Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 4. Juna Lari dari Perjodohan.


__ADS_3

Lalu Mandala Juna.


Cowok itu masih saja menampakkan wajah mendungnya, seakan enggan beranjak pergi dari wajah tampannya.


"Abang kenapa? mendung banget sebentar lagi mau hujan badai kayaknya. Banjir dong Kokok Babak," celoteh Ega sambil sibuk menyediakan minuman dan cemilan yang dia ambil dari dalam rumah.


"Hahaha, belek hujan belabur kokok babak (hujan besar banjir sungai Babak).” Terdengar Beni bersenandung menyanyikan nyanyian anak-anak menyambut datangnya hujan.


"Apaan sih? emangnya bakalan hujan, aku lihat langit tidak mendung kok." Tiba-tiba Rian berceloteh sambil memandang langit memastikan ucapan Beni.


Sontak mereka bertiga tertawa.


“Hahahaha, Mas Rian, Mas Rian, siapa yang lagi ngebahas mendung dilangit, kita lagi ngebahas mendung di wajah Abang Juna. Kenapa dia?" Ega menjelaskan.


"Makanya Ga, sediain Aqu*a biar fokus Mas Riannya, sepertinya belum tersadar dari dunia mayanya.” Beni mengomentari ketidak fokusan dari Sahabatnya itu.


Rian memang sedari tadi tengah sibuk dengan Benda Pipihnya. Dia terlihat kikuk menyadari kekeliruannya. Pria berkulit eksotis itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal untuk mengelabui rasa malunya.


"Habisnya tadi kamu sih Ben, nyanyian lagu anak yang riang gembira menyambut datangnya hujan.” Rian membela diri.


"Aku hanya bernyanyi, melanjutkan pernyataan Ega. Jangan membela diri deh kalau emang tidak fokus," ucap Beni tidak mau kalah.


"Udah deh jangan ribut, balek lagi ke Abang Juna. Dia kenapa?” Ega kembali bertanya.


"Abangmu itu sedang galau karena dijodohkan. Tadi dia sama mamiq dan inak berkunjung ke kerabatnya tidak tahunya itu acara berkenalan sama Calon Bininya.” Rian bercerita.


"Serius Bang? apa dia cantik?” tanya Ega penasaran.


"Bagaimana saya tahu, keburu saya kabur," sahut Juna datar.


"Jadi kita yang menggagalkan acara perjodohan itu. Ya Allah, kalau di tahu sama mamiq dan Inak bisa-bisa saya tidak diizinin lagi menginjakkan kaki di Pen City,” ucap Ega terlihat gusar.


“Tidak usah khawatir, tidak akan terjadi apa-apa kok, dalam hal ini sayanya yang tidak mau di jodoh-jodohkan, seperti saya tidak bisa nyari jodoh sendiri saja.” Juna berusaha untuk menenangkan hati Ega yang sudah mulai gusar.


"Memang, buktinya sampai sekarang tidak ada tuh cewek yang kamu kenalin ke kita-kita.” Beni mengomentari apa yang menjadi alasan kenapa Sahabatnya itu tidak mau dijodohkan.


"Seperti ante bisa saja, kalau sama-sama jomblo tidak usah komentar Beni,” Rian menyahuti komentar yang dilontarkan Pria Tampan itu.

__ADS_1


"Saya jomblo bukan berarti tidak bisa nyari pacar tapi saya tidak mau pacaran maunya nikah langsung," balas Beni menerangkan prinsip hidupnya.


"Saya suka gaya kak Beni. Seribu jempol dah untuk kak Beni,” celetuk Ega kagum atas komitmen Beni.


"Alah, cowok model kayak ante, mana bisa dipercaya. Palingan sedang mengoleksi Para Gadis,” sahut Rian tidak percaya.


"Saya bukan Mas Rian, tiap minggu ganti cewek melulu tapi tidak ada satupun yang dijadiin,” balas Beni datar.


"Saya sedang mencari seorang Gadis yang tepat dijadiin Isteri, memangnya salah?” kilah Rian.


" Harus gitu ya? jadi Play Boy dulu baru nemuin Calon Istri yang tepat, tidak gitu kali, Mas?” ujar Beni membela argumennya.


Juna dan Ega hanya terdiam mendengarkan perdebatan antara Beni dan Rian. Tidak ada di antara mereka berdua yang mau mengalah dan sepertinya perdebatan mereka akan berlanjut jika tidak ada yang menyela pembicaraan mereka berdua. Ega terlihat menyimak pembicaraan dua pemuda keren itu dan memandang kedua Sahabatnya secara bergantian sembari menghela nafasnya. Dia kemudian menggelengkan Kepalanya. Lain lagi dengan Juna, dia diam seribu bahasa dengan pandangan malas.


