipta sambil menguap karena sedari tadi Ia sudah mengantuk.


"Sebaiknya kita pulang saja, nanti juga Evan akan menginformasikan kepada kita kalau dia sudah berhasil melacak orang yang telah meneror kita," ucap Beni memberi saran kepada Teman-temannya.


"Benar juga sih sudah kelamaan kita disini, takutnya nanti kita diusir," sambut Dipta bersemangat. Dia bersemangat karena raganya sangat lelah selain itu juga kedua matanya sudah mulai menyipit tak tahan untuk segera terpejam.


"Kita pulang saja deh, besok malam kita kumpul lagi disini untuk membahas langkah selanjutnya," ucap Rian setuju.


Mereka semua siap-siap mau pulang sebelumnya berpamitan dulu sama Saik Aminah karena Saik Aminah telah mereka anggap sebagai orang tua mereka.


Beni sebenarnya ingin menanyakan tentang Nina kepada Ega namun diurungkannya karena Beni tidak mau menambah beban Ega yang terlihat kebingungan. Lain kali saja ia menanyakan informasi tentang Gadis itu yang berkaitan dengan Nina karena takut membuat Ega tambah pusing dengan permasalahan dirinya. Tunggu masalah yang menimpa tujuh sahabat berhasil mereka selesaikan dan dalam keadaan kondusif sehingga bisa dengan gampangnya mencari tahu tentang Gadis yang pernah menolongnya dulu dan mengungkapkan kebohongan Nina.


"Okay Dipta, sediakan cemilan banyak penggantinya," sahut Ega mengacungkan jempolnya.


"Tenang saja, bila perlu bersama tokonya saya bawain," ucap Dipta terdengar serius.


"Memangnya sanggup?" tanya Ega tidak percaya karena dia sangat mengenal Dipta mana mungkin seloyal itu. Bukannya Dipta pelit tapi hemat banget untuk orang lain.


"Tergantung kamu jika sanggup menghabiskan sendiri saya bawain beserta Tokonya," sambut Dipta percaya diri.


"Kenapa saya mencium bau-bau kelicikan pada kalimat anda, sungguh Anda pintar mana mungkin saya mampu untuk itu," sahut Ega geleng-geleng kepala sedangkan Dipta cengengesan menanggapi omelan Ega.


"Katanya mau pulang kok malah asyik mengobrol sih? jadi kalian mau di usir sama warga nih?" ucap Rian mengingatkan.


"Memangnya kalian berdua mau donor apa sih?" Tanya Beni penasaran bukannya menanggapi peringatan Rian eh malah Ia bertanya.


"Donor sebagian lemak saya biar sedikit langsing." Dipta berkelakar lalu memperdengarkan tawa renyahnya. Dia memamerkan lengannya yang berisi lalu memperlihatkan Pipi Bakbaonya.


"Issh saya tanya serius lo Dipta malah dijawab candaan," omel Beni terlihat serius.


"Memangnya Kak Beni tidak tahu kalau kita berdua setiap tiga bulan sekali ikut mendonorkan darah," jawab Ega menengahi.


"Oh Begitu," guman Beni datar. Dia mengkerutkan dahinya tanda dia sedang berpikir.

__ADS_1


Tidak ada lagi pembicaraan mereka akhirnya meninggalkan rumah Ega dengan tujuan masing-masing.


***


Disisi lain seorang Gadis sedang merebahkan raganya sembari menatap langit kamarnya berwarna cream. Samar-samar dalam ingatan tergambar seorang Pemuda yang terbaring lemah di Ranjangnya. Matanya terpejam dengan raut wajah yang pucat.


"Dia butuh pendonor sedangkan stock darah yang sesuai golongan darahnya kosong."


"Ambil saja darah saya, golongannya sama." Terdengar seorang Gadis mengucapkan kesediaannya untuk mendonorkan darahnya untuk menyelamatkan Pemuda itu.


Sekelabat suara-suara itu mengusik ingatannya. Gadis itu berusaha untuk mengumpulkan ingatan kembali tentang masa lalu itu namun rasanya begitu sulit. Hanya satu yang dia ingat Pemuda itu bernama Adha.


"Kenapa ingatanku kembali pada Kakak Adha ya? tapi aku tidak mengingat semuanya hanya sekilas aja. Kenapa Kepalaku mendadak pusing jika ingat itu, sebenarnya apa yang terjadi dengan masa lalu saya?" Gadis itu membatin.