"Lah kok kalian berdua yang sibuk berdebat, bagaimana dengan saya nih?” Pada akhirnya terdengar suara Juna menengahi mereka berdua.


Seketika itu Beni dan Rian terdiam, mereka berdua menyadari dengan keberadaan Juna yang sedang bingung dengan permasalahan yang dihadapinya. Kenapa mereka berdua malah asyik sendiri tanpa memberikan solusi dari apa yang sedang dihadapi oleh Sahabatnya itu.


"Abang Juna seharusnya tidak usah kabur dari perjodohan. Kenalan saja dulu sama cewek yang dijodohin, siapa tahu saja cocok sesuai dengan criteria istri idamannya. Penjajakan dulu, kalau emang cocok lanjutin ke pernikahan tapi kalau tidak cocok dan tidak nyaman rasanya tidak usah dilanjutin, utarakan dengan cara baik-baik, bisa dikomunikasi dengan baik, kan?” Ega menjawab pertanyaan Juna yang dilontarkan kepada mereka bertiga. Dia menunggu solusi dari Rian dan Beni, namun sepertinya kedua Pria itu belum menemukan solusi untuk Juna sehingga Ega memberikan saran yang menurutnya tepat.


"Tapi saya tidak suka dijodoh-jodohkan, kalian tahu sendiri seperti apa saya?" Juna menepis saran dari ketiga Sahabatnya itu. Dia terlihat semakin frustasi. Sudah beberapa kali kedua orang tuanya berusaha menjodohkan dirinya tapi selalu saja ada alasan untuk menolak. Kali ini Juna sudah tidak ada jalan lagi untuk lari dari perjodohannya, sepertinya jalan itu sudah buntu.


"Apa salahnya kamu menyenangkan Orang Tua, mereka menginginkan kamu segera menikah dengan mencarikan Calon Istri yang baik dan Soleha. Tidak ada orang tua menjerumuskan anaknya kedalam penderitaan. Apa yang dilakukannya tentu untuk kebahagiaan kamu. Ingat itu Juna, ridho orang tua itu sangat penting. Jika kamu tidak menyetujui apapun keputusan orang tua hendaknya dibicarakan dengan baik.” Beni menasehati Juna. Juna Sahabat yang paling dekat dengan dirinya. Mereka berdua seperti Saudara yang senantiasa saling mendukung satu sama lain.


Mendengarkan nasehat Beni, Juna terlihat berpikir tapi tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan menyanggupi apa yang menjadi keinginan orang tuanya itu.


Beni menghela nafas panjang, dia lelah berkomentar tapi tetap saja Sahabatnya itu tidak menanggapinya. Beni benar-benar harus menghadapi Juna dengan tingkat kesabaran yang lebih sabar lagi.


“Gini aja deh, kamu nyari cewek yang sesuai dengan criteria yang disukai sama Mamiq dan Inak, terus kalau sudah ketemu langsung dikenalin. Kalau Mamiq dan Inak tahu kamu sudah ada calonnya pastinya beliau tidak akan lagi menjodohkan kamu dengan anak gadis dari sahabatnya,” lanjut Beni memberi saran.


"Setuju, apa salahnya ngikutin kemauan orang tua. Biasanya mereka akan mencari yang terbaik. Siapa tahu saja yang awalnya tidak suka setelah menjalaninya jadi bucin. Cinta tidak tahu kapan adanya di hati. Siapa tahu saja pas Ijab qobul cinta itu tumbuh di hati masing-masing. Yakinlah Allah pasti menganugerahkan cinta itu tepat pada waktunya.” Ega memberikan pendapatnya yang sejalan dengan nasehat Beni.


“Semoga saja Juna bisa mengerti. Memang susah mengubah pendirian orang apalagi itu Juna. Pendiriannya kokoh banget susah runtuhnya walaupun di guncang gempa dengan tujuh sekala Ritter pun dia takkan goyah. Dasar pagah Pen City.” Ega bermonolog dalam hati mengeluhkan sifat Sahabatnya itu.


"Entahlah,” jawab Juna ngambang seolah-olah tidak tahu apa yang musti dilakukannya.


"Terserah kamu saja, bingung saya mau ngomong apalagi. Aduin saja kepada Allah, Sholat Tahajjud minta petunjuk hanya kepada-Nya. Semoga saja Allah memberikan petunjuk. Dengan curhat sama Allah hati menjadi tenang.” Beni memberikan pendapatnya yang menyejukkan hati.

__ADS_1


Rian dan Ega menganggukkan Kepala sebagai tanda sepaham. Tentu saja anggukan itu sebagai isyarat agar Juna untuk kali ini mendengarkan Sahabatnya itu.


“Hanya kepada Allah kembalinya segala urusan. Udah ah, saya mencari yang seger-seger, saya kekebun dulu.” Pamit Beni kemudian.


Juna hanya diam, dia berusaha mencerna apa yang dikatakan Beni. Memang benar jika kita mengadukan kegelisahan dan kegundahan hati hanya kepada Allah maka hati akan menjadi tenang. Masalahnya sekarang Juna terlalu lalai menjalankan apa yang menjadi kewajibannya. Betapa lalainya dia yang sering meninggalkan sholat dengan tenangnya.


"Astagfirullahalazim,”guman Juna pelan tak terdengar. Dia menyadari betapa sibuknya dia dengan dunia sehingga lalai dengan kewajibannya sebagai manusia.


"Makasi, kalian telah memberikan pendapatnya mengenai masalah saya," guman Juna pelan setelah dia mendapatkan ketenangannya dengan beristighfar.


"Sami-sami, itu gunanya ada temen tempat untuk berbagi. Terus sekarang rencananya apa?" tanya Rian.


"Sepertinya saya akan mencari Kost. Saya belum siap bertemu Mamiq dan Inaq. Pastinya Mamiq marah banget karena saya telah menolak perjodohan itu. Nanti kalau sudah siap saya akan menjelaskan kepada Mamiq,” jawab Juna mengutarakan rencananya.


"Kalau itu keputusan terbaik menurutmu kita sebagai Sahabat hanya bisa mendukung saja,” ucap Rian sambil menepuk bahu Juna menyemangati.


"Terus bagaimana dengan pekerjaannya, Bang?”Akhirnya Ega keluar juga suaranya setelah dari tadi hanya menyimak pembicaraan Mereka berdua.


"Abang sudah tidak kerja di Hotel Tulip sekarang Abang kerja di Hotel Madani,” jawab Juna memberitahu.


"Hotel yang di Brawijaya itu, tidak jauh-jauh amat dari sini, bagaimana kalau Abang nyari kost di Cermen asri saja? Bagian Timur, persis di belakang rumah Ega ada kok Bang, Kostnya lumayan bagus.” Ega memberikan informasi mengenai Kost yang nyaman untuk ditempati oleh Juna.


"Boleh, deh! entar Abang liat-liat dulu. Abang maunya sih ngekost disini saja, itu ada kamar kosong, kamarnya cowok-cowok keren,” kata Juna menunjuk kamar yang menjadi Bascame Mereka.


"Wadowh, kalau yang itu mah tidak disewakan, tidak berani saya entar di gerebek Masyarakat." Ega menolak keinginan dari Sahabat yang sangat dekat dengannya. Sahabat yang selalu ada saat dia membutuhkannya. Karena kedekatannya dengan Juna terkadang Ega memiliki semacam ikatan bathin. Entah mengapa, terkadang dia tahu ada sesuatu yang terjadi dengan Laki-laki yang dipanggilnya Abang itu. Jika ada  sesuatu yang buruk menimpa Juna maka dengan cepat Ega merasakannya. Pun begitu dengan Juna, Juna pasti merasakannya dan dengan cepat bertanya apa yang terjadi dengan Sahabat Perempuannya itu.


"Hahaha, Abang cuma bercanda kali tapi boleh Abang istirahat disana, ngantuk banget semalam begadang. Saya butuh istirahat, nanti siang saya kerja," pinta Juna kepada Pemilik Rumah yang menjadi Rumah singgah bagi Tujuh Sahabat.


"Boleh Abang, saya ambilin kuncinya dulu," jawabnya. Dia kemudian masuk ke dalam rumah hendak mengambil kunci.


Selang beberapa menit Ega datang membawa kunci dan memberikan kepada Juna. "Ini bang kuncinya."


"Makasi Ga, entar bangunin kalau udah Dzuhur.”Juna mengambil Kunci yang disodorkan oleh Ega. Juna berlalu dari hadapan Ega dan Rian. Dia dengan langkah cepat menaiki tangga yang menghubungkan Berugak ke Lantai dua.


Sementara itu Rian berpamitan untuk menemui Beni di Kebun. Sedangkan Ega, Gadis itu memilih untuk membantu Saik Aminah memasak untuk makan siang mereka.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2