Dia berusaha memejamkan mata, lagi-lagi mata itu tidak mampu terpejam. Akhir-akhir ini dia merasa kesulitan tidur atau bahasa disini menyebutnya ngeringsang.


"Kenapa akhir-akhir ini ingatanku kembali pada kejadian itu meskipun aku tidak mengingatnya dengan jelas." Gadis itu bermonolog.


"Tunggu dulu, saya ingat sekarang." Gadis itu terlonjak kaget dengan ucapannya sendiri. Dia mendadak ingat sesuatu, lalu beringsut dari Kasur. Dia bergerak menuju Lemari yang ada di samping ranjangnya lalu mencari sesuatu disana. Beberapa menit mencari dia tidak menemukan benda yang ada dalam ingatannya.


"Jam tangan Kak Adha mana? Perasaan saya taruh di Kotak ini deh!" ucap Gadis bingung. Dia mengkerutkan dahinya untuk berpikir, siapa tahu saja dia memindahkan ketempat lain. Sejenak dia berpikir namun ingatannya sangat yakin kalau Jam tangan milik Pemuda bernama Adha yang pernah ditolong itu dia simpan di Kotak yang sama dengan Jam tangan dan pernak pernik miliknya.


"Kenapa bisa hilang? Siapa yang mengambilnya? Apa pernah ada maling yang masuk ke rumah ini?" Berbagai spekulasi bermunculan dibenaknya.


Gadis itu kembali mencari ketempat lain. Dia membongkas Tas, meneliti satu persatu lipatan pakaian. Memeriksa semua kolong namun Jam tangan yang diharapkan nampak didepan matanya itu tak terlihat sama sekali.


"Jam tangannya hilang, bagaimana ini? Jika cowok bernama Adha itu menemukanku lalu menanyakan Jam tangannya lalu jawaban apa yang hendak saya beri." Gadis itu bermonolog. Dia terduduk lesu karena sudah lelah mencari Jam tangan itu.


"Maafkan saya Kak Adha, saya tidak bisa menjaga Jam tangan milik Kak Adha. Jam tangan itu tidak sengaja saya bawa pulang dan aku menyimpannya dengan baik. Ada harapan saya bertemu dengan Kak Adha walaupun aku tidak ingat seperti apa rupa Kak Adha. Saya akan mengembalikan Jam tangan itu karena mungkin saja Jam tangan itu sangat berharga." Gadis bermonolog. Dia menguap lalu beranjak untuk merebahkan diri di ranjang sederhananya. Dia merasa sudah mulai mengantuk dan lelah. Gadis segera memejamkan matanya dan berharap dalam mimpi mengingat kembali cowok bernama Adha. Seorang cowok yang akhir-akhir ini mengusik pikiran dan ingatannya. Cowok itu berusaha memintanya untuk mengingat tentang kejadian yang pernah dialaminya.


Subuh menjelang, Gadis terbangun saat mendengar suara adzan. Dia segera beringsut dari Ranjang lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit melakukan ritual mandinya, dia terlihat keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar. Wajah ayunya terlihat segar dengan senyum manis yang selalu mengembang pada bibir cherrynya.


Gadis segera melaksanakan Shalat subuhnya lalu dilanjutkan dengan doa, memohon ampun atas segala dosa-dosanya serta tidak lupa mendoakan kedua orang tuanya, saudara dan keluarganya. Dia juga menyelipkan harapan untuk bisa bertemu dengan cinta sejatinya. Berharap ada seorang lelaki baik yang bersedia mencintainya dan menerimanya apa adanya. Sebenarnya hanya ada satu nama dalam hatinya yaitu Adha namun nama itu hanya bertahta tanpa berarti apa-apa karena dia tidak mengenal siapa orang yang bernama Adha itu.


Adha.


Sebuah nama yang terukir dalam hatinya. Nama itu seperti garis finish yang harus dituju.


Nama Adha itu seperti martamorgana yang terlihat nyata namun setelah mendekatinya ternyata tak ada apapun disana.


Seperti itulah kenyataannya.


Mana mungkin dia bertemu dengan pemilik nama itu lagi. Nama itu hanya salah satu bagian dari kisah hidupnya.


Gadis tak berniat mencintai, nyatanya Adha cinta pertama yang dia simpan dalam diam.


Dulu, tidak sekarang.


Mana mungkin dia mencintai orang yang tak mungkin akan bertemu lalu bersama.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2